Kamis, 09 November 2006

Buku : Perjalanan Hidup Pencari Hidayah

Bulan Sabit di Atas Patung Liberty : Perjalanan Hidup Pencari Hidayah
Resensi Oleh : Redaksi 10 Nov 2006 - 7:19 am

imageSelalu saja mengesankan catatan hidup para pencari jalan kebenaran. Mereka senantiasa menempuh jalan yang begitu berliku. Tak cuma itu, batin mereka pun harus teraduk-aduk tak menentu sebelum hidayah turun untuk mengantarkannya menggapai kebenaran.

Inilah buku yang merekam lika-liku para mualaf untuk menemukan Islam. Mereka berangkat dari hati gersang. Agama yang mereka yakini sebelumnya, tak banyak memberi jawaban atas kegersangan itu. Akibatnya, mereka pun terus bergerak untuk menemukan pintu-pintu hidayah sebagai jalan menuju Islam. Setelah berhasil menemukan Islam, mereka pun menemukan jabawan yang sempurna atas segala persoalan hidupnya.

Yang cukup mengherankan adalah, para mualaf yang berbagi pengalaman dalam buku ini adalah mereka yang tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat (AS). Seperti kita tahu, AS adalah negara yang sebenarnya tidak begitu ramah terhadap Islam. Kebijakan politik pemerintahan AS di bawah kepemimpinan Presiden George W Bush, banyak sekali merugikan Islam.

Runtuhnya menara kembar WTC menjadi monumen penting bagi pencanangan kampanye melawan teroris. Secara gencar, isu terorisme pun dijadikan agenda penting dunia. Media-media besar yang didukung dunia Barat, dijadikan agen untuk terus menggelembungkan isu terorisme itu. Pada perkembangannya, kemudian terlihat begitu jelas bahwa isu terorisme dimanfaatkan Bush dan sekutunya untuk menekan dan menghancurkan Islam.

Skenario untuk menghancurkan Islam pun terus dikembangkan. Islam terus-menerus didekatkan dengan aksi-aksi teror dan kekerasan. Negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, terus dicurigai. Masyarakat Muslim di dunia barat pun banyak mengalami penghinaan serta penganiayaan. Tak terkecuali mereka yang tinggal di AS.

Namun skenario penghancuran terhadap Islam yang disusun manusia itu tak mampu menyaingin skenario Allah SWT. Semakin Islam ditekan oleh dunia Barat, perkembangan jumlah pemeluk Islam di Barat pun melesat. Saat ini, Islam menjadi agama yang pertumbuhan jumlah pemeluknya paling pesat dibanding agama-agama lain. Islam seperti menciptakan kebangkitan baru di dunia Barat.

Buku ini memang disusun sebelum menara WTC runtuh pada 2001. Muzaffar Haleem, menghimpun tulisan dan wawancara dalam buku ini sejak awal tahun 1990-an. Setelah materi terkumpul semua, barulah pada 1999 buku ini diterbitkan pertama kali dengan bahasa Inggris. Tujuh tahun kemudian, yakni pada 2006, terjemahan bahasa Indonesia buku ini bisa hadir ke hadapan pembaca.

Ada 14 mualaf yang berbagi pengalaman dalam buku ini. Mereka mengisahkan awal mula berkenalan dengan Islam. Umumnya, mereka memerlukan waktu yang cukup panjang untuk kemudian memutuskan mengucap kalimat syahadat sebagai tanda masuk Islam. Maklumlah, keluarga mereka telah memeluk agama Kristen yang sudah mereka peluk secara turun-temurun.

Selain itu, pemahaman tentang Islam di kalangan warga AS memang tidak menggembirakan. Diana salah seorang mualaf yang berbagi pengalaman dalam buku ini menggambarkan pemahaman tersebut. Saat bertemu dengan ketua kajian Injil di sekolahnya, dia sempat mendengar pernyataan negatif tentang Alquran. Ketua kajian itu menganggap Alquran sebagai alat setan untuk menggoda manusia menjadi kafir. Saat ditanya lebih jauh, ternyata Sang Ketua ini belum pernah membaca Alquran, meski telah berani membuat cap negatif terhadap Kitab Suci tersebut.

Buku ini begitu menggugah kita dalam menjalani Islam. Umumnya kita yang tinggal di Indonesia, bisa menemukan Islam dengan mudah. Sejak lahir, kita telah dikenalkan dengan kenikmatan Islam. Sementara, mereka yang berkisah dalam buku ini, diharuskan menempuh perjalanan yang cukup keras untuk bisa menggapai Islam. Untuk mereka yang belum menemukan Islam, buku ini juga memberi inspirasi untuk mencoba memasuki pintu-pintu kebenaran. irf

Judul : Bulan Sabit di Atas Patung Liberty
Penulis : Muzaffar Haleem dan Betty (Batul) Bowman
Penerbit : Mizania
Cetakan : I (pertama)/Juni 2006
Tebal : 165 halaman

SINOPSIS BUKU
Amerika dewasa ini adalah salah satu negara yang dipandang paling tidak ramah terhadap Islam dan kaum Muslim. Invasinya ke Afghanistan dan Irak, dukungannya yang tanpa henti kepada Israel, dan tekanannya kepada Iran dalam isu nuklir adalah sejumlah citra yang paling mengemuka tentang Amerika di mata kaum Muslim.

Namun, di balik itu, tidak semua orang Amerika mewakili gambaran stereotipikal negaranya. Ada sejumlah orang Amerika yang dengan sukarela memeluk Islam setelah melakukan pergulatan intens. Mereka bisa membedakan antara Islam yang dicitrakan di media-media Barat (sebagai agama kekerasan, anti kesetaraan gender, diskriminatif, anti-demokrasi, dst.) dan Islam yang sebenarnya.

Buku ini memotret pengalaman-pengalaman unik para mualaf Amerika dalam perjuangannya menuju Islam. Bagaimana mereka menghadapi keluarga yang tak seiman. Bagaimana mereka menanggapi kecurigaan keluarga dan teman-teman dekat. Bagaimana menjalankan kehidupan agama di tengah masyarakat Amerika yang umumnya awam tentang Islam. Bagaimana menghadapi pelbagai sikap dan perbedaan kecenderungan di kalangan masyarakat Islam di Amerika, yang umumnya imigran dari berbagai negara Muslim. Bagaimana membangun komunitas Muslim di salah satu negara paling majemuk di dunia ini.

Buku ini merekam kisah-kisah mualaf Amerika secara menarik, ringan, dan mengalir. Anda akan melihat sisi lain Amerika, sisi-Islam Amerika!

Tahukah Anda?
• Islam merupakan agama paling pesat perkembangannya di Amerika Serikat dan agama terbesar kedua di bawah Kristen dan di atas Yahudi.
• Jumlah Muslim di AS sekitar 5-7 juta.
• Jumlah masjid di AS lebih dari 1.200 buah.
• Beberapa tokoh Muslim terkenal di AS: Hakeem Olajuwon (atlet basket), Muhammad Ali (mantan petinju), Jeffrey Lang (matematikawan), James Yee (mantan kapten US Army), Jermaine Jackson (penyanyi, mantan anggota Jackson Five), Ice Cube (rapper), Bernard Hopkins (pemegang 4 gelar juara tinju dunia).

***

“Islam adalah agama yang paling pesat perkembangannya di Amerika Serikat.”
—New York Times

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar