Sabtu, 10 Mei 2008

Richelle Santos, Gadis Filipina

Selasa, 22 April 2008 
Semenjak kecil, dia hidup dalam keluarga Katolik yang ketat. Ia bahkan dimasukkan sekolah biarawati. Tapi Allah berkehendak lain. Ia justru lebih memilih Islam
Oleh: M. Syamsi Ali 
Masih ingat sekitar setahun lalu, the Islamic Forum kedatangan peserta baru yang hampir saya sangka seorang santria dari Indonesia. Seorang gadis pendiam dengan kerudung rapi ala Indonesia duduk di salah satu sudut ruangan dengan malu tapi selalu tersenyum.
"Sorry, are you….from Indonesia?", tanyaku suatu ketika.
"Oh no! I am an American", jawabnya dengan pelan dan suara lembut.
"Tetapi anda terlihat sangat Asia. Jadi, apa latar belakang sukuan asli anda?" tanyaku lagi.
"Saya asli Filipina. Saya datang ke sini ketika masih berusia 5 tahun bersama ibu saya, " jelasnya.
Demikianlah Richelle Santos memulai pengenalan dirinya dengan kami di Islamic Center.  Richele masih relatif muda, tapi saat ini sudah bekerja di sebuah perusahaan sebagai finance analyst.
Alumni New York City University ini tinggal sendiri karena ibunya kemudian menikah lagi dan nampaknya suasana rumah tangganya tidak kondusif baginya untuk tinggal bersama.
Sekolah Biarawati
Selepas sekolah dasarnya, Richelle yang ibunya beragama yang Katolik sangat kuat memasukkannya ke sebuah sekolah pelatihan menjadi biarawati. Richelle bercerita, ketika dirinya berumur sekitar 11 tahun, ibunya sangat mengkhawatirkan bahwa dirinya akan jatuh dalam pergaulan yang salah. Untuk itu, dia disekolahkan di sebuah sekolah Katolik pelatihan biarawati di kota Manhattan.
Richelle menceritakan bagaimana ketatnya peraturan saat dia menimba ilmu di tempat tersebut. "Saya hampir tak bertahan dalam beberapa hari", katanya.
Saya jadi teringat di hari-hari pertama tinggal di pondok pesantren. Hingga hari ini selalu saya sebut sebagai "a divine jail" (penjara suci) karena betapa susahnya menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Apalagi jika memang seseorang sudah di set dengan dunia tertentu.
"Dan akhirnya Anda menyelesaikan sekolah itu?" tanyaku suatu ketika.
"Not really…saya hanya tinggal lebih dari dua tahun di sekolah tersebut, jujur saja,  aku tidak pernah serius di dalam  studi ," katanya.
Setelah saya tanya lebih jauh, ternyata jawabannya adalah karena dari pagi hingga sore dia diindoktrinasi dengan konsep-konsep yang dia sendiri tidak pernah yakini. "All those did make sense at all to me", katanya singkat.
Maka setelah dua tahun bertahan di sekolah Katolik pendidikan biarawati, Richelle meminta kepada ibunya untuk sekolah di sekolah umum. Untuk pertama kali ibunya menolak, tapi setelah Richelle menjelaskan banyak hal, termasuk beberapa bentuk pergaulan di asrama yang sama sekali tidak masuk akal, ibunya menuruti.
Demikian dari Sabtu ke Sabtu Richelle mengikuti dialog di Islamic Forum. Walaupun sangat pintar, tapi tidak pernah mengajukan pertanyaan kecuali jika dipancing. Mungkin darah Asia-nya masih sangat kental sehingga nampak sekali sangat malu dan sopan santun. 
Beberapa kali Richelle juga menghadiri acara yang dilakukan di masjid Al-Hikmah, milik masyarakat Muslim Indonesia di New York. Salah satunya di saat masjid Al-Hikmah menjadi tuan rumah bagi tamu pembicara terkenal, Sr. Aminah Assilmi, mantan penganut Kristen radikal yang memeluk Islam dan saat ini menjadi seorang muballiggah yang go international.
Saat itu nampak Richelle menyimak kata per kata yang keluar dari mulut Sr. Aminah Assilmi. Bahkan nampak mencatat poin-poin penting yang disampaikan oleh beliau. Setelah selesai ceramah, sambil bercanda saya bertanya: "Apakan Anda akan menirunya di masa depan?". Richelle hanya menjawab dengan senyuman.
Big Day for me
Tiga minggu lalu, Richelle hadir agak pagi ke Islamic Center. Saya sendiri biasanya sibuk dengan weekend school tidak terlalu menghiraukan. Tapi sepintas saya melihat kepadanya dan nampak seperti gelisah. Menjelang shalat Zuhur saya bertanya: "what happens Richelle? I saw you a kind of …..".
Rupanya, belum tuntas saya bertanya kepadanya, Richelle sudah menjawab: "Oh no! I am fine", jawabnya seolah menyembunyikan sesuatu.
Shalat Zuhur dimulai. Richelle hanya duduk sendirian di kelas. Rupanya siang itu tidak terlalu peserta Islamic Forum yang mengikuti kelas. Saya memulai kelas siang itu dengan bahasa Arab (membaca Al-Quran), dilanjutkan dengan tafsir Q.S. Al-Hujurat. Richelle nampak serius mencatat hampir semua poin-poin penting yang saya sampaikan.
Tiba-tiba saja, di saat saya memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya, Richelle nampak mengalirkan air mata, sambil tersenyum malu, mengatakan: "Imam Shamsi, I want to convert!". (Ustad, saya ingin pindah agama!)
Semua yang hadir langsung terperanjat. Biasanya, keinginan untuk masuk ke Islam itu disampaikan setelah kelas, atau datang sendiri. Kali ini Richelle menyampaikan di tengah-tengah kelas masih berlangsung.
Lansung saja yang keluar dari mulut saya: "Alhamdulillah Richelle! Saya benar-benar sangat berbahagia mendengarnya.  Akhirnya Allah menunjukkan hatimu dan sekarang iman itu sedang kamu temukan."
Saya kemudian mengalihkan pembahasan siang itu dari Q.S. Al-Hujurat dan menjelaskan apa makna berislam. Saya yakin penjelasan saya sudah didengar berkali-kali oleh Richelle selama ini, tapi saya ingin untuk mengingatkan kembali.
Saya kemudian bertanya sekali lagi kepada Richelle. ""Anda telah bersama kita hampir dua tahun. Apa yang sesungguhnya anda temukan di dalam agama ini ?"
"Oh, aku pikir aku harus jujur. Dari sangat semula aku bergabung di kelas mu, aku telah dibuat kagum oleh pengajarannya. Aku tidak memiliki hal untuk menentangnya.", jelasnya.
"But what really makes you take too long to decide?", tanyaku lagi.
"Aku berpikir aku hanya merencanakan sesuatu dengan pasti bahwa aku dengan penuh kesadaran akan segala sesuatu memerlukanku sebagai seorang Muslim. Aku perlu untuk mengetahui tentang larangan dan perintah. Maka Saya dapat mencoba untuk mengikutinya dalam  kehidupan ku", jelasnya.
Langsung saja saya meminta kepada hadirin untuk menjadi saksi. Tapi tidak lupa saya sampaikan ke Richelle bahwa Allah in the best witness. Seraya mebiarawatiduk, Richelle dengan berlinang airmata mengikuti ikrar tauhid:
"Laa ilaaha illa Allah-Muhammad Rasul Allah".
Yang saya rasakan adalah ketulusan dan kemantapan hati dari Richelle dalam menerima Islam. Siang itu, ruangan kelas the Islamic Forum memang terharu. Hampir semua yang hadir ikut meneteskan airmata karena tersentuh dengan linangan airmata Richelle. Dia hanya sempat menyelah sambil mengusap airmata: "Today is a big day for me!".
Semoga engkau, Richelle, dikuatkan dan selalu dijaga dalam menjalani agamaNya. [www.hidayatullah.com]
New York, 14 April 2008
Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar