Rabu, 24 Maret 2010

BANGKITNYA ISLAM & ASAL MUASAL AGAMA KRISTEN

SURAT-SURAT PAULUS
Surat-surat Paulus ditulis sebelum Injil Markus dan mengherankan bahwa didalamnya tidak ditemukan rincian mengenai kehidupan Yesus seperti yang kita temukan dalam injil; tidak ada rujukan tentang orang tua Yesus, atau kelahiran dari seorang Perawan, atau tempat kelahiran Yesus; tidak juga disebutkan tentang Yohanes Pembaptis, Yudas, atau tentang penyangkalan Petrus. Seperti G.A. Wells[93] tunjukkan, “tidak ada indikasi tentang waktu atau tempat keberadaan Yesus di bumi. Tidak pernah ada acuan tentang pengadilan di hadapan petinggi Romawi, tidak juga tentang Yerusalem sebagai tempat eksekusinya. Tidak disebutkan tentang mukjijat-mukjijat yang katanya dia lakukan.” Bahkan doktrin-doktrin Yesus dalam injil yang jelas bisa dipakai oleh Paulus dalam doktrinnya, tetap tidak ada.

Surat-surat Paulus awal yang ditulis sebelum 90M, juga tidak memberikan perincian sejarah yang meyakinkan. Hanya dalam surat-surat yang terakhir, yang ditulis sekitar 90M–110 M, kita mendapatkan rincian yang kita telah kenal lewat injil. Akibatnya, Wells[94] menyimpulkan:
Sejak itu, surat-surat terakhir ini memberikan biografi Yesus, jadi tidak bisa dikatakan bahwa secara keseluruhan surat-surat Paulus ini tidak tertarik akan biografi Yesus, dan perlu ditanya kenapa surat-surat awal lainnya (bukan hanya surat Paulus) menulis sejarahnya Yesus dengan cuma sekilas saja. Perubahan penulisan mengenai Yesus setelah tahun 90M dapat dimengerti jika kita menerima bahwa kehidupannya dibumi pada abad pertama di Palestina ini hanya dikarang belakangan saja. Tapi untuk menganggap eksistensi Yesus saat itu sebagai fakta sejarah tetap akan mengundang teka teki.

Penanggalan Injil Markus
Kapan dan kenapa biografi Yesus pertama kali dikembangkan? Perincian kehidupan Yesus pertama muncul dalam tulisan-tulisan Markus, yang dianggap sebagai injil awal dan banyak scholar Perjanjian Baru menetapkan tanggal pembuatannya ditahun 70M. Tapi G.A. Wells berkeras bahwa Markus ditulis sekitar 90M, ketika “Agama Kristen di Palestina disibukkan oleh Perang Yahudi vs Romawi, dan orang-orang Kristen Gentile (bukan Yahudi) yang pertama menghubungkan Yesus dengan Pilatus dan memberi kehidupan Yesus sebuah setting sejarah, hanya mendapatkan pengetahuan tidak lengkap akan apa yang benar- benar terjadi di Palestina pada sekitar tahun 30M.”[95] Para pembela Kristen mengarang setting sejarah dan perincian akan kehidupan Yesus agar bisa menjawab tentangan Docetisme (Doktrin yang percaya bahwa tubuh kristus bukan tubuh manusia, tapi fantasi atau memang berupa tulang dan daging tapi berasal dari luar angkasa) yang menyangkal kemanusiaannya Yesus, menangkal mitos-mitos yang beredar di kalangan Kristen, untuk menetapkan realitas akan kebangkitannya, dan umumnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh dunia yang sangar dan skeptis terhdp Kristen saat itu.

BANGKITNYA ISLAM & ASAL MUASAL AGAMA KRISTEN
Dalam bab 3 kita melihat teori kebangkitan Islam dari generasi baru akademisi Islam. Kita sekarang berada dalam posisi untuk menilai kemiripan dari teori ini dengan teori-teori yang disajikan diatas mengenai asal muasal dari Agama Kristen. Kita mencatat sebelumnya bagaimana Goldziher mengabaikan banyak hadis tentang kehidupan Nabi, karena dianggap palsu. Goldziher menganggap sejauh ini bagian terbesar dari hadis adalah merupakan pengembangan sosial, religius dan sejarah dari Islam selama dua abad awalnya. Hadis tidak berguna sebagai dasar sejarah apapun dan hanya berfungsi sebagai penggambaran kecenderungan komunitas muslim awal. Dalam bagian berikutnya, kita mencatat bagaimana orang Kristen awal menempelkan perkataan-perkataan pada Yesus padahal kenyataannya perkataan-perkataan itu hanya menggambarkan pengalaman, harapan dan pendirian dari komunitas Kristen belaka.

Sama seperti telah kita temukan bahwa orang-orang Kristen awal mengarang perincian kehidupan Yesus untuk menjawab masalah-masalah doktrin mereka, kita juga menemukan orang-orang Arab pembawa kisah mengarang materi-materi biografi tentang Muhammad dg tujuan utk menjelaskan ayat-ayat sulit dan membingungkan dalam Quran.

Mari kita bandingkan komentar Schacht[96] mengenai hadis dalam konteks legalnya dan apa yang kita dapatkan dari penilaian Wrede tentang Injil Markus.
Tradisi dibentuk secara polemik demi menyanggah doktrin-doktrin atau praktek-praktek yg bertentangan; doktrin-doktrin yang ada dalam atmosfir polemik ini dengan seringnya disebutkan berasal dari otoritas yang lebih tinggi: “Hadis-hadis dari nabi menjadi hadis dari sahabat
(nabi) dan hadis dari sahabat menjadi hadis dari nabi.” Perincian dari kehidupan sang nabi dikarang demi mendukung dan melegalkan doktrin-doktrin tersebut.
Wrede menunjukkan bahwa Injil Markus penuh dengan kepercayaan dan harapan-harapan dari komunitas Kristen awal, bukannya kisah sebenarnya dari Yesus.[97]

Kedua agama itu pada awal munculnya, ketika kontak dan konflik dengan komunitas lain yang memiliki tradisi religius sendiri, berkembang dan mengeluarkan pembelaan akan posisi doktrin mereka dengan mengarang rincian biografi dari pendiri agama tersebut yang lalu mereka proyeksikan kembali kedalam asal muasal sumbernya yaitu Arab (utk Islam) dan Palestina (untuk KRISTEN). Agama Kristen bangkit dari gabungan gagasan Yudaisme dan Yunani-Romawi, Islam bangkit dari Talmud, Yudaisme, Kristen Siria dan secara tidak langsung juga dari Yunani-Romawi.

Seperti Morton Smith[98] nyatakan, “gereja-gereja abad awal tidak punya tubuh injil yang tetap, jangankan Perjanjian Baru.” Sementara itu, kini jelas bahwa teks-teks definitif dalam Quran masih juga belum dicapai pada abad ke-9.

Hari Kiamat
Pusat dari dalil islam adalah doktrin Hari Kiamat. Beberapa istilah dipakai dalam Quran utk menandakan hari ‘menakjubkan’ ini; Day of Standing Up, Day of Separation, Day of Reckoning, Day of Awakening, Day of Judgment, The Encompassing Day, atau lebih sederhana dan mengerikan lagi, The Hour. Sumber mutakhir dari ide-ide Muhammad akan Hari Kiamat ini berasal dari Aliran Kristen SYRIA.

Kisah-kisah dari Siria tentang hari Kiamat tersebut jelas-jelas mencengkeram imajinasi Muhammad, karena Quran penuh dengan perincian mendetil akan hari Kiamat ini; kejadian ini akan ditandai dengan tiupan terompet, terbelahnya surga/langit, hancurnya gunung-gunung jadi debu, menggelapnya langit, mendidihnya laut, terbukanya kuburan-kuburan dengan dipanggilnya manusia dan jin. Makhluk-makhluk ini lalu akan ditimbang perbuatan baiknya oleh sebuah Timbangan, dinilai oleh Tuhan, lalu ditetapkan apakah masuk Surga atau disiksa dalam neraka. Teror dari hari Kiamat ditekankan berulang-ulang lagi dan lagi, khususnya dalam ayat-ayat Mekah paling akhir, tepat sebelum Muhammad hijrah ke Medinah. Lelaki dan perempuan akan dibangkitkan, yaitu dibangkitkan dalam arti sebenarnya bersama dengan tubuh fisik mereka.

Kita tahu bahwa gagasan kebangkitan tubuh ini asing bagi pemikiran Arab, karena orang-orang pagan/berhala Mekah mengejek ide absurd ini. Para filsuf Pagan dalam polemiknya dengan orang Kristen juga mengajukan pertanyaan yang mirip: “Bagaimana caranya orang mati bangkit? Dan memakai tubuh siapa mereka bangkitnya? Apa yang sudah membusuk akan segar kembali, apa anggota tubuh yang berlepasan akan disatukan kembali, apa bagian tubuh yang termakan bisa dikembalikan… Orang-orang yang tenggelam di laut, orang yang dicabik-cabik dan yang dimakan binatang liar, yang tidak bisa dikembalikan ketanah.”[99]
Semua doktrin mengenai kelangsungan hidup, keabadian, kebangkitan menghadapi tantangan yang jelas bahwa semua manusia, lelaki atau perempuan, akan mati dan dikubur atau dikremasi, bahkan jika dikuburpun tubuh mereka akan hancur, busuk – yang sudah busuk tidak akan jadi segar lagi.

Doktrin Muslim berdasarkan pada kelangsungan hidup tubuh secara fisik: “Itulah balasan bagi mereka, karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata: "Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?" Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Auwloh yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang- orang lalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” (Surah 17.9)

Tapi ada satu keberatan akan cerita demikian, yang Antony Flew[100] kemukakan:
Jelas Auwloh yang Maha Kuasa mestinya punya “kekuatan untuk menciptakan tubuh yang serupa dengan mereka.” Tapi jika Auwloh melakukan itu, berarti sang Nabi telah keseleo bicara. Karena dengan membuat objek tubuh yang persis, mirip, tak bisa dibedakan dari objek pertama yang sudah rusak total dan yang sudah menghilang, sama saja dengan membuat ‘bukan objek yang sama’, tapi sebuah ‘replika’. Menghukum atau memberi pahala pada sebuah replika yang dibuat pada hari Kiamat karena dosa dan kebaikan dari si Antony Flew lama yang sudah mati dan dikremasi ditahun 1984 sangatlah tidak pantas dan tidak adil, sama saja dengan memberi pahala atau menghukum seorang kembar identik akan sesuatu yang dilakukan oleh saudara kembarnya yang mati duluan tadi.

Muslim semakin tertimpa oleh kontradiksi. Mereka bilang semua manusia akan menghadap penciptanya (atau pencipta replika kita) di hari Kiamat, TAPI pada surah 2.159 dan surah 3.169 dikatakan bahwa pejihad yang meninggal dalam peperangan di Jalan Auwloh akan hidup dan berada dihadapannya saat itu juga. Tuhan dengan demikian membangkitkan mereka sebelum Hari Kiamat. Demikian pula dengan musuh-musuh Islam, Tuhan akan mengirim mereka langsung ke neraka, tanpa menunggu hari Kiamat terlebih dahulu. Pertanyaan menarik muncul di jaman transplantasi organ sekarang ini. Jika seorang pejuang suci Islam mati ketika berperang dijalan Auwloh, dan disaat itu organnya, misal jantung, ditransplantasikan ke orang lain, bagaimana si pejuang suci itu dibangkitkan tubuhnya. Dalam hal ini, tubuh yang sama tidak akan ‘sama’, karena hanya sebuah replika dengan jantung yang ‘lain’.
Jawaban “semuanya mungkin bagi Auwloh” hanyalah pengakuan akan irasionalitas mendasar dari doktrin kebangkitan ini. Secara umum, meski selama berabad-abad ada budaya pemanggilan arwah, medium, sihir dan segala macam mistik, tak satupun pernah ada bukti yang meyakinkan akan keberadaan hidup sesudah mati. Selain dari kesombongan pribadi, jelas rasa takut mati adalah penyebab adanya kepercayaan akan hidup dimasa datang, meski semua indikasi mengatakan sebaliknya.

Keberatan Moral mengenai Doktrin Kiamat
Apa hal yang belakangan dipinjam Muhammad dari Kristen? PenemuanPaulus, tujuannya melanggengkan tirani ulama, pengelompokan orang: kepercayaan akan imortalitas – itulah doktrin hari kiamat (yg dipinjam muhammad). - Nietzsche, The Anti Christ.[101]
Diluar keberatan logis dan empiris mengenai doktrin kebangkitan tubuh, ada keberatan moral yang kuat terhadap pendapat islam mengenai hidup sesudah mati. Nietzsche berpendapat dalam Twilight of the Idols dan The Anti Christ bahwa membicarakan Hidup Sesudah Mati sama saja dengan merendahkan, menghinakan dan menodai kehidupan yang sekarang. Bukannya membuat kehidupan yang sekarang menjadi berarti, doktrin Hidup Sesudah Mati malah membuat kehidupan sekarang jadi tak berarti.

Menciptakan dongeng tentang sebuah dunia ‘lain’ selain dunia ini tidak ada artinya sama sekali, kecuali cuma menjadi fitnah, umpatan, pengurangan dan curiga akan hidup yang telah diberikan pada kita sekarang; sepertinya kita membalas dendam akan hidup yang sekarang dengan sebuah khayalan akan kehidupan lain yang ‘lebih baik’.[102]
Hari Kiamat adalah balas dendam yang nikmat… Alam Baka (Beyond) --- alam disebut 'baka' hanya untuk menghina dunia yang ada ini ?[103]

Terlebih lagi, alam baka adalah sebuah cara bagi orang yang mengaku nabi untuk mempertahankan kekuasaannya, untuk menteror orang dengan siksaan neraka dan juga membujuk mereka dengan kenikmatan surgawi. Konsep alam baka, Hari Kiamat, keabadian jiwa dan jiwa itu sendiri adalah sebuah alat penyiksaan, sistem kejam yang mempertahankan nabi agar tetap menjadi tuan.[104]

Muhammad mampu mengembangkan salah satu warisan terjelek dalam ajaran Quran, yaitu Perang Jihad (dibahas di bab 10), dengan pertolongan pahala disurga bagi para martir/syuhada/sahid yang mati dijalan Islam. Seperti kata Russel, “pada tahap tertentu pengembangannya, spt dibuktikan oleh para Mohammadan, kepercayaan akan Surga punya nilai militer yang sangat besar untuk memperkuat sifat-sifat suka beperang mereka.”[105]

Sepanjang sejarah Islam, mereka yang siap mati demi agama telah diperalat secara mengerikan, para martir dipakai sebagai pembunuh (assassin) politik, jauh sebelum para pembunuh modern bermunculan diabad 11 dan 12. Teroris Timur Tengah diabad modern atau Mujahidin dianggap sebagai martir dan dimanipulasi untuk alasan-alasan politis dengan hasil yang hebat. Kebanyakan dari mereka telah kebal dari rasa takut. Seperti kata Dawkins, “Karena kebanyakan dari mereka sungguh-sungguh percaya bahwa seorang martir yang mati akan dikirim langsung ke surga. Benar-benar senjata yang hebat! Kepercayaan pada agama ini layak mendapat bab tersendiri dalam buku sejarah teknologi Perang, sejajar dengan Panah Besar, Kuda Perang, Tank dan Bom Netron.”[106]

Hidup harusnya membuat manusia sadar akan keindahan dan keberhargaannya. Fakta nyata bahwa hanya inilah satu-satunya kehidupan yang kita punya harusnya membuat kita mencoba dan memperbaikinya sebaik mungkin.

Jika pusat kehidupan seseorang tidak berada pada kehidupan yang sekarang, tapi pada alam baka, orang itu sama saja mencerabut seluruh kehidupannya (kehidupan yang sekarang dan kehidupan alam baka yang dia percayai ada padahal tidak ada). Kebohongan besar akan keabadian manusia menghancurkan segala alasan, segala naluri alaminya, naluri kebaikan dan setiap naluri untuk memajukan kehidupan berubah menjadi kecurigaan. Hidup macam itu, bahwa seakan tidak ada gunanya lagi, ITULAH yang kini menjadi "tujuan" hidup, yaitu untuk secepatnya mati di jalan Auwloh. Untuk apa rasa kebersamaan, untuk apa keturunan, nenek moyang, dan generasi yang akan datang bekerja sama, percaya, memajukan dan membayangkan kesejahteraan bersama?[107]

Etika Rasa Takut
Agama utamanya dan pokoknya didasarkan pada rasa takut. Sebagian karena rasa takut atau teror akan hal-hal yang tidak kita ketahui, dan sebagian lagi pada keinginan utk merasakan bahwa kita punya seseorang/sesuatu yang akan membantu dalam segala kesulitan dan pergumulan. Rasa takut adalah dasar dari semuanya – rasa takut akan misteri, akan kalah, akan mati. Rasa takut adalah Induk kekejaman, tidak heran jika kekejaman dan agama selalu berjalan bersamaan. - Bertrand Russel.[108]

Kita sudah mengacu pada fakta bahwa sistem etika Quran seluruhnya didasarkan pada rasa takut. Muhammad memakai kemarahan Tuhan sebagai senjata untuk mengancam musuh-musuhnya, menteror pengikutnya sendiri agar bertindak sesuai keinginannya dan patuh sepenuhnya pada dia. Seperti dikatakan Sir Hamilton Gibb, “Bahwa Tuhan adalah Tuan yang Maha Kuasa dan manusia adalah makhlukNya yang selalu ada dalam bahaya akan kemarahanNya – inilah dasar dari semua teologi dan etika muslim.” [109]

Gagasan akan hukuman tiada akhir juga tidak sesuai dan tidak pantas dengan ide Tuhan Maha Pemurah dan Maha Penyayang; bahkan lebih tidak sesuai lagi jika kita gabungkan dengan doktrin Quran akan takdir. Tuhan khusus menciptakan makhluk untuk mengisi neraka.
Terakhir, rasa takut merusak semua moralitas sejati – dibawah beban rasa takut ini manusia bertindak diluar hal-hal bijaksana demi menghindari siksaan neraka, yang sama tidak nyatanya seperti kenikmatan tempat pelacuran surga yang ditawarkannya.

Hukuman Ilahi
Quran menjatuhkan hukuman yang hanya bisa disebut barbar. Para relativis membela kebiasaan-kebiasaan tidak manusiawi yang dituliskan dalam Quran ini dg mengklaim bahwa itu semua adalah praktek-praktek normal dijamannya tapi mereka mendapatkan diri mereka terdiam ketika dihadapkan pada kekejian yang ditimbulkan ketika hukuman-hukuman itu dilakukan diabad 20, abad yang katanya telah dicerahkan. Padahal Quran adalah perkataan Tuhan – harus selalu benar utk segala jaman.

Amputasi (Pemotongan anggota tubuh)
Surah 5.38 mengatakan : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Auwloh. Dan Auwloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Menurut hukum Islam, “tangan kanan pencuri harus dipotong pada pergelangan tangan dan ujung lengannya bekas potongan tersebut lalu dibakar, dan untuk pencurian kedua, kaki kiri dipotong, untuk pencurian berikutnya dia harus ditambah dengan menderita dipenjara.” [110]

Penyaliban
Surah yang sama 5.33 berkata: “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Auwloh dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,”

Perempuan dipenjara
Karena tindakan zinah, Quran tidak mengatakan apapun akan perajaman sebagai hukuman zinah. Tapi Quran mengatakan dalam surah 4.15 : “Dan (terhadap) para perempuan yang mengerjakan perbuatan zinah, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (perempuan-perempuan itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Auwloh memberi jalan yang lain kepadanya.”

Pencambukan
Tapi dalam sura 24.2-4 dikatakan seratus cambukan untuk zinah: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Auwloh”
Rajam diterapkan pada tahap berikutnya. Seperti kita catat sebelumnya, ayat rajam bisa jadi pernah menjadi bagian dari Quran, tapi ini disangkal oleh beberapa scholar Islam.

Para pembela Islam sering berpendapat bahwa hukum Islam sesuai dengan Hak Asasi Manusia. Artikel 5 dari Deklarasi HAM 1948 menyatakan, “tidak boleh ada penyiksaan atau perlakuan atau hukuman yang merendahkan, tidak manusiawi atau kejam.” Jadi ... memotong tangan, mencambuk dan merajam itu manusiawi atau tidak yah ?

Kesalahan Sejarah dalam Quran
Dalam Surah 40.36 Quran keliru mengidentifikasi Haman, yang aslinya adalah mentri Raja Persia Ahasuerus (ada dalam kitab Ester), di Quran Haman disebut sebagai mentrinya Firaun di jaman Musa.
Kita juga sudah tahu kekeliruan Maria, ibunya Yesus, dengan Maria saudara perempuannya Musa dan Harun dalam surat 19.28. Dalam surah 2.249 dan 250 jelas ada kebingungan antara kisah Saul disana dengan kisah Gideon di Hakim-hakim 7.5

Kisah Aleksander Agung dalam Quran (18.83) adalah ngawur, kacau dan parah secara sejarah; kita yakin bahwa kisah dalam Quran itu didasarkan pada roman sejarah dari Aleksander Agung. Dilihat dari hal apapun, orang Macedonia itu bukanlah seorang muslim dan tidak hidup dijaman kuno ataupun sejaman dengan Abraham seperti yang dipercaya muslim.

Peraturan bagi komunitas Muslim
Quran berisi juga aturan-aturan dan kaidah-kaidah lain untuk bertingkah laku sebagaimananya seorang muslim dalam komunitasnya. Kita bisa melihat posisi perempuan, tentang perkawinan dan cerai didalam surah 14, institusi perbudakan dan doktrin perang suci di surah 8 dan 9, dan larangan-larangan makan minum tertentu di surah 15. Resep sosial lain mengenai zakat, bunga, warisan, sholat, ibadah haji dan puasa. Sebagian dilakukan sebagai kewajiban dan yang lainnya bukan. Quran juga menggabungkan banyak aturan moral yang, meski bukan orisinil ataupun dalam, tapi tak ada yang protes: tentang kebaikan dan rasa hormat pada orang yang lebih tua dan pada orang tua, murah hati pada yang miskin, memaafkan bukannya membalas. Juga berisi ayat- ayat tentang keindahan dan kebesaran. Tapi untuk keseimbangan, efek ajaran Quran membuat bencana bagi kemajuan akal dan sosial, intelektual dan moral. Jauh sekali jika disebut perkataan-perkataan dari Tuhan, karena isinya banyak prinsip-prinsip barbar yang tidak pantas berasal dari makhluk Maha Kuasa yang Maha Pemurah. Bukti-bukti banyak dan cukup disediakan yang menunjukkan bahwa Quran berisi jejak-jejak Muhammad, yang nilai moralnya serupa dengan pandangan dunia diabad ke-7 sat itu, sebuah pandangan yang tidak lagi kita anggap sebagai valid/sah.

Tentang Agama Umumnya, dan Islam Khususnya
Orang sering diberitahu bahwa menyerang sebuah agama adalah salah karena agama membuat orang jadi baik. Sayapun diberitahu; tapi saya tidak melihat itu benar. -Bertrand Russell.[111]
Tidak ada alasan yang cukup untuk percaya agama manapun itu benar. Malah kebanyakan hanya membuat klaim yang menunjukkannya sebagai palsu atau tidak mungkin. Meski begitu, beberapa filsuf terkenal berpendapat bahwa, meski palsu, agama-agama ini perlu utk bimbingan moral, pengendalian moral dan kestabilan sosial. Filsuf Quine berkata, “Tetap ada pertanyaan akan nilai sosial dari pengendalian dan tujuan yang ditanamkan dalam agama-agama tertentu, walau fakta-fakta yg ada tentang agama itu palsu. Jika nilai agama ini memang sebesar yang saya kira, maka akan timbul dilemma melankolis antara pencerahan sains dan pengembangan delusi.” [112]

Pandangan demikian salah secara empiris dan menjijikan secara moral. Mari kita lihat bukti, pertama, seperti Russel [113] kemukakan: "Berdasarkan fakta, semakin hebat sebuah agama dan semakin besar kepercayaan dogmatisnya, semakin besar juga kekejaman dan keburukannya. Dijaman ketika orang sungguh-sungguh percaya akan agama, ada inkuisisi dengan siksaannya, dimana jutaan perempuan malang dibakar dengan tuduhan tukang sihir; dan banyak lagi segala macam kekejaman yg dipraktekkan dalam nama agama."

Kita semua fasih benar akan peperangan yang dilakukan atas nama agama Kristen, tapi kita sama sekali blo’on akan peperangan yang dilakukan Muslim untuk Islam. Saya mendiskusikan intoleransi dan kekejaman Islam di bab 9. Saya hanya akan tunjukkan beberapa kekejian yang dilakukan atas nama Auwloh di abad 20. Selama beberapa tahun belakangan ini, para pemimpin sok suci dan sok berbudi dari kelompok-kelompok Islam di Afghanistan telah melakukan peperangan sipil yang mengerikan untuk mendapatkan kekuasaan. Diantara lima sholat wajib pada Auloh SWT, mereka mampu membunuh ratusan sipil tak bersalah. Ribuan orang terusir ke negara Pakistan dimana mereka membayangkan nostalgia hari-hari damai dibawah pemerintahan komunis. Menurut sebuah laporan dari International Herald Tribune (26 April 1994), perang sipil disana (MUSLIM vs MUSLIM), yang ketika itu memasuki tahun ketiga mengambil nyawa lebih dari 10.000 orang. Di Kabul saja 1500 orang terbunuh antara bulan Januari dan April 1994.

Sudan
Saat tulisan ini dibuat (Juni 1994), pembantaian berlangsung di Sudan dinama hukum Islam didirikan oleh Diktator Jendral Numeiri tahun 1983, meski hampir sepertiga populasinya bukan muslim, tapi orang Kristen dan animisme. The Islamic North of Sudan telah memerangi orang Kristen dan animis di selatan. Sejak 1983, lebih dari setengah juta orang terbunuh. Jumlah yang sama dipaksa keluar dari Khartoum, ibukota Sudan, untuk mendirikan kemah-kemah di gurun pasir dimana suhunya mencapai 120 derajat F, dan tidak ada fasilitas kesehatan, air, makanan atau sanitasi. Dalam artikel di the Economist (9 April 1994) yang berjudul “The Blessings of Religion” (Berkat-berkat Agama) dikatakan, “Didanai oleh Iran, pemerintah telah mempersenjatai tentaranya dengan senjata-senjata modern buatan Cina. Dibulan belakangan ini perang masih berbau jihad, ketika sekelompok tentara termakan oleh sejumlah besar mujahiden muda Sudan, yang siap mati demi Islam.”

Indonesia
Pembantaian sekitar 250 ribu hingga 600 ribu orang indonesia ditahun 1965 hanya awal belaka. Setelah kegagalan pengambil alihan kekuasaan di tahun 1965, tentara Indonesia dibantu oleh para muslim membalas dendam kepada orang-orang komunis. Tentara mendorong para nasionalis dan muslim untuk membalas dendam lama; gang-gang muslim muda membantai para keturunan cina dengan cara yang sangat mengerikan. “Tak ada yang berani keluar setelah jam 6 sore,” kata seorang keturunan cina yang keluarganya lari dari Jawa Timur. “Mereka memotong buah dada para perempuan; membuang banyak mayat kelaut hingga orang tidak mau memakan ikan laut utk waktu yang lama. Saudara saya masih bekerja ditoko ketika pagi itu para anak muda muslim datang menyerbu dengan memakai kalung telinga-telinga manusia.” (Guardian Weekly 23 September 1990). Dalam penyerangan Indonesia ke East Timor thn 1975, sedikitnya 200 ribu sipil terbunuh.

Saya menegaskan kengerian ini sebagai balasan akan omong kosong sentimental tentang “dunia timur yang spiritual,” dimana kita terus menerus diberitahukan sebagai dunia yang lebih superior dari pada dunia Barat yang ateis dan amoral; dan sebagai contoh balasan pada kepercayaan bahwa agama membuat orang jadi baik. Orang Eropa dan Asia, Kristen dan Muslim sama-sama bersalah akan kekejaman yang mengerikan; dimana ribuan orang ateis yang bukan saja menjalani kehidupan tak bersalah tapi juga bekerja keras bagi kebaikan sesama manusia.
[Note: Sayang sekali Ibn Warraq --sengaja?-- “LUPA” mengungkapkan juga bahwa di abad 20 Atheisme dibawah tameng 'sosialisme- komunisme' membantai 30 juta orang sipil di Cina dan 20 juta orang di Rusia, belum lagi di negara-negara Eropa Timur lainnya. Belum lagi gerakan-gerakan sosialisme lain di Spanyol misalnya, telah menyebabkan perang saudara sampai puluhan tahun! Serta jangan lupa juga korban-korban 'fasisme' -yg merupakan bentuk lain atheisme- membunuh 6 juta Yahudi & 6 juta orang Eropa lainnya!! - admin].

Keberatan Moral akan Kegunaan
Saran pragmatis bahwa kita lebih baik mengajarkan agama, baik itu benar atau tidak, karena dg demikian orang akan jadi berkurang kekriminalannya, adalah sesuatu hal yang memuakkan dan merendahkan.. dan hal itu adalah sebuah konsekwensi alam dari sikap agama fundamental bahwa kenyamanan dan keamanan harus selalu menang diatas pertanyaan-pertanyaan rasional. – Robinson.[114]

Pendapat bahwa meski agama itu palsu tapi kita harus tetap memegangnya demi mendapatkan bimbingan moral, juga sama-sama patut dicela secara moral, karena itu adalah alasan dan kemunafikan yang tak wajar, yang berujung pada diabaikannya gagasan kebenaran. Russel menyatakannya demikian;
Begitu kita percaya bahwa agama apapun penting artinya untuk alasan-alasan selain kebenaran, maka kejahatan sudah siap-siap muncul. Diredamnya keingintahuan.. adalah yang pertama muncul, yang lainnya pastilah menyusul. Posisi kekuasaan akan terbuka bagi kaum ortodoks. Catatan sejarah harus dipalsukan jika mereka meragukan pendapat-pendapat yang telah diterima. Cepat atau lambat orang-orang unortodoks akan dianggap sebagai kriminal yang harus disingkirkan, dimusnahkan atau dipenjarakan. Saya bisa menghormati orang yang berpendapat bahwa agama itu benar dengan demikian bisa dipercaya, tapi saya hanya merasa sebal pada mereka yang bilang agama itu harus dipercaya karena berguna dan untuk mempertanyakan kebenarannya adalah buang-buang waktu saja.[115]

Bahkan ada orang yang sungguh-sungguh percaya pendapat demikian. Prof. Watt berkali-kali mengatkan bahwa kebenaran sejarah kurang penting daripada kebenaran “simbolis” atau “ikonis”. Tapi ini adalah ketidakjujuran intelektual. Dengan kata lain dari Paulus: “Jika Kristus itu dikatakan bangkit dari kematian, bagaimana bisa ada diantara kalian yg bilang bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Jika tidak ada kebangkitan itu, maka Kristus tidaklah dibangkitkan: Dan jika Kristus tidak bangkit, maka khotbah kita percuma saja, juga iman anda..” (1 Korintus 15.12-14).

Muslim sungguh-sungguh percaya bahwa Abraham membangun Kabah; tapi, seluruh peziarah haji jadi tak berarti – ‘iman anda juga percuma’ – jika kebenaran sejarah diungkapkan, bahwa Abraham tidak pernah menginjakkan kakinya di Arab, dan mungkin juga Abraham itu tidak pernah ada. Ini juga sebuah argumen mengagumkan dari manusia yang percaya pada Tuhan. Pastinya Tuhan akan menyetujui pencarian manusia akan kebenaran. Mungkinkah Tuhan mau berbohong dan berdalih agar manusia menyembahNya?

Saya memikirkan sebuah kasus orang yang sedang menderita hebat; atau orang yang tidak punya jalan lain untuk memperbaiki hidupnya dibumi – orang yang mendapatkan kekejaman hidup. Apakah kita punya hak utk mengatakan pada dia bahwa kepercayaan dia akan Tuhannya dan Hari-hari sesudah kematian adalah mimpi belaka, ditengah-tengah ketidakadilan yg menimpanya? Kepercayaan dia adalah satu-satunya hal yang membuat dia bisa bertahan menghadapi hidup ini. Saya tidak punya jawaban untuk ini. Tapi, tentu saja, pertanyaan ini jangan menjadi alasan bagi kita untuk tidak melakukan apapun yang memperbaiki kehidupan kita – lewat pendidikan dan tindakan sosial maupun politik.

---------------------------
[93] Wells, G.A. Art. “Jesus, Historicity of.” In KU, vol.1. Hal.364 [94] Ibid., hal.365
[95] Wells, G.A. Art. In Free Inquiry, vol 3., no.4, Fall 1983.
[96] Shacht, Joseph, and C.E. Bosworth. The Legacy of Islam. Oxford, 1974. Hal.156 [97] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.15
[98] Ibid., hal.48
[99] Momigliano, A., ed. The Conflict between Paganism and Christianity in the 4th Century. Oxford, 1970. Hal.161
[100] Flew, Antony. God, Freedom and Immortality. Amherst, N.Y., 1984. Hal.107 [101] Nietzsche. The Portable Nietzsche. Ed. W. Kaufmann. New York, 1974. Hal.618 [102] Ibid., hal.484
[103] Ibid., hal.535
[104] Ibid., hal.612
[105] Russell, Bertrand. Why I Am Not a Christian. London, 1921. Hal.72
[106] Dawkins, Richard. “A Deplorable Affair.” Dalam New Humanist, vol.104, London, May 1989.
[107] Nietzsche. The Portable Nietzsche. Ed. W. Kaufmann. New York, 1974. Hal.618 [108] Russell, Bertrand. Why I Am Not a Christian. London, 1921. Hal.25
[109] Gibb, H.A.R. Islam, Oxford, 1953. Hal.27 [110] Dictionary of Islam, hal.285
[111] Russell, Bertrand. Why I Am Not a Christian. London, 1921. Hal.24
[112] Quine, W.V.O Quiddities. An Intermittently Philosophical Dictionary. Cambridge, 1987. Hal.209
[113] Russell, Bertrand. Why I Am Not a Christian. London, 1921. Hal.24 [114] Robinson, Richard. An Atheist’s Values. Oxford, 1964. Hal.117 [115] Russell, Bertrand. Why I Am Not a Christian. London, 1921. Hal.25

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar