Senin, 09 Juni 2008

NU dan Gus Dur Sebagai Sumber Konflik

Oleh : Redaksi 08 Jun 2008 - 11:00 pm
Oleh Ir. Muhamad Umar Alkatiri *
Dari Insiden Monas 1 Juni 2008, menghasilkan resonansi keributan yang digetarkan oleh Garda Bangsa, GP Anshor, dan PBM (Pasukan Berani Mati) terutama di Jawa Timur dan Jateng. Mereka menyerang FPI yang diangapnya anarkis. Dua tokoh nasional juga masuk ke dalam lingkaran keributan, antara Habib Rizieq dengan Gus Dur.

Dari sinilah timbul opini bahwa terjadi keributan di antara sesama umat Islam

Kalau kita lihat secara jernih, sesungguhnya secara kultural dan mazhab, Habib Rizieq dan FPI-nya adalah komunitas NU. Begitu juga dengan Gus Dur, Garda Bangsa dan GP Ashor. Artinya, yang ribut saling berseteru dan bersitegang bukanlah antara sesama umat Islam, tetapi antara sesama komunitas NU. Bisa disimpulkan, bahwa NU menjadi sumber konflik horizontal di Indonesia.

Sumber dari segala sumber keributan ini adalah Gus Dur. Ketika PKB dipimpin Matori, terjadi konflik antara Gus Dur dengan Matori. Ketika PKB dipegang Alwi Shihab, Gus Dur juga konflik dengan Alwi. Bahkan ketika PKB dipegang oleh Muhaimin Iskandar yang masih keponakannya sendiri, Gus Dur juga konflik dengan Cak Imin.

Ketika Gus Dur menjabat Presiden RI, terjadi konflik antara Gus Dur dengan berbagai kalangan. Gus Dur terlibat konflik dengan Amien Rais, Akbar Tanjung, dan Megawati. Gus Dur juga terlibat konflik dengan sejumlah menterinya yang kemudian dipecat (termasuk pejabat eselon satu seperti mantan Sekjen Dephutbun Soeripto). Selain itu, Gus Dur terlibat konflik dengan sejumlah ulama dan Habib, termasuk konflik terbuka Gus Dur dengan Aryanti dan Lies Farida. Bahkan Gus Dur juga terlibat konflik dengan Jenderal Rusdihardjo mantan Kapolri, padahal Rusdihardjo diangkat oleh Gus Dur.

Dalam kasus Ahmadiyah, sebagian kyai NU ada yang mendukung Ahmadiyah, berupa penolakan terhadap rekomendasi Bakor Pakem yang melarang kegiatan Ahmadiyah. Sebagian kyai NU lainnya justru mendukung pembubaran Ahmadiyah.

Sebagian warga NU ada yang bersuara nyaring membubarkan MUI. Bahkan Ulil Abshar Abdalla (generasi muda NU yang juga masih keponakan Gus Dur), pernah menyebut MUI bodoh dan sesat karena mengeluarkan fatwa sesat terhadap Ahmadiyah. Padahal, Ketua MUI adalah KH Sahal Mahfudz dari NU yang dulu membela Ulil. Dulu, Ulil pernah hendak dihakimi oleh sejumlah kyai NU karena pemikiran-pemikiannya yang nyeleneh, namun dibela oleh KH Sahal Mahfudz, sehingga Ulil terbebas dari sanksi. Begitu juga dengan KH Ma'ruf Amien anggota Wantimpres yang getol mendorong diterbitkannya SKB tiga menteri tentang pelarangan Ahmaidyah, beliau juga orang NU.

Di tahun 1980-an, ramai-ramai penggembosan partai politik PPP juga terjadi akibat adanya dualisme di kalangan NU. Sebagian warga NU mengikuti semangat Gus Dur yang katanya mau kembali ke Khittah dengan wujud keluar dari PPP. Sebagian lain berkeinginan tetap bertahan di PPP karena partai tersebut didirikan oleh orang NU juga.

Dari ilustrasi di atas, pemerintah seharusnya sudah bisa punya gambaran elemen mana yang harus dibubarkan, dalam rangka mencegah terjadinya konflik horizontal di masyarakat.

* Mantan Napol Kasus Peledakan BCA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar