Sabtu, 17 Oktober 2009

Pasal 17 - Penyesatan Besar, Teror dan Harga Pertobatan Islam

Boleh jadi aspek yang paling menyedihkan dan menghancurkan dari akhir jaman adalah apa yang disebut Alkitab sebagai Penyesatan Besar. Alkitab mengajarkan bahwa di akhir jaman banyak orang yang menyebut diri mereka orang Kristen, akan berpaling dari iman mereka kepada Kristus dan bahkan menyangkali Kristus. Berkenaan dengan masa yang sangat mengerikan dan kacau balau ini, Yesus berkata:
dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Matius 24:10

Lebih dari sekali Rasul Paulus memperingatkan orang percaya agar jangan tertipu dan percaya bahwa Yesus sudah datang kembali. Karena hingga terjadinya Penyesatan Besar dan munculnya Antikristus, maka “Hari Tuhan” – yaitu kembalinya Yesus, tidak akan terjadi.

Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, 2 Tesalonika 2:3

Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan. 1 Timotius 4:1

Dalam bab ini kita akan menyelidiki bagaimana pertumbuhan dramatis Islam mempunyai kaitan dengan datangnya Penyesatan Besar demikian juga hubungan antara teror dan keberhasilan Antikristus.

KEBANGKITAN ISLAM MENUJU KEUNGGULAN GLOBAL
Oleh karena salah satu doktrin inti dalam Islam adalah iman kepada kedaulatan Allah yang absolut dan utuh, banyak Muslim secara psikologis mengalami kesulitan dengan kenyataan bahwa selama berabad-abad Islam selalu berada di tempat kedua/di bawah kekristenan. Jika Allah itu Maha Kuasa dan Islam adalah agama-Nya satu-satunya, lalu mengapa Islam di seluruh dunia hanya berada di bawah kekristenan? Mengapa Allah mengijinkan hal ini terjadi? Ini adalah beberapa hal yang menjadi pergumulan banyak Muslim. Namun perkiraan saya adalah dalam beberapa dekade mendatang, ketika Islam mulai hampir melampaui kekristenan sebagai agama teerbesar dunia, ledakan psikologis kepada Islam akan sangat dahsyat. Pada sisi lain, ledakan psikologis ini, bagi kekristenan akan sama dahsyatnya. Tiba-tiba akan ada banyak orang Kristen yang bertanya pada diri sendiri, “Jika Tuhan itu Maha Kuasa, lalu mengapa ia mengijinkan Islam menguasai dunia?” Muslim akan mengklaim dengan penuh kemenangan bahwa tidak bisa lagi dikatakan kalau Yesus Kristus itu orang yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia, melainkan Muhammad! Akan ada atmosfir sukacita diantara orang-orang Muslim, sukacita yang belum pernah ada sebelumnya semenjak fase-fase penting penaklukan Islam. Disini saya tidak bermaksud untuk bersikap negatif, tetapi saya berharap kita dapat melihat sebuah “petunjuk” sebelum Islam benar-benar melampaui kekristenan, dimana akan terjadi sebuah gelombang besar pertobatan dan pertumbuhan.

Pada masa kini, kekuatan kesaksian akan menjadi sebuah alat yang hebat bagi Muslim. Ketika semakin banyak orang Barat bertobat kepada Islam, klaim-klaim dan tantangan-tantangan Islam akan menjadi semakin sulit disingkirkan/diabaikan oleh banyak orang-orang Kristen Barat. Prasangka yang ada yang telah menjadi penyekat banyak orang Kristen Barat saat menghadapi Islam sebagai sebuah faktor relevan di dunia, tiba-tiba akan tersingkir, yaitu saat orang-orang yang tulus dan cerdas yang mereka kenal menjadi Muslim. Orang tidak akan dapat lagi bersembunyi di balik prasangka mereka dan mengabaikan Islam sebagai sebuah agama yang primitif dari orang-orang yang kurang berbudaya atau kurang berpendidikan. Demikian juga, banyak orang Barat akan dipaksa untuk mempelajari agama Islam. Dewasa ini di Amerika, ketika mayoritas orang yang tadinya tidak beragama memilih untuk menerima monoteisme dan mengambil keputusan untuk mengikuti Tuhan, umumnya mereka tidak mempersoalkan agama mana yang harus mereka pilih, melainkan denominasi apa yang harus dipilih. Saat Islam bertumbuh di Barat, orang-orang seperti itu akan dipaksa untuk mengambil sebuah keputusan. Diantara dua pilihan nyata (yang ada), mana yang akan dipilih? Kekristenan ataukah Islam?

Pada masa kini kita dapat melihat adanya hiruk pikuk/semangat untuk bergiat dalam komunitas Islam menuju kepada tercapainya tujuan Islam, yaitu mendominasi dunia. Ledakan psikologis yang akan dialami oleh dunia Muslim akan sangat dahsyat. Kegembiraan ini akan semakin besar jika pada masa kini, ada sesuatu yang menimpa Amerika yang akan melemahkan kekuatannya sebagai sebuah kekuatan dunia. Harus diakui, ini hanyalah sebuah spekulasi, namun berdasarkan pada kenyataan kurangnya perhatian Amerika pada nubuatan-nubuatan Alkitab, banyak orang yang bernubuat telah menyampaikan argumennya bahwa akan ada suatu masa sebelum datangnya akhir jaman, Amerika akan mengalami beberapa kemerosotan yang signifikan, yang akan menurunkannya dari tempatnya sebagai negara yang terkemuka dan sangat berkuasa di dunia. Walau saya tentu saja tidak mengharapkan skenario yang suram ini akan terwujud, kebangkitan dan kejatuhan kekuatan dunia adalah sebuah pola kuno dan mudah diramalkan seperti halnya terbit dan tenggelamnya matahari. Sekali lagi, kita hanya berspekulasi. Namun jika kedua faktor ini tidak terjadi dalam jangka waktu yang dekat; dengan kemerosotan Amerika dan bangkitnya Islam, sudah tentu pemulihan nama baik yang telah lama dinantikan Muslim akan memperkuat pergerakan Islam di seluruh dunia dengan sebuah cara yang belum pernah terlihat sebelumnya. Garis akhir dari tujuan Islam akan terlihat oleh Muslim di seluruh dunia. Para pengamat gerakan-gerakan apokaliptis telah secara konsisten mengemukakan bahwa kombinasi yang paling berbahaya dalam diri seseorang adalah perasaan bahwa Tuhan secara absolut ada di pihaknya dan keyakinan akan adanya mandat ilahi untuk melakukan kekerasan. Maka ketika kekejaman terjadi di bawah (pemerintahan) Mahdi, akan jauh lebih mudah untuk mencari alasan dan mengabaikannya. Di mata Muslim, sisa-sisa terakhir dari kanker spiritual orang kafir akan disingkirkan dari bumi sebagai persiapan untuk menyongsong sebuah jaman yang damai. Perhatikanlah pernyataan berikut ini yang disampaikan oleh Ayatollah Ibrahim Amini dalam bukunya Al-Imam Al-Mahdi: Pemimpin Kemanusiaan Yang Adil. Mengenai mereka yang menolak untuk bertobat kepada Islam dan tunduk kepada kepemimpinan Mahdi diatas bumi, kita membaca bahwa:
“Kelompok ini tak dapat disangkali lagi bertentangan dengan keadilan dan tidak akan pernah menghentikan kekerasan hati mereka yang antagonistis terhadap kuasa apapun. Orang-orang semacam itu akan melakukan apa saja menentang Mahdi yang telah dijanjikan untuk melindungi kepentingan mereka. Lebih jauh lagi, mereka akan melakukan apa saja dengan segala kemampuan mereka untuk mengacaukan dan memerangi orang-orang yang mendukung Sang Imam (Mahdi). Untuk menghancurkan pengaruh negatif dari kelompok ini tidak ada solusi lain kecuali peperangan dan pertumpahan darah”.1

Pada akhirnya, kemenangan akhir yang nampak seperti hanya sejauh jangkauan tangan, tidak diragukan lagi akan menghalalkan segala cara. Segala cara, termasuk pembunuhan keji akan dimaklumi, selama tujuan Islam untuk membersihkan namanya akhirnya dapat tercapai. Disini psikologinya tidak dapat diremehkan.

KASUS GLOBAL MENGENAI SINDROM STOCKHOLM
Namun di balik penguatan emosional yang akan kita lihat terjadi diantara Muslim, kita juga akan melihat kadar teror yang sama kuatnya menimpa orang-orang yang tidak ingin menjadi Muslim. Ini membawa kita kepada sebuah faktor psikologis lainnya yang sangat penting yang akan terjadi menjelang akhir jaman: Teror. Namun lebih jelasnya, seperti yang dijuluki oleh para psikolog sebagai “sindrom Stockholm”. Ijinkanlah saya menjelaskannya. Boleh jadi kualitas kekaisaran Anti Kristus yang paling janggal adalah bahwa ia merupakan sebuah pergerakan ibadah religius dan juga mesin militer yang diinspirasikan oleh kekuatan demonis dari neraka yang bertujuan untuk menghancurkan, memangsa dan menginjak-injak “seluruh bumi”. Kedua elemen ini bersama-sama pada mulanya akan terlihat seperti kombinasi dua hal yang sama sekali tidak cocok. Kami di Barat, dengan kebebasan beragama memandang ibadah sebagai sebuah tindakan yang dilakukan dengan sukarela, oleh karena menghormati dan mengasihi pihak yang menurut kami sangat pantas untuk menerima penyembahan kami. Namun kita lihat, dalam Kitab Wahyu, ada petunjuk mengenai mentalitas yang akan terlihat dalam diri para penyembah Setan dan Binatang itu. Dikatakan bahwa ”Manusia akan menyembah naga itu karena ia telah memberikan kekuasaan kepada binatang dan bertanya, ‘Siapakah yang seperti binatang ini? Siapakah yang dapat memeranginya?” Dalam diri para penyembah itu kita melihat sebuah mentalitas “jika anda tidak dapat mengalahkannya, sebaiknya anda bergabung dengannya” yang dimotivasi oleh perasaan takut dan teror. Disini kita melihat contoh yang jelas dari sindrom Stockholm.

Sindrom Stockholm pada dasarnya adalah sebuah referensi bagi dinamika psikologis yang telah berulangkali diteliti, dimana ada orang yang ditawan atau diteror sehingga pada akhirnya mengidentifikasikan diri mereka dengan orang-orang yang telah menawannya atau menyiksanya. Ada sebuah kasus klasik di Amerika ketika seorang ahli waris suratkabar Patricia Hearst diculik oleh Symbionese Liberation Army. Pada akhirnya ia bergabung dengan (tujuan) mereka dan bahkan melakukan perampokan bersenjata atas sebuah bank. Dalam kasus para penyembah Binatang di masa yang akan datang, mereka yang terinjak-injak dan didominasi, sehingga mereka pada akhirnya akan menyerah dan menyembah pihak yang telah mendominasi mereka. Dalam kekaguman mereka akan berkata, “Siapakah yang seperti dia?”

Maka tidaklah mengejutkan, banyak psikolog telah membandingkan tingkah-laku para korban terorisme atau penyiksaan lainnya dengan tingkah-laku para tawanan yang kemudian mendefinisikan sindrom Stockholm. Perbandingan itu sangat mengagumkan karena berhubungan erat dengan diskusi kita. Dalam sebuah artikel yang berjudul The Sockholm Syndrome: Not Just For Hostages, kita membaca:
“Stockholm sindrom adalah sebuah keterkaitan emosional, sebuah ikatan interdependensi antara tawanan dan orang yang menawan, yang mengembangkan sikap ‘jika seseorang mengancam hidupmu, dengan sengaja, dan tidak membunuhmu.’... Kelegaan sebagai akibat dari hilangnya ancaman kematian membangkitkan perasaan terimakasih dan takut yang intens yang menjadi satu sehingga membuat si tawanan enggan menunjukkan perasaan negatif terhadap pihak yang menawannya atau si teroris. Kebutuhan ‘si korban’ untuk tetap hidup lebih kuat daripada keinginannya untuk membenci orang yang telah menciptakan dilema ini.’...Si korban akhirnya melihat penawannya sebagai ‘seorang yang baik’, bahkan seorang juruselamat”.2

Lalu mestikah kita terkejut jika sindrom Stockholm sedang bekerja dalam terorisme yang menulahi bangsa Israel? George E. Rubin, dalam Commentary Magazine, Mei 2000 melihat simptom sindrom Stockholm ini banyak ditemukan diantara orang Israel:
“Setelah 50 tahun mengalami konflik yang tidak berkesudahan, banyak orang Yahudi Israel yang nampaknya telah menyimpulkan bahwa beban untuk memelihara bangsa mereka itu terlalu besar untuk ditanggung. Kaum elit sekuler sayap kiri negara itu - yang mengontrol pendidikan, kebudayaan, media pemberitaan, dan pemerintah – menyalahkan orang Yahudi atas keinginan Arab untuk menghancurkan Israel, dan mayoritas orang nampaknya mengalami “sindrom Stockholm”: walaupun merupakan korban kebencian terhadap Arab, mereka mengidentifikasikan diri dengan para penindasnya”.3

Rubin tidak sendirian dalam observasi ini. Aharon Megged, seorang novelis Israel yang bercermin pada Rubin, memberi komentarnya:
“Kita telah menyaksikan sebuah fenomena dimana kemungkiman besar tidak ada paralelnya dalam sejarah; suatu identifikasi moral dan emosional oleh mayoritas orang-orang cerdas Israel dengan orang-orang yang secara terang-terangan berkomitmen untuk menghapus (bangsa) kita”.4

Bahkan ketika para psikolog dan para intelektual telah mendapati bahwa sindrom Stockholm ada diantara para korban terorisme di Israel dan dimanapun, kekaisaran Binatang itu yang dipimpin oleh Antikristus akan juga menginspirasi kasus global dari sindrom ini. Orang akan dikuasai teror, dan pada akhirnya akan membawa mereka untuk menyembah Binatang itu. Si Penyiksa akan menjadi Sang Juruselamat.

APAKAH ITU SUDAH DIMULAI?
Dinamika ini dapat merupakan salah satu alasan utama bagi ledakan pertobatan kepada Islam diantara orang-orang Barat sejak peristiwa 11 September. Walau akal sehat akan mengatakan pada kita bahwa peristiwa 11 September akan menyebabkan banyak orang akan menghantam Islam, namun kita lihat di banyak tempat dampaknya justru berlawanan. Kita melihat fenomena ini pada “kesaksian” seorang wanita muda Amerika tentang kisahnya berpaling kepada Islam. Dalam sebuah kisah di New York Times mengenai “ribuan” orang yang menjadi pemeluk Islam yang baru, kita membaca:
“Shanon Staloch tidak yakin mengapa, tetapi saat mendengar berita pembajakan itu, ia segera mengambil sebuah buku dari tas punggungnya dan mengucapkan pernyataan iman dalam bahasa Arab; ia meresmikan pertobatannya 12 hari kemudian”.5

Aspek dari kisah ini dan banyak kisah lainnya yang mengherankan saya adalah ketiadaan secara menyeluruh alasan-alasan intelektual maupun spiritual apapun, sehingga banyak petobat mempunyai dasar yang kuat ketika menguji keputusan mereka untuk menjadi Muslim, “Tidak yakin mengapa”, wanita ini cuma merasa adanya kebutuhan mendesak untuk berpaling kepada Islam ketika mendengar pembunuhan mengerikan atas ribuan orang atas nama agama yang kemudian dianutnya. Dalam kasus nona Staloch, “teror” Islam telah mendapatkan dampak yang diinginkannya. Tentu saja Osama bin Laden akan senang mendengar berita ini.

Pada akhir jaman, teror akan meningkat berlipatkali-ganda. Dan Alkitab menjelaskan bahwa teror akan mendapatkan dampak yang diinginkannya atas para penduduk dunia. Mereka akan berkata, “Siapakah yang seperti Binatang itu? Siapakah yang dapat memeranginya? Mengapa menolaknya? Ia teramat sangat kuat”. Alkitab juga berkata, “semua suku, kaum, bahasa, dan bangsa – semua penduduk dunia akan menyembah Binatang itu”.

Tren yang muncul yang kita lihat sekarang – berpalingnya orang-orang yang diteror kepada agama dari para teoris/peneror, akan menghasilkan buahnya yang ranum di hari-hari mendatang ketika Binatang itu dan kerajaannya meneror seluruh bumi atas nama agamanya. Jadi sekali lagi, kita melihat bahwa metode teror dan ketakutan yang digunakan oleh Anti Kristus adalah sama dengan metode yang digunakan Islam. Paralel-paralel dan sisi psikologisnya tidak boleh diabaikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar