Selasa, 19 Desember 2006

The Global Peace & Unity

'The Global Peace & Unity', Pesta Umat Muslim di London yg terlewatkan

Oleh : Redaksi 17 Dec, 06 - 3:00 pm

imageimageLondon - Di tengah rintik hujan musim gugur, Kereta Api Docklands Light Railway meniti rel menuju stasiun Custom House for Excel, di jantung kota London. Pagi itu, kereta api sarat dengan penumpang keluarga Muslim Inggris.

Mereka hendak ke gedung Excel, tempat pameran bertajuk "Global Peace and Unity Event" digelar oleh stasiun televisi Islam pertama di Eropa, "Islam Channel".

Simak streaming Nasyid, speech para Mualaf Yusuf Islam, Yvone Ridley, Abdullah Hasselhoff, Wahid Pederson, Yusuf Estes, Abdur Raheem Green, Prof. Paddy Hillyard, George Galloway dan spontanitas mereka yg masuk Islam di acara GPU2006 tsb. :foto :video

Sejak pukul 10 pagi, antrian pengunjung telah memanjang menuju pintu masuk, padahal ruang pameran baru akan dibuka pada pukul dua siang, sedangkan acara "Global Peace and Unity Event" secara resmi baru akan dimulai pukul lima sore. Namun pengunjung yang datang dari berbagai kota di Kerajaan Inggris itu tidak sabar menyaksikan acara yang telah lama ditunggu-tunggu.

Meskipun harus membayar tiket seharga 15 pound per orang (setara Rp180.000), tidak membuat surut keluarga muslim dari berbagai ras dan etnik dan bangsa untuk menyaksikan bazar, pertunjukkan kesenian nashid, dan ceramah yang disampaikan tokoh Muslim dari berbagai negara termasuk Prof Dr Amin Rais, dari Indonesia. Sedianya mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid juga akan menjadi salah seorang pembicara dalam event yang dihadiri sekitar 25 ribu orang itu.

Namun untuk alasan yang belum diketahui, Gus Dur urung hadir dalam acara yang disebut oleh penyelenggara sebagai "Mega Family event for Muslim and non Muslims".Tidak hanya ceramah dengan berbagai tema, tetapi juga pameran dagang berbagai produk makanan halal, busana Muslim, mainan anak, buku serta CD musik Islami. Lembaga sosial seperti Islamic Relief, Helpinghands, dan Muslim Aid juga ikut meramaikan acara yang digelar untuk kedua kalinya itu.

Di tengah ruangan pameran juga dipajang Kiswa, kain penutup Kabah yang bertuliskan ayat-ayat suci AL Quran yang terbuat dari benang emas serta dua maket mesjid yang ada di Mekah dan Medinah. Sementara di sisi dinding lain, sebuah televisi layar lebar memutar video tata cara berhaji. Muhammad Ali dari "Islam Channel", mengatakan "The Global Peace & Unity Event" merupakan acara "keluarga" yang bertujuan untuk menyatukan seluruh umat Islam yang berada di Inggris. "Sebagai anggota masyarakat yang tinggal di Britania Raya kita harus saling menghormati agama dan kebudayaan Inggris. Itu satu-satunya cara agar kita menyatu dalam kehidupan multikultur," ujar Muhammad Ali.

Pertunjukan musik Nashyed


Pembukaan "The Global Peace and Unity Event" diadakan di hall S6. Gedung yang sedikit lebih besar dari Istora Senayan itu dipenuhi para pengunjung yang sudah tidak sabar menyaksikan konser musik nasyid yang dibawakan oleh musisi internasional. Penyanyi Inggris Nazeel Azami, Mesut Kurtis dari Macedonia, Brother Dasham dari Amerika serta Yahya Hawwa dari Syria dan kelompok Nasyid R&B Seven8 Six dari Amerika Serikat serta Hamza Robertson dari Inggris tampil melantunkan puji-pujian kepada Sang Khalik.

Di tengah-tengah pertunjukan nasyid, seorang wanita Inggris, Chantalle menyatakan diri menjadi seorang muslimah. Sontak peristiwa itu mengundang haru bercampur suka cita bagi warga muslim. Chantella membacakan dua kalimat shahadat dibimbing oleh seorang iman yang mengenakan sorban. Dengan terbata-bata Chantella pun mengikuti iman menyebutkan kalimat syahadat.

Pada hari kedua "The Global Peace & Unity Event" diisi ceramah oleh dari berbagai pembicara internasional. Setiap tokoh diberi kesempatan untuk berbicara tidak lebih dari sepuluh menit. Seorang pembicara wanita dari kepolisian Inggris, Rose Fitzpatrick mengatakan, "Inggris terbuka bagi muslim untuk menjadi polisi. Bahkan kepolisian menyediakan ruangan khusus untuk menjalani ibadah shalat."

"Kami juga memperbolehkan polisi wanita muslim untuk mengenakan hijab," ujar perempuan yang kini menjabat Deputi Assisten Commissioner dari Metropolitan Police, London.
Rose mengharapkan agar muslim dari berbagai etnik dapat menyatu dengan masyarakat Inggris lainnya. Lord Nazir Ahmed dari Partai Buruh dari kota pemilihan South Yorkshire mengatakan umat Islam sudah saatnya ikut bertanggungjawab dalam menjaga lingkungan.

"Inggris merupakan 'Great Country for Us', tidak ada tempat lain yang seperti Inggris," ujar anggota Jammu and Kashmir Human Right Commission itu. Ia juga menyerukan agar di masa datang tidak ada lagi muslim di Inggris merayakan Hari Raya Idul Fitri dalam tiga hari yang berbeda. "Kita harus merayakan Hari Raya bersama-sama dan pada hari yang sama pula."

Sementara itu Prof Dr Amin Rais mengingatkan pentingnya persatuan Islam. Apabila Islam bersatu maka dunia Islam tidak dihina oleh negara-negara Barat. Islam harus menyusun kekuatan ekonomi, diplomatik dan bahkan militer. "Kalau Islam kuat, Barat akan berfikir berulang kali untuk melakukan infiltrasi atau penghinaan kepada dunia Islam," ujarnya seraya menambahkan bahwa dalam Al Quran, muslim diminta menjunjung tinggi martabat agar dihormati.

Sementara itu Dr Rozi Munir dari PB NU menyatakan kekagumannya terhadap penyelenggaraan acara itu. "Ini menunjukkan kepada Barat, bahwa komunitas Islam kuat," ujar Rozi Munir yang sukses menyelenggarakan pertemuan kedua International Conference of Islamic Scholars Juni lalu. Mantan Kepala BKPM itu mengatakan "The Global Peace and Unity Event" juga dapat menyatukan berbagai aliran dalam Islam, seperti Hizbut Tahrir, Syiah, Suni, Wahabi, dan mahzad lain di dunia. "The Global Peace & Unity Event" juga sukses mengakomodasi seluruh lapisan tidak terkecuali anak-anak, yang mendapat program khusus seperti melukis dan mengambar kaos. Remaja muslim Inggris yang tengah gandrung dengan nasyid, juga puas dengan penampilan Shahaab, Zafar, Saad, Omar dan Saeed, yang tergabung dalam kelompok nasyid "Seven 8 Six". Zeynita Gibbons/ant/RioL

image

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar