Rabu, 04 Agustus 2010

Gema Adzan Menggetarkan Jiwaku!

Ia banyak berpikir dan membaca tentang Islam. Dan ketika mendengarkan  suara adzan, ia mengaku merasa sangat gemetar


Oleh: M. Syamsi Ali*


Senin malam lalu, bertepatan dengan hari peringatan kelahiran Dr. Martin Luther, pejuang hak-hak kesetaraan antarras di AS, dilangsungkan perhelatan akbar di Lincoln Center kota New York. Sedikitnya 2000 penonton menghadiri acara pertunjukan International Distinguished Concert of New York (IDCNY) dengan tema "The Armed for Peace".

Acara ini sendiri dikemas sebagai rangkaian memperingati hari kelahiran Martin Luther sebagai simbol  'non violence' (anti kekerasan/perang). Sedangkan acara dengan tema "The Armed Force for Peace" dimaksudkan sebagai tandingan terhadap "the Armed Force for war", yang akhir-akhir ini mendominasi berbagai peristiwa dunia kita.

Saya sendiri hadir sebagai undangan, tapi sekaligus diminta mengumandangkan adzan di selah-selah 'concert for peace' malam itu. Tentu dengan sangat senang hati saya hadir, apalagi dengan tiket gratis yang konon kabarnya dijual hingga seratusan US Dollar itu. Tapi lebih dari itu, bagi saya, yang lebih menyenangkan lagi adalah kesempatan memperdengarkan sesuatu tentang Islam, walau itu hanya dengan gema adzan.

Bukan jalannya acara itu yang ingin saya ceritakan. Tapi sesuatu yang jauh lebih menarik dari segalanya.

Ternyata, diam-diam gema adzan yang saya lantunkan malam itu menjadi penyebab hidayah bagi seseorang. Dari dua ribuan hadirin itu, Allah memilih salah seorang di antara mereka untuk dibimbing menuju ridhaNya lewat kumandang adzan itu. Orang tersebut baru pagi ini, Rabu, datang ke Islamic Center dan menyampaikan perasaannya di saat adzan dikumandangkan malam itu.

Saya baru tiba di Islamic Center ketika Sekretaris menelpon ,'"Ya syeikh, ada seseorang ingin konsultasi," begitu ujarnya. Normalnya saya tidak menerima tamu, kecuali jika sangat penting, sebelum shalat Dhuhur. "Bisakah dia menunggu Dhuhur?" tanya saya. "Dia mengatakan  sedang tergesa-gesa,"  jawab Sekretaris  saya. "Let her come to my office," kataku.

 "I am really sorry to bother you early, Imam," ujarnya mengawali pembicaraan di saat  memasuki kantor. "Oh tidak sama sekali! Aku baru saja masuk dan ingin mempersiapkan pidato singkat setelah salat Dhuhur hari ini. Tapi baik-baik saja, saya pikir saya ok untuk bertemu denganmu. Terima kasih atas kunjungannya," candaku.

Gadis itu nampak percaya diri. Tidak ada keraguan, dan terus memperlihatkan wajah yang ramah. Mungkin itulah tipe wanita-wanita Amerika, apalagi yang berpendidikan tinggi.

"Apa yang bisa aku bantu padamu hari ini?" ujarku memulai.  Sambil menarik napas, dia melihatku dan mengatakan,  "Saya yakin, Anda tak kenal saya, tetapi saya mengenal Anda." Saya sedikit terkejut dengan pernyataannya karena seolah-olah kehadirannya adalah karena mengenal saya.

"Really?" kataku lagi. "Apakah kita pernah berjumpa sebelumnya?"  tanyaku seperti nggak sabaran. "No, tapi saya pernah melihat Anda beberapa hari lalu." Saya sepertinya nggak percaya sebab memang tidak ada di benak bahwa dua hari sebelumnya saya tampil di Lincoln Center untuk mengumandangkan adzan. "Ya, dua hari lalu di  Lincoln Center," jawabnya.

Barulah saya sadar akan acara penting dua hari sebelumnya itu. "Dan apa yang bisa saya bantu kepada Anda hari ini?" tanyaku. Dengan sedikit mimik yang serius, namun dengan wajah yang ceria dia menceritakan bahwa sejak bebarapa bulan terakhir ini dia sedang mendalami Islam.

Menurutnya lagi, keinginan mendalami Islam itu terdorong oleh kenyataan bahwa Islam semakin terekspos sedemikian rupa di berbagai media massa . "Sebenarnya, pada awalnya saya  hanya ingin memastikan semua hal negatif yang telah dikatakan banyak orang tentang Islam. Tapi semakin aku belajar tentang hal itu, semakin aku tertarik padanya," katanya serius.

Karena nampaknya dia sangat tergesa-gesa, saya langsung saja ke poin penting.  "Dan apa yang Anda dapatkan tentangnya?" tanyaku memancing. "Jujur, saya percaya bahwa agama Islam luar biasa. Sungguh pun begitu saya mempunyai banyak pertanyaan, dan saya tidak bermaksud melukai perasaan mana pun," tegasnya.

"Oh not at all Miss!" kataku. "Kenyataannya, pertanyaan-pertanyaan itu mungkin jalan bagi Anda untuk mengeksplorasi lebih jauh agama ini."

Gadis baya berambut pirang ini tersenyum sambil menunduk. Mungkin masih merasa bersalah karena dalam benaknya masih ada beberapa pertanyaan tentang berbagai aspek agama ini. Barangkali karena tradisi agama lain, ketika mempertanyakan dianggap meragukan atau merupakan indikasi kelemahan iman.

"Anda tahu, dalam agama kami, menanyakan jawaban atas segala kekhawatiran yang mungkin sangat dianjurkan. Sebenarnya, itu adalah jalan menuju kebenaran," tegasku sambil memberikan contoh Ibrahim yang mempertanyakan bagaimana mungkin Allah akan menghidupkan orang yang telah mati (kaifa tuhyil mauta).

"Really? It is amazing! Kau tahu, salah satu dari banyak alasan mengapa saya belajar Islam, karena saya benar-benar ingin tahu. Aku tidak mau mengikuti sesuatu secara membabi-buta, bahkan ketika saya menolaknya rasionalitas," jelasnya.

"But don't forget," saya memotong pembicaraannya. "Dalam hal bahwa rasionalitas kami mungkin tidak di posisi untuk bergulat.  Tetapi tentu tidak ada dalam agama Islam membantah rasionalitas kami maupun sifat dasar manusiawi kami," tambah saya.

Dia tampak agak bingung. Tapi kemudian saya lanjutkan, "Ketika Anda menghitung 1 ditambah 1 ditambah 1, menurut rasionalitas kita adalah 3. Tapi kalau ada orang yang bersikeras untuk mengatakan itu adalah 1, maka itu bertentangan dengan rasionalitas kita..." jelas saya. "Tapi bila Anda mengatakan bahwa Allah akan membawa kita kembali ke kehidupan setelah kematian, rasionalitas Anda mungkin tidak dalam posisi untuk tahu detailnya. Tetapi tidak bertentangan dengan pikiran kita. Mengapa? Bagi Tuhan, Yang menciptakan kami dari tidak ada, akan lebih mudah mengembalikan kami, membandingkan hingga awal penciptaan manusia."

Tak terasa waktu berjalan hampir sejam kami mengobrol. "I am sorry to talk that much. I know you are in a hurry," kataku sambil tersenyum. "Oh no! I am okay... but need to go back to my work," jawabnya.

"Di mana Anda bekerja? Dan siapa nama Anda," tanyaku. Dari awal kami mengobrol, ternyata lupa saling menanyakan nama. "Hai, nama saya Nicole dan aku seorang akuntan bekerja di perusahaan akuntansi di Kota. Dan kau tahu hari-hari ini sangat sibuk bagi kami," jawabnya.

Saya teringat kalau hari-hari ini adalah waktu pengurusan tax bagi warga Amerika. Dan sudah tentu dia sangat sibuk.

'Ngomong-ngomong, saya berharap percakapan kita telah menarik Anda," kataku.

"Tentu," jawabnya sambil kelihatan serius.

"Syeikh, saya rasa…" katanya terpotong.

"Mengapa dengan perasaan Anda?" tanyaku.

Sambil membalik posisi duduknya, sang gadis itu melihat saya dengan wajah serius. "Saya berpikir, lebih baik bagi saya untuk mengejar impian saya," katanya lebih serius.

"Impian tentang apa?" tanyaku.

"Saya ingin menjadi seorang Muslim sekarang," tegasnya. "Dan Anda tahu? Saya datang karena lagu yang Anda nyanyikan (adzan, red) di Lincoln Center Senin yang lalu.  Jujur, setelah membaca banyak tentang Islam, banyak berpikir tentang hal itu, dan ketika saya mendengarkan Anda bernyanyi (melantunkan adzan, red), saya mendengar itu dengan gemetar, dan aku tidak tahu mengapa itu begitu kuat!"

"Nicole, saya yakin itu Anda tulus dalam cara itu untuk menemukan kebenaran. Dan Anda telah menemukannya!"

"Jadi apa yang aku lakukan?" tanyanya.

"Ini sangat sederhana,"  jawabku.

Saya kemudian memanggil dua jama'ah yang sudah mulai datang ke Islamic Center, terutama para sopir taksi yang memang menjadikan masjid 96th Street itu sebagai station untuk shalat dan keperluan kamar mandi.

Setelah keduanya hadir di kantor, saya memulai membimbing Nicole dengan linangan airmata: "Asy-hadu anlaa ilaah illa Allah. Wa asy-hadu anna Muhammadan Rasulullah," diikuti takbir kedua saksi.

Sebelum meninggalkan Islamic Center Nicole sempat belajar wudhu dan shalat Dhuha. Tapi dia berjanji untuk shalat Dhuhur di kantornya, yang menurutnya cukup private.

Selamat Nicole, semoga Nicole Friedman ini bisa menjadi inspirasi bagi Nicole Kidman menemukan hidayahNya!. [New York , 20 Januari 2010/www.hidayatullah.com]

ilustrasi: Najlah Feanny/CORBIS SABA

Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York dan penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com



--
Ajaranku masih kurang, umatku. Setelah aku akan datang Nabi Lain (Yesus - Yoh 17:3)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar