Sabtu, 17 Oktober 2009

Pasal 22 - Merespon Dengan Penjangkauan

Sementara kuasa dan pentingnya doa adalah sesuatu yang tidak terbantahkan, masih ada dimensi lain terhadap respon kita yang juga sangat penting. Kita harus menjangkau orang-orang Muslim dengan pesan Kristen yang sempurna mengenai Kabar Baik (Injil). Ini adalah sebuah pesan pembebasan bagi mereka yang telah dibelenggu oleh Injil Islam yang palsu, yang justru melahirkan ketakutan. Ini adalah sebuah berita mengenai kasih dan penerimaan bagi mereka yang belum pernah mengetahui bagaimana rasanya diterima dan sepenuhnya dikasihi oleh Tuhan. Ini adalah sebuah berita yang berkata, Tuhan sangat mengasihi anda. Dan inilah cara bagaimana Ia membuktikannya untuk selama-lamanya.... Kita tidak boleh menggunakan berita Injil bagi keuntungan pribadi. Kita juga tidak boleh meremehkan kuasanya. Sesungguhnya, “Ini adalah kekuatan Tuhan untuk menyelamatkan semua yang percaya.” (Roma 1:16)

PENJANGKAUAN
Lalu, bagaimanakah mereka akan berseru kepada Dia yang belum mereka percayai? Dan bagaimana mereka akan percaya kepada Dia yang belum pernah mereka dengar? Dan bagaimana mereka akan mendengar, jika tidak ada yang memberitakan?
Roma 10:14

Tujuan dari pasal ini bukan untuk mendiskusikan metode penjangkauan bagi orang-orang Muslim, melainkan mendiskusikan roh/semangat yang Tuhan inginkan untuk menjangkau orang-orang Muslim, supaya tidak hanya mereka tetapi juga kita bisa ditransformasikan. Namun demikian, saya ingin membuat beberapa komentar mengenai penjangkauan kepada Muslim. Tentu saja ada dua cara utama yang bisa dipakai oleh orang-orang Kristen untuk menjangkau Muslim; di rumah/negeri sendiri atau di luar negeri.

Sementara kebanyakan orang Kristen barangkali berasumsi bahwa sudah cukup banyak misionaris yang bekerja di antara orang-orang Muslim, perhatikanlah statistik ini: Hanya dua persen dari kekuatan misionaris Protestan yang melakukan penjangkauan kepada dunia Muslim, sementara jumlah dunia Muslim itu sendiri separuh dari populasi dunia non-Kristen.1 Hal ini sangat mencengangkan, dan banyak yang bisa dikatakan mengapa hal ini terjadi demikian. Mayoritas dari mereka yang membaca buku ini sesungguhnya tidak pernah mendorong diri mereka dan keluarga mereka untuk keluar dari negaranya dan menjadi misionaris bagi kaum Muslim di luar negeri. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa penjangkauan terhadap orang Muslim sesuatu yang mustahil. Saat ini, dengan sekitar delapan juta Muslim yang tinggal di Amerika, maka Amerika pun telah menjadi bagian dari dunia Islam. Hal yang sama bisa kita katakan dengan negara-negara Barat lainnya. Kebanyakan orang Muslim telah pindah ke Amerika dari negara-negara dimana anda atau saya bisa dipenjarakan bahkan bisa dibunuh karena membagikan berita Injil kepada mereka. Tetapi mereka sekarang sudah ada di Amerika – negeri yang bebas – tetapi sayangnya kebanyakan orang-orang Kristen mengabaikan kehadiran mereka. Bukankah benar apa yang pernah dikatakan oleh Yesus.
Kemudian Dia berkata kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Oleh sebab itu, mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian supaya Dia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian-Nya. Lukas 10:2

Jika anda adalah pengikut Yesus, maka saya mendorong anda untuk merenungkan kata-kata Yesus ketika Ia memerintahkan kita semua untuk “pergi dan menjadikan sekalian bangsa menjadi muridNya, membaptiskan mereka dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus, dan mengajarkan kepada mereka semua yang telah diperintahkan oleh Yesus kepada kita.” Sampai pada tingkatan apa anda secara pribadi mentaati perintah ini?
Barangkali anda berpikir bahwa menjangkau Muslim adalah hal yang mustahil. Barangkali setelah membaca buku ini anda bahkan menjadi lebih takut lagi terhadap Muslim daripada sebelumnya. Mari kita membahas perasaan itu.

SEORANG MUSLIM SAMA SEPERTI SAYA
Setelah membaca buku ini, mungkin anda terkejut menemukan bahwa sebenarnya saya sendiri mengasihi orang-orang Muslim. Dan jika anda adalah seseorang yang telah dirangkul oleh kasih Tuhan di dalam Kristus, maka anda pun seharusnya bersikap seperti saya. Ketakutan terbesar saya dalam menuliskan buku ini adalah bahwa buku ini akan meningkatkan reaksi negatif banyak orang terhadap orang-orang Muslim. Tentu saja reaksi natural setelah membaca banyak informasi negatif bisa jadi orang akan menjauh dari orang-orang Muslim karena takut. Namun ketika menghadapi ketakutan seperti itu, Tuhan tidak mau kita menjadi mundur, tetapi supaya kita, meskipun merasa takut, tetapi dengan teguh hati tetap menyatakan terang kasihNya pada mereka yang hidup dalam kegelapan. Saya akan menyatakannya dengan keras: “Sebab, pertarungan itu bagi kita bukanlah melawan darah dan daging, melainkan melawan penguasa-penguasa, melawan otoritas-otoritas, melawan penghulu dunia kegelapan zaman ini, melawan roh-roh jahat di alam semesta.” (Efesus 6:12) Dengan kata lain, Muslim bukanlah musuh kita! Buku ini bukan mengenai Muslim – tetapi mengenai Islam. Buku ini mengenai kekuatan spiritual dan doktrin yang menipu yang telah membelenggu banyak orang. Kendati saya telah menunjukkan fakta-fakta dalam argumen saya bahwa orang-orang Muslim sebenarnya sedang mengikuti sebuah agama “Anti Kristus”, saya mau membuatnya menjadi jelas bahwa sebagai para pengikut Kristus kita tidak boleh melihat orang-orang Muslim sebagai musuh kita, tetapi sebagai orang-orang yang juga diciptakan dalam gambar dan rupa Tuhan – sama seperti kita.

Sebagai bukti, mungkin ini merupakan sebuah isu yang mengejutkan banyak orang-orang Barat ketika mereka mulai mengenal orang-orang Muslim yang sejati. Bukannya bertemu dengan orang-orang berpikiran pendek, lekas marah, malahan banyak dari mereka menemukan bahwa orang-orang Muslim sama seperti orang-orang kebanyakan. Saya juga telah bertemu dengan banyak orang-orang Muslim yang sangat ramah, sangat hangat, bahkan orang-orang Muslim yang sangat cerdas. Mayoritas orang Muslim sebenarnya adalah orang-orang yang dengan tulus ingin menjalani hidup yang baik dihadapan Tuhan dan melakukan apa yang berkenan bagi Tuhan. Jadi inilah cara bagaimana kita seharusnya memandang kebanyakan orang-orang Muslim: sebagai orang-orang yang mencari Tuhan dengan ketulusan.

MENEMUKAN SAMUDERA DALAM SETIAP TETES AIR
Jalal al Din Rumi adalah salah satu dari mistik terbesar Islam. Ia mempraktekkan sebuah bentuk mistik yang dikenal sebagai sufisme. Rumi sering menyebut Tuhan sebagai “Sang Kekasih” atau “Teman”. Para sufis seperti Rumi juga memberikan penekanan pada Yesus sebagai model kehidupan mereka dibandingkan dengan yang dilakukan oleh orang-orang Muslim lainnya. Seseorang tidak akan bisa membaca tulisan-tulisan Rumi tanpa merasa bahwa ia adalah seseorang yang sangat dekat untuk menjadi seorang Kristen. Sekurangnya ada satu kutipan dari Rumi yang sangat saya hargai. Rumi berkata,”Satu hari nanti saya akan mencari dalam diri orang-orang sinar dari seorang Teman, supaya saya bisa mengenali samudera dalam setetes air.” Rumi mencoba melihat Tuhan dalam seluruh ciptaanNya. Barangkali anda berkata bahwa kita tak akan bisa menemukan kebaikan dan terang dalam sebuah agama Anti Kristus. Tetapi apakah anda mempercayainya atau tidak, anda pasti bisa. Dan di sinilah alasannya: Islam dibuat oleh orang-orang Muslim. Dan Muslim adalah orang-orang yang diciptakan serupa dan segambar dengan diri Tuhan sendiri. Dan banyak dari mereka yang mencari Tuhan dengan tulus hati. Dengan demikian, bahkan dalam Islam tetap masih ada hal-hal yang masih bisa dipelajari oleh orang-orang Kristen. Dan jika inilah akhir dari sebuah jalan buntu, sistem keagamaan yang Anti Kristus, maka berapa banyak lagi pengikutnya yang masih-masing adalah ciptaan Tuhan! Meskipun kecenderungan natural dari hati kita adalah menyingkir karena takut, ingatlah bahwa Tuhan sangat berharap agar kita mendekati orang-orang Muslim dengan sikap yakin dan rendah hati, yaitu dengan melihat mereka bukan sebagai “mahluk lain”, melainkan sebagai ciptaan Tuhan yang lain. Sikap kerendahan hati, keteguhan dan keyakinan adalah apa yang diinginkan Tuhan agar dimiliki oleh umatNya disepanjang waktu, khususnya di hari-hari terakhir. Ia mau agar kita menjadi para pemenang.

PARA PEMENANG
Seorang pemenang adalah orang yang tidak mengijinkan perasaan takut menguasainya, tetapi sebaliknya mengalahkan takut dengan kasih. Seorang pemenang tidak mengijinkan kebencian menguasainya, sebaliknya mengalahkan kebencian dengan rekonsiliasi. Ada seseorang yang memiliki roh yang seperti itu ketika ia berhadapan dengan orang-orang Muslim. Ia melakukannya di tengah-tengah periode paling kelam dalam sejarah Kekristenan. Hubungan antara Islam dan Kekristenan pada saat itu barangkali dapat diperbandingkan dengan atmosfer hari ini. Pada masa Perang Salib Ketiga, Francis dari Asisi memutuskan untuk pergi dan memberitakan Injil kepada orang-orang Muslim. Dalam roh yang seperti inilah Francis berjalan untuk menginjili orang-orang Muslim, dan ini adalah sebuah model dari “menjadi serupa dengan Kristus” yang kuat, yang harus dimiliki oleh orang-orang Kristen ketika mereka bermaksud menjangkau orang-orang Muslim hari ini.

KISAH FRANCIS
Pada tahun 1219 Francis Asisi dan kedua belas saudara laki-lakinya melakukan perjalanan dengan para tentara salib ke garis depan dalam perang antara para tentara salib dengan orang-orang Muslim Saracen yang dipimpin oleh Sultan Al-Kamil dari Mesir. Francis dan teman-temannya mendirikan kamp di antara kamp para tentara salib sementara para tentara itu bersiap-siap untuk mengepung kota pelabuhan Damietta. Francis memberitakan Injil di antara para tentara salib dan banyak dari mereka yang terpengaruh oleh pesan Francis dan kemudian mereka meletakkan senjatanya dan bergabung dengan ordo Fransiskan. Pendekatan Francis adalah untuk tidak pernah melakukan diskriminasi ketika memberitakan Injil. Ia berkotbah kepada “orang-orang Kristen” dari pasukan tentara salib dan melakukan hal yang sama terhadap orang-orang Muslim Saracen. Francis mengikuti Yesus langsung ke dalam kamp Sultan, pemimpin tentara Muslim. Di antara orang-orang Kristen, Sultan al-Kamil dipandang sebagai seorang binatang yang buas. Tetapi ternyata Francis bertemu dengan seorang pria yang ramah, tulus, sangat terbuka dan seorang yang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Francis dan teman dekatnya Illuminato berjalan langsung ke dalam kemah “musuh” itu. Dengan segera Francis ditangkap dan dianiaya oleh tentara-tentara Muslim. Francis meminta supaya ia diperhadapkan dengan Sultan supaya ia bisa memberitakan Injil padanya. Permintaan Francis dipenuhi. Francis memberi salam kepada Sultan dengan salam “Kiranya Tuhan memberikan kepadamu damai.” Ironisnya, salam yang disampaikan oleh Francis sebenarnya merupakan salam standard yang dipakai oleh Muslim: as-salamu alaikum (damai kiranya beserta denganmu).

Christine Mallouhi dalam bukunya yang sangat indah, Waging Peace on Islam, membahas kisah-kisah dan legenda-legenda yang bervariasi diseputar pertemuan antara Francis dan Kaamil. Sementara ada laporan-laporan yang berbeda, ada sesuatu yang kita ketahui pasti mengenai pertemuan ini. Kita tahu bahwa Francis diterima dengan baik oleh Sultan. Kebanyakan tradisi mendukung bahwa Kaamil sangat terkesan dengan Francis sehingga ia mengundangnya untuk tinggal dalam periode yang cukup lama bersama-sama dengan orang-orang Muslim. Laporan juga memperlihatkan bahwa Francis menerima undangan ini. Kita bahkan tahu bahwa Sultan memberikan ijin kepada Francis dan teman-temannya untuk memberitakan Injil di tanah Muslim.

Tetapi apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang ini sebagai hasil dari pertemuan mereka? Berdasarkan wawancara dengan saudara Illuminato, Sultan berkata kepada Francis,”Saya percaya bahwa imanmu adalah sesuatu yang baik dan benar” dan oleh sebab itu ia meminta Francis untuk mendoakannya supaya ia menemukan jalan yang lurus. Apakah kemudian Sultan menjadi Kristen atau tidak, masih menjadi pertanyaan; tetapi catatan-catatan Muslim menyebutkan bahwa Sultan menjadi orang yang berbeda setelah ia bertemu dengan Francis. Tetapi di sini ada satu bagian cerita yang menarik dan juga bisa menjadi sebuah pelajaran bagi kita. Francis juga berubah. Francis sedemikian dipengaruhi oleh Muslim, sehingga ketika ia kembali ke negaranya, ia mengadaptasi sejumlah elemen dari praktek-praktek Muslim ke dalam hidup keagamaannya. Sebagai contoh, berkaitan dengan panggilan untuk menunaikan shalat lima kali sehari, Francis mengumumkan kepada para pimpinan di Ordo Fransiskan agar mereka,”Mengumumkan dan mengkotbahkan kepada semua orang....beritahukan pada mereka kemuliaan yang layak diberikan padaNya, agar tiap jam ketika bel berdentang, pujian dan hormat diberikan kepada Tuhan yang Maha Kuasa oleh setiap orang di seluruh dunia.” Juga dikatakan bagaimana Francis pun mulai berdoa dengan berlutut hingga wajahnya menyentuh tanah, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Muslim ketika mereka sedang berdoa. Ia menulis kepada pemimpin kelompok: “Saat mendengar namaNya anda harus sujud ke tanah dan memuliakanNya dengan takut dan hormat. Dengarkanlah dengan sungguh-sungguh dan taatilah Anak Tuhan. Inilah alasan utama mengapa engkau diutus untuk pergi ke seluruh dunia, supaya dengan perkataan dan perbuatan engkau menyampaikan pesan-pesanNya dan meyakinkan setiap orang bahwa tidak ada Tuhan yang Maha Kuasa seperti Dia.” Bagian terakhir tentu saja sangat mirip dengan pengakuan Muslim,”Tidak ada tuhan kecuali Yahweh (Muslim menyebutnya: Allah).

Pada bagian akhir, kita telah belajar bahwa Sultan dan Francis telah diubahkan sebagai hasil dari pertemuan itu. Alasan untuk poin ini adalah bahwa dalam setiap pertemuan/perdebatan, Francis tidak hanya berusaha untuk mempertobatkan “orang lain”, tetapi dirinya sendiri juga. Francis tidak melihat orang lain sebagai musuh terbesar, tetapi justru “dirinya sendirilah” yang dilihatnya sebagai musuh terbesar yang harus diubahkan.

Tujuan saya menceritakan kisah Francis pada hari ini adalah bahwa kita sedang berada pada waktu-waktu dimana ada ketegangan antara Muslim dengan Kristen. Kesalahpahaman dan ketakutan itu sangat kuat. Seberapa banyak lagi perasaan-perasaan seperti ini akan mencapai puncaknya pada hari-hari terakhir? Francis adalah seorang model yang sangat tepat bagi kita untuk melakukan penjangkauan terhadap orang-orang Muslim. Ia menghampiri orang-orang Muslim dengan keyakinan, tanpa takut tetapi tetap dengan kerendahan hati. Ia juga cakap mengajar dan memiliki roh yang damai. Francis tidak datang kepada musuh Anti Kristus/kafir dengan sebuah roh penghakiman, melainkan datang kepada orang-orang yang membutuhkan Yesus. Francis juga tidak pergi untuk mempertahankan Injil, melainkan untuk mati demi Injil. Kita akan mendiskusikan isu ini dalam pasal berikut.

MANFAAT-MANFAAT PERSONAL
Tujuan utama dari penjangkauan tentu saja untuk menawarkan berita keselamatan dan hidup yang berkelimpahan bagi saudara-saudari Muslim kita. Tetapi disamping itu, masih ada sejumlah manfaat besar yang akan kita terima ketika kita melakukan penjangkauan terhadap orang-orang Muslim. Tak peduli seberapa dewasanyakah anda secara rohani, setiap orang yang masuk ke dalam dialog keagamaan yang dalam dengan Muslim akan menghadapi tantangan. Ketahuilah, kebanyakan orang Muslim menghabiskan banyak waktu untuk melatih diri mereka bagaimana berargumentasi dengan orang-orang Kristen. Anda akan mengalami dimana inti dari keyakinan anda akan ditantang saat anda berdebat dengan mereka. Berita baiknya adalah, melalui tantangan-tantangan anda akan semakin diperkuat.

Pertemuan pribadi saya dengan orang-orang Muslim menyebabkan pertumbuhan yang sangat besar dalam pewahyuan dan pengertian pribadi mengenai iman saya. Saya tak pernah memikirkan lebih banyak mengenai keajaiban-keajaiban dari inkarnasi, trinitas atau salib sebagaimana yang saya miliki selama masa-masa ketika saya bertemu dengan orang-orang Muslim yang menentang dengan keras semua doktrin-doktrin itu. Bukankah hal yang mengejukan bahwa banyak mereka yang melakukan penjangkauan terhadap orang-orang Muslim, telah berjalan dalam sebuah pewahyuan yang kuat terhadap isu-isu yang ditolak oleh Islam? Sebuah contoh yang indah dialami oleh Samuel Zwemmer. Zwemmer adalah seorang pelopor pelayanan bagi orang-orang Muslim, yang hidup di sepanjang akhir abad ke-20. Salah satu buku Zwemmer, The Glory of The Cross (Kemuliaan Salib), adalah sebuah buku klasik yang perlu dibaca oleh semua orang Kristen. Ia memberi judul demikian, sebagai akibat dari perjumpaannya dengan orang-orang Muslim, yang menyebabkan Zwemmer berjalan dalam penyataan yang lebih dalam dengan kemuliaan salib. Dan hal yang sama akan terjadi pada kita. Ketika kita mendekati orang-orang Muslim, tujuannya bukan hanya untuk memperkenalkan mereka dengan Yesus sejati supaya mereka bisa “ditobatkan”, tetapi supaya kita sendiri juga bisa mengalami “pertobatan” dan transformasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar