Minggu, 03 Januari 2010

Isra-Miraj, Perjalanan Malam Ke Surga

Ada berbagai versi cerita Mi’raj-Muhammad ke Surga.
Ibn Ishaq menyusunnya berasal dari sahabat-sahabatnya, khususnya Aisha, dimana Muhammad melaporkan sebagai berikut:
Ketika Muhammad sedang tidur dia dibangunkan oleh Jibril sampai 3 kali, pada kali yang ketiga Jibril menaikkan Muhammad pada seekor hewan putih setengah bagal setengah keledai dengan sayap-sayap disisinya yang mempercepat gerakan kakinya.


Sang periwayat kemudian mengatakan Nabi dan Jibril berangkat sampai mereka tiba di kuil Yerusalem. Disana ia berjumpa dengan nabi-nabi seperti Ibrahim, Musa dan Yesus. Muhammad berlaku sebagai imam utama mereka dalam memimpin doa. Lalu ia dibawakan dua ember, yang satu berisi anggur dan yang lainnya berisi susu. Sang Nabi mengambil susu itu lalu meminumnya dan menolak anggur.
Setelah menyelesaikan urusan di Yerusalem, Muhammad menaiki tangga yang paling indah yaitu tangga yang dipandangi orang saat kematian menjemputnya.


Tibalah Muhammad dan Jibril disalah satu gerbang surga yang disebut Gerbang Para Penjaga, disitu dia bertemu dengan malaikat Israfil yang membawahi 12.000 malaikat dan masing-masing membawahi lagi 12.000 malaikat, dia bertemu juga dengan Malik, Penjaga Pintu Neraka.

Ketika Muhammad ada di surga paling bawah dia melihat seseorang disana dengan jiwa-jiwa orang yang melewatinya.

Kepada seseorang ia berkata: “Jiwa bagus dari raga yang bagus.” Tentang yang lain ia mengatakan, wah dan cemberut: “Jiwa setan dari raga setan.”
Jibril menerangkan ini Adam, sedang memeriksa jiwa-jiwa keturunannya, jiwa orang beriman meningkatkan kegembiraan sedangkan jiwa orang kafir meningkatkan kejijikan.
“Lalu saya melihat orang-orang dengan bibir seperti onta, yang ditangannya terdapat kepingan-kepingan api seperti batu yang dimasukkan kedalam mulut mereka, kemudian keluar dari bokongnya. Saya diberitahu mereka berdosa karena memakan harta anak yatim piatu. Ada juga Firaun, orang-orang yang disiksa karena mereka lintah darat.

Lalu saya melihat wanita-wanita digantung dari buah dada mereka. Mereka melahirkan anak-anak haram jadah bukan dari suami-suami mereka. (Sahih Bukhari, Vol.1, Book 6, Number 301) mengatakan mayoritas penghuni neraka adalah kaum wanita karena lemah imannya, wanita tidak puasa dan tidak solat selama menstruasi, oleh karenanya nilai dua wanita sama dengan satu laki-laki).


Lalu saya dibawa ke surga kedua disitu ada dua saudara sepupu dari garis ibu yaitu Isa putera Maryam dan Yahya putera Zakaria.
Lalu saya ke surga ketiga disana ada Yusuf putera Yakub.
Lalu ke surga keempat disana ada Idris (Henoch).
Terus ke surga kelima disana saya bertemu dengan seorang lelaki rupawan, rambutnya putih, jenggotnya panjang, dia adalah Harun putera Imran.
Lalu ke surga keenam, disana ada lelaki berwarna kulit gelap dengan hidung berbentuk kait seperti kaum Shami’a, dia adalah Musa putera Imran.
Lalu ke surga ketujuh dan disana ada seseorang duduk di singgasana pada gerbang rumah mewah abadi (immortal).
Setiap hari 70.000 malaikat masuk dan tidak kembali sebelum hari kiamat.


Lalu ia membawa saya ke Surga dan disitu saya melihat gadis dengan bibir merah gelap sehingga membuat saya suka kepadanya, saya bertanya siapa memilikinya dan ia mengatakan: Zayd b. Haritha.
Rasul memberitahu Zayd anak angkatnya berita baik tentang gadis itu. Beberapa tahun kemudian di Medinah Muhammad jatuh cinta kepada isteri Zayd, kemudian Zayd menceraikan Zainab isterinya agar Muhammad dapat mengawini Zainab menantunya.

Di langit ketujuh itu Muhammad bertemu dengan Allah, disana ditetapkan kewajiban solat limapuluh kali perhari bagi pengikut Muhammad.
Saat ia kembali, ia bertemu Musa, teman yang baik, ia bertanya berapa solat yang diwajibkan pada saya dan ketika saya mengatakan limapuluh kali, ia berkata: “Doa adalah sesuatu yang memberatkan dan pengikutmu adalah orang-orang yang lemah jadi kembalilah pada Tuhanmu dan minta pada-Nya untuk mengurangi jumlah solat bagi dirimu dan pengikutmu.”
Saya melakukannya dan Tuhan mewajibkan sepuluh solat. Sekali lagi saya berpapasan dengan Musa dan sekali lagi ia mengatakan hal yang sama, dan begitulah seterusnya sampai hanya ditetapkan lima solat bagi seluruh hari dan malam. Musa kembali memberikan saya nasehat yang sama, saya menjawab saya sudah kembali pada Tuhan saya dan bertanya pada-Nya sampai saya malu dan saya tidak akan melakukannya lagi.”

Sejarawan dan akademisi Muslim dari Mesir, Haykal meng-gambarkan surga-surga yang didatangi Muhammad.
Surga pertama terbuat dari perak murni dan bintang-bintang bergelantungan dari atapnya dengan rantai emas.
Pada setiap bintang ada malaikat yang berjaga-jaga untuk menghindari gendruwo naik kedalam tempat-tempat suci dan menghindari hantu-hantu yang diam-diam mendengarkan rahasia surgawi.
Al Qur’an menyatakan bahwa jin-jin berdiri diatas sesama bahu mereka untuk mendengarkan diskusi “Majelis Mulia” sampai mereka ditembak jatuh oleh bintang-bintang yang ditembakkan pada mereka (meteor). (Qur’an 72:8, 37:6-10, 63:5).

Muhammad menggambarkan Jibril sebagai memiliki 600 sayap. Dan Buraq kuda yang ditumpanginya pada malam ia terbang ke Yerusalem dan ke surga memiliki kepala manusia dan sayap burung rajawali.
Disana Muhammad menyalami Adam, dan dalam keenam surga lainnya ia berjumpa dengan Nuh, Harun, Musa, Ibrahim, Daud, Suleman, Idris (Henoch), Yahya dan Isa. Ia melihat malaikat kematian Azrail yang tubuhnya begitu besar dan kedua matanya berjarak 70.000 hari perjalanan berbaris. Ia memiliki 100.000 batalyon dan melewatkan waktunya dengan menulis dalam sebuah buku raksasa nama-nama mereka yang mati atau dilahirkan. Ia melihat malaikat air mata yang menangis bagi dosa-dosa dunia. Malaikat pembalas dengan wajah yang besar yang tertutup oleh bisul-bisul yang menguasai api dan duduk dalam singgasana berapi. Dan satu lagi malaikat raksasa yang tubuhnya terdiri dari setengah salju dan setengah api, yang dikelilingi oleh koor surga yang terus menerus menangis: “Ya Tuhan, Kau menyatukan api dan salju, menyatukan semua abdi-abdiMu untuk tunduk pada hukum-hukumMu.”

Dalam surga ketujuh dimana berdiam jiwa-jiwa orang-orang yang baik ada malaikat yang lebih besar dari seluruh dunia, dengan 70.000 kepala, setiap kepala memiliki 70.000 mulut, dan setiap mulut memiliki 70.000 lidah dan setiap lidah berbicara dalam 70.000 bahasa dan tidak habis-habisnya menyanyikan pujian kepada Sang Maha Kuasa. [Muhammad Husayn Haykal (1888-1956), The Life of Muhammad, translated by Ismail Razi A al-Faruqi, ISBN: 0892591374, Chapter 8: From the Violation of the Boycott to al Isra’].
Jadi padanya ada 70.000 kepala dengan kemampuan berbicara dalam 70.000 x 70.000 x 70.000 x 70.000 bahasa. Hitunglah sendiri!

Pada saat Muhammad melakukan penerbangan dengan al-Buraq mengunjungi kuil/bait di Yerusalem (kuil/bait Suleman dibangun sekitar abad 10 SM), kuil/bait yang dimaksudkan Islam itu belum ada karena pada tahun 70 tentara Romawi dipimpin jendral Titus telah menghancurkannya sehingga tak satupun batu berdiri atas batu yang lain.
The Dome of the Rock (Mesjid Umar) baru dibangun diatas pondasi kuil Yupiter Romawi pada tahun 691 M. Sedangkan mesjid Al Aqsa menurut sarjana-sarjana Muslim seperti Mujir al-Din, al-Suyuti dan al-Muqaddasi dibangun oleh kalifah Abd al Malik pada tahun 690 disebelah selatan the Temple of Mount diatas sebuah gereja Our Lady dengan menghancurkan gereja itu terlebih dahulu. Guy le Stronge menyatakan bahwa Abd al Malik meggunakan material gereja yang dihancurkan untuk membangun Al Aqsa, dengan bukti-bukti bahwa dibagian tenggara mesjid masih terdapat sisa bangunan Church of Our Lady. Anak Abd al Malik yaitu Walid I menyelesaikan bangunan Al Aqsa pada ± tahun 710. Jadi Mesjid yang sengaja dinamai Al Aqsa itu dibangun diatas sebuah basilica Romawi di sebelah selatan the Temple of Mount oleh bangsa Umayyad dan baru exist pada tahun 710 M.

Sedangkan Muhammad wafat pada tahun 632 M. Jadi kisah perjalanan malam ke bait Yerusalem itu adalah sepenuhnya fiktif. Tak ada bangunan apapun yang akan dijumpai Muhammad untuk bersholat disana. Baru 78 tahun kemudian mesjid Islam dibangun disitu dan diberi nama “Al Aqsa” (Mesjid terjauh) untuk dicocokkan dengan kata-kata Muhammad. Itu yang begitu sering terjadi dengan periwayatan fiktif hadits Nabi yang muncul 200 tahun kemudian (setelah kematian Muhammad) untuk dicocok-cocokkan dengan fakta sebelumnya. Kisah fiktif after the facts!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar