Sabtu, 28 November 2009

Bab 4 Pemujaan Dewa Bulan

Sampai saat ini tidak perlu diherankan bahwa kata “Allah” bukanlah kata yang ditemukan oleh Muhammad atau yang diwahyukan pertama kali dalam Alquran.

Ilmuwan Timur Tengah yang terkenal yaitu H. Gibb menunjukkan alasan kenapa Muhammad tidak pernah menjelaskan dalam Alquran mengenai siapa itu Allah, yaitu semata-mata karena para pendengarnya telah mendengar tentang Allah jauh-jauh sebelum Muhammad dilahirkan.

Doktor Arthur Jeffry, salah seorang dari ilmuwan Islam Barat yang terkenal pada zaman modern ini, yang juga profesor dalam bidang kajian Islam dan Timur Tengah pada Universitas Columbia, menyebutkan:

Nama Allah, sebagaimana yang dinyatakan dalam Alquran, memang sudah dikenal dengan baik di Arab pada zaman pra-Islam. Sesungguhnya, baik nama Allah maupun Allat, (bentuk feminimnya) sering ditemukan di antara nama-nama ilah yang tertulis dalam prasasti di Afrika Utara.

Kata “Allah” berasal dari kata rangkap bahasa Arab yaitu al-ilah. “Al” adalah kata sandang seperti “sang”, dan “ilah” adalah kata Arab yang berarti Tuhan (God dalam bahasa Inggris). Kata tersebut bukan kata asing bahkan bukan juga kata bahasa Syria. Kata tersebut asli bahasa Arab.

Kata Allah juga bukan kata bahasa Ibrani atau Yunani dalam arti “God” sebagaimana yang dimaksud dalam Alkitab. Kata Allah adalah murni/asli kata bahasa Arab yang dulu digunakan untuk menyatakan seorang dewa Arab.

Hastings’ Encyclopedia of Religion and Ethics menyatakan: “Allah” adalah kata nama, yang diterapkan hanya untuk menyatakan Dewanya orang Arab secara khusus.

Menurut Encyclopedia of Religion: “Allah” adalah nama pada zaman pra-Islam yang sama artinya dengan nama “Bel” (dewa bumi) dari Babylonia.



Bagi mereka yang mengalami kesulitan untuk percaya bahwa Allah adalah nama dewa pagan-nya orang-orang Arab pagan pada zaman pra-Islam, kutipan dari sumber-sumber otoritatif berikut ini mungkin dapat membantu:

. “Allah” ditemukan dalam prasasti-prasasti Arab sebelum Islam (Encyclopedia Britannica).

. Orang-orang Arab, sebelum zaman Muhammad, menerima dan menyembah menurut cara-cara tertentu kepada Tuhan Tertinggi yang disebut allah (Encyclopedia of Islam, ed. Houtsma).

. Allah sudah dikenal oleh orang-orang Arab zaman pra-Islam; dia adalah salah satu dewa orang-orang Mekah (Encyclopedia of Islam, ed. Gibb).

. Ilah…muncul dalam puisi zaman pra-Islam…. Karena seringnya digunakan, al-ilah lalu disingkat allah, seringkali diungkapkan dalam puisi-puisi zaman pra-Islam (Encyclopedia of Islam,es. Lewis).

. Nama Allah sudah ada sebelum zaman Muhammad (Encyclopedia of World Mythology and Legend).

. Kata “Allah” ini berasal dari zaman pra-Islam. Allah bukan kata umum yang berarti “Tuhan” (atau dewa), dan orang-orang Muslim harus menggunakan nama/istilah lain atau bentuk lain jika mereka ingin menyatakan tuhan lain yang bukan tuhan mereka (Encyclopedia of Religion and Ethics).

Sebagai tambahan dari kesaksian karya referensi standar tersebut di atas, kami kutipkan pernyataan seorang ilmuwan seperti Henry Preserved Smith dari Universitas Harvard yang mengungkapkan:

Allah telah dikenal nama pribadiNya oleh orang-orang Arab.

Doktor Kenneth Cragg, mantan editor dari jurnal ilmiah yang sangat bergengsi yaitu Muslim World dan juga seorang ilmuwan Islam Barat modern yang sangat terkenal, yang hasil kerjanya umumnya dipublikasikan oleh Universitas Oxford, memberi komentar:

Nama Allah juga dapat dibuktikan dengan jelas terdapat dalam peninggalan arkeologi dan kesusasteraan Arab zaman pra-Islam.

Doktor W. Montgomery Watt, yang adalah seorang profesor bidang kajian Islam dan Arab pada Universitas Edinburgh dan juga merupakan profesor tamu bidang kajian Islam pada College de France, Universitas Georgetown dan Universitas Toronto, telah melakukan suatu karya kerja ekstensif mengenai konsep “allah” pada zaman pra-Islam. Dia menyatakan:

Dalam beberapa tahun belakangan ini saya makin diyakinkan bahwa untuk memahami karier Muhammad secukupnya dan memahami asal usul Islam perlulah disertakan keberadaan Mekah yang menganut bahwa Allah sebagai “tuhan maha tinggi”. Dalam hal tertentu ini merupakan suatu bentuk penyembahan berhala. Namun berbeda dengan penyembahan berhala seperti yang umumnya dimengerti orang sehingga ketidaksamaan ini perlu diperlakukan secara terpisah.

Setelah mengadakan diskusi mengenai arti Allah pada zaman pra-Islam, Caesar Farah dalam bukunya: Islam: Beliefs and Observations menyimpulkan bahwa: Jadi, tidak beralasan sama sekali untuk menerima pandangan yang menyatakan bahwa nama “Allah” itu adalah terusan Kristen dan Yahudi kepada Muslim. Menurut ilmuwan Timur Tengah E.M. Wherry, (yang hasil karyanya berupa terjemahan Alquran yang sampai hari ini masih tetap digunakan), dalam zaman pra-Islam pemujaan terhadap Allah dan pemujaan terhadap baal merupakan upacara keagamaan astral (berhubungan dengan benda-benda langit) dalam arti bahwa mereka melibatkan matahari, bulan, dan bintang-bintang sebagai sesembahan mereka.

[Catatan: nama-nama Komarudin, Syamsudin dan Najamudin sampai hari ini masih dipakai sebagai nama pribadi orang-orang Muslim. Umumnya mereka tidak menyadari arti dari kata-kata tersebut yang berkonotasi dengan keberhalaan:

• Agama Penyembah Bulan disebut Komarudin

Komarun = Bulan; Dinun = Agama

• Agama Penyembah Matahari disebut Syamsudin

Syamsun = Matahari; Dinun = Agama

• Agama Penyembah Bintang disebut Najamudin

Najmun = Bintang; Dinun = Agama]

Agama Astral

Di Arabia dewa matahari dipandang sebagai dewa perempuan dan dewa bulan sebagai dewa laki-laki. Seperti yang telah dinyatakan oleh banyak ilmuwan seperti Alfred Guilluame, dewa bulan dipanggil dengan berbagai nama, salah satunya adalah Allah.

Nama Allah digunakan sebagai nama pribadi dari dewa bulan, disamping nama-nama lain yang dikaitkan kepada dewa bulan tersebut.

Allah, dewa bulan kawin dengan dewa matahari. Mereka berdua mempunyai tiga orang puteri yang disebut “puteri-puteri Allah”. Ketiga puteri tersebut adalah Al-Lata, Al-Uzza, dan Manat.

Puteri-puteri Allah bersama Allah dan dewi matahari dipandang sebagai dewa-dewi tertinggi. Dalam arti bahwa mereka dianggap sebagai dewa sesembahan bangsa Arab yang paling mulia dibanding dewa-dewa lainnya.

Namun, selain kepada Allah, mereka juga menyembah sejumlah besar dewa-dewi yang kedudukannya lebih rendah dan mereka juga menyembah ketiga puteri Allah.

Simbol Bulan Sabit

Simbol penyembahan dewa bulan dalam budaya Arab dan di tempat-tempat lain di seluruh Timur Tengah yaitu bulan sabit.

[Suatu simbol yang justru ditolak oleh Musa dan nabi-nabi Tuhan sebelumnya, baca Kitab Ulangan 4 : 19, Yeremia 8 : 2; 19 : 13; 2 Raja-raja 21 : 3, 5; Zefanya 1 : 15 dan lain-lain.]

Para arkeolog telah menggali banyak patung-patung dan prasasti bertuliskan huruf Mesir kuno di mana bulan sabit ditempatkan di atas kepala dewa untuk melambangkan penyembahan terhadap dewa bulan.

Sementara bulan biasanya disembah sebagai dewi (dewa perempuan) di Timur Dekat pada zaman kuno, orang-orang Arab sebaliknya memandang bulan sebagai dewa (laki-laki).

Para Dewa Suku Quraisy

Suku Quraisy dalam lingkungan mana Muhammad dilahirkan, adalah pengabdi-pengabdi khusus terutama kepada Allah, dewa bulan, dan khususnya ketiga puteri Allah yang dipandang sebagai perantara antara manusia dan Allah.

Penyembahan kepada ketiga dewi yaitu Al-Lata, Al-uzza, dan Manat memegang peranan penting pada penyembahan di Kaabah, Mekah.

Puteri Allah yang pertama dan kedua mempunyai nama yang merupakan kata feminine (bentuk gender wanita) dari kata Allah (yaitu kata Lata dan Uzza).

Nama dari ayahnya Muhammad secara literal adalah Abd-Allah. Nama pamannya adalah Obied-Allah. Nama-nama tersebut menyatakan jati diri bahwa keluarga Muhammad adalah keluarga penyembah berhala yang menyembah Allah, sang dewa bulan.

Sembahyang Menghadap Mekah

Ada satu berhala Allah ditempatkan di Kaabah bersama dengan semua ilah-ilah berhala lain. Penyembah-penyembah berhala sembahyang menghadap Mekah dan Kaabah karena di sanalah dewa-dewa mereka disemayamkan.

Dalam kenaifan lahiriah, maka beralasan buat mereka untuk menghadap muka ke arah di mana dewa mereka berada, dan kemudian baru sembahyang.

Karena Allah dewa bulan mereka berada di Mekah, merekapun sembahyang menghadap Mekah. Penyembahan terhadap dewa bulan berkembang jauh melampaui batas wilayah penyembahan Allah di Arabia. Seluruh daerah di mana bulan sabit menjadi lambangnya terlibat dalam penyembahan kepada bulan.

Hal ini sedikit banyak menjelaskan mengenai keberhasilan Islam di masa-masa awal di antara kelompok-kelompok orang Arab yang secara tradisional memang sudah menyembah dewa bulan.

Penggunaan bulan sabit sebagai lambang Islam yang ditempatkan pada bendera-bendera negara Islam dan di atas kubah-kubah mesjid serta menara-menara azan merupakan ciri-ciri leluhur di masa silam ketika Allah disembah sebagai dewa bulan di Mekah.

Banyak di antara orang-orang Kristen masih menganggap bahwa Allah adalah nama lain dari YAHWEH, Tuhan yang dimaksud dalam Alkitab, padahal anggapan tersebut tentu saja merupakan suatu kesalahan besar. Sebaliknya orang-orang Islam yang berpendidikan sudah lebih tahu bahwa Allah itu memang bukan God atau YAHWEH dari Alkitab.

Seorang Pengemudi Taksi Muslim

Dalam suatu perjalanan ke Washington D.C., saya terlibat pembicaraan dengan seorang pengemudi taksi Muslim dari Iran.

Ketika saya bertanya padanya: “Dari mana Islam mendapatkan lambang bulan sabitnya?” Dia menjawab bahwa lambang tersebut adalah lambang berhala kuno yang digunakan di seluruh Timur Tengah dan dengan mengadopsi lambang ini orang-orang Muslim terbantu dalam usaha mereka mengislamkan orang-orang di seluruh Timur Tengah.

Ketika saya menunjukkan bahwa kata “Allah” sesungguhnya digunakan dalam tata cara penyembahan dewa bulan di Arabia pada zaman pra-Islam, dia setuju bahwa memang demikianlah halnya. Saya kemudian menunjukkan bahwa agama Islam dan Alquran yang disebarkan oleh Muhammad sesungguhnya merupakan pandangan atau gagasan agama, adat istiadat, dan budaya zaman pra-Islam, dia setuju dengan hal tersebut! Dia lebih lanjut mengatakan bahwa dia adalah orang Muslim terpelajar, yang saat ini masih mencoba memahami Islam dari sudut pandang keilmuan. Sebagai akibatnya, dia kehilangan imannya kepada Islam.

Kesimpulan

Dalam kajian perbandingan agama, dapatlah dipahami bahwa setiap agama besar mempunyai keistimewaannya masing-masing dalam mengajarkan konsep-konsep keilahian. Dengan kata lain, semua agama tidak menyembah Tuhan yang sama. Jadi bukan sekedar nama Tuhannya saja yang berbeda, eksistensinya juga berbeda.

Pemikiran yang asal-asalan yang mengabaikan adanya perbedaan-perbedaan penting yang membedakan agama-agama di dunia merupakan suatu pelecehan terhadap keunikan masing-masing agama di dunia.

Agama lain manakah yang menganut konsep Kristen mengenai ke-Esa-an Tuhan yang beroknum tiga? Ketika agama Hindu menolak kepribadian Tuhan, agama lain manakah yang setuju dengan agama Hindu? Jadi jelaslah, semua orang tidak menyembah Tuhan, para dewa, atau para dewi yang sama.

Konsep keilahian yang dicanangkan oleh Alquran berjalan pelan-pelan keluar dari agama pagan dari zaman pra-Islam. Hal tersebut di atas adalah khas Arab sehingga tidak dapat dihisapkan kepada kepercayaan Kristen atau Yahudi. –

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar