Rabu, 24 Maret 2010

Perbandingan Kisah Quran dan Alkitab

Nuh dan Air Bah
Pembuatan kapal, diselamatkannya semua binatang, banjir besar, semuanya yang ditulis dalam Quran sebagian diambil dari Genesis (Kitab Kejadian). Ketika kesadaran akan kemustahilan kisah ini muncul, orang Kristen tidak lagi menganggap kisah ini secara harafiah; kecuali, tentu saja para fundamentalis, yang masih banyak berkeliaran setiap tahun mencoba mencari sisa puing-puing kapal nabi Nuh atau Noah. Kaum muslim, dilain pihak, sepertinya kebal dari pemikiran rasional, dan menolak mencari bukti-bukti utk ini. Saya akan mengeluarkan pendapat yang menunjukkan kemustahilan legenda ini, meski kelihatannya saya seperti berusaha memaparkan kebohongan dari sesuatu yang sudah jelas bohongnya tapi saya harap akan lebih banyak orang berusaha seperti saya ini dan semakin sering lagi melakukannya.

Nuh diminta untuk membawa ke dalam kapalnya sepasang binatang dari semua spesies (Surah 11.36-41). Para ahli hewan[58] memperkirakan mungkin ada 10 juta spesies untuk serangga saja; apa mereka semua masuk ke dalam kapal? Benarkah serangga saja tidak menghabiskan tempat kapal? Mari kita fokus pada spesies yang lebih besar ukurannya: reptil ada 5.000 spesies; burung 9.000 spesies; lalu 4.500 spesis kelas mamalia (hal 239). Semuanya dalam data ‘phylum chordata’ (jenis binatang menengah) ada sekitar 45.000 spesies (hal.236). Seberapa besar kapal itu hingga bisa membawa sekitar 45.000 spesies binatang? Masing-masing sepasang, jadi ada sekitar 90.000 ekor binatang ukuran sedang, mulai dari ular sampai gajah, burung sampai kuda, kuda nil sampai badak. Bagaimana bisa Nuh mengumpulkan mereka secepat itu? Berapa lama dia menunggu dua ekor Sloth yang beringsut secara pelahan dari amazon ke tempatnya? Bagaimana kanguru bisa keluar dari benua australia yang berupa pulau? Bagaimana beruang kutub tahu lokasi kapalnya Nuh? Seperti Robert Ingersoll[59] tanyakan “adakah kemustahilan yang lebih hebat dari ini?” Misal jika kita menerima kisah ini tidak secara harafiah, atau kita memelesetkan dengan jawaban yang samar-samar, seperti: “Bagi Tuhan semuanya itu mungkin”. Kenapa Tuhan memilih cara yang sulit, penuh komplikasi dan makan waktu (setidaknya untuk Nuh) ini? Kenapa tidak selamatkan saja Nuh dan orang-orang yang saleh dengan mukjijat yang cepat daripada usaha yang berpanjang-panjang ini?

Tidak ada bukti geologis yang mengindikasikan pernah terjadi Banjir Besar. Memang ada bukti banjir lokal tapi bukan yang menutupi seluruh muka bumi, bahkan menutupi Timur Tengah saja tidak ada. Kita sekarang tahu bahwa kisah Air Bah dalam Bible, dimana Quran mencurinya, berasal dari legenda Mesopotamia: “Tidak ada bukti apapun yang merunut terjadinya air bah yang sama dalam kisah-kisah Mesopotamian dan Yahudi; Fiksi Yahudi kemungkinan berkembang dan berasal dari legenda Mesopotamia. Kisah-kisah ini adalah fiksi dan bukannya sejarah.” [60]

Daud dan Mazmur
Quran juga meminta muslim utk percaya bahwa Daud ‘menerima’ wahyu bernama/dinamai Mazmur/Zabur sama persis seperti cara Musa menerima Torah (Surah 4.163-65). Tapi sekali lagi scholar Bible meragukan Daud menulis sebanyak itu. Daud mungkin hidup sekitar tahun 1.000 SM, tapi kita tahu bahwa Mazmur/Zabur digabungkan belakangan pada perioda post-exilic (setelah pengasingan), yaitu sekitar 539 SM:
Kitab Mazmur terdiri dari lima kumpulan himne, kebanyakan ditulis untuk dipakai pada kuil kedua (Kuil Zerubbabel). Meski puisi-puisinya yg sangat kuno itu mungkin diadaptasi dalam beberapa kesempatan, tapi kumpulan ini muncul dalam satu kesatuan, atau hampir dalam satu kesatuan, ketika post-exilian (setelah pengasingan/pembuangan). Mungkin tidak ada satupun Mazmur harus disebut berasal dari Daud. Beberapa diantaranya, yang memuji-muji kerajaan yang sangat ideal, sepertinya ditulis sebagai penghormatan bagi salah satu raja Hasmonean (142-63 SM).[61]

Adam dan Evolusi, Kosmologi Penciptaan dan Modern
Banyak muslim belum bisa menerima fakta evolusi… Kisah Adam dan Hawa… tidak punya tempat dalam catatan sains mengenai asal muasal umat manusia. - Watt.[62]
Quran memberi kita cerita yang kontradiksi tentang penciptaan, hingga menimbulkan masalah besar bagi para penafsirnya.
[50.38] Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan.

[41.9-12] Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu- sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam". Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Dua hari untuk menciptakan bumi, empat hari untuk makanan, dan dua hari untuk tujuh langit, total jadi delapan hari (Surah 41), dimana dalam surah 50 kita diberitahu bahwa penciptaan terjadi dalam enam hari saja. Ini semua ada diluar jangkauan para komentator/penafsir hingga mereka tidak mampu menerapkan sulap jungkir balik agar bisa menjelaskan dan keluar dari kebodohan pertentangan ini. Langit bumi dan para makhluk didalamnya adalah bukti dari keberadaan Tuhan dan KekuasaanNya (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2, 4); [21.16] “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” Manusia dan Jin telah ditetapkan kewajiban spesial untuk menyembah Tuhan, dan meski kepatuhan pada hukum Tuhan pertama-tama ditawarkan pada langit dan bumi dan gunung- gunung, tapi manusialah yang menerimanya setelah langit bumi dan gunung menolaknya (Surah 33.72) (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2,4)

Bagaimana pendapat kita tentang doktrin aneh ini? Langit, bumi dan gunung-gunung dianggap sebagai makhluk, dan terlebih lagi sebagai makhluk yang punya keberanian untuk menolak dan tidak patuh pada Tuhan! Tuhan Maha Kuasa yang menciptakan jagat raya bertanya, apa mereka (langit, bumi dan gunung) mau menerima ‘kepercayaan’ atau ‘iman’, dan ciptaanNya sendiri itu ternyata menolak menerima beban ini.

Penciptaan dilakukan oleh perkataan Auwloh, “Jadilah,” karena segala sesuatu adalah atas kehendakNya. Sebelum penciptaan singgasanaNya mengambang diatas air dan surga dan bumi masih berupa satu kumpulan (air). Auwloh memisahkan mereka, langit dibangun dan dibentangkan sebagai atap yang melindungi, tanpa cacat, yang dia angkat keatas bumi dan diam diatas sana tanpa tiang- tiang, sementara bumi dibentangkan dan gunung-gunung dipasang pada permukaannya sebagai pasak agar mencegah bumi bergerak ketika makhluk-makhluk hidup bergerak diatasnya, karena dunia terdiri dari tujuh bumi. Juga dua lautan dilepas bersisian satu sama lain, satu air tawar yang lain air garam, tapi dengan sebuah penghalang diantaranya hingga mereka tidak bisa bersatu. (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2, 5)

Bumi yang diciptakan pertama, lalu langit. Bulan diberi sinarnya sendiri (Surah 10.5), dan padanya dicanangkan “agar berubah seperti batang palem yang melipat dan menua, agar manusia bisa mengetahui jumlah tahun dan menghitung darinya” (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2,5). Sedang mengenai Adam, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani dalam tempat yang kokoh. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang lain. Maka Maha Suci lah Auwloh, Pencipta Yang Paling Baik.” [Surah 23.12-14]
Kisah lain menceritakan pada kita bahwa manusia diciptakan dari sperma (cairan hina) (Surah 77.22), dan lagi versi lainnya bahwa semua makhluk hidup diciptakan dari air seperti juga seluruh isi jagat raya ini (21.30, 25.54, 24.45). Binatang diciptakan khusus bagi umat manusia; manusia adalah tuan dari para binatang ini: “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka, maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman.” [Surah 36.71-73]

Jin diciptakan dari api, sebelum manusia diciptakan dari tanah. Mereka hidup dibumi bersama manusia. Para penafsir muslim tidak punya masalah mengenai kontradiksi yang jelas ini, seorang pembaca sains modern dan terpelajar bahkan tidak akan capek-capek mencari kebenaran sains kisah penciptaan samar dan membingungkan itu. Malah, kesamaran itulah yang membuat orang bisa mencari apapun yang dia ingin temukan dalam mitos-mitos, legenda dan takhyul-takhyulnya. Jadi, banyak muslim percaya pada keseluruhan ‘pengetahuan’ yang ada dalam Quran atau hadis. Seperti kata Ibn Hazm, “Fakta apapun itu yang bisa dibuktikan dengan akal, ada dalam Quran atau dalam perkataan sang Nabi, semuanya jelas- jelas dimaksudkan untuk itu.”

Setiap kali ada penemuan sains baru, misal fisika, kimia atau biologi, para pembela muslim akan berlomba-lomba meneliti Quran untuk mencari dan membuktikan bahwa penemuan tersebut sudah pernah ada dituliskan didalamnya; segala sesuatu mulai dari listrik hingga teori relativitas (Ascha, Ghassan. Du Status inferieur de la Femme en Islam. Paris, 1989. hal.14). Para muslim ini menunjuk tulisan Quran mengenai asal muasal makhluk hidup yang berasal dari air (surah 21.31), dan ide baru-baru ini di bidang biologi yang menyatakan bahwa hidup dimulai, dengan meminjam perkataan Darwin, dalam “sebuah kolam kecil yang hangat.” Dugaan penemuan sains lainnya dirasa telah ada dalam Quran termasuk penyerbukan tanaman oleh angin (surah 15.22) dan cara hidup lebah (surah 16.69). Tak ragu lagi ketika mereka mendengar seorang ahli kimia Glasgow, A.G. Cairns-Smith yang menyatakan bahwa jawaban teka-teki asal muasal kehidupan mungkin ada pada tanah lempung biasa, para pembela muslim langsung loncat mengiyakan dan melompat-lompat gembira merasa menang dan menunjuk pada doktrin Quran bahwa Adam diciptakan dari tanah lempung (Dawkins, Richard. “A Deplorable Affair.” Dalam New Humanist, vol.104, London, May 1989. hal 148-165).

Karena para muslim masih juga memakai kisah-kisah Quran secara literal, saya jadi punya kewajiban untuk menunjukkan bagaimana hal itu tidak sejalan dengan pendapat sains modern mengenai asal muasal jagat raya dan kehidupan di bumi. Bahkan dalam memakai istilahnya sendiri kisah Quran tidaklah konsisten dan penuh kemustahilan. Kita telah catat pertentangan mengenai lamanya penciptaan. Katanya Auwloh hanya bilang “Jadilah,” (kun-fayakun) dan kehendakNya langsung terwujud, tapi kok butuh waktu enam hari utk mencipta langit. Juga, gimana bisa ada ‘hari/masa’ sebelum penciptaan bumi dan matahari, padahal ‘hari/masa’ itu adalah pewaktu yang kita pakai berdasarkan perputaran bumi pada sumbunya? Kita juga diceritakan bahwa sebelum penciptaan, singgasana Tuhan mengambang diatas ‘air’. Darimana ‘air’ ini muncul sebelum penciptaan? Keseluruhan gagasan tentang singgasana Tuhan ini melulu berkarakter manusia tapi dipakai begitu saja oleh orang-orang ortodoks. Lalu kita punya beberapa cerita tentang penciptaan Adam. Menurut Quran, Auwloh menciptakan bulan dan fase-fasenya agar manusia tahu jumlah tahun (Surah 10.5). Lagi-lagi ini hanya gagasan bagi orang Arab yang primitif, karena semua kemajuan peradaban Babylonia, Mesir, Persia, China dan Yunani saat itu juga sudah memakai matahari untuk menunjukkan waktu mereka.

Mari kita berpaling pada kisah modern mengenai asal muasal jagat raya.
Di tahun 1929, Edwin Hubble mempublikasikan penemuannya bahwa galaksi terjauh ternyata menjauh dari bumi dengan kecepatan yg proporsinya sama dengan jauhnya mereka dari bumi. Hukum Hubble menyatakan bahwa kecepatan resesional (V), dari sebuah galaksi berhubungan dengan jaraknya (r), dari bumi dengan persamaan:
V = Ho . r, dimana Ho adalah konstanta Hubble.
Dengan kata lain, hukum Hubble mengatakan bahwa jagat raya ini membesar/mengembang. Seperti Kaufmann katakan[63]: “Jagat raya telah mengembang selama milyaran tahun, jadi pastinya ada satu saat dimasa lalu dimana semua materi dijagat raya dikonsentrasikan dalam sebuah keadaan padat yang tak terbatas. Mestinya ada semacam ledakan kolosal yang pasti memulai mengembangnya jagat raya ini. Ledakan ini yang biasa disebut Big Bang menandai dimulai terciptanya jagat raya ini.” Umur Jagat raya ini telah dihitung ada sekitar lima belas sampai dua puluh milyar tahun.

Sebelumnya, sekitar 10 detik setelah terjadinya Big Bang, biasa disebut Waktu Planck, jagat raya ini begitu padatnya hingga hukum fisika tidak berlaku untuk menjelaskan gerak laku ruang, waktu dan materi. Selama jutaan tahun pertama, materi dan energi membentuk sebuah plasma padat (disebut bola api primordial), terdiri dari foton energi-tinggi yang bertumbukkan dengan proton dan elektron. Sekitar satu juta tahun setelah Big Bang, proton dan elektron akan bergabung membentuk atom hidrogen. Tapi kita harus menunggu sekitar 10 milyar tahun sebelum sistem tata surya kita ada terbentuk. “Sistem tata surya kita dibentuk dari materi yang diciptakan dalam bintang- bintang yang menghilang milyaran tahun lalu. Matahari adalah bintang yang relatif muda, hanya berumur lima milyar tahun. Semua elemen- elemen selain dari hidrogen dan helium dalam sistem tata surya kita tercipta dan dibentuk oleh bintang-bintang kuno selama 10 milyar pertama keberadaan galaksi kita. Kita sebenarnya tercipta dari debu bintang.” (Kaufmann, W.J., III. Universe. New York, 1985. hal 110).

Sistem Tata Surya dibentuk dari sebuah awan gas dan debu, yang disebut Solar Nebula, yang bisa dijelaskan sebagai sebuah “piringan berputar yang terbuat dari sesuatu yang seperti kepingan salju dan es yang dibungkus oleh partikel debu.” Planet-planet dalam, Mercurius, Venus, Bumi dan Mars dibentuk lewat pertumbuhan dari partikel- partikel debu hingga ukurannya menjadi seukuran planet (planetesimal) dan lalu menjadi protoplanet yang lebih besar. Planet- planet luar, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto, dibentuk dari pemisahan nebula luar menjadi cincin gas dan es terbungkus debu yang bersatu menjadi protoplanet raksasa. Matahari terbentuk dari tumbuhnya titik pusat nebula. Setelah sekitar 100 juta tahun, temperatur dari pusat protosun (matahari muda) telah cukup tinggi untuk memicu reaksi termonuklir. (Kaufmann, W.J., III. Universe. New York, 1985. Hal 116).

Cerita-cerita ini, parahnya, sama sekali berbeda dengan kisah yang dituliskan dalam Quran. Bumi tidaklah, seperti kata Quran (surah 41.12), diciptakan sebelum langit; kita telah catat bahwa matahari dan sistem tata surya dibentuk jutaan tahun setelah Big Bang, jutaan bintang lainnya juga sudah dibentuk sebelum matahari kita. Terlebih lagi, istilah ‘langit’ sangatlah samar; apa ini artinya sistem tata surya kita? Galaksi kita? Jagat raya? Jungkir balik gimanapun tidak akan bisa mengerti kisah Quran mengenai penciptaan langit dalam enam, delapan atau dua hari. Sinar bulan, tentu saja, bukanlah sinarnya sendiri (surah 10.5), tapi pantulan sinar matahari. Bumi mengorbit matahari dan bukan sebaliknya.

Mereka yang tergoda untuk mencari dalam Quran segala macam ayat yang nyerempet-nyerempet Big Bang harusnya sadar bahwa kosmologi dan fisika modern umumnya didasarkan pada matematik. Tanpa pengembangan dalam bidang matematik, khususnya di abad 17 (kalkulus misalnya), kemajuan dan pengertian tidaklah mungkin tercapai. Sebaliknya dari kesamaran isi Quran, Big Bang dalam formula kosmologi modernnya menyatakan dengan sangat teliti memakai matematik tingkat tinggi; tentu saja sangatlah tidak mungkin menyatakan gagasan-gagasan demikian dalam pernyataan yang dangkal tanpa kehilangan ketelitiannya.

Asal Muasal Kehidupan dan Teori Evolusi
Bumi terbentuk sekitar 4.5 milyar tahun lalu, dan mungkin kurang dari 1 milyar tahun kemudian kehidupan muncul diatasnya untuk pertama kali setelah perioda evolusi kimia terjadi. Seorang ahli biokimia Rusia, Oparin, berpendapat dalam buku The Origin of Life (1938) bahwa bumi primitif terdiri dari elemen-elemen kimia yang bereaksi terhadap radiasi luar angkasa dan juga energi yang bersumber dari terestrial (bumi itu sendiri). “Hasil dari aktivitas fotokimia yang lama, campuran inorganik membangkitkan senyawa organik (termasuk amino acid yang menjadi struktur pembentuk molekul protein makhluk). Seiring waktu dan proses pemilihan kimia, sistem organik ini lalu bertambah stabil dan kompleks, menjadi makhluk hidup pelopor dari segala makhluk.”[64] (Birx, H. Art. “Evolution and Unbelief”. Dalam Encyclopaedia of Unbelief, volume 1. hal 417-418). Sejak jamannya Oparin, banyak ilmuwan (Miller, Fox, Ponnamperuma) berhasil memproduksi senyawa organik dari benda non organik di laboratorium.

Kontroversi masih mengitari penjelasan biokimia mengenai asal muasal kehidupan diplanet bumi, khususnya tentang apakah sesuatu yang mirip dengan molekul DNA/RNA muncul terlebih dulu atau malah mungkin amino acid dasar yang dibutuhkan bagi sintesa protein yang lebih dulu ada. Makhluk hidup muncul ketika sistem organic mulai mempunyai kemampuan untuk melakukan metabolisme dan reproduksi; perkembangan dari sintesa inorganik dari evolusi kimia merintis jalan bagi evolusi biologi dan berikutnya kemampuan adaptasi menjadi semakin kompleks dan mengalami perubahan bentuk. (n.d., hal 419)

Ditahun 1859, Darwin mempublikasikan karyanya “In the Origin of Species by Means of Natural Selection, or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life”. Dalam kata pendahuluannya Darwin menulis: [65]
Dalam mempertimbangkan asal-usul Spesies, sangat mungkin seorang naturalis memakai pemikiran mengenai daya tarik menarik mutual antara makhluk-makhluk hidup, dalam hubungan embriologinya, distribusi geografiknya, suksesi geologisnya dan fakta-fakta lain, ini mungkin akan sampai pada kesimpulan bahwa tiap spesies tidaklah secara tersendiri atau khusus diciptakan tapi merupakan hasil penurunan, seperti juga keanekaragaman species-species lain. Namun, kesimpulan demikian, meskipun misalnya punya dasar, masihlah tidak memuaskan sampai bisa ditunjukkan betapa species- species yang tak terhitung banyaknya ini telah termodifikasi, hingga mendapatkan struktur dan ko-adaptasi sempurna yang membuat kita kagum.

Jawaban Darwin untuk pertanyaannya sendiri “Bagaimana evolusi itu terjadi” tentunya adalah Seleksi Alam. Spesies adalah hasil dari proses panjang seleksi alam yang bertindak mengubah atau/dan mempertahankan “variasi-variasi warisan, random dan yang sering muncul”.[66] Darwin mengatakannya demikian:
Seiring banyaknya spesies terlahir dan bertahan hidup; akibatnya ada pergumulan yang selalu muncul untuk bagaimana agar bisa bertahan hidup, ini semua mengikuti sebuah pola bahwa makhluk apapun meski dari spesies yang sama, jika berbeda sedikit saja, berbeda dalam arti yang menguntungkan baginya dibanding spesies aslinya, menguntungkan dia dalam mengarungi kondisi hidup yang kompleks dan kadang berbeda, maka ia akan mempunyai kesempatan hidup yang lebih baik dari yang lainnya, dengan demikian makhluk unik itu adalah hasil dari seleksi alam. Dari prinsip keturunan, keberbedaan yang dipilih alam itu cenderung akan meneruskan bentuk barunya yang sudah lebih baik itu.[67]

Implikasi dari teori evolusi pada posisi manusia di alam sudah jelas. Darwin sendiri mencatat bahwa “Kesimpulan bahwa manusia adalah keturunan dari spesies lain yang lebih purba, lebih rendah dan bentuk yg sudah punah dalam tingkat apapun bukanlah hal baru. Lamarck jauh-jauh hari sudah menyimpulkan demikian, belakangan dipertahankan oleh beberapa naturalis dan filsuf terkenal; contohnya, Wallace, Huxley, Lyell, Vogt, Lubbock, Buchner, Rolle &c., dan khususnya Haeckel.”

Di abad 18 de Lamettrie telah mengklasifikasikan manusia sebagai binatang dalam L’Homme Machine (1748). Linnaeus (1707-1778) telah mengklasifikasikan manusia dengan kera yg mirip manusia seperti Anthropomorpha. T.H. Huxley dalam karya terkenalnya “Man’s Relations to Lower Animal,”[68] memulai penuturannya dengan melihat pada perkembangan indung telur seekor anjing lalu menyimpulkan bahwa.

Sejarah perkembangan binatang vertebrata lainnya, kadal, ular, katak, atau ikan, semuanya mengungkapkan hal yg sama. Selalu dimulai dari sebuah indung telur yang punya struktur penting sama seperti pada anjing: - bagian kuning telurnya selalu mengalami pembelahan atau segmentasi, ..… produk mutakhir dari segmentasi itu merupakan materi pembangun tubuh binatang-binatang muda; dan ini dibangun dari awal yang primitif, dari dasar dimana notochord (tulang rawan pembentuk kerangka) dikembangkan. Lalu ada perioda dimana masa bayi dari binatang-binatang ini mirip satu sama lain, tidak hanya dari bentuk luar tapi dari struktur-struktur pentingnya, begitu mirip hingga perbedaannya kadang tidak terlihat, sementara dalam perkembangan berikutnya mereka mulai menunjukkan perbedaan satu dari yang lainnya.

Dengan demikian studi perkembangan ini memberi sebuah ujian yang jelas akan dekatnya struktur pertalian keturunan dan kita jadi mulai bertanya apa hasil yang didapat dari studi tentang Manusia ini? Apa manusia sama sekali berbeda? Apa asal usul manusia sama sekali berbeda dari Anjing, Burung, Katak dan Ikan, hingga membenarkan mereka yang mengatakan bahwa kita tidak berasal dari alam dan tidak punya pertalian keturunan dengan dunia binatang yang lebih rendah? Atau benarkah kita berasal dari sel yang sama, yang diturunkan lewat proses panjang dan pelahan – yang tergantung pada nutrisi dan proteksi dan akhirnya memasuki dunia sebagai manusia lewat mekanisme yang sama? Jawabannya tidaklah meragukan untuk sementara ini, dan juga tidak meragukan selama puluhan tahun belakangan ini. Tanpa ragu lagi tahap asal muasal dan perkembangan manusia identik dengan binatang yang berada ditingkat bawahnya – tanpa ragu pula, manusia jauh lebih dekat pada monyet dibandingkan monyet pada anjing.

Ada banyak alasan untuk menyimpulkan bahwa perubahan (ovum manusia) mengalami proses yang sama dengan yang dialami oleh ovum dari binatang bertulang belakang lainnya; karena materi pembentuk bahan dasar tubuh manusia dalam kondisi paling awalnya, seperti yang telah diteliti, sama dengan binatang-binatang lainnya.

Tapi, persis disana jugalah perkembangan manusia berbeda dari anjing, manusia lebih mirip dengan monyet, dimana monyet punya yolk-sac yang spheroid (bulat) dan placenta yang discoid (seperti disc). Jadi hanya tahap selanjutnya saja yang membuat manusia berbeda dari monyet, sementara monyet sangat jauh berbeda perkembangannya dari anjing, seperti juga manusia terhadap anjing.

Mungkin ini mengejutkan, tapi telah didemontrasikan dan terbukti benar dan itu saja cukup bagi saya untuk menyimpulkan tanpa ragu akan kesamaan struktur manusia dengan binatang-binatang diseluruh dunia, khususnya dan paling dekat dengan monyet.
Bukti untuk teori evolusi datang dari banyak disiplin bidang ilmu sains: sistematis, geopaleontologi, biogeografi, studi perbandingan biokimia, serology, immunology, genetika, embryologi, parasitologi, morphology (anatomi dan fisiologi), psikologi, dan ethologi.

Bukti-bukti ini menunjuk arah yang sama yaitu manusia, seperti juga makhluk hidup lainnya, adalah hasil dari proses evolusi dan keturunan dari nenek moyang mirip monyet dan tentunya bukanlah hasil dari Penciptaan Khusus. Dalam konteks ini, membicarakan tentang Adam dan Hawa seperti yang ada dalam Bible dan Quran tidak ada artinya. Manusia, utk sekarang ini, diklasifikasikan kedalam ordo primata, bersama-sama dengan pemanjat pohon lainnya seperti: Tikus pohon, Lemur, Loris, Monyet dan Kera. Jadi, bukan hanya monyet dan kera saja, tapi Lemur dan tikus pohon juga harus diakui oleh kita sebagai sepupu jauh. Seperti J.Z. Young nyatakan, “Tetap saja sulit utk dibayangkan bahwa nenek moyang kita bertalian darah langsung seperti ayah kepada anak dengan seekor tikus tanah, dan dari sana mungkin berpisah menjadi semacam kadal, ikan bahkan mungkin semacam bunga-laut.”[69]

Tuhan Sang Pencipta
Apakah kisah terkenal yang ada diawal Bible sungguh-sungguh dimengerti? Kisah ketakutan Tuhan akan sains? .. Manusia sendiri ternyata telah menjadi kesalahan Tuhan Terbesar; Dia menciptakan saingan buat diriNya sendiri; sains membuat Tuhan – berakhir sudah para ulama (pemimpin agama) dan dewa-dewa ketika manusia menjadi makin sains.. Pengetahuan, emansipasi ulama, terus berkembang. - Nietzsche, The Antichrist.[70]

Tak pernah, dalam menelaah asal usul jagat raya dan asal usul kehidupan serta teori evolusi saya pernah bersandar pada “campur tangan Ilahi” sebagai penjelasan. Tentunya, untuk menjelaskan segalanya dengan memakai istilah ketuhanan sama saja dengan tidak menjelaskan apapun – sama seperti mematikan semua pertanyaan, mencekik keingintahuan intelektual, membunuh kemajuan sains. Untuk menjelaskan keaneka ragaman menakjubkan dan kompleksnya organisme sebagai sebuah “mukjijat” sama sekali tidak membantu, setidaknya dalam semua penjelasan sains. Mengutip Dawkins, “Menjelaskan asal muasal mesin protein/DNA dengan menceritakan takhyul sama saja dengan tidak menjelaskan apa-apa, karena hanya menyisakan ketidak jelasan asal usul pencipta itu sendiri. Anda harus mengatakan sesuatu seperti “Tuhan selalu ada disana,” dan jika anda mau lepas dari masalah dengan cara malas seperti itu, lebih baik bilang saja “DNA selalu ada disana,” atau “Kehidupan selalu ada disana.’ Selesai.” [71]

Darwin menyatakan hal yang sama tentang teorinya dalam surat pada Sir Charles Lyell, geolog terkenal: “Jika saya diyakinkan bahwa saya butuh penambahan (mukjijat) seperti itu dalam teori Seleksi Alam, saya akan menolaknya sebagai sampah… saya malah jadi tidak akan menambahkan apapun dalam teori Seleksi Alam, jika benar butuh penjelasan mukjijat dalam tiap tahap keturunannya.”
Mengenai surat diatas, Dawkins berkomentar: “Ini bukan masalah sepele. Dalam pendapat Darwin, tujuan dari teori evolusi oleh seleksi alam adalah bahwa hal itu memberikan hal ‘non mukjijat’ dalam keberadaan adaptasi kompleksnya. Ini juga menjadi tujuan dari keseluruhan buku ini (The Blind Watchmaker). Bagi Darwin, evolusi apa saja yang ditolong oleh Tuhan bukan evolusi namanya. Itu omong kosong belaka.”

Sedang mengenai Big Bang dan kosmologi modern, Stephen Hawking[72] membuat pendapat yang sama. Pihak gereja mencoba menebus dosa atas perlakuan yang mereka berikan pada Galileo, karenanya Vatican mengorganisir sebuah konferensi dimana para kosmolog terkenal diundang.

Pada akhir konferensi, para partisipan diberi kehormatan bertemu muka dengan Paus. Dia (Paus) bilang tidak apa-apa mempelajari evolusi jagat raya setelah Big Bang, tapi kita seharusnya jangan mempertanyakan Big Bang itu sendiri karena itu adalah saat-saat Penciptaan dengan demikian itu adalah Pekerjaan Tuhan. Saya (Hawking) senang sekali mengetahui bahwa dia (Paus) tidak tahu tentang subjek yang saya bicarakan tadi waktu konferensi – subjek tentang kemungkinan ruang-waktu itu terbatas tapi tidak ada lingkupnya, berarti tidak punya awal dan berarti tidak ada saat-saat Penciptaan itu. (Hawking, S. A Brief History of Time. London, 1988, hal.122)

Dihalaman lain dalam buku Bestsellernya, A Brief History of Time, Hawking mengamati bahwa:
Teori Kuantum Gravitasi telah membuka kemungkinan baru, yang mana tidak ada lingkupan bagi ruang-waktu dan dengan begitu tidak perlu menetapkan polah yang terjadi pada lingkupan itu. Tidak akan ada singularitas dimana hukum-hukum sains dilanggar dan tidak ada ujung dari ruang-waktu dimana orang harus merunut pada Tuhan atau hukum yang baru untuk menetapkan kondisi lingkupan bagi ruang- waktu. Orang bisa berkata: “Kondisi lingkup dari jagat raya adalah bahwa tidak punya lingkupannya.” Jagat raya sepenuhnya mewadahi sendiri dan tidak dipengaruhi oleh apapun diluar dirinya. Tidak diciptakan ataupun dihancurkan. Hanya ada.

Belakangan, Hawking bertanya, “Lalu dimana tempat bagi sang pencipta?”
Einstein mengamati bahwa “orang yang sangat yakin mengenai operasi universal dari hukum sebab akibat tidak dapat, meski sebentar saja, menerima gagasan akan sesuatu yang ikut campur dalam kejadian-kejadian tersebut.. Dia tidak butuh agama yang memupuk rasa takut.” [73]

Serupa dengan itu, baru-baru ini, Peter Atkins berpendapat “bahwa jagat raya ada tanpa campur tangan, dan tidak perlu menyebutkan gagasan adanya makhluk Maha Segala dalam segala bentuk perwujudannya.” [74]

Teori yang menjelaskan bahwa yang dimaksud Big Bang adalah Tuhan, tidak menjawab pertanyaan sains manapun. Mereka mendorong pertanyaan-pertanyaan tentang Asal Muasal ini satu langkah lebih mundur lagi, menanyakan asal Muasal Tuhan. Seperti Feuerbach[75] katakan, “Dunia itu tidak ada artinya bagi agama – dunia, yang dalam kenyataannya adalah gabungan seluruh realitas, katanya diciptakan dalam kemegahannya hanya dengan teori. Kenikmatan berteori adalah kenikmatan intelektual termanis dalam hidup; tapi agama tidak mengenal kenikmatan berpikir, penelaah alam, para artisnya. Gagasan jagat raya adalah bahwa ia tidak memiliki hal tersebut, tidak memiliki kesadaran akan hal tak terbatas, kesadaran para spesies.”

Hanya para ilmuwan yang merasa takjub, yang merasa bahwa kerumitan hebat seperti itu perlu penjelasan, yang lalu mengajukan hipotesa sains teruji dan tak dapat disangkal, yang mencoba mengungkap hal-hal yang disebut sebagai misteri jagat raya. Orang religius cukup puas dengan pendapat tak teruji dan tak menarik yang mengatakan bahwa ‘itu semua’ diciptakan oleh Tuhan. Titik.

Banjir, Kelaparan dan Kemarau
Sayang sekali Quran memberi contoh elemen-elemen yang katanya menjadi pertanda kemurahan hati tuhan dalam bentuk-bentuk yang justru menyebabkan banyak penderitaan bukannya kebahagiaan. Hujan, disebutkan dalam surah 7.56, adalah pertanda kemurahan hati Tuhan. Tapi banjir akibat hujan mengambil nyawa ribuan orang yang ironisnya dari sebuah negara muslim, Bangladesh. Angin puting beliung tahun 1991, 200 km/jam, hasilnya adalah banjir yang mengakibatkan 100.000 orang mati dan 10 juta kehilangan rumah. Meski banyak air dimana-mana, Bangladesh tetap saja menderita kekeringan dari October sampai April tahun itu. Hingga, populasi besar dari salah satu penduduk termiskin didunia ini mendapatkan banjir sekaligus kekeringan. Semuanya pekerjaan dari Tuhan, seperti surah 57.22 katakan : “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Auwloh.”

Tentunya, semua bencana alam mulai dari gempa bumi sampai tornado sulit dihubungkan dengan dengan Tuhan yang Maha Baik, khususnya karena bencana-bencana itu mendatangi orang-orang yang miskin, dan malah seringnya pada negara-negara muslim. Ketika gempa bumi di Lisbon tahun 1755, ribuan orang meninggal, banyak orang-orang itu meninggal ketika berdoa di gereja, dan kematian ini punya efek besar di abad 18, khususnya pada penulis seperti Voltaire: “Kenapa begitu banyak orang tak bersalah terbunuh? Kenapa tempat pelacuran tidak kena, sementara orang-orang saleh dihukum?”

Mukjijat
Teisme pada abad 18, membesar-besarkan rasionalitas (masuk akal) nya Islam, mereka mengemukakan fakta bahwa Muhammad tidak pernah melakukan mukjijat apapun. Ini benar: dalam Quran Muhammad berkata dia hanya manusia biasa yg tidak bisa melakukan mukjijat, dia hanya utusan Auwloh belaka (surah 29.49, 13.27-30, 17.92-97). Meski Muhammad menyangkal, tapi kok empat kali Quran mengatakan bahwa Muhammad telah melakukan mukjijat.

1. Bulan dibelah: [54.1-2] “Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus".
2. Bantuan bagi para muslim ketika perang Badar: [3.123-125] Sungguh Auwloh telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Auwloh, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: ."Apakah tidak cukup bagi kamu Auwloh membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Auwloh menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.”
3. Perjalanan Isro-Mi’raj: [17.1] “Maha Suci Auwloh, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
4. Quran, bagi Muslim tetap menjadi mukjijat terbesar dari Islam : [29.50-51] “Dan orang-orang kafir Mekah berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Auwloh. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata". Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur'an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.”

Hadis-hadis juga penuh dengan mukjijat-mukjijat dari Muhammad, menyembuhkan orang sakit, memberi makan ribuan orang dari makanan satu orang anak kecil, dan lain-lain.
Seiring dengan bertambahnya pengetahuan kita akan alam, ada penurunan yang sebanding akan kepercayaan pada mukjijat. Kita tidak lagi gampang berpikir bahwa Tuhan ikut campur dalam urusan-urusan manusia dengan cara menahan atau mengubah gejala-gejala alam yang normal, yang sudah menjadi hukum alam. Begitu kepercayaan kita akan penemuan hukum-hukum alam bertambah, kepercayaan kita akan mukjijat jadi menurun. David Hume berpendapat sbb:[76]
Mukjijat adalah pelanggaran terhadap hukum-hukum alam; pengalaman-pengalaman yang pasti dan tidak tergoyahkan yang telah menetapkan hukum-hukum ini, bukti-bukti yang berlawanan dengan mukjijat, bukti dari fakta-fakta alam itu sendiri, adalah argumen yang tidak bisa terbantahkan lagi. Kenapa masih menganggap mungkin semua manusia pasti mati; bahwa timah tidak bisa mengambang di udara dengan sendirinya; .. kecuali bahwa kejadian-kejadian ini seiring sejalan dengan hukum-hukum alam, dan dibutuhkan pelanggaran tertentu terhadap hukum-hukum alam ini, dengan kata lain butuh mukjijat untuk itu? Tidak ada hal yang dinilai sebagai mukjijat, jika terjadinya masih dalam batas-batas alami belaka.. tapi disebut mukjijat jika orang mati hidup kembali; karena tidak pernah terjadi/teramati kejadian demikian dijaman manapun dinegeri manapun. Makanya haruslah ada pengalaman yang sama pada setiap kejadian-kejadian mukjijat itu, karena kalau jika tidak pastilah tidak layak disebut mukjijat. Dan pengalaman sama ini harus ada buktinya, bukti langsung dan secara penuh teramati. Konsekwensi yang jelas adalah “bahwa tidak ada kesaksian yang pantas untuk menetapkan bahwa kejadian tertentu tersebut sebuah mukjijat, kecuali kesaksian itu sedemikian sehingga kebohongannya itu sendiri sudah merupakan sebuah mukjijat, lebih dari fakta yang akan dipastikan itu.”

Dan dalam setiap dugaan adanya mukjijat, lebih masuk akal dan sesuai dengan pengalaman-pengalaman kita untuk menyangkal bahwa ‘mukjijat’ pernah terjadi. Orang-orang yang dibohongi dan ditipu, cenderung membesar-besarkan dan punya kebutuhan kuat untuk percaya; atau seperti kata Feuerbach, sebuah mukjijat adalah “sihir imajinasi, yang memuaskan tanpa bertentangan dengan keinginan- keinginan hatinya.” Mukjijat-mukjijat Quran muncul dahulu kala, dan kita sekarang tidak berada dalam posisi untuk membenarkan atau mengujinya.
Mungkin satu dari banyak argumen penting akan mukjijat, adalah argumen yang sering terlewat oleh banyak orang yang seperti dinyatakan oleh Hospers:
Kita percaya bahwa kebanyakan mukjijat itu dalam beberapa segi sebenarnya tidak pantas bagi Tuhan Maha Ada. Jika Tuhan ingin orang- orang percaya padaNya, kenapa dia hanya melakukan Mukjijat disebuah daerah yang terpencil dimana hanya sedikit orang saja yang menyaksikannya? .. Kenapa tidak menyembuhkan semua penderita, bukannya menyembuhkan sedikit orang saja? kenapa tidak mengakhiri pembantaian besar-besaran di perang dunia I, atau mencegah terjadi perang itu langsung, bukannya melakukan mujijat di Fatima (dusun di Portugis dimana tiga anak melihat penampakan “Our Lady of the Rosary”) ditahun 1917?[77]

-------------
[58] Margulis, Lynn, and K.V. Schwartz. Five Kingdoms. San Fransisco, 1982. Hal.224-239
[59] Ingersoll, R. Some Mistakes of Moses. Amherst, N.Y., 1986. Hal.149 [60] Fox, R.L. The Unauthorised Version. London, 1991. Hal.218
[61] Howell Smith, A.D. In Search of the Real Bible. London, 1943. Hal.75
[62] Watt, W. Montgomery Muslim-Christian Encounters. London, 1991. Hal.134-135 [63] Kaufmann, W.J., III. Universe. New York, 1985. Hal.110-116
[64] Birx, H. Art. “Evolution and Unbelief”. Dalam Encyclopaedia of Unbelief, volume 1. Hal.417-418
[65] Darwin, C. The Origin of Species. London, 1872. Hal. Introduction
[66] Ruse, hal.47
[67] Darwin, C. The Origin of Species. London, 1872. Hal. Introduction
[68] Huxley, T.H. Man’s Place in Nature and Other Essays. London, 1914. Hal.52-62 [69] Young, J.Z. An Introduction to the Study of Man. Oxford, 1974. Hal.402
[70] Nietzsche. The Portable Nietzsche. Ed. W. Kaufmann. New York, 1974. Hal.628
[71] Dawkins, Richard. The Blind Watchmaker. London, 1988. Hal.141, 249 [72] Hawking, S. A Brief History of Time. London, 1988. Hal.122, 143-149 [73] Einstein, A. Ideas and Opinions. Delhi, 1989. Hal.39
[74] Atkins, P. Creation Revisited. Oxford, 1992. Hal.vii. Preface
[75] Feuerbach, Ludwig. The Essence of Christianity. Amherst, N.Y., 1989. Hal.195-196

[76] Hume, David. Essential Works of Davide Hume. New York, 1965. Hal.114-115 [77] Hospers, John. An Introduction to Philosophical Analysis. London, 1973. Hal.454

Catatan
Sebelum anda meneruskan membaca, saya ingatkan sekali lagi bahwa Ibn Warraq (penulis buku ini) adalah seorang mantan muslim yang kini menjadi atheis. Dan hampir semua kutipannya tentang injil, Alkitab, Jesus, dan Kekristenan diambil dari sumber-sumber kaum liberal, tokoh-tokoh ilmuwan atheis-agnostik, dan para orientalis yang juga menyampaikan kritik tajam terhadap Kekristenan, bukan hanya kepada Islam. Banyak hal yang disampaikan Ibn Warraq tentang Kekristenan di buku ini adalah polemik yg telah disanggah dng bernas oleh para teolog & scholar Kristen. Untuk mengetahuinya anda dapat menelusuri sendiri dari berbagai sumber.Ibn Warraq menyentuh tema-tema (polemik) Kristen sebagai “sasaran antara” untuk mengkritik islam. Bila para teolog & scholar Kristen dapat menjawab polemik teologi dengan begitu meyakinkan, mengapa para ulama muslim tak punya kemampuan yang memadai untuk menjawab semua polemik tentang Islam? Semua polemik & kritik tentang Islam selalu berakhir di jalan kekerasan; demonstrasi, bom, bakar, bunuh, fatwa mati, dan lain-lain…. Bukan berakhir di meja dialog.
*Tulisan Ibn Warraq disini tidak mewakili pendapat admin. Selamat melanjutkan membaca. Terimakasih. – admin.

Yesus dalam Quran
Pengumuman akan Kelahiran dari seorang Perawan
Quran berkata bahwa Yesus secara ajaib lahir dari Perawan Maria. Ini dikisahkan dalam surah 19.16-21 dan surah 3.45-48:
“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Auwloh menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Auwloh), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh." Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun." Auwloh berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Auwloh menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Auwloh berkehendak menetapkan sesuatu, maka Auwloh hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia. Dan Auwloh akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil.”
Meski ini juga masih menjadi prinsip teologi kristen ortodoks, kristen liberal dan banyak kristen lain, bahkan uskup Durham (Inggris) tidak lagi menerima kisah ini secara harafiah, mereka lebih suka menafsirkan ‘perawan/virgin’ sebagai “murni” atau secara moral tanpa cela. Martin Luther (1483-1546) yang menulis diabad 16 mengakui bahwa “Kami orang kristen seperti orang-orang bodoh karena percaya bahwa Maria adalah ibu kandung dari anak ini tapi masih perawan. Karena bukan saja ini bertentangan dengan akal, tapi juga dengan penciptaan Tuhan, yang mengatakan pada Adam dan Hawa untuk ‘bergunalah, beranakcuculah dan bertambah banyak.” [78]

Pengujian para scholar kristen untuk masalah ini adalah contoh yang baik tentang bagaimana muslim tidak bisa sembunyi dari kesimpulan- kesimpulan mereka sendiri, karena kesimpulan-kesimpulan ini punya efek langsung pada kejujuran atau setidaknya pada kebenaran harafiah dari Quran. Charles Guignebert (1867-1939)[79] telah membuat penelaahan rinci akan legenda Kelahiran dari Perawan ini. Guignebert menunjukkan kesamaan legenda ini dengan legenda dari Greco- Roman: Disini kita temukan legenda dari Perseus, lahir dari Danae, seorang perawan yang mengandung karena hujan emas, dan kisah dari Attis yang beribukan Nana, yang mengandung karena memakan buah delima. Disini juga ada kelahiran orang-orang terkenal – Phytagoras, Plato, Augustus – yang cenderung dijelaskan lewat kisah semacam parthenogenesis (reproduksi dari sebuah ovum tanpa pembuahan), atau lewat campur tangan misterius dari Tuhan. Sangat mungkin bahwa dalam sebuah masyarakat dimana terdapat banyak kisah-kisah semacam ini beredar, orang-orang kristen yang sedang begitu semangat menunjukkan keyakinan imannya akan ketuhanan dari Yesus memakai cara mengemukakan tanda-tanda yang manusia anggap sebagai pertanda dari Tuhan. Tidak salah lagi ini tentunya adalah sebuah tiruan dari kisah yang sama tapi dipengaruhi oleh atmosfir kepercayaan tertentu.

Scholar lain, seperti Adolf Harnack (1851-1930), percaya bahwa legenda Kelahiran dari Perawan ini muncul dari tafsiran ayat-ayat Perjanjian Lama, sebut saja Yesaya 7.14, sesuai dengan teks Yunani dari Septuagint, terjemahan dibuat ditahun 132 SM. Pada kejadian ini, Ahaz Raja Yudea, takut akan serangan baru dari persekutuan raja-raja Siria dan Israel, yang telah gagal mengambil Yerusalem. Nabi Yesaya meyakinkan Ahaz dan berkata:
[7:14-16] Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong.

Orang-orang Kristen dulu waktu mencari-cari semua perkataan nubuat mengenai Messiah, menemukan ayat dari Yesaya ini dan mengambilnya keluar dari konteks, membuatnya punya arti bagi messiah. Yang lebih penting lagi, tulisan asli Hebrewnya tidak ada kata “virgin” (Bethulah) tapi kata “perempuan muda” (Haalmah); dalam bahasa Yunani, “Parthenos” dan “neanis”. Guignebert menyatakan,
Teolog ortodoks berusaha membuktikan bahwa “haalmah” bisa berarti ‘virgin’ tapi tidak ada hasil. Nabi Yesaya tidak berpikir untuk meramalkan sebuah mukjjijat, dan orang-orang Yahudi ketika menyerang orang kristen tidak melewatkan kesempatan menunjuk ayat ini yang bagi mereka adalah sebuah kesalahan tafsir.

Guignebert sendiri tidak menerima teori asal muasal Kelahiran Perawan yang dinyatakan oleh Harnack. Malah, Guignebert mengemukakan hipotesanya sendiri [hal.247]:
Ditelaah bahwa dalam tulisan-tulisan Paul, john dan Mark, tak seorangpun dari mereka yg percaya pada Kelahiran dari Perawan, Yesus dikarakterisasikan sebagai anak Tuhan. Penjelasan ini muncul sebelum penetapan kepercayaan mukjijat yang disampaikan oleh Matius dan Lukas, dan bukan berasal dari itu. Segera setelah mereka yakin bahwa, bukan hanya karena Yesus telah diangkat oleh Tuhan dan sebagai manusia yang penuh Roh Kudus serta yang merampungkan rencanaNya, tapi juga bahwa kelahirannya kedunia ini oleh Tuhan telah ditakdirkan dan dimuliakan oleh Roh Kudus, maka mereka mesti berusaha menandai dan mengungkapkan hubungan spesial antara Yesus dan Tuhan. Mereka bilang dia adalah ‘anaknya’, karena hanya istilah itu satu-satunya yang dikenal dalam bahasa manusia dan bisa dimengerti meski tidak sepenuhnya dan secukupnya menerangkan hubungan spesial sebenarnya. Karena gagasan sebagai anak/turunan langsung dari Tuhan tampak seperti kemustahilan bagi orang Yahudi, tapi ungkapan ini bagi orang-orang Palestina pada kenyataannya hanya cara pengucapan belaka, hanya metafora.

Jelas Yesus sendiri tidak pernah menerapkan hal itu mengenai dirinya, dan bahwa di Israel sendiri sampai sekarang tidak ada kepentingan yang berhubungan dengan Messiah. Maksudnya adalah, orang Yahudi tidak memberi Julukan Anak Tuhan pada Messiah yang mereka harapkan. Messiah mestinya bagi mereka bukanlah berarti Anak, tapi Pelayan dari Tuhan (Ebed Yahweh), karena hal itu adalah penunjukkan akan “orang-orangnya Yahweh.” Tapi di Yunani, para kristolog menemukan lingkungan yang sangat berbeda dari Palestina. Disana gagasan prokreasi manusia oleh Tuhan sudah ada dan dikenal dalam budaya mereka dan hubungan yang nyata dari anak-Bapak antara Kristus dan Tuhan Bapa tidak akan mengagetkan orang-orang sana… sebaliknya, istilah Anak Tuhan malah mungkin bisa dipakai utk menarik simpati disana daripada memakai istilah yang keyahudi-yahudian, yg terlalu nasionalistik seperti istilah ‘Messiah’. Dengan demikian, dari semua kemungkinan, dimasyarakat kristen pertama, diantara para Gentiles (orang-orang bukan Yahudi), istilah tersebut mengemuka. Pertamanya, mungkin, hanya terjemahan belaka dari Ebed Yahweh-nya Palestina, karena kata Yunani dari ‘pais’ bisa berarti ‘pelayan’ sekaligus ‘anak- anak/bani’, dan ini transisi yang mudah dari bani menjadi anak. Tapi segera mendapatkan pewarnaan dari gagasan asli kristologi, gagasan yang menemukan kebutuhan dari lingkungannya ini diambil dan diungkap dalam Surat-surat Paulus. Gagasan ini menemukan pembenaran dari pengikut Paulus dan Johannine dalam doktrin keberadaan ilahi serta inkarnasi Tuhan. Legenda Kelahiran dari Perawan adalah pembenaran lainnya lagi, muncul dari lingkungan intelektual yang sama sekali berbeda, tapi mirip dengan yang disebutkan diatas, dan menemukan konfirmasi dari ayat-ayat biblenya, ketika kebutuhan muncul utk membela kontroversi yang dikemukakan oleh orang sekitar, dalam Yesaya 7:14. Matius dan Lukas menampilkan dua perwujudan yang kongkrit, berbeda dalam bentuk tapi sama dalam semangat dan arti dari kepercayaan kristen: “Dia adalah Anak Tuhan. Dia lahir dari Roh Kudus.”

Kelahiran Yesus
Kisah kelahiran Yesus dalam surah 19.22-34 menunjukkan kemiripan yang luarbiasa bukan hanya pada kisah dari Leto, seperti yang ditunjukkan Sale, tapi juga pada kisah yang belum pernah saya lihat dikutip dimanapun, yaitu kelahiran yang bersejarah dari Buddha. Mari kita lihat versi Quran lebih dulu, surah 19.22-34:
“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini". Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina", maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?" Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Auwloh, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.”

Leto – atau dalam bahasa Latin, Latona – adalah Titaness, anak perempuan dari Coeus dan Phoebe. Menurut himne Homer kepada Delian Apollo, Leto melahirkan Apollo ketika mencengkeram pohon palem Keramat. Apollo juga dikatakan telah bisa berkata-kata ketika masih dalam kandungan. Callimachus (ca. 305-240SM) dalam karyanya “Hymn in Delum” mengulangi kisah yang sama.
Menurut legenda kelahiran sang Buddha, Ratu Maya Devi bermimpi seekor gajah putih menghampiri sisi kanannya. Banyak Brahmin meyakinkan sang raja dan ratu bahwa anak mereka suatu hari akan menjadi raja yang besar atau seorang Buddha. Ajaibnya kandungan ini berumur hingga 10 bulan. Ketika menuju orang tuanya, Ratu Maya Devi melahirkan, ia memasuki taman Lumbini dimana ketika itu dia berpegangan pada cabang pohon Shala, sang anak mucnul dari sisi kanannya. Segera setelah lahir, calon Buddha ini berdiri dan berjalan tujuh langkah kearah utara, lalu kearah pusat mata angin bumi untuk mengumumkan kepemilikannya akan jagat raya, dan mengumumkan bahwa ini adalah kelahirannya yang terakhir. Kita sudah mengisahkan kemungkinan sumber langsung dari kisah kelahiran Yesus di Quran, yakni, sebuah buku apocrypha (=yang sebenarnya diragukan kebenarannya) yang berjudul “The History of the Nativity of Mary and the Saviour’s Infancy.”

Apakah Yesus benar-benar ada?
Mungkin orang muslim akan kaget jika tahu bahwa ada dan masih ada scholar yang meragukan keaslian sejarah tentang Yesus, yang keberadaannya oleh para Muslim benar-benar dipercayai. Bruno Bauer (1809-1882), J.M. Robertson (1856-1933), Arthur Drews (1865-1935), van den Bergh van Eysinga, Albert Kalthoff, dan yang lebih baru Guy Fau (Le Fable de Jesus Christ, Paris, 1967), Prosper Alfaric (Origines Sociales du Christianisme, Paris 1959), W.B. Smith (The Birth of the Gospel, New York, 1957), dan Professor G.A. Wells dari Birbeck College, University of London telah mengembangkan semua teori “Mitos Kristus” ini[80]. Professor Joseph Hoffman merangkum situasi demikian sebagai berikut:
Pendapat para scholar masih tetap (meski tidak ngotot) pada dalil figur sejarah dimana kisah kehidupannya banyak diliputi oleh aktivitas pembuat mitos sebuah pengkultusan. (Scholar-scholar lainnya) berpegangan pada pendapat bahwa dalil sebuah figur sejarah tidaklah selalu perlu digunakan untuk menjelaskan keistimewaan “biografikal” dari Injil. Penilaian yang jujur atas bukti yang ada kelihatannya lebih condong pada pendapat yang terakhir, tapi kita juga tidak dapat dengan mudah menghilangkan kemungkinan bahwa benar ada sebuah figur sejarah dibelakang legenda Yesus dalam Perjanjian Baru[81].
Saya lebih suka mendiskusikan bukti-bukti yang ‘tidak bisa begitu saja disepelekan’ akan pendapat bahwa Yesus tidak benar-benar ada karena beberapa alasan:

1. Pertama, umumnya debat-debat, diskusi-diskusi dan argumen- argumen mengenai mitos Yesus menjadi perhatian para muslim selain para kristen juga; atau setidaknya jika para muslim tidak menaruh perhatian, maka harusnya mereka menaruh perhatian. Saya mengira tidak ada buku tentang Islam yang pernah mendiskusikan pandangan- pandangan dari Bauer atau pandangan-pandangan sekolah Radical Dutch mengenai sejarah Yesus. Harusnya menjadi perhatian besar semua orang-orang terpelajar yang tertarik akan asal muasal dan warisan spiritual serta intelektual kita. Sejarah awal kekristenan adalah salah satu bagian penting dari sejarah peradaban. Bagi para muslim, Yesus adalah salah seorang nabi Tuhan dan seorang figur sejarah yang melakukan banyak mukjijat, dan yang akan datang lagi dihari Terakhir serta membunuh Dajjal (Anti Kristus). Jika bisa ditunjukkan bahwa Yesus tidak pernah ada, maka akan ada konsekwensi yang pasti bagi semua muslim, karena ini akan otomatis menganggap kejujuran wahyu Quran mereka dipertanyakan.

Tapi, ini bukan hanya sekedar mempertanyakan sejarah Yesus, tapi apa yang kita lakukan dan dapat kita ketahui tentang dia. Pertanyaan ini harusnya sangat penting bagi semua, khususnya muslim. Muslim percaya Yesus itu pernah ada, dengan demikian semua riset dan semua yang didedikasikan oleh intelektual dan sejarawan terkenal tentang Yesus ini harusnya jadi perhatian penuh mereka. Muslim, dan juga kristen, harusnya menaruh perhatian akan kebenaran dari masalah ini. Bahkan teolog Kristen yang menerima keberadaan Yesus juga menghadapi sejumlah masalah dari sebagian kehidupan Yesus yang belum terpecahkan. Kebanyakan kisah-kisah dalam Perjanjian Baru mengenai kehidupannya sekarang telah diterima sebagai legenda tanpa dasar sejarah, bahkan oleh teolog kristen konservatif sekalipun. Scholar Perjanjian Baru Ernst Kasemann menyimpulkan: “Dalam beberapa subjek jika ada pertentangan pendapat yang pahit diantara para scholar selama dua abad ini maka itu adalah mengenai kisah- kisah mukjijat dalam Injil.. Kita bisa bilang saat ini pertentangan itu telah selesai, mungkin demikian diarena kehidupan gereja, tapi dalam bidang teologi sains tidaklah demikian. Pertentangan ini berakhir dengan kekalahan konsep mukjijat yang menjadi tradisi pada gereja- gereja.”[82]

Lalu dimana posisi Quran? Tidak satupun kisah-kisah Yesus dalam Quran diterima sebagai kebenaran; kebanyakan kisah-kisah itu berisi takhyul dan mukjijat yang keterlaluan yang hanya dipercaya oleh orang-orang yang percaya Quran saja. Layak disebutkan bahwa jika Quran itu sungguh-sungguh benar dan merupakan Kalimat Langsung dari Tuhan, lalu kenapa tidak ada teolog Kristen yang memakainya sebagai bukti dari Keberadaan Yesus? Tidak ada sejarawan yang pernah sekali saja melirik Quran sebagai penerang sejarah, dengan alasan yang sama seperti juga tidak ada sejarawan yang akan melirik sebuah dokumen, dimana dokumen tersebut berupa karya manusia yang ditulis 600 tahun setelah kejadian, padahal sudah ada dokumen- dokumen yang ditulis hanya 50-60 tahun setelah kejadian itu. Kita juga tahu sumber-sumber dari kisah-kisah dalam Quran, yaitu berasal dari injil-injil Gnostik Penghujat seperti Injil Thomas, yang dianggap oleh para sejarawan sebagai bertentangan dengan sejarah.

Bahkan meski jika kita tidak menerima tesis bahwa Yesus pernah ada, kesimpulan dari para sejarawan Perjanjian Baru menghasilkan sesuatu yang memberi pertumbuhan positif dalam agama dan mitologi religius; lebih jauh lagi, mereka menunjuk pada kemiripan yang ada pada teori- teori baru yang diajukan oleh para scholar Islam dalam kebangkitan Islam dan legenda Muhammad dalam hadis-hadisnya.

2. Banyak kecaman dari kekristenan yang ditemukan dalam karya- karya yang didiskusikan, pengubahan-pengubahan, yang ada dalam seluruh agama-agama, termasuk Islam.

3. Diskusi mengenai kesejarahan Yesus telah dilakukan di Eropa dan Amerika selama lebih dari 150 tahun, tanpa ada satupun scholar yang menyangkal keberadaaan sejarah Yesus terancam dibunuh. Benar, Bauer dikeluarkan dari posisi teologinya di Universitas di Bonn tahun 1842, tapi dia terus mempublikasikan karyanya sampai meninggal. Professor Wells masih hidup (1994) dan sehat serta mengajar di Universit of London sampai 1971 dan dia masih tetap menyangkal bahwa Yesus pernah ada. Ini semua bisa jadi pelajaran bagi dunia Islam.

4. Dogmatisme buta telah mengurung muslim dari tantangan dan kemeriahan riset, debat dan diskusi satu setengah abad belakangan ini. Meminjam perkataan Joseph Hoffman: “Lewat diskusi-diskusi demikian kita menghindar dari dogmatisme masa lalu dan belajar menghormat ketidak pastian sebagai pertanda pencerahan.”[83]

5. Juga ada metodologi moral yang lebih mendalam untuk dipelajari dari diskusi berikut ini. Kebaikan dari pertanyaan-pertanyaan sejarah disepelekan meski jika kita membawanya kedalam iman Islam atau Kristen. Riset sejarah hanya berujung pada pendekatan kebenaran objektif, setelah sebuah proses dugaan dan pembuktian kesalahan, pemikiran kritis, argumen rasional, penyajian bukti dan lain-lain. Tapi, jika kita membawa subjektifitas iman religius dengan kepastian dogmatismenya kedalam “proses perkiraan sejarah, hal ini jelas menyepelekan apa yang R.G. Collingwood perdebatkan berupa atribut fundamental dari sejarawan kritis, skeptis mengenai kesaksian akan masa lalu.”[84]

ARGUMEN-ARGUMEN
Strauss
Dalam karyanya Life of Jesus Critically Examined (1835), David Strauss menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengambil Injil sebagai biografi sejarah; bukan itu fungsi utamanya. Kristen awal ingin memenangkan orang agar masuk Kristen ‘lewat propagasi mitos religius yang sintetis.”[85]
Tesis utama Strauss adalah bahwa kisah-kisah dalam perjanjian baru adalah hasil dari harapan-harapan messianik orang-orang Yahudi.

Para penginjil membuat seakan Yesus melakukan dan mengatakan apa yang mereka inginkan – dari pengetahuan yang mereka dapat di Perjanjian Lama – bahwa Messiah akan melakukan anu dan mengatakan anu; dan banyak ayat-ayat yang nyatanya tidak ada referensinya bagi Messiah tapi diambil juga seakan sebagai ramalan tentang Messiah. Dengan demikian, “Yesaya 35:5 Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan” mengungkapkan kegembiraan orang-orang yahudi buangan di Babylon ketika mengetahui kabar akan dibebaskannya mereka, tapi diartikan oleh para penginjil sebagai ramalan akan Messiah yang akan menyembuhkan orang buta, yang lalu mereka buat seakan memang Yesus melakukan itu.[86]

Bauer
Bauer lebih berani lagi dan menyatakan bahwa orang-orang Kristen awal menemukan Yesus Kristus dari penggambaran nabi-nabi yang ada dalam Perjanjian Lama. Yesus tidak pernah ada dan kekristenan yang bangkit di pertengahan abad pertama berasal dari gabungan gagasan Judaic dan Greco-Roman. Bauer berpendapat, contohnya, bahwa orang kristen memakai istilah Yunani “Logos” yang berasal dari Philo, Stoicisme, dan Heraclitus. Bagi Philo, Logos adalah kekuatan kreatif yang memerintah dunia dan sebagai perantara manusia dengan Tuhan. Tentu saja, dalam Injil Yohanes, Logos disamakan dengan Tuhan, yang lalu berinkarnasi jadi Yesus Kristus. Sedang untuk pengaruh-pengaruh klasik lainnya dalam kekeristenan mulai diawal abad 4 penulis-penulis anti kristen menunjuk pada kemiripan kehidupan Yesus dengan kehidupan dari Apollonius dari Tyana, seorang pengajar Neo-Pythagorean yang lahir sebelum era Kristen. Dia melakukan kehidupan berkelana dan bertapa, mengaku punya kekuatan mukjijat, dan selalu berada dalam bahaya sepanjang kehidupannya selama kekuasaan Kaisar Roma Nero dan Domitian. Para pengikutnya menyebut dia sebagai Anak Tuhan; mereka juga bilang dia dibangkitkan didepan mata mereka sendiri dan naik ke surga.

Misteri kultus Mithra ini pertamanya ada didunia Romawi pada pertengahan abad pertama SM. Kultus ini mengembangkan ritual dan upacara serta tahapan-tahapan rahasia untuk inisiasi para pengabdi dewa-dewi itu untuk lulus. Misteri Mithraic juga menunjukkan kemiripan dengan Baptisan dan Ekaristi kekristenan.

Kristen awal menyebutkan perkataan-perkataan Yesus yang pada kenyataannya hanyalah gambaran dari pengalaman, keyakinan dan harapan-harapan dari masyarakat Kristen itu sendiri, bukan benar- benar perkataan dari Yesus. Contoh, Markus 1:14-15: Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Tuhan, kata- Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Tuhan sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" Yesus tidak pernah mengucapkan ini – perkataan-perkataan itu hanyalah :
Ungkapan dan pendapat komunitas Kristen awal yang menyatakan bahwa waktunya sudah tiba utk kemunculan dan penyebaran kekristenan. Tapi seiring waktu banyak usaha-usaha dilakukan untuk menemukan indikasi-indikasi sejarahnya – hari-hari di jaman itu yang tercatat dalam Perjanjian Baru hingga jaman Kekaisaran – Bahwa persiapan yang progresif utk jaman keselamatan sudah jelas. Masing- masing generasi baru menganggap jamannya adlah jaman Penggenapan Perjanjian. Kristen awal juga percaya, lewat pengetahuan mereka dari perjanjian Lama, bahwa sebelum Penyelamat datang Eliya akan kembali ke bumi. Setelah mereka menganggap Yohanes pembaptis sebagai kembalinya Eliya, mereka secara otomatis percaya bahwa Penyelamat yang berikutnya akan segera datang; dan pada akhirnya sebuah cerita dibuat dimana “sang penyelamat” ini dibuat seakan menyebut Yohanes Pembaptis sebagai Eliya. (Markus 9.13)[87]

Wrede
Mengakui karyanya berhutang pada karya Bauer, Wilhelm Wrede yg menulis diawal abad 20 menunjukkan bahwa injil Markus “disaring dengan kepercayaan teologis dari komunitas Kristen awal. Bukannya sebuah biografi, injil ini adalah pembacaan kembali ke dalam kehidupan Yesus, iman dan harapan dari gereja-gereja awal yang menganggapYesus sebagai Mesiah dan Anak Tuhan.”[88]

Kalthoff
Albert Kalthoff, juga menulis diawal abad ini, berpendapat bahwa kita bisa menjelaskan asal muasal kekristenan tanpa harus menempatkan penemu sejarah. Kekristenan bangkit dengan ledakan spontan ketika “materi religius dan sosial yang mudah terbakar, yang dikumpulkan oleh kekaisaran Romawi, bergesekan dengan harapan-harapan akan kedatangan Messiah milik orang Yahudi.”[89] “Dari sudut pandang sosio-religius, figur Kristus adalah ungkapan religius yang dihaluskan utk kekuatan-kekuatan sosial dan etikal yang sedang bekerja pada perioda tertentu.”

Bukti-bukti Non Kristen
Meski ada fakta sekitar 60 sejarawan aktif diabad pertama kekaisaran Romawi, tapi sedikit sekali koroborasi (bukti-bukti yang menguatkan) akan kisah kristen tentang Yesus yang berasal dari luar tradisi kristen. Yang ada malah sangat tidak meyakinkan dan tidak menolong sama sekali, seperti Josephus, Tacitus, Suetonius, Pliny.[90]

Injil-injil
Kita mengenal bahwa injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohannes) tidak ditulis oleh murid-murid Yesus. Injil itu bukanlah kesaksian langsung, dan ditulis oleh penulis yang tidak dikenal sekitar 40 sampai 80 tahun setelah penyaliban Kristus. Matius, Markus dan Lukas biasanya disebut Injil Sinoptik karena kesamaan subjek dan kemiripan frase pada ketiganya. Markus dianggap yang lebih awal dari ketiga injil itu dan mungkin juga dipakai sebagai sumber oleh dua injil lain. Sangat tidak mungkin bahwa apa yang katanya diucapkan oleh Yesus dalam injil benar-benar pernah diucapkan oleh figur sejarah Yesus yang sebenarnya. Seperti disimpulkan oleh Hoffmann:
Sangat Sulit bahkan untuk membicarakan sekalipun seorang Yesus yang asli menurut “sejarah”, jika melihat proporsi dan kesegeraan proses pembuatan mitos yang mengkarakterisasi hari-hari awal pengultusan Yesus. Apa benar ada pendiri sejarahnya atau tidak (dan ini tidak begitu diperlukan karena kesaksian misteri dari agama-agama, demi suksesnya sebuah pengultusan dan kisah-kisah yang berkaitan dengan pendirinya itu), para scholar sekarang menganggap pasti bahwa Injil adalah kompilasi atau kumpulan ‘tradisi2/hadis-hadis’ yang ditulis oleh orang-orang Kristen awal bukannya oleh penulis-penulis sejarah.[91]

Pengadilan Sanhedrin, pengadilan dihadapan Pilatus, dan faktor utama dalam kisah Passion of Christ, punya masalah serius, dan kita tidak dapat menganggapnya sebagai kejadian sejarah; tapi semua itu dikarang oleh orang kristen awal. Seperti Nineham katakan, kebanyakan yang kita temukan dalam injil Markus mungkin adalah kesimpulan dari nubuat-nubuat Perjanjian Lama mengenai apa yang ‘harusnya’ terjadi ketika Sang Messias datang.”[92]

-----------
[78] Dikutip oleh Feuerbach, hal.304
[79] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.233-252
[80] Artikel Wells, G.A. “Jesus, Historicity of.” In KU, vol.1.
[81] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.179
[82] Dikutip dalam Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986, Hal.135-136
[83] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.21-22
[84] Ibid., hal.199
[85] Ibid., hal.13
[86] Wells, G.A. Artikel “Strauss.” In KU, vol. 2. Hal.657 [87] Wells, G.A. Artikel “Bauer.” In KU, vol.1. hal.44-46
[88] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.15 [89] Ibid., hal.184
[90] Stein, Gordon. An Anthology of Atheism and Rationalism. Amherst, N.Y., 1980. Hal.178
[91] Hoffmann, R. Joseph. The Origins of Christianity. Amherst, N.Y., 1985. Hal.177 [92] Ibid., hal.184

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar