Rabu, 21 September 2011

Muslim Wahabi dari Arab Saudi Menemukan Kasih Ilahi

UntaSaya seorang Muslim Wahabi dari keluarga Muslim di Saudi Arabia. Saya bertumbuh sebagai Muslim yang saleh. Menerima dan melakukan setiap ajaran Islam dalam kehidupan saya.

Mempelajari Al-Quran Secara Mendalam

Sebagai orang Arab, saya mempelajari Al-Quran di rumah, di mesjid dan di sekolah. Di usia 12 tahun saya sudah hafal setengah dari Al-Quran. Yang saya pelajari, manfaat menghafal Al-Quran dapat menutupi dosa. Juga ini merupakan amal pada hari kiamat serta meningkatkan kedudukan di sorga.

Selama mempelajari Al-Quran, pelajaran yang paling menarik bagi saya adalah membenci semua orang yang tidak mengikuti ajaran Muhammad. Termasuk orang Kristen dan Yahudi. Saya adalah musuh Kristen!





Keinginan Berjuang Bersama Osama Bin Laden

Awal tahun 1980an, saya siap mati di dalam nama Allah. Sejumlah besar anak-anak muda pergi ke Afghanistan untuk melawan Uni Soviet bersama Osama Bin Laden, pahlawan saya.

Jika bukan karena permintaan ibu saya untuk tetap tinggal, saya mungkin sudah pergi dengan mereka. Saya percaya, upah seorang Muslim yang mati dalam nama Allah jauh lebih baik dan lebih besar daripada mereka yang memilih tidak berjuang. Mati karena Allah sudah pasti masuk sorga dan semua dosa akan diampuni.

Tidak Nyaman Dengan Beberapa Ajaran Dalam Al-Quran

Di usia remaja, saya mulai dapat memahami bahasa yang dipakai dalam Al-Quran. Saya melihat pesan-pesan kebencian terhadap mereka yang tidak percaya. Hal ini membuat saya merasa tidak nyaman dan tidak menyukai ayat-ayat tersebut.

Saya tidak dapat membenarkan atau mengerti mereka. Saya tidak percaya bahwa Allah bisa membenci ciptaan-Nya hanya karena tidak menerima-Nya. Saya berpikir belas-kasihan Allah seharusnya lebih besar daripada yang lain dan diatas segalanya.

Dilema Melanjutkan Sekolah di Negara Barat

Setelah lulus perguruan tinggi di Arab, saya ingin melanjutkan sekolah di negara barat. Ini menjadi dilema bagi saya. Seorang Muslim dilarang berteman dengan Kristen dan Yahudi. Namun saya menyadari, untuk mendapatkan pendidikan terbaik, saya harus sekolah di salah satu negara barat. Akhir tahun 1980an saya memutuskan untuk pergi.

Saya merasa takut dan tidak nyaman harus berurusan dengan orang-orang Kristen. Saya berpikir akan kehilangan amal baik karena berhubungan dengan mereka (Qs 5:51, 57).

Pertolongan Dengan Bahasa Inggris

Setelah satu bulan tinggal di asrama, saya mempunyai keinginan untuk mengenal kebudayaan dan cara hidup negara dimana saya tinggal. Bahasa menjadi kendala bagi saya. Berbicara dalam bahasa Inggris di negara barat sulit untuk dimengerti karena mereka menggunakan idiom yang berbeda.

Satu hari saya mendengar sebuah program yang dibuat khusus untuk menolong murid internasional bekerja sama dengan keluarga orang barat. Melalui program ini setiap keluarga menolong para murid untuk mengerti budaya, cara hidup dan juga bahasa. Saya memutuskan mengikuti program tersebut.

Menyaksikan Kasih Dari Orang Kristen Sejati

Hampir dua minggu setelah mendaftar dalam program ini, sepasang orang muda dari program tersebut menghubungi saya. Mereka adalah keluarga yang ditugaskan untuk bekerja dengan saya dan menolong saya dengan kebutuhan dasar saya.

Selama tujuh bulan lamanya, keluarga ini mengasihi saya dengan cara yang jauh dari yang saya harapkan. Ini adalah sebuah kasih yang belum pernah saya alami sebelumnya, bahkan tidak dari kalangan Muslim saya sendiri. Ada suatu perasaan damai dengan mereka. Ini membedakan mereka dari orang-orang yang berada di sekeliling mereka. Pada satu titik saya benar-benar berpikir bahwa mereka bukan orang Kristen. Mengapa? Apabila setiap orang disekeliling saya adalah seorang Kristen namun mengapa keluarga ini begitu berbeda?

ThanksgivingMenjadi Tamu Dalam “Perjamuan Ucapan Syukur”

Satu hari di bulan November, keluarga ini mengundang saya mengikuti Perjamuan Ucapan Syukur di rumah mereka. Saat itulah saya menyadari mereka adalah keluarga Kristen. Saya mendengar mereka berdoa, yang sebelumnya telah meminta ijin kepada saya. Hati saya sungguh terenyuh.

Saya tidak pernah menyadari orang Kristen dipenuhi oleh kasih dan bukan kebencian seperti iman Islam saya. Mereka tidak pernah memberitakan Injil kepada saya, tetapi menunjukkan adanya Allah dalam kehidupan mereka melalui perbuatan dan cara hidup mereka.

Saat keluar dari rumah mereka, rasa ragu akan iman meliputi hati saya. Lalu saya memutuskan untuk mempelajari Kekristenan dan Isa Al-Masih. Bagaimana Dia dapat membuat perbedaan yang sedemikian rupa dalam kehidupan seseorang dan memberikan damai sukacita kepada mereka. Sukacita yang tidak pernah saya alami. Isa Al-Masih merupakan sumber terang yang bersinar dari dalam mereka.

Enam Tahun Kemudian

Enam tahun kemudian saya lulus perguruan tinggi dan bergabung dengan perusahaan lokal. Di tempat ini saya bertemu seorang pria Kristen lain. Saya sungguh terkesan dengan iman, cara hidup, sukacita, damai dan terang yang bersinar dalam dirinya. Sungguh berbeda dengan orang di sekelilingnya.

Pada hari Natal, dia mengundang saya makan malam di rumahnya. Saya memperhatikan isteri dan anak-anaknya juga seperti dia. Mereka sama dengan keluarga yang menolong saya saat sekolah dulu. Saya terdorong untuk mengetahui, mengapa mereka begitu berbeda.

Mendengarkan Kesaksian Orang Kristen

Diapun menjelaskan, mereka adalah orang Kristen lahir baru (sesuatu yang tidak saya mengerti saat itu). Menerima Isa Al-Masih sebagai Tuhan dan Penyelamat pribadi mereka. Bila dia dapat menjadi seperti saat ini, itu dikarenakan adanya Roh Tuhan dalam dirinya.

Sama seperti keluarga pertama yang saya tinggali, diapun tidak pernah membagikan Injil kepada saya. Namun saya dapat melihat bahwa Isa Al-Masih adalah sumber damai dan kasihnya.

Tertarik Mengenal Isa Al-Masih

Saya benar-benar jatuh cinta kepada Isa Al-Masih. Dia memiliki kuasa untuk mengubahkan seseorang, melebihi kuasa nabi saya yang saya hormati sebagai meterai para nabi dan kesukaan Allah.

Setaat apapun saya terhadap agama saya, saya tidak pernah merasakan damai seperti mereka. Saya benar-benar merasa malu. Mereka seperti sebuah cermin yang memperlihatkan betapa jeleknya manusia di dalam saya.

Sejak saat itu, Tuhan mengijinkan saya untuk melewati berbagai situasi dalam hidup saya. Ini membuat keinginan saya semakin besar untuk mengenal Isa Al-Masih, Allah yang sesungguhnya, yang tidak dapat ditemukan di agama lain.

Kunjungan Ke Gereja Kristen

Awal tahun 2000an, saya memutuskan pergi ke gereja walaupun itu sangat bertentangan dengan iman Islam saya. Adalah dosa besar bila seorang Muslim pergi ke gereja, juga dapat kehilangan keselamatannya.

Setelah enam bulan mempelajari Injil Yohanes di gereja tersebut, saya mulai mengerti tentang Isa Al-Masih. Pesan keselamatan menjadi sangat jelas bagi saya. Saya merasa betapa tidak berdayanya saya sebelumnya dan sungguh membutuhkan untuk diselamatkan.

Isa Al-Masih Menjadi Penyelamat Pribadi Saya

Dengan tanpa ragu sayapun menerima Isa Al-Masih sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi saya. Saya dulu musuh bagi Kekristenan. Sekarang saya telah menjadi seorang Kristen lahir baru yang akan melakukan apapun untuk melayani Tuhan dan Juru Selamat saya.

Sayapun merasakan mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan yang saya kasihi. Saya belajar bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Saya mengalami Dia di dalam hidup saya. Pada masa itu, Ia menyatakan kemuliaan-Nya yang luar biasa kepada saya dalam berbagai cara yang luar biasa. Saya tidak akan pernah menyangkal atau meragukan kemuliaan-Nya dan pekerjaan-Nya di dalam hidup saya.

Saya tidak lagi menjadi manusia yang sombong, munafik, dan tinggi hati. Telah berganti dengan hati lemah lembut. Saya menjadi seorang ciptaan baru. Perubahan itu terlihat oleh orang-orang di sekeliling saya. Alkitab berkata ini akan terjadi bagi mereka yang menerima Isa Al-Masih sebagai Juru Selamat mereka: “Aku akan memberikan mereka sebuah hati, dan sebuah roh yang baru di dalam mereka dan Aku akan mengambil hati yang keras dari dalam diri mereka dan memberikan mereka hati yang baru di dalam diri mereka . . . .” (Kitab Nabi Yehezkiel 11:19, 20)

Isa Al-Masih Mengubah Hati Saya

Sangat luar biasa bagaimana segala sesuatu telah dikatakan di dalam ayat tersebut lebih dari 2500 tahun yang lalu, terjadi kepada saya. Hal yang sama terjadi bagi setiap orang yang menerima Isa Al-Masih sebagai Juru Selamat pribadi mereka.

Saya melihat bahwa semua orang yang percaya kepada Isa Al-Masih mengalami hal yang saya alami. Isa Al-Masih mengubah hati mereka dari yang beku menjadi lemah lembut seperti Ia mengubah hati saya. Apa yang saya alami bukan hal emosional semata tetapi sebuah perubahan yang sungguh dan nyata.

Kasih Orang Kristen Mendekatkan Saya Kepada Isa Al-Masih

Pesan Injil tidak pernah diberitakan kepada saya ketika saya mencarinya. Bahkan tidak pernah mendengar sepenuhnya hingga saya menerima Isa Al-Masih. Namun saya begitu mengasihi Dia.

Titik balik dalam hidup saya terjadi karena tindakan kasih nyata dan sederhana dari dua keluarga yang berbeda yang sungguh-sungguh menjadi terang. Inilah yang diperintahkan Isa Al-Masih: “Kamu adalah terang di dunia ini... biarlah terangmu bersinar dihadapan manusia sehingga dengan begitu mereka melihat perbuatan baikmu, dan memuliakan Bapamu di Surga.” (Injil, Rasul Besar Matius 5:14-16)

Sebuah Undangan Untuk Menerima Isa Al-Masih

Teman-teman, terimalah Isa Al-Masih sebagai Tuhan dan Juru Selamatmu, Dia sungguh Allah yang hidup. Saya berdoa agar Saudara akan melakukannya hari ini. Sekali Saudara melakukannya, Saudara akan memulai satu perjalanan yang akan mengubahkan tujuan hidup Saudara. Saudara perlu menerima Isa Al-Masih sekarang. Hidup ini singkat. Kita tidak dapat mengendalikan apa yang dapat terjadi dalam hidup kita dalam beberapa detik ke depan.

Mutee’a Al-Fadi

Sumber: ISA dan ISLAM

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silahkan menghubungi kami dengan cara klik link ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar