Senin, 09 November 2009

BAB IX - OTORITAS ALQURAN DAN ALKITAB DITELITI ULANG

Sungguh tidak mungkin kita memahami seutuhnya sejarah dunia dan percaturan dunia internasional saat ini tanpa mengenal isi Alkitab. Otoritas nubuatan Alkitab telah menjadikan pesan-pesan yang disampaikanNya lebih relevan dengan keadaan saat ini dibanding dengan pesan-pesan dari surat kabar esok lusa. Alkitab akan terus-menerus memberantas ketidaktahuan orang kafir yang ‘berpendidikan’ sampai mereka tersungkur di hadapan kaki Elohim untuk mencari tahu kebenaran dan kehidupan di dalam FirmanNya.

Setelah menolak Firman Kehidupan, manusia mengembara dalam khayalan dan kebejatan pikirannya untuk mencari pertolongan dari anasir-anasir lain seperti ‘yoga’ dan segala macam cara pemujaan yang bersifat esoteric (bersifat terbatas) – sekalipun dia berlagak seolah-olah dia tidak percaya pada tahyul.

Alkitab ditulis oleh lebih dari empat puluh penulis yang memiliki sikap hidup (latar belakang kehidupan) yang berbeda satu sama lain – para raja (misalnya Daud), para pangeran (misalnya Musa), para imam (misalnya Yehezkiel), para nabi, politisi, dam ilmuwan (misalnya Ezra, Daniel, Paulus), para tentara (misalnya Yosua), para nelayan (misalnya Petrus dan Yohanes), para peternak domba (msialnya Amos), para pemungut pajak/cukai (misalnya Matius), dan lain-lain. Sebagian besar dari mereka hidup pada zaman atau periode yang berbeda satu dengan yang lain, banyak di antara mereka yang tidak saling mengenal, dan tidak pernah saling bertemu di manapun. Namun keselarasan tematis dari segenap isi Alkitab terukir dengan jelas mulai dari Kitab Kejadian sampai dengan Kitab Wahyu. Para penulis tersebut menuliskan pesan-pesan yang sama namun tidak seorangpun dari mereka yang menulis dengan cara yang sama atau hal yang sama persis dengan penulis yang lainnya.

Kitab yang satu dilengkapi oleh kitab yang lain sampai akhirnya seluruh kitab disempurnakan dalam kitab Wahyu. Bahkan Pohon Kehidupan yang ‘terhilang’ dalam kitab Kejadian akhirnya ‘ditemukan kembali’ dalam kitab Wahyu.

Semua hal tersebut sungguh menakjubkan bagi penglihatan kita dan sangat meyakinkan kita bahwa Alkitab adalah sebuah kitab yang dikelola langsung oleh suatu Roh yang sangat jenius yaitu Roh Elohim yang konsisten dan yang panjang sabar. Sebagian besar orang-orang yang menyatakan bahwa Alkitab tidak ilmiah dan penuh dengan kontradiksi telah mulai menjilat ludah mereka sendiri manakala mereka menyadari kebodohan mereka meskipun mereka dapat meraih berbagai title akademik dan kebodohan mereka tersebut tercermin dalam pemberian arti pada kosakata-kosakata yang digunakan dalam Alkitab serta kebodohan mereka dalam menginterpretasikan Alkitab. Kami tahu bahwa hanya orang-orang yang kurang informasi saja yang masih berbicara mengenai ketidakilmiahan Alkitab atau masih mengatakan bahwa Alkitab tidak mengandung nilai sejarah. Terjemahan Alkitab versi King James menggunakan bahasa yang sangat indah dan diselingi dengan unsur-unsur bahasa yang menjadi ciri zaman pada saat mana terjemahan Alkitab versi ini dikerjakan. Sebaliknya bagaimana mereka akan menjelaskan kepada kami mengenai terjemahan Alquran yang dikerjakan pada abad ke 20 namun kosakata yang digunakan masih tetap kosakata yang bernuansa zaman kuno? Apakah para ilmuwan berpikir bahwa kearkaisan kata-katanya (maksudnya kata-kata yang tidak lazim dipakai lagi) itulah yang menjadikan kitab itu suci.

Alkitab ditulis oleh beberapa puluh orang namun isinya secara tematis sangat konsisten. Sebaliknya Alquran, yang diperkirakan ditulis oleh satu orang, atau seperti yang diyakini oleh umat Muslim bahwa Alquran ditulis oleh Allah di sorga, ternyata justru mengandung banyak kontradiksi kategorial yang sangat serius.

Perlu kiranya bagi kami untuk mengungkapkan satu atau dua kontradiksi tersebut dalam rangka membantu kita untuk mengetahui siapakah kemungkinan yang menulis Alquran itu. Pertama-tama marilah kita mengungkapkan kasus mengenai kebutahurufan Muhammad. Sejumlah orang mungkin bertanya-tanya mengapa para ilmuwan Muslim yang tersohor masih tetap mempertahankan klaim mereka atas kebutahurufan nabi mereka dan mengapa mereka tidak merasa malu pada keadaan tersebut. Ada dua alasan yang dapat diajukan dalam menjawab masalah ini. Pertama, Alquran menyatakan dalam Surat 7:158 bahwa nabi Muhammad adalah nabi yang tidak berpendidikan dan yang buta huruf. Kedua, walaupun sejumlah ilmuwan berbeda pendapat dalam menafsirkan arti dari ayat ini, klaim dan interpretasi semacam itu dari umat Muslim memang diperlukan untuk mengesahkan pernyataan sebelumnya bahwa Muhammad bukanlah penulis Alquran melainkan Buku itu diturunkan dari surga. Alquran diberikan kepada Muhammad, oleh sebab itu Buku tersebut bebas dari campur tangan manusia.
Data kosmogoni dan kosmologi yang tertulis dalam Alquran tidak dapat dijadikan pegangan karena selalu berubah-ubah (maksudnya dalam ayat yang satu dikatakan begini atau begitu dalam ayat yang lain dikatakan lain lagi). Misalnya dalam Surat 54:49-50 dikatakan, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata”. Maksudnya ketika Allah mengucapkan sepatah kata untuk menciptakan alam semesta, dalam sekejap mata itu pula seluruh alam semesta tercipta, jadi waktu penciptaan kurang dari satu masa (satu periode).
Namun dalam Surat 41:9 dikatakan bahwa bumi diciptakan dalam dua masa (dua periode). Dalam Surat 41:10 dikatakan “Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dan memberkatinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)-nya dalam empat masa (empat periode)”. Dalam Surat 41:12 dikatakan bahwa “tujuh langit” diciptakan dalam dua masa (dua periode). Selanjutnya dalam Surat 7:54 dikatakan, “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa (enam periode)”. Pernyataan tersebut diulang lagi dalam Surat 10:3 dan Surat 32:4. Barangkali pada waktu itu Muhammad mendengar pernyataan Alkitab yang benar mengenai lamanya masa penciptaan alam semesta dan segala isinya yaitu 6 hari seperti yang tertulis dalam Kitab Kejadian. Namun nampaknya Muhammad lupa mencabut kembali pernyataan Alquran sebelumnya yang menyebutkan 2 masa atau 4 masa.
Jadi, selama penyelesaian Alquran, semua data tersebut dibendel bersama-sama dalam satu buku. Namun Surat 32:5 juga menyatakan bahwa satu hari sesungguhnya merupakan ‘seribu tahun menurut perhitunganmu’. Pernyataan tersebut menambah bingung diri kita. Dalam Surat 70:4 dinyatakan, “Malaikat-malaikat dan Jibril (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun (maksudnya malaikat-malaikat dan Jibril jika menghadap Tuhan memakan waktu satu hari. Apabila dilakukan oleh manusia memakan waktu lima puluh ribu tahun)”. Jika umat Muslim menyatakan bahwa Alquran ditulis di surga dan disimpan oleh Allah di sana, kami tentu mengatakan bahwa Alquran tidak sesuai untuk konsumsi penalaran manusia, dan kami lebih suka buku lain yang lebih konsisten.

Buku kecil ini tidak bertujuan untuk menyajikan suatu hasil penelitian secara panjang lebar dan melelahkan mengenai kontradiksi-kontradiksi yang terdapat dalam ALquran. Namun kami perlu membahas satu atau dua kontradiksi yang terkandung dalam Alquran tersebut. Kontradiksi-kontradiksi itu berkaitan dengan pernyataan Alquran tentang kekristenan. Sungguh menarik untuk dicatat bahwa meskipun dengan penuh rasa benci terhadap segala sesuatu yang berbau Kristen, Alquran masih tetap mencantumkan kebenaran-kebenaran dari beberapa wahyu yang disampaikan tentang kekristenan. Misalnya dalam Surat 3:55 dinyatakan, “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: Hai Isa (Yesus), sesungguhnya Aku (Allah) akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat”. Selanjutnya dalam Surat 5:46 dinyatakan, “Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa”. Alquran mengkonfirmasikan tentang Yesus yang dilahirkan oleh seorang perawan dan mengatakan bahwa Yesus adalah Firman Allah, Roh Allah yang ditiupkan ke dalam tubuh manusia (catatan penterjemah: baca Surat 19:16-22; Surat 4:171; Surat 21:91). Salah satu Surat tersebut, yang dimaksud Surat 21:91 menyatakan, “Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)-nya roh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam”.

Kami bertanya-tanya siapakah gerangan yang berbicara di sini: Allah atau Elohim? Kalau itu adalah Elohim berarti Dia pasti pernah pada suatu kali berbicara kepada Muhammad mengenai keilahian Yesus. Bila kasusnya demikian pasti Muhammad tidak dapat mengelak lagi, bagaimanapun bias dan irinya dia terhadap Yesus. Namun, pada sisi lain, kalau kebenaran-kebenaran yang sangat mendasar seperti itu terdapat dalam Alquran dan menurut mereka merupakan kitab yang diilhami oleh Allah, mengapa banyak orang Kristen yang tidak mempedulikan buku itu sebagai buku suci dari Tuhan? Jawaban kami adalah: kami tidak percaya pada Alquran karena ada berbagai penyangkalan-penyangkalan kategorial dari semua kebenaran-kebenaran tersebut yang juga terdapat dalam Alquran yang sama, dan jawaban kedua adalah bahwa kami hanya mempercayai sebuah kitab suci yang konsisten, terutama, kalau hal tersebut menyangkut hal-hal yang mempengaruhi keselamatan manusia.

Contoh lain sebagimana yang pernah dikutip di atas yaitu Surat 3:55 dengan jelas menyatakan bahwa Isa (Yesus) telah sampai pada ajalNya dan Allah sendiri akan mengangkat Isa kepadaNya. Selanjutnya dalam Surat 19:33 nabi Isa (Yesus) berkata: “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

Namun, dalam usahanya untuk menghapuskan (menghilangkan) berita mengenai penyaliban Isa (Yesus), Muhammad nantinya menyatakan dalam Surat 4:157-158 bahwa Isa (Yesus) sebetulnya tidak dibunuh oleh orang-orang Yahudi sebagaimana yang diberitakan, dia juga tidak disalibkan. Yang dibunuh oleh orang-orang Yahudi ialah orang yang serupa/mirip dengan Isa (Yesus), jadi berita tentang terbunuhnya Isa (Yesus) oleh orang-orang Yahudi sesungguhnya hanya berita yang tidak benar atau berita rekayasa belaka. Berita yang sebenarnya adalah bahwa Allah telah mengangkat Isa (Yesus) langsung kepadaNya.

Jika Muhammad adalah orang yang menyusun kata-kata dalam Alquran, berarti dia adalah orang yang mengomentari suatu peristiwa yang terjadi lebih dari lima ratus tahun sebelum dia sendiri dilahirkan, dengan menyatakan pada kita bahwa ‘nampaknya saja seolah-olah seperti itu’ [maksud kata-kata Muhammad adalah orang-orang Yahudi menganggap bahwa yang mereka bunuh dan salib itu adalah Isa (Yesus) padahal sesungguhnya bukan Isa (Yesus), hanya mirip-mirip atau nampaknya saja seperti Isa (Yesus)]. Tidak mudah bagi kita untuk mempercayai gaya penulisan atau inspirasi Alquran semacam itu sebagai atribut Elohim (interpretasi penerjemah: kalau kita teliti sifat-sifat yang menjadi ciri khas Elohim seperti yang ada dalam Alkitab, kita akan menyimpulkan dengan pasti bahwa bukan Elohim yang memberi inspirasi Alquran tersebut). Kami mengharapkan adanya koherensi berpikir yang baik dari suatu komposisi/tulisan yang dikerjakan manusia biasa (apalagi kalau komposisi/tulisan itu dikerjakan oleh seorang nabi). Bagaimana koherensi berpikir dari penulis Alquran tersebut kalau pernyataan dalam 3 Surat disangkal secara kategorial oleh pernyataan dalam Surat 4 (yang dimaksud Surat 3:55 yang menyatakan bahwa Isa (Yesus) akan meninggal dan kemudian diangkat oleh Allah, namun Surat 4:157-158 menyatakan bahwa Isa (Yesus) tidak meninggal tetapi langsung diangkat oleh Allah).

Apakah yang harus kami katakan dalam rangka menanggapi hal tersebut di atas? Ada dua kemungkinan penjelasan untuk menanggapi masalah ini. Pertama, Muhammad dengan sengaja berusaha menyangkal kematian dan kebangkitan Isa (Yesus), karena cerita semacam itu akan berdampak serius bagi ajaran agama Islam. Selain itu, cerita mengenai kematian dan kebangkitan Isa (Yesus) tersebut akan membuktikan bahwa Isa (Yesus) berkuasa atas kematian dan oleh karenanya Isa (Yesus) sangat memenuhi syarat sebagai seorang juruselamat. Kedua, penjelasan alternatifnya adalah jika umat Muslim mempertahankan pendapat mereka bahwa Muhammad sungguh-sungguh diberi inspirasi oleh Allah, tentunya Allah tersebut adalah seorang pembohong dan penipu ketika Allah menyatakan bahwa Isa (Yesus) akan meninggal tetapi ternyata Allah tidak dapat melaksanakan apa yang telah diucapkanNya (karena kenyataannya Isa/Yesus tidak meninggal).

Kalau dengan kematian Isa (Yesus), Allah, andaikan adalah Elohim, mempunyai suatu rencana besar bagi umat manusia, tentunya akan sangat kecewa kalau Dia (Allah) tidak dapat melaksanakan rencanaNya tersebut karena Isa (Yesus) ternyata terhindar dari kematian. Sungguh merupakan kelemahan Allah, kalau ternyata Isa (Yesus) terhindar dari kematian di Kayu Salib yang seharusnya merupakan suatu cara kematian yang akan dialamiNya sebagaimana yang telah direncanakan oleh Allah sendiri.

Banyak ilmuwan Islam bingung tentang apa yang harus dipercayai dalam Alquran sehubungan dengan kematian dan kebangkitan Isa (Yesus). Dalam mengomentari Surat 43:61 yang menyatakan bahwa sesungguhnya Isa (Yesus) itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat, Helmut Gatje (seorang ilmuwan beragama Islam) dalam bukunya yang berjudul The Qu’ran and its Exegesis/ Alquran dan Tafsirnya, menjelaskan antara lain, “Isa (Yesus) memberikan pengetahuan tentang hari kiamat karena Dia melalui kebangkitanNya telah membuktikan bahwa Tuhan mempunyai kuasa untuk membangkitkan orang mati pada Hari Pengadilan Akhir” (lihat halaman 129 dari buku tersebut di atas). Helmut Getje mungkin lupa (karena saking/sangat bingungnya) bahwa dia tidak percaya kalau Isa (Yesus) mati dan dia juga tidak percaya kalau Isa (Yesus) telah bangkit dari kematian (ingat Helmut Getje adalah seorang Muslim). Sementara itu ilmuwan Islam lainnya yaitu Yusuf Ali juga bingung menghadapi persoalan tersebut, namun nampaknya dia lebih jujur dalam menalar isu tersebut. Dalam komentar No. 2485, dia mengatakan, “Kristus tidak disalib (Bab IV:157). Tetapi orang-orang yang percaya bahwa Kristus tidak mati perlu pula mempertimbangkan pernyataan dalam Surat 19:33 yang pernah dikutip di atas.

Dalam rangka memberikan penjelasan mengenai ayat-ayat yang bertentangan tersebut dan untuk secara sengaja mengabaikan kebutuhan akan suatu pertumpahan darah untuk menyelamatkan umat manusia, berbagai sekte Islam telah mengembangkan pendapat-pendapat yang berbeda. Sekte Ahmadiyah, yang berpegang teguh pada teori Venturini, menyatakan bahwa Isa (Yesus) hanya pingsan di atas kayu salib, atau dalam keadaan ‘koma’, dan bahwa Dia memperoleh kesadaranNya kembali ketika Dia di dalam kuburan dan kemudian Dia secara diam-diam melarikan diri menuju ke India dimana Dia hidup dan meninggal dunia secara wajar dalam usia lanjut. Ini adalah pandangan yang dipegang teguh oleh penulis pamflet bangsa Afrika Selatan beragama Islam yang sangat terkenal yang bernama Ahmed Deedat, yang mana beberapa pamfletnya diberi judul kebangkitan atau Sadar kembali?, Penyaliban atau Patung Salib?, dan lain-lain.

Beberapa komentator lain menyampaikan pendapat mereka mengenai mesin-allah (deux –ex-machina) – suatu alat dramatis dengan apa intervensi Ilahi diperkenalkan untuk mencegah tragedi yang tak dapat dihindari namun yang tidak diperlukan pada akhir suatu drama. Menurut umat Muslim yang berpegang teguh pada pandangan semacam itu, Allah harus berupaya menggagalkan penyaliban Isa (Yesus) dengan cara ajaib yaitu dengan memindahkan Isa (Yesus) dari salib untuk kemudian dibawa ke surga dalam sekejab mata dan menggantikanNya dengan seorang yang Allah buat serupa dengan Isa (Yesus) untuk disalib sebagai pengganti Isa (Yesus).

Namun, siapakah yang menggantikan Isa (Yesus) tersebut? Banyak pendapat yang juga berbeda mengenai hal itu. Konsensus yang popular adalah bahwa pengganti Isa (Yesus) yaitu Yudas Iskariot. Menurut mereka, bukan Isa (Yesus) yang disalib oleh para prajurit: “Hanya mata mereka saja yang nampak seolah-olah orang yang disalib adalah Yesus”. Teori ‘pelenyapan’ ini sesungguhnya dirumuskan oleh orang-orang Muslim pada abad-abad pertengahan dan dengan secara jelas tertulis dalam kitab yang dinamakan ‘Injil Barnabas’ bab 112 ayat 13-17, yang ditulis oleh seorang mantan penganut agama Roma Katolik yang pindah agama Islam. Buku ini sangat popular dan sangat diagungkan di kalangan umat Muslim sebagai senjata untuk melawan pengajaran-pengajaran Kristen tentang Yesus. Jadi tidaklah mengherankan kalau ‘Injil Barnabas’ tersebut justru diterbitkan oleh umat Muslim sendiri (terutama di Pakistan) dan diedarkan di kalangan mereka sendiri.

Para komentator Muslim, penyusun Alquran, dan penyusun Injil Barnabas tidak memahami bahwa salib itu bukanlah suatu tragedi. Salib adalah suatu kemenangan atas iblis dan dosa. Iblis sendiri mengetahui hal tersebut. Jika iblis menyangkalnya dalam sebuah buku, dia hanya bertujuan untuk menipu saja. Iblis tidak akan pernah melupakan peristiwa yang terjadi pada hari penyaliban Yesus. Pada saat itu, Yesus telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenanganNya atas mereka (Kolose 2:15).

Salib adalah formula Elohim tentang ‘hidup melalui kematian’. Yesus datang ke dunia bukan untuk mendirikan suatu sistem peribadahan. Yesus datang bukan untuk memberi suatu aturan hukum tetapi untuk memberikan kasihNya. Dengan kata-kata lain, kasih adalah hukumNya.

Yesus datang terutama untuk mati dan Dia tidak perlu melarikan diri dari kematian itu (Matius 16:21). Kalau Elohim tidak mengizinkan Yesus dibunuh, Elohim tidak perlu ‘mencuri’ Yesus. Elohim cukup mengirim beberapa malaikat untuk menghancurkan para prajurit Romawi dan selanjutnya membiarkan Yesus terus melanjutkan pelayananNya di sana, di Yerusalem.1 ‘Mencuri’ Yesus hanya akan memperlihatkan kekalahan dan ketidakberdayaan Elohim sehingga Elohim sampai perlu menghentikan pelayanan Kristus secara premature. Beberapa orang mengharapkan kita percaya bahwa Yesus adalah seorang laki-laki yang baik hati yang berkotbah mengenai kasih dan perdamaian, dan tiba-tiba entah bagaimana asal mulanya Yesus jatuh ke tangan massa yang sedang marah.

Kita tahu bahwa hal itu tidak benar. Yesus menuju ke Salib atas kemauanNya sendiri. Yesus memegang kendali secara absolute atas setiap kejadian dalam hidupNya - termasuk waktuNya. Bahkan di malam tatkala Dia akan ditangkap pada saat Yudas yang akan mengkhianatiNya sedang berpikir-pikir untuk melakukan persekongkolan dengan imam-imam dan orang-orang Farisi untuk menangkap Yesus, justru Yesus menyuruh Yudas agar cepat-cepat menjalankan rencananya tersebut: “Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera” (Yohanes 13:27-29). Hal tersebut menunjukkan bahwa penangkapan Yesus, menurut jadwalNya yang padat itu, harus terjadi pada malam itu juga, tidak boleh gagal. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa memang Yesus sendiri yang menghendaki untuk mati, dan peristiwa tersebut tidak boleh dibatalkan.

Jika umat Muslim tetap mempertahankan pendapat mereka bahwa Yesus tidak pernah mati namun diangkat ke surga dalam keadaan hidup, mereka secara logis harus mengakui kesimpulan-kesimpulan berikut ini: Pertama, Yesus masih tetap hidup sampai hari ini di surga seperti ketika Dia masih di bumi karena kita tidak dapat membayangkan Dia mati di surga. Kedua, jika Yesus belum meninggal, dan tidak akan pernah meninggal, klaim Muhammad sebagai penerus Yesus jelas tidak mungkin terjadi alias nihil atau hampa belaka.

Kalau sekiranya ayat-ayat Alquran (Surat 3:55 dan Surat 19:33) tersebut adalah prediksi mengenai kematian Yesus pada saat Dia kembali lagi ke dunia sebagaimana yang ditafsirkan oleh beberapa orang Muslim dalam kelompok yang lain lagi, kita tetap masih menunggu sampai hal itu (maksudnya kedatangan Yesus kembali ke dunia) terjadi karena tidak seorangpun dapat menggantikan Yesus sebelum hal itu terjadi.

Sekarang, marilah kita mencermati hal berikut ini: Manusia (maksudnya Yesus) yang menurut Muhammad telah digantikannya ternyata masih tetap hidup. Sementara itu Muhammad sendiri sudah meninggal. Jika sekiranya ketidakhadiran Yesus secara fisik telah menempatkan Muhammad sebagai penggantiNya secara wajar, bagaimana dengan kenyataan yang ada sekarang di mana Muhammad juga tidak hadir secara fisik di dunia? Siapakah yang memegang tampuk pimpinan sekarang.

Pada kenyataannya tampuk pimpinan tidak pernah kosong sesaatpun karena Raja masih hidup. Para nabi sejati yang berasal dari Elohim telah pergi dan datang silih berganti. Alkitab menyatakan, “Dan dalam jumlah yang besar mereka telah menjadi imam, karena mereka dicegah oleh maut untuk tetap menjabat imam. Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamatNya tidak dapat beralih kepada orang lain. Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Elohim. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibrani 7:23-25). Dia (Yesus) menjadi perantara kami; kami tidak mengatakan ‘damai sejahtera bagiNya’; Dia adalah damai sejahtera kami. Dia mengatakan, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu” (Yohanes 14:27).

Umat Muslim sesungguhnya membenci ide mengenai kebangkitan Yesus. Itulah sebabnya mengapa mereka merasa perlu untuk pertama-tama menyangkal kematian Yesus. Dan sungguh mengherankan betapa gigihnya mereka berusaha untuk memutar-balikkan terjemahan dari ayat-ayat tersebut dengan maksud untuk menyembunyikan makna sesungguhnya dari ayat-ayat itu. Misalnya dalam Surat 3:55 yang telah dikutip sebelumnya, Mohammed Marmaduke Pickthall telah memutuskan untuk menterjemahkan ungkapan “Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu” dengan ungkapan “Aku akan menghimpun kamu”. Dalam Alquran aslinya berbahasa Arab ungkapannya berbunyi ‘Inni muta-way-feeka’. Orang-orang Arab yang jujur pasti menanyakan mengapa Pickthall menterjemahkannya dengan kata ‘menghimpun’. Dr. Anis Shorrosh menyatakan, “sebagai seorang Arab saya tidak pernah mendengar arti lain dari ungkapan tersebut di atas kecuali hanya ‘kematian’, baik di dalam maupun di luar Alquran”.2

Kami dapat memahami alasan mengapa Pickthall menterjemahkan semacam itu. Penginjil Anti-Komunis Australia, Dr. Fred Schwartz mengamati bahwa, “Tidak peduli betapapun jelas buktinya, manusia selalu dapat menemukan suatu interpretasi yang memungkinkan dia berpegang teguh pada apa yang diyakininya”. Faktanya adalah bahwa doktrin Salib dan kebangkitan yang menyertainya merupakan suatu hal yang sangat ofensif bagi umat Muslim dan mereka pasti akan melenyapkannya.

Dalam mengomentari Surat 3:59, A. Yusuf Ali menyatakan, “Yesus adalah debu sama halnya dengan Adam atau manusia lain”.3 Ali hanya menggemakan apa yang Alquran sendiri katakan dalam ayat tersebut di atas. Umat Kristen menganggap pandangan Muhammad dalam Alquran itu sebagai suatu hujatan karena kami mengetahui bahwa Yesus adalah Tuhan. Barangsiapa yang mengikuti pandangan Alquran yang didengungkan Ali tersebut harus mengingat baik-baik bahwa Elohim sungguh-sungguh menyabdakan kepada Adam dan umat manusia bahwa mereka akan kembali kepada debu dari mana mereka berasal. “Sebab engkau debu dan engkau akan kembali menajdi debu” (Kejadian 3:19). Adam meninggal dan tubuhnya kembali menajdi debu setelah membusuk. Seluruh umat manusia berada di bawah kutukan pembusukan. Bahkan kenyataan tubuh yang mati tersebut dimummikan sekalipun, kenyataan bahwa tubuh yang mati sudah tidak mengandung kehidupan itulah yang menjadikannya tidak lagi berharga seperti debu. Tubuh itu bukan lagi sesuatu benda hidup tetapi sesuatu benda mati, dan benda mati yang tidak berharga adalah debu. Namun bagaimana kalau dikremasikan? Kalau dikremasikan malahan lebih tidak berharga daripada debu karena tubuh itu menjadi abu.

Walaupun Muhammad mengatakan bahwa dia adalah manusia biasa, dan umat Muslim mengklaim bahwa mereka tidak menyembah dia, namun banyak bukti menunjukkan bahwa Muhammad ternyata dipuja-puja seperti halnya Tuhan sendiri. Itulah sebabnya mengapa umat Muslim sering mengucapkan istilah-istilah seperti ‘menghujat nabi kami’ (catatan: istilah ‘menghujat’ artinya menyatakan sesuatu yang tidak pantas atau menghina kepada Tuhan). Umat Muslim tidak menyadari bahwa dengan menganggap Muhammad dihujat mereka telah melakukan perbuatan dosa yang tidak dapat diampuni yaitu Syirik (karena mereka menyetarakan Muhammad dengan Tuhan). Hanya Elohim satu-satunya Tuhan, dan oleh karenanya hanya Dia yang dapat merasakan terhujat, Yesus, sebagai Putera Elohim dapat merasa terhujat, dan Roh Suci Elohim dapat merasa terhujat karena kedua oknum tersebut mencerminkan Tuhan (Elohim) itu sendiri (Kisah Para Rasul 5:3-4; Yohanes 14:7; Yohanes 20:28-29). Banyak orang Muslim secara konsisten melakukan hal tersebut di atas melalui tulisan-tulisan dan kotbah-kotbah mereka yang mereka kutip dari Alquran itu sendiri. Sebagai manusia biasa, Muhammad juga berada di bawah kutuk debu menjadi debu yang dijatuhkan Tuhan pada umat manusia. Debu dan tulang-tulang kering di dalam kuburan Muhammad di Medinah membuktikan hal tersebut (menjadi buktinya).

Namun dimanakah tubuh Yesus yang diyakini oleh umat Muslim sama halnya seperti tubuh Adam atau manusia lain yaitu hanya merupakan seonggok debu? Dimanakah debu tersebut? Walaupun umat Muslim menyangkal bahwa Yesus pernah mati atau dibangkitkan lagi, mereka semua setuju, menurut Alquran mereka, bahwa Isa (Yesus) diangkat ke surga, baik tubuh, nyawa, maupun rohNya. Dan oleh karena Dia tidak dapat mati di surga, mereka harus menerima hal tersebut, sebagai akibat yang logis, bahwa Dia masih hidup sampai saat ini dalam kemuliaan kerajaan surgawi, sambil menunggu waktuNya untuk datang kembali ke dunia yang kedua kalinya. Perlu kiranya kita mengikuti pesan Alkitab bahwa “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8).

Jadi, kalau tubuh Yesus tidak tunduk di bawah kuasa kutukan yang dijatuhkan pada umat manusia, bukankah itu berarti Dia secara kodrati jauh lebih tinggi daripada manusia biasa (interpretasi penerjemah: kuasa, kedudukan, kewibawaan Yesus jauh melebihi manusia biasa, sehingga kutukan Elohim yang dijatuhkan pada manusia tidak berlaku/tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi Yesus). Dan dengan sesungguhnya kami katakan pada anda: karena Yesus secara kodrati jauh lebih tinggi daripada manusia, Dia sangat memenuhi syarat menjadi juruselamat dunia! Kemuliaan bagi Elohim di tempat yang maha tinggi!

Ada sebuah cerita sebagai berikut: ketika nabi Muhammad meninggal, para pengikutnya berpikit bahwa sebagai seorang yang menyatakan dirinya sendiri sebagai “nabi penutup (nabi terakhir)” dan oleh karenanya juga berarti nabi terbesar, dia pasti paling tidak akan bangkit kembali, barangkali saja pada hari ketiga, dan selanjutnya naik ke surga secara badaniah seperti halnya yang terjadi pada Yesus Kristus. Itulah sebabnya, mereka menolak untuk menggali kuburan Muhammad dalam-dalam, dan mereka juga menguburkan jenazahnya tanpa peti mati agar mudah baginya untuk keluar dari kuburnya. Namun kematian dan kuburan menahan Muhammad di dalamnya dan tidak membiarkannya keluar. Jika cerita tersebut benar, kami pikir umat Muslim tidak akan kecewa bahwa sisa-sisa dari tubuh nabi mereka sudah membusuk dan menjadi debu. Allah tidak pernah berjanji akan membangkitkan Muhammad dari kematian seperti halnya yang dijanjikan Elohim kepada Yesus Kristus, jadi mengapa mereka harus kecewa?

Oleh karena apapun yang dikerjakan Muhammad atau segala sesuatu yang dilakukan oleh para pengikut Muhammad terhadapnya sebagaimana yang tercatat dalam kitab Tradisi-Tradisi (maksudnya kitab Hadis) haruslah ditiru sebagai contoh yang harus diikuti, itulah sebabnya tidak mengherankan kalau sampai saat ini kita masih melihat kenyataan bahwa umat Muslim tidak pernah menggali tanah kuburan dalam-dalam untuk mengubur orang-orang mereka yang meninggal dunia; dan mereka juga tidak pernah memasukkan orang-orang Islam yang meninggal ke dalam peti mati sebelum dikuburkan. Banyak orang yang tidak mengetahui sejak kapan mula-mula dilakukan penguburan semacam itu. Mesiah-mesiah palsu atau tiruan mungkin akan muncul dan memproklamirkan diri mereka sendiri. Namun kematian biasanya datang menjemput dan menghabisi mereka dan mereka binasa di dalam kubur. Tetapi Raja di atas segala raja yang Hidup Kekal selama-lamanya, beberapa tahun setelah Kebangkitan dan KenaikkanNya, datang menjumpai Yohanes dan berkata, “Jangan takut! Aku adalah Yang awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati namun lihatlah Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut” (Wahyu 1:17-18).

Umat Muslim harus memahami bahwa salib Yesus sangat diperlukan, “Sebab upah dosa dalah maut” (Roma 6:23), dan karena Yesus memikul dosa seluruh isi dunia ke atas salib itu, Dia harus mati! Dengan demikian, Elohim menghendaki “Diri Yesus mati sebagai korban penebus dosa” (Yesaya 53:10; 2 Korintus 5:21). Namun untuk memberikan kemenangan atas dosa, atas kuasa iblis, atas kuasa kegelapan, dan atas kuasa kematian kedua kepada orang-orang yang percaya kepadaNya, Yesus harus bangkit kembali pada hari ketiga. Banyak musuh-musuh Injil pada saat sekarang ini berusaha menyangkal fakta-fakta tersebut, namun tidak satupun dari mereka yang mampu menyangkal fakta-fakta itu. Semua ‘bukti-bukti’ yang mereka presentasikan hanya menunjukkan kebodohan mereka dan ketidaktahuan mereka mengenai latar belakang dan riwayat dari peristiwa-peristiwa yang disampaikan oleh Injil Kristus itu. Petrus berdiri di tengah-tengah ribuan massa orang-orang Yahudi di Yerusalem pada hari Pentakosta dan berbicara mengenai kebangkitan Kristus, dan mengenai hakikat arti kematian dan kebangkitan Kristus bagi umat manusia. Tidak ada satupun di antara para pendengarnya yang bangkit untuk menyatakan bahwa Yesus tidak dibunuh dan tidak dibangkitkan. Mereka semua tahu bahwa peristiwa tersebut telah menjadi bahan yang ramai dibicarakan orang-orang di kota itu. Muhammad yang dilahirkan lebih dari 500 tahun kemudian setelah peristiwa tersebut mengatakan bahwa Yesus tidak mati, dan Muhammad dapat mengatakan hal itu karena Allah yang telah memberitahunya.

Kami menolak Alquran karena Alquran menyangkal sejarah – sejarah yang dicatat bukan saja oleh umat Kristen tetapi juga oleh banyak penulis sekuler. Para saksi mata yang menulis laporan peristiwa sejarah tersebut hidup pada zaman yang sama dengan umat Kristen yang mula-mula, dan yang berada dalam lingkungan di mana peristiwa-peristiwa bersejarah itu terjadi, dan mereka pasti akan menyangkal klaim-klaim Kristen kalau sekiranya klaim-klaim tersebut tidak benar. Memang benar Alquran mengandung beberapa kebenaran tertentu, namun kami tetap menolaknya karena kami meyakini bahwa kebenaran yang setengah-setengah lebih berbahaya dari pada suatu kebohongan yang terbuka secara terang-terangan. Kami tahu bahwa iblis adalah pembohong dan pemberi inspirasi bagi semua kebohongan. Yesus berkata pada saat setan berbohong bahwa setan tidak melakukan sesuatu hal yang aneh (wajarlah kalau setan berbohong): “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia … tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta” (Yohanes 8:44).

Kita harus menyadari bahwa setan bukan hanya pembohong tetapi juga penipu. Dan untuk menjadi penipu ulung, dia tahu bahwa dia harus menempatkan satu atau dua kebenaran ke dalam satu bendel kebohongan. Itulah alasan tepatnya mengapa iblis dapat menipu banyak orang pada zaman ini untuk menjadi pengikut agama dan ajaran-ajaran peribadahan yang palsu/sesat dengan cara memanfaatkan pernyataan-pernyataan Alkitab untuk membangun ajaran-ajaran peribadahan mereka dan akhirnya menghancurkan diri mereka sendiri.

Fakta bahwa ada beberapa kebenaran ajaran Alkitab yang terkandung dalam Alquran tidaklah secara otomatis membuat Alquran menjadi Firman Elohim. Hal tersebut merupakan penipuan klasik yang menyeramkan.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Tennyson, seorang penyair, yang menulis: “Suatu kebohongan yang setengah-setengah merupakan kebohongan yang paling jahat dari segala kebohongan. Karena kebohongan yang memang sepenuhnya bohong dapat dihadapi atau dilawan seketika. Namun suatu kebohongan yang merupakan setengah kebenaran adalah perkara yang sulit untuk dilawan”

Namun sebaliknya, adanya beberapa kebenaran alkitabiah yang terkandung dalam Alquran tersebut dapat berfungsi sebagai suatu kesaksian yang melawan umat Muslim yang menolak Injil Yesus Kristus. Kami bersyukur pada Elohim bahwa adanya beberapa kebenaran alkitabiah yang terdapat dalam Alquran tersebut telah mendorong beberapa orang Muslim untuk membaca Alkitab dengan tujuan mencari tahu lebih banyak lagi mengenai Kristus dan mereka akhirnya menemukan Yesus Kristus yang sejati/sebenarnya.

Dalam bukunya yang berjudul Buddha, Muhammad dan Kristus, Dr. Marcus Dodds menjelaskan bahwa Buku Muhammad (Alquran) tidak akan pernah diterima oleh para pemikir yang serius sebagai buku yang mempunyai otoritas yang dapat dipercaya untuk menjelaskan mengenai Injil Yesus Kristus juga tidak dapat dipercaya sebagai buku mengenai riwayat tokoh-tokoh Alkitab. Dr. Dodds menyatakan: “Pengetahuan Muhammad mengenai Kekristenan sangat dangkal dan membingungkan sehingga sangat sulit memahami bagaimana asal mula kejadiannya sampai ada suatu aliran kepercayaan yang seperti katak di bawah tempurung dan sangat picik pengetahuan dan yang mengajarkan Injil-Injil yang bersifat apokrifa tersebut dapat menyampaikan kepada Muhammad aspirasi-aspirasi semacam itu (aspirasi-aspirasi yang berasal dari ajaran sesat) mengenai kitab Injil. Selain itu dia (Muhammad) tidak tahu sama sekali mengenai sejarah Israel yang sangat aspiratif, sebagai suatu bagian dari sejarah dunia, yang dia ketahui paling-paling hanya cerita-cerita berbau kekanak-kanakan yang berasal dari kitab Talmud dan dongeng-dongeng mengenai tokoh-tokoh dan para patriark Yahudi namun yang alur ceritanya telah diputarbalikkan (maksudnya cerita-cerita tersebut sudah menyeleweng dari yang sebenarnya atau dari aslinya)” (halaman 13-14).

Sementara itu dalam evaluasinya terhadap Alquran yang diuraikan oleh Thomas Carlyle (1795-1881) dalam buku hasil karyanya yang berjudul On Heroes and Hero Worship (Tentang Para Pahlawan dan Penyembahan kepada Pahlawan), dia mengeluhkan bahwa Alquran tidak lain adalah buku yang sangat acak-acakan, bertele-tele, mengesalkan, tidak tuntas, sulit dimengerti; singkat kata kitab tersebut mengandung kebodohan yang fatal”.

Seseorang mungkin bertanya-tanya: Jika memang demikian keadaan Alquran, mengapa jutaan manusia – bahkan termasuk orang-orang terpelajar dan sangat terhormat – mempercayai Alquran sebagai sebuah kitab suci dari Allah, dan mereka siap mengamuk demi mempertahankannya?

Ada banyak alasan yang dapat disampaikan sehubungan dengan pertanyaan tersebut. Pada dasarnya, manusia lebih suka memilih suatu agama yang selaras dengan hakikatnya yang jahat; suatu agama yang membenarkan kekerasan dan penggunaan mantera-mantera namun yang membuat penganutnya justru merasa saleh/suci manakala mereka melakukan hal-hal tersebut. Selain itu, ada semacam kekuatan terpadu dalam pengulangan-pengulangan pelafalan. Misalnya, ketika suatu kebohongan – bahkan kebohongan yang terang-terangan, diulang-ulang secara terus-menerus, kebohongan tersebut lama-lama akan diyakini dan dipercaya. Itulah yang dinamakan psikologi periklanan. Ahli psikologi Rusia, Pavlov, memahami benar hal ini, dan teorinya menjadi dasar bagi ilmu pengetahuan mengenai pencucian otak yang diterapkan oleh negara-negara komunis. Teori inilah yang menjadi suatu sistem yang sedang diteliti dengan seksama di dunia Islam, dan nampaknya usaha tersebut membuahkan hasil. Seorang Muslim dikondisikan untuk mengulang-ulang beberapa pelafalan atau pernyataan sedemikian rupa sehingga sangat sulit bagi dia untuk membayangkan adanya kesalahan-kesalahan dari pernyataan-pernyataan semacam itu. Dan percayalah, dia siap mempertahankan ‘kebenaran-kebenaran’ tersebut dengan segala cara. Kekuatan pengulangan-pengulangan pelafalan tersebut bahkan telah dimanfaatkan untuk membuat orang-orang non-Muslim menerima klaim bahwa Alquran elegan, sungguh-sungguh menakjubkan dan tidak ada yang menyamainya. Namun para mahasiswa yang cermat telah menolak untuk ikut-ikutan menerima penilaian murahan seperti itu.

Kami juga telah menemukan bahwa tidak ada satupun pengajaran yang tidak akan mendapatkan pengikut apalagi kalau pengajaran tersebut konsisten. Itulah sebabnya mengapa setiap ahli filsafat, setiap dukun pemujaan pasti mempunyai calon pengikut, tidak peduli bagaimanapun kerasnya cara-cara yang diterapkannya.

Di atas semua hal tersebut, ada fakta yang menunjukkan bahwa semua kebohongan-kebohongan bersifat spiritual. Hal ini terjadi karena iblis, bapa dari semua dusta, adalah suatu roh. Itulah sebabnya diperlukan perang spiritual untuk melawan kebohongan. Menurut istilah dari Thackeray: “Suatu kebohongan sekali dijalankan – dengan menghembuskan nafas kehidupan yang disuplai oleh bapa semua dusta dan diperintahkan untuk melaksanakan ajaran setannya – akan hidup terus dengan vitalitas yang luar biasa”.

Memang benar, suatu kebohongan akan terus hidup. Namun setiap korban penipuan mempunyai keinginan kuat untuk membebaskan dirinya dari cengkeraman kebohongan tersebut. Dan kalau buku kecil ini berhasil membawa para pembacanya keluar dari suatu penipuan popular, berarti buku ini telah berhasil pula mencapai tujuan satu-satunya.

“Suatu kebohongan harus diinjak-injak dan dibasmi di manapun kebohongan itu ditemukan. Saya siap menyemprot udara di sekitar saya di mana saya sinyalir terdapat kepalsuan yang sedang menghembuskan nafas setannya dengan asap seperti menyemprotkan obat anti hama”. --- Carlyle.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar