Sabtu, 28 November 2009

APPENDIX A Terjemahan Alquran Dalam Bahasa Inggris

Pernyataan umat Muslim bahwa bahasa Arab Alquran tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau bahasa-bahasa lain telah menyebabkan orang-orang Muslim non-Arab hanya dapat bersembahyang dan membaca ayat-ayat Alquran dalam bahasa Arab sekalipun tidak mengerti apa yang diucapkannya. Pernyataan tersebut juga merupakan pelecehan terhadap seluruh generasi para ilmuwan Arab yang nyatanya tidak mengalami kesulitan apa-apa untuk menerjemahkan Alquran.

[Para Muslim perlu beratanya: Kenapa Taurat dan Injil tidak memerlukan bahasa Arab untuk komunikasi Allah dengan umatNya? Jadi bahasa lain pun mampu menyatakan Firman Allah kepada manusia dan sebaliknya, tidak harus dalam bahasa Arab?]

Terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris oleh ilmuwan Barat yang pertama kali dilakukan pada tahun 1734 oleh George Sale.

Kemudian tidak pernah diakukan lagi sampai tahun 1861 dimana orang kedua melakukannya lagi yaitu Rodwell, diikuti oleh Palmer pada tahun 1880, kemudian Wherry pada tahu 1882, selanjutnya Pickthal pada tahun 1930, Lalu Arberry pada tahun 1955, setelah itu Mercier pada tahun 1956, dan Dawood pada tahun 1974.

Orang Muslim yang pertama menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Inggris yaitu Adul Hakim Khan pada tahun 1905. Diikuti oleh Mirza Hairat pada tahun 1919. Sekte Ahmadiya menerjemahkannya tahun 1915. Kemudian diikuti oleh terjemahan Yusuf Ali tahun 1934 dan selanjutnya Rashad Khalifa tahun 1981.

Karena sangat banyak umat Muslim berbahasa Inggris di Barat yang mengacu pada terjemahan Yusuf Ali, maka kami mengikuti sistem penomeran ayat-ayat Alquran seperti yang dilakukannya. Peniruan ini mungkin akan sedikit membingungkan, karena aslinya ayat-ayat Alquran tidak dinomeri. Penomeran ayat-ayat semacam itu merupakan ide dari Barat.

Para penerjemah berbeda satu dengan yang lain dalam hal penomeran ayat. Mungkin saja terjadi bahwa Yusuf Ali memberi nomer ayat 5, sedangkan Pickthal memberinya nomer ayat 4. Bahkan Arberry tidak memberi nomer pada masing-masing ayat, dia malahan memberi nomer pada pasal-pasalnya.

Jika anda memeriksa ayat referensi yang telah kami berikan dalam buku ini dan anda tidak menggunakan terjemahan Yusuf Ali, anda dipersilahkan untuk memeriksa satu ayat sebelum atau sesudahnya dari ayat tersebut dan anda akan menemukan ayat yang kami maksudkan.

Kami telah mengungkapkan sebelumnya bahwa para penerjemah Muslim seperti Yusuf Ali tidak ragu-ragu (maksudnya dengan sengaja) menerjemahkan teks Arab secara meleset demi menutup berbagai kesalahan yang terdapat dalam Alquran. Yusuf Ali memang seorang apologet Islam, lalu menjadi menerjemah Alquran. Namun demikian Ali justru telah terjebak dengan caranya menterjemahkan Alquran tersebut yang sebelumnya tidak pernah dibayangkannya. Karena dengan catatan-catatan kaki yang dilakukannya secara kostan yang mana dia mencoba menyelamatkan Alquran dari berbagai kesalahan dan pertentangan yang terdapat di dalamnya, dia justru menyadarkan para pembaca bahwa terdapat banyak sekali kesalahan dan pertentangan dalam teks Alquran tersebut.

Selain itu, argumentasinya yang tidak rasional dan kesengajaannya menterjemahkan secara meleset berbagai teks (misalnya mengenai Trinitas), telah menyebabkan munculnya kecurigaan besar di kalangan para pembaca bahwa Ali sedang mencoba menyembunyikan sesuatu. Para pembaca Alquran hasil terjemahan Ali harus mewaspadai suatu agenda apologetika yang disembunyikannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar