Minggu, 03 Januari 2010

Al Qur’an

Al Qur’an adalah kitab yang paling unik, dalam arti kata tidak ada contoh serupa yang ada di dunia. Lihat saja susunannya, bab per bab (yang disebut Surat) yang sangat acak, non-kronologi bahkan sepertinya anti-kronologi, sulit ditemukan tema intinya. Sedangkan isinya (yang disebut Ayat) banyak melompat-lompat, berulang dengan ayat surat lainnya, dan sulit dicernakkan, karena begitu banyak disharmoni dan inkonsistensinya. Tetapi Kitab ini dianggap oleh Muslim sebagai buku suci yang paling sempurna di dunia. Dipercaya setiap kata dan hurufnya adalah total wahyu suci yang tidak mengandung kelemahan atau kesalahan terkecilpun. Sebab ia bukan ditulis oleh manusia, tetapi perwahyuan oleh Allah yang Maha Tahu dan Maha Kuasa, sejak semula tanpa awalnya. Walau Maha Sempurna, namun diakui bahwa sebagian dari ayat-ayatnya sempat dibatalkan dan diganti baru (nasakh dan mansukh) oleh yang punya wahyu itu sendiri. Dengan perkataan lain, wahyu Allah yang lebih baik perlu menggantikan wahyu yang kurang baik, supaya tuntas sempurna.

Kitab ini seluruh isinya di-klaim (tanpa bukti independen) disampaikan oleh tiga sosok oknum yang berlainan zatnya, yaitu manusia Muhammad yang mengatas namakan malaikat yang mengatas namakan Allah, dan ditulis oleh sahabat Nabi semuanya secara cicilan selama 23 tahun. Karena ini merupakan hasil rangkuman dari 3 atau 4 mulut, maka ia berakhir dengan tidak jelas siapa sejatinya yang berkata. Muhammad, Malaikat atau Allah-kah yang berkata.

Untuk menghindari kebingungan itu, Montgomery Watt menahan diri dengan cara membakukan istilah: Al Qur’an berkata! Keunikan dan keanehan semua itu tidak mengapa, orang boleh percaya atau tidak percaya.

Tetapi yang paling merisaukan dari keunikan Al Qur’an adalah kenyataan bahwa ia adalah satu-satunya Kitab Suci didunia yang isinya men-salah-salahkan Kitab Suci orang lain, Nabi dan Tuhan orang lain, serta men-salah-salahkan agama dan kekafiran komunitas lainnya, semuanya tanpa sedikitpun menyertakan bukti penunjang! Bahkan sampai memerintahkan memerangi, melaknati dan membunuhi orang-orang lain tersebut. Perlukah kebenaran intrinsik Al Qur’an – dan bukan pembenarannya – dibuktikan dengan men-salah-salahkan Kitab Suci agama lain dan memerangi penganutnya?

Kaum Muslimin yang mula-mula terpencar-pencar di pelbagai daerah. Mereka memiliki naskah ayat-ayat Al Qur’an yang susunan surat-suratnya berlainan, bahkan susunan ayat-ayat-nyapun masing-masing tidak sama. Terdapat pula perbedaan-perbedaan ejaan dan isi diantara mereka. Hal ini merupakan akibat dari cara Jibril menurunkan 6 ribuan ayat-ayatNya secara cicilan selama 23 tahun kenabian Muhammad. Wahyu-wahyu tersebut dicatat sekenanya pada kepingan apa saja seperti batu, kayu, tulang, kulit, pelepah daun kurma, tanah liat atau hanya diingat-ingat saja oleh orang perorang yang kebetulan menyaksikan Muhammad mengucapkannya. Tempat dan waktu turunnya ayat juga tidak menentu, di rumah, di luar rumah, siang hari atau malam hari, di ranjang, dibawah selimut, di medan perang, di dunia bahkan di surga (mikraj).

Pengumpulan ayat-ayat Al Qur’an secara ofisial dilakukan pertama kalinya atas perintah Abu Bakr. Namun para sahabat Nabi yang lain juga ada mengumpulkan Al Qur’an versi mereka sendiri-sendiri. Diantaranya yang dianggap berotoritas adalah Kodex dari Ubay ibn Ka’b, Abdullah ibn Mas’ud dan Ali ibn Abi Talib. Dalam perjalanan waktu Mushaf/ Kodex ofisial Abu Bakr diperselisihkan dengan Kodex-kodex lainnya dalam cara bacaan susunan maupun isinya.

Adanya perbedaan-perbedaan ini menimbulkan peselisihan dan perpecahan diantara kaum Muslimin karena masing-masing menganggap naskah miliknya yang paling benar.
Keadaan ini segera dilaporkan oleh Huzaifah bin Yaman kepada kalifah Uthman bin Affan di Medinah. Setelah menerima laporan itu kalifah Uthman segera meminta kepada Hafsah binti Umar lembaran-lembaran mushaf Al Qur’an yang ditulis pada masa kalifah Abu Bakar (yang diteruskan kepada Umar dan kemudian disimpan dirumah Hafsah), dengan janji akan dikembalikan setelah penyalinan.

Uthman bin Affan membentuk suatu Panitia yang terdiri dari Zaid bin Tsabit sebagai ketua, dan anggota lainnya adalah Abdullah bin Zubair, Zaid bin Ash dan Abdur Rahman bin Harits bin Hisyam. Tugas panitia ini adalah menyusun dan menyalin ayat-ayat dari mushaf ofisial Abu Bakar menjadi buku Al Qur’an yang final.

Dalam pelaksanaan tugas panitia ini kalifah Uthman bin Affan juga menasehatkan agar mengambil pedoman dari mereka yang hafal ayat-ayat Al Qur’an (Qurra) dan dialek bacaan yang berlaku pada waktu itu, yaitu dialek kaum Quraishi.
Maka dikerjakanlah oleh panitia dan setelah selesai tugas itu, mushaf rujukan (Abu Bakar) dikembalikan kepada Hafsah binti Umar. Al Qur’an yang telah dibukukan dinamai “Al Mushaf” dan oleh panitia dituliskan sebanyak lima buah Al Mushaf. Empat buah diantaranya dikirim ke Mekah, Syria, Basrah, Kufah dan satu buah Mushaf ditinggalkan di Medinah untuk Uthman bin Affan, dan itulah yang dinamakan “Mushaf Al Imam”.

Namun bersamaan dengan itu Uthman mengeluarkan satu dekrit yang mengejutkan, yaitu agar semua naskah Al Qur’an dalam bentuk apa saja, baik yang lembaran maupun bagian-bagiannya harus dimusnahkan semuanya! Maka musnahlah semua ayat-ayat dan surat-surat asli yang dikumpulkan dari lisan Muhammad, kecuali mushaf Uthmani saja! Tidak ada seorangpun yang bisa membuktikan bahwa apa yang disalin/ disusun oleh Utsman adalah persis sama dengan apa yang asli dirujukkannya (mushaf Abu Bakar), apalagi sama dengan apa yang asli Muhammad turunkan! Ingat! Mushaf-mushaf primer dan kumpulan ayat-ayat yang diharuskan untuk dibakar itu tidak satupun yang dinyatakan salah oleh siapapun!

Dari Mushaf yang ditulis pada masa Uthman bin Affan inilah kaum Muslim dari seluruh pelosok menyalin Al Qur’an ini, setelah 20 tahun wafatnya Muhammad saw. Kitab Al Qur’an ini menjadi pedoman tunggal bagi kaum Muslim agar tidak timbul pertentangan-pertentangan dalam susunan ayat-ayatnya dan ejaannya, karena Al Qur’an selainnya telah dimusnahkan.
Namun pada tahun 1337 Hijrah, perangkuman Al Qur’an itu harus disempurnakan lagi, kemudian dicetak oleh percetakan Amiriayah milik pemerintah Mesir dibawah pengawasan para guru besar Al-Azhar.

Al Qur’an terdiri dari 114 surat dan dibagi 30 juz yang terdiri atas 1456 ayat yang diturunkan di Medinah dan 4780 ayat yang diturunkan di Mekah (total 6.236 ayat). Walau susunan ayat-ayat Al Qur’an sepertinya tidak mengalami perubahan lagi, ia belum tuntas dirumuskan dan diakui semua Muslim.
Sekte Muslim Shiah misalnya menyatakan bahwa Uthman menghilangkan 25% dari ayat-ayat asli Al Qur’an karena alasan politik. (Mc Clinton and Strong, Cyclopedia, V:152).
Dalam Kitab al-Kafi dari Shiah dikatakan: “Al-Qur’an yang dibawa oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad s.a.w. ada 17.000 ayat” (Ushulul Kaafi, 2/134). Dengan perkataan lain, Utsman dkk didakwa telah menghilangkan lebih dari 10.000 ayat-ayat Allah, atau 2/3 Quran yang asli!

Namun naskah-naskah diluar Al-Mushaf sudah termusnahkan sehingga kini Islam tidak memiliki “Juri keaslian/ kebenaran Quran” karena absentnya mushaf-mushaf yang paling primer yang merupakan sumber atau rujukan Al-Mushaf itu sendiri. (Hadits Shahih Bukhari VI /479). Al Qur’an yang dipergunakan oleh Muslim Sunni (seperti yang kita punyai sekarang ini) juga digugat oleh Shiah yang mempertanyakan 219 ayat di seluruh Al Qur’an yang dianggap palsu. (Mengapa Kita Menolak Syi’ah, p. 98 ff). Siapa sanggup berkata dengan sepenuh keyakinan bahwa Allah adalah Penjaga Agung terhadap penjahilan Quran? (Surat 15:9).

Isue Besar Al Qur’an: Nasakh dan Mansukh
Quran bertubi-tubi memuliakan kekekalan Firman Allah yang tertulis di Lauhul Mahfudz, “Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat Allah” dan lain-lain sejenisnya dalam Surat-surat 10:64; 6:34; 33:62; 35:43. Tetapi dilain pihak Allah SWT juga berulang-ulang menurunkan ayat-ayat baru “nasakh” untuk menggantikan ayat-ayat lama “mansukh”. Dengan turunnya ayat-ayat baru pengganti ini maka ayat-ayat lama yang digantikan langsung menjadi tidak berlaku lagi, alias FirmaNya tidaklah kekal. Muhammad tidak ambil pusing akan kontradiksi ini dan membiarkan ayat-ayat pengganti maupun yang digantikan (nasakh dan mansukh), sama-sama masih tercantum sebagiannya dalam Al Qur’an. Ini jelas membuat Muslim berwajah ganda. Karena ketika melaksanakan teror atau pembunuhan, orang-orang Muslim radikal bisa memakai ayat baru (nasakh) yang memang memerintahkan pembunuhan, sedangkan untuk membela diri dari tudingan publik mereka buru-buru mempergunakan ayat-ayat lama (mansukh) yang mengutuknya. Seluruh ayat yang di-nasakh-kan dalam Qur’an masih simpang siur. Ada yang mengatakan seluruhnya sekitar 500 ayat yang diganti yang belum dihilangkan dari Qur’an. Ada yang berpendapat dengan merincikan 246 ayat. Namun bagaimanapun Muslim tak bisa lain kecuali harus mau menerima kenyataan bahwa ayat-ayat yang dibatalkan itu (mansukhakh) adalah kata-kata asli dari Allah sendiri!!

Masalah nasakh ini juga menjadi pertanyaan bagi Muhammad A.Khan, seorang ex-Muslim Pakistan yang kritis:
Mengapa Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Tahu perlu me-mubazirkan dan mengganti ayat-ayatNya sendiri? Mengapa Dia lupa (sehingga tidak sempurna atas) ayat-ayat sebelumnya?
Muslim menjawab pertanyaan ini, dengan mengatakan:
Karena keadaan telah berubah sepanjang masa per-wahyuan. Sehingga perlu beberapa ayat dibatalkan (nasakh) dan diganti dengan yang baru.
Khan bertanya kembali:
Mengapa perubahan keadaan hanya untuk 23 tahun, sepanjang masa hidup Muhammad sejak menyatakan diri sebagai Rasul?
Ingat keadaan selalu berubah, tidakkah Muslim sadar bahwa keadaan juga berubah setelah 632 M sampai 2009, dan akan berlanjut terus sampai masa yang akan datang. Lalu siapa yang akan membatalkan ayat-ayat yang tidak cocok lagi dengan keadaan saat itu?
(Muhammad A.Khan: The Journey of a Pakistani from a Muslim to an Ex-Muslim, June 11, 2009).

Al Qur’an tertua ditemukan di Yaman.
Pada tahun 1972 dilakukan restorasi mesjid agung Sana’a, salah satu mesjid tertua yang dibangun pada tahun 6 Hijriah di Yaman. Mesjid ini kemudian diperluas dan diperbesar oleh para pemimpin Islam dari masa ke masa. Restorasi dilakukan karena dinding bagian barat mesjid ini rubuh, disebabkan oleh hujan deras.

Para tukang ketika bekerja dalam sebuah ruangan mahkota diantara struktur bagian dalam dan atap bagian luar, telah menemukan perkamen-perkamen tua, dokumen-dokumen, buku-buku yang jumlahnya sangat banyak.

Sejumlah fragmen-fragmen perkamen Quranik dalam kondisi ketika ditemukan.

Tumpukan naskah itu tetap tidak akan diketahui, jika saja Dr Gerard Puin tidak datang ke tempat itu 7 tahun kemudian. Dr Puin dari Saarland University adalah ilmuwan Jerman yang ahli Al Qur’an. Dari penyelidikan beliau, terkuaklah rahasia kuburan kertas itu, yang telah tersimpan lebih dari 1000 tahun. Uji Carbon 14 menunjukkan bahwa perkamen-perkamen itu berasal dari tahun 645-690 M, tetapi tahun pembuatan yang sebenarnya bisa lebih dini lagi.
Tanggal penulisan kaligrafi menunjukkan tahun 710-715 M, oleh karena itu bisa disebut sebagai Al Qur’an tertua yang ada pada saat ini. Gaya tulisan tangan yang indah dan bahasa yang digunakan adalah Arabik Hijazi, merupakan tulisan Mekah atau Medinah dan Al Qur’an yang mula-mula ditulis dengan huruf ini.
Ketika Puin dan temannya Bothmer membandingkan naskah Al Qur’an ini dengan naskah Al Qur’an standard (baku) yang ada saat ini, mereka berdua terheran-heran karena teks-teks kuno yang ditemukan ini sangat berbeda dengan naskah yang ada sekarang ini.

Banyak naskah memperlihatkan tanda-tanda dimana tulisan-tulisan asli telah ditindih dengan tulisan baru, tetapi peralatan modern seperti fotografi ultraviolet, dapat memperlihatkan dengan jelas tulisan-tulisan itu.

Naskah-naskah Sana’a bukanlah satu-satunya varian tetapi sebelum itu teks Quranik telah dimodifikasikan dan ditulis ulang pada kertas yang sama. Maka Puin dan rekannya Bothmer menyimpulkan bahwa Al Qur’an itu sendiri merupakan teks yang terus berkembang dan hal ini bertentangan dengan keyakinan umat Muslim dan klaim Allah dalam Surat 56:77-78; 85:21-22, bahwa teks asli Al Qur’an telah disimpan di surga pada lembaran-lembaran emas yang tidak bisa disentuh siapapun kecuali para malaikat. Padahal teks-teks Al Qur’an selama ini dianggap telah diwahyukan, diimlakan kepada Muhammad secara menyeluruh persis seperti di surga, bebas dari kesalahan dan campur tangan manusia. Oleh karenanya Al Qur’an adalah ibu dari segala kitab dan hingga saat ini Al Qur’an berada diluar perdebatan.
Puin juga tidak setuju dengan pandangan bahwa Al Qur’an ditulis dalam bahasa Arab yang paling murni, sebab kata Al Qur’an itu sendiri aslinya berasal dari bahasa Aramaik Qariyun artinya sebuah leksionari bagian-bagian kitab suci yang ditetapkan untuk dibaca dalam ibadah. Ini kontras sekali dengan keyakinan populer umat Muslim bahwa Qur’an berarti pembacaan atau pengajian.
Bothmer sendiri telah mengambil lebih dari tigapuluh lima ribu gambar-gambar microfilm dari fragmen-fragmen itu pada tahun 1997 dan membawa gambar-gambar itu ke Jerman.
Kita telah paparkan bahwa Al Quran hasil penyusunan Uthman tahun 650 telah disalin sebanyak 5 buah, tetapi tidak ada arsip aslinya pada saat ini. Yang ada yang dianggap tertua hanyalah Qur’an Kairo yang dibuat pada sekitar tahun 770 (150 H) dan sekarang ada di British Museum. Dengan demikian, Qur’an Sana’a sekitar dua generasi lebih tua umurnya dari Qur’an Kairo yang exist.

Pertentangan dalam Al Qur’an

“Apakah mereka tidak mendalami Al Qur’an, kalau sekiranya (Al Qur’an) itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka dapati banyak pertentangan didalamnya.” (Qs 4:82).
Merujuk hanya kepada konsep “nasakh-mansukh” yang ayat-ayatnya saling menentang, ayat diatas jelas adalah sebuah klaim yang tidak-tahu-diri.

Siapa yang berkata, Rasul atau Allah?
Al Quran berkata dalam dua cara: (1) langsung kata-kata pendiktean Allah, dan (2) kata-kata Muhammad yang Allah diktekan untuk dikatakan Muhammad kepada manusia, dan ini selalu ditandai dengan “Qul” (Katakan…). Kini simak surat Al Fatihah ayat 1, 2, 3, 4, yang berbicara adalah Allah sendiri. Tetapi dalam ayat 5, 6, 7 kata-kata berganti menjadi ucapan manusia kepada Allah. Al Qur’an dipercaya diimlakan kebawah secara maha sempurna maka tidak mungkin bisa memikul inconsistency (berubah-ubah) dan tidak mungkin bertentangan ayat yang satu terhadap ayat yang lainnya.

Salah satu penterjemah Al Qur’an menterjemahkan Al Qur’an Surat 69:40 dan 81:19 sebagai “Wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul yang mulia” dan “firman Allah yang dibawa Jibril”
Namun penterjemah yang lain menterjemahkan apa adanya: “Imahun qaulu rasuulin kariim – sesungguhnya Al Qur’an benar-benar perkataan Rasul yang mulia.” (Qs 69:40).
Ini membenarkan apa yang disinyalir oleh Montgomery Watt, bahwa untuk menghindari kerancuan tentang siapa yang berkata dalam Al Qur’an, apakah itu Allah, Jibril, atau Muhammad, maka ia membakukan: “Qur’an berkata”.

Penciptaan dalam 8 atau 6 hari.
Menurut surat 41:9, 10, 12 Tuhan melakukan karya penciptaan dalam 4 hari + 2 hari + 2hari = 8 hari.Tetapi surat 7:51 dan 10:3 mengakui bahwa karya penciptaan Tuhan dilakukan dalam 6 hari.

Nabi Nuh, selamat sekeluarga atau tidak.

Surat 11:42-43 menyatakan bahwa salah satu putra Nuh menolak masuk bahtera sehingga akhirnya tenggelam dalam air bah. Tetapi surat 21:76 menyatakan Nuh beserta seluruh keluarga selamat. Lebih buruk lagi Surat 66:10 justru mengatakan bahwa ISTRI Nuh-lah yang kafir, berkhianat kepada suami, dandimasukkan keneraka!, .

Zina, boleh atau tidak.
Zina yang dihukum/dikutuk.
Perempuan-perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina deralah masing-masing seratus kali.(24 An Nuur 2)

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu sangat keji dan sejahat-jahat jalan terkutuk.(17 Al Israa 32)

Zina yang dibolehkan.

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak bercela.
(23 Al Mukminuum 5,6)

Kamu boleh menggauli siapa saja yang kamu kehendaki, juga boleh menggauli kembali perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu …(33 Al Ahzab 51).

50.000 atau 1000 tahun.
Para malaikat dan roh-roh naik menghadap kepadaNya dalam sehari kadarnya 50.000 tahun.
(70 Al Ma’aarij 4).
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian naik lagi kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya 1000 tahun menurut hitungan kamu.
(32 As Sajdah 5).

Bunuh diri: boleh atau tidak.
Bunuhlah dirimu! Hal itu lebih baik bagimu disisi Tuhan yang menjadikan kamu, maka Tuhan akan menerima taubatmu.
(2 Al Baqarah 54).
Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah maha penyayang kepadamu.
(An Nisaa 29).

Agama Islam: bebas masuk atau dipaksa untuk masuk.

Tidak ada paksaan dalam agama Islam.(2 Al Baqarah 256).

Maka hendaklah berperang dijalan Allah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat …(4 An Nisaa 74).

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.(Qs 9:29).

…. maka tawanlah dan bunuhlah mereka dimana saja kamu dapati mereka.(4 An Nisaa 91)

Isa al-Masih: tidak mati atau mati.

Isa tidak dibunuh tetapi diangkat ….(Qs 4:157-158)

Isa lahir, mati dan bangkit hidup kembali. (Qs 19:33)

Kafir atau diatas kafir.

Orang Nasrani adalah kafir karena kafir berkata “Allah mempunyai anak… (Qs 2:116)

Orang Nasrani diatas orang kafir sampai akhir zaman … (Qs 3:55).

Minum khamar itu dosa atau tanda dari Allah.
Minum khamar adalah dosa besar …… (Qs 2:219).
… dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan ….
Pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan (berakal). (Qs 16:66-69).
Di sorga diberi minum khamar murni ….. (Qs 83:25).

Bukan kata setan atau kata-kata setan.
Al Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.
(Qs 81:25).
Jin-jin berkata (didalam Qur’an surah Al-Jin) …….
(Qs 72:1-4).

Untuk orang Mekah atau bukan.
Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an berbahasa Arab untuk penduduk Mekah dan sekitarnya…. (Qs 42:7).

Kerancuan Al Qur’an

Al Qur’an membenarkan Alkitab, Taurat, Zabur dan Injil. Berpuluh-puluh ayat Qur’an mengkonfirmasikan hal ini dan menyuruh Muslim mengimaninya. Bahkan Muhammad diperintahkan untuk berkonsultasi kepada para ahli Alkitab apabila terjadi keraguan (kerancuan) atas apa yang Allah turunkan kepadanya (Qs 10:94).
Inilah antara lain kerancuan-kerancuannya:

Abraham/Ibrahim.
Al Qur’an menyatakan nama ayah Abraham adalah Azar (Surat 6:74), tetapi sejarah sejak ribuan tahun sebelumnya selalu mencatat namanya Terah.
Dia tidak pernah tinggal di Mekah (Surat 14:37) tetapi di Hebron. Mekah dan rute jalannya tak pernah dikenal dalam sejarah purba yang sebenarnya, melainkan baru muncul sekitar dua abad sebelum Muhammad.
Dia tidak membangun Ka’bah tetapi Al Qur’an mengklaim demikian tanpa bukti sejarah dan arkeologi. Jika Ka’bah pernah menjadi Bait bagi Abraham, orang-orang Yahudi pasti akan berziarah pula kesana. Israel telah mahir mencatat sejarah secara tertulis ribuan tahun sebelum Arab/ Islam mampu mencatatnya.
Israel mencatat Anak Abraham ada 8, tetapi Muhammad hanya mencatat 2. Abraham mempunyai 3 isteri tetapi menurut Muhammad ada 2 isteri.
Dia tidak dilemparkan kedalam api oleh Nimrod sebagaimana dinyatakan Al Qur’an dalam surat 21:68, 69, 9:69. Nimrod hidup beberapa abad sebelum Abraham, jadi bagaimana ia dapat melempari Abraham.

Yusuf.
Al Qur’an menyatakan bahwa orang yang membeli Yusuf anak Yakub adalah Azis (Surat 12:21) padahal namanya Potifar.

Haman.
Haman adalah menteri dari raja Ahasyweros dari Parsi.
Al Qur’an menyatakan Haman adalah menteri Firaun dari Mesir (Surat 40:35, 37) yang membangun menara Babel (Surat 27:4-6, 28:38, 29:39, 40:23, 24, 36, 37), padahal Babel ada di Irak.
(Baca Encyclopedia Britanica).

Musa.
Orang yang mengadopsi Musa adalah isteri Firaun seperti dinyatakan Muhammad dalam surat 28:8, 9. Tetapi sebenarnya adalah puteri Firaun (Kel 2:5). Ini ditulis oleh Musa sendiri tentang dirinya dalam Taurat. Shahih mana ketimbang ditulis oleh orang Arab yang ummi 2.000 tahun kemudian?

Nuh.
Air bah Nuh berlangsung pada zaman Musa dan terjadi di wilayah Firaun (Surat 7:136-138). Absurd. Bagaimana mungkin?

Maria.
Menurut Al Qur’an ayah Maria bernama Imran (Surat 66:12) yang melahirkan Yesus dibawah pohon palem (Surat 19:22-25).
Al Qur’an telah keliru dengan Maria yang dianggap sebagai Miryam yang adalah saudara perempuan Musa dan Harun (Surat 19:28). Padahal zaman hidup Miryam dan Maria berselisih waktu lebih dari 1.500 tahun.

Zakaria.
Menurut Qur’an bisunya Zakaria selama 3 malam, sedangkan menurut Alkitab 9 bulan.
Zakaria memelihara Maryam di mihrab bait suci menurut Al Qur’an, padahal tak seorangpun boleh tinggal di ruang Maha Kudus, hanya imam agung yang diperbolehkan masuk sekali setahun pada hari penebusan dosa.

Abrahah.
Menurut surat 105, Muhammad menyatakan bahwa pasukan gajah dari Abrahah dikalahkan oleh serangan batu yang dijatuh-kan burung-burung dari udara.
Menurut sejarah pasukan Abrahah membatalkan serangannya ke Mekah setelah berjangkitnya penyakit cacar air di kalangan pasukan tersebut. (Guillaume, Islam, pp 21 ff).

Ka’bah.
Ka’bah diklaim dibangun oleh Adam dan dibangun kembali oleh Ibrahim. Tetapi tak pernah ditemukan jejak arkeologi yang menyatakan Ibrahim pernah tinggal di Mekah. Jalan menuju ke Mekah baru ada muncul pada abad ke-4 M. Ini adalah skenario Islam untuk memindahkan setting Israel ke Arabia.

Samaria.
Orang-orang Yahudi pada zaman Musa membuat anak lembu emas di padang pasir atas saran orang-orang Samaria/Samiri. (Surat 20:87 ff).
Padahal keberadaan Samaria baru muncul ratusan tahun kemu-dian setelah orang-orang Assyria menaklukkan dan menawan bangsa Israel.

Alexander yang Agung.
Al Qur’an menyatakan Alexander Agung yang disebut Zulkarnain adalah seorang Muslim yang hidup sampai hari tuanya. (Surat 18:83-98).
Sejarah mencatat Alexander yang Agung hidup sebelum Masehi, seorang pagan penyembah berhala, bukan Muslim, dan tidak hidup sampai hari tuanya, melainkan 33 tahun saja.

Siapa yang menurunkan Al Qur’an kepada Muhammad?
a. Mula-mula dikesankan sebagai sosok Allah yang datang kepada Muhammad dalam rupa manusia (Surat 53:2-18, 81:19-24, terjemahan dengan kata Jibril tak ada dalam teks aslinya).
b. Kemudian diberitakan bahwa Rohulkudus yang datang kepada Muhammad (Surat 16:102; 26:192-194). Lagi-lagi Muhammad tidak menerangkan secara jelas siapa atau apa sosok yang satu ini.
c. Yang terakhir dikatakan malaikat Jibril yang menyerahkan Al Qur’an kepada Muhammad. (Surat 2:97). Nama “Jibril” ini hanya muncul 3 kali diseluruh Qur’an, selebihnya hanyalah tafsiran penterjemahnya, tak ada di bahasa asli Qur’an.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar