Senin, 09 November 2009

Pasal 19 - Dilahirkan Ke Dalam Islam, Dibesarkan di Amerika Serikat

“Presiden Bush dan yang lain melakukan kesalahan fatal ketika mereka berkata bahwa Islam adalah iman yang agung dan penuh kedamaian, namun ada sekelompok ekstremis membajaknya. Pada kenyataannya, Islam adalah iman yang keji dan penuh dengan kekerasan yang menyebabkan munculnya para ekstremis”

Banyak orang berpendapat bahwa kekerasan keji yang ada dalam Islam diilhami melalui interpretasi harafiah terhadap Qur’an. Meskipun, sejumlah mantan Muslim berpendapat bahwa kekerasan keji tersebut merupakan fakta dari pengungkapan Islam yang benar, adalah hal yang menarik untuk dicatat di sini bahwa kesaksian itu tidak muncul dari Timur Tengah atau dari negara Islam, tetapi dari negara Amerika Serikat, suatu tempat dimana mereka bebas mempertanyakan ungkapan bahwa Islam adalah sebuah agama damai.

Tulisan ini mendorong kita semua untuk menyadari bahwa Islam adalah bagian dari masalah, dan bukan penyelesaian atas masalah. Kita perlu menemukan langkah apa yang dapat dilakukan supaya kita berhasil mengalahkannya. Dan apabila kita tidak melawannya, kita yang ada di Barat atau pun di negara-negara non-Muslim lainnya akan menemukan diri kita berada di bawah kekuatan yang menindas.

Kesaksian dari seorang yang murtad yang menemukan kebebasan di Amerika Serikat

Saya dilahirkan di sebuah negara Islam oleh orang tua Muslim, tetapi saya dibesarkan di Amerika Serikat. Sepanjang hidup saya, saya mengakui diri saya sebagai seorang Muslim, dan saya menangani gudang persenjataan besar yang berisi pembelaan, penjelasan dan penyangkalan buta untuk mempromosikan dan mempertahankan Islam. Tentu saja, saya belum pernah sekali pun membaca Qur’an, dan saya percaya secara eksklusif pada apa yang saya dengar dari orang tua, keluarga, teman-teman Muslim saya, dan media-media Islam.

Hingga pada suatu hari, saat berusia dua puluh enam tahun, saya memutuskan untuk membaca Qur’an supaya saya menjadi seorang “Muslim yang lebih baik”. Tiga halaman pertama sangat mengejutkan saya sebab saya menemukan ketidaklogisan dan kontradiksi yang sangat nyata, yang muncuk melalui klaim yang terus-menerus bahwa Allah adalah “Maha pemurah” dan “Maha pengasih”.

Ketika membacanya, saya memejamkan mata saya, menggertakkan gigi saya, menggenggam tangan saya dengan erat dengan keyakinan yang pasti bahwa semua itu pada waktunya akan dapat dijelaskan dan akan menjadi lebih baik di dalam pemahaman saya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, karena yang saya lihat malahan semakin memburuk.

Setelah selesai membaca Qur’an, saya menyadari bahwa saya tidak mungkin mengabsahkan Islam sebagai sebuah kepercayaan, sebuah filosofi, sebuah standar moral, sebuah norma etika, ataupun sebagai sebuah khayalan yang berguna. Saya memutuskan bahwa filosofi dan gambaran Allah tersebut hanya dapat muncul dari orang yang sangat terganggu dan melenceng, dan yang sedang mengalami kesakitan disebabkan oleh segregasi yang sangat parah yang berasal dari kelemahan manusiawi.

Sejak tahun 1996, saya membaca dan membaca ulang Qur’an dan Hadis (yang isinya bahkan lebih buruk daripada Qur’an), dan saya selalu memperoleh kesimpulan yang sama – Islam adalah sebuah bencana mutlak bagi seluruh dunia, bagi orang Kristen, Yahudi, penyembah berhala, atheis, wanita, anak-anak, dan lebih dari semuanya itu, bagi umat Muslim sendiri.

Saya telah mendiskusikan kelemahan mendasar Islam tanpa henti dengan banyak anggota keluarga dan teman-teman saya, namun tak seorangpun dapat memberikan tanggapan yang memadai. Tidak seorangpun dapat menghasilkan sebuah cerita yang dapat dipercayai, yang menunjukkan bahwa Islam bermanfaat atau berdampak positif bagi dunia. Dari para pembela Islam, saya mendengar tuduhan mereka yang mengatakan bahwa orang Yahudi bertanggungjawab atas pengkhianatan saya. Saya mendengar tuduhan mereka bahwa otak saya telah “dicuci” oleh media massa, yang menurut mereka adalah Yahudi. Saya mendengar bahwa saya harus memahami “sejarah” Islam untuk mengerti ketidaklogisan yang tak terbatas, kekejaman, ketidakkonsistenan internal, dan ketidakadilan. Saya mendengar bahwa seseorang, di sebuah negara Islam, dapat menjawab secara meyakinkan pertanyaan saya, tetapi orang-orang yang telah berdiskusi dengan saya hanya dapat mengatakan bahwa ada banyak penjelasan yang baik, namun sangat disayangkan bahwa mereka sendiri tidak bisa memberikan penjelasan itu kepada saya.

Tentu saja, ketika orang Muslim bijak yang mereka katakan itu muncul, mereka sendiri tidak dapat menjawab pertanyaan, dan mereka mengatakan hal yang sama: “Itu karena orang Yahudi, dan karena media massa.” Saya tidak cukup mengetahui mengenai sejarah Islam sehingga bisa mengerti, dan mereka berkata kepada saya bahwa mereka mengetahui seseorang yang jauhnya delapan ribu mil yang dapat menjelaskannya kepada saya. Akhirnya, tidak seorangpun dapat dengan jelas menerangkan Qur’an dengan memuaskan, selain bahwa di dalamnya penuh dengan kesewenang-wenangan, kekejaman, ketidakadilan, kejahatan, dan bukti-bukti yang satu sama lainnya saling bertentangan. Saya tidak menggunakan terminologi itu secara ringan, atau dengan tidak tepat atau secara emosional. Ini adalah sebuah fakta yang benar-benar tidak berpihak bahwa Islam – sebagaimana yang ditulis dalam Qur’an – adalah sebuah kesewenang-wenangan, kekejaman, ketidakadilan, dan sesuatu yang jahat. Dan itu semua bisa dibuktikan secara terus-menerus bahwa pendiri “agama” ini adalah seorang yang sakit dan bisa dikategorikan sebagai bentuk yang paling buruk dari kelemahan manusia.

Tentu saja, hidup saya telah meningkat secara dramatis semenjak saya membaca Qur’an dan menyadari dari mana datangnya kelemahan manusia. Saya berharap bahwa semua orang Muslim akan membaca Qur’an dan berpikir tentang apakah agama ini datang dari orang yang baik atau buruk, dari sebuah kepandaian manusia atau dari kebodohan, dari yang baik atau jahat, dari kasih sayang atau kekejaman, dari keadilan atau ketidakadilan, dari kesopanan atau kebejatan – bagaimanapun juga seseorang ingin memberikan definisi atas istilah-istilah tersebut.

Islam, pada hakekatnya adalah problem bagi seluruh dunia, tetapi problem terbesar adalah bagi orang Muslim itu sendiri. Sangat disayangkan, untuk menambah kehancuran diri mereka dengan Islam, sebagian dunia non-Muslim ternyata lebih suka mengakhiri hidupnya selagi Muslim sejati tengah mengumpulkan senjata-senjata yang dibutuhkan untuk menghancurkan dunia.

Merupakan kenyataan bahwa orang-orang yang saya sebut “berpura-pura menjadi Muslim” – merupakan kelompok mayoritas yang menyebut diri mereka Muslim – dan mereka tidak mengkategorikan diri mereka ke dalam tahyul yang disebut Islam atau sebagai sekelompok orang-orang percaya sejati yang sangat bergantung pada mereka yang hanya berpura-pura saja menjadi Muslim, supaya mereka bisa tetap kuat dan memiliki kedudukan yang sah di hadapan masyarakat umum. Presiden Bush dan yang lainnya melakukan kesalahan fatal ketika mereka berkata bahwa Islam adalah iman yang agung dan penuh kedamaian, namun ada sekelompok ekstremis membajaknya. Pada kenyataannya, Islam adalah iman yang keji dan penuh dengan kekerasan yang menyebabkan munculnya para ekstremis, dan ini pun adalah iman yang telah dibajak oleh orang-orang yang hanya berpura-pura saja menjadi Muslim, yang melalui kesusilaan manusiawi mereka, mereka telah memberikan kepada agama yang sebenarnya hanyalah sebuah tahyul barbar ini sebuah wajah seolah-olah ia tampak seperti sesuatu yang baik bagi mereka yang tidak memiliki pengetahuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar