Sabtu, 28 November 2009

Bab 6 NABI ISLAM

Kehidupan Muhammad

Kehidupan Muhammad, dengan segala seni seluk beluk dan lekak lekuknya, dapat diketahui dari bahan-bahan yang ditemukan dalam Alquran, Hadis, dan tradisi Muslim yang terdahulu. Ada juga banyak biografi-biografi, baik yang ditulis oleh orang Muslim maupun orang Barat, yang membicarakan mengenai Muhammad.

Patut disyukuri bahwa fakta-fakta dasar mengenai kehidupan Muhammad adalah hal yang dikenal dengan baik dan bukanlah suatu isu kontroversi.

Kelahiran Dan Kehidupan Masa Kecilnya

Muhammad lahir di Mekah pada tahun 570 sesudah Masehi dari pasangan suami istri Abdullah (Abd-Allah) dan Aminah. Dia lahir dalam lingkungan suku Quraisy, yang menguasai kota Mekah dan bertindak sebagai penjaga Kaabah dan penjaga pusat ibadah keagamaan yang ada di sekitarnya.

Walaupun sebetulnya dia termasuk kerabat jauh dari keluarga bangsawan Arab dari Hashim, namun dia dilahirkan dari ranting lingkungan keluarga yang miskin.

Ayah Muhammad meninggal sebelum Muhammad lahir, dan ibunya meninggal ketika Muhammad masih sangat muda. Muhammad kemudian diasuh oleh kakek dan neneknya yang kaya. Kemudian mereka menyerahkan Muhammad kepada paman Muhammad yang cukup kaya, namun tak berapa lama kemudian Muhammad diserahkan lagi kepada paman yang lain yang hidupnya miskin, yang dengan semampunya berusaha membesarkan Muhammad.



Menarik untuk dicatat bahwa banyak dari anggota keluarganya yang tidak pernah mengakui klaim Muhammad bahwa dia seorang nabi.

Contohnya, kakeknya yang sejak masih hidup sampai meninggal tetap menjadi penyembah berhala dan tidak pernah masuk Islam.

Menurut para penulis riwayat hidup Muhammad dan menurut tradisi Muslim yang terdahulu, Muhammad tidak pernah mencapai prestasi apapun ketika dia masih muda. Dia hanyalah anak muda Arab yang normal-normal saja yang senang bercakap-cakap dengan para kafilah. Dia senang mencermati gurun pasir terutama gua-gua.

Satu-satunya hal yang luar biasa mengenai kehidupan masa mudanya adalah bahwa dia sudah mulai mengalami visitasi (penjamahan) religius.

Penglihatan-Penglihatan Awal

Menurut tradisi Muslim awal-awal, penyembah berhala yang masih muda usia yang bernama Muhammad mengalami penglihatan ajaib.

Ada suatu cerita yang dipercaya umum bahwa Muhammad mengklaim adanya suatu mahluk surga yang membelah perutnya, mengaduk isi perutnya, dan kemudian menjahitnya kembali.

Muhammad sendiri nantinya merujuk pada kisah ini dalam Surat 94 : 1, yang secara literal bahasa Arab diterjemahkan sebagai:

“Bukankah Kami membukakan dadamu untukmu?”

Sebenarnya semua penulis Muslim terdahulu, termasuk para keluarga Muhammad, menempatkan peristiwa ini pada masa Muhammad di usia remaja. Namun pembela-pembela Muslim pada masa-masa berikutnya tanpa malu-malu, telah mencoba menggeser masanya ke depan, menjadi masa setelah Muhammad diutus menjadi nabi. Namun bukti sejarah sepenuhnya tidah membenarkan perubahan masa tersebut.

Apa yang sebenarnya dimaksud dengan “perutnya dibelah terbuka dan isi perutnya diaduk”, tidak pernah diberi penjelasannya. Namun cerita ini sudah didokumentasikan dengan baik sehingga tidak bisa disangkal lagi keberadaannya.

Banyak ilmuwan Timur Tengah berpendapat bahwa kisah keagamaan tersebut mungkin muncul karena adanya semacam masalah mental atau masalah medis yang berhubungan dengan epilepsi.

Ibunya Muhammad

Muhammad mempunyai seorang ibu yang bernama Aminah. Aminah adalah seorang ibu yang perasaannya seringkali meluap-luap dan sering menceritakan bahwa dirinya pernah dikunjungi oleh roh-roh atau jin-jin. Dia juga menyatakan bahwa dia pernah mendapatkan penglihatan ajaib dan pengalaman religius. Ibu dari Muhammad juga terlibat dalam apa yang sekarang dikenal dengan nama ‘seni gaib”. Dan menurut sebagian ilmuwan, orientasi dasar dari seni gaib itulah yang telah menurun kepada anaknya.

Kemungkinan Epilepsi

Beberapa ilmuwan lain menduga bahwa mungkin penglihatan ajaib Muhammad mula-mula muncul karena akibat adanya kombinasi antara penyakit epilepsi dan imajinasi yang berlebih-lebihan.

Tradisi Muslim terdahulu (mula-mula) mencatat kenyataan bahwa ketika Muhammad akan menerima wahyu dari Allah, dia seringkali jatuh di tanah, tubuhnya mulai menghentak-hentak, matanya mendelik ke belakang, dan keringatnya menetes deras. Mereka seringkali menyelimutinya dengan selimut selama peristiwa tersebut terjadi.

Ketika dia berada dalam keadaan seperti kesurupan itulah dia merasa menerima kunjungan-kunjungan ilahi. Setelah keadaan seperti itu berhenti, dia bangkit dan memproklamasikan sesuatu yang menurutnya telah diwahyukan kepadanya. Dari derkripsi mengenai hentakan-hentakan tubuh yang seringkali menyertai saat kesurupan tersebut, banyak ilmuwan menyimpulkan bahwa gejala-gejala itu adalah serangan semacam epilepsi.

Contohnya, “The Shorter Encyclopedia of Islam” yang diterbitkan oleh Cornell University menunjukkan bahwa Hadis sendiri menyatakan “keadaan setengan abnormal di luar kesadaran diri yang membuatnya tak berdaya” (hal 274).

Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam budaya Arab pada zaman Muhammad, serangan epilepsi diartikan sebagai tanda religius yang menunjukkan bahwa seseorang kemasukan roh jahat atau menerima kunjungan ilahi.

Muhammad sendiri mula-mula beranggapan bahwa yang dialaminya itu kemungkinan adalah karena kerasukan roh jahat tetapi mungkin juga karena menerima kunjungan ilahi.

Semula dia sangat cemas kalau-kalau kemungkinan pertama yang terjadi yang berarti dia kemasukan roh jahat. Kecemasan ini mendorong dia untuk mencoba bunuh diri. Namun istrinya yang sangat setia berhasil mencegah keinginan bunuh diri Muhammad dengan mengatakan bahwa orang sebaik Muhammad tidak mungkin kerasukan roh jahat.

Perkara ini akan dibicarakan lebih lanjut dalam bab lain.

Kami menyadari bahwa meskipun Muhammad memang kemungkinan besar terserang epilepsi, namun para Muslim tetap akan merasa terluka dengan pernyataan yang dianggap menghujat nabinya.

Namun, kalau kita tidak mengungkapkan kenyataan mengenai Muhammad tersebut, kita akan dipandang lalai dalam menyampaikan fakta kepada pembaca. Bagaimana mungkin kita dapat menyembunyikan kenyataan yang secara terbuka telah diungkapkan oleh para ilmuwan Timur Tengah sendiri.

Ilmuwan barat tidak menyangkal bahwa Muhammad mungkin saja mempunyai pengalaman religius semacam itu. Namun, mereka juga percaya bahwa pengalaman semacam itu mempunyai tafsir bermacam-macam dan dalam lingkup fakta-fakta yang ada, setiap orang berhak menafsirkan apapun mengenai pengalaman seperti itu.

Seperti halnya orang Muslim yang bebas menafsirkan hal-hal tersebut sebagai visitasi ilahi, orang non-Muslim pun juga bebas menafsirkan hal-hal tersebut sebagai terserang epilepsi, kerasukan roh jahat, imajinasi berlebih-lebihan, penipuan, histeria religius, atau apapun yang mereka katakan untuk menjelaskan secukupnya mengenai apa yang sedang dialami Muhammad.

Pembacalah yang harus memutuskan sendiri… Tugas kami adalah untuk memaparkan semua kemungkinan rasional yang ada.

Dalam “McClintock and Strong’s Encyclopedia” tertulis: Muhammad diberkati dengan saraf yang peka dan imajinasi yang hidup. Adalah wajar bagi dia, untuk sewaktu menganggap dirinya merupakan orang yang menerima panggilan Tuhan untuk menyebarkan keyakinan baru (agama baru) pada masyarakatnya. Muhammad – menurut periwayatan yang paling tua yang paling dapat dipercaya – adalah penderita epilepsi, dan dalam keadaan semacam itu dianggap kerasukan oleh roh-roh jahat.

Semula, dia mempercayai hal tersebut, tetapi lambat laun dia sampai pada kesimpulan, dengan dukungan dari sahabat-sahabatnya, bahwa roh-roh jahat tidak punya kuasa atas orang yang sedemikian soleh dan suci seperti dirinya, dan dia meyakini bahwa dia tidak berada di bawah kekuasaan roh-roh jahat, tetapi sebaliknya dia merasa dikunjungi oleh malaikat-malaikat, dalam pengaruh halusinasi. Di sini penglihatan dan pendengarannya dalam keadaan tubuh dan pikiran yang tidak biasa menjadikannya seolah melihat mimpi. Atau bahkan diteruskan dalam keadaan sadar, dia melihat hal tersebut pula.

Apa yang menurutnya baik dan benar setelah serangan epilepsi itu, akan dianggapnya sebagai wahyu (paling tidak pada tahap awal epilepsi tersebut). Dengan teguh dan berani ia meyakini apa yang tertangkap dalam tafakurnya, menghadapi rasa malu atas derita dan cacatnya.

Kebungkaman Modern

Kami sepenuhnya memahami bahwa masyarakat modern ini menutup mulut terhadap kemungkinan adanya sumber inspirasi religius karena serangan epilepsi yang dialami Muhammad.

Kami memahami bahwa pernyataan tersebut kalau diungkapkan akan menyakiti hati sebagian umat Muslim yang peka perasaannya. Namun kami sedikitpun bukan bermaksud untuk menghina, melainkan untuk mengutarakan fakta-fakta sesuai dengan deskripsi mengenai karakteristik fisik yang dimanifestasikan kepada Muhammad ketika dalam keadaan seperti orang kesurupan, sebagaimana dicatat dalam tradisi Muslim pada masa-masa awal munculnya agama Islam. Kami tidak boleh secara otomatis mengesampingkan kemungkinan bahwa Muhammad terserang epilepsi.

Bahwa serangan epilepsi tersebut dipandang sebagai suatu visitasi ilahi atau kemasukan roh-roh jahat adalah bagian dari ketahyulan dan kehidupan keagamaan orang-orang Arab pada zaman pra-Islam.

Kenyataan ini, yang bersesuaian dengan apa yang dianggap oleh Muhammad sendiri sebagai alasan dari keadaan seperti kerasukan (ayan), menggiring orang untuk menyimpulkan bahwa dia mengidap epilepsi atau semacamnya.

Kita tidak dapat menghilangkan fakta sejarah atau menulis kembali sejarah semata-mata dengan tujuan untuk tidak menyakiti perasaan orang-orang yang tidak mau mendengar pada kebenaran. Fakta adalah fakta tidak peduli bagaimana perasaan seseorang terhadap fakta tersebut.

Para ilmuwan Islam dari berbagai generasi telah mencatat dalam laporan yang menyatakan bahwa kita harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa Muhammad menderita epilepsi. Hal ini dimanifestasikan dengan sendirinya melalui penglihatan yang diterima Muhammad bahwa perutnya dibelah terbuka dan kemudian diikuti oleh berbagai manifestasi “kerasukan-kenabian”.

Latar Belakang Keagamaan

Sebagaimana yang telah kita ketahui, suku Quraisy dalam lingkungan mana Muhammad dibesarkan adalah lingkungan pengikut-pengikut yang getol menyembah dewa bulan yang bernama Allah. Muhammad bertumbuh menjadi dewasa di kawasan dekat Kaabah., dimana terdapat 360 berhala serta sebuah batu hitam yang memiliki kekuatan magis yang dianggap sebagai batu keberuntungan bagi suku Quraisy. Itulah saat-saat dimana dia menyaksikan para peziarah selalu datang ke Mekah setiap tahun. Dia memperhatikan mereka sedang menyembah di Kaabah dengan cara berlari-lari mengelilingi Kaabah sebanyak 7 kali, mencium batu hitam, dan kemudian lari menuruni ke dekat Wadi untuk melemparkan batu-batu kepada Setan.

Jadi tidak mengherankan kalau ditemukan banyak unsur dari penyembahan keagamaan Muhammad yang ditransfer ke dalam agama Islam, dan hal itu tidak bisa mungkin berasal dari suatu wahyu baru dari Allah sebagaiman yang diklaim oleh Islam.

Istri Muhammad Yang Pertama

Tidak ada peristiwa penting dalam kehidupan masa muda Muhammad. Pada usia 25 tahun dia mengurusi sebuah rombongan kafilah yang dimiliki oleh seorang perempuan janda yang usianya 15 tahun lebih tua dari Muhammad. Akhirnya wanita tersebut jatuh cinta dan menikah dengan Muhammad. Mereka berdua mempunyai 2 anak laki-laki yang semuanya telah meninggal dunia pada usia muda, serta 4 anak perempuan.

Salah satu puterinya menikah dengan Uthman, yang kemudian menjadi Khalif (pimpinan agama Islam penerus Muhammad) yang nantinya membakukan teks Alquran. Setelah Muhammad menikahi janda kaya tersebut, dia hidup berkecukupan dan tugasnya terbatas kepada urusan perdagangan keluarga.

Panggilan Muhammad Menjadi Nabi

Pada usia 40 tahun, Muhammad mengalami sekali lagi suatu “kunjungan ilahi”. Akibat pengalaman religiusnya, Muhammad akhirnya memproklamirkan diri bahwa Allah telah memanggil dia menjadi nabi dan rasul.

Perlu dijelaskan bahwa dalam tradisi keagamaan orang-orang Arab pada waktu itu, tidak ada istilah dan kasus bahwa seseorang menjadi seorang nabi dan rasul.

Istilah “nabi” digunakan Muhammad dengan harapan bahwa orang-orang Yahudi akan menerimanya sebagai nabi berikutnya, sementara istilah “rasul” digunakan dengan harapan bahwa umat Kristen akan mengakui Muhammad sebagai rasul berikutnya.

Seruan Muhammad tidak hanya ditujukan kepada para penyembah berhala yang sudah bergabung dengan dia dalam penyembahan di Kaabah, Mekah, tetapi juga ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan umat Kristen.

Konflik Tentang Empat Macam Versi Pewahyu

Dalam Alquran, kita diberitahu bahwa Allah memanggil Muhammad menjadi seorang nabi dan rasul. Namun, seperti yang diobservasi oleh William Montgomery ternyata: Ada beberapa versi yang tidak pas berkaitan dengan peristiwa ini.

Alquran memberikan 4 versi yang menimbulkan konflik mengenai panggilan pertamanya Muhammad menjadi nabi dan rasul. Salah satu dari ke-4 versi tersebut bisa benar (dan yang lainnya salah) atau keempat versi tersebut adalah salah semua.

Pasti tidak mungkin ke- 4 nya benar semua.

[Harap lihat Quran dalam bahasa aslinya, dan tidak dikaburkan atau dicampur adukkan oleh istilah/sisipan dari perterjemah yang menyama-ratakan/menggantikan “ruhuqudus”, “jibril”, dan “malaikat”].

Pertama, kita diberitahu dalam Surat 53 : 2 – 18 bahwa Sosok Tuhan secara pribadi menampakkan diri kepada Muhammad dalam ujud seorang manusia dan bahwa Muhammad melihat dan mendengarnya. Versi pertama ini nantinya ditinggalkan, dan kemudian kita diberitahu yang berbeda.

[Awas, tidak ada sama-sekali sebutan Jibril dalam bahasa aslinya. Di ayat 10 dalam terjemahan sengaja ditanamkan kata “Allah” 9disamping ‘dia’ sebagai ‘Jibril’ sehingga terkesan ada 2 oknum). Ini adalah rekayasa menutupi masalahnya. Semestinya bukan disebut ‘Allah’, tetapi DIA, oknum yang sama sejak semula].

Versi kedua, dalam Surat 16 : 102 dan Surat 26 : 192 – 194 bahwa panggilan Muhammad dinyatakan oleh “Ruhulqudus”. Karena Muhammad tidak sungguh-sungguh menjelaskan siapa atau apa yang dimaksud dengan “Roh Kudus” ini, versi kedua inipun nantinya ditinggalkan.

[Ruhulqudus/Ruhul Amin, dan bukan Jibril yang tercatat dalam Alquran. Dan oleh Allah, Muhammad memang tidak diberi kejelasan mengenai Ruh, “qulir-ruuhu min amri robbii”, yaitu “Katakanlah Roh itu urusan Tuhanku” (QS.17:85 dan HSB 89)].

Versi ke tiga yang berhubungan dengan panggilan Muhammad tertulis dalam Surat 15:8 di mana kita diberitahu lagi bahwa “para malaikat-lah” (aslinya jamak) yang turun menjumpai Muhammad dan memanggilnya menjadi nabi. Versi inipun juga nantinya direvisi.

Versi ke empat dalam Surat 2:97, di mana Jibril satu-satunyalah yang memberitahu panggilan kepada Muhammad serta menyerahkan Alquran kepadanya.

[Nama “Jibril” belum dikenal oleh Muhammad sendiri ketika ia masih berada di Mekah. Sulit dimengerti bahwa Jibril yang begitu rapat dengan Muhammad, namun namanya baru muncul diperkenalkan setelah belasan tahun jibril berhubungan dengan Muhammad. Mungkinkan Allah begitu sembrono?].

Tampaknya versi terakhir ini sangat dipengaruhi oleh kesadaran baru dari Muhammad bahwa Jibril (Gabriel) itulah yang menyatakan kelahiran Yesus Kristus dan Yohanes Pembaptis (Yahya).

Beberapa ilmuwan sependapat bahwa Muhammad berasumsi bahwa kedatangan seorang nabi besar berikutnya – yaitu dia sendiri – hanyalah pantas bila datang dengan melalui jalur panggilan yang sama, yaitu Jibril. Nama Jibril dalam versi terakhir inilah yang sering didengar umat Muslim dan non Muslim.

Wahyu Islam

Kami harus menjelaskan, dalam hal ini, bahwa konsep wahyu dalam pemikiran Islam tidak sama dengan konsep wahyu dalam pemikiran alkitabiah Kristen. Kata “wahyu” dalam bahasa Arab secara literal berarti “diturunkan”. Itu berarti bahwa kedatangan Alquran tidak melalui atau dari siapapun, termasuk Muhammad. Alquran hanya diturunkan kepada manusia, dalam hal ini, Muhammad. Jadi tidak ada seorang manusiapun yang menjadi penulis Alquran. Allah berbicara melalui Jibril kepada manusia, dan manusia adalah penerima bukan pengada Alquran.

Hal ini berbeda dengan para penulis Alkitab yang bahkan mengidentifikasikan diri mereka sendiri sebagai orang-orang yang menulis buku-buku tertentu yang menjadi bagian dari Alkitab.

Orang-orang Kristen tidak mengalami kesulitan untuk mengatakan bahwa nabi Yesaya menulis Kitab Yesaya atau Matius menulis Injil Matius. Mereka tidak merasa merendahkan atau membatasi inspirasi dari Alkitab.

[Semua penulis Alkitab memakai latar belakangnya, bahasa, dan gaya penulisan sendiri-sendiri yang dikuasainya untuk menulis. Namun Tuhan menuntun mereka dengan pengilhaman ilahi].

Namun hal seperti ini tidak mungkin dikenakan pada Alquran. Materi Quran yang diturunkan langsung dari Surga melalui Jibril menyangkal semua sumber-sumber dari manusia dan dunia!

[namun Allah SWT tetap harus memakai bahasa-dunia (Arab), ruang-dunia (Mekah dan Madinah), dan waktu-dunia (selama 23 tahun, tidak sekaligus) yang kesemuanya adalah unsur-unsur yang membatasi?].

Keragu-raguan Dan Bunuh Diri

Setelah pengalaman religius pertama di mana Muhammad merasa bahwa dia telah dipanggil menjadi nabi dan rasul, Muhammad mulai merasakan suatu keragu-raguan yang sangat mendalam mengenai kewarasan pikirannya. Terutama sekali dia merasa sangat takut kalau-kalau dia kemasukan roh jahat.

Bagi Muhammad keadaan tubuh yang diakibatkan oleh pengalaman religius semacam kesurupan ini adalah sama sesuainya dengan orang-orang lain yang juga mengalami hal serupa yang oleh masyarakat sekitarnya akan dianggap sebagai kesurupan/kemasukan Setan.

Dia merasa demikian tertekan batin sehingga dia memutuskan untuk bunuh diri. Namun dalam perjalanan menuju ke tempat di mana dia akan bunuh diri, dia sekali lagi mengalami serangan epilepsi, dia mendapatkan penglihatan (visi) yang lain yang mengingatkan bahwa dia tidak boleh bunuh diri karena dia adalah orang yang terpanggil oleh Allah.

Namun sekalipun setelah pengalaman religius ini, dia masih tetap merasakan tertekan batin dan dipenuhi oleh rasa keragu-raguan.

Dia Mulai Berkhotbah

Ketika Muhammad akhirnya mengungkapkan apa yang dialaminya kepada istrinya secara terbuka, istrinya kemudian mendukungnya dalam arti bahwa istrinya merasakan bahwa Allah telah sungguh-sungguh memanggil Muhammad menjadi nabi dan rasul. Istrinya memberi dorongan agar Muhammad menceritakan berita baik ini kepada keluarga dan sahabat sahabatnya. Pertama Muhammad menceritakan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya secara rahasia. Sesungguhnya, orang-orang pertama yang bertobat masuk Islam adalah anggota-anggota keluarganya sendiri.

Mulai Timbul Oposisi

Namun ketika berita yang disampaikan oleh Muhammad itu sudah memasyarakat, dia mulai menjadi bahan tertawaan dan ejekan dari masyarakat secara luas dan bahkan dari sebagian anggota keluarganya sendiri.

Pada satu saat ketika kebencian terhadap Muhammad sudah sedemikian memuncak, orang-orang Mekah mengepung daerah di mana Muhammad tinggal. Dia kemudian menghadapi keadaan yang sangat sulit.

Ayat-Ayat Setan

Untuk menenangkan para anggota keluarganya yang menyembah berhala dan juga para angggota suku Quraisy, dia memutuskan bahwa hal yang terbaik yang dapat dilakukannya adalah mengakui bahwa adalah pantas-pantas saja jika orang-orang bersembahyang dan menyembah ketiga puteri Allah: Al-Lata, Al-Uzza, dan Manat.

Hal inilah yang menyebabkan munculnya “ayat-ayat setan” yang sangat terkenal dalam Quran. Muhammad ketika itu berada dalam keadaan lemah dan diduga dikuasai oleh inspirasi Setan (menurut para ahli Islam pada abad awal berdirinya Islam) sehingga mengalah pada tuntutan dan keinginan para penyembah berhala di Mekah (Surat 53:19). Literatur mengenai “ayat-ayat setan” ini sedemikian banyaknya sehingga kalau ditulis, bisa menjadi satu buku tebal hanya mengenai satu issue ini saja! Setiap buku referensi umum dan Islam, baik yang ditulis orang-orang Barat maupun orang-orang Muslim, selalu mencakup tulisan mengenai “ayat-ayat setan” ini serta riwayat hidup Muhammad.

Cerita mengenai Muhammad menerima sementara tuntutan dan keinginan para penyembah berhala dengan cara mengijinkan mereka menyembah banyak dewa tidak mungkin bisa disangkal kebenarannya dan tidak bisa diabaikan. Hal tersebut telah merupakan fakta sejarah yang didukung oleh semua ilmuwan kajian Timur Tengah, baik ilmuwan Barat maupun Muslim.

Kami menyadari ada sementara pembela Islam modern yang menolak cerita mengenai “ayat-ayat setan” tersebut. Namun kami harus menjelaskan bahwa mereka melakukan hal tersebut tidak berdasar pada bukti-bukti tertulis atau fakta sejarah.

Penolakan mereka semata-mata hanya berdasarkan asumsi bahwa Muhammad adalah orang tidak berdosa jadi dia tidak mungkin melakukan hal semacam itu.

Muhammad Menerima Teguran Pedas

Ketika murid-muridnya yang berada di Medinah mendengar bahwa Muhammad jatuh ke dalam (izin) penyembahan banyak dewa (polytheisme), mereka segera mendatanginya untuk menegur, dan menasehatinya. Hal ini menyebabkan Muhammad nantinya menyatakan bahwa Jibril sendiri turun dari Surga dan menghardiknya karena dia telah mengijinkan Setan mengilhaminya untuk menyetujui penyembahan ke 3 puteri Allah oleh orang-orang Mekah.

Muhammad kemudian bertobat lagi dan kembali menyembah satu-satunya Allah. Ia kini menyatakan bahwa Allah dapat me-nasakh-kan, yaitu “mencabut”, ayatNya sendiri, atau dengan kata lain membatalkan wahyu yang diberikanNya terdahulu. Nantinya setelah kematian Muhammad, “ayat-ayat Setan” tersebut tidak dicantumkan dalam teks Alquran. Ayat-ayat tersebut dibatalkan. Hal ini tentu saja menjadikan bahan tertawaan yang tidak ada habisnya.

Para penyembah berhala di kota Mekah mengejek bahwa Allahnya Muhammad hanyalah Allah yang tidak mampu membulatkan pendapatNya, melainkan selalu berubah-ubah pikiranNya! Di satu sisi, Muhammad menyatakan bahwa Allah (maksudnya satu-satunya Tuhan) tidak mengijinkan mereka menyembah tiga puteri Allah (maksudnya dewa bulan).

Kemudian di sisi lain Allahnya Muhammad menyatakan bahwa mereka boleh menyembah tiga puteri Allah (maksudnya dewa bulan). Dan sekarang sekali lagi, mereka diberitahu bahwa mereka tidak boleh menyembah tiga puteri Allah (maksudnya dewa bulan). Tidak bisakah Allahnya Muhammad mengambil keputusan pasti?

Dipaksa Lari

Karena ejekan-ejekan dan memuncaknya rasa kebencian di kalangan masyarakat Mekah kepada Muhammad, Muhammad kemudian meninggalkan Mekah menuju ke Ta-if. Karena tidak sukses atau tidak ada orang Ta-if yang bertobat menjadi Islam, Muhammad kemudian memutuskan untuk kembali lagi ke Mekah.

Dalam perjalanan kembali ke Mekah, menurut Alquran dalam Surat 46 :29-35; 72: 1-28, Muhammad berkotbah di hadapan para jin dan mereka kemudian bertobat dan masuk Islam.

Menurut Alquran, para jin tersebut kemudian berkotbah tentang Islam kepada manusia. Jadi, roh-roh laki-laki dan perempuan yang mendiami pohon-pohon, batu-batu karang, dan dalam sungai dan kolam di Arabia sekarang masuk Islam dan berada di bawah kekuasaan Muhammad.

Inilah bentuk klasik shamanisme yang kini di-klaim oleh Muhammad sebagai penguasa atas roh-roh yang ada di bumi. (shamanisme adalah suatu paham keagamaan yang mempercayai roh-roh sakti yang hanya dapat dikuasai oleh para dukun atau penyihir).

Setibanya Muhammad di Mekah, dia melihat bahwa kebencian terhadap pesan-pesan yang disampaikannya bahkan makin memuncak dibanding sebelumnya. Terutama para pedagang yang merasa sangat khawatir akan kehilangan penghasilannya kalau Muhammad menentang keras serta menghancurkan berhala-berhala yang saat itu ditempatkan di Kaabah.

Melarikan Diri Ke Medinah

Muhammad sekali lagi meninggalkan Mekah dan saat ini menuju ke Medinah dimana pengajarannya diterima. Ketika berada di Medinah, Muhammad menyadari bahwa keluarganya dan suku bangsanya tidak akan berhenti dari menyembah berhala-berhala kecuali kalau mereka dipaksa dengan cara kekerasan untuk berhenti.

Pertempuran Pertama

Muhammad mulai menguji kekuatannya dalam perang dengan cara pertama mengirim 6 orang pengikutnya untuk menyerang suatu iringan kafilah. Di situ para penyerang ini membunuh sati orang dan memperlakukan lainnya yang masih hidup menjadi budak, serta merampok barang-barang mereka. Peristiwa ini dikenal dengan nama Serangan Nakhla.

Semua peristiwa tersebut justru terjadi pada masa bulan perdamaian dan bulan gencatan senjata menurut tradisi Arab. Maka Muhammad menerima kritikan yang tiada henti-hentinya atas tindakannya merampok suatu iringan kafilah dan merusak citra bulan perdamaian seperti yang ditradisikan oleh seluruh masyarakat.

Pertempuran Kedua

Setelah para muridnya merasakan nikmatnya merampok dan membunuh, kini Muhammad sendiri memimpin perang kedua. Dia dan pengikut-pengikutnya lagi-lagi memenangkan pertempuran di Badar. Kesuksesan besar ini mendorong lebih banyak lagi dari para pengikutnya yang berminat untuk bergabung dalam pertempuran, membunuh, dan merampok.

Muhammad Berpaling Dari Orang-Orang Yahudi

Pada saat itu Muhammad sadar bahwa orang-orang Yahudi tidak akan bertobat dan masuk Islam. Ilmuwan Muslim Ali Dashti berkomentar:

Setelah serangan Nakhla, serangan-serangan berikutnya atas kafilah Quraisy dan suku-suku lainnya juga berhasil dengan gemilang, dan hal ini telah meningkatkan posisi keuangan para Muslim, pengikut-pengikut Muhammad.

Serangan ini membuka jalan bagi Muhammad dan sekutu-sekutunya untuk memperoleh kekuasaan dan menguasai seluruh Arabia nantinya. Namun, langkah yang mendesak untuk dilakukan saat ini dalam mengamankan keuangan serta meningkatkan reputasi orang-orang Muslim adalah dengan cara merampas harta benda orang-orang Yahudi di Yathreb.

Pertama Muhammad telah mencoba membujuk orang-orang Yahudi untuk menerima kenabiannya melalui kotbahnya mengenai Tuhan yang Satu, menekuni hari Sabbat Yahudi, sembahyang menghadap Yerusalem, membangkitkan response yang simpatik kepada Abraham dan para tua-tua dalam Alkitab, pengadopsian sebagian dari hukum pengharaman makanan yang berlaku dalam masyarakat Yahudi, dan pujian (pembenaran) terhadap kitab Suci Yahudi.

Namun ketika dia menyadari dengan jelas bahwa para pedagang Yahudi ini tidak akan menjadi muridnya, Muhammad lalu memutuskan untuk meninggalkan upacarawi keagamaan Yahudi. Dia pun merubah kiblat sembahyang dari Yerusalem ke Mekah, meniadakan hari Sabbat Yahudi (hari Sabtu) dan sebagai gantinya mengadopsi sabbatnya para penyembah berhala yaitu hari Jum’at. Dia sekali lagi mengadopsi ritus-ritus keagamaan berhala yang telah dianut oleh keluarganya.

[tak ada alasan yang diberikan Allah untuk mengubah kiblat kecuali membingungkan, lihat Surat 2:142. Para ahli melihat bahwa itu lebih merupakan alasan “tak usah berkiblat” ketimbang perintah untuk mengubah kiblat (karena semua arah adalah sama kepunyaan Allah). Tetapi fakta riilnya adalah bahwa Muhammad gusar ketika diperolok-olok mencontek upacara kaum Yahudi dan tetap tidak mendukung dirinya, sekalipun kiblat sudah diarahkan ke Yerusalem demi mengambil hati mereka. Rupa-rupanya kegusaran inilah yang membuat kiblat perlu diubah].

Muhammad juga melakukan pembunuhan terhadap orang-orang Yahudi, mula-mula secara perorangan dan kemudian baru melakukan penyerangan pada pemukiman-pemukiman Yahudi. Muhammad menyerang orang-orang Yahudi karena alasan keuangan dan alasan keagamaan. Sebagian dari wilayah pemukiman Yahudi tersebut memang merupakan pusat-pusat perdagangan emas dan perak; dengan menaklukkan tempat-tempat semacam itu, kekayaan besar dapat diperoleh dalam waktu singkat.

Encyclopedia Britannica menjelaskan: Ketika Muhammad mengetahui bahwa kelompok Yahudi tidak berkualitas dalam perang, dia pun tergoda untuk mengambil harta mereka. Serangannya terhadap pemukiman Yahudi yang makmur di Khaibar itu kelihatannya sudah dirancang untuk memuaskan para pendukungnya yang tidak puas dengan sekedar tambahan dari hasil merampok.

Kekalahan Muhammad Yang Pertama

Orang-orang Mekah akhirnya menyadari bahwa Muhammad merupakan ancaman serius. Dengan jumlah tentara yang besar menuju Uhud mereka menyerbu pasukan Muhammad. Muhammad kalah dalam pertempuran ini walaupun dia telah meramalkan akan menang. (Baca sejarah Perang Uhud). Mulutnya terkena sabetan pedang, dia kehilangan beberapa gigi, dan nyaris gugur dalam pertempuran itu. Kekalahan ini merupakan pukulan berat bagi Muhammad dan pengikut-pengikutnya.

Beberapa pengikutnya melarikan diri setelah peristiwa ini. Mereka merasa tertipu sebab mereka diajak ikut berperang dan diiming-imingi kemenangan dan banyak harta benda rampasan, namun hasilnya sungguh mengecewakan yaitu mereka kalah dan dipaksa mundur bahkan pemimpin mereka yang katanya nabi menderita luka parah.

Tidak diketahui apa alasannya bahwa orang-orang Mekah tidak mengejar dan menghancurkan Muhammad beserta pasukannya. Namun agaknya setelah mereka melukai para korban yang cukup banyak, demi mengentengkan rasa kejam, mereka (orang-orang Mekah) kemudian kembali ke kota sambil membiarkan Muhammad pergi.

Pemukiman Yahudi

Muhammad kemudian mengarahkan perhatiannya sekali lagi kepada orang-orang Yahudi, yang merupakan target penaklukkan yang lebih mudah daripada orang-orang Mekah. Dia mulai melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap orang Yahudi dan merampok pemukiman mereka.

Setelah satu kota Yahudi menyerah, sebanyak 700 sampai 1000 orang Yahudi dipenggal kepalanya dalam satu hari sementara semua wanita dan anak-anak dijual sebagai budak-budak dan semua harta benda yang ada di kota tersebut dirampas.

Kenyataan dan fakta kejam tersebut ditunjang oleh para ilmuwan Islam sendiri maupun para ahli sejarah bangsa Barat.

Kemenangan Terakhir Atas Mekah

Muhammad kemudian mengalihkan perhatiannya sekali lagi pada Mekah. Pasukannya telah bertambah banyak sehingga sekarang Muhammad memiliki kekuatan yang besar di lapangan.

Suatu perjanjian perdamaian antara penguasa Mekah dan Muhammad telah disepakati, berlaku selama 10 tahun. Berdasarkan perjanjian perdamaian tersebut Muhammad dan para pengikutnya diijinkan untuk melaksanakan upacara keagamaan di Kaabah dan Mekah, dan Muhammad diberi kebebasan untuk mengajak orang-orang masuk Islam yaitu melalui seruan moral, pengajaran atau kotbah, namun tidak melaluui kekerasan.

Namun dalam waktu kurang lebih satu tahun, Muhammad mengingkari perjanjian dan dengan mengerahkan ribuan pengikutnya mereka memaksa penguasa Mekah untuk menyerah kepada kepimpinannya. Muhammad kemudian menjadi pimpinan politik Mekah dan sekaligus menjadi pimpinan agama yang tidak diragukan lagi.

Dia kemudian membersihkan Kaabah dari segala macam berhalanya. Dia melarang dengan kekerasan para penyembah berhala melaksanakan kegiatan keagamaannya. Beberapa orang yang telah dibunuhnya adalah orang-orang yang menjadi musuh pribadinya. Misalnya, ada seorang penyair wanita yang mengejek Muhammad dan menuduh bahwa sebagian dari bahan yang ada di Alquran sesungguhnya merupakan karya puisi curian dari ayah wanita tersebut. Untuk membungkamkan wanita tersebut, Muhammad membunuhnya.

Muhammad saat itu telah memperoleh sukses yang sangat mencengangkan. Karena Muhammad telah menjadi pimpinan perjuangan dan penguasa Mekah lengkap beserta pusat keagamaannya, maka orang-orang Arab dari berbagai suku dan berbagai penjuru mulai bergabung dengan Muhammad.

Kehidupan Pribadi Muhammad

Dalam kehidupan pribadinya, Muhammad mempunyai dua kelemahan.

Pertama adalah ketamakan. Dengan merampas harta benda dari para kafilah dan dari para pemukim Yahudi, dia telah menimbun kekayaan yang luar biasa bagi dirinya, keluarganya, dan sukunya.

Kelemahan Muhammad yang kedua adalah wanita. Walaupun dalam Alquran dia membatasi pengikutnya hanya boleh mengawini maksimal 4 istri, dia sendiri mempunyai lebih dari 4 istri dan gundik.

Pertanyaan mengenai berapa jumlah wanita yang pernah berhubungan seksual dengan Muhammad baik sebagai istri, gundik, maupun penggemar-penggemarnya yang menyerahkan dirinya, menjadi bahan perdebatan di kalangan orang-orang Yahudi pada zaman Muhammad.

Ali Dashti berkomentar: Semua uraian komentator setuju bahwa Surat 4: 57 diturunkan setelah orang-orang Yahudi mengecam nafsu birahi Muhammad atas wanita, mereka menyatakan bahwa Muhammad tidak punya tugas lain kecuali hanya untuk mendapatkan istri-istri.

Poligami juga dilakukan oleh para pemuka agama seperti yang tertulis di dalam Alkitab Perjanjian Lama seperti halnya Abraham, maka fakta bahwa Muhammad juga mempunyai lebih dari satu istri tidaklah cukup untuk meniadakan panggilan kenabiannya. Namun demikian hal tersebut sungguuh

meniadakan fakta bahwa Muhammad itu bukan sebagai manusia biasa.

[Perbedaan pokok “poligami” nabi Israel dengan poligami ala Muhammad adalah bahwa Tuhan Israel tidak pernah melegalkan poligami, sedangkan Allah SWT menjadikannya hukum-Allah lewat Muhammad]

Hal ini juga mendatangkan masalah penalaran logis bagi umat Muslim. Karena Alquran dalam Surat 4:3 melarang memperistri lebih dari 4 orang. Jadi jikalau kini Muhammad mengambil lebih dari 4 istri, dia berdosa.

Seorang pembela Islam yang bercakap-cakap dengan saya berdalih:

Muhammad tidak berdosa. Alquran menyatakan bahwa mengambil istri lebih dari 4 adalah suatu dosa. Jadi Muhammad tidak mungkin mempunyai lebih dari 4 istri. Mengapa? Karena Muhammad tidak berdoa.

Saya menyatakan kepadanya bahwa pertanyaan mengenai jumlah istri yang dimiliki Muhammad atau siapapun juga, haruslah dijawab berdasarkan bukti-bukti sejarah dan literal dan bukan berdasarkan keyakinan buta.

Ilmuwan dan negarawan Muslim yang bernama Ali Dashti melaporkan daftar para wanita dalam kehidupan Muhammad sebagai berikut:

1. Khadijah 1

2. Hend

2. Saudah

13. Asma (bt Saba)

3. Aisyah

14. Zaenab (bt Khuzaimah)

4. Ummu Salama 15. Habla

5. Hafsah

16. Asma (bt Noman)

6. Zainab (bt Jahsy) 17. Maria (orang Kristen)

7. Juwayriya 18. Rayhana

8. Ummu Habila 19. Ummu Sharik

9. Safiah 20. Maimunah

10.Maimunah (bt Harits) 21. Zainab (nomor tiga)

11. Fatimah 22. Khaula

Beberapa pengamatan dari daftar tersebut di atas yang perlu dibahas di sini:

a. Para wanita nomor 1 s./d. 16 adalah istri-istri Muhammad.

b. Wanita nomor 17 dan 18 adalah budak atau gundik.

c. Para wanita nomor 19, 20, 21,22 adalah bukan istri bukan pula budak, mereka adalah wanita Muslim yang soleh yang meyerahkan diri mereka sendiri untuk memuaskan nafsu seksual Muhammad.

d. Wanita nomor 6, Zainab, semula adalah istri dari anak angkat Muhammad. Kenyataan bahwa Muhammad menjadikan wanita ini sebagai istrinya merupakan masalah Bagi banyak orang termasuk orang-orang Muslim sendiri.

[Proses Zainab menjadi istrinya Muhammad sungguh merisihkan. Wanita inilah satu-satunya yang dijodohkan Allah kepada Muhammad serta membukukannya dalam Quran. Padahal ia tadinya adalah istri dari Zaid bin Haritha yang anak angkat Muhammad sendiri. Keinginan dan api cinta terhadap Zainab terpancar dari sinar mata Muhammad ketika keduanya bertemu di rumah Zainab (masih) sebagai Nyonya Zaid. Muhammad ragu-ragu, gelisah dan ditahan-tahan. Allah mengetahuinya dan sengaja menurunkan Surat 33:37 yang meluluskan keinginan terhadap Zainab, begitu selesai urusan cerainya dengan Zaid. (lihat hlm.102 dan 103). Pertanyaan yang sulit dijawab: Kenapa Muhammad mengingini istri orang, malahan istri anak angkatnya sendiri, dan betul-betul mengawininya?! Padahal Hukum Taurat yang masih dan selalu berlaku adalah: “Jangan mengingini istrinya” (sesamamu) (Keluaran 20:17)].

e. Wanita nomor 3, Aisyah, baru berusia 8 tahun ketika Muhammad membawanya ke atas tempat tidur Muhammad. Ihwal selera seksual Muhammad ini sungguh sangat menindih hati masyarakat bebas.

Mereka jijik memikirkan bahwa anak wanita umur 8 tahun dikawinkan dengan pria berumur 53 tahun, siapapun juga pria tersebut.

Aspek dari kehidupan pribadi Muhammad yang satu ini lagi-lagi diabaikan oleh banyak ilmuwan karena mereka tidak mau menyakiti perasaan orang-orang Muslim. Namun demikian, sejarah tidak bisa ditulis ulang demi menghindari fakta-fakta keras bahwa Muhammad mempunyai nafsu seksual yang tidak wajar terhadap anak-anak perempuan pra-remaja.

[Kawin umur 8 tahun adalah “kawin dibawah umur” yang tidak dibenarkan di Arab sekalipun. Hadis (Terjemahan Shahih Bukhari 1598) mengacu usia dewasa adalah 15 tahun. Kawin di bawah umur ini, sekalipun dilakukan oleh Muhammad (apalagi terbukti bahwa Aisyah menjadi istri yang paling membahagiakan Muhammad) konsekuensinya adalah layak menjadi sunnah Rasul yang perlu diteladani oleh orang-orang Muslim]

Akhirnya wanita nomor 17 yaitu Kristen Coptic (Kristen asli Mesir) menolak menikah dengan Muhammad karena dia tidak mau meninggalkan Kristen untuk masuk Islam. Dia dengan berani memilih tetap menjadi budak dari pada harus masuk Islam.

Dokumen mengenai semua wanita dalam harem Muhammad beredar secara luas dan telah dipresentasikan berkali-kali oleh para pakar sehingga hanya mereka yang cara berpikirnya tidak berujung pangkal saja (berputar-putar) yang dapat menolak kenyataan di atas.

Kematian Muhammad

Ada suatu hal yang membingungkan mengenai keadaan dari kematian Muhammad tahun 632 sesudah Masehi. Pandangan tradisional mengatakan bahwa kematian Muhammad disebabkan karena diracuni oleh seorang wanita Yahudi yang anggota-anggota keluarganya dibunuh oleh Muhammad dalam suatu pembunuhan massal atas umat Yahudi.

Namun, karena peristiwa peracunan tersebut terjadi antara satu sampai dua tahun sebelum kematian Muhammad, memang sulit untuk langsung menyimpulkan bahwa racun tersebutlah yang membunuh Muhammad dalam waktu sekian lamanya.

[Namun setidak-tidaknya terbukti bahwa Nabi tidak mampu mendeteksi racun, bahkan dalam tradisi, Muhammad mengakui sendiri bahwa efek racun tersebut memang yang menyebabkan kesakitannya sampai di akhir-akhir hidupnya, HSB 1220 dan 1570, riwayat dari Ibnu Ishaq, juga Ibnu Sa’ad dan lain-lain]

Dari catatan-catatan asli mengenai riwayat hidup Muhammad dapat diketahui dengan jelas bahwa Muhammad sendiri tidak mendapatkan firasat atau pertanda Allah mengenai kematiannya. Dia tidak pernah menyiapkan penggantinya. Dia tidak pernah menetapkan tata birokrasi pemerintahan apapun yang perlu dijalankan oleh penerusnya setelah dia meninggal.

Dia juga tidak pernah mengumpulkan atau mengurutkan pelbagai berkas wahyu yang diterimanya agar dapat disusun menjadi Alquran seperti yang kita kenal sekarang ini! Kematiannya datang demikian cepat dan tidak memberi kesempatan sedikitpun buat dia untuk menyelesaikan urusannya.

Karena Muhammad tidak pernah menguraikan secara jelas mengenai apa yang harus dilakukan setelah kematiannya, Umat Muslim waktu itu segera pecah menjadi sekte-sekte yang saling bertentangan seperti Shiah dan Sunni.

Kesimpulan

Kekuatan dan kejeniusan Muhammad yang mengagumkan membuat dia mampu merubah tata cara ibadah penyembahan dewa bulan yang bernama Allah itu menjadi sebuah agama Islam, agama kedua terbesar di dunia! –

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar