Selasa, 09 Juni 2009

Pengalaman Bawah Sadar Muhammad (Bag 1)

Teknologi baru dalam mempelajari cara kerja otak manusia semakin mempermudah pengertian akan pengalaman mistik Muhamad yang diakuinya sendiri secara gamblang. Untuk menghindari orang menuduhnya membual, ia menunjuk Allah untuk menggambarkan apa yg dilihatnya.

Dari ia berada diufuk yang tertinggi.
Dia datang mendekat dengan bergerak turun kebawah.
Lalu Dia menurunkan kepada hambaNya apa yang patut diturunkan.
Hati tidak mengada-ada tentang apa yang telah dilihatnya.
Adakah kamu meragukan apa yang dia telah lihat ?
Dia telah melihat disuatu turunan yang lain.
Dipenghujung kesudahan.
Dimana lokasi Syurga yang abadi ditempatkan.

Mata mata tidak berpaling, dan tidak juga menjadi buta.
(Q.53:6-1 http://www.submission.org/indonesia/quran/sura-53.html

Dalam ayat lain ia secara tegas menyatakan tentang pengalaman visualnya:

Dia melihatnya diufuk yang tinggi. (Q.81:23)

Sebuah hadis melaporkan sang nabi bercerita ttg pengalamannya:

“Saat saya sedang berjalan saya mendengar suara dari langit. Saya melihat ke atas dan lihatlah ! Saya melihat malaikat yg sama yg mendatangi saya di Goa Hira', duduk disebuah kursi antara langit dan bumi. Saya begitu takut olehnya sampai saya jatuh ketanah. Dan saya pergi ke isteri saya dan mengatakan, 'Selimuti saya dgn jubah ! Selimuti saya dgn jubah !' Mereka menyelimuti saya dan lalu Allâh mewahyukan: [1]

Saat seseorang bertanya, "Bgm wahyu ilahi datang kepadamu ?"
Muhamad menjawab,

"Kadang seperti bunyi lonceng, bentuk wahyu ini yg paling sulit dari semuanya dan lalu keadaan ini lewat sampai saya mengerti apa yg diwahyukan. Kadang malaikat datang dlm bentuk lelaki dan berbicara kepada saya dan saya mengerti apapun yg dikatakannya." 'Aisha menambahkan: Sesungguhnya saya melihat Nabi sedang mendapatkan wahyu pada sebuah hari yg sangat dingin dan melihat keringat deras dari keningnya (saat wahyu selesai). [2] Ia melanjutkan, “Ketika wahyu

Bukhari mengatakan: “Wahyu ilahi kepada Rasulullah dimulai dalam bentuk mimpi2 dalam bentuk sinar terang.” [3]

Sebuah hadis yg dicatat Muslim menulis: “A'isha, istri Rasulullah melaporkan: (Bentuk) pertama yg memulai wahyu kepada Rasulullah adalah gambaran dlm mimpi. Dan ia tidak melihat gambaran apapun kecuali wahyu yang datang seperti sinar cerah fajar.”[4]

Tabari melaporkan: “Nabi mengatakan, ‘Saya berdiri, namun jatuh pada lutut saya; dan merangkak pergi, bahu saya gemetaran.”[5]

Bukhari juga mencatat sebuah hadis panjang yg menggambarkan seluruh episode ttg bgm Muhamad menerima wahyu2nya.

Diriwayatkan oleh 'Aisha:

Permulaan Wahyu Ilahi kpd Rasulullah adalah dlm bentuk mimpi dlm tidurnya. Ia tidak pernah bermimpi tetapi (wahyu) itu datang spt terang sinar pagi hari. Ia biasanya menyingkirkan diri ke (goa) Hira’ dimana ia memuja (Allâh saja) berulang-ulang selama berhari-hari dan bermalam2. Dlm perjalanannya, ia biasanya membawa makanan dan lalu kembali kpd (isterinya) Khadijah utk menjemput makanan utk melanjutkan periode berikut (di goa Hira), sampai Kebenaran tiba-tiba turun padanya saat ia berada dlm goa Hira. Malaikat datang padanya didalam wahyu tsb dan memintanya (Muhamad yg buta huruf) utk membaca. Nabi menjawab, "Saya tidak dapat membaca. Malaikat memegang saya (dgn keras) dan menekan saya begitu keras sampai saya tidak tahan lagi. Ia kemudian melepaskan saya dan sekali lagi meminta saya agar membaca dan saya menjawab, "Saya tidak bisa membaca," dan dgn itu ia kembali memegang saya dan menekan saya utk kedua kalinya sampai saya tidak tahan lagi. Ia kemudian membebaskan saya dan kembali meminta agar saya membaca, "Saya tidak tahu bagaimana membaca (atau, apa yg harus saya baca ?)." Saat itu ia memegang saya utk ketiga kalinya dan menekan saya dan membebaskan saya dan mengatakan, "Bacalah: Dalam Nama Allah yg Menciptakan (semua yg ada). Ia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu yang Maha Mulia ... " (Q.96:1-5)

Lalu Rasulullah kembali dgn wahyu itu, otot-otot lehernya bergetar dgn keras sampai ia menemui Khadijah dan mengatakan, "Selimuti saya ! Selimuti saya !" Mereka menyelimutinya sampai seluruh ketakutannya padam dan lalu ia mengatakan, "O Khadijah, ada apa dgn saya ?" Lalu ia menceritakan semua yg terjadi dan mengatakan, 'Saya khawatir bahwa sesuatu akan terjadi pada saya.’ Khadijah mengatakan, 'Tidak mungkin! Namun berbahagialah, karena Allâh tidak akan pernah mempermalukanmu karena kau membina hubungan baik dgn sanak saudaramu, berbicara kebenaran, membantu fakir miskin dan melarat, melayani tamu2mu dgn murah hati dan membantu mereka yg memerlukan, yg dilanda bencana."

Khadijah lalu membawanya kepada (saudara sepupunya) Waraqa bin Naufal bin Asad bin 'Abdul 'Uzza bin Qusai. Waraqa adalah putera paman dari garis ayah, yaitu kakak ayahnya, yang selama masa Pra-Islam menjadi seorang Kristen, ahli menulis abjad Arab dan menulis Injil dlm bahasa Arab sesuai dgn kehendak Allah. Ia adalah orang tua dan kehilangan daya penglihatannya. Khadijah mengatakan kpdnya, "Ya saudaraku! Dengarkanlah cerita keponakanmu." Waraqa mengatakan, "Ya keponakan! Apa yg kau lihat?" Nabi menggambarkan apa yg ia lihat.

Waraqa mengatakan, "Ini adalah Namus yg sama (yaitu Jibril, malaikat yg menyimpan rahasia-rahasia) yg dikirim Allâh kpd Musa. Seandainya saya masih muda dan bisa hidup pada jaman ketika rakyatmu …. Waraqa menjawab ya dan mengatakan: "Belum pernah seseorang datang dgn sesuatu yg mirip dgn apa yg kau bawa namun disambut dgn permusuhan. Kalau saya masih hidup pada hari kau ….. maka saya akan mendukungmu sepenuhnya.”

Namun beberapa hari kemudian Waraqa wafat dan Wahyu Illahi juga berhenti selama beberapa waktu dan nabi menjadi begitu sedih dan seperti yang kami dengar, ia berkali2 ingin melemparkan dirinya dari puncak gunung dan setiap kali ia pergi ke puncak sebuah gunung utk melemparkan dirinya kebawah, Jibril nampak didepannya dan mengatakan, "Ya Muhamad! Kau memang rasulullah yg sebenarnya" dan hatinya kemudian terhening dan ia tenang kembali dan kembali pulang. Dan setiap kali periode datangnya wahyu menjadi panjang, ia akan melakukan hal yg sama, tetapi saat ia mencapai puncak sebuah gunung, Jibril nampak padanya dan mengatakan apa yg dikatakan sebelumnya.

(Ibn 'Abbas tentang arti: 'Ialah yg memisahkan sinar matahari (dari kegelapan)' (6.96) bahwa Al-Asbah berarti sinar matahari selama siang hari dan sinar bulan pada saat malam hari). [6]

Cerita Waraqa, saudara sepupu Khadijah, mengakui Muhamad sbg rasulullah, yg didasarkan pada studinya atas kitab-kitab suci yg sudah ada, tentu omong kosong. Inilah bentuk cerita-cerita Muhamad yg dikarang Muhamad utk menguatkan klaimnya. Tidak ada apapun dlm kitab-kitab suci Yahudi atau Kristen yg menunjuk pada Muhamad. Waraqa mati dan Muhamad merasa bebas utk menyusun kebohongan, seolah-olah cerita-cerita itu datang dari Waraqa, spt juga klaim bohongnya bahwa kakeknya mengatakan bahwa masa depannya gemilang. Tidak heran kalau Khadijah, sbg co-dependent Muhamad, menegaskan kebohongan-kebohongan itu. Seorang co-dependent sering meng-koroborasi kebohongan-kebohongan pasangannya yg narcissist (narsisis).

Ada klaim serupa yg dibuat Muhamad ttg saat ia pergi ke Busra utk urusan dagang Khadijah. Ia mengatakan bahwa pada saat karavan-karavan masuk dari pinggir Busra, ia duduk berteduh dibawah sebuah pohon dan kemudian seorang biarawan Nestorian melihatnya.

“Siapa lelaki dibawah pohon itu?” tanya biarawan kpd Maysarah, lelaki remaja, pembantu Khadijah yg menemani Muhamad dlm ekspedisi dagangnya ini. “Lelaki Quraish,” jawab Maysarah.” “Tiada lain daripada seorang nabi yg duduk dibawah pohon itu,” kata sang biarawan. Menurut cerita yg disusun Muhamad ini, sang biarawan mengetahui status Muhamad dari dua awan kecil yg memberinya keteduhan dari panas matahari. “Apakah ada … warna kemerah-merahan disekitar matanya yg tidak pernah hilang?" tanya sang biarawan. Ketika remaja itu menjawab ya, ia mengatakan, “Ia pastilah nabi terakhir; selamat kepada siapapun yg percaya padanya.”

Ditempat lain ia mengaku bahwa tahi lalat diantara kedua bahunya adalah tanda kenabiannya. Saya belum pernah menemui kitab suci yg menegaskan bahwa tahi lalat diantara kedua bahu dan kemerahan disekitar mata adalah tanda-tanda seorang nabi. Kemerahan kronis disekitar mata adalah sebuah kondisi medis yg dinamakan blepharitis yg diakibatkan oleh radang/kebengkakan pada pelupuk mata. Satu jenis blepharitis, spt meibomian gland dysfunction (MGD) bisa mengakibatkan kelainan kulit pada pasien yg dikenal sbg rosacea dan seborrheic dermatitis. Rosacea juga ditandai dgn wajah yg kemerah-merahan. Ali, putera Abu Talib, menggambarkan wajah Muhamad sbg putih-kemerah2an.[7]

Muhamad menemukan penonton yang mudah percaya apa saja dan ia merasa bebas utk mengatakan apapun pada mereka, karena ia tahu bahwa mereka akan percya, bahkan gejala-gejala berbagai penyakitnya dinyatakan sbg tanda-tanda kenabian. Tidak ada sebutan apapun ttg Maysarah diantara para pengikut paling dini. Kalau memang cerita ini benar, maka seharusnya Maysarah adalah orang yg pertama yg menjadi pengikut Muhamad.

Dlm hadis diatas kami melihat peran penting Khadijah dlm Islam. Saat Muhamad mengalami halusinasi anehnya ini, ia menyangka bahwa ia kesurupan. Khadijah-lah yg meyakinkannya bahwa ia dipilih utk menjadi nabi Tuhan dan mendukungnya utk terus menggali ketidakwarasannya itu.

Ada halusinasi Muhamad yg visual, ada yg didapat dari mimpi dan ada juga yg didapatkan lewat pendengaran.

Ibn Ishaq menulis: “bahwa nabi, pada saat Allâh menurunkan rahmatnya kdpnya sbg nabi, akan pergi membawa pengalamannya ini dlm perjalanan jauhnya, sampai ia tiba di Mekah dan bukit-bukit tanpa satu rumahpun atau batu ataupun pohon yg dilewatinya, namun ia mendengar ‘Damai besertamu, ya Rasulullâh.’ Dan nabi menengok kekanan dan kekiri dan melihat kebelakang, dan ia tidak melihat apapun kecuali pohon-pohon dan batu-batu.” [8]

Muhamad juga memiliki sejumlah halusinasi lain.

Diriwayatkan Abu Huraira: “Nabi menawarkan solat dan mengatakan, “Setan datang di depan saya dan mencoba menggangu solat tetapi Allâh memberi saya kekuatan dan saya mencekiknya. Saya berpikir utk mengikatnya pada salah satu pilar mesjid sampai kau bangun di pagi hari dan melihatnya. Lalu saya mendengar pernyataan Nabi Solomon, 'Ya Tuhan ! Berikan saya kerajaan yg tidak akan dimiliki oleh siapapaun setelah saya.' Lalu Allâh mengusirnya (Setan) dgn kepala tunduk (dihina).”[9]

Diriwayatkan Aisha:
Penyihiran terjadi pada Rasululah shg ia menyangka bahwa ia telah senggama dgn istri-istrinya padahal tidak (Sufyan mengatakan: Itu penyihiran paling sulit mengingat dampaknya). Lalu satu hari ia mengatakan, "Ya 'Aisha tahukah kau bahwa Allâh memerintahkan saya ttg hal yg saya tanyakan padanya ? Dua lelaki datang kpd saya dan salah seorang duduk dekat kepala saya dan satunya lagi duduk dekat kaki saya. Yang didekat kepala saya bertanya kpd rekannya. Apa yg terjadi pada orang ini? Yang belakangan menjawab bahwa ia berada dlm pengaruh sihir. Yg pertama bertanya, Siapa yg menyihirnya ?' Yg lainnya menjawab, Labid bin Al-A'sam, lelaki dari Bani Zuraiq, sekutu Yahudi dan seorang munafik.' Ditanya kemudian, ‘Apa bahan-bahan yg digunakannya ?' Dijawabnya, 'Sebuah sisir dan rambutnya yg menyangkut padanya.' Yg pertama kemudian bertanya, 'Dimanakah (benda itu)?' Yg lainnya menjawab. 'Dlm kulit sari pohon kurma jantan yg disimpan dibawah sebuah batu dlm sumur Dharwan.' Jadi, nabi pergi ke sumur itu dan mengeluarkan barang-barang itu dan mengatakan ‘Inilah sumur yg ditunjukkan pada saya (dlm mimpi). Airnya mirip sari daun-daun Henna dan pohon2 kurmanya nampak spt kepala-kepala setan.’ Nabi menambahkan, ‘Kemudian benda itu dicabut'. Saya mengatakan (kpd nabi) ‘Mengapa anda tidak merawat diri anda dgn Nashra?’ Katanya, ‘Allâh sudah menyembuhkan saya; saya tidak suka membiarkan setan tersebar diantara orang-orang saya.’[10]

Dlm hadis lain ditulis : “Wahyu datang kpd rasulullah dan ia diselimuti dgn selembar kain dan Ya'la mengatakan: Bisakah saya melihat datangnya wahyu kpd rasulullah. Ia (Omar) mengatakan: Apakah kau akan senang melihat Rasulullah menerima wahyu. 'Omar mengangkat sudut jubah nabi dan saya melihat padanya dan ia (nabi) terdengar sedang mengorok. Ia (narator) mengatakan: Saya menyangka itu suara onta.” [11]

Lagi-lagi hadis : “Ketika Jibril menurunkan Wahyu Ilahi kpd Rasulullah, ia menggerak-gerakkan lidah dan bibirnya, keadaan itu sangat menyiksanya dan gerakan itu menunjukkan bahwa wahyu sedang diturunkan..”[12]

Jadi inilah daftar dampak fisik dan psikologis turunnya wahyu terhadap jiwa dan raga Muhamad berdasarkan pada hadis.
1. Halusinasi melihat malaikat, sinar terang atau mendengar suara-suara
2. Kejang-kejang tubuh dan sakit perut yg sangat menyiksa
3. Tiba-tiba dirasuki perasaan gelisah & ketakutan
4. Gerakan dlm otot-otot leher
5. Gerakan bibir dan lidah yg tidak dapat dikontrol
6. Berkeringat pada hari-hari yg sangat dingin
7. Wajah kemerah-merahan
8. Raut wajah yg gundah gelisah
9. Gerakan jantung yg sangat cepat
10. Mengorok spt onta
11. Mengantuk
12. Keinginan utk bunuh diri

Semua ini adalah gejala-gejala penyakit temporal lobe epilepsy [TLE].
Satu lagi karakteristik TLE adalah bahwa TLE terjadi tiba-tiba tanpa peringatan terlebih dahulu kpd pasien. Ini sesuai dgn pengalaman mistik Muhamad.
Bukhari melaporkan: “Rasulullah bercerita ttg periode tidak datangnya wahyu … ‘Suatu hari saat saya berjalan, tiba-tiba saya mendengar suara dari langit. Saya melihat keatas dan saya heran melihat malaikat yg sama yg mengunjungi saya di goa Hira’…"[13]

Angan-angan utk Bunuh Diri

Para narator mengatakan bahwa Muhamad sering mencoba bunuh diri, namun selalu dihentikan oleh Jibril. Ia tadinya menyangka bahwa ia telah menjadi seorang penyair atau seorang juru nujum:

“Saya tidak pernah membenci seseorang spt saya membenci seorang penyair atau seorang kahin. Saya tidak sudi memandang keduanya. Saya tidak akan pernah bercerita kpd suku Quraish manapun ttg wahyu-wahyu saya. Saya akan menaiki sebuah gunung dan melemparkan diri saya dan mati. Itu akan melegakan saya. Saya pergi utk melakukannya namun ditengah jalan saya mendengar suara dari langit yg mengatakan ‘Ya Muhamad! Kau adalah rasulullah dan saya Jibril.’ Saya berhenti dan melihatnya. Ia mengalihkan perhatian saya dari apa yg ingin saya lakukan. Saya berdiri di tempat dgn tertegun. Saya mencoba memalingkan mata saya darinya, tetapi ke bagian langit manapun mata saya mengarah, saya melihatnya spt sebelumnya.”[14]

Apa yg dilihat Muhamad berada dlm kepalanya sendiri, mengikuti kemanapun matanya bergerak. Gambar pada sampul buku saya ini menunjukkan Jibril menampakkan diri di berbagai tempat pada saat yg sama. Namun, ini bukan cara Muhamad menjelaskan apa yg dilihatnya. Apa yg dilihatnya bisa digambarkan sbg halusinasi visual. Ini terjadi pada berbagai kondisi non-psychiatric termasuk cerebral lesions, sensory deprivation, the administration of psychedelics & migraine.

Ada halusinasi yg bersifat sederhana, yi pasien melihat sinar, warna atau bentuk-bentuk geometris. Macam halusinasi ini sering timbul dalam occipital lobe epilepsy. Delusi dan halusinasi yg kompleks, spt yg dialami Muhamad terjadi pada serangan temporal lobe & kelainan neurologist lain spt Parkinson’s disease & Creutzfeldt–Jakob disease. Halusinasi-halusinasi ini biasanya gambaran sangat jelas dari binatang, manusia atau sosok-sosok mitologis spt malaikat, jin[15] dan mahluk luar angkasa (extraterrestrials). Mereka bisa datang lewat pendengaran, perasaan dimulut dan bahkan dlm mimpi (auditory, gustatory, olfactory and even somatosensory hallucinations).

Halusinasi-halusinasi somatosensory dan kinesthetic biasanya diasosiasikan dgn kejang-kejang temporal lobe. Ini menjelaskan pengalaman Muhamad di goa Hira’ saat ia merasakan bahwa Jibril menggenggamnya dgn sebegitu kuat sampai ia kesakitan dlm perut bagian bawah (abdomen) sampai ia menyangka ia akan mati.

Periset sains, Scott Atran, menjelaskan, “Sudden alterations of activity in the hippocampus and amygdala can affect auditory, vestibular, gustatory, tactile, olfactory perceptions and lead to hallucinations involving voices or music, feelings of sway or physical suspension, the tastes of elixirs, burning or caressing, the fragrance of Heaven or the stench of Hell. For example, because the middle part of the amygdala receives fibers from the olfactory tract, direct stimulation of that part of the amygdala will flood co-occurring events with strong smells. In religious rituals, incense and fragrances stimulate the amygdala so that scent can be used to focus attention and interpretation on the surrounding events. In temporal-lobe epilepsy, the sudden electrical spiking of the area infuses other aspects of the epileptic experience with an odorous aura.”[16]

Muhamad menggambarkan Jibril sebagai memiliki 600 sayap. Inipun sulit dibayangkan. Buraq, kuda yg ditumpanginya pada malam ia terbang ke Yerusalem dan ke surga, memiliki kepala manusia dan sayap burung rajawali. Kecuali orang bersedia percaya dlm absurditas ini, jelaslah bahwa Muhamad sedang berhalusinasi.

Sejarawan dan akademisi Muslim dari Mesir, Haykal, menggambarkan surge-surga yg didatanginya. Surga pertama terbuat dari perak murni dan bintang-bintang bergelantungan dari atapnya dgn rantai emas.” [Ini menunjukkan bahwa Muhamad tidak memiliki pengertian apapun ttg sifat bintang. Ia menyangka bintang-bintang sbg mirip lampu-lampu pohon natal yg bergelantungan dari atap langit. Ini memang konsisten dgn teori kosmologi Ptolemy yg dipercaya luas pada jaman itu.]. Pada setiap bintang ada malaikat yg berjaga-jaga utk menghindari genderuwo naik ke dalam tempat-tempat suci dan menghindari hantu-hantu dari diam-diam mendengarkan rahasia-rahasia surgawi. [Absurditas in juga dinyatakan dlm Qur’an, bahwa jin berdiri diatas sesama bahu mereka utk mendengarkan diskusi “Majelis Mulia, sampai mereka ditembak jatuh oleh bintang-bintang yg ditembakkan pada mereka spt peluru misil. Dijaman dulu orang menyangka bahwa meteorit adalah bintang-bintang yang berjatuhan (shooting stars.[17]]

Disana, Muhamad menyalami Adam. Dan dalam keenam surga lainnya. ia berjumpa dgn Nuh, Harun, Musa, Abraham, Daud, Salomo, Idris (Enoch), Yahya (Yohanes Pembaptis) dan Yesus. Ia melihat malaikat kematian, Azrail, yg tubuhnya begitu besar sampai kedua matanya berjarak 70.000 hari perjalanan berbaris. [Sekitar 10 kali lebih besar dari jarak antara Bulan dan Bumi]. Ia memiliki 100.000 batalyon dan melewatkan waktunya dgn menulis dlm sebuah buku raksasa nama-nama mereka yg mati atau dilahirkan. Ia melihat malaikat air mata yg menangis bagi dosa-dosa dunia; Malaikat Pembalas dgn wajah yg besar yg tertutup oleh bisul2-bisul yg menguasai api dan duduk dlm singgasana berapi; dan satu lagi malaikat raksasa yg tubuhnya terdiri dari setengah salju dan setengah api yg dikelilingi oleh paduan surga yg terus menerus menangis:
`Ya Tuhan, Kau menyatukan api dan salju, menyatukan semua abdi-abdimu utk tunduk pada hukum2Mu. Dlm surga ketujuh dimana jiwa-jiwa orang-orang baik tinggal ada malaikat yg lebih besar dariseluruh dunia dgn 70.000 kepala; setiap kepala memiliki 70.000 mulut dan setiap mulut memiliki 70.000 lidah dan setiap lidah berbicara dlm 70.000 bahasa dan tidak habis-habisnya menyanyikan pujian kpd Sang Maha Kuasa.’[18]

· Muhamad memang memilki daya khayal yg luar biasa. Namun pemikirannya jelas rancu.
Mahluk-mahluk diatas itu bahkan sulit dibayangkan, apalagi eksis.
· Muhamad melihat malaikat yg ukurannya lebih besar dari bumi ini, yg sebenarnya sebuah
oxymoron.
· Malaikat ini memiliki 70.000 kepala; setiap kepala memiliki 70.000 wajah. (Total wajah yg
dimilikinya adalah : 4.900.000.000)
· Setiap wajah memiliki 70.000 mulut (Total mulut : 343.000.000.000.000)
· Setiap mulut memiliki 70.000 lidah (Total lidah : 24.010.000.000.000.000.000)
· Setiap lidah mampu bercakap dlm 70.000 bahasa (Total bahasa yg mampu digunakannya :
1,680,700,000,000,000,000,000,000)

Mengapa Allâh merasa perlu menciptakan mahluk monster spt itu hanya agar mahluk itu bisa memuja-mujanya tanpa akhir dlm berbagai bahasa pula? Mahluk macam itu hanya bisa dibayangkan oleh orang yg sedang menderita halusinasi akut. Bayangkan seseorang mengisi rumahnya dgn ratusan computer dan alat perekam dan memprogram mereka agar alat-alat itu memuja sang pemilik, setiap waktu dalam segala macam bahasa. Bukankah itu gila? Allâh adalah perwujudan ego Muhamad dan segalanya yg ia inginkan. Psikologi Allâh merefleksikan psikologi Muhamad. Sbg seorang narsisis, ia memiliki kehausan besar agar dipuja, begitu pula tuhannya yg tidak lain hanyalah perwujudan dirinya.

Muhamad adalah orang yg suka menyendiri. Ia menikahi seorang wanita penting, tapi ia sendiri bukan orang penting dan bahkan diejek oleh sukunya sendiri. Halusinasinya, yg ditafsirkan oleh isterinya sbg tanda kenabian, adalah suplai narsistiknya yg paling besar. Saat halusinasinya berhenti, ia menjadi depresif.

Vaknin mengatakan: “Depresi adalah komponen besar dlm sifat emosional sang narsisis. Namun ini sebagian besar adalah karena absensinya suplai narsisistik tsb. Ini sebagian besar ada hubungannya dgn nostalgia kpd saat lebih bahagia, penuh pemujaan dan perhatian dan tepukan tangan … Depresi adalah sebuah bentuk agresi. Dlm bentuk lain, agresi ini ditujukan kpd sang penderita depresi ketimbang kpd lingkungannya. Agresi yg di-represi dan di-mutasi ini adalah karakter baik narsisisme maupun depresi. …

Namun, sang narsisis, walaupun depresi, tidak pernah melupakan narsisisme-nya: grandiositasnya, perasaan bahwa segala2nya merupakan hak miliknya, kesombongannya dan kekurangan rasa empati.”[19]

Ini tidak hanya menjelaskan sebab-musabab depresi Muhamad dan pemikirannya utk bunuh diri namun juga mengapa ia tidak pernah menuntaskan bunuh diri tsb. Narsisis jarang bunuh diri. Betapa anehnya bahwa dlm setiap kali Muhamad mencoba utk bunuh diri, Jibril datang menyelamatkannya, dan proses itu diulanginya kembali. Narsisis biasanya tidak pernah menuntaskan bunuh diri mereka, Mereka hanya mengungkapkannya guna mencari simpati.

“Bgm mungkin seorang narsisis yg menganggap diri sbg seorang Colossus, sbg orang yg teramat penting, sbg pusat alam semesta, lalu bunuh diri ? Agatha Christie menulis dlm Dead Man's Mirror: “Ia jauh lebih mungkin akan menghancurkan orang lain – seseorang yg berani mengusiknya.... Tindakan macam itu bisa dianggap penting – malah suci! Namun menghancurkan diri sendiri? Penghancuran seorang Diri macam itu”?”

Berbeda dgn pasien bipolar yg memerlukan perawatan medis utk mengobati depresi mereka, seorang narsisis hanyalah memerlukan “satu dose suplai narsistik utk mengangkat perasaannya dari depresi menjadi manic euphoria yg sangat tinggi”, kata Vaknin.[20]


Temporal Lobe Epilepsy

Kejang2 tubuh yg di-asosiasikan dgn TLE terdiri dari simple partial seizures atau kejang-kejang sebagian tubuh tanpa kehilangan kesadaran (dgn atau tanpa aura/peringatan) dan complex partial seizures (yi. dgn kehilangan kesadaran). Sang penderita kehilangan kesadaran selama sebuah complex partial seizure karena kejang-kejangnya melibatkan kedua temporal lobes, yg mengakibatkan gangguan ingatan.[21]

Kejang2 Muhamad mencakup kedua macam tipe diatas. Kadang ia jatuh dan kehilangan kesadaran, dan kadang tidak.

Menurut sebuah hadis, selama konstruksi Ka’bah, sebelum ia menerima pemberitahuan akan diangkat sbg nabi, Muhamad jatuh ke tanah tanpa sadar dgn kedua matanya mengarah pada langit. Pada saat itu ia kehilangan kesadaran. Ini jelas tanda kejang-kejang epilepsi.

Menurut situs emedicine.com, “90% pasien dgn abnormalitas temporal interictal epileptiform pada EEG mereka pernah mengalami kejang-kejang.” Kami tahu bahwa sejak masa kecilnya, Muhamad mengalami kejang-kejang. Ia melihat dua lelaki dlm jubah putih membuka dadanya dan mencuci jantungnya dgn salju putih. Neurosurgeon AS dan pionir ahli bedah otak, Harvey Cushing, melaporkan ttg seorang anak lelaki dgn sebuah cystic glioma dlm temporal lobe bagian kanan mengalami halusinasi kuat ttg seseorang dlm tiga dimensi dlm jubah putih.

Neurologis Irlandia-AS, Robert Foster Kennedy (1884-1952) adalah salah seorang yg pertama yg mengidentifikasikan halusinasi kuat yg bersifat audio-visual (bisa didengar dan dilihat) yg terjadi diluar tubuh penderita, sbg berasal dari temporal lobe.[22]

Ttg masa mudanya, Muhamad mengatakan:
Saya berada diantara anak-anak lelaki Quraish, mengangkat batu-batu spt yg digunakan anak-anak utk bermain. Kami semua membuka baju kami, masing-masing membuka lapisan atas (selembar kain) dan dililitkan disekeliling leher sambil mengangkat batu-batu ini. Saya berbolak-balik bersama mereka ketika sebuah sosok yg tidak nampak menampar saya sampai sakit sambil mengatakan, ‘Kenakan bajumu’. Jadi saya mengenakannya dan memulai mengangkat batu-batu itu dileher saya, berbeda dari teman-teman saya.”[23]

Nampaknya sosok-sosok dlm halusinasi Muhamad se-kasar dan se-agresif Muhamad.

Gejala-gejala Kejang-kejang Temporal Lobe

Kejang-kejang yang diakibatkan dari dalam temporal lobe bisa didahului oleh sebuah aura (peringatan), dalam bentuk sensasi abnormal, epigastric sensations (perasaan aneh dalam perut), halusinasi atau ilusi (entah lewat indera mata, hidung atau rasa di mulut ), sensasi déjà vu (perasaan sangat bahagia dan puas), membayangkan peristiwa atau perasaan di masa lalu atau emosi tiba-tiba dan intens yang tidak ada hubungannya dengan keadaan saat itu. Semua gejala-gejala ini hadir saat Muhamad mengalami kejang-kejang.

Pengalaman epilepsi ini bisa partial/sebagian, dimana sang penderita tidak kehilangan kesadaran, atau partial complex, yang mengakibatkan kehilangan atau kekurangan kesadaran.

Gejala-gejala lain termasuk gerakan kepala yang abnormal dan bola mata yang terangkat keatas (putih semua, bagian hitamnya tidak kelihatan). Kejang-kejang tipe inilah yang terjadi pada Muhamad saat dibangunnya Ka’bah.

Gerakan kontraksi otot yang repetitif dan ritmik yang mempengaruhi satu bagian tubuh, satu lengan, bagian dari wajah atau bagian terisolasi lainnya juga merupakan gejala-gejala TLE. Gejala-gejala lain termasuk sakit perut bagian bawah (abdominal pain), perasaan muak (nausea), keringat deras, wajah kemerah-merahan, detak jantung yang cepat dan perubahan dalam visi, ucapan, pemikiran, kesadaran dan kepribadian. Jelas, halusinasi lewat panca-indera (visual, audio, sentuhan badan dsb.) adalah gejala-gejala utama.[24]

Epilepsy didefinisikan sbb: “Simple partial seizures dengan gejala-gejala mental, yaitu si penderita bisa mengingat apa yang dialaminya tadi, dari jaman dulu dikenal sebagai ‘aura’. Kejang-kejang itu sering disusul dengan gerakan tubuh yang tehentak-hentak (convulsion). Mereka sering bagaikan mimpi … Ia berpikir ia sudah gila.”[25]

Muhamad memang merasa bahwa ia sudah gila. Khadijah-lah yang meyakinkannya bahwa ia tidak gila.

Situs itu juga menulis: “Sejak lama diperdebatkan apakah penderita epilepsy memiliki kepribadian khas yang berbeda dari orang lain. Disimpulkan bahwa penderita dengan temporal lobe epilepsy lebih tidak stabil secara emosional, dengan kecendrungan untuk agresif. Ada yang menjadi egois (self-centered), mereka begitu sensitif sampai mendekati paranoia, dan setiap pernyataan bisa membuatnya tersinggung. Mereka terlalu menganalisa hal2 secara mendalam (mengarah kepada perasaan dendam), dan sangat tertarik khususnya pada hal-hal seperti agama, hal-hal mistik, filosofis dan isu-isu moralitas.”[26]

Dijelaskan pula bahwa penderita TLE cenderung untuk depresi, berpikir untuk bunuh diri dan halusinasi. Penderita merasa bahwa ia sedang ditindas. Namun demikian, hubungan emosionalnya dengan orang2 lain lebih baik dengan penderita schizophrenia. Berbeda dengan schizophrenia, TLE sering sembuh dengan sendirinya. Ini kemungkinan terjadi pada Muhamad, karena semakin beranjak dalam umur kejang-kejangnya semakin jarang terjadi. Namun demikian, ini tidak menghentikannya untuk terus “menerima wahyu” untuk melengkapi Qur’annya sesuai dengan keperluan keadaan.

Diantara ayat-ayat Mekah yang dini dan ayat-ayat Medinah yang belakangan, ada perbedaan dalam nada, ahasa dan struktur bahasa. Surat-surat yang ditulis selama karir Muhamad yang dini bersifat poetis. Mereka berbunyi seperti sajak, pendek dan menarik perhatian. Mereka penuh dengan permohonan agar pengikut soleh, rajin berzakat, menafkahi anak yatim, membebaskan budak, sabar, berbaik hati dan penuh kasih dan cukup banyak perngatan dan janji-janji neraka bagi mereka yang tidak mengindahkan peringatannya.
Surat 91, “Al Shams/Matahari”, adalah surat khas yang menggambarkan periode ini. Surat itu membicarakan sebuah mitos yang sudah dikenal luas oleh bangsa Arab, bahwa Allâh telah mengirimkan onta betina untuk memperingatkan rakyat Tsamud, yang karena kecerobohan mereka memotong sebuah binatang yang sebenarnya seorang nabi betina.
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: ("Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya". Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.
Surat 113, “AL Falaq/Subuh”, adalah contoh lain tentang surat yang ditulis dalam periode Mekah ini.
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Biasanya tukang-tukan sihir dalam melakukan sihirnya membikin buhul-buhul dari tali lalu membacakan jampi-jampi dengan menghembus-hembuskan nafasnya ke buhul tersebut. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki".
Saat masih di Mekah, ambisi Muhamad hanya terbatas pada kota itu dan sekitarnya. Ia menulis:
Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur'an dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya.[27]
Ibu segala Kota, Ummul Qura, adalah Mekah. Dalam ayat-ayat lain[28] ia mengatakan bahwa ia datang khusus bagi mereka yang belum menerima wahyu dari Tuhan. Menurut ayat-ayat ini, pesannya tidak ditujukan bagi Yahudi dan Kristen. Namun dengan lajunya waktu dan ambisinya, akhirnya ia menuntut agar kesemuanya tunduk padanya atau mati.

Bahasa dalam surat-surat belakangan bersifat legalistik. Sama dengan bahasa seorang tiran yang menetapkan hukum dan peraturan bagi pengiktunya dan mendorong mereka untuk merebut wilayah baru.

Seperti dikatakan A. S. Tritton, “Kalimat-kalimatnya panjang dan sulit dicerna sehingga sang pendengar harus mengendar secara hati-hati atau ia akan kehilangan iramanya; bahasanya bersifat prosa dengan kata-kata yang berirama dalam intervalnya. Topiknya adalah peraturan, komentar atas kejadian, pernyataan kebijakan, peringatan kepada mereka yang tidak se-iya sekata dengan sang nabi, khususnya Yahudi, dan rujukan kepada cekcok rumah tangga. Daya khayalnya disini mulai melemah dan anak-anak kalimat menunjukkan kemiskinan ide-ide dengan disana sini berisi letupan entusiasme dari ayat-ayat Mekah.”[29]

Juga penting dicatat bahwa halusinasi Muhamad tidak terbatas pada malaikat Jibril. Ia juga mengaku melihat Jin dan bahkan Setan. Saat sedang solat dalam mesjid, ia mulai menggerak-gerikkan lengannya seakan bergelut dengan seseorang yang tidak kelihatan. Ia kemudian mengatakan, “Setan datang didepan saya dan mencoba mengganggu doa saya, namun Allâh memberi saya kekuatan dan saya mencekiknya. Saya berpikir untuk mengikatnya kepada tiang mesjid shg kau bisa melihatnya saat kau bangun di pagi hari. Lalu saya ingat pernyataan Nabi Solomon, 'Tuhanku ! Berikan kepada saya sebuah kerajaan yang tidak dimiliki siapapun setelah saya.' Lalu Allâh membuatnya (Setan) kembali dengan kepala tunduk (terhina).”[30]

Dalam berbagai ahadis, Muhamad meriwayahkan pertemuan2nya dengan Jin. Ada cerita yang mengatakan ia bermalam di kota mereka dan membuat mereka masuk Islam. Ada paling sedikit 30 rujukan kepada Jin dalam Qur’an.

Gejala Lain TLE

Penderita TLE memiliki lima tendensi ini (diantara dan bukan selama kejang-kejang):.

1. Hypergraphia: sebuah fenomena obsesi yang diwujudkan dalam menulis atau mencatat dalam buku harian secara ekstensif. Walau mengaku buta huruf, Muhamad menyusun Qur’an, meminta orang lain untuk menulis untuknya.
2. Hyperreligiosity: kepercayaan religius yang tidak hanya intens/mendalam, namun juga bisa diasosiasikan dengan teori-teori teologis atau kosmologis yang tidak lazim. Penderita menganggap diri mendapatkan wahyu ilahi. Muhamad jelas menyibukkan diri dengan filosofi dan hal-hal mistik, yang membawanya menciptakan sebuah agama baru.
3. Menempel: Dari cerita-cerita tentang kedekatan Muhamad pada pamannya, ketika ia masih kecil, bisa disimpulkan bahwa Muhamad secara emosional sangat memerlukan orang dekat dan sangat marah saat ditolak atau dicampakkan.
4. Niat seksual yang berubah-ubah: Obsesi Muhamad kepada wanita menunjukkan bahwa interesnya kepada sex meningkat walau, seperti yang akan kita saksikan nanti, kemampuannya itu kemungkinan berkurang atau hilang sepenuhnya.
5. Agresif: emosi intens ini sering labil, sehingga suatu saat penderita bisa menunjukkan kehangatan, dan pada saat lain, kemarahan dan iritasi berujung pada amukan dan kelakuan agresif. Muhamad kadang bersifat ramah, khususnya kepada sahabat-sahabatnya, namun sangat tidak sabar dan sering jengkel dgn mereka yang ia anggap menolak tuntutan-tuntutannya. Bukhari mengatakan: “JIka Nabi tidak suka sesuatu, tanda ketidaksukaan itu akan nampak pada wajahnya.”[31]

Perjalanan Malam ke Surga

Ada berbagai versi ttg cerita Mi’raj Muhamad, pelancongan malam harinya ke surga. Ibn Ishaq menyusun tradisi-tradisi yang berasal dari sahabat-sahabatnya, khususnya istrinya, ‘Aisha. Menurut riwayat, Muhamad melaporkan:
“Ketika saya tidur dalam hijr, Jibril datang dan membangunkan saya dengan kakinya. Saya bangun namun tidak melihat apa-apa dan merebah kembali. Untuk kedua kalinya ia datang dan membangunkan saya dengan kakinya. Saya tidak melihat apa2 dan merebah kembali. Ia datang kepada saya untuk ketiga kalinya dan membangunkan saya dgn kakinya. Saya bangun dan ia memegang tangan saya dan saya berdiri disebelahnya. Ia membawa saya keluar pintu mesjid, dan disitulah ada seekor hewan putih, setengah keledai (half mule, half donkey), dengan sayap2 disisinya yang mempercepat gerakkan kakinya …. Ia menaikkan saya padanya. Lalu ia pergi keluar dengan saya, dan terus dekat dengan saya. Ketika saya mencoba menaikinya, ia [hewan itu] malu-malu. Jibril meletakkan tangannya pada bulu tengkuknya dan mengatakan, Apakah kau tidak malu, wahai Buraq, untuk bertingkah seperti ini ? Demi Allâh, tidak ada yang lebih terhormat bagi Allâh daripada Muhamad menaikimu. Hewan itu begitu malu sampai ia berkeringat dan berdiri sehingga saya bisa menaikinya.”
Sang periwayah kemudian mengatakan: “Nabi dan JIbril berangkat sampai mereka tiba di kuil Yerusalem. Disana ia berjumpa dengan nabi-nabi seperti Ibraham, Musa dan Yesus. Sang nabi berlaku sebagai imam utama mereka dalam memimpin doa. Lalu ia dibawakan dua ember, yang satu berisi anggur dan yang lainnya berisi susu. Sang nabi mengambil susu itu dan meminumnya, menolak anggur tersebut. Jibril mengatakan, ‘Kau telah diarahkan dengan benar kepada hukum alami, agama asli yang benar dan begitu pula pengikutmue, Muhamad. Anggur diharamkan bagimu.’ Lalu sang nabi kembali ke Mekah dan dipagi hari ia mengatakan kepada Quraish apa yang terjadi. Kebanyakan dari mereka mengatakan, ‘Demi Allâh, ini jelas sebuah absurditas ! Sebuah caravan saja memerlukan waktu satu bulan untuk mencapai Syria dan satu bulan untuk kembali. Bagaimana Muha¬mad bisa melakukan perjalanan pulang-pergi dalam satu malam ?’”
Ibn Sa’d mengatakan; “Setelah mendengar cerita ini banyak orang yang berdoa dan bergabung dengan Islam menjadi pembelot dan meninggalkan Islam.” Dan kemudian ayat Qur’an berikutlah kabarnya diturunkan sebagai tanggapan: “Kami membuat visi yang Kami tunjukkan hanya untuk menguji manusia.”[32]
Para periwayat Muslim sampai jungkir balik membumbui cerita ini agar nampak kredibel. Mereka menambahkan bahwa setelah orang menuntut bukti darinya, Muhamad menjawab bahwa ia dan kuda buraqnya telah melewati karavan si ini dan si itu di sebuah lembah dan bahwa sang buraq mengagetkan mereka sampai salah satu onta mereka meloncat kaget dan melarikan diri. Lalu Muhamad dikutip sebagai mengatakan;
“Dan saya menunjuk kepada mereka dimana (karavan) itu berada, saat saya dalam perjalanan ke Syria. Saya meneruskan perjalanan sampai di Dajanan, sebuah gunung didekat Tihama, sekitar 25 mil dari Mekah. Saya melewati karavan Banu ini dan itu. Saya menemukan mereka tertidur. Mereka memiliki ember air yg ditutupi dengan alas penutup. Saya melepaskan penutup itu dan meminum airnya, dan meletakkan kembali alas penutup tersebut. Yang ingin dibuktikannya adalah bahwa karavan mereka itu pada saat ini sedang turun dari al-Baida’ di Celah al-Tan’im, yg dipimpin oleh onta berwarna ke-abu2an yg dibebani dengan dua kantong, salah satunya berwarna hitam dan satunya lagi berwarna warni.’ Baida adalah sebuah lembah didekat Mekah, disisi Medinah. Tan’im berada di tanah tinggi didekat Mekah. Orang-orang itu bergegas mencapai Celah itu dan onta pertama yang mereka temukan adalah sesuai dengan yang digambarkan (nabi). Mereka menanyakan lelaki-lelaki itu tentang ember air itu dan mereka mengatakan bahwa ember itu tadinya penuh air, dan mereka menutupinya dengan sebuah alas namun ketika mereka bangun, ember itu, walau tertutup ternyata kosong isinya. Mereka bertanya orang lain yang juga berada di Mekah dan mereka mengatakan bahwa memang benar mereka dikagetkan dan seekor onta berlari kaget. Mereka mendengar seseorang memanggil mereka, yg menunjuk pada arah larinya sang onta sehingga mereka bisa menangkapnya kembali.”
Tradisi-tradisi ini ditulis lebih dari seratus tahun setelah kematian Muhamad. Tidak ada cara membuktikan otentisitas klaim-klaim tersebut setelah lewatnya jangka waktu yang cukup panjang. Namun apa yang umumnya dilewatkan Muslim umum adalah bahwa pada saat Muhamad mengaku telah mengunjungi sebuah kuil di Yerusalem, kuil itu sebenarnya belum dibangun. Enam abad sebelum penerbangan misterius al-Buraq itu, rakyat Romawi telah menghancurkannya. Pada tahun 70 Masehi tidak satupun batu yang berdiri. Menurut Injil, Kuil Solomon dibangun sekitar abad 10 SM. The Dome of the Rock dibangun diatas fondasi Kuil Yupiter Romawi pada tahun 691M. Mesjid Al-Aqsa dibangun diatas sebuah basilica Romawi di sebelah selatan the Temple Mount oleh bangsa Umayyad di tahun 710M. Ironis bahwa Muhamad bisa menggambarkan karavan suku ini dan itu dengan persis, namun tidak mampu melihat bahwa kuil tempat ia solat itu, sebenarnya belum eksis.
Sebuah hadis lain mengatakan bahwa untuk menguji kebenaran pernyataan Muhamad, Abu Bakar memintanya agar Muhamad menggambarkan Yerusalem dan ketika ia melakukannya, Abu Bakar mengatakan ‘Itu benar. Saya bersaksi bahwa kau adalah rasul Allâh’. Tidak jelas apakah Abu Bakar memang pernah mengunjungi Yerusalem. Ini bukan kota penting bagi bangsa Arab untuk dikunjungi. Namun demikian, sangat mengherankan bahwa Abu Bakar-pun tidak sedikitpun menggambarkan kuil itu. Ini tidak lain hanyalah cerita-cerita yg disusun Muslim untuk memberikan kredibiltas kepada cerita yang paling aneh yg pernah dinarasikan nabi mereka.
Ada versi lain mengenai cerita ini yang kemungkinan lebih bisa dipercaya karena ini juga diratifikasi dalam Qur’an. Dalam versi ini Muhamad mengatakan:

Setelah menuntaskan urusan saya di Yerusalem, sebuah anak tangga yang paling indah yang pernah saya lihat dibawa kepada saya. Itu tangga yg dipandangi orang yang hampir mati saat kematian menjemputnya. Rekan saya menaikinya, sampai kami tiba di salah satu gerbang surga yg disebut dgn Gerbang Para Penjaga. Malaikat bernama Isma’il bertanggung jawab atasnya dan ia membawahi 12.000 malaikat, yg masing2 membawahi 12.000 malaikat.’

Ketika Jibril membawa saya masuk, Isma’il bertanya siapa saya dan ketika ia mengatakan bahwa saya Muhamad, ia bertanya apakah saya diberikan sebuah misi, atau dipanggil, dan setelah diyakinkan, ia mengucapkan selamat jalan.

Semua malaikat yg menemui saya ketika saya memasuki suga paling bawah tersenyum dan mengucapkan selamat jalan, kecuali salah satu dari mereka yg tidak senyum atau menunjukkan ekspresi gembira spt yg lainnya.
Dan ketika saya Tanya alasannya kpd Jibril, ia mengatakan bahwa kalau ia memang pernah tersenyum kpd orang lain sebelumnya atau tetrseunyim kpd seseorang sesudahnya, ia akan tersenyum pada saya. Ia tidak tersenyum karena ia Malik, Penjaga Pintu Neraka. … Surah 81:21 ‘Will you not order him to show me hell?’ And he said, ‘Certainly! O Malik, show Muhammad Hell.’ Thereupon he removed its covering, and the flames blazed high into the air, until I thought that they would consume everything. So I asked Gabriel to order him to send them back to their place, which he did.

Saya hanya bisa membandingkan dampak penarikan diri mereka spt jatuhnya bayang2 sampai, ketika api mundur ketempat asal mereka, Malik menutupi mereka.

Ketika saya memasuki surga paling bawah, saya melihat seseorang duduk disana, dgn jiwa2 orang yg melewatinya. Kpd seseorang ia berbicara dgn baik dan … mengatakan ‘Jiwa bagus dari raga yg bagus.’ Tentang orang lain ia akan mengatakan ‘Wah’ dan cemberut, mengatakan: ‘Jiwa setan dari raga setan.’

Dlm menjawab pertanyaan saya, Jibril mengatakan bahwa ini ayah kami, Adam, sedang memeriksa jiwa2 keturunannya. Jiwa orang beriman meningkatkan kegembiraannya, sementara jiwa seorang kafir meningkatkan kejijikannya. ‘Lalu saya melihat orang2 dgn bibir spt onta. Dlm tangan2 mereka terdapat kepingan2 api, spt batu, yg mereka gunakan utk dimasukkan dalam mulut mereka dan kemudian keluar dari bokong mereka. Saya diberitabu bahwa ini mereka yg berdosa karena memakan harta anak
yatim piatu. Lalu saya melihat orang2 seperti keluarga Firaun, dgn perut2 yg belum pernah saya lihat, dan melewati mereka adalah onta2 yg gila karena kehausan ketika mereka dibuang ke neraka, menginjak mereka karena mereka tidak dapat mengelak. Mereka adalah para lintah darat.[33]

Lalu saya melihat wanita2 digantung dari buah dada mereka. Mereka melahirkan anak2 haram jadah bukan dari suami2 mereka.[34]

Lalu saya dibawa ke surga kedua, dan disitu ada dua saudara sepupu dari garis ibu, Isa, putera Mariam dan Yohanes, putera Zakariah. Lalu saya ke surga ketiga dan disitu ada seseoarng yg wajahnya spt bulan purnama. Itu saudara saya, Yusuf, putera Yakub. Lalu ke surga keempat, disana ada seorang bernama Idris. ‘Dan kami …. And we have exalted him to a lofty place.’ Surah 19:58 ????? Lalu ke surga kelima dan disana ada lelaki dgn rambut putih dan jenggot panjang, belum pernah saya melihat lelaki yg lebih rupawan darinya.
Ia adalah yg paling dikasihi rakyatnya, Aaron, putera ‘Imran. Lalu ke surga keenam, dan disana ada lelaki berwarna kulit gelap dgn hidung berbentuk kait (‘a hooked nose’), spt kaum Shanu’a. Ini saudara saya,
Musa, putera ‘Imran. Lalu ke surga ketujuh, dan disana ada seseorang duduk di singgasana pada gerbang rumah mewah immortal, Surga. Setiap hari, 70.000 malaikat masuk dan tidak kembali sebelum hari kiamat. Belum pernah saya melihat orang lebih mirip dgn saya. Ini ayah saya, Ibraham. Lalu ia membawa saya ke surga, dan disitu saya melihat gadis dgn bibir merah gelap dan bertanya siapa memilikinya, karena ia sangat membuat saya suka padanya, dan ia mengatakan ‘Zayd b. Haritha.’ Rasul memberitahu Zayd berita baik ini tentangnya (gadis itu).[35]

Satu tradisi mengatakan, Ketika Jibril mengantar Muhamad ke setiap tingkatan surga dan meminta ijin masuk, ia harus memberitahu para penjaga siapa yang ia bawa dan apakah tamunya itu menerima sebuah misi atau telah dipanggil, dan para penjaga gerbang akan menjawab ‘Allâh memberikannya kehidupan, kakak dan sahabat !’ dan membiarkan mereka lewat sampai mereka mencapai langit ketujuh dan disana Muhamad bertemu dengan Allâh. Disana ditetapkan kewajiban lima puluh kali solat per hari bagi pengikutnya. Saat ia kembali, ia bertemu Musa dan inilah yang terjadi:

Pada saat saya kembali, saya berjumpa dengan Musa dan sungguh ia temanmu yang paling baik ! Ia bertanya berapa solat yang diwajibkan pada saya dan ketika saya mengatakan lima puluh, ia mengatakan, ‘Doa adalah sesuatu yang memberatkan dan pengikutmu adalah orang-orang lemah, jadi kembalilah kepada Tuhanmu dan minta padaNya untuk mengurangi jumlah solatnya bagi dirimu dan komunitasmu.’ Saya melakukannya dan Ia mewajibkan sepuluh solat. Sekali lagi saya berpapasan dengan Musa dan ia sekali lagi mengatakan hal yang sama, dan begitulah seterusnya sampai hanya ditetapkan lima solat bagi seluruh hari dan malam. Musa kembali memberikan saya nasehat yang sama. Saya menjawab bahwa saya sudah kembali kepada Tuhan saya dan bertanya padaNya untuk mengurangi jumlahnya sampai saya malu dan saya tidak akan melakukannya lagi. Barang siapa yang melakukan doa dalam iman, imannya akan dihadiahi dengan limapuluh solat.

Ada Muslim yg mengatakan bahwa peristiwa ini tidak terjadi dalam dunia fisik melainkan sebuah pengalaman spiritual. Namun, itupun tidak benar mengingat pernyataan Muhamad yg mendetil tentang karavan Banu ini-itu yang ditemuinya dalam perjalanannya dan semua detil tentang seekor onta yg meloncat kaget atau meminum air dari sebuah ember milik karavan itu. Bukti paling besar bahwa pengalaman ini sebenarnya sebuah pengalaman fisik adalah karena ini tercatat dalam Qur’an sendiri, yg mengatakan bahwa asensi ini dimaksudkan untuk menguji iman pengikut.
Orang memang percaya absurditas apa saja, selama absurditas itu diberi cap “spiritual”, tetapi kalau sesuatu dikatakan terjadi dalam dunia nyata, Muslim bertendensi utk lebih skeptis.

Muhammad Menyatakan Kebenaran

Penulis Rusia, Feodor Dostoevsky, bahkan percaya bahwa Muhamad menyatakan kebenaran. Ia percaya bahwa pengalaman Muhamad ini benar, paling tidak menurut dirinya sendiri. Dostoevsky sendiri menderita temporal lobe epilepsy. Ia mengatakan, lewat salah satu tokoh dalam bukunya, ketika ia mengalami kejang2, pintu2 Surga akan terbuka dan ia bisa melihat barisan malaikat meniupkan trompet emas. Lalu kedua gerbang emas akan terbuka dan ia bisa melihat tangga emas yg mengantar langsung kepada singgasana Tuhan.[36]
Newsweek, tgl 7 Mei, 2001, dalam sebuah artikel berjudul Religion and the Brain (Religi dan Otak), menjelaskan fenomena ini:

Saat gambaran sebuah salib atau sebuah Taurat berlapis emas, memecut kekaguman religius, ini disebabkan karena bagian otak yg mengatur penglihatan--yg menafsirkan apa yg dilihat mata dan menghubungkan gambaran itu dgn emosi dan memori--telah belajar utk menghubungkan gambaran tsb dgn perasaan tsb. Visi2 yg timbul selama doa atau ritual agama juga dihasilkan dari dalam area tsb: stimulasi elektris dari temporal lobe (yg tersimpan dipinggir kepala dan menyimpan sirkuit2 yg bertanggung jawab atas bahasa, pemikiran konseptual dan asosiasi) menghasilkan visi.

Epilepsi Temporal-Lobe —letupan abnormal aktivitas elektrik di kawasan2 ini— membawanya ke hal yg lebih ekstrim. Walau studi meragukan koneksi antara epilepsy dgn religiositas, ada yg merasa bahwa kondisi ini mencetuskan visi dan suara2 jelas semacam tipe yg dialami Joan of Arc.

Walau epilepsy temporal-lobe jarang terjadi, periset menganggap bahwa letupan2 aktivitas elektrik yg terpusat yg disebut dgn “temporal-lobe transients” bisa menghasilkan pengalaman mistik. Utk menguji teori ini, Michael Persinger dari Laurentian University di Canada menempatkan sebuah helm yg dipadati dgn electromagnet dan dipasang pada kepala sukarelawan. Helm itu menciptakan aliran magnetik yg lemah, tidak lebih dari yg dihasilkan layar computer. M

enurut Persinger, letupan2 aktivitas elektrik dalam temporal lobe, menghasilkan sensasi yg oleh sukarelawan digambarkan sbg supernatural atau spiritual: sebuah pengalaman luar badan, perasaan kehadiran ilahi. Ia percaya bahwa pengalaman religius diakibatkan oleh badai elektrik dlm temporal lobes, dan bahwa badai2 itu bisa dicetuskan karena keresahan, krisis pribadi, kekurangan oxygen, kadar gula rendah dan badan letih—saat2 dimana orang biasanya menemukan “Tuhan.”[37]

Asal Usul Pengalaman Mistik Muhamad!

Mungkinkah perangsangan temporal lobe membangunkan pengalaman misitk spt merasakan kehadiran “mahluk halus”, mendengar suara, melihat cahaya atau bahkan hantu ?
Michael Persinger setuju. Ia mampu mendemonstrasikan bahwa sensasi yg digambarkan sbg “pengalaman religius” tidak lain adalah dampak sampingan dari kegiatan otak kita yg sangat aktif itu. Dlm kata2 sederhana:
Kalau bagian otak sebelah kanan-bagian yg mengatur emosi kita- ... dan lalu bagian kiri-bagian bahasa- diperintahkan utk mempertanyakan fenomena tidak eksis ini, otak kita menghasilkan perasaan adanya “mahluk halus.” [38]

Ken Hollings menulis :

“Persinger… berpendapat bahwa pengalaman religius diciptakan dalam otak. Studi akhir2 ini menunjukkan bahwa kesadaran mengenai diri kita sendiri (our sense of self) dihasilkan oleh temporal lobe kiri, yg berlokasi dlm bagian otak yg mengatur logika dan ketepatan, yg mencoba mempertahankan batasan antara kesadaran individual dan dunia luar. Tutup lobe itu dan kau akan merasakan bahwa kau telah menyatu dgn Alam Semesta – bentuk utama pengalaman religius.
Rangsang temporal lobe bagian kanan, bagian otak kita yg lebih kreatif dan emosional, maka timbullah perasaan kesadaran diri, yg biasanya dirasakan sbg fenomena 'terpisah'.” [39]

Persinger menempatkan helm sepeda motor dgn sumbu2 (solenoid) yg menyalurkan aliran elektromagnetik lunak disekitar kepala bagian otak seorang sukarelawan. Mereka duduk dgn mata tertutup kain dlm sebuah kamar kosong yg mendapat julukan “ruang surga dan neraka.” Dgn memindah2kan aliran listrik itu, 80% dari sukarelawan yg mengambil bagian dlm eksperimen ini merasakan “kehadiran” mahluk halus dlm kamar tsb, kadang menyentuh atau bahkan meraih mereka. Ada yg mengatakan bahwa mereka mencium wangi surga atau bau neraka. Mereka mendengar suara, melihat lorong2 gelap, cahaya dan pengalaman religius mendalam.

Ed Conroy, melaporkan eksperimen Michael Persinger ini & menulis : “Kepribadian orang2 normal yg menunjukkan meningkatnya aktivitas temporal lobe … menunjukkan meningkatnya kreatifitas, suggestibility, kapasitas ingatan dan proses intuisi. Sebagian besar mengalami fantasi hebat atau subyektif yg memupuk adaptabilitas mereka. Banyak dari mereka cenderung pada aktivitas fisik dan mental yg disusul dgn depresi ringan. Orang2 ini lebih sering memiliki mengalami perasaan ‘ada hantu dan bahkan melihatnya’; kepercayaan2 eksotik lebih dirasakan ketimbang konsep2 religi tradisional.” [40]
Persinger menemukan bahwa masing2 sukarelawan memberikan nama yg tidak asing kpd 'hantu' mereka. Orang2 beragama merasakan kehadiran tokoh2 suci agama mereka spt Elijah, Yesus, Bunda Maria, Mohamad, dsb. Mereka yg cenderung memiliki interpretasi ala Freud - menamakan fenomena yg hadir sbg kakeknya misalnya, sementara sukarelawan yg agnostik, yg terkagum2 ttg cerita2 piring terbang dari angkasa luar (UFO), menceritakan sesuatu yg lebih mirip cerita penculikan oleh mahluk dari planet lain.
Metoda ini juga digunakan utk merangsang pengalaman hampir mati (near-death experience) atau NDE. Hollings menulis :
“Thn 1933 di Montreal, ahli bedah syaraf, Wilder Penfield menemukan bahwa saat ia menstimulasi sel2 saraf tertentu dlm temporal lobe dgn aliran listrik, pasien akan merasakan kembali ‘pengalaman2 sebelumnya’ secara mendetil dan meyakinkan.
Dlm bukunya yg kontroversial thn 1976, The Origin of Consciousness in the Breakdown of the Bicameral Mind, psikologis Princeton, Julian Jaynes mengatakan bahwa perasaan yg biasanya digambarkan sbg
'pengalaman religius' hanyalah efek sampingan dari interaktivitas giat antara bagian kiri dan kanan otak kami. Nenek moyang kami, katanya, tidak ... dapat menjelaskan perasaan tsb kecuali menyebutnya sbg suara2 dan visi dari dewa2 di atas.” [41]
Apa yg sebenarnya terjadi dlm saat kesadaran spiritual yg intens ?

Hollings mengatakan, “Aktivitas dlm bagian amygdale otak, yg memantau lingkungan utk menghindari ancaman dan mengukur ketakutan, ditekan (dampened). Sirkuit2 Parietal lobe yg memberikan kita orientasi, hilang secara pelan2, sementara sirkuit2 dlm frontal dan temporal lobe, yg menandai waktu dan mengakibatkan kesadaran diri, menjadi terputus. Menggunakan brain-imaging data dari Budhis2 Tibet selama meditasi atau biarawati Fransiskan saat berdoa, Dr. Andrew Newberg dari University of Pennsylvania mengamati bahwa segenggam syaraf/neuron dlm superior parietal lobe, dihampir atas dan belakang otak kami, telah berhenti (shut down). Kawasan ini membantu memproses informasi ttg orientasi dan waktu.” [42]
Persinger menunjukkan bahwa pengalaman “spiritual” dan “supernatural” adalah hasil dari kurangnya komunikasi dan koordinasi antara temporal lobe kiri dan kanan. Pengalaman adanya hantu dlm kamar, perasaan bahwa sukma kita terpisah dari badan, melihat bagian2 tubuh kita terpotong2 secara aneh dan bahkan perasaan religius semuanya diciptakan dlm otak. Persinger menyebut pengalaman2 ini sbg ‘temporal lobe transients’, atau peningkatan dan ketidakstabilan dlm pola2 penembakan neuron dlm temporal lobe.

Bgm pengalaman ini menghasilkan perasaan religius ?
"Kesadaran diri kita" (our sense of self), kata Persinger “pada fungsi otak normal, dipertahankan oleh cortex temporal sebelah kiri dan kanan. Begitu kedua cortex ini tidak terkoordinasi, spt saat kejang2 atau pengalaman 'mistik,' maka otak sebelah kiri menafsirkan aktivitas tidka terkoordinasi itu sbg ‘pribadi lain’, atau 'kehadiran mahluk lain’, seakan ada mahluk halus (yg bisa ditafsirkan sbg malaikat, jin, hantu atau mahluk angkasa luar), atau meninggalkan tubuh mereka (spt dalam pengalaman near-death experiences), atau bahkan ‘Tuhan’.
Saat amygdala (bagian kanan otak berhubungan dgn emosi) terlibat dlm pengalaman mistik ini, faktor2 emosional sangat meningkatkan pengalaman itu, yg kalau dihubungkan dgn tema2 spiritual, bisa menjadi sebuah kekuatan yg sangat intens bagi perasaan religius." [43]


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar