Sabtu, 28 November 2009

Bab 5 TUHAN AGAMA ISLAM

Allah Islam Dan Tuhan Dalam Alkitab

Islam mengklaim bahwa Allah dalam Islam sama dengan Tuhan Elohim seperti yang dinyatakan dalam Alkitab. Pemahaman ini secara logis mengandung arti positif bahwa konsep Tuhan – Alquran akan sama dalam segala hal dengan konsep Tuhan – Alkitab. Namun pemahaman tersebut di atas juga dapat mengandung arti negatif yaitu jikalau ternyata bahwa Alkitab dan Alquran berbeda pandangan mengenai Tuhan, maka risikonya adalah klaim Islam itu tidak benar.

Masalah ini hanya dapat diputuskan dengan cara melakukan studi banding atas dua dokumen baik dokumen yang berkaitan dengan Alquran maupun dokumen yang berkaitan dengan Alkitab. Masalah tersebut tidak bisa diputuskan atas dasar bias-menyimpang atau pemihakan keagamaan, tetapi harus dengan cara mempelajari buku-buku teks dari kedua belah pihak secara adil.

Sifat-sifat Tuhan

Samuel Zwemer, seorang ahli masalah Timur dalam bukunya The Muslim Doctrines of God: An Essay on the Character of Allah According to the Koran, pada tahun 1905 mencatat sebagai berikut:

Ada satu hal penting yang diabaikan oleh sebagian besar penulis yang telah menulis mengenai agama yang disiarkan oleh Muhammad mengenai Tuhan. Begitu mudah mereka tersesat oleh nama atau oleh etimologi.



Hampir semua penulis tersebut menganggap bahwa Tuhan dalam Alquran mempunyai sifat-sifat dan eksistensi yang sama dengan “YAHWEH” yang dinyatakan oleh Alkitab Perjanjian Baru. Apakah pandangan seperti itu benar?

Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa Tuhan dalam Alkitab dan Tuhan dalam Alquran adalah sama dan satu, hanya namanya saja yang berbeda. Namun seperti yang ditanyakan oleh Zwemer, apakah itu betul?

Ketika kita bandingkan sifat-sifat Tuhan-Alkitab dengan sifat-sifat Tuhannya Alquran, muncul dengan jelas, bahwa keduanya bukanlah dari Tuhan yang sama!

Sejak munculnya agama Islam, para ilmuwan Kristen dan Islam telah berselisih pendapat mengenai siapakah Tuhan yang benar.

Tuhan menurut Alkitab tidak dapat diubah menjadi Allah sesuai pandangan Islam, demikian juga Allah Islam tidak dapat diubah menjadi Tuhan Alkitab.

Latar belakang sejarah mengenai asal usul dan makna kata Arab “Allah” menunjukkan bahwa Allah bukanlah Tuhan yang menjadi sesembahan orang Yahudi dan orang Kristen. Allah hanyalah suatu berhala dewa bulan bangsa Arab yang dimodifikasi dan ditingkatkan maknanya.

Doktor Samuel Schlorff menyatakan dalam tulisannya mengenai perbedaan mendasar antara Allah dalam Alquran dan Tuhan dalam Alkitab sebagai berikut:

Saya percaya bahwa kunci masalahnya adalah pertanyaan mengenai hakikat Tuhan dan bagaimana Tuhan berhubungan dengan ciptaanNya; Islam dan Kristen, meskipun mempunyai kesamaan secara formal, sesungguhnya sangat jauh berbeda dalam masalah tersebut.

Marilah kita kaji beberapa perbedaan histori seperti yang telah dinyatakan antara Tuhan dalam Alkitab dan Allah dalam Alquran. Konflik mengenai hal ini tercatat dalam karya-karya ilmiah selama lebih dari 1000 tahun.

Konflik semacam ini sudah tercatat dalam buku-buku referensi standar yang membahas mengenai hal tersebut. Jadi kami hanya akan membahas secara singkat atas masalah yang terkait saja.

Dapat Dikenal vs Tidak Dapat Dikenal

Menurut Alkitab, Tuhan dapat dikenal. Yesus Kristus datang ke dunia ini agar kita boleh mengenal Tuhan (Yohanes 17:3).

Namun dalam Islam, Allah tidak dapat dikenal. Allah begitu tinggi dan mulia, sehingga tidak ada seorangpun yang pernah secara pribadi mengenalnya. Allah menurut Alquran berada di tempat yang sangat jauh dan sangat abstrak, sehingga tidak ada seorangpun yang pernah secara pribadi mengenalNya. Sementara menurut Alkitab, manusia dapat datang dan berhubungan secara pribadi dengan Tuhan.

Suatu Pribadi vs Bukan Suatu Pribadi

Tuhan menurut Alkitab dikenal sebagai suatu pribadi yang memiliki kecerdasan, emosi, dan kehendak. Hal ini bertolak belakang dengan Allah Islam yang tidak dikenal sebagai suatu pribadi, sebab hal ini akan menempatkan Allah pada tingkatan yang rendah yaitu setara dengan manusia biasa.

Roh vs Non-Roh

Bagi umat Muslim, pandangan yang menyatakan bahwa Allah itu suatu pribadi atau suatu roh merupakan hujatan karena pandangan semacam ini sama artinya dengan “membatasi” dan merendahkan Allah maha mulia/tinggi tersebut.

Tetapi konsep bahwa “Tuhan adalah roh” merupakan salah satu landasan dari hakikat Tuhan menurut Alkitab sebagaimana yang diajarkan Yesus Kristus sendiri dalam Yohanes 4:24.

[Singkatnya, Islam akan menolak setiap gambaran yang spesifik tentang Allah SWT. Allah bukan pribadi, bukan roh, bukan ‘Bapa”, bukan ini dan bukan itu. Sebab, menurut Islam, apa yang dapat digambarkan tentang Allah adalah BUKAN ALLAH yang ALLAHU AKBAR].

Mengimani Doktrin Trinitas vs Doktrin Unitas

Tuhan menurut Alkitab adalh Tuhan trinitas, yaitu Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Trinitas tersebut pengertiannya bukan tiga Tuhan melainkan satu Tuhan yang Esa yang menyatakan diriNya dalam ujud tiga oknum. Alquran menolak tegas Trinitas, menolak Bapa, menolak Yesus sebagai Anak (Son of God, dalam artian rohani, bukan fisik-biologis), dan menolak Roh Kudus.

[Tetapi Alquran mengkelirukan Yesus sebagai anak biologis dari Bapa, QS 6:101].

Terbatas vs Tidak Terbatas

Tuhan menurut Alkitab dibatasi oleh hakikatNya sendiri yang tidak bisa berubah dan berganti. Jadi Tuhan tidak dapat melakukan apa saja yang bertentangan dengan hakikatnya sendiri.

Dalam Titus 1:2, kita diberitahu bahwa, “Tuhan tidak dapat berbohong”. Kita juga diberitahu mengenai hal itu dalam Ibrani 6:18.

Dalam 2 Timotius 2:13 dinyatakan bahwa Tuhan tidak dapat melakukan tindakan yang bertentangan dengan hakikatNya sebagai Tuhan.

Namun kalau kita menyimak pada apa yang dikatakan Alquran, kita akan mengetahui bahwa Allah tidak dibatasi oleh apapun. Dia bahkan tidak dibatasi oleh hakikatNya sendiri.

Allah dapat melakukan apa saja, kapanpun Dia mau, di tempat Manapun, Dia berada dengan tanpa batas. [Allah SWT misalnya bisa menipu dan berwenang untuk menipu. Bahkan Ia menjuluki diriNya sebagai sebesar-besarnya penipu daya (lihat QS 3:54). Dan Ia mencontohkan penipuan jumlah musuh dalam mimpinya Muhammad (QS 8:43). Serta membuka pintu bagi sumpah palsu yang bisa dihapus dengan materi (QS 5:89)! Dengan perkataan lain, Allah SWT berwenang dalam segala hal, termasuk berwenang untuk sewenang-wenang! Surat 2:253 dan lain-lain].

Terpercaya (konsisten, tidak berubah) vs Tidak Terpercaya

Karena Tuhan menurut Alkitab dibatasi oleh hakikat kebenaranNya sendiri dan karena ada hal-hal yang Dia tidak dapat lakukan, Dia sepenuhnya dapat dipercaya dan konsisten secara sempurna.

Namun, kalau kita pelajari tindakan-tindakan Allah dalam Alquran, kita temukan bahwa Allah tidak bisa dipegang dan dipercaya. Ia tidak terikat oleh sifat-sifatNya maupun kata-kataNya.

[Kata-kata Allah SWT tidak kekal, melainkan bisa digantikan lewat waktu dan keadaan. Itu melahirkan ayat-ayat nasakh (yang menggantikan) terhadap ayat-ayat mansukh (yang digantikan). Surat WahyuNya yang tadinya diturunkan secara kronologis diubah diam-diam (tanpa alasan dan tanpa wahyu) menjadi non-kronologis/ acak, yaitu menjadi urutan yang berpolakan panjangnya Surat]

Ada Kasih Tuhan vs Kekaburan Kasih Tuhan

Kasih Tuhan merupakan sifat utama dari Tuhan menurut Alkitab seperti yang tertulis dalam Yohanes 3:16. Tuhan mempunyai rasa kasih kepada ciptaanNya, terutama manusia. Namun, kalau kita pelajari dalam Alquran, kita tidak menemukan kasih sebagai sifat utama Allah, melainkan kemahabesaranNya. Allah “tidak punya perasaan” sebagai pencipta terhadap manusia (ciptaanNya).

Konsep kasih Tuhan merupakan hal yang asing dalam ajaran Islam. Allah yang “punya perasaan” terhadap ciptaanNya hanya akan menempatkan Allah secara kerdil setara dengan manusia biasa. Walaupun pernyataan kasih ini benar (dan perlu), namun lagi-lagi umat Muslim menganggap pernyataan tersebut sebagai hujatan terhadap Allah.

[Walau para Muslim sering mengklaim bahwa Allah SWT maha pengasih & penyayang, namun sifat-sifat ini tidak pernah disubstansikan oleh Allah SWT sendiri. Hubungan pengalaman para muslim dengan realitas kerahiman Allah SWT amat kabur.

Mereka tidak pernah mengenal Tuhan Elohim yang berkorban bagi umatNya. Allah SWT dianggap telah Maha Rahim oleh para Muslim karena memberikan hujan, embun, sinar, udara dan lain-lain secara gratis, yang oleh para kristiani lebih dianggap sebagai tanggung jawab Tuhan Elohim, bukan Kasih yang berkorban!].

Aktif Dalam Sejarah vs Pasif Dalam Sejarah

Allah (dalam Alquran) secara pribadi tidak pernah masuk dalam kehidupan sejarah manusia, Dia hanya bertindak selaku agen sejarah. Dia selalu berhubungan dengan dunia melalui kata-kataNya, nabi-nabi dan malaikat-malaikatNya. Dia tidak secara pribadi turun ke dunia untuk berhubungan dengan manusia per manusia.

Hal ini sungguh berbeda dengan pandangan Alkitab mengenai inkarnasi-ilahi di mana Tuhan sendiri masuk dalam sejarah kehidupan manusia dan bertindak langsung menyelamatkan manusia.

Anugerah vs Usaha-Diri

Terakhir, Alkitab berbicara banyak mengenai Anugerah Tuhan dalam menyediakan keselamatan gratis buat manusia melalui Juruselamat yang bertindak selaku perantara antara manusia dan Tuhan (1 Timotius 2:5).

Sementara itu dalam Alquran tidak terdapat konsep Anugerah Allah. Menurut Alquran tidak ada Juruselamat, juga tidak ada perantara. (yang ada hanya usaha sendiri-sendiri untuk mencapai keselamatan).

Kesimpulannya, setelah mempelajari sifat-sifat Tuhan seperti yang dinyatakan dalam Alkitab dan sifat-sifat Allah seperti yang dinyatakan dalam Alquran dapat disimpulkan bahwa Tuhan Alkitab tidak sama dengan Allah Alquran.

Tuhan Yang Sama?

Banyak orang masih meyakini bahwa Islam dan Kristen menyembah Tuhan yang sama sebab mereka menyembah satu-satunya Tuhan yang Esa. Mereka gagal untuk memahami bahwa monotheisme itu sendiri tidak menjelaskan apapun mengenai identitas dari Tuhan yang Esa yang harus disembah. Dengan kata lain, tidaklah cukup untuk mengatakan bahwa hanya ada Tuhan yang Esa, tetapi ternyata itu adalah Tuhan yang salah!

Seseorang dapat mengatakan bahwa Ra, Isis, atau Osiris adalah satu-satunya Tuhan yang benar, tetapi ini tidak berarti bahwa Kristus dan dewa-dewa Mesir adalah satu dan sama.

Orang-orang zaman kuno mungkin telah mengajarkan bahwa Baal atau Molokh adalah satu-satunya Tuhan yang benar. Atau juga, orang-orang Yunani mungkin memperdebatkan apakah Zeus atau Jupiter yang menjadi Tuhan hidup yang benar.

Namun, hanya sekedar memperdebatkan perkara adanya Tuhan yang Esa tidak secara otomatis berarti bahwa Tuhan yang Esa yang Anda pilih untuk menjadi sesembahan adalah Tuhan yang benar.

Dalam hal ini Tuhan-Alkitab telah mengungkapkan hakikat Nama dan DiriNya sedemikian jelasnya sehingga tidak mungkin dirancukan dengan hakikat dan nama dewa-dewa berhala disekelilingnya. Dalam hal allah yang kabur identitasnya, orang selalu mudah menggantikan namanya dengan sedikit pendadanan seperti halnya dewa bulan yang bernama al-Illah telah diubah oleh Muhammad menjadi Allah SWT dalam keimanan monotheis!.

Tetapi karena Muhammad mengawalinya dari suatu dewa berhala, jadi tidaklah mengherankan kalau dia mengakhirinya dengan suatu dewa berhala juga. Seperti yang diungkapkan oleh ilmuwan Jerman yang bernama Johannes hauri:

Monotheismenya Muhammad berangkat dari kebersamaan antara monotheisme dengan pandangan politheisme….Pandangan Muhammad tentang Tuhan hanyalah semata-mata bersifat deistic.

Apakah ‘Allah’ Ada Dalam Alkitab

Dalam suatu pembicaraan dengan seorang Duta Besar dari suatu negara Muslim, saya mengatakan bahwa nama Allah berasal dari kata Arab yang berhubungan dengan penyembahan dewa bulan pada zaman Arab pra-Islam. Kata tersebut tidak dapat ditemukan dalam Alkitab Perjanjian Lama berbahasa Ibrani atau dalam Alkitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani.

[Jadi ciptaan siapakah nama tersebut? Apa artinya? Dan bagaimana kisahnya?]

Duta Besar tersebut menggunakan dua argumentasi yang diharapkan dapat membuktikan bahwa Alkitab sebenarnya menyebut kata Allah.

Pertama, dia menyatakan bahwa nama Allah ditemukan dalam kata “allelujah” di dalam Alkitab. Bagian pertama kata tersebut yaitu “Alle” sesungguhnya merupakan kata “Allah”, menurut dia. Saya menunjukkan padanya bahwa kata bahasa Ibrani “Allelujah” bukanlah kata majemuk. Maksudnya, kata “allelujah” bukanlah gabungan dari dua kata, tetapi merupakan satu sinkronisasi kata saja yang artinya “terpujilah Yahweh”.

Juga, nama Tuhan terungkap pada bagian terakhir kata tersebut yaitu “jah” yang merujuk pada kata Yahweh. Jadi nama Allah memang tidak dapat ditemukan dalam Alkitab.

Duta Besar tersebut kemudian mengajukan argumentasinya yang kedua sebagai berikut: Ketika Yesus di atas kayu salib, Dia berteriak “Eli, Eli”, sesungguhnya yang Dia maksud adalah “Allah, Allah”.

Namun hal ini juga tidak benar. Alkitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani menterjemahkan kata “Eli” tersebut yang merupakan bagian dari Mazmur 22:1 yang memang bukan dari bahasa Arab.

Kata-kata Yesus selengkapnya, “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Jadi jauhlah hubungannya antara kata “Eli, Eli” dengan “Allah, Allah”. Hal tersebut sungguh tidak mungkin terjadi.

Masa Waktu Yang Salah Membuktikan Yang Salah

Sebagai catatan sejarah, tidaklah mungkin bagi para penulis Alkitab berbicara tentang Allah SWT sebagai Tuhan. Mengapa begitu?

Ya! Sampai abad ke 7 nama Allah merupakan suatu nama dewa kafir. Baru selanjutnya nama dewa Allah tersebut diubah oleh Muhammad menjadi nama dari satu-satunya Tuhan.

Padahal Alkitab sudah selesai ditulis jauh-jauh hari sebelum Muhammad lahir, jadi bagaimana mungkin Alkitab berbicara tentang Allah dari Muhammad.

Dalam kenyataannya, sebutan nama Allahpun tidak pernah keluar dari bibir para penulis Alkitab.

Sampai zaman Muhammad, Allah adalah nama salah satu dari dewa-dewa berhala, nama Allah dikenal secara khusus sebagai nama dewa bulan yang menjadi sesembahan orang Arab pada zaman itu.

Para penulis Alkitab tidak akan mungkin keliru membedakan Allah (yang asing baginya) dengan YAHWEH (yang dikenal dekat) seperti mereka tidak akan keliru membedakan Baal dengan YAHWEH.

[Allah yang disembah oleh umat Islam, bukanlah Elohim yang tertulis di dalam Taurat dan Injil, tetapi yang berasal dari ajaran pra-Islam, dari orang-orang Arab Jahiliyah yang sudah diubah konsepnya atau diubah pengertiannya. Maka menjadi kekeliruan yang jelas kalau menganggap ALLAH yang disembah oleh orang Muslim itu sama dengan yang disembah oleh orang Nasrani]

Alkitab Berbahasa Arab

Dalam suatu program radio di Irvine, California, seorang penelpon Arab menanggapi penelaahan ini dengan bertanya, “Tetapi bukankah Alkitab berbahasa Arab menggunakan nama Allah sebagai Tuhan? Jadi, “Allah” adalah nama dalam Alkitab untuk “Tuhan”. Jawabannya tergantung pada masa penulisannya. Apakah Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada zamannya Muhammad? Tidak. Terjemahan Alkitab formal dalam bahasa Arab baru muncul sekitar abad ke 9.

Sebelum Abad ke 9, Islam merupakan kekuatan politik yang paling dominan di negeri-negeri Arab dan orang-orang yang menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Arab menghadapi situasi politik yang sulit. Jika mereka tidak menggunakan nama “Allah” sebagai nama Tuhan, mereka mungkin akan menderita siksaan di tangan masyarakat Islam yang fanatik yang meyakini bahwa Allah dalam Alquran adalah sama dengan Tuhan dalam Alkitab.

Karena “Allah” pada zaman itu merupakan nama yang dikenal umum untuk nama Tuhan, sebagai akibat dari dominasi Islam, penerjemah tunduk pada tekanan-tekanan agama dan politik dengan menuliskan kata “Allah” dalam terjemahan Alkitab bahasa Arab.

Tidak Ada Sangkut Paut Secara Logis

Terjemahan Alkitab berbahasa Arab baru muncul 900 tahun setelah Alkitab asli selesai ditulis, jadi tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan masalah “Allah” sebagai nama aslinya Tuhan.

Pada akhirnya, fakta yang jelas adalah bahwa terjemahan Alkitab berbahasa Arab yang muncul pada abad ke 9 itu tidak dapat dijadikan dasar argumentasi yang menyimpulkan bahwa para penulis Alkitab yang mengerjakan karya penulisannya berabad-abad sebelumnya dalam bahasa Ibrani dan bahasa Yunani menggunakan istilah bahasa Arab “Allah” untuk menamakan Tuhan (Elohim). Mempercayai hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak mungkin.

Kesimpulan

Banyak orang mengasumsikan bahwa Allah adalah nama lain dari Tuhan. Hal ini adalah akibat ketidaktahuan mereka mengenai perbedaan antara Allah-Alquran dan Tuhan-Alkitab, serta akibat adanya propoganda dari para penyebar agama Islam yang memanfaatkan pandangan bahwa Allah adalah nama lain dari Tuhan dengan maksud untuk membuka kesempatan agar mereka dapat mengislamkan orang-orang Barat. Alkitab dan Alquran adalah dua dokumen yang berbeda dalam memberi penjelasan mengenai konsep keilahian.

Kenyataan ini tidak dapat diabaikan hanya semata-mata karena hal tersebut tidak sesuai dengan kepopuleran dari relativisme keagamaan pada masa kini. –

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar