Sabtu, 17 Oktober 2009

Pasal 14 – Kemartiran Akhir Zaman dan Praktek Pemenggalan Dalam Islam

Jika pasal sebelumnya membahas tentang konsentrasi kebencian dan roh membunuh yang dimiliki Islam terhadap orang Yahudi, pasal ini akan mengupas kemartiran dan penganiayaan secara umum yang akan dialami oleh siapa pun yang menjadi pengikut Yesus atau yang menolak menjadi Muslim menjelang akhir jaman.

PEMENGGALAN KEPALA PADA AKHIR JAMAN
Dalam kitab Wahyu pasal 20, Rasul Yohanes melihat sekelompok orang tertentu. Yohanes memberikan pada kita sinopsis yang singkat mengenai apa yang dilihatnya. Secara spesifik ia menggambarkan para martir akhir jaman yang akan datang:
Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Tuhan; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun.
Wahyu 20:4

Saya telah merenungkan ayat ini berkali-kali. Alkitab berkata bahwa pada akhir jaman, pemenggalan akan menjadi metode khusus yang digunakan terhadap para martir. Mereka akan dibunuh terutama karena “kesaksian mereka tentang Yesus dan karena firman Tuhan”. Ini adalah suatu gambaran yang aneh untuk dibayangkan. Apakah Alkitab sedang mengatakan bahwa di seluruh dunia akan ada kebangkitan guillotine di setiap alun-alun kota? Sebenarnya menurut Alkitab, apa yang mengakibatkan sehingga muncul standar yang dipakai dunia untuk menggunakan pemenggalan kepala sebagai sarana menganiaya orang Kristen? Ketika saya berusaha membayangkan natur dari akhir jaman dan seperti apa akhir jaman itu nantinya, seringkali saya bertanya-tanya soal ayat ini. Ada juga ayat-ayat lain yang mirip dengan ayat tersebut diatas. Ayat-ayat itu juga berbicara mengenai penganiayaan yang akan datang dan sebuah kecenderungan global yaitu menghukum mati orang-orang Kristen oleh karena imannya kepada Yesus:
Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku.
Matius 24:9

Disini Yesus memperingatkan murid-muridNya bahwa mereka akan dibenci dan pasti akan dibunuh sebagai akibat mereka diidentifikasikan dengan-Nya. Namun kemudian ada sebuah ekspansi profetis atas nubuat ini. Yesus mengatakan bahwa, “kamu akan dibenci oleh semua bangsa oleh karena Aku”. Secara spesifik Yesus menubuatkan sebuah elemen global berkenaan dengan penganiayaan yang akan datang terhadap orang Kristen. Ayat berikut ini memberikan pemahaman lebih lanjut pada kita:
“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Tuhan. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya, kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.”
Yohanes 16:1

Dalam ayat yang diambil dari Injil Yohanes ini, Yesus secara khusus berbicara pada para murid di luar konteks akhir jaman yang sangat ketat. Pertama-tama Ia memperingatkan para murid bahwa pada hari-hari yang akan datang, mereka akan menyaksikan bagaimana para pengikut Yesus akan diusir dari sinagoga. Nubuat ini tergenapi setelah terjadinya peristiwa yang kemudian dikenal dengan pemberontakan Bar Kochba pada 132-135 M. Dalam pemberontakan Bar Kochba itulah terjadinya pemisahan final antara gereja dan sinagoga. Bar Kochba adalah Mesias Yahudi yang palsu. Ia didukung dan disemangati oleh pihak otoritas para rabi yang paling tinggi kedudukannya pada waktu itu, yang dikenal sebagai Rabbi Akiva. Akibat adanya dukungan Akiva, Bar Kochba kemudian dipandang sebagai Mesias di mata orang Yahudi. Ketika Bar Kochba memimpin orang Yahudi memberontak terhadap Roma, orang Yahudi yang tidak berpartisipasi dalam pemberontakan itu dipandang sebagai pengkhianat bangsa Yahudi. Orang-orang Yahudi yang adalah pengikut Yesus, sebelum terjadinya pemberontakan itu secara reguler berpartisipasi dalam ibadah-ibadah di sinagoga, tidak dapat mendukung sebuah pemberontakan yang dipimpin oleh seorang yang mereka yakini adalah Mesias yang palsu. Sebagai akibatnya, orang-orang Yahudi yang adalah pengikut Yesus dikeluarkan dari sinagoga secara massal dan nubuat Yesus digenapi pada abad kedua.

Tetapi pada bagian kedua dari ayat ini, Yesus berbicara mengenai akhir jaman. “Pada kenyataannya”, Yesus melanjutkan kata-kata-Nya, ”akan tiba harinya ketika para penganiayamu akan melakukan yang lebih daripada sekadar mengusir kamu dari sinagoga; mereka benar-benar akan membunuhmu.” Namun aspek yang paling membingungkan dan membuat penasaran dari ayat ini adalah bagian selanjutnya dari pernyataan Yesus. Ia mengatakan bahwa mereka yang akan membunuh kamu akan berpikir bahwa mereka melakukannya sebagai ibadah kepada Tuhan. Bagian inilah kuncinya. Bagaimana mungkin ada orang di jaman ini yang secara literal berpikir bahwa Tuhan menuntut pembunuhan atas manusia lain hanya karena mereka mempunyai kepercayaan yang berbeda? Itu adalah sebuah konsep yang sangat asing bagi sebagian besar cara berpikir dunia Barat modern. Namun, itu bukanlah sebuah konsep yang asing dalam sejarah. Baik Islam maupun Kristen – Katolik maupun Protestan- , keduanya bersalah dalam hal ini, karena telah membunuh orang-orang yang dianggap sebagai bidat dari satu-satunya agama yang benar. Jihad, Perang Salib, Inkuisisi – semua itu cocok dengan kriteria pembunuhan bagi dan dalam nama Tuhan. Satu hal yang pasti, ada sebuah unsur penting dalam sebuah penumpahan darah seperti itu, yaitu adanya keyakinan yang kuat bahwa Tuhan ada pada satu pihak dan Ia memerintahkan eksekusi semacam itu. Sangat sulit mumbayangkan ada sistem kepercayaan atau filsafat di bumi ini yang sanggup melaksanakan hal seperti itu selain daripada sebuah agama dunia yang kokoh berdiri. Sementara rejim totaliter tentu saja sanggup melakukan hal seperti itu, ayat ini secara spesifik mengatakan bahwa pihak-pihak yang melakukan eksekusi macam ini meyakini bahwa dengan melakukannya mereka sedang beribadah kepada Tuhan. Sistem yang melaksanakan eksekusi seperti itu adalah sebuah sistem keagamaan yang memandang dirinya sebagai penatalayan dari sebentuk pemerintahan global yang ilahi. Ia memandang dirinya sebagai satu-satunya organisasi atau komunitas milik Tuhan di bumi ini. Hanyalah skenario seperti itu yang dapat bertanggung-jawab terhadap tindakan-tindakan yang kita baca dalam ayat itu.

Maka sebagai kesimpulannya, ketika kita memperbandingkan ketiga ayat itu, kita mempunyai sebuah gambaran yang spesifik mengenai seperti apa penganiayaan dan kemartiran di akhir jaman nantinya. Pertama-tama, sifatnya global. Kedua, diperlukan adanya suatu sistem kepercayaan yang memandang dirinya sendiri sebagai pihak yang memiliki peran dalam pemerintahan di bumi dengan penunjukan ilahi. Ketiga, akan melakukan metode khusus yaitu pemenggalan kepala sebagai metode utama dalam mengeksekusi. Jadi kita memiliki sebuah agama global yang mengganggap dirinya sebagai sebuah sistem di bumi dengan penunjukan ilahi, yang disahkan oleh Tuhan, untuk memenggal semua orang yang menolak untuk bergabung. Seperti yang akan kita lihat, berdasarkan terminologi sistem keagamaan yang eksis di dunia saat ini, hanyalah agama Islam yang memenuhi semua kriteria tersebut diatas.

BERITA-BERITA MENGENAI PEMENGGALAN
Saat buku ini ditulis, pada akhir tahun 2004, di Irak, Arab Saudi dan beberapa negara lainnya, ada berita-berita mengenai orang-orang asing dan orang Kristen yang setiap minggu dipenggal kepalanya oleh Islam radikal. Hal ini menimbulkan perdebatan yang panas berkenaan dengan apakah praktek semacam itu benar-benar “islami” ataukah hanya praktek biadab beberapa orang radikal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang murni. Pernyataan-pernyataan publik yang umumnya dikemukakan oleh media Barat adalah pernyataan-pernyataan biasa yang mengutuk insiden semacam itu dan bahwa hal itu tidak ada hubungannya dengan “Islam sejati”. Dalam banyak kasus, media Barat melahap habis penyangkalan-penyangkalan ini dan menerbitkannya tanpa banyak bertanya. Tetapi jika kita mengacu tidak hanya tradisi dan sejarah Islam, tetapi juga “kabar burung yang kita dengar di jalan” berkenaan dengan perasaan orang-orang Muslim yang selalu menyuarakan pendapat mereka setiap hari melalui internet dan kelompok-kelompok chatting, maka kita akan mendapatkan realitas yang sangat berbeda. Pesan Islam tersebar luas di internet mendebat sah tidaknya tindakan-tindakan semacam itu ketika peristiwa itu telah menjadi berita utama di media. Sebuah artikel dari Berita CBS yang berjudul, Budaya pemenggalan Kepala di Arab Saudi, tanggal 27 Juni 2004, juga mengutip beberapa “pembicaraan” di internet:
“Dan dalam forum-forum internet islami, yang umumnya digunakan oleh kelompok-kelompok radikal, pemenggalan telah menjadi topik yang populer beberapa minggu belakangan ini, dengan banyaknya partisipan yang menggambarkannya sebagai cara yang “termudah” untuk membunuh seorang Amerika atau seorang Saudi dari keluarga yang berpengaruh”. 1

Satu-satunya kesalahan yang dilakukan CBS adalah mengasumsikan bahwa pada umumnya para partisipan yang menggunakan forum-forum semacam itu adalah benar-benar “radikal”. Saya telah berpartisipasi dalam sejumlah “komunitas” islami semacam itu dan telah bersahabat dengan banyak orang Muslim melalui kelompok-kelompok semacam itu. Kebanyakan forum-forum itu sekarang ada di Amerika dan Kanada dan banyak yang merupakan mantan Kristen. Sementara penulis artikel CBS itu berasumsi bahwa individu-individu yang terlibat dalam percakapan itu semuanya adalah orang-orang radikal oleh karena natur biadab dari diskusi-diskusi semacam itu. Menurut saya banyak diantara mereka yang semata-mata hanya bersungguh-sungguh dalam imannya sebagai seorang Muslim, sama halnya dengan saya yang bersungguh-sungguh dengan iman Kristen saya. Sementara beberapa anggota kelompok-kelompok diskusi itu nampaknya jijik dan malu dengan adanya praktek pemenggalan yang muncul baru-baru ini, kebanyakan orang nampaknya jauh lebih memfokuskan diri pada masalah-masalah doktrinal seperti apakah pemenggalan-pemenggalan itu telah dilakukan dengan tepat atau tidak, apakah korban-korbannya dianggap sebagai musuh atau orang yang tidak bersalah, dan sebagainya. Sam Hamod, yang adalah mantan direktur Pusat Islam di Washington D.C, saat diberi kesempatan untuk mengomentari masalah ini, dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Washington Times tidak mengutuk pemenggalan-pemenggalan itu, tetapi menegaskan bahwa orang-orang yang melakukan pemenggalan-pemenggalan di Irak dan dimanapun juga tidak melakukannya dengan benar:
“Anda tidak dapat melakukan seperti yang dibuat orang-orang idiot itu di TV. Yang seharusnya dilakukan adalah menggorok leher orang itu, bukan memutuskan kepalanya dari batang lehernya”. 2

PEMENGGALAN KEPALA DALAM ISLAM: TELADAN MUHAMMAD
Pemenggalan kepala dalam Islam sama sekali bukanlah fenomena yang baru. Oleh karena kejijikan yang amat sangat dari banyak orang di seluruh dunia Barat berkenaan dengan praktek yang dilakukan oleh Muslim radikal di Irak dan dimanapun, banyak orang Muslim moderat dan para apologis Muslim telah berulangkali mengklaim bahwa pemenggalan kepala bukanlah praktek yang resmi dalam Islam. Mereka mengklaim hal itu sebagai penyimpangan dari ajaran-ajaran dasar Islam. Klaim ini dibuat untuk menciptakan citra Islam yang lebih baik di mata dunia Barat. Sayangnya, klaim-klaim ini dibuat dengan mengabaikan sejarah Islam atau juga dibuat dengan niat yang kuat untuk menipu. Sesungguhnya, seperti yang akan kita lihat, pemenggalan adalah warisan utama Islam. Pemenggalan tidak hanya diperintahkan sebagai sebuah metode spesifik untuk membunuh musuh seseorang di dalam Qur’an, tetapi seperti yang akan kita lihat, pemenggalan juga adalah metode pembunuhan yang sangat disukai Muhammad dan banyak pengikutnya.

Ketika Muhammad memulai karirnya yang penuh kekerasan dan agresi, gerombolan pejuang Muslimnya masih sangat kecil. Karavan-karavan yang melakukan perjalanan pergi pulang dari Mekkah dan Damaskus menjadi sasaran empuk Muhammad. Oleh karena penduduk Mekkah menggantungkan hidup mereka pada karavan-karavan itu, mereka merasa sangat terganggu setelah mengalami beberapa serangan dari Muhammad dan gerombolan perampoknya. Akhirnya, para pria dari suku Quraish datang dari Mekkah untuk menyerang Muhammad dan orang-orangnya. Pertempuran ini, yang kemudian terkenal sebagai Perang Badr, menghasilkan kemenangan atas Quraish yang tidak disangka-sangka oleh Muhammad dan pasukannya yang belum berpengalaman. Abba Hakam adalah salah seorang korban perang.
“Aba Hakam terluka sangat parah tetapi masih hidup ketika Abdullah, pelayan Muhammad, berlari padanya dan menaruh kakinya di leher Aba Hakam, memegang janggutnya dan mulai menghina pria yang sudah terluka parah itu; pria yang digelari rakyatnya sebagai “Bapa yang Berhikmat”. Abdullah memenggal kepala Abba Hakam dan membawanya kepada tuannya. “Kepala musuh Allah!” teriak Muhammad dengan sukacita ; – “Allah! Tidak ada Tuhan selain Dia!” – “Ya, tidak ada yang lain!” sahut Abdullah, sambil melemparkan kepala itu ke kaki nabi. “Ini sangat menyenangkan saya;” teriak Muhammad hampir-hampir tidak dapat menahan kegembiraannya, ”lebih daripada unta yang terbaik di seluruh Arabia”. 3
penekanan oleh penulis.

Sedihnya, nafsu terhadap darah yang dimiliki Muhammad dan para pengikutnya semakin bertambah sejak peristiwa ini. Pada 627 M, Muhammad sendiri mengatur apa yang sejujurnya merupakan sebuah pembantaian massal. Muhammad dan pasukannya mengepung perkampungan Yahudi di Quraizah. Setelah 25 hari, perkampungan itu menyerah, berharap Muhammad akan bermurah hati pada mereka. Namun Muhammad memerintahkan tentara-tentaranya untuk menggali beberapa parit dan memasukkan dengan paksa sekitar 600-900 orang kedalamnya. Di tangan tentara-tentara Muhammad, mereka semua dipenggal. Parit-parit itu menjadi kuburan massal. Berdasarkan Sirat Rasul karya Ibn Ishaq, yang merupakan biografi Muhammad, yang mula-mula dan sangat diakui, kita dapat membaca peristiwa yang mengerikan itu:
“Lalu mereka (Qurayza) menyerah dan nabi menawan mereka di Medina…Kemudian nabi pergi ke pasar Medina (yang masih ada sampai hari ini) dan menggali parit-parit disana. Lalu ia memanggil mereka dan memenggal kepala mereka di dalam parit-parit itu saat mereka dibawa kepadanya secara berkelompok. …Mereka semua berjumlah 600-700, walau ada yang memperkirakan sekitar 800 atau 900 orang…Ini berlanjut sampai nabi menghabisi mereka semua”. 4

Nampaknya, setelah pembantaian besar-besaran ini, sesuatu muncul dalam diri Muhammad. Enam ratus hingga sembilan ratusan pria Quraizah yang telah dipenggal seakan belum cukup. Tak lama setelah insiden ini, Muhammad memenggal lebih dari 400 orang Yahudi. Muhammad bersekutu dengan 2 kelompok suku, orang Khazraj dan orang Aus. Orang Khazraj bertugas memenggal 400 orang Yahudi tetapi orang Aus berdiri mendampingi. Ketika Muhammad melihat bahwa ada kegembiraan di wajah orang Khazraj ketika memenggal semua orang Yahudi sedangkan orang Aus hanya berdiri di sisi, ia memerintahkan agar ke-12 orang yang tersisa dipenggal oleh orang Aus:
“Abu ‘Ubayda berkata pada saya atas perintah Abu ‘Amir orang Medina, ketika nabi (Muhammad) mendapatkan yang lebih baik dari anak-anak laki-laki Qurayza ia menangkap sekitar empat ratus orang Yahudi yang adalah sekutu Aus terhadap Khazraj, dan memerintahkan supaya mereka dipenggal. Oleh karena itu Khazraj mulai memenggal kepala mereka dengan sangat puas. Rasul melihat bahwa wajah orang Khazraj menunjukkan kegembiraan mereka, tapi tidak ada indikasi seperti itu pada orang Aus, dan…ketika ia melihat hanya tersisa dua belas orang saja ia menyerahkan mereka kepada orang Aus, menyerahkan satu Yahudi untuk dibunuh oleh dua orang Aus, dan berkata, ‘Begini-beginilah memukulinya dan begini-beginilah menghabisinya”. 5

Kemudian, ada lagi peristiwa pemenggalan yang terjadi atas perintah Muhammad ketika ia kembali memasuki kota Mekkah dengan 10.000 tentaranya, ia memanggil para pejuang dalam pasukannya dari Medina dan bertanya pada mereka, “Apakah kamu melihat tentara-tentara dari Quraysh (dari Mekkah)? Pergilah dan bantai mereka”. Mark A. Gabriel menjelaskan arti kata yang digunakan Muhammad untuk membantai dalam bahasa Arab:
“Kata dalam bahasa arab yang digunakan untuk membantai menggambarkan seorang petani yang menuai panennya dengan sebuah sabit besar. Dengan kata lain, Muhammad mengatakan pada mereka untuk “Memenggal kepala mereka dari tubuh mereka seperti kamu memotong buah dari dahan-dahan pohon”. 6

Jadi inilah awal segalanya: dengan Muhammad. Tapi tentu saja ini bukan sebuah akhir. Ingatlah bahwa apapun yang dikatakan atau dilakukan Muhammad, itu dianggap sama otoritas dan inspirasinya dengan Qur’an itu sendiri. Tindakan-tindakan Muhammadlah yang mendiktekan contoh hidup yang telah ditetapkan Allah sebagai kehendak-Nya bagi semua Muslim:
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku”. Sura 3:31

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasullullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat..” Sura 33:21.

Dengan membantai orang-orang dari perkampungan Yahudi dengan cara seperti ini, Muhammad memberikan teladan mengenai apa yang telah ditetapkan Allah dan bahkan memerintahkan semua Muslim yang setia untuk mengikutinya.

PEMENGGALAN KEPALA DIANTARA PARA PENGIKUT MUHAMMAD
Abu Bakr, sahabat karib dan penerus Muhammad, diangkat menjadi Kalifah Islam pertama yang “dituntun dengan benar” setelah kematian Muhammad. Jenderal dari Abu Bakr adalah Khalid bin al-Walid al-Makhzumi yang juga bertempur di bawah kepemimpinan Muhammad. Di bawah pimpinan Muhammad, Khalid bertempur dengan sangat efektif sehingga ia mendapatkan gelar, Pedang Allah.

Atas perintah Abu Bakr, pada 633-634 M, Khalid menyebarkan undangan kepada orang-orang Arabia untuk memeluk Islam. “Undangan” ini sebenarnya tidak lebih dari ancaman perang dan kematian bagi mereka yang menolak untuk bertobat dan tunduk kepada pemerintahan Islam. Undangan itu sebenarnya berbunyi demikian:
“Dalam nama Allah, Yang Pengasih dan Pemurah. Dari Khalid bin al-Walid kepada gubernur-gubernur Persia. Peluklah Islam maka kamu akan selamat. Jika tidak, buatlah perjanjian dengan saya dan bayarlah pajak Jizyah. Atau, saya telah membawa kepadamu orang-orang yang mencintai kematian sama seperti kamu suka minum anggur”. 7

Setelah “undangan” untuk memeluk Islam ini disampaikan, banyak orang yang menolak untuk memeluk agama Islam. Diantara mereka adalah kelompok orang-orang Persia dan orang-orang Kristen dari Ullays di sungai Efrat. Khalid menyerang mereka pada tahun 633 M. Pertempuran itu begitu sengit sehingga Khalid bersumpah kepada Allah dalam peperangan itu bahwa jika ia dapat mengalahkan mereka, ia akan membuat kanal yang dialiri darah di sekeliling kampung mereka. Ia memerintahkan agar semua yang sudah dikalahkan ditawan hidup-hidup. Tawanan itu sangatlah banyak sehingga diperlukan satu setengah hari untuk memenggal kepala mereka. Namun, darah mereka sangat kental dan pasukan Khalid akhirnya harus memberi air ke dalam kanal supaya menjadi merah, jika tidak maka sumpah Khalid tidak akan tergenapi. Abu Jafar Muhammad ibn Jarir At-Tabari, sejarahwan dan teolog Islam mula-mula, mencatat peristiwa ini demikian:
“Khalid berkata,”O Allah, jika Engkau melepaskan bahu mereka kepada kami, saya akan mewajibkan diri kepada-Mu untuk tidak meninggalkan seorangpun diantara mereka yang dapat kami kalahkan sampai saya membuat kanal mereka dialiri darah mereka”. Lalu Allah mengalahkan mereka bagi orang Muslim, dan menyerahkan bahu mereka pada orang Muslim. Kemudian Khalid memerintahkan utusannya untuk mengatakan pada pasukannya, “Tangkap! Tangkap! Jangan bunuh siapapun kecuali ia tetap melawan”. Kemudian pasukan itu menggiring para tawanan secara berbondong-bondong. Khalid telah menunjuk orang-orang tertentu untuk memenggal kepala mereka di dalam kanal. Ia berbuat demikian pada mereka selama satu setengah hari. Pasukannya mengejar mereka keesokan harinya dan juga hari berikutnya, sampai mereka tiba di Nahrayn dan sekitarnya dari segala arah, dari Ullays. Dan Khalid memenggal kepala mereka”. 8

Beberapa bawahan Khalid menyampaikan padanya:
“Sekalipun engkau harus membunuh semua penduduk dunia, darah mereka tetap tidak akan mengalir…Oleh karena itu berilah air diatasnya, maka engkau akan memenuhi sumpahmu”. Khalid telah menghalangi air dari kanal. Kini Khalid mengembalikannya, sehingga air itu mengalir bercampur darah. Untuk mengingat hari itu, hingga hari ini kanal itu dikenal dengan Kanal Darah”. 9

Amir Taheri, seorang jurnalis kelahiran Iran, dalam sebuah artikel di New York Post, tanggal 14 Mei 2004 yang berjudul “Pemotongan Kepala”, mendaftarkan beberapa insiden lain di sepanjang sejarah praktek pemenggalan kepala yang dilakukan Islam:
“Pada 680 M, cucu laki-laki kesayangan nabi, Hussein bin Ali, dipenggal kepalanya di Karbala, pusat Irak, oleh tentara-tentara Kalif Yazid. Kepala yang bersimbah darah itu diletakkan di atas nampan perak dan dikirimkan ke Damaskus, ibukota Yazid, sebelum dikirim ke Kairo untuk diinspeksi oleh Gubernur Mesir. Tentara-tentara Kalif juga memenggal kepala ke-71 orang laki-laki yang menyertai Hussein, termasuk seorang bayi laki-laki berusia satu tahun barnama Ali-Asghar”. 10

Maka pola yang telah ditetapkan dan prinsip yang telah dicontohkan Muhammad ini kembali dan menimpa keluarganya. Pada akhirnya kisah-kisah pemenggalan kepala memenuhi sejarah Islam. Andrew Botom, editor The Legacy of Jihad memaparkan bahwa pada akhir abad ke-15:
“Babur, pendiri kekaisaran Mughal, yang dihormati sebagai teladan yang sempurna tentang toleransi Muslim oleh para ahli sejarah revisionis, mencatat peristiwa berikut ini dalam otobiografinya “Baburnama”, mengenai para tawanan sebuah perang jihad: ‘Mereka yang ditawan hidup-hidup (karena menyerah) diperintahkan untuk dipenggal, dan setelah itu sebuah menara yang terbuat dari kepala-kepala mereka didirikan di kamp tersebut”. 11

Taheri kemudian beralih ke jaman yang sedikit lebih modern:
“Pada tahun 1842 orang Muslim Afghanistan mengalahkan pasukan Inggris di Kabul dan memenggal lebih dari 2000 laki-laki, wanita dan anak-anak. Kepala-kepala mereka dipancangkan di tiang-tiang di sekeliling kota sebagai dekorasi”.12

Praktek ini terus berlanjut selama tahun 1980-an di Afghanistan, dimana diperkirakan sekitar 3000 tentara Soviet dipenggal oleh para pejuang Afghanistan. Praktek pemenggalan juga adalah praktek yang umum dilakukan selama revolusi Iran:
“Pada 1992, para mullah mengirimkan seorang ‘spesialis’ untuk memenggal kepala Shapour Bakhtiar, perdana menteri terakhir dari Shah Iran, di pinggiran kota Paris. Ketika kabar itu tersiar, Hashemi Rafsanjani yang kemudian menjadi presiden Republik Islam Iran bersyukur kepada Allah di depan publik karena telah mengijinkan ‘pemenggalan kepala si ular”. 13

Taheri bahkan menceritakan tentang seorang ‘spesialis’ pemenggalan berkebangsaan Algeria, yang dijuluki Momo, yang direkrut oleh sebuah kelompok Islam yaitu GIA, yang bertujuan secara khusus untuk memenggal kepala orang:
“Pada 1996 di Ben-Talha, daerah pinggiran ibukota Algiers, Momo memecahkan rekor memenggal 86 kepala dalam semalam, termasuk lebih dari selusin kepala anak-anak. Sebagai penghargaan atas teladan kebajikannya, GIA mengirimnya ke Mekkah untuk berziarah. Terakhir kali kami mendapatkan keterangan, Momo masih berkeliaran di suatu tempat di Algeria”. 14

Taheri kemudian menceritakan situasi di Pakistan ketika:
“Kelompok-kelompok Sunni dan Shiah yang bermusuhan mempunyai kebiasaan saling mengirim kepala dari masing-masing aktivis melalui kiriman khusus. Diperkirakan ada lebih dari 400 kepala telah dipenggal dan diposkan sejak 1990”.15

Dan dewasa ini, kita melihat dahsyatnya pemenggalan kepala di pulau Kalimantan, di Indonesia, dimana orang Muslim menggunakan cara ini untuk mengusir mayoritas orang Kristen keluar dari pulau itu. Hampir separuh orang Kristen telah meninggalkan pulau itu.
Dan di balik semua contoh yang mengerikan ini ada juga pemerintah yang memberlakukan pemenggalan kepala setiap minggu yaitu di Arab Saudi. Pemenggalan itu dilakukan setelah sembahyang Jumat tepat di luar mesjid-mesjid:
“Pemerintah Saudi memenggal kepala 52 laki-laki dan 1 wanita tahun lalu atas tuduhan kejahatan seperti pembunuhan, homoseksualitas, perampokan bersenjata dan perdagangan obat terlarang…Si terpidana dibawa ke tempat peradilan dengan tangan terikat, dan dipaksa berlutut di hadapan algojo yang mengayunkan sebilah pedang besar dengan diiringi teriakan massa “Allahu akbar!” yang berarti “Allah Maha Besar!”.16

Allahu akbar juga diteriakkan oleh para pembunuh Nicholas Berg, seorang kontraktor Yahudi-Amerika, dan Kim-Sun-il, seorang penerjemah Korea dan seorang Kristen Injil, yang memimpikan suatu hari akan menjadi seorang misionaris untuk orang Muslim. Impiannya itu terwujud dan berakhir saat itu juga…
Sementara jelaslah sudah apa yang diajarkan oleh sejarah Islam, kita juga perlu memperhatikan apa yang dikatakan oleh para sarjana Islam dan kitab sucinya mengenai hal ini.

NILAI HIDUP SEORANG NON-MUSLIM
Ketika seorang “ekstrimis” Muslim melakukan suatu tindakan yang mengerikan atas nama Islam, kebanyakan orang Muslim yang saya kenal akan segera memberikan pernyataan, “Itu bukan Islam! Islam tidak boleh dihakimi melalui tingkah-laku segelintir orang, namun harus dipelajari agar dapat melihat apa yang sesungguhnya diajarkan Islam”. Itu cukup adil. Maka pertanyaannya adalah: Apakah sesungguhnya yang diajarkan oleh Islam mengenai pembunuhan terhadap orang-orang non-Muslim?
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah bahwa menurut hukum Islam, untuk semua tujuan praktis, orang Muslim diijinkan untuk membunuh non-Muslim. Ini didasarkan atas hukum Qisas. Pada dasarnya Qisas adalah hukum timbal balik. Itu adalah “mata ganti mata” menurut versi Islam. Sebagai contoh, Qisas menyatakan bahwa jika seorang Muslim membunuh sesama Muslim, maka orang Muslim itu harus dieksekusi. Yang mengherankan adalah, hukum ini tidak berlaku pada orang Muslim yang membunuh non-Muslim. Pengajaran ini terdapat dalam sebuah Hadith dari Sahih Bukhari:
“Berkisahlah Ash-Sha’bi: Abu Juhaifa berkata, “Saya bertanya kepada Ali”, Apakah (yang tertulis) pada selembar kertas itu? Ali menjawab, Itu soal Diyya (uang darah sebagai kompensasi yang harus dibayarkan si pembunuh kepada kerabat si korban), tebusan untuk membebaskan tawanan dari tangan para musuhnya, dan hukum yang mengatakan bahwa tidak ada Muslim yang boleh dibunuh dalam Qisas (kesamaan penghukuman) karena membunuh (seorang kafir).17
penekanan oleh penulis

Sudah tentu dalam beberapa kasus, hukuman-hukuman lain seperti pemenjaraan atau denda dapat dikenakan pada si pembunuh. Tapi sedihnya, kenyataan menunjukkan bahwa, dalam kebudayaan yang tidak memandang hidup seorang non-Muslim sama nilainya dengan seorang Muslim, pembunuhan atas non-Muslim seringkali dipandang sebelah mata. Jika anda membuka situs Voice of the Martyrs di www.persecution.org, atau Barnabas Fund di www.barnabasfund.org, anda dapat membaca ratusan kisah yang diperbaharui setiap hari, mengenai orang-orang Kristen yang dizalimi atau bahkan dibunuh tanpa adanya tuntutan hukum terhadap orang-orang Muslim yang melakukan pembunuhan itu. Pernyataan di bawah ini adalah contoh yang sempurna mengenai mentalitas yang sering saya jumpai ketika berbincang dengan banyak orang Muslim dari Timur Tengah. Pernyataan ini dimuat di sebuah kelompok diskusi antar agama di internet. Perhatikanlah sikap yang nampak berkenaan dengan pembunuhan non-Muslim (kafir):
“Orang-orang kafir telah menyerang negara-negara Muslim dan membunuh orang Muslim sejak semula…padahal kami tidak melakukan apa-apa. Contohnya, orang Israel menyerang Muslim dari Palestina karena masalah tanah dan karena mereka membenci orang Arab/Muslim…kami membela mereka bagi Allah. Kami berusaha menyebarkan Islam, satu-satunya perkataan Allah yang benar. Mereka menolaknya, oleh karena itu kami diijinkan untuk membunuh mereka. Tidaklah diharamkan unutk membunuh orang kafir. Sudah tentu kami ingin agar insya Allah (oleh kehendak Allah) hidup damai dengan mereka dan insya Allah mengajarkan pada mereka agama yang indah ini”. 18

Apakah anda melihat mentalitas bengkok yang terekspresi dalam komentar di atas? “Agama yang indah ini” mengijinkan pembunuhan atas orang-orang yang tidak menganutnya???

PANDANGAN QUR’AN MENGENAI PEMBUNUHAN ORANG KAFIR
Ayat-ayat Qur’an yang seringkali dikutip oleh orang-orang Barat untuk menunjukkan sifat bengis agama Islam adalah ayat yang dikenal di dalam dan di luar Islam sebagai “ayat pedang”:
“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyirikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Sura 9:5

Setiap kali ayat ini dikutip, selalu ada Muslim yang menyatakan bahwa ayat ini tidak dapat diterapkan di jaman sekarang. Walau saya akan merasa sangat senang mendengarnya (jika memang demikian), namun pertanyaan yang sebenarnya harus diajukan adalah: Bagaimana para sarjana dan guru-guru Islam menafsirkan ayat ini? Apakah menurut mereka ayat ini masih dapat diaplikasikan pada masa kini? Pada umumya mayoritas sarjana klasik dan modern Muslim akan mengiyakan. Ingatlah bahwa konsep tingkah-laku semua Muslim didikte oleh Qur’an dan Sunnah (perkataan, tindakan dan sikap Muhammad). Dari penjelasan Ibn Kathir, sarjana terkenal abad ke-8, kita dapat mengetahui penafsiran Islam yang sebenarnya mengenai ayat ini. Kathir memulainya dengan memberikan kutipan-kutipan yang dapat mendukung penafsirannya, yang diambil dari beberapa sarjana/narator Muslim Hadith yang mula-mula, seperti: Mujahid, Amr bin Shu’ayb, Muhammad bin Ishaq, As-Suddi dan Abdur-Rahman. Kathir kemudian menjelaskan arti ayat tersebut:
“Ke-4 bulan yang disebut dalam ayat ini adalah 4 bulan masa anugerah yang disebutkan pada ayat sebelumnya: ‘maka berjalanlah kamu di muka bumi selama 4 bulan”. Allah kemudian berkata, ‘apabila sudah habis bulan-bulan itu,’ artinya, pada akhir dari keempat bulan yang dilarang (Allah) bagi kamu untuk memerangi para penyembah berhala, orang-orang Muslim harus, ‘berperang dan membunuh para penyembah berhala dimanapun kamu menemukan mereka’. ‘Dimanapun kamu menemukan mereka’ berarti, di muka bumi secara umum…Allah mengatakan disini, untuk mengeksekusi sebahagian dan sebahagiannya lagi ditawan. ‘Kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian’, artinya, janganlah menunggu sampai kamu menemukan mereka, tetapi cari dan kepunglah mereka di wilayah-wilayah mereka dan benteng-benteng mereka, kumpulkanlah mata-mata terhadap mereka di berbagai jalan dan jalur sehingga apa yang lebar akan terlihat sempit bagi mereka. Dengan demikian, mereka tidak punya pilihan lain, selain mati atau memeluk Islam…Abu Bakr (sahabat dekat dan penerus Muhammad setelah kematian nabi) menggunakan ayat ini dan juga beberapa ayat terhormat lainnya sebagai dasar untuk memerangi mereka yang menolak untuk membayar pajak amal yang diwajibkan. Ayat ini mengijinkan kita untuk memerangi seseorang kecuali, dan hingga mereka memeluk Islam dan menjalankan kewajiban-kewajiban dan peraturan-peraturannya”. 19

Ini sama sekali tidak memberikan ruang untuk berdebat. Ibn Kathir dengan jelas sekali mengemukakannya. Kita lihat bahwa orang-orang Muslim diijinkan bahkan diperintahkan untuk memerangi orang yang tidak beriman (Mushrikun) dan bahkan mencari mereka dimanapun mereka berada untuk memaksa mereka bertobat kepada Islam atau menerima kematian. Sekali lagi harus diperhatikan bahwa Kathir bukanlah seorang Muslim yang “ekstrimis” namun bisa jadi ia adalah salah satu dari sarjana-sarjana Islam yang sangat diakui secara universal.
Ayat lain dalam Qur’an yang juga berkaitan dengan diskusi kita mengenai ayat “pemenggalan” yang keji adalah:
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang tidak beriman (di medan perang) kamu dapat memancung batang leher mereka”. Sura 47:4 (Khalifa)

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir, penggallah kepala mereka”. Sura 47:4 (Rodwell)

Ibn Kathir menjelaskan tujuan dari ayat ini adalah untuk:
“(Menuntun) orang-orang beriman mengenai apa yang harus mereka lakukan dalam peperangan mereka melawan para penyembah berhala. Allah berkata, ‘Maka, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang tidak beriman (dalam peperangan), pancunglah batang leher mereka’, yang berarti, ketika kamu berperang melawan mereka, tebaslah dengan sepenuh hati kepala mereka dengan pedangmu. ‘Sampai kamu sungguh-sungguh telah mangalahkan mereka,’ artinya, kamu telah membunuh dan benar-benar menghancurkan mereka. Ini berkenaan dengan tawanan-tawanan perang yang telah kamu tangkap”. 20

Jadi ketika kita melihat ayat-ayat itu, kita mendapati bahwa orang Muslim diperintahkan untuk memenggal (atau setidaknya “menebas leher”) orang-orang non-Muslim yang mereka perangi. Sheik Omar Bakri Muhammad, hakim pengadilan Syariah (hukum Islam) di Inggris, yang juga adalah Sekjen Liga Dunia Islam dan juru bicara Front Islam Internasional, mempunyai pendapat yang sedikit berbeda:
“Jadi apa keputusannya? Penghukuman terhadap mereka yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan berjuang untuk mebuat kekacauan negeri hanyalah ini, yaitu mereka harus dibunuh atau disalibkan atau tangan dan kaki mereka harus dipenggal pada sisi yang berlawanan atau mereka harus dpenjarakan. Ini akan sangat memalukan mereka di dalam dunia ini, dan di akhirat mereka akan mendapatkan siksaan yang berat”. 21

Setelah meneliti contoh teks-teks islami dan juga pendapat para sarjana, juru bicara dan kaum awam Muslim, kita mendapati bahwa Islam tidak hanya memerintahkan pembunuhan terhadap non-Muslim, namun juga mendukung sebuah kebudayaan dimana membunuh non-Muslim telah menjadi sebuah praktek yang dapat diterima. Namun sebelum kita mengakhiri diskusi ini, ada satu lagi tradisi spesifik yang tentu akan terlaksana jika pribadi Mahdi benar-benar menjadi sebuah kenyataan.

ANCAMAN MATI BAGI MEREKA YANG MENGHINA OTORITAS KALIFAH
Peran kepemimpinan seorang Kalif di dalam Islam adalah sebuah konsep yang sangat kuat. Seorang Kalifah dipandang baik sebagai penerus/pengganti Muhammad dan juga pemimpin semua orang Muslim. Kalifah terakhir yang diterima oleh Sunni dan Shiah yang dipilih secara sah adalah Ali, sepupu dan menantu Muhammad. Ali wafat pada tahun 661 M. Sejak saat itu, ada banyak Kalifah lainnya yang berkuasa, tetapi tak satupun mempunyai pengaruh yang universal seperti yang dimiliki ke-4 Kalifah pertama. Orang Muslim telah menanti-nantikan pemulihan kekalifahan untuk mengembalikan kesatuan dan kepemimpinan kepada Islam di seluruh dunia. Seperti yang telah kita lihat, Mahdi diharapkan untuk memenuhi peran itu. Dalam sebuah Hadith Sahih Muslim, kita membaca tentang penghukuman bagi mereka yang menolak otoritas Kalifah:
“Barangsiapa ingin dilepaskan dari api neraka dan masuk ke dalam taman firdaus harus mati dalam iman kepada Allah dan Hari Kiamat…Dia yang bersumpah bersekutu dengan Kalif harus memberikan padanya ikrar dari tangannya dan ketulusan hatinya (yaitu tunduk kepadanya secara lahiriah dan batiniah). Ia harus menaatinya dengan segala kesanggupannya. Jika ada orang yang maju, membantah otoritas (Kalif)nya, mereka (orang-orang Muslim) harus memenggal kepalanya”.22
penekanan oleh penulis

Pemerintah Arab Saudi menganut pandangan yang demikian. Dalam situs resmi Departemen Urusan-urusan Islam Arab Saudi (IAD), kita menemukan pernyataan yang sama:
“Nabi yang mulia berkata: ‘Adalah kewajiban seorang Muslim mendengar dan menaati (otoritas Kalifah), baik dia suka atau tidak…Orang yang telah bersumpah untuk bersekutu dengan seorang pemimpin (Imam) dan telah menyerahkan tangan dan hatinya kepadanya, harus menaatinya dengan segenap kemampuannya. Jika ada orang yang menentang dan menyaingi otoritas dari pemimpin (Imam) itu, si penentang itu harus dipenggal”.23
penekanan oleh penulis

Berdasarkan huukum Islam, siapapun yang tidak mengakui otoritas Kalif yang telah ditetapkan, haruslah dipenggal.

KESIMPULAN

Kini marilah kita mengulas beberapa hal yang sudah didiskusikan. Pertama, kita telah melihat bahwa akhir jaman seperti yang digambarkan oleh Alkitab adalah suatu masa dimana orang-orang Kristen akan dianiaya dan dibunuh oleh karena iman mereka. Menurut Alkitab, metode spesifik yang digunakan untuk membunuh orang Kristen adalah pemenggalan, sehingga mereka menjadi martir. Seperti yang telah kami gambarkan dengan jelas, tidak dapat disangkal lagi bahwa pemenggalan adalah tradisi yang berkembang di sepanjang sejarah Islam. Islam sendiri telah mendokumentasikan secara menyeluruh kenyataan bahwa Muhammad dan para penerusnya mempraktekkan pemenggalan kepala sebagai metode spesifik untuk membunuh “musuh-musuh Islam”. Praktek ini terus berlanjut dalam beberapa periode Islam hingga pada hari ini. Qur’an sendiri sesungguhnya menganjurkan pemenggalan, atau setidaknya, “menebas leher” dari “para penyembah berhala” dan siapapun yang menjadi “tawanan perang”. Kami mencatat beberapa contoh pemenggalan terhadap para “tawanan perang” yang baru-baru ini diberitakan di Irak dan di berbagai tempat lainnya. Hukuman mati juga dijatuhkan atas mereka yang tidak mau tunduk atau setuju dengan otoritas Kalifah. Maka sangatlah adil untuk berasumsi bahwa dalam visi Islam mengenai akhir jaman, jika seorang Kalifah, terutama Mahdi muncul dan menerima gagasan bahwa semua orang Kristen, Yahudi, bangsa Israel, dan siapapun yang mendukung mereka dianggap sebagai “musuh-musuh Islam”, maka secara universal adalah sah bahkan diwajibkan bagi semua Muslim untuk “memerangi” dan “menebas leher” semua orang Kristen, Yahudi, atau orang Barat, dan sebagainya; dan juga siapapun yang menentang otoritas Kalifah.
Maka sekali lagi, praktek dan pengajaran Islam sepenuhnya menggenapi gambaran kekuatan yang akan berkuasa dan mendominasi dunia menurut skenario Alkitab tentang akhir jaman. Setelah melihat teks-teks Islam yang mempunyai natur membunuh, dan juga penafsiran Islam terhadap teks-teks itu, penting bagi kita untuk melihat realita bagaimana mentalitas seperti itu diwujudkan dalam pikiran seorang Muslim awam dari Timur Tengah. Berikut ini adalah sebuah posting dari dewan pesan internet islami/antar agama. Ini adalah jenis posting yang terlalu umum untuk forum-forum semacam itu. Kita mengakhiri pasal ini dengan pemikiran-pemikiran seorang Muslim berkenaan dengan pembunuhan Daniel Pearl, seorang jurnalis Amerika yang telah dibantai:
“Pertama-tama, Pearl adalah seorang Yahudi, seorang Munafik, seorang mata-mata, dan seorang kafir. Janganlah tertipu oleh orang-orang seperti itu. Kebencian mereka terhadap Islam dapat terlihat dari mulut mereka, dan apa yang ada dalam hati mereka lebih buruk lagi. Saya tidak dapat melihat pembantaian sebagai hal yang keji…Dalam Islam, kami…bahkan tidak diperbolehkan menyiksa orang kafir – kami hanya menggorok lehernya, dan sudah dibuktikan bahwa jika anda telah memotong titik tertentu di leher, maka mereka tidak akan merasa sakit…dan ingatlah ketika kami orang-orang Muslim menangkap seorang Muslim yang munafik, kami akan melakukan hal yang sama padanya, kami membantainya. Apa yang anda pikirkan mengenai seorang Yahudi yang kotor, seorang munafik yang bodoh, seorang agen ganda, dan seorang kafir? Kami melakukan hal yang sama padanya. Walhamdulilah (Syukur kepada Allah). Dan ingatlah Rasul (Muhammad) membantai sejumlah besar orang Yahudi dalam sebuah peperangan; ciptaan yang terbaik melakukan hal ini, karena orang-orang Yahudi menikam nabi Muhammad dari belakang. Dan jika menurut anda ini adalah perbuatan yang keji, Insyaallah (saya berharap dengan kehendak Allah), anda masih bisa tetap hidup ketika Mahdi datang karena anda akan melihat banyak kepala orang Yahudi/munafiqqin (munafik) berserakan di lantai”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar