Senin, 12 April 2010

Bab 4 - Muhammad dan Pesannya

Layak dicatat, scholar yang akrab dengan berbagai sumber Arab dan yang paling mengerti kehidupan jaman itu, seperti Margoliouth, Hurgronje, Lammens, Caetani, adalah yang paling tegas menentang pengakuan kenabian Muhammad; orang harus mengakui bahwa semakin dekat dengan sumbernya dalam mempelajari sesuatu semakin sulit pemikiran kita untuk lepas dari kesimpulan para scholar ini. - Arthur Jeffery (1926).[1]

Satu fakta yang harusnya dikenali semua orang yang punya pengalaman tentang kemanusiaan adalah: orang yang kelihatan sangat religius seringkali merupakan orang-orang yang sangat jahat. - Winwood Reade (1872).[2]

Meski kita sepakat dengan Cook, Crone, Wansbrough dan yang lainnya bahwa kita tidak tahu banyak tentang orang yang disebut Muhammad ini, kita harus cukup puas mendapatkannya dari sumber-sumber hadis (meskipun semuanya sangat diragukan ke-valid-annya). Para muslim mungkin lebih baik menolak alternatif terakhir, karena hadis tidak seluruhnya memuji-muji sang Nabi. Susahnya bagi muslim, mereka tidak bisa menuduh tulisan-tulisan (hadis) itu dibuat oleh musuh.

Mungkin karya Barat pertama yang menerapkan metoda “Kritik Sejarah” pada kehidupan Muhammad adalah buku Gustav Weil “Mohammad der Prophet, sein Leben und sein Lehre (1843)”, disitu dikemukakan pendapat Muhammad seorang penderita epilepsi (ayan). Ini diikuti oleh karya lainnya, Sprenger, Noldeke, dan Muir. Kita nanti akan menelaah pandangan-pandangan Sprenger. Karya hebat Noldeke mengenai Quran, Geschichte des Qorans (1860) juga akan dibahas di bab berikutnya tentang Quran.

Karya Muir, Life of Mahomet muncul disekitar tahun 1856-1861, dalam empat volume, didasarkan dari sumber-sumber asli muslim, sumber langsung yang keandalannya dipertanyakan sengaja disimpan pada bab terakhir, tapi justru oleh Muir disebut bab yang sangat patut untuk diperhatikan.

Penilaian Muir mengenai karakter Muhammad ini diulang-ulang oleh scholar lain. Para scholar[3] membagi kehidupan Muhammad menjadi dua periode, perioda Mekah dan periode Medinah; selama periode pertama, di Mekah, motif Muhammad sangatlah religi, tulus dalam mencari kebenaran; tapi pada periode keduanya, Muhammad mulai menunjukkan taringnya dan dia rusak oleh ambisi kekuasaan dan duniawi.

Pada Periode Mekah kehidupannya, tidak terlihat ada maksud pribadi atau motif-motif jahat… Mahomet saat itu tidak lebih dari sekedar “pemberi peringatan dan pendakwah sederhana”; dia dibenci dan ditolak oleh orang-orang yang didakwahinya, tidak punya maksud tersembunyi lain selain mereformasi orang-orang tersebut. Dia mungkin keliru memakai metode wahyu surga untuk mencapai tujuannya, tapi tidak ada alasan cukup kuat untuk meragukan bahwa dia memang memakai metode itu semata-mata hanya demi alasan yg baik dan tulus. Tapi semua ini berubah di Medinah. Disana kekuasaan, kekayaan dan kepuasan-diri menyatu cepat dengan tujuan-tujuan besar kenabiannya; semua itu dicari dan dicapat dengan metode yang masih sama. Pesan surga dengan enaknya turun untuk membenarkan tindakan- tindakan politiknya, persis seperti yang dipakai untuk menanamkan ajaran-ajaran religi waktu di Mekah. Peperangan dilakukan, pemancungan dan pembantaian diperintahkan, dan daerah teritori ditetapkan dengan alasan semua itu sudah disetujui atau direstui oleh Auwloh yang Maha Kuasa. Bahkan kesenangan-kesenangan (nafsu) pribadi pun bukan saja dibolehkan malah didukung dan dianjurkan oleh perintah dari Surga.

Ijin khusus keluar, yang membolehkan sang nabi memiliki banyak istri; selingkuh dengan sang pembantu, menggagahi Maria orang Koptik, semua disetujui dan dituliskan dalam Surat tertentu; juga hasrat birahi kepada menantu (istri anak angkatnya) sendiri serta pada teman- temannya dijadikan subjek dari wahyunya, keberatan-keberatan sang nabi akan kelakuan buruknya sendiri ditolak oleh Auloh sebagai sebuah kesalahan (dibenarkan oleh Auwloh), perceraian diijinkan dan perkawinan dengan pihak yang dihasratkannya dilangsungkan. Jika kita bilang “wahyu-wahyu” demikian dipercaya oleh Muhammad dengan tulus sebagai benar wahyu dari Tuhan, maka itu hanya bisa terjadi jika perasaan (nurani) kita sudah sama anehnya dan termodifikasi seperti dia. Pastinya dia harus bertanggung jawab untuk hal yang dia percayai itu; dan untuk itu dia telah melakukan banyak kekejian dalam penilaian dan prinsip sifat-sifat aslinya.

Hasilnya, kita telusuri sejak periode kedatangan Muhammad ke Medinah sebagai periode penurunan moral yang cepat dalam sebuah sistem yang dia ajarkan sendiri. Intoleransi secara cepat mengambil alih kebebasan dan kekuatan persuasif. Senjata spiritual yang semula hanya untuk masalah-masalah religi tingkat tinggi dengan cepat dipakai untuk masalah-masalah yang sepele dan sementara sifatnya, masalah- masalah sepele ini malah dipakai sebagai pembenaran dari senjata- senjata spiritual tersebut. Nama Yang Maha Kuasa ditanam menjadi kekuatan mengerikan pedang kekuasaan; dan pedang kekuasaan ini menghasilkan kerelaan untuk menghancurkan “para musuh Tuhan” dan mengorbankan musuh-musuh itu dialtar agama baru ini. “Bunuh orang-orang kafir dimanapun kau temukan,” menjadi slogan dari Islam. “Berperang dijalan Auwloh sampai musuh dihancurkan dan agama menjadi milik Auwloh saja.” Pengabdian hangat sederhana ini yang pernah ditiupkan sang nabi serta para pengikutnya di Mekah, ketika bercampur dengan motif-motif duniawi segera berubah menjadi pudar dan hambar; sementara keimanan merosot menjadi kefanatikan, atau menguap dalam sebuah aturan-aturan formal yang tak manusiawi.

Muir mengatakan selama Quran tetap menjadi standar kepercayaan, kejahatan akan terus mengalir: “Poligami, Perceraian dan perbudakan mengancam akar moral masyarakat, meracuni kehidupan domestik, dan merusak kehidupan bermasyarakat; sementara hijab (kerudung) menghapus gender perempuan dari posisinya yang benar di dunia… kebebasan berpendapat dan opini-opini pribadi dihancurkan dan ditiadakan. Toleransi tidak dikenal dan institusi kebebasan serta liberal ditutup rapat.”
Muir menunjuk ketidakkonsistenan karakter Muhammad sebagai berikut: Seiring hasrat menggebu untuk memusnahkan penyembahan berhala dan mempromosikan agama serta kebaikan didunia, muncul juga kecenderungan kesenangan pribadinya; sampai akhirnya, karena menganggap diri sebagai lelaki pilihan Surga, dia membenarkan dirinya dengan memakai “wahyu-wahyu”, membebaskan dirinya untuk hal-hal kepemilikan sosial dan kewajiban-kewajiban yang mengikat orang-orang biasa.

Penilaian akhir dari Muir adalah “Pedang Mahomet dan Quran adalah musuh bagi peradaban, kebebasan dan kebenaran yang paling keras yang pernah dikenal dunia.” [4]

Caetani, yang menulis awal abad ini, muncul dengan kesimpulan yang sama pula. Di Medina, Muhammad lebih percaya diri, sadar akan superioritasnya.
Muhammad menonjol diantara semua orang, sampai-sampai Tuhan diberinya posisi kedua, jadi hanya pembantu Sang Nabi. Dia (Tuhan) tidak lagi jadi Yang Maha, pada siapa persembahan harus ditujukan, tapi menjadi si Maha Kuasa yang membantu nabi dalam misi-misi politiknya, yang memfasilitasi kemenangan-kemenangannya, menghibur dalam kekalahan, membantunya mengurai keruwetan- keruwetan dunia dalam kerajaan kaum pria, dan menolongnya memperlancar kesulitan-kesulitan yang muncul setiap hari ketika dia menggapai fase baru dari karir nabi dan politiknya. “Tuhan Mesin” ini (Deus ex Machina) menjadi amat sangat berguna baginya dalam sebuah masyarakat keji, bengis, pemarah, pembenci, tinggi hasrat balas dendam, haus darah, serakah dalam merampok dan mudah berubah-ubah rasa simpatinya…. Dari mulut Muhammad-lah dan bukan dari Tuhan (sebagai boneka Muhammad) keluar jawaban-jawaban untuk mempertanyakan segala sesuatu, keluar fatwa yang menentukan nasib seseorang, dan secara keseluruhan, Tuhan tidak dianggap lagi tapi sang nabilah yang jadi sumber puja-puji. Muhammad adalah sebuah fakta yang nyata dan jelas; Tuhan hanya menjadi sekedar teori/dalil berguna baginya, sebuah prinsip mutakhir, yang disimpan tinggi-tinggi di surga atas sana, yang mengikuti dengan seksama dan bergairah serta penuh kekhawatiran pergerakan-pergerakan sang nabi, baik dalam hal kecil maupun dalam hal besar, membantu dengan segerombolan malaikat yang siap sedia (stand-by), Dia siap mengeluarkan ayat-ayat untuk menerobos kesulitan-kesulitan yang muncul, untuk meluruskan kesalahan-kesalahan, melegalkan kegagalan- kegagalan, mendorong insting-insting keji dan kebrutalan tidak bermoral dari tuhan tirani.

Jika Muhammad menyimpang di tahun-tahun awal misinya, ini tidak heran; karena dia hanyalah seorang manusia yang kelakuan dan temperamennya tidak jauh berbeda dari masyarakat sekitarnya ketika itu, masyarakat yang setengah biadab (barbar), tercerabut dari akar budaya murni dan dibimbing melulu oleh insting dan sifat alam yang dimengerti secara buruk dan menelan begitu saja doktrin-doktrin Yudaisme dan sekte Kristen yang sesat yang ada saat itu. Muhammad menjadi mudah rusak ketika kekuasaan dan kekayaan menghampirinya di Medina, dia tidak bisa menolak tindakan-tindakan jelek yang harus dilakukan olehnya untuk mempertahankan posisi baru itu, terlebih lagi jika melihat fakta bahwa usaha pertamanya berhasil, belum rasa sedapnya kuasa politik tanpa batas yang dia punyai… Penurunan karakter moralnya adalah sebuah fenomena yang amat sangat manusiawi, dimana sejarah telah mencatat kejadian yang sama seperti ini bukan sekali saja, tapi ribuan kali. Lebih mudah untuk mati suci dengan dipancung atau mati di tiang gantungan daripada bertahan di singgasana setelah berjuang keras melawan musuh yang bengis dan keras kepala. Figur Muhammad kehilangan kecantikannya, tapi dia mendapat kekuasaan sebagai gantinya.
Nanti saya akan menelaah argumen Muir dan Caetani untuk melihat apakah mereka adil atau tidak dalam menilai karakter sang nabi. Disini saya ingin melihat karya Sprenger mengenai kehidupan Muhammad. Buku The Muslim Sources penuh referensi sang nabi sebagai subjek, khususnya pada waktu wahyu-wahyu secara rutin turun dan dia terima. Ini yang dijelaskan oleh Margoliouth:
Dugaan.. bahwa dia menderita epilepsi (sakit ayan) mendapat konfirmasi yang mengherankan jika melihat catatan-catatan pengalamannya ketika dan selama proses penerimaan wahyu – hal yang tidak kalah pentingnya adalah jika kita melihat kemungkinan ada saat epilepsinya hanya dibuat-buat. Proses ayan ini dimulai dengan kondisi tidak sadarkan diri kadang disertai dengan bunyi bel (ditelinganya) atau dia percaya ada seseorang/sesuatu yang hanya dia sendiri bisa lihat; rasa takut yang membuat si penderita ayan ini bercucuran keringat; kepala miring; mulut berbusa; wajah memerah atau memutihnya; sakit kepala.[5]

Sprenger memutuskan bahwa gejala-gejala yang jelas dari epilepsi ini adalah kunci menuju karakter Muhammad. Kebanyakan scholar mengabaikan spekulasinya dan menganggap terlalu khayal, kecuali seorang scholar Denmark, Franz Buhl, yang mengajukan sedikit modifikasi. Buhl[6] berpendapat bahwa dalam fase Medina Muhammad membuka sisi gelap karakternya; kejam, licik, tidak jujur, tidak bisa dipercaya; seseorang yang berprinsip “menghalalkan segala cara”; seorang lalim yang menuntut kepatuhan mutlak, seksualitas yang meningkat, hingga:
Bahkan wahyu-wahyunya pun menghalalkan segala cara untuk mendukung kecenderungan erotisnya atau untuk mengembalikan keharmonisan diantara istri-istrinya… Pengandaian yang harus kita terima bahwa bentuk awal wahyu-wahyunya sekarang berubah menjadi alat untuk mempertahankan reputasinya agar tetap menjulang, dan dalam kenyataannya dia mungkin sering tersadar dan merasa salah telah melakukan kebohongan. Bukan saja penyerangan-penyerangan yang dia lakukan… yang menunjuk pada sebuah kondisi patologis, tapi dalam banyak hal dia telah menyimpangkan sifatsifat histerisnya dengan anomali-anomali yang dia tentukan sendiri. Sebuah karakterisitik yang terus menerus mengalir dalam sifatnya adalah sebuah ketidakmampuan utk membedakan yang salah dengan yang benar; karena telah dikuasai sepenuhnya oleh ide-ide demikian, sangat tidak mungkin bagi mereka untuk memandang masalah-masalah dalam perspektif sebenarnya dan karena begitu sangat yakin akan kebenaran sendiri hingga alasan yang paling masuk akalpun tidak bisa membujuk mereka untuk melakukan hal yang sebaliknya.

Tapi Buhl menyangkal adanya perubahan total pada diri Muhammad – karena masih bisa ada jejak-jejak idealisme awal dia pada periode Medina ini.
Dr. Macdonald dalam bukunya “Aspects of Islam” mengajukan teori Psikoanalisa dimana sang nabi dipandang sebagai kasus patologi, dan “bagaimana dia berpindah kedalam kejahatan adalah sebuah kasus untuk mereka yang melakukan studi tentang bagaimana sebuah medium (orang) yang kerasukan bisa setiap saat memalsukan kerasukannya.“[7]
Dalam buku “Mohammed and the Rise of Islam” (London, 1905), Margoliouth[8] mengembangkan ide Islam sebagai sebuah masyarakat rahasia dan membandingkan Muhammad dengan medium-medium modern lain dan dengan Joseph Smith pendiri dari agama Mormon. Margoliouth menjelaskan alasan serta penipuan sang medium dan menunjukkan bahwa Muhammad juga memakai teknik-teknik yang sama untuk mendirikan dan mengembangkan kekuasannya atas pikiran- pikiran orang-orang Mekah yang menjadi pengikutnya pertama kali. Dua kutipan dari buku Margoliouth membuat hal ini jelas:
Dalam sebuah ruangan yang kosong dia (Muhammad) mengaku tidak bisa mendapatkan tempat duduk, semua sudah diduduki oleh para malaikat. Dia memalingkan wajahnya dari sebuah mayat kepada dua Houris (bidadari) yang datang dari surga untuk menemui suami mereka. Dia kadang bertingkah seakan Jibril sedang melakukan sesuatu dengannya atau membiarkan para pengikutnya menyimpulkan telah/sedang terjadi percakapan antara dia dengan malaikat. Wahyu- wahyu yang dia keluarkan hampir mirip dengan yang dilakukan oleh medium-medium (perantara) modern, yang bisa dipelajari dalam buku sejarah Spiritualisme oleh Mr. F. Podmore, dimana risetnya menimbulkan keraguan bahwa orang yang terhormat tidaklah mungkin mau mengelabui teman-temannya sendiri; dan juga menimbulkan pendapat bahwa keyakinan yang dihasilkan dari sikap/gaya seorang medium ketika mendapatkan wahyu sering tidak tergoyahkan hanya karena terungkapnya kebohongan si medium. Dari salah seorang medium yang karirnya dia sebutkan, sang penulis mengamati persahabatan dan kepercayaan penuh yg didapat dari teman- temannya tertolong oleh emosi-emosi religius yang diilhami oleh kerasukannya tersebut, dan semua itu menimbulkan sebuah karakter yang seakan suci tak bernoda dan sebuah kehidupan yg seakan-akan penuh aktivitas terhormat. Keadaan demikian sangat menguntungkan dan membantu sekali bagi si medium agar orang percaya pada ‘ketulusannya’, tapi sejarawan Spiritualisme ini, meski tidak yakin bagaimana menyebutkan semua fenomena dan mengenali kesulitan- kesulitan yang muncul dalam penjelasannya, cenderung menerapkan semua itu pada kehebatan penampilan si medium untuk menipu/membohongi. Yang jelas adalah bahwa Muhammad juga memiliki kelebihan-kelebihan yang sama seperti yang dijelaskan oleh Podmore, dan dg demikian bisa mendapat pengikut; meski proses turunnya wahyu itu sendiri sangat mencurigakan hingga salah seorang yang bertugas menuliskan wahyu yakin akan penipuan tersebut dan langsung meninggalkan Islam. Tapi bagi mereka yang mempelajari efektivitas politis dari wahyu supernatural, mempertanyakan ketulusan sang medium itu adalah hal yang kecil dan tidak berarti dibanding keuntungan yang akan didapat.

Sejumlah ayat Quran mestilah telah ada ketika Abu Bakar memulai misi Muhammad; setidaknya dia mesti bisa meyakinkan pengikutnya bahwa sang nabi benar-benar bisa berkomunikasi dengan surga, bahwa dia sendiri bisa berkomunikasi dengan Tuhan sejati dan itu mungkin dipercaya karena jumlah orang percaya bertambah, Quran sendiri berubah dari komunikasi “Mediumistik”, dimana semuanya dimulai dengan dakwah-dakwah yang mengisi periode kedua. Untuk penonton yang berjumlah sedikit proses yang dilakukan medium bisa sangat efektif. Orang asing tidak boleh hadir ketika sedang turun wahyu, hal ini untuk membuat mereka yang hadir saat itu berada dalam keadaan siap menerima wahyu; pendekatan hebat yang ditunjukkan si medium yang terjatuh, lalu perlu diselimuti, dan kemudian muncul dari dalam selimut dalam keadaan menakutkan sambil berkeringat banyak sangat-sangat sensasional (kaya para tukang sulap di pasar-pasar Indonesia, pen.); proses yang diamati pengikutnya ini membuat mereka menghargai dan menjunjung tinggi apapun yang diucapkan oleh si medium yang kerasukan. Jika ada orang yang tidak percaya menyatakan bahwa si medium (dalam banyak hal) tidak bisa bersandiwara demikian untuk menarik orang; tulisan-tulisan para penulis biografinya menyatakan bahwa para mualaf bahkan telah menyatakan kepercayaan mereka sebelum mereka melihat Muhammad itu sendiri. Begitu sang nabi semakin menjelaskan kenabiannya dengan terbuka, konon dia membiasakan diri memakai cadar, dan kebiasaan ini hanya dilakukan pada saat akan munculnya ‘kerasukan-kerasukan’ misterius itu, hal ini bisa juga menambah keangkeran bagi orang-orang sekitarnya. Seiring dengan waktu kerasukan itu mulai berubah menjadi ‘kerasukan’ biasa saja, tidak sensasional, kebanyakan malah wahyu turun tidak dalam kondisi ‘kerasukan’, seperti dalam mimpi dan lain-lain; jika dia menyalami tangan orang dia tidak langsung menarik tangannya lebih dulu; dia pandang orang itu sampai orang itu memalingkan pandangannya. Perawatan yang seksama juga dia lakukan pada dirinya sendiri; setiap malam dia warnai sekeliling matanya (maskara), dan tubuhnya setiap waktu ditaburi parfum. Rambutnya panjang hingga kebahu; dan jika mulai tampak rambut putih (uban), dia sembunyikan dengan cara mewarnainya. Dia memiliki seni berbicara terhadap orang-orang baru – dia bisa mengatakan sesuatu yang membuat lawan bicaranya tertarik, atau punya rasa ingin tahu yang besar. Berapa benar penggambaran bakatnya ini sulit utk dikatakan; tapi sedikit sekali yang ragu bahwa dia memang mengetahui metode/cara-cara yang dikenal oleh medium-medium modern, yang sekarang digunakan untuk mengelabui orang. Terlebih lagi, pada periode awal tak seorangpun boleh menemui sang nabi langsung jika maksudnya belum jelas, dan jika orang itu belum siap untuk memuliakan dia.

Kita sekarang bisa melihat kejadian-kejadian dalam kehidupan Muhammad yang mendapatkan penilaian demikian keras dari Muir dan Caetani. Harus dijelaskan dari awal bahwa kisah-kisah ini semua diambil dari sumber-sumber Islam itu sendiri (Ibn Ishaq, al-Tabari dan lain-lain).

-----------------
[1] Jeffery Arthur “The Quest of the Historical Mohammed,” in MW Vol.XVI, No4. Oct 1926
[2] Reade., hal.230
[3] Muir, Sir W. The Life of Muhammad. Edinburgh, 1923 [4] Caetani Annali dell’Islam, trans in MW vo. Vi.
[5] Jeffery Arthur “The Quest of the Historical Mohammed,” in MW Vol.XVI, No4. Oct 1926, hal 335
[6] Buhl in MW vol 1, 1911, hal 356-64.
[7] Dikutip oleh Jeffery Jeffery Arthur “The Quest of the Historical Mohammed,” in MW Vol.XVI, No4. Oct 1926, hal 336
[8] Margoliouth, Mohammed and the Rise of Islam, London, 1905

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar