Senin, 09 November 2009

Pasal 23 - Saksi-Saksi Hidup vs Kebenaran Politik

“Bagaimana jika – walaupun kita sangat mengharapkan dan menginginkan – namun Islam tetaplah bukan sebuah agama yang pada dasarnya baik, damai dan toleran? Bagaimana jika Islam pada dasarnya sangat mirip dengan Naziisme atau sistem-sistem keyakinan yang menyimpang atau yang jahat, dan yang pada hakekatnya ingin menguasai dunia?”

Sebagai kesimpulan terhadap kumpulan kesaksian-kesaksian dari buku ini, maka sebuah elemen yang sangat meyakinkan dapat ditarik. Walaupun para apologis Muslim membuat klaim-klaim yang tak habis-habisnya, dimana mereka mengatakan bahwa Islam sangat menghargai kebebasan personal dan toleransi terhadap non-Muslim, tetapi hal itu adalah sebuah perkecualian dan bukan norma. Sebagaimana yang kita ketahui saat ini, goal dari Islam radikal adalah untuk membawa dominasi global Islam secara komplet.

Jika para Islamist tidak dihentikan, maka apa yang telah anda dengar di sini – cerita-cerita mengenai penindasan-penindasan, intoleransi, dan diskrimasi ekstrem yang sudah ditinggalkan oleh masyarakat Barat berabad-abad yang lalu – akan tetap diceritakan, bukan dari bagian dunia yang ada di seberang sana, tetapi dari para tetangga kita sendiri. Jika para Islamist tidak dihentikan, maka cerita dari mereka yang anda baca di sini akan menjadi kehidupan harian dari generasi-generasi masa depan di Barat, maupun di negara-negara non-Muslim. Jika anda berpikir bahwa hal ini adalah sebuah ide atau pikiran yang gila maka pertimbangkanlah hal berikut ini: Apakah kita memilih atau menolak untuk mengabaikan fakta-fakta, dunia Islam dan Barat sedang terlibat dalam sebuah perang suci.

Dan kelihatannya dunia Barat tidak sedang memenangkan pertempuran itu. Adalah sebuah kebenaran, bahwa ada orang-orang yang dipersiapkan untuk mati dan membunuh kita hanya karena kita tidak mau memeluk Islam sebagaimana halnya mereka. Sebagai tambahan, mereka juga dipersiapkan untuk membunuh muslim-muslim lainnya, seperti halnya Benazir Bhutto, yang juga tidak memeluk Islam radikal. Kenyataan ini lebih lanjut terbukti dengan meningkatnya jumlah cerita-cerita baru yang dicatat Allah dan Islam sebagai sebuah pembenaran untuk pembunuhan berdarah dingin. Sesungguhnya, kejahatan Islam radikal dan kebencian terhadap Kristen, Hindu, Budha, dan terlebih khusus terhadap orang-orang Yahudi tampak jelas kepada siapa pun yang hanya membaca surat kabar secara sambil lalu.

Sebagaimana kita semua ketahui, pada tanggal 11 September 2001, sebagai tambahan atas runtuhnya menara kembar WTC, Islam radikal juga menyerang Pentagon. Ya, dengan nama Allah, para teroris menargetkan pusat dari militer Amerika. Perang ini dilaksanakan dalam nama Allah. Kemudian setelah peristiwa itu, tahun-tahun berikut telah menyaksikan gelombang kejahatan, semuanya dibawa dalam nama Islam, dan tidak ada harapan bahwa hal ini akan segera berlalu. Pada tahun-tahun terakhir, hal ini bahkan dari buruk menjadi sangat buruk.

Adalah sebuah kebenaran dan bukti-bukti terus bertambah bahwa Islam Fundamentalisme adalah sebuah masalah global, dan jika tidak segera dihentikan maka ia akan segera tiba di tetangga-tetangga yang ada di sekitar anda. Pada saat buku ini dicetak, sekumpulan besar cerita-cerita baru tanpa ada keraguan menjadi headline di berbagai media di seluruh dunia. Ada jutaan orang di seluruh dunia yang ingin menjadikan kita Muslim atau membunuh kita dengan nama Allah. Kiranya kita tidak pernah melupakan peristiwa 11 September, 11 Juli (Bom Madrid), serangan-serangan kereta api di India, dan kebiadaban yang dilakukan sejumlah Muslim Indonesia di Bali. Namun tetap saja, meskipun fakta-fakta sangat jelas dipaparkan melalui cerita-cerita dan kesaksian-kesaksian dalam buku ini sejak 11 September, masyarakat non Muslim khususnya yang ada di Barat kelihatan masih bingung mengenai sifat sesungguhnya dari Islam.

Pada satu pihak kita telah diberitahukan ribuan kali bahwa “Islam artinya damai” (yang sebenarnya Islam artinya tunduk kepada Allah). Kita juga telah diberitahukan bahwa Islam adalah sebuah agama yang indah dan ia sama halnya dengan agama-agama dunia lainnya. Kita juga coba diyakinkan bahwa dalam Islam tidak melekat kekerasan. Kita juga diberitahukan bahwa “Islam sejati” tidak mendukung jihad atau perang suci terhadap “orang-orang kafir”. Kita pun diberitahukan bahwa mereka yang melakukan kekerasan atas nama Islam hanyalah sebuah kelompok kecil dari populasi Muslim dunia. Mereka memberitahukan kepada kita bahwa orang-orang itu telah “membajak sebuah agama yang agung”.

Namun diantara mereka yang telah meninggalkan Islam, kita mendengar sebuah cerita yang sangat berbeda. Apakah mereka yang mengatakan betapa Islam itu sebuah agama damai bukan pada kenyataannya sedang menyampaikan sebuah versi Islam yang telah disterilisasikan, atau “dikristenkan” dan secara khusus dikemas supaya bisa diterima di Barat atau pun di negara-negara Muslim lainnya? Apakah diet Islam adalah sebuah Islam yang sesungguhnya, atau wajah Islam yang sebenarnya adalah Islam yang kita lihat di berita malam, ketika mereka dilaporkan melakukan bom bunuh diri, perkosaan dan kekerasan dalam berbagai bentuk? Disinilah letak kesulitannya: suara-suara yang melukiskan Islam sebagai agama yang lemah-lembut dan indah biasanya berasal dari para politikus atau para apologis Muslim, atau juru bicara Masjid lokal.

Namun pada sisi yang lain, ada Islam yang berbeda yang kita lihat. Ini adalah Islam yang memproduksi terlalu banyak kekerasan dan pembunuhan-pembunuhan individual. Ini adalah Islamnya Osama Bin Laden, Mahmud Ahmadinejad, dan para pelaku bom bunuh diri. Ini adalah Islam jihad dan “bunuh para kafirun”. Ini adalah Islam yang kebanyakan orang pasti menginginkan agar ia dihapuskan sama sekali. Namun sekarang setelah kita membaca cerita-cerita dari para pria dan wanita eks Muslim yang berani, pertanyaan baru muncul: Siapa yang akan kita dengar? Apakah kita masih terus menerima klaim-klaim dari para politisi, para apologis Muslim, dan para penginjil yang menerima dana dari pemerintah Saudi Arabia yang menganut paham Wahabian, atau apakah kita akan menerima kisah-kisah yang disampaikan kepada kita oleh mereka yang telah meninggalkan Islam? Akankah kita menerima apa yang diberitahukan kepada kita, atau menerima apa yang telah kita saksikan pada dekade yang sudah lewat dalam skala global? Apakah kita akan benar-benar memperhatikan suara-suara dari para sarjana yang telah menghabiskan seluruh hidup mereka untuk mempelajari Islam seperti Robert Spencer atau Daniel Pipes, atau mempercayai mereka yang mengklaim bahwa ayat Quran yang berbunyi: “bunuhlah kafir kapan pun engkau bertemu dengan mereka” (Surah 2:191) sebenarnya mengandung pengertian untuk “mengasihi tetangga seperti mengasihi diri sendiri?”

Kapan saja sebuah cerita tertentu disampaikan dalam pemberitaan media mengenai perbuatan yang tidak manusiawi yang dilakukan oleh seseorang atas nama Islam, para komentator yang bermacam-macam secara refleks akan mencoba menjelaskan dan mengkualifikasikan bahwa, kendati ada orang-orang biadab yang melakukan tindakan-tindakan itu atas nama Islam, tetapi Islam sendiri sesungguhnya adalah sebuah agama yang agung dan mulia dan tidak bisa dipersalahkan. Mereka coba menghibur dan meyakinkan kita bahwa apa yang kita lihat hari ini dengan para pelaku bom bunuh diri dan pemancungan-pemancungan yang dilakukan sebenarnya hanyalah sejumlah kecil perbuatan jahat dan kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang yang sesat, yang telah “membajak sebuah agama yang agung.”

Ketika kita sebagai seorang non-Muslim membuat klaim seperti itu – bahwa pada intinya Islam adalah sebuah agama yang agung, damai dan baik – yaitu pada saat kita membuat klaim-klaim yang tidak didasarkan pada realitas obyektif, atau melalui sebuah pengujian yang solid terhadap teks-teks suci yang bervariasi maupun sejarah Islam, tetapi lebih didasarkan hanya pada iman kita saja bahwa hal itu pastilah demikian, maka secara literal kita sedang melakukan bunuh diri kultural. Hal ini tidaklah berlebih-lebihan. Ini adalah pendapat Jonestown dengan sebuah skala yang tidak bisa dibayangkan. Memang racun ini membutuhkan beberapa generasi untuk menyelesaikan karyanya, tetapi ia bukanlah sesuatu yang kurang efektif jika dibandingkan dengan Kool-Aid yang keji yang ditelan oleh massa (para pengikut Jim Jones) di Ghana.

Sekarang, dengan iman kita berbicara dalam 2 arah. Yang pertama, kita menyebut iman dalam pengertian sebuah sistem keyakinan, yang dalam kasus ini sistem keyakinan tanpa nama yang tidak jelas namun sangat populer yang berkata – dan kita semua mendengar kata-kata klise ini ribuan kali – bahwa semua agama memimpin kepada Tuhan dan pada dasarnya semua agama adalah baik. Kita juga menyebut iman dalam pengertian harapan – atau mungkin kata yang lebih baik adalah keputus-asaan. Sebuah keyakinan yang putus asa berpendapat bahwa Islam pada intinya pastilah baik; jika tidak...lantas bagaimana?

Ia harus. Secara sederhana harus demikian.

Tetapi bagaimana jika sebenarnya tidak demikian?

Apakah kita mengijinkan untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut? Kita mendengar bahwa ada orang-orang yang menuduh bahwa kita telah menyebarkan kebencian. Namun, apakah hal ini adalah sebuah “kebencian”, saat mengkritik atau mempertanyakan sebuah ideologi? Dengan kata lain, bukankah hal ini adalah kebencian yang ditujukan terhadap individu-individu dan bukan terhadap konsep atau ideologi? Atau kita ubah kalimatnya sebagai berikut, di awal 1940an, bisakah seseorang mengasihi orang-orang Jerman namun pada saat yang sama tetap mengecam keras Naziisme tanpa dituduh sedang menyebarkan kebencian? Atau pertanyaan relevan lainnya adalah: Bukankah kekuatan utama sebuah masyarakat yang “maju” adalah kemampuan masyarakat itu untuk dengan bebas memperdebatkan dan mendiskusikan segala hal yang nyata? Bukankah ini merupakan salah satu kekuatan utama dari budaya Barat? Besi menajamkan besi. Atau apakah pernyataan besi menajamkan besi saat ini dipandang sebagai sebuah ungkapan yang tidak perlu dan menjengkelkan, dan harus segera dibungkam?

Apakah “koreksi secara politis” telah menggilas habis kemampuan masyarakat kita untuk bisa secara berbudaya mendiskusikan hal-hal itu meskipun hal itu terkadang tidak nyaman untuk dibahas? Apakah seorang pengkoreksi politik tingkat tinggi telah merampok kita sebagai kelompok masyarakat yang sangat menjunjung tinggi kebebasan yang telah menjadikan kita masyarakat yang agung? Dalam usaha kita untuk menjadi sensitif, sudahkah kita mengabaikan akal sehat? Kita akan memperdebatkan apa yang kita miliki.

Telah muncul sebuah usaha untuk menjelaskan banyak perbuatan biadab yang telah dilakukan dalam nama Allah. Seringkali, pembentukan negara Israel atau intervensi Amerika di Timur Tengah yang dipersalahkan – dan terlebih khusus lagi peperangan di Irak dan Afghanistan. Tetapi telah berurat berakar di dalam setiap kita kebutuhan akan penjelasan yang rasional sebagai cara bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah ini. Jika kita bisa merubah diri kita sendiri, maka kita dapat menghilangkan keinginan musuh-musuh kita untuk membunuh kita – atau melenyapkan pemikiran mereka yang jahat.

Sedihnya, keyakinan ini lebih banyak didasarkan pada emosionalisme yang didasarkan pada ketakutan, benci pada diri sendiri yang timbul karena perasaan bersalah, dan sikap masa bodoh yang menyolok terhadap sejarah Islam dan bukannya atas alasan-alasan yang masuk akal. Suatu hal yang menarik bahwa pada tahun 1940an, ketika Eropa menghadapi ancaman yang mengerikan dari Naziisme, ahli sejarah Gereja Roma Katolik dan Hilaire Belloc seorang intelektual meyakini bahwa Islam pada suatu hari nanti akan menjadi ancaman yang jauh lebih berbahaya dan mengerikan dibandingkan dengan rejim Hitler. Mereka mengingatkan kita akan sejarah dengan berkata: “Viena, sebagaimana yang kita lihat, hampir saja direbut dan hanya bisa diselamatkan oleh Raja Polandia pada tanggal yang menjadi waktu yang sangat bersejarah yaitu tanggal 11 September, 1683.”

Dengan kata lain, ancaman Islam telah ada jauh sebelum berdirinya negara modern Israel atau Amerika Serikat. Pada kenyataannya, sebagaimana sejumlah mantan Muslim katakan dalam buku ini, tradisi suci yang diterima secara universal oleh Islam telah mendeklarasikan sejak permulaan bahwa hari kebangkitan tidak akan datang sebelum para Muslim yang setia melenyapkan sama sekali (holocaust) orang-orang Yahudi. Apakah tradisi suci kuno ini harus dipersalahkan atas berdirinya negara Israel? Pada saat “inspirasinya”, orang-orang Yahudi tidak memiliki negara mereka sendiri. Tetapi roh Anti-Semitik dari Islam bahkan sudah ada ketika orang-orang Yahudi tidak memiliki negara sendiri.

Roh Anti-Semitik yang tidak berbelaskasihan ini mungkin diartikulasikan sangat baik melalui mulut seorang Hassan Nasrallah, pemimpin pergerakan Hezbollah di Lebanon, ketika ia berkata pada bulan Oktober 2002, ”Jika semua orang Yahudi telah berkumpul di Israel, maka hal itu akan sangat membantu kita untuk tidak perlu lagi memburu mereka di seluruh dunia.” Apakah Amerika harus dipersalahkan atas keinginan untuk melenyapkan seluruh orang Yahudi? Atau Islam radikal terlihat sebagai pesona yang sama dengan Adolf Hitler? Sesungguhnya, ajaran Mein Kampf dari Adolf Hitler menjadi buku best seller di banyak negara-negara Arab selama lebih dari satu dekade, khususnya di Palestina. Dengan memprogandakan kebencian terhadap Israel dan Amerika Serikat, bukankah hal yang sangat mungkin bahwa serangan 11 September tidak ada hubungannya dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat tetapi secara sederhana ini adalah serangan terhadap Amerika – negara Kristen terbesar di dunia – pada perayaan kemenangan tentara-tentara Kristen yang berhasil mengalahkan Muslim di pintu gerbang Viena, Austria?

Kembali pada pertanyaan yang ditanyakan di awal mengenai kebaikan atau kejahatan yang melekat pada Islam. Bagaimana jika – meskipun kita sangat berharap dan menginginkannya – Islam pada intinya bukanlah agama yang baik, damai dan toleran? Bagaimana jika Islam pada intinya sebenarnya sama dengan Naziisme atau sistem kepercayaan sesat atau jahat lainnya, yang bertujuan untuk mendominasi dunia? Bagaimana jika Islam dalam pondasinya memiliki banyak hal yang secara diametrikal beroposisi terhadap kebebasan berbicara, kebebasan memilih, kebebasan berekspresi – atau bentuk-bentuk kemerdekaan lain pada umumnya? Bagaimana jika klaim bahwa Islam telah dibajak oleh orang-orang radikal sebenarnya tidak benar, tetapi sebaliknya orang-orang radikal itu sebenarnya adalah mereka yang sangat akurat dan setia dalam mengamalkan inti dari ajaran Islam? Bagaimana jika sebuah studi obyektif terhadap Islam menunjukkan bahwa inilah yang sebenarnya terjadi?

Sebagaimana yang telah kita baca melalui beberapa kisah di atas, ada sebuah ancaman yang bersifat umum: Tak satu pun pendapat yang bersifat politik benar. Mengapa demikian? Mengapa ketika kita coba untuk menyingkapkan dan mendiskusikan natur yang sebenarnya dari Islam, maka kita dengan cepat mendengarkan mereka yang hanya mendiskusikan Islam dalam terminologi yang positif dan memancarkan cahaya, tetapi kita menolak untuk mempercayai kesimpulan-kesimpulan dari para sarjana yang telah menghabiskan hidup mereka untuk mempelajari Islam, dan menarik kesimpulan yang berbeda dengan para politikus itu? Atau yang lebih penting lagi, mengapa kita harus cepat-cepat menolak kisah-kisah nyata yang sangat pribadi dari orang-orang yang lahir dan dibesarkan dalam Islam dan kemudian meninggalkannya setelah menemukan wajah Islam yang sebenarnya? Mengapa gambar yang dengan jelas dilukiskan melalui kisah-kisah dalam buku ini tak satu pun yang dipertimbangkan oleh media atau sistem pendidikan? Mengapa hingga saat ini kita lebih memilih pembenaran politis di atas kenyataan yang sebenarnya? Dan sekarang, setelah mendengar peringatan-peringatan yang disampaikan di sini, masihkah kita memilih untuk tunduk tanpa berpikir di hadapan altar koreksi politis atau kita memilih untuk mengindahkan peringatan-peringatan dari para saksi hidup yang berani ini?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar