Senin, 09 November 2009

BAB XII - VISI-VISI MUHAMMAD

“Sebab segala elohim bangsa-bangsa adalah berhala, tetapi Yahwehlah yang menjadikan langit” (Mazmur 96:5).

Kalau seseorang menyembah berhala yang paling utama (paling berkuasa) sekalipun, dia tetap saja disebut penyembah berhala jadi tidak ada bedanya dengan penyembah berhala lain. Apa bedanya seseorang itu menyembah banyak berhala atau hanya menyembah satu berhala?

Dalam bukunya mengenai agama-agama di dunia, seorang mantan pemberita Injil yang bernama Dr. Lester Sumrall menulis ulasannya mengenai masalah tersebut di atas sebagai berikut: “Umat Muslim menyembah satu tuhan dan kami (umat Kristen) menyembah satu Tuhan, tetapi tuhan Islam dan Tuhan Kristen tidak sama. Tuhan dari Muhammad (Allah) sangat berbeda dengan Tuhan umat Kristen (Yahweh). Allah adalah suatu maujud Autokrat yang egoistis dan pendendam yang harus ditenangkan/disenangkan dengan ibadah ‘salat’ yang dilengkapi dengan gerakan-gerakan tubuh yang bersifat rutin, monoton dan suci. Yahweh yang kita sembah adalah suatu maujud Bapa Surgawi yang penuh kasih dan sangat mengasihi kita yang hanya mengharapkan bahwa kita juga membalasNya dengan kasih serta ketaatan kita. 1 “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu” (Yohanes 14:15).

Kami bersyukur kepada Tuhan atas observasi dan ulasan yang serius tersebut. Ulasan tersebut telah memperkuat keyakinan (pendirian) kita mengenai roh macam apakah yang ada di belakang Islam. Namun demikian ada satu pertanyaan lagi yaitu apakah betul hanya ada satu berhala (tuhan palsu) saja yang disembah dalam Islam.

Satu hal yang perlu kita sadari yaitu bahwa seseorang tidak mungkin melayani setan dan menyembah dia saja. Jika setan disembah, dalam wujud apapun, dia pasti disembah melalaui roh-roh jahat yang banyak jumlahnya. Pada kenyataannya dalam dunia penyembahan berhala (tuhan palsu) tidak terdapat penyembahan yang bersifat monoteis atau lebih tepatnya tidak terdapat penyembahan kepada satu berhala (tuhan palsu) jadi sementara berhala-berhala (tuhan-tuhan palsu) yang lain disadari keberadaannya. Seseorang tidak mungkin menyembah setan saja tanpa mempunyai hubungan dengan roh-roh jahat lain (maksudnya orang yang menyembah setan pasti punya hubungan dengan banyak roh-roh jahat lain). Faktanya sebagian besar kegiatan dan interaksi dalam dunia pemujaan dan penyembahan kepada setan pada umumnya direalisasikan melalui pemujaan kepada roh-roh jahat daripada (ketimbang) kepada setan secara langsung. Hal ini disebabkan karena setan tidak mampu hadir dimana-mana dalam waktu bersamaan. Setan bukan Tuhan, tetapi dia adalah malaikat yang telah jatuh ke dalam dosa. Dan kita tahu bahwa malaikat tidak dapat hadir di semua tempat dalam waktu bersamaan.

Kita tidak tahu mengapa umat Muslim berpikir bahwa ada sesuatu yang baru dan luar biasa dalam pernyataan mereka mengenai keesaan Tuhan. Umat Yahudi juga percaya bahwa hanya ada satu Tuhan yaitu Elohim. Sebagaimana yang dilantunkan oleh umat Muslim yaitu la ilaha ilal allah atau la ilaha il’ allah demikian juga yang dilantunkan oleh umat Yahudi di dalam Sinagog-sinagog mereka yaitu Huh echad vein sheni yang artinya Dia (Elohim) adalah satu dan tidak ada yang ke dua.

Hal itu tidak berarti bahwa mereka beribadah kepada Elohim, karena mereka menyangkal (menolak) Yesus. Bahkan dalam agama Hindu yang menyembah banyak dewapun kami jumpai pengakuan-pengakuan yang sama dalam kitab Veda, kitab suci mereka; dan kita tahu bahwa agama Hindu sudah ada ratusan tahun sebelum Islam muncul. Jadi tidak ada hal baru yang dapat kita petik dari pernyataan ‘tidak ada tuhan selain Allah’. Setiap agama dapat mengatakan bahwa tuhannya adalah esa dan tidak ada yang lain. Alkitab berkata bahwa pernyataan beriman Tuhan yang Esa tidak cukup untuk dapat membawa manusia masuk ke surga. Manusia harus beriman kepada satu Tuhan yang benar dan riil.

“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Elohim saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar” (Yakub 2:19). Oleh karena itu jika umat Muslim menyembah tuhan yang lain daripada Tuhan satu-satunya yang dinyatakan dalam Alkitab, sadar atau tidak itu berarti bahwa mereka bukan monoteis sama sekali.

Siapakah Yang Bersalah?
Jadi, kalau Muhammad memperkenalkan tuhan yang salah, salah siapakah itu? Mengapa Tuhan yang benar (Elohim) tidak menyatakan DiriNya kepada Muhammad dan orang-orang Arab? Atau apakah tuhan yang salah telah menyatakan dirinya kepada mereka? Dan kalau Elohim tidak menyatakan DiriNya kepada mereka, apakah Elohim memang semata-mata menghendaki untuk menghukum umat Muslim pada hari Penghakiman?

Catatan-catatan sejarah mengungkapkan bahwa Muhammad, sesudah dia menjadi kaya raya dari hasil usaha karavannya, kemudian meninggalkan usahanya tersebut dan selanjutnya dia mencari realitas spiritual – seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang masa kini, melibatkan diri mereka ke dalam praktek-praktek kebatinan ketika mereka merasa kecewa dan jemu (muak) terhadap hal-hal yang berbau materialis (duniawi). Dia (Muhammad) masuk dalam kelompok Hanifas, atau para pencari kebenaran, suatu kelompok agnostic pada zamannya. Kelompok orang-orang tersebut berusaha mencari terang hikmat spiritual melalui kekuatan batin dan meditasi.

Pada waktu itu ajaran-ajaran agama Hindu telah tersebar ke seluruh Timur Tengah dalam pergerakan mereka menuju ke Eropa dan mewariskan ajaran-ajaran yang berkaitan dengan cara-cara melepaskan diri sendiri dari ikatan dunia maya. Setelah meninggalkan bisnisnya, Muhammad menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermeditasi di Gua Hira, kurang lebih satu mil jaraknya dari kota Mekah. Pada suatu hari ketika dia sedang larut dalam meditasinya, menurut berita yang terdengar, dia menerima panggilan ilahi untuk mengajarkan sesuatu.

Siapakah mahluk halus yang memanggil dia? Dan ajaran apa yang harus diajarkan? Hal-hal yang diajarkannya itulah yang membantu kita menentukan lebih lanjut mengenai pesan-pesan siapakah yang harus diembannya/dibawakannya. Adapun mengenai pesan-pesan yang dibawakan Muhammad tersebut telah diteliti dan dibicarakan dalam bab-bab sebelumnya. Dari jenis meditasi yang dilakukannya, kita dapat menentukan siapa yang kemungkinan berbicara kepada Muhammad dan mahluk apakah yang berhubungan dengan dia.

Apa Kata Para Pelaku Meditasi?
Seorang mantan guru meditasi dan ilmu gaib bangsa Swedia yang bernama Valter Ohman yang kemudian telah bertobat dan masuk Kristen berkata: “Jika suatu meditasi tidak dilakukan sesuai dengan keimanan Kristen, meditasi tersebut akan menjurus pada komuni penyembahan kepada roh-roh yang merasuki berhala-berhala”. Meditasi yang berlandaskan pada ideologi yang salah akan menyebabkan manusia terjebak ke dalam hubungan dengan roh-roh jahat dan tuhan-tuhan palsu. Akibatnya bukan kebebasan yang dia peroleh tetapi justru tekanan-tekanan dan kerasukan setan.

Seorang pelaku yoga Hindu dari India Barat yang bernama Guru Rabindranath R. Maharaj, setelah dia bertobat dan menyerahkan dirinya kepada Yesus Kristus, kemudian menulis dalam autobiografinya sebagai berikut: “Sekarang saya baru mengerti bahwa mereka adalah mahluk-mahluk jahat yang telah saya jumpai ketika saya sedang larut dalam meditasi saya dan ketika saya dalam keadaan trans karena mempraktekkan yoga; merekalah yang telah menyamar sebagai Shiva atau dewa-dewa Hindu yang lain”.

Seorang wanita, guru meditasi transcendental yang termasyhur yang bernama Vale Hamilton yang sekarang sudah bertobat dan telah dilahirkan baru dalam Kristus juga mendeskripsikan pengalaman-pengalamannya sendiri dalam bermeditasi sebagai berikut: “Pada saat-saat ketika saya sedang khusuk bermeditasi, saya sering merasakan kehadiran roh-roh halus yang duduk di sebelah kiri atau di sebelah kanan saya dan kadang-kadang pada waktu malam hari mereka suka duduk di atas tempat tidur saya. Saya menghabiskan waktu tiga bulan untuk bermeditasi selama tiga sampai sepuluh jam setiap harinya. Saya mempunyai beberapa pengalaman yang berkaitan dengan himpitan-himpitan yang dilakukan oleh roh-roh jahat terhadap saya selama saya berada di tempat tidur. Pada suatu malam ketika saya tidur, tiba-tiba saya terbangun dengan perasaan takut dan ngeri, sekujur tubuh dan kepala saya bergetar karena suatu roh menghimpit dan nampaknya berusaha merasuki tubuh saya. Sama saya sekali tidak berpikir bahwa kemungkinan setan dan roh-roh jahatlah yang datang saat itu, saya hanya menganggap bahwa peristiwa tersebut adalah wajar-wajar saja sebagai petualangan dalam dunia gaib yang sesungguhnya. Saya bahkan salah mengira mereka sebagai malaikat-malaikat pelindung”.

Sudah pasti, umat Kristen bermeditasi atas dasar Firman Elohim, sehingga meditasi Kristen tidak boleh menyeleweng menuju kesesatan seperti yang terjadi pada meditasi transcendental dari agama-agama dan pemujaan-pemujaan tanpa Kristus.

Tuhan telah memberi hak istimewa kepada manusia untuk mengendalikan pikirannya sendiri. Namun ketika manusia mencoba melarikan diri dari kenyataan hidup dengan cara menjalankan praktek-praktek kebatinan, manusia telah memberikan kesempatan (peluang) pada pengaruh-pengaruh roh jahat dan para penguasa di udara untuk merasuki pikirannya. Manusia sejak itu tidak lagi sanggup mengendalikan dirinya sendiri. Dia telah dikuasai roh jahat. Kalau dia tidak segera bertobat kepada Kristus dan meninggalkan praktek-praktek kebatinan tersebut di atas, dia pasti akan dikuasai oleh pengaruh roh-roh jahat tersebut selama hidupnya sampai dia meninggal dunia.

Sebagian besar penyembah-penyembah berhala mengadakan hubungan dengan mahluk yang mereka sebut sebagai ‘mahluk terang’ selama mereka dalam keadaan hening ‘menembus raga melanglang buana astral’. ‘Mahluk terang’ ini dijadikan acuan oleh berbagai pemujanya dengan nama yang berbeda-beda sesuai dengan yang diinginkan oleh setiap golongan pemujanya itu. “Mahluk terang’ tersebut dinamakan ‘ECK’ oleh golongan pergerakan Eckankar, dan oleh golongan kebatinan Hare Krishna disebut ‘Das’ atau ‘Krishna’. Beberapa organisasi ilmu gaib yang popular seperti organisasi Rosicrucian (AMORC) menyebutnya ‘malaikat terang’. Bahkan perkumpulan gaib yang lain menyebutnya ‘Yesus Guru Agung’.

Menurut Alkitab, mahluk semacam itu beserta dengan pesuruh-pesuruhnya adalah pembohong dan penipu yang telah lama kita kenal (maksudnya iblis).
“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab iblispun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka” (2 Korintus 11:14-15).
Sekali lagi pertanyaannya adalah: Dengan siapakah Muhammad berhubungan selama meditasinya? Kami memerlukan semua bahan-bahan dari sumber-sumber Islam untuk mengetahui hal tersebut. Laporan-laporan semacam itu harus diinterpretasikan dalam terang Alkitab dan dinilai (diputuskan) oleh Roh Kudus (tentang kebenarannya).

Apakah Muhammad Bukan Seorang Nabi?
Apapun manifestasi-manifestasi mereka baik yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah (spiritual), kita tahu bahwa di dunia ini hanya ada dua kekuatan spiritual yaitu ‘Roh Kebenaran’ dan ‘bapa segala dusta’ (Yohanes 16:13; 8:44).

Sebagian orang masih bertanya-tanya apakah betul Muhammad dapat dianggap sebagai seorang nabi. Dari apa yang kita ketahui tentang Muhammad dan kehidupannya, saya percaya bahwa dia adalah seorang nabi.

Sekarang masalahnya adalah apakah yang dimaksud dengan istilah seorang ‘nabi’? Dalam bahasa Inggris kata ‘prophet’ (nabi) berasal dari akar kata ‘pro’ dan ‘phemi’ (bahasa Yunani). Pro artinya ‘sebagai pengganti dari’, dan ‘phemi’ artinya ‘berbicara’. Dalam bahasa Inggris sejak lama kita telah mengenal kata ‘pronoun’, yaitu suatu kata yang digunakan ‘sebagai pengganti dari’ suatu kata benda. Dalam bahasa Inggris, kita juga mengenal akhiran ‘phemi’ dalam kata ‘blasphemy’ yang artinya ‘menghujat’ (mengatakan sesuatu yang tidak pantas terhadap Tuhan). Jadi, kata ‘prophet’ (nabi) artinya seseorang yang berbicara sebagai pengganti dari orang lain (dengan kata-kata lain orang yang berbicara atas nama orang lain yang menugasinya). Di sini yang dimaksud dengan ‘orang lain’ adalah ‘tuhan (dewa)’ atau ‘Tuhan’. (Baca kitab Keluaran 7:1-2). Nabi tersebut mungkin saja menerima perintah-perintah yang langsung diucapkan oleh tuhan (dewa) atau Tuhan, atau kadang-kadang dia hanya menerima ilham untuk berbicara atau berbuat sesuatu. Nubuat kenabian (dalam bahasa Inggirs ‘prophecy’) dapat berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi sekarang atau dapat juga berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Hal yang paling penting adalah bahwa orang tersebut (nabi tersebut) pasti diilhami oleh suatu maujud yang lebih berkuasa daripada dirinya sendiri.

Jadi, salahlah kalau seseorang membayangkan bahwa Muhammad bukan seorang nabi. Dari cerita-cerita mengenai dirinya dan realitas adanya agama Islam, seseorang harus percaya bahwa Muhammad adalah seorang nabi, sekalipun seorang nabi Allah.

Namun masalahnya, yang sedang kita bicarakan di sini adalah, apakah Allah dari nabi Muhammad tersebut sama dengan Elohim, Tuhan Trinitas yang suci, yang menyatakan DiriNya sendiri kepada semua nabi-nabi alkitabiah. Kita tidak perlu takut membicarakan hal ini karena keselamatan jiwa kita tergantung pada pemahaman kita terhadap hal tersebut. Jika Allah dari nabi Muhammad adalah Tuhan yang benar dan firmannya adalah kebenaran, dan kata-kata yang tertulis dalam Alquran adalah firmannya, berarti semua orang Kristen yang percaya pada Alkitab menjadi pihak yang kalah. Sebaliknya, kalau Allah adalah roh jahat yang berkedok sebagai Tuhan yang Maha Kuasa, berarti setiap orang Muslim yang ingin mencari kebenaran harus mempertimbangkan sekali lagi hal tersebut dengan serius.

Alkitab menyatakan bahwa kita harus menguji roh-roh yang ada di belakang orang-orang yang mengklaim diri mereka sebagai para nabi dengan tujuan untuk mengetahui termasuk golongan yang manakah mereka (maksudnya apakah mereka dari golongan ‘roh kebenaran’ atau dari golongan ‘bapa segala dusta’). Cara pengujian dan penentuan golongan tersebut telah didefinisikan dalam Alkitab. Namun kalau kita dihinggapi rasa takut dicap sebagai penghujat, kita tidak akan pernah dapat menguji yang manakah Roh Elohim dan yang manakah yang bukan. Roh ketakutan semacam itu telah menguasai dan mengikat kita serta menjerumuskan banyak orang ke dalam hukuman yang kekal. Setiap orang harus mempertanggungjawabkan apa pilihan keimanannya secara pribadi di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa. Tuhan telah memberi kita norma-norma standar untuk dapat diterapkan dalam menguji semua klaim-klaim yang berbicara mengenai pengalaman-pengalaman spiritual. Itulah sebabnya mengapa umat Muslim harus tetap tenang dan marilah kita memeriksa dengan cermat masalah ini secara bersama-sama.

Hakikat Dari Visi Muhammad
Kata bahasa Arab ‘Alquran’ berarti ‘kitab lantunan (kitab untuk dilantunkan)’. Dan itulah sebabnya mengapa pesan-pesan dalam Alquran dianggap sebagai firman Allah sebagaimana yang dilihamkan melalui visi-visi yang diterima Muhammad secara sedikit demi sedikit. Visi-visi inilah yang dianggap sebagai visi-visi dari Tuhan yang dijadikan acuan keimanan lebih dari 800 juta umat Muslim.

Walaupun banyak bukti yang menunjukkan bahwa Alquran menjiplak dari tradisi dan cerita-cerita rakyat yang berasal dari Yahudi, Alquran itu sendiri tidak bisa semata-mata dianggap sebagai kitab yang mendokumentasikan tradisi-tradisi Yahudi secara besar-besaran. Kami percaya bahwa Muhammad memang menjumpai beberapa hal yang bersifat supernatural, paling tidak pada tahap-tahap awal dari misinya. Kami tidak dapat menyingkirkan fakta tersebut karena dalam Hadis kami menemukan dokumentasi dari perbuatan serta pengalaman-pengalamannya sebagaimana yang dibenarkan oleh orang-orang dekat dengan dia dan yang aktif dalam pengembangan Islam selama Muhammad hidup.

Jika tidak mempunyai pengalaman supernatural seperti itu, dia tentunya tidak bisa disebut sebagai seorang nabi, tetapi hanya sekedar sebagai filosof. Memang benar bahwa Muhammad mempunyai teman-teman yang menganut agama Zoroastrian, agama Yahudi, dan agama Kristen, dan dia mencontoh sebagian dari tradisi mereka (misalnya: penggunaan tasbih dalam sembahyang), tetapi Muhammad sendiri pasti juga mempunyai pengalaman-pengalaman spiritual sebelum dia membangun agamanya sendiri. Menurut berita dari Hadis, Muhammad memang mendapatkan visi-visi Ilahi.

Tradisi-tradisi yang dijadikan acuan dalam hal ini adalah tradisi-tradisi yang dipandang/dianggap dapat dipercaya oleh baik dari aliran Shiah maupun aliran Sunni. Bagian ini merupakan bagian yang paling penting, dan perlu ditekankan di sini bahwa cerita-cerita tersebut tidak diolah oleh para sejarawan Barat sedikitpun, tetapi ditulis sendiri oleh umat Muslim. Cerita-cerita tersebut mencakup kesaksian-kesaksian/pernyataan-pernyataan dari Ibn Ishaq, Husain ibn Muhammad, Ibn Athir, Muslim, Abu Huraira, Al Bukhari, dan bahkan Zaid ibn Thabit, catatan-catatan Muhammad dan Editor Alquran Baku tradisional.

Menurut kesaksian-kesaksian itu, ketika Muhammad menerima ‘ilham Ilahi’ tersebut dia seringkali jatuh terkapar di lantai, dengan tubuh bergetar hebat, peluh membasahi sekujur badannya, mata tertutup, mulut berbusa dan raut wajahnya seperti raut wajah seekor unta yang masih muda. Kadang-kadang, dia mendengar seperti ada sebuah bel berbunyi di dalam telinganya. Pengalaman ini biasanya diikuti dengan rasa sakit kepala yang hebat. Abu Huraira, sebagaimana yang terungkap dalam Hadis, menyatakan: “ … ketika ilham tersebut diturunkan kepada Muhammad, mereka biasanya menggosok kepalanya yang suci dengan ‘henna’ (daun inai/daun tumbuham pacar), karena untuk melindungi Muhammad yang biasanya setelah menerima ilham tersebut langsung mengalami rasa sakit kepala yang hebat”.2

Memang biasanya Muhammad mengalami rasa sakit seperti tersebut di atas manakala ilham Ilahi itu datang, namun kadang-kadang sakitnya tidak separah itu hanya sekedar seperti orang yang sedang mabuk saja. Muhammad Haykal mencatat bahwa ketika isteri Muhammad yang bernama Aisha dituduh telah berzina, Muhammad kemudian mendapat ilham Ilahi, yang seperti biasanya diikuti oleh rasa sakit yang hebat (diduga bahwa Muhammad mengalami penyakit sawan atau epilepsi) 3, yang isinya adalah membebaskan Aisha dari tuduhan tersebut.

Perlu dicatat di sini, bahwa mula-mula Muhammad jujur pada diri sendiri dan dia menganggap bahwa dia mungkin telah dipengaruhi oleh roh jahat. Misalnya, mengapa dia harus merasakan seperti tercekik kalau Tuhan yang akan memberinya pesan itu memang benar adalah Tuhan yang baik? Apakah dia harus menderita sawan (epilepsi) yang serius terlebih dahulu sebelum dia dianggap pantas (layak) untuk menerima pesan dari Tuhan? Apa perbedaan antara yang terjadi dalam diri Muhammad dengan yang terjadi dalam ritual-ritual penyembahan (pemujaan) berhala?

Isteri Muhammad yang setia mendampinginya yang bernama Khadijah nampaknya secara fisik berusaha mengurangi perasaan cemas dan khawatir suaminya namun sebetulnya secara rohani dia malahan menambah kebingungan Muhammad. Khadijah dan pamannya merupakan dua orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan Muhammad terutama waktu Muhammad mengalami saat-saat kritis. Ketika Muhammad menerima wahyu yang pertama, saudara sepupu Khadijah yang bernama Waraqah bin Naufal mengatakan, “ … Wahai Khadijah, sesungguhnya telah datang kepada Muhammad roh (malaikat) yang mulia, sebagaimana yang pernah datang kepada nabi Musa (maksudnya malaikat Jibrael). Muhammad sesungguhnya akan menjadi nabi bagi umat kita ini. Dan katakanlah kepadanya hendaklah ia tetap teguh/tenang”. 4 Oleh karena itu Khadijah kemudian menguatkan hati suaminya untuk mentaati apa yang dikatakan dalam wahyu tersebut karena mereka (Khadijah dan Waraqah) percaya bahwa wahyu itu berasal dari malaikat Jibrael. Khadijah, yang dikatakan sebagai seorang anggota dari salah satu sekte/bidat Kristen yang terdapat pada waktu itu, mengetahui sesuatu tentang malaikat Jibrael dan merasa pasti bahwa malaikat Jibrael inilah yang memberi pesan-pesan kepada Muhammad. Peristiwa yang sama juga tertulis dalam karya Mishkat al Masabih, Sh. M. Ashraf (1990) halaman 1252-1257. Setelah pengalaman-pengalaman pertamanya, Muhammad seperti kesurupan dan sangat diyakinkan oleh ilham alquraniah yang dapat dilantunkannya di manapun dan kapanpun. Bagaimana Waraqah, yang hidup pada masa Nestorian dan Arian, meyakini bahwa roh yang mencekik Muhammad tersebut sama maujudnya dengan roh yang berbicara kepada nabi Musa? (Catatan: Waraqah adalah orang Kristen; Nestorian dan Arian adalah bidat-bidat Kristen yang ada pada waktu itu). Khadijah danWaraqah inilah yang ikut andil dalam menambah kebingungan Muhammad (karena dari kedua orang inilah Muhammad mendapatlan informasi yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya mengenai malaikat Jibrael).

Bahkan para penyembah berhala di Mekah juga mencurigai adanya sesuatu yang tidak beres yang terkandung dalam pesan-pesan yang disampaikan Muhammad tersebut. Mereka menyebut Muhammad sebagai seorang ‘Majnun’, yang artinya seorang penyair gila (Surat 37:35-36; Surat 68:2; Surat 44:14; Surat 52:29; Surat 81:22). Dia juga disebut seorang ‘Mashur’, yang artinya seseorang yang berbuat dan berbicara seperti orang yang telah terkena sihir roh jahat (Surat 25:8; Surat 17:47; Surat 81:22, dan lain-lain).

Paling tidak ada delapan ayat dalam Alquran yang mencoba membela Muhammad bahwa Muhammad tidak kerasukan roh-roh jahat. Keberadaan ayat-ayat pembelaan dalam Alquran tersebut justru membuktikan adanya indikasi kecurigaan di kalangan masyarakat setempat dalam menanggapi pengalaman-pengalaman aneh yang disampaikan oleh Muhammad tersebut.
Perlu diketahui bahwa sebelum Muhammad dilahirkan, rasul Yohanes dengan inspirasi Roh Kudus telah memperingatkan: “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Elohim; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Demikianlah kita mengenal Roh Elohim: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Elohim, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Elohim, roh itu adalah roh anti Kristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia” (1 Yohanes 4:1-3).

Muhammad Marmaduke Pickthall, dalam pengantar dari buku terjemahan Alquran yang ditulisnya, mengatakan “Khadijah telah menguji roh itu”. Kami ingin bertanya: “Dengan criteria apa Khadijah menguji roh yang merasuk ke dalam diri Muhammad tersebut? Ketika rasul Yohanes mengatakan bahwa manusia harus “menguji roh-roh itu”, dia sebetulnya berbicara mengenai orang-orang yang telah mengetahui kebenaran, maksudnya orang-orang yang telah hidup dalam kebenaran dan telah memiliki kemampuan standar untuk menguji dan menilai roh-roh. Namun dalam kasus Khadijah, sebagaimana yang kita telah pelajari dari sejarawan Muslim dan sebagaimana yang diungkapkan dalam bab 10 buku ini, dia sebetulnya adalah seorang klien dari para imam baal di Mekah, walaupun latar belakang kehidupannya adalah Kristen. Ketika anak-anak laki-lakinya akan meninggal, Khadijah berkonsultasi kepada dewa-dewa baal untuk meramalkan mengenai anak-anaknya dan dia juga telah memberikan korban persembahan kepada dewa-dewa baal tersebut. Bagaimana mungkin orang macam ini mampu “menguji roh” yang merasuki Muhammad dan dapat mengetahui asal usul roh tersebut. Waraqah yang bersekutu dengan Khadijah untuk mendukung Muhammad hidup tidak cukup lama untuk dapat menyaksikan bagaimana ‘roh agung’ Muhammad tersebut ternyata nantinya akan menyangkal/menolak keilahian Yesus Kristus. Dia meninggal sebelum Islam menampakkan wujud aslinya/sebenarnya. Orang-orang Kristen Arab pada zaman Muhammad tidak memiliki kepekaan (ketajaman) roh karena sifat-sifat kebidatan mereka dan ketidaktahuan mereka mengenai kesaksian yang benar tentang Kristus. Mereka belum sempat bertobat dari kebiasaan lama mereka yang tercela ketika Islam menguasai (mencaplok) seluruh dunia Arab seperti api liar yang tak terkendali dan setiap orang takluk di bawah telapak kakinya. Tragedi yang sama nampaknya akan melanda dunia Barat masa kini kalau umat Kristen di sana tidak segera menyadarinya dan bangkit dari tidur mereka.

Hakikat dari visi-visi dan inspirasi Muhammad barangkali merupakan aspek dari sejarah Islam yang paling menimbulkan masalah. Beberapa penulis mengabaikannya (menyingkirkannya) karena mereka menganggap hal tersebut tidak penting; sebagian penulis lain dengan sengaja tetap diam untuk menghindari interpretasi yang tidak menyenangkan; dan ilmuwan Muslim modern, pada khususnya, menghindari isu tersebut karena mereka mengkhawatirkan akan akibat-akibatnya (implikasi-implikasinya), walaupun mereka sebetulnya tahu benar bahwa kenyataan tersebut tertulis dalam Hadis mereka. Sungguh sangat membahayakan bagi seorang Muslim untuk mengabaikan atau tidak mengkaji hal tersebut secara benar.

Sebagai umat Kristen, kita harus berani mengungkapkan dan menginterpretasikan setiap peristiwa dalam sejarah agar kita dapat menyajikan (menyampaikan) suatu kebenaran spiritual. Beberapa penulis Kristen yang sangat bersahabat telah menyarankan bahwa seseorang harus menghindari diskusi yang sangat terperinci manakala dia sampai pada pokok bahasan tentang aspek agama. Mereka mengatakan bahwa sekalipun fakta-fakta sejarah telah diungkapkan oleh para sejarawan Muslim mula-mula, kita sebaiknya membicarakan hal-hal lain dan tidak menekankan pada hakikat dan visi-visi Muhammad. Alasan yang mereka berikan adalah bahwa kesimpulan yang diperoleh dari pembahasan mengenai visi-visi Muhammad tersebut pasti akan menyakiti hati umat Muslim dan pada akhirnya menyebabkan mereka malahan tidak mau bertobat dan menerima Yesus sebagai juruselamat mereka. Mereka (para penulis Kristen tersebut) mengatakan bahwa sebaiknya kita bersikap obyektif. Maksud mereka yaitu bahwa kita sebaiknya diam saja atau membahasnya secara pasif saja kalau memang diperlukan. Hal-hal yang perlu kita fokuskan manakala kita berbicara soal Islam adalah bidang pengajaran (ajaran-ajaran) dan kebiasaan-kebiasaan dalam Islam, dan bagaimana ajaran-ajaran tersebut tidak memberikan petunjuk-petunjuk sama sekali tentang keselamatan manusia.

Para pendukung dari pandangan tersebut pasti mempunyai maksud baik. Namun perlu diketahui bahwa masalah visi merupakan sumber yang paling penting dalam perkara apapun, terutama, dalam hal-hal yang bersifat spiritual. Itulah sebabnya Yesus berkata pada Nikodemus, “Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: kamu harus dilahirkan kembali” (Yohanes 3:7). Nikodemus harus mulai dari nol. Hal yang salah dalam Islam bukanlah ajaran-ajarannya atau semacamnya tetapi sumber yang memberi inspirasi pada ajaran-ajaran tersebut.

Sebagaimana yang telah dibicarakan dalam bab 1, keimanan umat Muslim didasarkan atas kepercayaan bahwa Muhammad memperoleh wahyu dan visi-visi dari Allah dan melantunkan kata demi kata seperti apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dilantunkannya. Keimanan semacam itulah yang menjadikannya Islam. ‘Islam’ berarti kepatuhan kepada kemauan dan firman Allah’. Kalau keimanan semacam itu dihilangkan berarti hilang juga eksistensi Islam. Jadi, kalau kita cukup puas dengan berjilid-jilid buku mengenai doktrin-doktrin dan tidak perlu meneliti sumber dari doktrin-doktrin tersebut berarti kita akan kehilangan seluruh poin-poin penting. Dan hal ini dapat membahayakan karena kita akan memberikan kesan bahwa tidak ada hal yang salah dalam Islam kecuali kekerasan dan doktrin-doktrin tertentu. Jika kita berpijak atas dasar landasan semacam itu, kita tidak akan dapat membantu mereka yang sangat tulus hati dalam menjalankan ibadahnya dan yang telah siap untuk berubah (bertobat) manakala mereka mengetahui kebenaran itu. Selain itu kita cenderung memberi kesan kepada mereka bahwa kita beribadah kepada Tuhan yang sama dengan perbedaan hanya terletak pada sistem peribadahan dan poin-poin penekanannya. Pijakan atas dasar seperti itu merupakan kesesatan.
Jadi, tujuan dari penulisan buku ini bukan untuk mendesak para pembaca Muslim untuk menguji dan memperbaiki karakternya dan membuka lembaran baru atau mulai membentuk suatu sekte/bidat baru dalam Islam. Sekali lagi bukan. Masalahnya bukan terletak pada daun atau buahnya tetapi terletak pada pohon itu sendiri; benih yang ditanam adalah benih yang salah (Matius 12:33).

Jadi, yang salah dalam Islam bukan hanya sekedar doktrinnya, namun yang menjadi masalah utamanya adalah roh yang memberi inspirasi bagi terwujudnya doktrin dasar tersebut. Masalah yang terutama adalah roh yang merasuki Muhammad tesrebut.

Namun siapakah Allah yang telah berbicara kepada Muhammad di Hira, Tuhan yang sejati (Elohim) masih mempunyai cara untuk menjangkau Muhammad. Pertama, walaupun Khadijah dan Waraqah tidak memiliki kitab suci yang baik, mereka berasal dari lingkungan Kristen dan pasti telah menceritakan kepada Muhammad cerita-cerita Alkitab setelah Muhammad mengalami menerima wahyu Ilahi untuk yang pertama kalinya. Kedua, Muhammad telah mengadakan hubungan dagang dengan kalangan orang Kristen dan orang Yahudi dan pasti dia pernah mempelajari sesuatu tentang Alkitab dan iman Kristen melalui para pedagang tersebut.

Selain itu, ketika Khadijah meninggal, Muhammad menikahi beberapa isteri lain yang sedikit banyak telah mempengaruhi pemahaman spiritualnya manakala dia ingin mempelajari lebih dalam tentang Injil. Salah seorang isterinya yang bernama Raihana adalah seorang Yahudi. Isterinya yang ke sembilan yang bernama Safiyya juga seorang Yahudi yang sebelumnya merupakan tawanan setelah suaminya terdahulu terbunuh dalam pertempuran yang terjadi antara para pengikut Muhammad melawan umat Yahudi Khaibar. Kemudian seorang penguasa Mesir yang bernama Moqawqa menghadiahkan kepada Muhammad dua orang budak wanita Kristen Etiopia kakak beradik, sang kakak bernama Maryam dan adiknya bernama Sirin. Maryam kemudian dinikahi oleh Muhammad. Jadi, dalam keluarganya saja, Muhammad mempunyai dua orang saksi Kristen dan dua orang saksi Yahudi. Sementara isterinya yang Yahudi menjelaskan mengenai Perjanjian Lama antara Tuhan dengan Israel dan isterinya yang Kristen akan menjelaskan kepadanya mengenai Perjanjian Baru yang berbicara tentang anugerah dan rekonsiliasi melalui Yesus Kristus.

Semua hal tesrebut di atas merupakan kesempatan yang dapat digunakan oleh Muhammad untuk mengenal kebenaran tentang Elohim dan Alkitab.
Namun alhasil Muhammad bukannya membangun imannya pada cerita-cerita Injil yang benar yang dapat dia kumpulkan dari isteri-isterinya tersebut, dia malahan mengumpulkan cerita-cerita yang sepotong-potong dan mencampurbaurkannya dengan potongan-potongan cerita lain yang dia dengar selama dalam perjalanan kafilahnya, sebagian lagi dia peroleh dari ilham yang diturunkan oleh roh tertentu, dan kemudian dia merekayasa fiksi-fiksinya sendiri yang selanjutnya dijadikan dasar untuk membangun agama baru (agama Islam).

Sepanjang sejarah manusia, iblis selalu sibuk mengembara untuk mencari orang-orang yang dapat dimanfaatkannya untuk melawan Injil Yesus Kristus. Nampaknya iblis telah menemukan Muhammad sebagai orang yang dia perlukan untuk membinasakan umat Kristen yang pada masa itu sedang dalam posisi lemah.

Selain itu, Muhammad dan orang-orang Arab juga mendapat kesempatan lebih lanjut untuk menerima Injil Yesus Kristus, karena banyak sekali orang Kristen yang menetap di Yathrib (yang nantinya setelah ditaklukkan oleh Muhammad disebut Medinah atau kota pengungsi).

Kasih Tuhan Bagi Orang-Orang Arab
Bukan kebetulan kalau orang-orang Kristen telah berada di Arab sebelum zaman Muhammad. Hal itu telah direncanakan oleh Elohim denagn sempurna.
Pertama, Elohim harus memastikan bahwa setiap bangsa di kolong langit diwakili pada hari Pentakosta yang penuh anugerah di Yerusalem ketika Gereja Kristus berawal (dilahirkan).

Sungguh tidak mungkin hanya dengan beberapa murid Yesus, berita Injil harus disampaikan ke seluruh dunia tanpa menggunakan alat-alat komunikasi dan transportasi yang modern. Namun oleh karena orang-orang Yahudi sebelumnya telah tersebar di antara segala bangsa, Tuhan harus memanfaatkan mereka dengan cara memanggil banyak di antara mereka untuk menjadi wakil-wakil dari bangsa-bangsa di mana mereka berbaur dan menjadi bagian di dalamnya dan kemudian menuntun mereka menuju ke Yerusalem agar mereka dapat menyaksikan sendiri kelahiran dari Gereja Kristus di Yerusalem (dalam peristiwa kepenuhan Roh Kudus) dan sekaligus untuk menerima Injil dari sumber aslinya dan untuk kemudian mereka kembali lagi kepada bangsa-bangsa dengan siapa mereka sebelumnya telah berbaur dan menjadi bagian di dalamnya dan selanjutnya mereka diperintahkan untuk mengabarkan Injil kepada segala bangsa tersebut.

Dalam Kisah Para Rasul 2:11 diungkapkan bahwa orang-orang Arab juga hadir dalam peristiwa pada hari Pentakosta di Yerusalem, mereka termasuk di antara 3000 pribadi yang mendengar tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Elohim dalam bahasa mereka sendiri (termasuk bahasa Arab). Selanjutnya dalam Kisah Para RAsul 2:38 diungkapkan bahwa ketika Petrus meyampaikan berita Injil kepada mereka, orang-orang Arab yang percaya segera dibaptis dan kemudian mereka juga menerima karunia Roh Kudus.

Semua orang-orang tersebut kemudian kembali ke tempat mereka masing-masing, dan kami yakin bahwa orang-orang Arab yang ada di antara mereka dengan segera mulai mengabarkan Injil di negara mereka sendiri.

Selain itu perlu diketahui bahwa orang-orang Yahudi yang hidup di Roma juga menuju ke Yerusalem pada hari Pentakosta untuk menyaksikan kelahiran Gereja Kristus dan turunnya Roh Kudus. Namun tidak lama setelah peristiwa tersebut terjadilah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem yang dilakukan oleh penjajah yaitu bangsa Romawi. Akibat dari penganiayaan tersebut orang-orang Yahudi yang berasal dari Roma, beberapa di antaranya adalah orang-orang Kristen, melarikan diri ke Semenanjung Arabia untuk melanjutkan keimanannya di sana.

Namun banyak orang Arab menolak Injil dan mereka tetap menyembah berbagai dewa baal sampai akhirnya Allah, yang dianggap sebagai dewa baal yang paling tinggi kedudukannya, muncul untuk memonopoli semua keadaan dengan menggunakan sarana seorang manusia yaitu Muhammad. Dengan memanfaatkan Muhammad, Allah melaksanakan sumpahnya yang berbunyi bahwa dia (Allah) akan memenuhi neraka jahanam dengan jin dan manusia yang durhaka (Surat 11:119). Dan dari sinilah berawal suatu perjuangan yang berat: “Sebab sekalipun mereka mengenal Elohim, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Elohim atau mengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Sebab mereka menggantikan kebenaran Elohim dengan dusta dan memuja dan menyembah mahluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya. Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Elohim, maka Elohim menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas; penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, dan tipu muslihat dan kefasikan” (Roma 1:21, 25, 28-29).

Pada saat yang gawat ini, setiap orang Muslim yang jujur seharusnya dapat mengucapkan doa seperti yang tertulis dalam Alquran sebagai berikut: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (Surat 7:23). Alkitab menyatakan: “Bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan sebesar itu”, yang ditawarkan oleh Yesus Kristus? (Ibrani 2:3).

Sungguh patetis (menimbulkan rasa iba) bahwa setelah berhasil menyesatkan Muhammad dan mencekoki dia dengan rasa kebencian yang mendalam terhadap segala hal yang berbau Injil, Allah kemudian memerintahkan Muhammad untuk mengatakan kepada para pengikutnya bahwa dia (Muhammad) tidak mengetahui apa yang akan diperbuat (Allah) terhadap dirinya (diri Muhammad) dan juga terhadap para pengikutnya (Surat 46:9). Dengan kata-kata lain, Muhammad sendiri tidak yakin apakah dia akan mencapai firdaus yang penuh anggur dan wanita-wanita cantik seperti yang pernah dia ajarkan kepada umatnya.

Tuhan Yesus hanya bertanya: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?” (Lukas 6:39).
Agama Islam adalah satu contoh yang sempurna dari agama yang tanpa penebusan dosa. Namun, sekalipun demikian banyak sekali orang, bahkan orang-orang terpandang, menganutnya.

Alkitab berbicara tentang “jalan lebar yang membawa orang menuju kebinasaan”. Kitab Amsal 14:12 menyatakan: “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut”.

Abu Huraira, dalam Mishkat al Masabih halaman 1118 menyatakan: “Nabi Muhammad mengundang orang-orang Quraish (suku bangsanya), dan ketika mereka telah berkumpul dia menyampaikan amanatnya kepada mereka dengan menggunakan ungkapan umum dan ungkapan khusus. ‘B. Ka’b b. Lu’ayy, lepaskanlah dirimu sendiri dari neraka; B. Murra b. K’ab, lepaskanlah dirimu sendiri dari neraka; B. ‘Abd. Shams, lepaskan dirimu sendiri dari neraka; B. ‘Abd al-Muttalib, lepaskan dirimu sendiri dari neraka; Fatimah, lepaskan dirimu sendiri dari neraka, karena aku tidak dapat melakukan apapun untuk membela kamu menghadapi hukuman Tuhan”.
Aisha menyatakan bahwa utusan Allah (Muhammad) biasanya berseru, “O Allah, aku mohon lindunganMu dari kejahatan yang pernah kulakukan …” (Ibid. halaman 525). Menurut Abu Musa al-Ashari, seorang saksi lain, Muhammad biasanya menyatakan, “O Allah, ampuni aku dari dosa-dosaku, dari kebodohanku, dari kelakuanku yang tak terkendali dalam segala urusan, dari dosa-dosa karena kesembronoanku, dari dosa-dosaku baik yang kusengaja maupun yang tidak kusengaja, karena aku berdosa atas semuanya itu, O Allah, ampuni aku dari dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, ampunilah aku karena segala sesuatu yang kurahasiakan dan karena segala sesuatu yang kulakukan terang-terangan” (Ibid. halaman 529).

Apa yang dirahasiakannya? Mungkinkah hal yang dirahasiakannya itu adalah kebenaran dan kenyataan-kenyataan tentang Yesus Kristus yang dia tidak mau menceritakannya kepada orang-orang lain? Kami tidak tahu. Satu hal yang kami tahu yaitu bahwa Muhammad telah mengabaikan keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus Kristus dan membangun kebenarannya sendiri, yaitu suatu kebenaran yang bahkan tidak mampu melepaskannya dari dosanya sendiri. Sejak saat itu, hampir 1400 tahun berlalu, jutaan jiwa manusia yang sangat berharga telah mengikuti agamanya dan akhirnya mereka semua binasa selama-lamanya, “tanpa suatu pengharapan, tanpa Tuhan dalam dunia ini”. Saya sungguh merasa ngeri membayangkan jumlah yang sedemikian besarnya.

Muhammad barangkali mempunyai tujuan-tujuan yang baik pada mulanya, dan dia berkeinginan untuk melayani Tuhan yang sejati/benar. Namun dia gagal memperoleh kesempatan karena dia nampaknya tidak pernah berjumpa dengan seorang saksi Kristen yang sesungguhnya yang dapat menunjukkan kepadanya “Jalan Kebenaran, dan kehidupan”. Kalau kami sebagai umat Kristen berpikir lebih dalam, kami sungguh menyadari alangkah berharganya sebuah jiwa bagi Tuhan atau bagi iblis. Apabila kita menolak untuk bersaksi kepada seorang berdosa yang ada di samping kita, yang jiwanya merindukan/haus akan Tuhan yang sejati, tahukah kita apa yang akan dilakukan iblis terhadap jiwa tersebut kalau sampai dia dapat menguasai jiwa itu sepenuhnya? Umat manusia harus bertobat dan dikuasai oleh Roh Kudus atau mereka akan hilang selamanya.

Tugas utama iblis di dunia adalah untuk mengajak sebanyak mungkin manusia untuk ikut bersama dia masuk ke lautan api (neraka). Dalam Alquran, Surat 11:119, yang pernah kita acu sebelumnya, Allah (siapapun dia) berkata: “Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya”. Keputusan tuhan agama Islam (Allah) ini diperkuat oleh Surat 7:178-179, dan Surat 32:13.

Umat Muslim tidak perlu kehilangan pengharapan. Kami sungguh merasa bahagia untuk menyampaikan kabar kepada anda bahwa ada Tuhan yang jauh lebih mulia hatinya. “Karena begitu besar kasih Elohim akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Seorang Muslim secara pribadi harus menyadari bahwa Allah memang mampu memimpin dan dia pasti akan memimpin para pengikutnya, namun mereka akan dipimpinnya menuju ke neraka sebagaimana yang dijanjikannya, oleh karena itu jika anda mau mengambil sikap dan bertobat HARI INI, tanpa memandang pada posisi anda dalam Islam, Yesus akan menjadi Tuhan dalam hidup anda dan anda (baik wanita maupun pria) akan menjadi salah satu dari dombaNya. Sebagai Gembala yang baik Yesus berkata: “Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar daripada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” (Yohanes 10:27-29). Halleluyah !

Inilah juruselamat yang ada dalam Kristen. Sebagai seorang Muslim mungkin keilahian Yesus inilah yang merupakan bagian dari isi Alkitab yang paling sulit anda terima/percaya, namun sesungguhnya di bagian inilah terletak keselamatan anda (dan segenap umat manusia).

Buku ini sudah pasti bukan ditujukan kepada semua orang. Buku ini hanya ditujukan untuk mereka yang tidak takut menghadapi kebenaran – yaitu orang-orang yang berpikiran luas dan rasional dan bukan orang-orang yang mengamuk kalau menghadapi fakta-fakta yang sulit yang mempengaruhi tujuan hidup saat ini dan selama-lamanya. Jika anda seorang Muslim dan anda telah dengan sabar membaca buku ini sampai pada poin ini, kami yakin Tuhan Roh Kudus telah bekerja di dalam hati anda untuk memperingatkan anda akan dosa-dosa anda. Namun demikian pilihan tetap ada pada diri anda; mau menerima keselamatan anda sekarang juga atau tidak. Hari esok pasti akan terlambat bagi anda untuk mengambil keputusan. Allah tidak mempunyai apa-apa untuk ditawarkan kepada anda selain hanya mantera-mantera, jimat-jimat, isteri-isteri, dan kekayaan-kekayaan (tanpa adanya kedamaian) yang akan berakhir hanya sampai di dunia saja. Yesus berkata, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya” – di neraka ! (Matius 16:26). Anda bahkan tidak dapat memperoleh seluruh dunia.
Walaupun seluruh keluarga anda adalah Muslim, Tuhan telah mengirim buku ini kepada anda karena Dia ingin menyelamatkan anda “dari cara hidup anda yang sia-sia yang anda warisi dari nenek moyang anda itu” (1 Petrus 1:18).

“Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Elohim memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka (termasuk pembaca buku ini yang beragama Islam) harus bertobat” (Kisah Para Rasul 17:30). Atau barangkali anda berpikir bahwa orang-orang yang akan masuk neraka adalah orang-orang yang tidak beragama? “Tidak ! kataKu kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Lukas 13:3). Barangkali anda berpikir bahwa lautan api (neraka) akan dipenuhi oleh para penganut ilmu-ilmu gaib baik yang bersifat tradisional maupun modern, dan para perampok bersenjata, serta para pecandu obat terlarang? “Tidak ! kataKu kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Lukas 13:5).

“Tetapi apabila pernah dikatakan; Pada hari ini, jika kamu mendengar suaraNya (anda sedang mendengar suara Yesus sekarang ini), janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman” (Ibrani 3:15).

Karena anda telah dengan sabar mengikuti saya dengan membaca buku ini sampai akhir dan anda telah mendapatkan kesempatan untuk mengetahui semua fakta-fakta yang perlu anda ketahui demi keselamatan jiwa anda, ambillah keputusan dan bersiaplah menerima tawaran Yesus di dalam hatimu sekarang ini.

Bila hati anda telah siap menerima tawaran tersebut, carilah segera tempat yang anda rasa paling tenang bagi anda, selanjutnya berlututlah dan akuilah semua dosa-dosa anda yang mana selama ini anda telah melawan dan mengabaikan Tuhan yang sejati, dan kemudian mohonlah kepada YESUS KRISTUS untuk membersihkan dosa-dosa anda dengan DARAHNYA, dan untuk menyelamatkan anda (sebagaimana yang pernah dijanjikanNya). Anda pasti tidak akan menyesal melakukan hal tersebut dan mulailah menjalani kehidupan baru anda bersama Kristus. Berilah kabar kepada kami mengenai apa yang telah Tuhan perbuat dalam kehidupan baru anda, kami akan senang sekali mendengarnya. Anda bukan orang Muslim pertama yang telah diselamatkan oleh Yesus dan juga bukan orang Muslim terakhir yang akan diselamatkanNya. Ingatlah berapa kali anda harus mengulang-ulang al Fatiha yang ternyata tidak memberi kepastian (jaminan) bagi keselamatan jiwa anda? Banyak orang telah menemukan terang yang sejati dan jalan yang benar dan masih banyak lagi orang yang akan melihat terang ini sebelum kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Anda akan menjadi salah satu dari orang-orang yang berbahagia tersebut.

TUHAN MEMBERKATI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar