Tampilkan postingan dengan label IBN WARRAQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IBN WARRAQ. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 April 2010

Pembunuhan Politis-Pembantaian Yahudi

Medina tahun 622 ditempati oleh beberapa suku-suku Yahudi; yang besar adalah suku/bani Al-Nadir, Bani Qurayza dan Bani Qaynuqa. Juga ada penghuni Arab pagan yang terbagi menjadi dua klan (klan = kelompok yang lebih kecil di dalam suku), Klan Aws dan Khazraj. Kesetiaan Yahudi juga terbagi, Bani Nadir dan Qurayza yang berpihak pada klan Aws dan Qaynuqa yang berpihak pada Khazraj. Bertahun-tahun persaingan berdarah ini membuat kedua belah pihak letih dan khawatir. Muhammad muncul dalam keadaaan demikian pada September 622M. Tidak lama setelah kedatangannya, Muhammad membuat perjanjian semacam federasi antara kelompok-kelompok Medina dan kelompok baru yang datang dari Mekah. Dokumen ini dikenal sebagai Konstitusi Medina, berikut diambil dari Ibn Ishaq:

Rasul Auwloh menulis dokumen perjanjian antara orang Emigran (yakni muslim pengikut Muhammad yang datang dari Mekah) serta orang-orang Ansar (yakni mualaf dari Medina), dan dengan orang Yahudi, yang menetapkan agama dan kepemilikan orang Yahudi dan memberikan mereka hak-hak serta kewajiban-kewajibannya.

Menurut beberapa scholar terkenal[9], konstitusi ini menunjukkan bahwa dari awalpun Muhammad sudah punya maksud untuk melawan orang-orang Yahudi. Bagi Wellhausen, ini menunjukkan “ketidakpercayaan pada orang Yahudi”; sementara Wensinck percaya bahwa “Muhammad membuat konstitusi melulu hanya untuk menetralisasi pengaruh politis dari klan-klan Yahudi; dia menunda waktu sampai dia punya kesempatan untuk menaklukan mereka.”

Moshe Gil percaya bahwa:
Lewat persekutuannya dengan suku-suku Arab di Medina, sang Nabi akan mendapatkan cukup kekuatan untuk menerapkan kebijakan Anti- Yahudinya, meski ada keberatan dari pihak-pihak sekutu yang orang Medina… Malah Konstitusi Medina itu sejak ditulispun sudah berbau ‘pengusiran’ Yahudi.

Dokumen tersebut dengan demikian bukanlah sebuah perjanjian bagi orang Yahudi. Tapi sebaliknya berupa pernyataan resmi untuk tujuan agar melepaskan klan-klan Arab Medina dari orang Yahudi yg sampai saat itu masih merupakan tetangganya.[10]

Awalnya, Muhammad harus bertindak hati-hati, karena tidak semua orang Medina menyambut dia, dan posisi keuangan dia juga sedang lemah. Dia kemudian kecewa mendapatkan bahwa orang-orang Yahudi Medinapun menolak pengakuan kenabiannya. Muhammad lalu mulai mengirim pasukan-pasukan rampok; dari sini terbukti sebenarnya dia tidak lebih hanya seorang kepala bandit belaka, yang tidak mau mencari nafkah dari kerja halal. Muhammad sendiri yang memimpin tiga ekspedisi perampokan terhadap karavan-karavan Mekah di jalur ke/dari Syria yang hasilnya tidak sukses. Sukses pertama mereka ada di Nakhla, ketika para muslim – saat ini tanpa kehadiran Muhammad – menyerang orang-orang Mekah dibulan suci, dimana sebenarnya perang dilarang saat bulan suci itu. Seorang Mekah terbunuh, dua ditangkap, dan banyak harta jarahan dibawa ke Medina. Tapi, Muhammad terkejut, ternyata banyak orang Medina yang kaget akan ternodainya bulan suci oleh penyerangan itu. Meski demikian, Muhammad tetap saja mendapat seperlima dari barang rampokan dan untuk menghilangkan rasa bersalahnya dan membenarkan tindakan dia dimata pengikutnya, dia dengan nyaman mendapat sebuah wahyu yang “membenarkan peperangan meski dilakukan di bulan suci, hal itu dianggap sebagai kejahatan yang lebih kecil dibandingkan dengan kejahatan terhadap Islam.”

Surah 2.217: “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Auwloh, kafir kepada Auwloh, (menghalangi masuk) Masjidil haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Auwloh. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti- hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” Muhammad saat itu menerima tebusan 40 ons perak untuk tiap satu tawanannya.

Pada saat ini pemimpin klan Aws, Sa’d b. Mu’adh, mengambil keputusan untuk mendukung Muhammad dan bahkan ikut ambil bagian dalam pasukan penyerang. Dengan demikian sebagian orang Medina pelahan mulai menerima Muhammad, tapi orang Yahudi terus menolak pengakuannya sebagai nabi dan mulai mengkritik dia, bilang bahwa beberapa ayat wahyunya bertentangan dengan kitab mereka. Sikap menerima dia akan beberapa praktek Yahudi juga tidak ada hasilnya, dan dia sadar bahwa orang Yahudi bisa menimbulkan bahaya bagi kekuatannya yang mulai membesar di Medina.

Titik balik keberuntungan Muhammad adalah perang Badar, dimana dengan ‘pertolongan’ Auwloh dan seribu malaikat, empat puluh sembilan orang Mekah berhasil terbunuh, banyak yang ditangkap, dan harta jarahan juga didapatkan. Ketika potongan kepala-kepala musuh hasil pancungan ditaruh di kaki Muhammad, Muhammad berteriak, “Ini lebih baik bagiku daripada Unta terhebat di seluruh Arab.”

Lalu dimulailah serangkaian pembunuhan ketika Muhammad yang mulai merasa lebih percaya diri untuk bergerak menentang musuh- musuhnya membereskan dendam-dendam lama dan secara keji membentangkan kekuasaannya. Pertama dia memerintahkan eksekusi al-Nadir – yang selalu mengejeknya ketika dia di Mekah dan yang bisa bercerita lebih baik dari kisah-kisah yang diceritakan sang nabi. Muir menuliskan pembunuhan tawanan lainnya, Oqba:
Dua hari kemudian, sekitar setengah jalan ke Medina, Oqba, tawanan lain, dikeluarkan untuk dipancung. Dia meminta untuk bicara dan menuntut kenapa dia diperlakukan lebih parah daripada tawanan lain. “Karena permusuhanmu pada Auwloh dan RasulNya,” jawab Muhammad. “Dan anak perempuanku yang masih kecil!” tangis Oqba, “siapa yang akan mengurusnya?” – “Api Neraka!” teriak sang penakluk tanpa hati itu; dan seketika itu juga si korban dijatuhkan ke tanah (untuk dipenggal). “celakalah kau!” lanjut Muhammad, “Penganiaya! Tidak percaya Auwloh dan rasulnya dan Kitabnya! Kupanjatkan syukur pada Auwloh yang telah menyiksamu dan membuat mataku nyaman dengan itu.”

Lagi-lagi, pembunuhan ini dibenarkan dan didukung oleh sebuah wahyu, dalam surah 8.68: "Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Auwloh, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil."

Mulai saat itu Muhammad terus menyingkirkan pihak-pihak penentang yang berbahaya. “Bahkan bisik-bisik rahasiapun dilaporkan pada sang nabi dan berdasarkan laporan tersebut dia melakukan tindakan-tindakan yang kejam dan tak bermoral.”

Orang berikutnya yang ditindak Muhammad adalah penyair bernama Asma binti Marwan, yang berasal dari suku Aws. Perempuan ini tidak pernah menyembunyikan rasa tidak sukanya pada Islam, dan telah menyusun beberapa bait puisi perihal klan-nya yang lebih mempercayai orang asing padahal orang itu memerangi klan-nya sendiri.

Aku memandang rendah Bani Malik dan Al Nabit. Dan auf dan bani Khazraj. Engkau mematuhi orang asing yang bukan golonganmu. Dia bukan Murad atau Madhhij. Apakah yang engkau harapkan darinya setelah kematian pemimpinmu. Seperti orang yang kelaparan yang menantikan kaldu. Tidak adakah orang yang berani menyerang dia dengan kejutan Dan mematahkan harapan mereka yang menantikan sesuatu darinya?[11]

Mendengar puisi ini Muhammad berkata, “Tak adakah yang mau menyingkirkan anak perempuan Marwan ini bagiku?” Seorang muslim fanatik, Umayr ibn Adi, memutuskan untuk melaksanakan kehendak nabinya, dan malam itu ia merangkak ke dalam rumah sang penyair ketika dia tidur, dikelilingi oleh anak-anaknya yg masih kecil. Malah satu anaknya masih sedang menyusu didadanya. Umayr melepaskan anak yang sedang menyusu itu dan menusukkan pedangnya ke sang penyair. Pagi berikutnya, ketika selesai shalat di Mesjid, Muhammad, yang mengetahui telah terjadi pembunuhan malam itu berkata pada Umayr: “Sudahkah kau membunuh anak perempuan Marwan?” “Ya” Jawabnya; “Tapi katakan apa aku akan menanggung dosa pembunuhan ini?” “Tidak,” Kata Muhammad, “Dua kambing tidak sudi bertumbukan kepala (maksudnya,kambingpun tak akan ambil peduli) baginya (Asma).” Muhammad lalu memuji Umayr dihadapan para muslim yang ada di mesjid karena pelayanannya pada Auwloh dan Nabinya.

Sprenger menulis, sisa kerabat Asma binti Marwan yang lain terpaksa masuk Islam karena tidak mau nyawa mereka melayang juga.
Segera setelah itu, Muhammad memutuskan untuk menyingkirkan penyair lain yang syair-syairnya berani mengkritik sang Nabi, seperti Abu Afak, yang berumur lebih dari 100 tahun, berasal dari klan Khazraj, dibantai ketika sedang tidur.

Sementara itu, Muhammad juga sedang menunggu waktu dan alasan yang tepat untuk menyerang bangsa Yahudi. Sebuah pertengkaran di pasar mencuat dan berujung pada dikepungnya suku Yahudi Bani Qaynuqa. Seperti Muir catat, meski mereka terikat oleh perjanjian persahabatan, Muhammad tidak melakukan sesuatu apapun untuk menyelesaikan pertengkaran kecil yang menjadi awal penyebab pengepungan tersebut. “Kalau saja tidak ada rasa benci yang besar dan keinginan yang memang sudah ada sebelumnya untuk mencerabut suku Yahudi, pertengkaran tersebut sebenarnya sangat mudah untuk diselesaikan.” Pada akhirnya suku Yahudi menyerah, dan persiapan untuk eksekusi pun digelar. Tapi pemimpin suku Khazraj, Abdallah b. Ubayy, memohon atas nama sukunya, dan Muhammad yang merasa tidak cukup punya rasa percaya diri untuk menolak permohonan demikian terpaksa harus setuju. Bani Qaynuqa diusir dari Medina dan menetap di Suriah. Harta benda milik mereka tidak boleh dibawa dan dibagikan kepada pasukan Muhammad, itu setelah Muhammad sendiri menerima haknya yang seperlima dari hasil jarahan. Pada kejadian ini Muhammad menerima ayat-ayat yang menjadi bagian dari surah 3.12: “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: "Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya".

Setelah kejadian itu berturut-turut terjadi perampokan-perampokan selanjutnya, perampokan-perampokan terhadap karavan Mekah itu tidak selalu sukses, kadang diikuti beberapa bulan masa kosong. Tapi berbagai pembunuhan tetap berlanjut – “telah dilakukan tindakan pengecut dan keji lain yang menambah hitam halaman-halaman kehidupan sang nabi.” Kab Ibn Al-Ashraf adalah anak dari perempuan Yahudi Bani Nadir. Dia berangkat ke Mekah setelah perang Badar dan menyusun puisi untuk menghormati mereka yang gugur, mencoba membangkitkan semangat orang-orang Mekah agar membalaskan dendam pahlawan-pahlawan mereka yang gugur di Badar. Bodohnya dia kembali lagi ke Medina, dimana Muhammad sedang memohon pada Auwlohnya dengan suara kuat, “O Auwloh, berikan padaku anak si Ashraf, dengan cara apapun yang kau mau, karena hasutan-hasutan dan puisi-puisinya.” Tapi Bani Nadir masih cukup kuat untuk melindungi Kab, dan para muslim yang mengajukan diri sebagai sukarelawan untuk membunuhnya menjelaskan pada sang Nabi bahwa kelicikan mereka perlukan untuk menyelesaikan tugas itu. Pemimpin persengkongkolan ini bertemu di rumahnya Muhammad, dan ketika mereka keluar dari rumahnya malam hari, mereka sudah mendapat restu dari sang Nabi. Mereka boleh berbohong, berbohong seakan mereka membenci sang nabi dan mencoba berteman dengan Kab, para muslim memancingnya keluar rumah dan ditempat yang cocok dekat air terjun mereka membunuhnya. Mereka memotong kepala Kab dan melemparnya ke kaki Muhammad. Muhammad memuji kerja baik mereka dijalan Auwloh. Salah seorang dari mereka menyebutkan: “Orang-orang Yahudi takut akan serangan kita pada musuh Auwloh. Dan tidak ada seorangpun Yahudi yang tidak takut.”
(Kisah selengkapnya dari Hadist tentang pembunuhan Ka’b bin Al- Ashraf:

Sahih Bukhari Volume 005, Book 059, Hadith Number 369.
------------------------------------------------------------
Diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdullah:
Rasul berkata, “Siapa yang mau membunuh Ka’b bin Al-Ashraf yang telah melukai Auwloh dan utusanNya?” Lalu Muhammad bin Maslama berdiri dan berkata, “O Rasul! Bolehkah aku yang membunuhnya?” Nabi berkata, “Ya,” Muhammad bin Maslama berkata, “Kalau begitu ijinkan saya berbohong (utk menipu Ka’b).” Nabi berkata, “Kau boleh berbohong.” Lalu Muhammad bin Maslama menemui Ka’b dan berkata, “Orang itu (yakni Muhammad SAW) menuntut sedekah dari kita, dan dia telah menyulitkan kita, saya datang untuk meminjam sesuatu darimu.” Dengan itu, ka’b Berkata, “Demi Auwloh, kau akan muak dengan dia (Muhammad SAW).” Muhammad bin Maslama berkata, “sekarang karena kita telah mengikuti dia, kita tidak mau pergi sampai melihat bagaimana akhirnya. Kami ingin kau meminjamkan makanan sekarung atau dua karung.” Ka’b bilang, “Ya, kupinjamkan.”, tapi kau harus menaruh jaminan untukku.” Akhirnya setelah tawar menawar, mereka menjaminkan senjata mereka.

Muhammad bin Maslama dan teman-temannya bilang akan kembali untuk mengambil makanan itu. Mereka mendatangi Ka’b malam hari bersama dengan saudara angkat Ka’b, Abu Na’ila. Ka’b mengundang mereka ke rumahnya, lalu berangkat bersama-sama. Istrinya bertanya, “Pergi kemana kali ini?” Kab menjawab, “Muhammad bin Maslama dan saudara angkatku Abu Na’ila datang, orang yang baik harus menjawab panggilan di malam hari meskipun misalnya dia diundang untuk dibunuhpun.” Mereka berangkat bersama dua orang lain (periwayat lain bilang orang itu adalah ‘Abu bin Jabr. Al Harith bin Aus dan Abbad bin Bishr). Sebelumnya Muhammad bin Maslama telah menginstruksikan pada mereka, “Jika Ka’b datang, aku akan menyentuh rambutnya dan mencium (bau rambut), dan ketika kau melihat aku sudah memegang kepalanya, lucuti dia.” Ka’b bin al- Ashraf mendatangi mereka memakai pakaian lengkap dan parfum. Muhammad bin Maslama bilang. “belum pernah kucium parfum sewangi ini.” Ka’b menjawab. “Aku punya parfum yang terbaik, perempuan arab yang tahu parfum kelas atas.” Muhammad bin Maslama meminta Ka’b “Bolehkan kucium kepalamu?” Ka’b bilang, “Ya.” Muhammad bin Maslama menciumnya dan meminta teman- temannya mencium juga. Lalu dia minta lagi, “boleh kucium (kepalamu) lagi?” Ka’b bilang, “Ya.” Ketika mencium dipegangnya kepala Ka’b kuat-kuat, dia bilang (pada teman-temannya) “Serang dia!” Lalu mereka membunuhnya, setelah itu mereka mendatangi sang nabi dan memberitahunya tentang keberhasilan pembunuhan ini. (Abu Rafi) terbunuh setelah Ka’b bin Al-Ashraf.)

Besok paginya setelah pembunuhan Kab nabi menyatakan: “’Bunuh Yahudi manapun yang jatuh ke tanganmu.’ (Muhammad dan Hitler adalah saudara se-“iman” yang anti Yahudi). Lalu Muhayyisa b. Masud menyerang Ibn Sunayna, seorang pedagang Yahudi dimana keluarga Muhayyisa punya hubungan sosial dan dagang dengannya, dan membunuhnya.” Ketika saudara dari Muhayyisa memprotes hal tersebut padanya, Muhayyisa menjawab bahwa jika Muhammad memerintahkan membunuh saudaranya itu dia akan lakukan juga. Saat itu si saudara bernama Huwayyisa yang belum muslim langsung masuk Islam sambil berkata, “agama apapun yang bisa membuatmu jadi begini (sadis) pastilah agama hebat!” Pembunuhan-pembunuhan ini secara jujur menggambarkan “fanatisme keji kemana ajaran-ajaran sang Nabi bergulir cepat.”[12]

Seperti kita telah ketahui, Perang Uhud merupakan kekalahan serius bagi para muslim dan menjadi ancaman menurunnya kekuasaan serta wibawa sang nabi. Akibat perang ini, terjadi dua eksekusi lagi yang dilakukan sang Nabi: Yaitu Abu Uzza, seorang tawanan sisa perang Badar dan Usman ibn Moghira

Karena butuh kemenangan, Muhammad memutuskan untuk menekan suku Yahudi lain, Bani Nadir, yang katanya menunjukkan kegembiraan secara terbuka akan kekalahan para muslim. Dengan alasan dia mendapat wahyu yang memperingatkan niat Bani Nadir untuk membunuh dia secara diam-diam, Muhammad memerintahkan Bani Nadir untuk meninggalkan Medina dalam waktu sepuluh hari atau mati. Setelah mengepung mereka selama beberapa minggu, orang-orang Yahudi itu menyerah dan diijinkan untuk pergi; mereka pergi dan bergabung dengan orang-orang Yahudi Khaybar, hanya untuk kemudian dibantai lagi dua tahun kemudian oleh gerombolan yang sama. Kemenangan atas kaum Yahudi ini diterangkan dengan panjang dalam surah 59. Sang Nabi sangat tahu akan banyaknya harta benda yang ditinggalkan Bani Nadir, dimana tanah mereka juga dibagi diantara para muslim; Bagian Muhammad membuat dia akhirnya tidak tergantung lagi secara keuangan pada siapapun.

Tahun 627 orang Mekah dan sekutunya memulai serangan ke Medina. Kepungan ini berakhir dalam dua minggu dan belakangan dikenal sebagai Perang Parit. Suku Yahudi terakhir yang ada di Medina, Bani Qurayza, ikut serta dalam pertahanan kota Medina, tapi secara keseluruhan mereka tetap berlaku netral. Meskipun demikian, kesetiaan mereka masih dipertanyakan dan tak ampun lagi setelah Perang Parit selesai Muhammad mulai bergerak menekan mereka. Sadar bahwa mereka tidak mungkin bisa melawan, Bani Qurayza setuju untuk menyerah dengan syarat mereka akan meninggalkan Medina tanpa membawa barang apapun. Muhammad menolak dan ingin mereka menyerah tanpa syarat. Orang Yahudi lalu memohon Abu Lubaba sekutu mereka di Bani Aws demi persahabatan mereka dengan Bani Aws agar mengunjungi mereka. Abu Lubaba ditanya apa kehendak Muhammad sebenarnya; dan jawaban Abu Lubaba hanyalah isyarat gerakan tangan ke leher, gerak seperti memotong leher, menandakan bahwa mereka harus berjuang sampai titik darah penghabisan karena hanya kematian yang bisa mereka terima. Akhirnya setelah beberapa minggu orang Yahudi menyerah dengan syarat agar nasib mereka ditentukan oleh keputusan sekutu mereka Bani Aws. Karena mereka anggap suku ini akan memberi ampunan pada mereka, tapi Muhammad memutuskan agar nasib kaum Yahudi itu diputuskan oleh satu orang saja dari Bani Aws. Muhammad menunjuk Sa’d Ibn Muadh menjadi hakimnya. Sa’d yang masih kesakitan dari luka-luka yang dia derita karena perang Parit, menyatakan, “Keputusan saya adalah bahwa semua lelaki harus dihukum mati, perempuan dan anak-anak dijual sebagai budak, dan harta yang mereka tinggalkan dibagikan kepada para muslim.” Muhammad menyatakan keputusan itu sama dengan apa yang ingin dia putuskan: “Sesungguhnya keputusan Sad adalah keputusan Auwloh yang dinyatakan dari surganya di langit ketujuh.”

Malamnya parit-parit yang cukup besar untuk dimasuki jenazah digali di sepanjang pasar tengah kota. Paginya Muhammad sendiri yang mengawasi tragedi berdarah ini, ia memerintahkan setiap tawanan lelaki dibawa dalam satu kelompok masing-masing terdiri dari lima atau enam orang sekaligus. Tiap kelompok diperintahkan untuk duduk di depan parit kuburan mereka, disana kepala mereka dipancung dan tubuhnya ditendang masuk parit… Pembantaian itu di mulai pagi hari berlangsung sepanjang hari dan diteruskan di malam hari dengan memakai obor. Seraya kakinya dibasahi darah karena tanah pasar yang dibanjiri darah dan setelah memberi perintah agar parit tersebut ditutup dengan tanah dan diratakan, Muhammad lalu langsung beranjak menghampiri Rihana, seorang perempuan Yahudi Bani Quraisa nan cantik yang suami dan para kerabatnya baru saja dipancung.[13]

(Betapa biadab nabi iblis itu, tidak peduli Rihana sedang berduka, eeehh.. si kucing “muhammad” garong malah horny dan pengen **e*o*in Rihana di hari yang sama saat suami, ayah dan saudara-saudara lelakinya dibantai oleh begundal muhammad. Orang beginian kok dibilang nabi dan teladan bagi umat manusia,..cuih, yg diurusin cuma seputar selangkangannya sendiri mulu.. - sekali lagi: Cuih !!! Terserah ente mo bilang gue pembenci muhammad kek, Islamophobia kek, what-so-ever... yang penting hati nurani gue gak buta, titik. – admin)

Harta jarahan dibagi-bagi, perempuan budak dibagi juga sebagai hadiah, perempuan yang kurang cantik dijual dan dilelang. Ya, tentu saja ada wahyu turun dari surga untuk membenarkan hukuman keji yang dijatuhkan pada orang Yahudi itu: Surah 33.25 “Dan Auwloh menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Auwloh menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Auwloh Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”
Dihadapkan pada kekejian, kebiadaban tindakan barbar dan tidak manusiawi ini, para sejarawan modern menyatakan hal yang berbeda-beda.

1. Mereka yang masih punya nurani, sejarawan seperti Tor Andrae, H.Z. Hirschberg, Salo Baron dan William Muir mengutuk perlakuan biadab ini. Tor Andrae, yang biografi Muhammad-nya dianggap sebagai salah satu dari dua karya penting 60 tahun belakangan ini tanpa ragu mencela sang nabi atas “hukuman yang tidak manusiawi” dan menambahkan, “Dalam kejadian ini sekali lagi dia menunjukkan tidak adanya kejujuran dan moral, yang menjadi sifat buruk karakternya.” Meskipun demikian, Andrae tetap mencoba melihat “kekejaman Muhammad terhadap orang Yahudi melalui latar belakang fakta bahwa ejekan dan penolakan mereka terhadap dia menjadi kekecewaan terbesar dalam hidupnya.”[14]

2. Para pembela (apologis) seperti Watt (heran!) secara total membebaskan sang nabi dari kesalahan ini; membaca pembelaan menyimpangnya ini orang diingatkan akan ucapan Lord Acton: “Setiap penjahat selalu diikuti oleh seorang sesat yang siap dengan alat pembersih dibelakangnya.” Tapi seperti Rodinson katakan, dengan benar, “sulit untuk menerima bahwa Muhammad tidak bersalah.” Tak ada satupun dari tindakan-tindakannya menunjukkan kemurahan hati terhadap orang Yahudi. Seperti Moshe Gil nyatakan, sejak awal Muhammad setidaknya telah punya niat untuk mengusir Yahudi dari sana. Sebelumnya telah dengan terbuka memerintahkan pembunuhan beberapa orang Yahudi lalu kemudian memberi perintah umum untuk membunuh Yahudi mana saja yang jatuh ke tangan muslim. Dan jika membaca isyarat yang ditunjukkan Abu Lubaba, jelas bahwa nasib Bani Qurayza juga telah ditentukan dari awal. Pemilihan Sa’d sebagai pengambil keputusan bukanlah kebetulan belaka, orang ini terluka berat (dia mati tidak lama kemudian) ketika perang parit dan menyalahkan bani Qurayza yang dia anggap tidak sepenuh hati membantu kaum muslim dalam Perang Parit yang menyebabkan dia terluka itu; orang ini muslim fanatik; dan seperti dituliskan Andrae, “salah seorang pengikut Muhammad yang paling fanatik” (salah satu dari banyak orang yang pertama kali dipercaya oleh Muhammad). Terakhir, penyerahan sepenuhnya keputusan pada Sa’d terbukti membenarkan keputusan Muhammad ini.

3. Lalu ada para relativisme – baik relativis moral ataupun budaya – yang berdebat, “bukanlah penyalahan ataupun usaha pemulihan nama baik yang jadi isu disini. Nasib mereka memang pahit, tapi itu bukan suatu hal yang luar biasa jika melihat aturan-aturan yang keji pada masa perang jaman itu.”[15] Saya menyebut para relativisme ini sebagai penyakit jaman modern, dan saya akan menyempatkan diri untuk mendiskusikan hal ini lagi dalam bab terakhir saya. Tapi disini saya hanya akan membuat komentar mengenai poin-poin yang logis dulu.

# Satu keberatan mengenai pendapat di atas adalah “bahwa keputusan itu sendiri tidak bisa dianggap objektif. Relativisme itu sendiri tidak bisa dinyatakan, karena keputusan yang menjelaskan teori para relativisme itu sendiri tidaklah relativ. Anda butuh klaim kebenaran mutlak untuk itu”[16] Dengan kata lain, ada sesuatu hal yang tidak logis, yang sudah menjadi sifat dari relativisme
# Jika ada ketidak sesuaian antara jaman kita dengan jaman mereka dulu, logisnya kalau kita tidak boleh menolak penilaian moral jaman dulu dari sudut pandang jaman sekarang, dan kita juga tidak boleh menilai secara berpihak. Otomatis kita juga tidak boleh memuji masyarakat jaman dulu atau orang-orang jaman dulu dari sudut pandang jaman sekarang. Secara tidak konsisten para relativisme terus menerus memakai sifat-sifat yang sarat nilai untuk menjelaskan Muhammad, sebagai contoh, “murah hati” (Rodinson, hal 313). Dalam kutipan berikut dari Norman Stillman, nasib Bani Qurayza dijelaskan dengan kata “bernasib pahit”. Dari sudut pandang mana “nasib pahit” ini? Abad 20 atau abad tujuh? Lebih jauh lagi, Stillman membicarakan aturan perang yang katanya memang keji – ‘keji’ dari sudut pandang mana? Sangat mustahil menulis sejarah dari sudut pandang netral bahkan jika diminta untuk melakukan demikian pun. Buku Stillman sendiri, The Jews of Arab Lands penuh dengan ungkapan-ungkapan penilaian moral seperti “toleransi” dan tidak ada relativis yang bisa mengesahkan pujian Muhammad dengan istilah mutlak seperti misalnya pernyataan “salah seorang anak terbesar Adam” (Watt).

# Jika benar mereka itu penganut relativisme, maka sebagai konsekwensinya kita tidak bisa membandingkan Yesus Kristus atau Socrates atau Solon dengan Hitler. Kita tidak bisa begitu saja bilang bahwa Yesus lebih superior secara moral dibanding Hitler, yang mana ini adalah mustahil benar. Jika moral itu sepenuhnya relatif, maka “warganegara Amerika dan Inggris bisa saja tidak menyetujui perbudakan dan penganiayaan Yahudi, tapi mereka tidak bisa berkata bahwa hal-hal ini salah dengan sikap mutlak atau bahwa itu jadi urusan mereka yang mencoba menghentikan perbudakan atau penganiayaan tsb.”[17]

# Terpendam didalam dalil Stillman yang dikutip tadi, ada tesis yang terpisah sama sekali, katanya bahwa kita tidak bisa menyalahkan seseorang hanya karena orang itu “menjadi seorang besar dijamannya”. Tesis demikian menggeser kesalahan moral dari individu ke ‘jaman’ dimana sang individu yang didiskusikan hidup. Tapi hal ini tidak akan berhasil untuk sebuah pembelaan terhadap Muhammad. Jika Muhammad itu hidup dijaman yang barbar, dan oleh karenanya dia jadi orang barbar: lalu tidak ada bedanya dengan anggota masyarakat lainnya; tidak lebih jelek dan juga tidak lebih baik. (tentu saja para relativis tidak bisa begitu saja menyalahkan ‘waktu’).

Sekarang pengamatan empiris:
1. Sangat tidak benar bahwa arabia abad ke-7 begitu jelek moralnya dibanding jaman kita sekarang. Pengakuan Stillman ini bersifat mengecilkan hal-hal ekstrim. Seperti Muir[18] katakan, dalam hal pembunuhan orang Yahudi Ibn Sunayna, “Tidak ragu lagi bahwa orang muslim pada waktu-waktu tertentu terlibat banyak skandal kejahatan semacam ini; meski tidak ada kebiasaan/tradisi untuk menjaga catatan sejarah tentang apa yang mereka katakan sebagai moral. Kejadian ini adalah salah satu kejadian yang kebetulan dibisikan kedunia luar. Ketika Merwan menjadi gubernur Media, satu hari dia bertanya pada Benjamin, seorang mualaf dari sukunya Ka’b, dia tanya dengan cara apa sebenarnya Ka’b mati. “lewat tipu muslihat dan pengkhianatan”, kata Benjamin.” Rodinson[19] mengemukakan poin yang sama pula, Perihal yang diceritakan dalam hadis yang menceritakan penyimpangan- penyimpangan Muhammad menunjukkan bahwa pastilah cerita itu bisa menimbulkan perasaan tertentu. Rincian kisah ini bahkan muncul dari sumber yang sahih membuat kita jadi sulit untuk menerima ketidak bersalahan sang nabi setan itu.”

Sangat tidak mungkin jika mengemukakan dalil bahwa Rasa ampun, Rasa sayang dan Kemurahan hati sama sekali tidak dikenal di Arab abad 7. Seperti Isaiah Berlin[20] nyatakan, “Perbedaan antara orang- orang dan masyarakat bisa saja dibesar-besarkan. Tidak ada budaya yang kita kenal yang tidak punya pemikiran tentang baik dan jahat; benar dan salah. Keberanian misalnya, sejauh yang kita bisa katakan, keberanian itu dikagumi disetiap jenis masyarakat yang pernah kita kenal. Disana ada nilai-nilai universal. Ini adalah fakta empiris mengenai umat manusia.” Kebiadaban tetap menjadi kebiadaban dijaman manapun ia ditemukan.

Muhammad sendiri, ironisnya, mengajarkan bahwa kemuliaan sejati ada pada pengampunan, bahwa dalam Islam mereka yang menahan amarah dan mengampuni orang lain akan mendapatkan surga sebagai orang yang berbuat baik (Surah 3.128; 24.22). Tapi, dia sendiri gagal utk melakukan semua itu dalam perlakuannya terhadap Bani Qurayza.

2. Sejarawan-sejarawan terkenal tidak ragu untuk menilai secara moral pribadi-pribadi sejarah. Sir Steven Runciman dalam karya klasiknya “History of the Crusades” menjelaskan Sultan Baibar sebagai “keji, tidak loyal dan licik, kasar sikapnya dan kasar perkataaanya… sebagai seorang manusia dia adalah manusia jahat.”[21]

Setelah pemusnahan Yahudi Bani Qurayza, Muhammad melanjutkan penggarongan dan pembunuhan-pembunuhannya. Sekelompok bekas Bani Al-Nadir, yang diusir dan menetap di Khaybar, oasis terdekat, dicurigai telah membujuk suku Bedouin agar menyerang muslim. Muhammad memerintahkan pembunuhan pemimpin Yahudi tersebut, Abi Al Huqayq. Tukang pukul Nabi membunuh Huqayq di tempat tidurnya. Sadar bahwa pembunuhan ini tidak menyelesaikan masalah, Muhammad menyusun rencana baru; dia kirim sebuah delegasi ke Khaybar untuk membujuk pemimpin baru mereka, Usayr b. Zarim, agar datang ke Medina mendiskusikan kemungkinan dia (Muhammad) dijadikan pemimpin Khaybar. Setelah mendapat jaminan janji sumpah dari pihak Muhammad untuk keamanan dirinya, Usayr berangkat, tanpa senjata, hanya dengan 30 orang. Di jalan, dengan dalih yang dibuat- buat, para muslim berbalik menyerang tamu tak bersenjata mereka dan membunuh semuanya kecuali seorang yang bisa melarikan diri. Ketika kembali para muslim itu disambut oleh Muhammad, yang sudah mendengar tentang keberhasilan mereka, ia mengucapkan terima kasih dan berkata, “Sesungguhnya, Auwloh telah menjagamu dari orang-orang tak benar.” Dikesempatan lain, Muhammad menyatakan filosofi perangnya: “Perang adalah Penipuan (praktek tipu-muslihat).”

Muhammad dan pengikutnya menyerang benteng-benteng penjaga lembah Khaybar satu persatu, sambil berteriak-teriak, “O kalian yang telah diberikan kemenangan, bunuh! Bunuh!” Satu demi satu benteng- benteng itu jatuh, hingga para muslim sampai di benteng Khamus, yang pada akhirnya juga mengalah. Pemimpin orang Yahudi disana, Kinana b. al-Rabi dan sepupunya dibawa kehadapan Muhammad dan dituduh menyembunyikan harta benda suku Bani al-Nadir. Orang Yahudi protes dan berkata bahwa mereka tidak punya apa-apa lagi.
Lalu (disini saya kutipkan dari biografi Muhammad yang ditulis oleh Ibn Hisham) “Muhammad memberikan Kinana pada al-Zubayr, salah seorang pengikutnya, dan berkata, ‘siksa dia sampai kau dapatkan informasi harta itu darinya.’ Al-Zubayr memakai tongkat yang dibakar ujungnya kedada Kinana sampai mati apinya, berkali-kali. Lalu sang Nabi memberikannya ke Muhammad

b. Maslama utk dipotong kepalanya sebagai balasan dendam bagi saudaranya Mahmud b. Maslama.” [22]
Orang-orang Yahudi di benteng Khaybar lain akhirnya kena serang juga dan dipaksa menyerah tanpa syarat, “kecuali untuk Bani Nadir yang sama sekali tidak akan diberi ampun.”
Pembunuhan, pembantaian, kekejaman, dan siksaan semuanya harus dimasukkan dalam penilaian karakter moral Muhammad. Tapi katalog menyedihkan dari kelakuan bejatnya ini belumlah lengkap. Kita masih perlu menelaah tindakan-tindakannya pada kejadian lain, dan selalu mendasarkannya dengan memakai sumber-sumber muslim sendiri.

----------------
[9] Humphreys, R.S. Islamic History, A Framework for Inquiry. Princeton, 1991. hal 92-98
[10] Dikutip oleh Humphreys, di halaman 97
[11] Dikutip dalam Rodinson, Maxime. Muhammad. New York, 1980. [12] Muir, Sir W. The Life of Muhammad. Edinburgh, 1923, hal 240 [13] Ibid., hal 307-308
[14] Tor Andrae, Mohammed, the Man and His Faith, diterjemahkan oleh T. Menzel, New York, 1955.
[15] Stillman, N.A. The Jews of Arab Lands. Philadelphia, 1979. Hal.16
[16] Jahanbegloo, R. Conversations with Isaiah Berlin. London, 1991. hal.107 [17] Hogbin dalam Firth, R., ed. Man and Culture. London, 1980.
[18] Muir, Sir W. The Life of Muhammad. Edinburgh, 1923, hal 241, note 1
[19] Rodinson, Maxime. Muhammad. New York, 1980., hal.213
[20] Jahanbegloo, R. Conversations with Isaiah Berlin. London, 1991. hal.37 [21] Runciman, S. A History of the Crusades. Cambridge, 1951-1954
[22] Dikutip dalam Stillman, N.A. The Jews of Arab lands. Philadelphia, 1979.

Bab 4 - Muhammad dan Pesannya

Layak dicatat, scholar yang akrab dengan berbagai sumber Arab dan yang paling mengerti kehidupan jaman itu, seperti Margoliouth, Hurgronje, Lammens, Caetani, adalah yang paling tegas menentang pengakuan kenabian Muhammad; orang harus mengakui bahwa semakin dekat dengan sumbernya dalam mempelajari sesuatu semakin sulit pemikiran kita untuk lepas dari kesimpulan para scholar ini. - Arthur Jeffery (1926).[1]

Satu fakta yang harusnya dikenali semua orang yang punya pengalaman tentang kemanusiaan adalah: orang yang kelihatan sangat religius seringkali merupakan orang-orang yang sangat jahat. - Winwood Reade (1872).[2]

Meski kita sepakat dengan Cook, Crone, Wansbrough dan yang lainnya bahwa kita tidak tahu banyak tentang orang yang disebut Muhammad ini, kita harus cukup puas mendapatkannya dari sumber-sumber hadis (meskipun semuanya sangat diragukan ke-valid-annya). Para muslim mungkin lebih baik menolak alternatif terakhir, karena hadis tidak seluruhnya memuji-muji sang Nabi. Susahnya bagi muslim, mereka tidak bisa menuduh tulisan-tulisan (hadis) itu dibuat oleh musuh.

Mungkin karya Barat pertama yang menerapkan metoda “Kritik Sejarah” pada kehidupan Muhammad adalah buku Gustav Weil “Mohammad der Prophet, sein Leben und sein Lehre (1843)”, disitu dikemukakan pendapat Muhammad seorang penderita epilepsi (ayan). Ini diikuti oleh karya lainnya, Sprenger, Noldeke, dan Muir. Kita nanti akan menelaah pandangan-pandangan Sprenger. Karya hebat Noldeke mengenai Quran, Geschichte des Qorans (1860) juga akan dibahas di bab berikutnya tentang Quran.

Karya Muir, Life of Mahomet muncul disekitar tahun 1856-1861, dalam empat volume, didasarkan dari sumber-sumber asli muslim, sumber langsung yang keandalannya dipertanyakan sengaja disimpan pada bab terakhir, tapi justru oleh Muir disebut bab yang sangat patut untuk diperhatikan.

Penilaian Muir mengenai karakter Muhammad ini diulang-ulang oleh scholar lain. Para scholar[3] membagi kehidupan Muhammad menjadi dua periode, perioda Mekah dan periode Medinah; selama periode pertama, di Mekah, motif Muhammad sangatlah religi, tulus dalam mencari kebenaran; tapi pada periode keduanya, Muhammad mulai menunjukkan taringnya dan dia rusak oleh ambisi kekuasaan dan duniawi.

Pada Periode Mekah kehidupannya, tidak terlihat ada maksud pribadi atau motif-motif jahat… Mahomet saat itu tidak lebih dari sekedar “pemberi peringatan dan pendakwah sederhana”; dia dibenci dan ditolak oleh orang-orang yang didakwahinya, tidak punya maksud tersembunyi lain selain mereformasi orang-orang tersebut. Dia mungkin keliru memakai metode wahyu surga untuk mencapai tujuannya, tapi tidak ada alasan cukup kuat untuk meragukan bahwa dia memang memakai metode itu semata-mata hanya demi alasan yg baik dan tulus. Tapi semua ini berubah di Medinah. Disana kekuasaan, kekayaan dan kepuasan-diri menyatu cepat dengan tujuan-tujuan besar kenabiannya; semua itu dicari dan dicapat dengan metode yang masih sama. Pesan surga dengan enaknya turun untuk membenarkan tindakan- tindakan politiknya, persis seperti yang dipakai untuk menanamkan ajaran-ajaran religi waktu di Mekah. Peperangan dilakukan, pemancungan dan pembantaian diperintahkan, dan daerah teritori ditetapkan dengan alasan semua itu sudah disetujui atau direstui oleh Auwloh yang Maha Kuasa. Bahkan kesenangan-kesenangan (nafsu) pribadi pun bukan saja dibolehkan malah didukung dan dianjurkan oleh perintah dari Surga.

Ijin khusus keluar, yang membolehkan sang nabi memiliki banyak istri; selingkuh dengan sang pembantu, menggagahi Maria orang Koptik, semua disetujui dan dituliskan dalam Surat tertentu; juga hasrat birahi kepada menantu (istri anak angkatnya) sendiri serta pada teman- temannya dijadikan subjek dari wahyunya, keberatan-keberatan sang nabi akan kelakuan buruknya sendiri ditolak oleh Auloh sebagai sebuah kesalahan (dibenarkan oleh Auwloh), perceraian diijinkan dan perkawinan dengan pihak yang dihasratkannya dilangsungkan. Jika kita bilang “wahyu-wahyu” demikian dipercaya oleh Muhammad dengan tulus sebagai benar wahyu dari Tuhan, maka itu hanya bisa terjadi jika perasaan (nurani) kita sudah sama anehnya dan termodifikasi seperti dia. Pastinya dia harus bertanggung jawab untuk hal yang dia percayai itu; dan untuk itu dia telah melakukan banyak kekejian dalam penilaian dan prinsip sifat-sifat aslinya.

Hasilnya, kita telusuri sejak periode kedatangan Muhammad ke Medinah sebagai periode penurunan moral yang cepat dalam sebuah sistem yang dia ajarkan sendiri. Intoleransi secara cepat mengambil alih kebebasan dan kekuatan persuasif. Senjata spiritual yang semula hanya untuk masalah-masalah religi tingkat tinggi dengan cepat dipakai untuk masalah-masalah yang sepele dan sementara sifatnya, masalah- masalah sepele ini malah dipakai sebagai pembenaran dari senjata- senjata spiritual tersebut. Nama Yang Maha Kuasa ditanam menjadi kekuatan mengerikan pedang kekuasaan; dan pedang kekuasaan ini menghasilkan kerelaan untuk menghancurkan “para musuh Tuhan” dan mengorbankan musuh-musuh itu dialtar agama baru ini. “Bunuh orang-orang kafir dimanapun kau temukan,” menjadi slogan dari Islam. “Berperang dijalan Auwloh sampai musuh dihancurkan dan agama menjadi milik Auwloh saja.” Pengabdian hangat sederhana ini yang pernah ditiupkan sang nabi serta para pengikutnya di Mekah, ketika bercampur dengan motif-motif duniawi segera berubah menjadi pudar dan hambar; sementara keimanan merosot menjadi kefanatikan, atau menguap dalam sebuah aturan-aturan formal yang tak manusiawi.

Muir mengatakan selama Quran tetap menjadi standar kepercayaan, kejahatan akan terus mengalir: “Poligami, Perceraian dan perbudakan mengancam akar moral masyarakat, meracuni kehidupan domestik, dan merusak kehidupan bermasyarakat; sementara hijab (kerudung) menghapus gender perempuan dari posisinya yang benar di dunia… kebebasan berpendapat dan opini-opini pribadi dihancurkan dan ditiadakan. Toleransi tidak dikenal dan institusi kebebasan serta liberal ditutup rapat.”
Muir menunjuk ketidakkonsistenan karakter Muhammad sebagai berikut: Seiring hasrat menggebu untuk memusnahkan penyembahan berhala dan mempromosikan agama serta kebaikan didunia, muncul juga kecenderungan kesenangan pribadinya; sampai akhirnya, karena menganggap diri sebagai lelaki pilihan Surga, dia membenarkan dirinya dengan memakai “wahyu-wahyu”, membebaskan dirinya untuk hal-hal kepemilikan sosial dan kewajiban-kewajiban yang mengikat orang-orang biasa.

Penilaian akhir dari Muir adalah “Pedang Mahomet dan Quran adalah musuh bagi peradaban, kebebasan dan kebenaran yang paling keras yang pernah dikenal dunia.” [4]

Caetani, yang menulis awal abad ini, muncul dengan kesimpulan yang sama pula. Di Medina, Muhammad lebih percaya diri, sadar akan superioritasnya.
Muhammad menonjol diantara semua orang, sampai-sampai Tuhan diberinya posisi kedua, jadi hanya pembantu Sang Nabi. Dia (Tuhan) tidak lagi jadi Yang Maha, pada siapa persembahan harus ditujukan, tapi menjadi si Maha Kuasa yang membantu nabi dalam misi-misi politiknya, yang memfasilitasi kemenangan-kemenangannya, menghibur dalam kekalahan, membantunya mengurai keruwetan- keruwetan dunia dalam kerajaan kaum pria, dan menolongnya memperlancar kesulitan-kesulitan yang muncul setiap hari ketika dia menggapai fase baru dari karir nabi dan politiknya. “Tuhan Mesin” ini (Deus ex Machina) menjadi amat sangat berguna baginya dalam sebuah masyarakat keji, bengis, pemarah, pembenci, tinggi hasrat balas dendam, haus darah, serakah dalam merampok dan mudah berubah-ubah rasa simpatinya…. Dari mulut Muhammad-lah dan bukan dari Tuhan (sebagai boneka Muhammad) keluar jawaban-jawaban untuk mempertanyakan segala sesuatu, keluar fatwa yang menentukan nasib seseorang, dan secara keseluruhan, Tuhan tidak dianggap lagi tapi sang nabilah yang jadi sumber puja-puji. Muhammad adalah sebuah fakta yang nyata dan jelas; Tuhan hanya menjadi sekedar teori/dalil berguna baginya, sebuah prinsip mutakhir, yang disimpan tinggi-tinggi di surga atas sana, yang mengikuti dengan seksama dan bergairah serta penuh kekhawatiran pergerakan-pergerakan sang nabi, baik dalam hal kecil maupun dalam hal besar, membantu dengan segerombolan malaikat yang siap sedia (stand-by), Dia siap mengeluarkan ayat-ayat untuk menerobos kesulitan-kesulitan yang muncul, untuk meluruskan kesalahan-kesalahan, melegalkan kegagalan- kegagalan, mendorong insting-insting keji dan kebrutalan tidak bermoral dari tuhan tirani.

Jika Muhammad menyimpang di tahun-tahun awal misinya, ini tidak heran; karena dia hanyalah seorang manusia yang kelakuan dan temperamennya tidak jauh berbeda dari masyarakat sekitarnya ketika itu, masyarakat yang setengah biadab (barbar), tercerabut dari akar budaya murni dan dibimbing melulu oleh insting dan sifat alam yang dimengerti secara buruk dan menelan begitu saja doktrin-doktrin Yudaisme dan sekte Kristen yang sesat yang ada saat itu. Muhammad menjadi mudah rusak ketika kekuasaan dan kekayaan menghampirinya di Medina, dia tidak bisa menolak tindakan-tindakan jelek yang harus dilakukan olehnya untuk mempertahankan posisi baru itu, terlebih lagi jika melihat fakta bahwa usaha pertamanya berhasil, belum rasa sedapnya kuasa politik tanpa batas yang dia punyai… Penurunan karakter moralnya adalah sebuah fenomena yang amat sangat manusiawi, dimana sejarah telah mencatat kejadian yang sama seperti ini bukan sekali saja, tapi ribuan kali. Lebih mudah untuk mati suci dengan dipancung atau mati di tiang gantungan daripada bertahan di singgasana setelah berjuang keras melawan musuh yang bengis dan keras kepala. Figur Muhammad kehilangan kecantikannya, tapi dia mendapat kekuasaan sebagai gantinya.
Nanti saya akan menelaah argumen Muir dan Caetani untuk melihat apakah mereka adil atau tidak dalam menilai karakter sang nabi. Disini saya ingin melihat karya Sprenger mengenai kehidupan Muhammad. Buku The Muslim Sources penuh referensi sang nabi sebagai subjek, khususnya pada waktu wahyu-wahyu secara rutin turun dan dia terima. Ini yang dijelaskan oleh Margoliouth:
Dugaan.. bahwa dia menderita epilepsi (sakit ayan) mendapat konfirmasi yang mengherankan jika melihat catatan-catatan pengalamannya ketika dan selama proses penerimaan wahyu – hal yang tidak kalah pentingnya adalah jika kita melihat kemungkinan ada saat epilepsinya hanya dibuat-buat. Proses ayan ini dimulai dengan kondisi tidak sadarkan diri kadang disertai dengan bunyi bel (ditelinganya) atau dia percaya ada seseorang/sesuatu yang hanya dia sendiri bisa lihat; rasa takut yang membuat si penderita ayan ini bercucuran keringat; kepala miring; mulut berbusa; wajah memerah atau memutihnya; sakit kepala.[5]

Sprenger memutuskan bahwa gejala-gejala yang jelas dari epilepsi ini adalah kunci menuju karakter Muhammad. Kebanyakan scholar mengabaikan spekulasinya dan menganggap terlalu khayal, kecuali seorang scholar Denmark, Franz Buhl, yang mengajukan sedikit modifikasi. Buhl[6] berpendapat bahwa dalam fase Medina Muhammad membuka sisi gelap karakternya; kejam, licik, tidak jujur, tidak bisa dipercaya; seseorang yang berprinsip “menghalalkan segala cara”; seorang lalim yang menuntut kepatuhan mutlak, seksualitas yang meningkat, hingga:
Bahkan wahyu-wahyunya pun menghalalkan segala cara untuk mendukung kecenderungan erotisnya atau untuk mengembalikan keharmonisan diantara istri-istrinya… Pengandaian yang harus kita terima bahwa bentuk awal wahyu-wahyunya sekarang berubah menjadi alat untuk mempertahankan reputasinya agar tetap menjulang, dan dalam kenyataannya dia mungkin sering tersadar dan merasa salah telah melakukan kebohongan. Bukan saja penyerangan-penyerangan yang dia lakukan… yang menunjuk pada sebuah kondisi patologis, tapi dalam banyak hal dia telah menyimpangkan sifatsifat histerisnya dengan anomali-anomali yang dia tentukan sendiri. Sebuah karakterisitik yang terus menerus mengalir dalam sifatnya adalah sebuah ketidakmampuan utk membedakan yang salah dengan yang benar; karena telah dikuasai sepenuhnya oleh ide-ide demikian, sangat tidak mungkin bagi mereka untuk memandang masalah-masalah dalam perspektif sebenarnya dan karena begitu sangat yakin akan kebenaran sendiri hingga alasan yang paling masuk akalpun tidak bisa membujuk mereka untuk melakukan hal yang sebaliknya.

Tapi Buhl menyangkal adanya perubahan total pada diri Muhammad – karena masih bisa ada jejak-jejak idealisme awal dia pada periode Medina ini.
Dr. Macdonald dalam bukunya “Aspects of Islam” mengajukan teori Psikoanalisa dimana sang nabi dipandang sebagai kasus patologi, dan “bagaimana dia berpindah kedalam kejahatan adalah sebuah kasus untuk mereka yang melakukan studi tentang bagaimana sebuah medium (orang) yang kerasukan bisa setiap saat memalsukan kerasukannya.“[7]
Dalam buku “Mohammed and the Rise of Islam” (London, 1905), Margoliouth[8] mengembangkan ide Islam sebagai sebuah masyarakat rahasia dan membandingkan Muhammad dengan medium-medium modern lain dan dengan Joseph Smith pendiri dari agama Mormon. Margoliouth menjelaskan alasan serta penipuan sang medium dan menunjukkan bahwa Muhammad juga memakai teknik-teknik yang sama untuk mendirikan dan mengembangkan kekuasannya atas pikiran- pikiran orang-orang Mekah yang menjadi pengikutnya pertama kali. Dua kutipan dari buku Margoliouth membuat hal ini jelas:
Dalam sebuah ruangan yang kosong dia (Muhammad) mengaku tidak bisa mendapatkan tempat duduk, semua sudah diduduki oleh para malaikat. Dia memalingkan wajahnya dari sebuah mayat kepada dua Houris (bidadari) yang datang dari surga untuk menemui suami mereka. Dia kadang bertingkah seakan Jibril sedang melakukan sesuatu dengannya atau membiarkan para pengikutnya menyimpulkan telah/sedang terjadi percakapan antara dia dengan malaikat. Wahyu- wahyu yang dia keluarkan hampir mirip dengan yang dilakukan oleh medium-medium (perantara) modern, yang bisa dipelajari dalam buku sejarah Spiritualisme oleh Mr. F. Podmore, dimana risetnya menimbulkan keraguan bahwa orang yang terhormat tidaklah mungkin mau mengelabui teman-temannya sendiri; dan juga menimbulkan pendapat bahwa keyakinan yang dihasilkan dari sikap/gaya seorang medium ketika mendapatkan wahyu sering tidak tergoyahkan hanya karena terungkapnya kebohongan si medium. Dari salah seorang medium yang karirnya dia sebutkan, sang penulis mengamati persahabatan dan kepercayaan penuh yg didapat dari teman- temannya tertolong oleh emosi-emosi religius yang diilhami oleh kerasukannya tersebut, dan semua itu menimbulkan sebuah karakter yang seakan suci tak bernoda dan sebuah kehidupan yg seakan-akan penuh aktivitas terhormat. Keadaan demikian sangat menguntungkan dan membantu sekali bagi si medium agar orang percaya pada ‘ketulusannya’, tapi sejarawan Spiritualisme ini, meski tidak yakin bagaimana menyebutkan semua fenomena dan mengenali kesulitan- kesulitan yang muncul dalam penjelasannya, cenderung menerapkan semua itu pada kehebatan penampilan si medium untuk menipu/membohongi. Yang jelas adalah bahwa Muhammad juga memiliki kelebihan-kelebihan yang sama seperti yang dijelaskan oleh Podmore, dan dg demikian bisa mendapat pengikut; meski proses turunnya wahyu itu sendiri sangat mencurigakan hingga salah seorang yang bertugas menuliskan wahyu yakin akan penipuan tersebut dan langsung meninggalkan Islam. Tapi bagi mereka yang mempelajari efektivitas politis dari wahyu supernatural, mempertanyakan ketulusan sang medium itu adalah hal yang kecil dan tidak berarti dibanding keuntungan yang akan didapat.

Sejumlah ayat Quran mestilah telah ada ketika Abu Bakar memulai misi Muhammad; setidaknya dia mesti bisa meyakinkan pengikutnya bahwa sang nabi benar-benar bisa berkomunikasi dengan surga, bahwa dia sendiri bisa berkomunikasi dengan Tuhan sejati dan itu mungkin dipercaya karena jumlah orang percaya bertambah, Quran sendiri berubah dari komunikasi “Mediumistik”, dimana semuanya dimulai dengan dakwah-dakwah yang mengisi periode kedua. Untuk penonton yang berjumlah sedikit proses yang dilakukan medium bisa sangat efektif. Orang asing tidak boleh hadir ketika sedang turun wahyu, hal ini untuk membuat mereka yang hadir saat itu berada dalam keadaan siap menerima wahyu; pendekatan hebat yang ditunjukkan si medium yang terjatuh, lalu perlu diselimuti, dan kemudian muncul dari dalam selimut dalam keadaan menakutkan sambil berkeringat banyak sangat-sangat sensasional (kaya para tukang sulap di pasar-pasar Indonesia, pen.); proses yang diamati pengikutnya ini membuat mereka menghargai dan menjunjung tinggi apapun yang diucapkan oleh si medium yang kerasukan. Jika ada orang yang tidak percaya menyatakan bahwa si medium (dalam banyak hal) tidak bisa bersandiwara demikian untuk menarik orang; tulisan-tulisan para penulis biografinya menyatakan bahwa para mualaf bahkan telah menyatakan kepercayaan mereka sebelum mereka melihat Muhammad itu sendiri. Begitu sang nabi semakin menjelaskan kenabiannya dengan terbuka, konon dia membiasakan diri memakai cadar, dan kebiasaan ini hanya dilakukan pada saat akan munculnya ‘kerasukan-kerasukan’ misterius itu, hal ini bisa juga menambah keangkeran bagi orang-orang sekitarnya. Seiring dengan waktu kerasukan itu mulai berubah menjadi ‘kerasukan’ biasa saja, tidak sensasional, kebanyakan malah wahyu turun tidak dalam kondisi ‘kerasukan’, seperti dalam mimpi dan lain-lain; jika dia menyalami tangan orang dia tidak langsung menarik tangannya lebih dulu; dia pandang orang itu sampai orang itu memalingkan pandangannya. Perawatan yang seksama juga dia lakukan pada dirinya sendiri; setiap malam dia warnai sekeliling matanya (maskara), dan tubuhnya setiap waktu ditaburi parfum. Rambutnya panjang hingga kebahu; dan jika mulai tampak rambut putih (uban), dia sembunyikan dengan cara mewarnainya. Dia memiliki seni berbicara terhadap orang-orang baru – dia bisa mengatakan sesuatu yang membuat lawan bicaranya tertarik, atau punya rasa ingin tahu yang besar. Berapa benar penggambaran bakatnya ini sulit utk dikatakan; tapi sedikit sekali yang ragu bahwa dia memang mengetahui metode/cara-cara yang dikenal oleh medium-medium modern, yang sekarang digunakan untuk mengelabui orang. Terlebih lagi, pada periode awal tak seorangpun boleh menemui sang nabi langsung jika maksudnya belum jelas, dan jika orang itu belum siap untuk memuliakan dia.

Kita sekarang bisa melihat kejadian-kejadian dalam kehidupan Muhammad yang mendapatkan penilaian demikian keras dari Muir dan Caetani. Harus dijelaskan dari awal bahwa kisah-kisah ini semua diambil dari sumber-sumber Islam itu sendiri (Ibn Ishaq, al-Tabari dan lain-lain).

-----------------
[1] Jeffery Arthur “The Quest of the Historical Mohammed,” in MW Vol.XVI, No4. Oct 1926
[2] Reade., hal.230
[3] Muir, Sir W. The Life of Muhammad. Edinburgh, 1923 [4] Caetani Annali dell’Islam, trans in MW vo. Vi.
[5] Jeffery Arthur “The Quest of the Historical Mohammed,” in MW Vol.XVI, No4. Oct 1926, hal 335
[6] Buhl in MW vol 1, 1911, hal 356-64.
[7] Dikutip oleh Jeffery Jeffery Arthur “The Quest of the Historical Mohammed,” in MW Vol.XVI, No4. Oct 1926, hal 336
[8] Margoliouth, Mohammed and the Rise of Islam, London, 1905

Rabu, 24 Maret 2010

Konsep Muslim tentang Tuhan

Kemahakuasaan Tuhan disebutkan dibanyak ayat Quran; Kehendak manusia total ditempatkan dibawah kehendak Tuhan yang berkembang menjadi pemikiran bahwa manusia tidak punya kehendak sendiri. Bahkan mereka yang tidak percaya Tuhanpun menjadi begitu karena Tuhanlah yang ingin membuat mereka tidak percaya. Ini berujung pada doktrin takdir dari Muslim yang mengalahkan doktrin ‘free will’-nya manusia, dalam konsep Kristen. Dalam Quran juga ditemukan, seperti Macdonald[36] nyatakan:

“Pernyataan-pernyataan kontradiksi dari Quran mengenai ‘free-will’ (Kehendak Bebas) dan Takdir menunjukkan bahwa Muhammad adalah seorang pengkhotbah dan politisi oportunis, bukannya seorang teolog yang sistematis.” “Takdir, atau kehendak mutlak akan baik dan jahat adalah pilar ke-6 dari dalilnya Muhammad, dan kaum ortodoks percaya apapun itu, apapun yang terjadi didunia ini, baik atau buruk, berlangsung sepenuhnya atas kehendak Yang Maha Kuasa, itu telah pasti, tidak bisa diubah-ubah lagi, dan tercatat dalam ‘buku’ surga yang ditulis memakai tinta nasib.”

Beberapa kutipan dari Quran menggambarkan doktrin ini:
[54.49] Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
[3.145] Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Auwloh, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.
[87.2] yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), [87.3] dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,
[8.17] Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Auwloh-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Auwloh-lah yang melempar.

[9.51] Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Auwloh bagi kami.
[13.31] Sebenarnya segala itu adalah kepunyaan Auwloh. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Auwloh menghendaki (semua manusia beriman), tentu Auwloh memberi petunjuk kepada manusia semuanya.
[14.4] Maka Auwloh menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.
[18.101] yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.
[11.119] Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Auwloh menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.
[45.26] Katakanlah: "Auwloh-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya;
[57.22] Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya.
Tapi ada beberapa ayat dari Quran yang kelihatannya memberi manusia semacam ‘free-will’:
[41.17] Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.

18.29] Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".
Tapi seperti Wensinck[37] nyatakan dalam karya klasiknya The Muslim Creed, dalam Islam takdirlah yang mendominasi sepenuhnya. Tidak ada satu hadispun yang menerangkan mengenai ‘free-will’, dan kita punya bukti-bukti lain dari pernyataan John of Damascus, orang yang hidup dipertengahan abad 8 M. dan seorang yang sangat mengenal Islam dari dekat secara langsung. “Menurut dia perbedaan tentang takdir dan free will menjadi satu Titik Pusat perbedaan antara Kristen dan islam.” Terbukti di penghujung hidup Muhammad, posisinya akan kepercayaan takdir itu makin menguat; dan “sikap para muslim awal akan subjek ini adalah mutlak.”

Sebelum berkomentar tentang doktrin takdir, saya harus menelaah dulu konsep Quran akan neraka. Beberapa kata dipakai dalam Quran untuk menerangkan tempat Penyiksaan, yang sepertinya dengan senang hati telah disiapkan dan selalu disebut-sebut oleh Auwloh. Kata “Jahanam” muncul sedikitnya 30 kali, jahanam ini adalah neraka bagi semua muslim untuk menyucikan dosanya. Menurut Quran, semua muslim akan masuk neraka: (surah 19.71) “Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” Kata “al-nar” yang artinya api muncul beberapa kali. Istilah lain dari neraka atau api neraka adalah: Laza (nyala api): [88.4] “memasuki api yang sangat panas (neraka)” Al-Hutamah (penghancur) : [104.4] “sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Auwloh yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati.” Sair (nyala api) : Mereka yang mengambil harta milik anak yatim secara tidak adil, akan dimasukkan kedalam nyala api dan dipanggang dalam nyala api. (ancaman melanggar hukum waris 4.11) Saqar: [54.47] “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka.” Al-Jahim (tempat Panas) dan Hawiyah juga muncul di surah 2 dan 101. Muhammad benar-benar meliarkan imajinasi terbatasnya ketika menjelaskan hal mengerikan dan siksaan neraka secara terperinci: air mendidih, luka bernanah, kulit yang dikupas, daging terbakar, isi perut yang terhambur dan tengkorak yang dihancurkan memakai gada besi. Dan ayat demi ayat, surah demi surah, kita diberitahu tentang api, selalu tentang api yang menyala-nyala membakar, api abadi. Dari surah 9.69 jelas bahwa orang-orang tidak percaya (kafir) akan dipanggang selama-lamanya.

Apa yang bisa kita simpulkan dari nilai-nilai sistem demikian? Mill[38] menyatakan, suatu hal yang sungguh-sungguh jijik dan jahat untuk berpikiran bahwa Tuhan sengaja menciptakan manusia utk mengisi neraka, manusia yang dalam hal apapun tidak bisa dianggap bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya karena Tuhan sendiri yang memilihkan jalan bagi mereka untuk sesat: “diakuinya sebuah objek penyembahan sebagai sebuah pencipta neraka, yang membuat banyak generasi-generasi manusia hidup dengan kepastian bahwa mereka diciptakan untuk mengisi neraka… Konsep-konsep lain, mulai dari maha adil dan maha pengampun yang ada dalam konsep KeKristenan tentang moral Tuhan menjadi tak berarti jika disandingkan dengan idealisasi jahat ini.” Tentu saja, kata-kata Mill ini menerapkan pengubahan dalam konsep muslim juga atau pada tuhan mana saja yang berkonsepkan takdir yang sama.

Kita tidak bisa menyebut sistem demikian sebagai sebuah sistem yang etis. Pusat dari semua sistem valid yang etis adalah adanya tanggung jawab moral, moral yang bisa secara sah dianggap bertanggung jawab akan tindakan-tindakannya; yang mampu berpikir rasional, yang mampu mempertimbangkan, menunjukkan kesengajaan, mampu memilih dan, dalam beberapa hal, bebas untuk memilih. Dalam sistem takdirnya Quran, “manusia” tidak lebih dari sebuah robot yang diciptakan oleh Tuhan, Tuhan, yang punya sifat tak bisa ditebak tindakannya karena berubah-ubah, memuaskan dirinya dengan menonton ciptaannya dibakar di neraka. Kita tidak bisa disalahkan atau dibenarkan begitu saja dalam sistem Quran ini; manusia tidak bertanggung jawab atas tindakantindakannya, dengan demikian akan sangat absurd untuk menghukum dengan cara sadis seperti yang disebutkan dalam surah-surah Quran.

Bousquet[39] memulai karya klasiknya, yang menuliskan pendapat islam mengenai sex, dengan pernyataan blak-blakan: “Tidak ada etika dalam Islam.” Muslim diperintahkan begitu saja untuk patuh akan kehendak Auwloh, kehendak yang tak dapat diduga: Baik dan Jahat ditentukan oleh Quran, dan kemudian, hukum Islam menetapkan apa yang boleh dan apa yang dilarang. Pertanyaan yang diajukan Socrates dalam Euthyphro, “Yang suci itu lalu dicintai Tuhan karena kesuciannya, atau menjadi suci karena dicintai oleh Tuhan?” menerima jawaban yang sangat pasti dari muslim ortodoks: “sesuatu itu baik jika Tuhan menghendakinya sebagai baik.” Tapi Plato menganggap ini bukan jawaban yang memuaskan. Mackie[40] menyatakannya demikian (n.d., hal 256): “Jika nilai-nilai moral dibentuk sepenuhnya oleh perintah-perintah surgawi hingga kebaikan hanya terdiri atas kehendak Tuhan belaka, maka kita tidak akan bisa mengerti klaim para Teisme bahwa Tuhan itu baik, bahwa dia mencari kebaikan dalam setiap penciptaannya.” Dalam karya awalnya (1977, hal 230), Mackie[41] mengamati bahwa pendapat muslim punya konsekwensinya:

Deskripsi tentang ‘Tuhan itu Baik’ akan mengalami penurunan terhadap pernyataan sepele yang menyatakan bahwa Tuhan mencintai DiriNya sendiri atau Tuhan suka Dirinya apa adaNya. Ini juga rasanya seperti menuntut bahwa kepatuhan akan aturan-aturan moral semata- mata hanya berupa tindakan untuk berhati-hati belaka meski cocok terhadap tuntutan sewenang-wenang dari tiran yang berubah-ubah pikiran itu. Sadar akan ini banyak pemikir religius memilih alternatif pertama (yakni “orang saleh atau suci dicintai tuhan karena kesuciannya”). Tapi ini juga mengandung konsekwensi yang sama bahwa perbedaan moral tidaklah tergantung pada Tuhan,… dengan demikian etika itu bersifat otonomi dan dapat dipelajari serta didiskusikan tanpa mengacu pada referensi kepercayaan religius, bahwa kita bisa sungguh-sungguh menutup batas teologi dari etika.

Layak utk ditegaskan kemandirian logis nilai-nilai moral dari sistem teistik manapun. Russel[42] memformulasikan pendapat ini sebagai berikut:
Jika anda yakin ada perbedaan antara benar dan salah, maka anda ada dalam situasi ini: apakah perbedaan itu disebabkan oleh otorisasi Tuhan atau bukan? Jika ya, maka bagi Tuhan sendiri tidak ada perbedaan antara benar dan salah, dan tidak lagi berarti menyatakan bahwa Tuhan itu Baik. Jika anda mengatakan, seperti para teolog lakukan, bahwa Tuhan itu Baik, maka anda harus mengatakan bahwa benar dan salah punya arti yang mandiri/terbebas dari otorisasi Tuhan, karena otorisasi Tuhan adalah baik dan bukan jelek karena semata- mata Tuhan yang menciptakannya. Jika anda bilang demikian, maka anda harus berkata bahwa bukan hanya melalui tuhan, benar dan salah itu mewujud tapi karena semua itu secara logis ada dalam intisari yang lebih dahulu ada pada Tuhan. (n.d., hal 19).

Kita tidak bisa lepas dari tanggung jawab moral kita yang dihasilkan dari pengertian akan ketidak tergantungan moral kita tersebut. Tidak juga kita bisa menghormati konsep neraka sebagai hal yang terpuji secara etika. Semuanya kecuali dua surah (fatihah dan surah 9) memberitahu kita bahwa Tuhan itu pemurah dan penyayang, tapi dapatkah Tuhan yang sungguh-sungguh pemurah memasukan orang ke neraka atau disiksa selamanya hanya karena tidak percaya padaNya? Seperti kata Russel, “Sungguh saya tidak bisa berpikir bahwa seseorang yang bersifat Maha Baik akan menaruh rasa takut dan teror macam itu pada dunia.”

Antony Flew[43] berkata bahwa ada banyak sekali perbedaan antara ‘ketersinggungan terbatas’ dan ‘hukuman tak terbatas’. Doktrin Quran akan neraka sungguh-sungguh siksaan barbar dan kejam, sangsi yg benar-benar sadis. Ini berarti Islam didasarkan atas rasa takut, yang merusak moralitas sejati. ("Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku". Dengan kata lain Takutlah kepadaKu, Surah 16.2). Seperti kata Gibb, “Orang harus hidup terus menerus dalam rasa takut dan terpesona pada Tuhan, selalu berjaga-jaga dan waspada terhadapNya – ini adalah arti idiomatis dari istilah “takut akan Tuhan” yang terus didengungkan Quran dari halaman pertama hingga akhir” (1953, hal.3#).[44] Bukannya bertindak berdasarkan kewajiban bagi sesama manusia, atau berdasarkan kemurahan hati atau perasaan empati dan/atau simpati, dalam Islam kita berbuat karena rasa takut, kita berbuat agar terhindar dari hukuman Yang Maha Kuasa dan, egoisnya, utk mendapat pahala dari Tuhan dalam hidup yang sekarang dan yang berikutnya. Mackie[45] (hal.256) berpendapat dengan tepat bahwa:
Pendapat akan perintah Tuhan demikian juga bisa mendorong orang untuk menerima syarat moral yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan tujuan keberadaan umat manusia atau dengan makhluk- makhluk lainnya. Pendapat ini akan menghasilkan sebuah moralitas tirani dan tidak rasional. Tentu saja, jika hanya ada tuhan yang penuh kebaikan dan juga ada wahyu yang dapat diandalkan darinya, maka kita mungkin mampu mendapatkan darinya saran-saran moral yang hebat mengenai masalah-masalah yang sulit, hal-hal yang tidak bisa kita temukan solusi paling baiknya. Tapi tidak ada wahyu-wahyu yang demikian itu. Bahkan seorang Teisme harus mengakui bahwa wahyu- wahyu itu menolak dirinya (wahyu) itu sendiri dengan mengabadikan aturan-turan bahwa kita harus menolak dengan tuduhan sempit, kuno atau barbar. Seperti Hans Kung katakan, “Kita bertanggung jawab atas moralitas kita.” Secara lebih umum, mengaitkan moralitas pada kepercayaan religius besar kemungkinan akan menjatuhkan nilai- nilainya, bukan saja dengan merendahkan nilai-nilai itu secara sementara jika kepercayaannya memudar, tapi juga dengan menempatkannya lebih rendah dibanding kekhawatiran- kekhawatiran lain ketika kepercayaan itu bertahan.

Kelemahan Tuhan
Kita diberitahu bahwa Tuhan itu Maha Kuasa, Maha Hadir dan Maha Baik; tapi Dia bertingkah seperti seorang tiran pemarah, tak mampu mengontrol sifat keras kepala akan subjeknya. Dia pemarah, berbangga diri, pencemburu: semua kekurangan/kelemahan moral herannya ada dalam makhluk Maha Sempurna. Jika Dia Merasa Cukup, kenapa butuh umat manusia? Jika dia itu Maha Kuasa, kenapa butuh pertolongan manusia utk menyembahnya? Diatas itu semua, kenapa Dia memilih seorang pedagang Arab yang tak jelas keturunannya, yang hidup dalam budaya terbelakang, sebagai Utusan Terakhirnya di bumi? Apakah konsisten bahwa moral Dzat Maha Tinggi butuh untuk dipuji dan penyembahan dari makhluk-makhluk yang Dia sendiri ciptakan? Kita sebut apa orang yang mencipta makhluk lain yang dia program untuk nungging-nungging ditanah lima kali sehari menyembah dirinya? Hasrat obsesif untuk disembah ini bukanlah sebuah kebaikan moral dan pastinya tidak pantas menjadi sifat sebuah Dzat Maha Tinggi. Palgrave[46] (Dictionary Of Islam, hal 147) memberikan penjelasan yang hidup tapi adil tentang Tuhannya Quran:
Tuhan itu satu dan Maha Kuasa serta Maha Ada, tidak batasan aturan, standar atau batasan apapun, kecuali kehendak Dia yang mutlak dan satu-satunya. Dia tidak mengkomunikasikan apapun pada makhlukNya, karena kuasa dan tindakannya punya Dia sendiri, dan sebaliknya Dia tidak menerima apapun dari mereka; karena mereka ada dalam Dia, oleh Dia dan dari Dia saja (Surah 8.17) Dan yang kedua, tidak ada superioritas, tidak ada perbedaan, tidak ada keunggulan yang boleh diakui oleh satu makhluk atas makhluk lainnya, dalam kesamaan, mereka semua menjadi alat dari satu kekuatan yang memakai mereka untuk menghancurkan atau menguntungkan, untuk kebenaran atau kesalahan, utk menghargai atau menghina, untuk kebahagiaan atau kesengsaraan, mandiri dari individualitas atau keuntungan dan ini semua ada hanya karena dia “Menghendakinya,” dan “sepanjang dia Menghendaki”.

Orang mungkin pertamanya berpikir bahwa Otokrat maha hebat ini, Kekuatan tanpa kontrol dan simpati ini, akan jauh berada diatas hal- hal seperti nafsu, hasrat atau keberpihakan. Tapi ternyata tidak begitu karena Dia punya satu perasaan dan tindakan utama yang bernama rasa cemburu akan tuhan, Ia takut jangan-jangan mereka nanti menerapkan sifat-sifat yang harusnya hanya milik Dia saja pada tuhan lain. Dengan demikian lebih mudah bagi dia untuk menghukum daripada memberi pahala, utk memberi rasa sakit daripada rasa nikmat, untuk merusak daripada membangun. Kepuasan tunggal yang membiarkan makhluk ciptaannya terus menerus merasa bahwa mereka tidak lain hanya budak-budakNya, alat-alatNya hingga mereka lebih mengakui superioritasNya, dan tahu KekuasaanNya jauh diatas kekuatan mereka yang lain, kelicikanNya jauh diatas kelicikan mereka, KehendakNya ada diatas kehendak mereka, rasa banggaNya diatas rasa bangga mereka; dengan kata lain tidak ada Kekuasaan; kelicikan, kehendak atau kebanggaan, kecuali milikNya. (Untuk kebanggaan lihat surah 59; Auwloh sebaik-baik pembalas tipu daya, 3.47; 8.30).

“Tapi Dia Sendiri, didalam ketinggianNya, tidak mencinta ataupun menikmati apapun kecuali milikNya, tak mempunyai anak, sahabat atau penasehat, tidak lebih kering daripada makhlukNya, dan kegersangan serta kesendirian ego dalam diriNya adalah penyebab dan pengatur dari keberbedaanNya tanpa memandang kelaliman sekitarnya.” Nada awal adalah kunci keseluruhan lagu, dan nada awal Tuhan mengalir dan mengubah keseluruhan sistem dan dalil yang berpusat dalam diriNya.

Gagasan yang diberikan tentang Tuhan, mungkin kedengaran dahsyat atau bisa jadi menghujat, adalah persis dan klop dengan yang Quran nyatakan atau yang Quran ingin sampaikan. Tapi memang demikianlah adanya hingga tak seorangpun yang secara teliti dan penuh perhatian membaca serta memikirkan teks-teks arabicnya dapat ragu. Malah setiap frase dari kalimat-kalimat, setiap sentuhan dalam gambaran- gambaran menjijikan, telah disarikan dengan sepenuh kemampuan saya, kata demi kata, arti demi arti, dari “Sang Kitab”, cermin sejati dari benak dan pendapat penulisnya.

Dan begitulah kenyataan yang ada dalam benak dan ide penulisnya, Muhammad, hal ini sepenuhnya dipastikan oleh lidah para saksi yang menyatakan hadis-hadisnya. Untuk ini kita punya banyak contoh otentik.. sebuah perulangan yang telah saya derita berkali-kali dalam mempelajari Wahhabi di Nejd.

“Jadi, ketika Tuhan…memutuskan untuk menciptakan ras manusia, Dia mengambil segenggam tanah, darimana semua manusia dibentuk, dan kemana mereka pergi setelah musnah; lalu membagi gumpalan tanah itu menjadi dua bagian yang sama, dia lempar yang sebagian keneraka sambil berkata, “Ini utk api neraka abadi, dan aku tak peduli’, dan merangcang yang sebagian lagi untuk penambahan penghuni surga, ‘dan ini untuk surga, aku juga tak peduli’” (Mishkatu’l- Masabih Babu’l Qadr).

Dari sini kita mendapatkan ide takdir (predestination) yang cukup, atau yang lebih tepat dinamai kutukan (predamnation) bukannya takdir, yang dipegang dan diajarkan disekolah (pesantren) Quran. Surga dan neraka sama sekali terlepas dari rasa cinta dan kebencian Tuhan, bebas dari jasa atau cela, tindakan baik dan jahat, dari makhluknya; dan dalam teori yang berkaitan karena tindakan-tindakan yang kita sebut baik atau jahat, benar atau salah, licik atau luhur, pada hakekatnya semua adalah satu, juga jasa ataupun pujian ataupun kesalahan, hukuman ataupun pahala, diputuskan oleh kehendak sang maha lalim yang memilih, mengangkat atau menjatuhan semua itu. Dengan kata lain, Dia bisa membakar satu individu sepanjang masa dirantai panas dan lautan api membara, sementara menempatkan individu lain dalam kenikmatan abadi dari rumah pelacuran dengan 72 bidadari. Semuanya itu dianggapnya adil dan sama rata demi kenikmatanNya semata dan yang terutama adalah karena Dia menghendakinya.

Manusia dengan demikian berada dalam satu level yang sama, di dunia sekarang maupun berikutnya, secara fisik, sosial dan moral – yaitu level budak/hamba bagi satu Tuan saja, alat bagi satu agen universal.

Dan Muhammad UtusanNya
Setiap agama dan bangsa menetapkan pengakuan telah membawa misi khusus dari Tuhan, mengkomunikasikannya pada individu-individu tertentu. Yahudi punya Musa; Kristen punya Yesus Kristus, para rasul dan orang-orang sucinya; dan orang Arab punya Muhammad, seakan jalan pada Tuhan tidak terbuka sama bagi setiap orang. Masing-masing membawa kitabnya sendiri-sendiri, yang mereka sebut sebagai wahyu, atau perkataan Tuhan. Orang Yahudi bilang wahyu Tuhan mereka diberikan pada Musa, secara langsung, muka bertemu muka (bukan fice to fice tapi face to face); orang Kristen bilang Wahyu mereka berasal dari tulisan yang diilhami Tuhan; dan orang Arab bilang wahyu mereka (Quran) adalah perkataan Tuhan langsung yang dibawa oleh Malaikat surga. Masing-masing menuduh yang lain ‘kafir/orang tidak percaya’; bagi aku sendiri, aku tidak percaya semuanya. - Thomas Paine, The Age of Reason.[47]

Auwloh memilih Muhammad sebagai utusan bagi seluruh umat manusia. Muhammad berbicara pada malaikat Jibril, yang secara berkala menurunkan pesan-pesan Tuhan. Bagaimana Muhammad bisa tahu bahwa dia benar-benar melihat malaikat? Darimana dia tahu pengalaman khusus ini adalah perwujudan dari malaikat? Meski misalnya kita akui kejujuran Muhammad, bukankah bisa saja dia telah salah duga? Kebanyakan orang yang mengaku punya akses pada Tuhan dijaman sekarang ini dianggap orang gila. Darimana kita tahu bahwa dalam kasus Muhammad ini dia benar-benar melihat malaikat sungguhan yang benar-benar membawa pesan-pesan dari tuhan? Seperti Paine[48] katakan (n.d., hal 52):

Tapi misalkan kita akui dulu bahwa sesuatu telah diberikan pada orang tertentu dan tidak diberikan pada orang-orang lain, sesuatu itu wahyu dan diberikan hanya pada orang itu saja. Ketika dia mengatakannya pada orang kedua, orang kedua mengatakan pada orang ketiga, ketiga ke orang keempat dan seterusnya, maka sesuatu itu bukan lagi menjadi wahyu bagi semua orang itu. Sesuatu itu berupa wahyu bagi orang pertama saja, dan menjadi cerita belaka bagi orang-orang lainnya, dan karenanya mereka tidak wajib untuk percaya.

Ini kontradiksi istilah dan ide jika menyebut sesuatu itu sebagai wahyu meski sampai pada kita dari tangan kedua, baik secara verbal maupun tertulis. Wahyu perlu dibatasi untuk komunikasi pertama saja - setelah itu hanya disebut sebagai sebuah cerita yang orang itu katakan bahwa sebuah wahyu diturunkan padanya; dan meski dia merasa wajib untuk percaya, bagi saya tidak wajib; karena wahyu itu bukan khusus dan langsung buat saya, dan saya hanya mendengar perkataan dia saja bahwa itu diturunkan padanya. Ketika Musa bilang pada anak2 israel bahwa dia menerima dua tablet Perintah dari tangan Tuhan, mereka tidak wajib percaya padanya, karena mereka tidak punya otoritas lain untuk itu selain dari perkataan Musa belaka; dan saya juga tidak punya otoritas utk itu selain dari beberapa sejarawan yang mengatakannya pada saya. Perintah-perintah itu tidak membawa bukti internal keilahian didalamnya; perintah itu hanya membawa aturan moral yang baik, seperti seseorang, penguasa atau pembuat undang-undang, bisa juga membuatnya, tanpa harus mengatakan bahwa ada campur tangan supernatural didalamnya.

Ketika saya diberitahu bahwa Quran ditulis disurga dan dibawa kepada Muhammad oleh malaikat, ini sampai pada saya dalam bentuk cerita, kata orang, bukti-bukti dan otoritas tangan orang lain saja. Saya tidak melihat sendiri si malaikat itu, dan dengan demikian, saya punya hak untuk tidak percaya.

Melihat teorinya Wansbrough, Crone dan Cook (bahwa Islam muncul belakangan sesudah pemikiran-pemikiran yang ada hingga saat ini, Islam muncul dibawah pengaruh Yudaisme dan menyebut Musa sebagai sebuah contoh nabi yg diberi wahyu, menciptakan Muhammad sebagai nabi orang Arab dengan wahyu yang persis sama), penyejajaran dan pemilihan dari Paine mengenai dua contoh Musa dan Muhammad rasanya sangat tepat.

Lagipula, seperti kata Paine, wahyu-wahyu yang belakangan ditulis dalam Quran tidaklah membawa bukti-bukti internal keilahian didalamnya. Malah sebaliknya, Quran berisi banyak sekali – terlalu banyak – hal-hal yang sama sekali tidak pantas dikatakan oleh Tuhan. Dengan dasar apa kita menentukan itu? Quran mengaku mendapat otoritas ilahi atas tulisan-tulisannya. Pada akhirnya, kita hanya dapat berkata bahwa tidak ada wahyu khusus yang kredensialnya bisa diandalkan.[49]

Aneh sekali bahwa ketika Tuhan memutuskan untuk mewujudkan DiriNya, dia melakukannya hanya pada satu orang saja. Kenapa Dia tidak bisa muncul pada banyak orang dalam sebuah stadion sepakbola ketika Final Piala Dunia berlangsung misalnya, ketika milyaran orang diseluruh dunia menonton?

Tapi, seperti Patricia Crone bilang, “ini kebiasaan aneh Tuhan, ketika dia pingin menampakan diri pada manusia, dia hanya berkomunikasi pada satu orang saja. Umat manusia lainnya harus belajar ‘kebenaran’ dari orang tersebut dan dengan demikian membeli pengetahuan keilahian tersebut dengan harga mahal, harga yang dia bayar adalah menempatkan dirinya lebih rendah dari orang tersebut, yang pada akhirnya orang tersebut digantikan oleh sebuah institusi, hingga keilahian tetap berada dibawah kontrol orang-orang atau manusia-manusia tertentu atau institusi-institusi.” (TLS, 21 jan 1994, hal 12).

Abraham, Ismail, Musa, Nuh, dan nabi-nabi lain
Kita diberitahu bahwa Abraham lahir di Chaldea dan dia anak seorang pembuat tembikar yang miskin, yang mencari nafkah dengan membuat patung tanah liat. Sulit untuk dipercaya anak miskin seperti ini bisa bepergian ke Mekah, 300 leagu (1 leagu=3 mil=4.8 kilometer, jadi 1.440 km) jauhnya pada cuaca panas menyengat, lewat gurun pasir. Jika dia benar seorang penakluk atau penjelajah maka kemungkinan besar dia akan pergi ke negara-negara makmur di Assyria; jika dia cuma orang miskin, seperti yang dituliskan sejarah, dia tidak akan menemukan kerajaan-kerajaan ditanah asing itu. -Voltaire.[50]

Bagi sejarawan, orang Arab bukanlah keturunan Ismail, anak dari Abraham, sama bohongnya seperti Orang Perancis yang bukan keturunan Francus, anak dari Hector. -Maxime Rodinson.[51]

Sudah pasti bahwa Abraham tidak pernah menginjakkan kaki di Mekah -Montgomery Watt.[52]
Poin pentingnya adalah, dimana fakta objektif telah ditetapkan oleh metoda-metoda sejarah yang baik, maka itulah yang harus diterima. -Montgomery Watt.[53]

Menurut hadis, Abraham dan Ismail yang membangun Kabah, bangunan kotak di mesjid suci Mekah. Tapi diluar riwayatan ini sama sekali tidak ada bukti – baik itu berupa epigrafik, arkeologis atau dokumen. Snouck Hurgronje telah menunjukkan bahwa Muhammad mengarang kisah itu untuk memberikan agamanya sumber dan setting kearab-araban; dengan improvisasi ini Muhammad juga menetapkan kemandirian agamanya sekaligus menempelkan Kabah kedalam Islam berikut segala hubungan sejarah dan religius karangannya untuk orang Arab.

Melihat jumlah materi yang ada dalam Quran yang dicomot dari Pentateuch – Musa: ada 502 ayat dalam 36 surah; Abraham: 245 ayat dalam 25 surah; Nuh: 131 ayat dalam 28 surah – sungguh mengagetkan kita bahwa kritik-kritik yang diterapkan pada bible ternyata tidak punya pengaruh terhadap studi-studi Quran. Para muslim seperti juga Yahudi dan Kristen berpegangan bahwa Pentateuch ditulis oleh Musa. Dalam Quran, Pentateuch disebut sebagai Taurat (Kata yang berasal dari bahasa ibrani Torah).

Para scholar telah lama ragu akan ketelitian sejarah kisah-kisah Bible, dan Islam tidak dapat lepas dari konsekwensi yang sama dalam penemuan dan kesimpulan mereka. Sejak abad 17, La Peyrere, Spinoza dan Hobbes telah berdebat bahwa Pentateuch tidaklah mungkin ditulis oleh Musa: “Dari apa yang telah diceritakan, jelas sejelas matahari bahwa Pentateuch tidak ditulis oleh Musa, tapi oleh seseorang yang hidup jauh setelah musa,” Spinoza menyimpulkan dalam A Theologico- Political Treatise.[54]

Lalu di abad 19 kritik lain yang lebih tajam seperti kritikan Graf dan Wellhausen menunjukkan bahwa Pentateuch (Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan) adalah karya gabungan, dimana didalamnya bisa dipisahkan karya empat ‘penulis’ yang berbeda., yang biasanya disebut dengan empat huruf: J, E, D dan P.

Robin Lane Fox[55] menyatakan:
Dalam Bible empat sumber awal digabung oleh orang kelima, seorang penulis tak dikenal yang menggabungkan keempatnya pada tahun antara 520 SM sampai 400 SM, dalam pendapat saya, lebih dekat pada tahun 400 SM. Ketika dia menggabungkan sumber-sumber ini, dia mencoba menyelamatkan isinya dan memasukkan kalimat-kalimat yang baik-baiknya saja (dan juga tentang penciptaan). Dia ini seorang sub-editor alami.. dalam pendapat saya, dia bukanlah seorang sejarawan tapi pasti dia kaget jika mendengar orang bilang tak satupun dalam karya penggabungannya itu benar. Kemungkinan isinya benar secara sejarah sangatlah kecil karena tak satupun dari sumber- sumber itu ditulis berdasarkan bukti-bukti kuat atau bukti-bukti tulisan sejaman atau seabad atau setidaknya dalam milenium yang sama dengan cerita tersebut. Bagaimana bisa tradisi mulut ke mulut memelihara rincian yang sedemikian baik lewat waktu sepanjang itu?.. Mengenai “raksasa di bumi,” yaitu Menara Babel atau eksploitasi dari Yakub atau Abraham, tidak ada alasan kuat utk percaya satupun tentang hal itu: Kisah paling detil dalam Kitab Kejadian adalah kisahnya Yusuf, kisah yang luar biasa, dijalin dari dua sumber yang berbeda, dimana keduanya tidak juga bersandar pada kebenaran sejarah.

Torah tidaklah ditulis oleh atau “diturunkan” pada Musa, dan tidak ada alasan kuat untuk percaya bahwa cerita Abraham dan lainnya itu benar. Pastinya tidak ada sejarawan yang bermimpi utk memakai sumber- sumber muslim guna memverifikasi sejarah tentang Bible ini; cerita versi muslim tentang Abraham, Musa dan yang lainnya, seperti kita pelajari sebelumnya, diambil dari tulisan-tulisan rabi Yahudi atau tidak lebih dari sekedar legenda belaka (dibangunnya Kabah dan lain-lain) yang, kacaunya lagi, diciptakan beberapa ribu tahun setelah kejadian- kejadian yang ‘katanya’ terjadi menurut mereka itu.

Sejarawan malah bertindak lebih jauh lagi. Mereka mengatakan ada kepastian bahwa Abraham tidak pernah ada: “Tradisi-tradisi versi J mengenai perjalanan Abraham sangatlah tidak tepat secara karakter sejarah. Jika dilihat dari sudut tema mengenai hamba Yahweh yg patuh yang suka berkelana ini memberikan struktur banyak kisah-kisah yang tidak saling berhubungan dalam tulisan-tulisannya J. ini adalah sebuah alat editorial yang digunakan untuk menyatukan banyak perbedaan dalam kisah-kisah Abraham dan Lot” (Thompson 1974). Thompson lalu menyatakan (hal.328):
Bukan saja arkeologi tidak membuktikan satupun kejadian dalam kisah patriarc ini sebagai sejarah tapi juga tidak menunjukkan kisah manapun benar. Berdasarkan apa yang kita ketahui tentang sejarah Palestina di Millenium Kedua Sebelum Masehi, dan dari apa yang kita mengerti mengenai bentuk tradisi sastra kitab Kejadian, bisa disimpulkan bahwa sejarah yang diceritakan tersebut, baik dalam karya akademis maupun karya popular mengenai Kitab Kejadian, sangatlah tidak mungkin dan benar-benar mustahil.

Terakhir, “pencarian Abraham secara sejarah pada dasarnya adalah pekerjaan yang sia-sia baik bagi para sejarawan maupun para pelajar dari bible.” [56]
Dan Lane Fox mengamati: “Sejarawan tidak lagi percaya bahwa kisah- kisah Abraham adalah kisah-kisah sejarah: seperti Aeneas atau Heracles, Abraham adalah figur legenda.” [57]

------------------
[36] Artikel Macdonald. Kadar dalam Encyclopaedia of Islam, edisi pertama
[37] Wensinck, A.J. [1] The Muslim Creed. Cambridge, 1932. hal51-52 [38] Mill, J.S Three Essays on Religion. London, 1874. hal.113-114
[39] Bousquet, G.H. L’Ethique sexuelle de l’Islam. Paris, 1966. hal.9 [40] Mackie, J.L. The Miracle of Theism. Oxford, 1982. hal. 256
[41] Mackie. J.L. Ethics. London, 1977. hal.230
[42] Russell, Bertrand. Why I Am Not a Christian. London, 1921. hal. 19
[43] Flew, Antony. “The Terrors of Islam.” Dalam P.Kurtz and T. Madigan, eds., Defending the Enlightment. Amherst, N.Y., 1987. Hal.277
[44] Gibb, H.A.R. Islam, Oxford, 1953. Hal.38
[45] Mackie, J.L. The Miracle of Theism. Oxford, 1982. Hal.256 [46] Dikutip dari Dictionary of Islam, hal.147
[47] Paine Thomas. The Age of Reason. Secaucus, 1974. Hal.270
[48] Paine Thomas. The Age of Reason. Secaucus, 1974. Hal.52 [49] Mackie, J.L. Ethics. London, 1977. hal.232
[50] Voltaire. Dictionaire Philosophiqe. Terjemahan Besterman, London, 1971. hal.17 [51] Rodinson, Maxime. Les Arabes. Paris, 1991 Hal.49
[52] Watt, W. Montgomery. Muslim-Christian Encounters. London, 1991. Hal.136 [53] Ibid., hal.135
[54] Spinoza, B. A Theologico-Political Treatise. Terjemahan Elwes. New York, 1951. Hal.124
[55] Fox, R.L. The Unauthorised Version. London, 1991. Hal.176
[56] Thompson, T.L. The Historicity of the Patriarchal Narratives. London, 1974., Hal.328
[57] Fox, R.L. The Unauthorised Version. London, 1991. Hal.218

Perbandingan Kisah Quran dan Alkitab

Nuh dan Air Bah
Pembuatan kapal, diselamatkannya semua binatang, banjir besar, semuanya yang ditulis dalam Quran sebagian diambil dari Genesis (Kitab Kejadian). Ketika kesadaran akan kemustahilan kisah ini muncul, orang Kristen tidak lagi menganggap kisah ini secara harafiah; kecuali, tentu saja para fundamentalis, yang masih banyak berkeliaran setiap tahun mencoba mencari sisa puing-puing kapal nabi Nuh atau Noah. Kaum muslim, dilain pihak, sepertinya kebal dari pemikiran rasional, dan menolak mencari bukti-bukti utk ini. Saya akan mengeluarkan pendapat yang menunjukkan kemustahilan legenda ini, meski kelihatannya saya seperti berusaha memaparkan kebohongan dari sesuatu yang sudah jelas bohongnya tapi saya harap akan lebih banyak orang berusaha seperti saya ini dan semakin sering lagi melakukannya.

Nuh diminta untuk membawa ke dalam kapalnya sepasang binatang dari semua spesies (Surah 11.36-41). Para ahli hewan[58] memperkirakan mungkin ada 10 juta spesies untuk serangga saja; apa mereka semua masuk ke dalam kapal? Benarkah serangga saja tidak menghabiskan tempat kapal? Mari kita fokus pada spesies yang lebih besar ukurannya: reptil ada 5.000 spesies; burung 9.000 spesies; lalu 4.500 spesis kelas mamalia (hal 239). Semuanya dalam data ‘phylum chordata’ (jenis binatang menengah) ada sekitar 45.000 spesies (hal.236). Seberapa besar kapal itu hingga bisa membawa sekitar 45.000 spesies binatang? Masing-masing sepasang, jadi ada sekitar 90.000 ekor binatang ukuran sedang, mulai dari ular sampai gajah, burung sampai kuda, kuda nil sampai badak. Bagaimana bisa Nuh mengumpulkan mereka secepat itu? Berapa lama dia menunggu dua ekor Sloth yang beringsut secara pelahan dari amazon ke tempatnya? Bagaimana kanguru bisa keluar dari benua australia yang berupa pulau? Bagaimana beruang kutub tahu lokasi kapalnya Nuh? Seperti Robert Ingersoll[59] tanyakan “adakah kemustahilan yang lebih hebat dari ini?” Misal jika kita menerima kisah ini tidak secara harafiah, atau kita memelesetkan dengan jawaban yang samar-samar, seperti: “Bagi Tuhan semuanya itu mungkin”. Kenapa Tuhan memilih cara yang sulit, penuh komplikasi dan makan waktu (setidaknya untuk Nuh) ini? Kenapa tidak selamatkan saja Nuh dan orang-orang yang saleh dengan mukjijat yang cepat daripada usaha yang berpanjang-panjang ini?

Tidak ada bukti geologis yang mengindikasikan pernah terjadi Banjir Besar. Memang ada bukti banjir lokal tapi bukan yang menutupi seluruh muka bumi, bahkan menutupi Timur Tengah saja tidak ada. Kita sekarang tahu bahwa kisah Air Bah dalam Bible, dimana Quran mencurinya, berasal dari legenda Mesopotamia: “Tidak ada bukti apapun yang merunut terjadinya air bah yang sama dalam kisah-kisah Mesopotamian dan Yahudi; Fiksi Yahudi kemungkinan berkembang dan berasal dari legenda Mesopotamia. Kisah-kisah ini adalah fiksi dan bukannya sejarah.” [60]

Daud dan Mazmur
Quran juga meminta muslim utk percaya bahwa Daud ‘menerima’ wahyu bernama/dinamai Mazmur/Zabur sama persis seperti cara Musa menerima Torah (Surah 4.163-65). Tapi sekali lagi scholar Bible meragukan Daud menulis sebanyak itu. Daud mungkin hidup sekitar tahun 1.000 SM, tapi kita tahu bahwa Mazmur/Zabur digabungkan belakangan pada perioda post-exilic (setelah pengasingan), yaitu sekitar 539 SM:
Kitab Mazmur terdiri dari lima kumpulan himne, kebanyakan ditulis untuk dipakai pada kuil kedua (Kuil Zerubbabel). Meski puisi-puisinya yg sangat kuno itu mungkin diadaptasi dalam beberapa kesempatan, tapi kumpulan ini muncul dalam satu kesatuan, atau hampir dalam satu kesatuan, ketika post-exilian (setelah pengasingan/pembuangan). Mungkin tidak ada satupun Mazmur harus disebut berasal dari Daud. Beberapa diantaranya, yang memuji-muji kerajaan yang sangat ideal, sepertinya ditulis sebagai penghormatan bagi salah satu raja Hasmonean (142-63 SM).[61]

Adam dan Evolusi, Kosmologi Penciptaan dan Modern
Banyak muslim belum bisa menerima fakta evolusi… Kisah Adam dan Hawa… tidak punya tempat dalam catatan sains mengenai asal muasal umat manusia. - Watt.[62]
Quran memberi kita cerita yang kontradiksi tentang penciptaan, hingga menimbulkan masalah besar bagi para penafsirnya.
[50.38] Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan.

[41.9-12] Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu- sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam". Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Dua hari untuk menciptakan bumi, empat hari untuk makanan, dan dua hari untuk tujuh langit, total jadi delapan hari (Surah 41), dimana dalam surah 50 kita diberitahu bahwa penciptaan terjadi dalam enam hari saja. Ini semua ada diluar jangkauan para komentator/penafsir hingga mereka tidak mampu menerapkan sulap jungkir balik agar bisa menjelaskan dan keluar dari kebodohan pertentangan ini. Langit bumi dan para makhluk didalamnya adalah bukti dari keberadaan Tuhan dan KekuasaanNya (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2, 4); [21.16] “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” Manusia dan Jin telah ditetapkan kewajiban spesial untuk menyembah Tuhan, dan meski kepatuhan pada hukum Tuhan pertama-tama ditawarkan pada langit dan bumi dan gunung- gunung, tapi manusialah yang menerimanya setelah langit bumi dan gunung menolaknya (Surah 33.72) (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2,4)

Bagaimana pendapat kita tentang doktrin aneh ini? Langit, bumi dan gunung-gunung dianggap sebagai makhluk, dan terlebih lagi sebagai makhluk yang punya keberanian untuk menolak dan tidak patuh pada Tuhan! Tuhan Maha Kuasa yang menciptakan jagat raya bertanya, apa mereka (langit, bumi dan gunung) mau menerima ‘kepercayaan’ atau ‘iman’, dan ciptaanNya sendiri itu ternyata menolak menerima beban ini.

Penciptaan dilakukan oleh perkataan Auwloh, “Jadilah,” karena segala sesuatu adalah atas kehendakNya. Sebelum penciptaan singgasanaNya mengambang diatas air dan surga dan bumi masih berupa satu kumpulan (air). Auwloh memisahkan mereka, langit dibangun dan dibentangkan sebagai atap yang melindungi, tanpa cacat, yang dia angkat keatas bumi dan diam diatas sana tanpa tiang- tiang, sementara bumi dibentangkan dan gunung-gunung dipasang pada permukaannya sebagai pasak agar mencegah bumi bergerak ketika makhluk-makhluk hidup bergerak diatasnya, karena dunia terdiri dari tujuh bumi. Juga dua lautan dilepas bersisian satu sama lain, satu air tawar yang lain air garam, tapi dengan sebuah penghalang diantaranya hingga mereka tidak bisa bersatu. (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2, 5)

Bumi yang diciptakan pertama, lalu langit. Bulan diberi sinarnya sendiri (Surah 10.5), dan padanya dicanangkan “agar berubah seperti batang palem yang melipat dan menua, agar manusia bisa mengetahui jumlah tahun dan menghitung darinya” (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2,5). Sedang mengenai Adam, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani dalam tempat yang kokoh. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang lain. Maka Maha Suci lah Auwloh, Pencipta Yang Paling Baik.” [Surah 23.12-14]
Kisah lain menceritakan pada kita bahwa manusia diciptakan dari sperma (cairan hina) (Surah 77.22), dan lagi versi lainnya bahwa semua makhluk hidup diciptakan dari air seperti juga seluruh isi jagat raya ini (21.30, 25.54, 24.45). Binatang diciptakan khusus bagi umat manusia; manusia adalah tuan dari para binatang ini: “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka, maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman.” [Surah 36.71-73]

Jin diciptakan dari api, sebelum manusia diciptakan dari tanah. Mereka hidup dibumi bersama manusia. Para penafsir muslim tidak punya masalah mengenai kontradiksi yang jelas ini, seorang pembaca sains modern dan terpelajar bahkan tidak akan capek-capek mencari kebenaran sains kisah penciptaan samar dan membingungkan itu. Malah, kesamaran itulah yang membuat orang bisa mencari apapun yang dia ingin temukan dalam mitos-mitos, legenda dan takhyul-takhyulnya. Jadi, banyak muslim percaya pada keseluruhan ‘pengetahuan’ yang ada dalam Quran atau hadis. Seperti kata Ibn Hazm, “Fakta apapun itu yang bisa dibuktikan dengan akal, ada dalam Quran atau dalam perkataan sang Nabi, semuanya jelas- jelas dimaksudkan untuk itu.”

Setiap kali ada penemuan sains baru, misal fisika, kimia atau biologi, para pembela muslim akan berlomba-lomba meneliti Quran untuk mencari dan membuktikan bahwa penemuan tersebut sudah pernah ada dituliskan didalamnya; segala sesuatu mulai dari listrik hingga teori relativitas (Ascha, Ghassan. Du Status inferieur de la Femme en Islam. Paris, 1989. hal.14). Para muslim ini menunjuk tulisan Quran mengenai asal muasal makhluk hidup yang berasal dari air (surah 21.31), dan ide baru-baru ini di bidang biologi yang menyatakan bahwa hidup dimulai, dengan meminjam perkataan Darwin, dalam “sebuah kolam kecil yang hangat.” Dugaan penemuan sains lainnya dirasa telah ada dalam Quran termasuk penyerbukan tanaman oleh angin (surah 15.22) dan cara hidup lebah (surah 16.69). Tak ragu lagi ketika mereka mendengar seorang ahli kimia Glasgow, A.G. Cairns-Smith yang menyatakan bahwa jawaban teka-teki asal muasal kehidupan mungkin ada pada tanah lempung biasa, para pembela muslim langsung loncat mengiyakan dan melompat-lompat gembira merasa menang dan menunjuk pada doktrin Quran bahwa Adam diciptakan dari tanah lempung (Dawkins, Richard. “A Deplorable Affair.” Dalam New Humanist, vol.104, London, May 1989. hal 148-165).

Karena para muslim masih juga memakai kisah-kisah Quran secara literal, saya jadi punya kewajiban untuk menunjukkan bagaimana hal itu tidak sejalan dengan pendapat sains modern mengenai asal muasal jagat raya dan kehidupan di bumi. Bahkan dalam memakai istilahnya sendiri kisah Quran tidaklah konsisten dan penuh kemustahilan. Kita telah catat pertentangan mengenai lamanya penciptaan. Katanya Auwloh hanya bilang “Jadilah,” (kun-fayakun) dan kehendakNya langsung terwujud, tapi kok butuh waktu enam hari utk mencipta langit. Juga, gimana bisa ada ‘hari/masa’ sebelum penciptaan bumi dan matahari, padahal ‘hari/masa’ itu adalah pewaktu yang kita pakai berdasarkan perputaran bumi pada sumbunya? Kita juga diceritakan bahwa sebelum penciptaan, singgasana Tuhan mengambang diatas ‘air’. Darimana ‘air’ ini muncul sebelum penciptaan? Keseluruhan gagasan tentang singgasana Tuhan ini melulu berkarakter manusia tapi dipakai begitu saja oleh orang-orang ortodoks. Lalu kita punya beberapa cerita tentang penciptaan Adam. Menurut Quran, Auwloh menciptakan bulan dan fase-fasenya agar manusia tahu jumlah tahun (Surah 10.5). Lagi-lagi ini hanya gagasan bagi orang Arab yang primitif, karena semua kemajuan peradaban Babylonia, Mesir, Persia, China dan Yunani saat itu juga sudah memakai matahari untuk menunjukkan waktu mereka.

Mari kita berpaling pada kisah modern mengenai asal muasal jagat raya.
Di tahun 1929, Edwin Hubble mempublikasikan penemuannya bahwa galaksi terjauh ternyata menjauh dari bumi dengan kecepatan yg proporsinya sama dengan jauhnya mereka dari bumi. Hukum Hubble menyatakan bahwa kecepatan resesional (V), dari sebuah galaksi berhubungan dengan jaraknya (r), dari bumi dengan persamaan:
V = Ho . r, dimana Ho adalah konstanta Hubble.
Dengan kata lain, hukum Hubble mengatakan bahwa jagat raya ini membesar/mengembang. Seperti Kaufmann katakan[63]: “Jagat raya telah mengembang selama milyaran tahun, jadi pastinya ada satu saat dimasa lalu dimana semua materi dijagat raya dikonsentrasikan dalam sebuah keadaan padat yang tak terbatas. Mestinya ada semacam ledakan kolosal yang pasti memulai mengembangnya jagat raya ini. Ledakan ini yang biasa disebut Big Bang menandai dimulai terciptanya jagat raya ini.” Umur Jagat raya ini telah dihitung ada sekitar lima belas sampai dua puluh milyar tahun.

Sebelumnya, sekitar 10 detik setelah terjadinya Big Bang, biasa disebut Waktu Planck, jagat raya ini begitu padatnya hingga hukum fisika tidak berlaku untuk menjelaskan gerak laku ruang, waktu dan materi. Selama jutaan tahun pertama, materi dan energi membentuk sebuah plasma padat (disebut bola api primordial), terdiri dari foton energi-tinggi yang bertumbukkan dengan proton dan elektron. Sekitar satu juta tahun setelah Big Bang, proton dan elektron akan bergabung membentuk atom hidrogen. Tapi kita harus menunggu sekitar 10 milyar tahun sebelum sistem tata surya kita ada terbentuk. “Sistem tata surya kita dibentuk dari materi yang diciptakan dalam bintang- bintang yang menghilang milyaran tahun lalu. Matahari adalah bintang yang relatif muda, hanya berumur lima milyar tahun. Semua elemen- elemen selain dari hidrogen dan helium dalam sistem tata surya kita tercipta dan dibentuk oleh bintang-bintang kuno selama 10 milyar pertama keberadaan galaksi kita. Kita sebenarnya tercipta dari debu bintang.” (Kaufmann, W.J., III. Universe. New York, 1985. hal 110).

Sistem Tata Surya dibentuk dari sebuah awan gas dan debu, yang disebut Solar Nebula, yang bisa dijelaskan sebagai sebuah “piringan berputar yang terbuat dari sesuatu yang seperti kepingan salju dan es yang dibungkus oleh partikel debu.” Planet-planet dalam, Mercurius, Venus, Bumi dan Mars dibentuk lewat pertumbuhan dari partikel- partikel debu hingga ukurannya menjadi seukuran planet (planetesimal) dan lalu menjadi protoplanet yang lebih besar. Planet- planet luar, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto, dibentuk dari pemisahan nebula luar menjadi cincin gas dan es terbungkus debu yang bersatu menjadi protoplanet raksasa. Matahari terbentuk dari tumbuhnya titik pusat nebula. Setelah sekitar 100 juta tahun, temperatur dari pusat protosun (matahari muda) telah cukup tinggi untuk memicu reaksi termonuklir. (Kaufmann, W.J., III. Universe. New York, 1985. Hal 116).

Cerita-cerita ini, parahnya, sama sekali berbeda dengan kisah yang dituliskan dalam Quran. Bumi tidaklah, seperti kata Quran (surah 41.12), diciptakan sebelum langit; kita telah catat bahwa matahari dan sistem tata surya dibentuk jutaan tahun setelah Big Bang, jutaan bintang lainnya juga sudah dibentuk sebelum matahari kita. Terlebih lagi, istilah ‘langit’ sangatlah samar; apa ini artinya sistem tata surya kita? Galaksi kita? Jagat raya? Jungkir balik gimanapun tidak akan bisa mengerti kisah Quran mengenai penciptaan langit dalam enam, delapan atau dua hari. Sinar bulan, tentu saja, bukanlah sinarnya sendiri (surah 10.5), tapi pantulan sinar matahari. Bumi mengorbit matahari dan bukan sebaliknya.

Mereka yang tergoda untuk mencari dalam Quran segala macam ayat yang nyerempet-nyerempet Big Bang harusnya sadar bahwa kosmologi dan fisika modern umumnya didasarkan pada matematik. Tanpa pengembangan dalam bidang matematik, khususnya di abad 17 (kalkulus misalnya), kemajuan dan pengertian tidaklah mungkin tercapai. Sebaliknya dari kesamaran isi Quran, Big Bang dalam formula kosmologi modernnya menyatakan dengan sangat teliti memakai matematik tingkat tinggi; tentu saja sangatlah tidak mungkin menyatakan gagasan-gagasan demikian dalam pernyataan yang dangkal tanpa kehilangan ketelitiannya.

Asal Muasal Kehidupan dan Teori Evolusi
Bumi terbentuk sekitar 4.5 milyar tahun lalu, dan mungkin kurang dari 1 milyar tahun kemudian kehidupan muncul diatasnya untuk pertama kali setelah perioda evolusi kimia terjadi. Seorang ahli biokimia Rusia, Oparin, berpendapat dalam buku The Origin of Life (1938) bahwa bumi primitif terdiri dari elemen-elemen kimia yang bereaksi terhadap radiasi luar angkasa dan juga energi yang bersumber dari terestrial (bumi itu sendiri). “Hasil dari aktivitas fotokimia yang lama, campuran inorganik membangkitkan senyawa organik (termasuk amino acid yang menjadi struktur pembentuk molekul protein makhluk). Seiring waktu dan proses pemilihan kimia, sistem organik ini lalu bertambah stabil dan kompleks, menjadi makhluk hidup pelopor dari segala makhluk.”[64] (Birx, H. Art. “Evolution and Unbelief”. Dalam Encyclopaedia of Unbelief, volume 1. hal 417-418). Sejak jamannya Oparin, banyak ilmuwan (Miller, Fox, Ponnamperuma) berhasil memproduksi senyawa organik dari benda non organik di laboratorium.

Kontroversi masih mengitari penjelasan biokimia mengenai asal muasal kehidupan diplanet bumi, khususnya tentang apakah sesuatu yang mirip dengan molekul DNA/RNA muncul terlebih dulu atau malah mungkin amino acid dasar yang dibutuhkan bagi sintesa protein yang lebih dulu ada. Makhluk hidup muncul ketika sistem organic mulai mempunyai kemampuan untuk melakukan metabolisme dan reproduksi; perkembangan dari sintesa inorganik dari evolusi kimia merintis jalan bagi evolusi biologi dan berikutnya kemampuan adaptasi menjadi semakin kompleks dan mengalami perubahan bentuk. (n.d., hal 419)

Ditahun 1859, Darwin mempublikasikan karyanya “In the Origin of Species by Means of Natural Selection, or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life”. Dalam kata pendahuluannya Darwin menulis: [65]
Dalam mempertimbangkan asal-usul Spesies, sangat mungkin seorang naturalis memakai pemikiran mengenai daya tarik menarik mutual antara makhluk-makhluk hidup, dalam hubungan embriologinya, distribusi geografiknya, suksesi geologisnya dan fakta-fakta lain, ini mungkin akan sampai pada kesimpulan bahwa tiap spesies tidaklah secara tersendiri atau khusus diciptakan tapi merupakan hasil penurunan, seperti juga keanekaragaman species-species lain. Namun, kesimpulan demikian, meskipun misalnya punya dasar, masihlah tidak memuaskan sampai bisa ditunjukkan betapa species- species yang tak terhitung banyaknya ini telah termodifikasi, hingga mendapatkan struktur dan ko-adaptasi sempurna yang membuat kita kagum.

Jawaban Darwin untuk pertanyaannya sendiri “Bagaimana evolusi itu terjadi” tentunya adalah Seleksi Alam. Spesies adalah hasil dari proses panjang seleksi alam yang bertindak mengubah atau/dan mempertahankan “variasi-variasi warisan, random dan yang sering muncul”.[66] Darwin mengatakannya demikian:
Seiring banyaknya spesies terlahir dan bertahan hidup; akibatnya ada pergumulan yang selalu muncul untuk bagaimana agar bisa bertahan hidup, ini semua mengikuti sebuah pola bahwa makhluk apapun meski dari spesies yang sama, jika berbeda sedikit saja, berbeda dalam arti yang menguntungkan baginya dibanding spesies aslinya, menguntungkan dia dalam mengarungi kondisi hidup yang kompleks dan kadang berbeda, maka ia akan mempunyai kesempatan hidup yang lebih baik dari yang lainnya, dengan demikian makhluk unik itu adalah hasil dari seleksi alam. Dari prinsip keturunan, keberbedaan yang dipilih alam itu cenderung akan meneruskan bentuk barunya yang sudah lebih baik itu.[67]

Implikasi dari teori evolusi pada posisi manusia di alam sudah jelas. Darwin sendiri mencatat bahwa “Kesimpulan bahwa manusia adalah keturunan dari spesies lain yang lebih purba, lebih rendah dan bentuk yg sudah punah dalam tingkat apapun bukanlah hal baru. Lamarck jauh-jauh hari sudah menyimpulkan demikian, belakangan dipertahankan oleh beberapa naturalis dan filsuf terkenal; contohnya, Wallace, Huxley, Lyell, Vogt, Lubbock, Buchner, Rolle &c., dan khususnya Haeckel.”

Di abad 18 de Lamettrie telah mengklasifikasikan manusia sebagai binatang dalam L’Homme Machine (1748). Linnaeus (1707-1778) telah mengklasifikasikan manusia dengan kera yg mirip manusia seperti Anthropomorpha. T.H. Huxley dalam karya terkenalnya “Man’s Relations to Lower Animal,”[68] memulai penuturannya dengan melihat pada perkembangan indung telur seekor anjing lalu menyimpulkan bahwa.

Sejarah perkembangan binatang vertebrata lainnya, kadal, ular, katak, atau ikan, semuanya mengungkapkan hal yg sama. Selalu dimulai dari sebuah indung telur yang punya struktur penting sama seperti pada anjing: - bagian kuning telurnya selalu mengalami pembelahan atau segmentasi, ..… produk mutakhir dari segmentasi itu merupakan materi pembangun tubuh binatang-binatang muda; dan ini dibangun dari awal yang primitif, dari dasar dimana notochord (tulang rawan pembentuk kerangka) dikembangkan. Lalu ada perioda dimana masa bayi dari binatang-binatang ini mirip satu sama lain, tidak hanya dari bentuk luar tapi dari struktur-struktur pentingnya, begitu mirip hingga perbedaannya kadang tidak terlihat, sementara dalam perkembangan berikutnya mereka mulai menunjukkan perbedaan satu dari yang lainnya.

Dengan demikian studi perkembangan ini memberi sebuah ujian yang jelas akan dekatnya struktur pertalian keturunan dan kita jadi mulai bertanya apa hasil yang didapat dari studi tentang Manusia ini? Apa manusia sama sekali berbeda? Apa asal usul manusia sama sekali berbeda dari Anjing, Burung, Katak dan Ikan, hingga membenarkan mereka yang mengatakan bahwa kita tidak berasal dari alam dan tidak punya pertalian keturunan dengan dunia binatang yang lebih rendah? Atau benarkah kita berasal dari sel yang sama, yang diturunkan lewat proses panjang dan pelahan – yang tergantung pada nutrisi dan proteksi dan akhirnya memasuki dunia sebagai manusia lewat mekanisme yang sama? Jawabannya tidaklah meragukan untuk sementara ini, dan juga tidak meragukan selama puluhan tahun belakangan ini. Tanpa ragu lagi tahap asal muasal dan perkembangan manusia identik dengan binatang yang berada ditingkat bawahnya – tanpa ragu pula, manusia jauh lebih dekat pada monyet dibandingkan monyet pada anjing.

Ada banyak alasan untuk menyimpulkan bahwa perubahan (ovum manusia) mengalami proses yang sama dengan yang dialami oleh ovum dari binatang bertulang belakang lainnya; karena materi pembentuk bahan dasar tubuh manusia dalam kondisi paling awalnya, seperti yang telah diteliti, sama dengan binatang-binatang lainnya.

Tapi, persis disana jugalah perkembangan manusia berbeda dari anjing, manusia lebih mirip dengan monyet, dimana monyet punya yolk-sac yang spheroid (bulat) dan placenta yang discoid (seperti disc). Jadi hanya tahap selanjutnya saja yang membuat manusia berbeda dari monyet, sementara monyet sangat jauh berbeda perkembangannya dari anjing, seperti juga manusia terhadap anjing.

Mungkin ini mengejutkan, tapi telah didemontrasikan dan terbukti benar dan itu saja cukup bagi saya untuk menyimpulkan tanpa ragu akan kesamaan struktur manusia dengan binatang-binatang diseluruh dunia, khususnya dan paling dekat dengan monyet.
Bukti untuk teori evolusi datang dari banyak disiplin bidang ilmu sains: sistematis, geopaleontologi, biogeografi, studi perbandingan biokimia, serology, immunology, genetika, embryologi, parasitologi, morphology (anatomi dan fisiologi), psikologi, dan ethologi.

Bukti-bukti ini menunjuk arah yang sama yaitu manusia, seperti juga makhluk hidup lainnya, adalah hasil dari proses evolusi dan keturunan dari nenek moyang mirip monyet dan tentunya bukanlah hasil dari Penciptaan Khusus. Dalam konteks ini, membicarakan tentang Adam dan Hawa seperti yang ada dalam Bible dan Quran tidak ada artinya. Manusia, utk sekarang ini, diklasifikasikan kedalam ordo primata, bersama-sama dengan pemanjat pohon lainnya seperti: Tikus pohon, Lemur, Loris, Monyet dan Kera. Jadi, bukan hanya monyet dan kera saja, tapi Lemur dan tikus pohon juga harus diakui oleh kita sebagai sepupu jauh. Seperti J.Z. Young nyatakan, “Tetap saja sulit utk dibayangkan bahwa nenek moyang kita bertalian darah langsung seperti ayah kepada anak dengan seekor tikus tanah, dan dari sana mungkin berpisah menjadi semacam kadal, ikan bahkan mungkin semacam bunga-laut.”[69]

Tuhan Sang Pencipta
Apakah kisah terkenal yang ada diawal Bible sungguh-sungguh dimengerti? Kisah ketakutan Tuhan akan sains? .. Manusia sendiri ternyata telah menjadi kesalahan Tuhan Terbesar; Dia menciptakan saingan buat diriNya sendiri; sains membuat Tuhan – berakhir sudah para ulama (pemimpin agama) dan dewa-dewa ketika manusia menjadi makin sains.. Pengetahuan, emansipasi ulama, terus berkembang. - Nietzsche, The Antichrist.[70]

Tak pernah, dalam menelaah asal usul jagat raya dan asal usul kehidupan serta teori evolusi saya pernah bersandar pada “campur tangan Ilahi” sebagai penjelasan. Tentunya, untuk menjelaskan segalanya dengan memakai istilah ketuhanan sama saja dengan tidak menjelaskan apapun – sama seperti mematikan semua pertanyaan, mencekik keingintahuan intelektual, membunuh kemajuan sains. Untuk menjelaskan keaneka ragaman menakjubkan dan kompleksnya organisme sebagai sebuah “mukjijat” sama sekali tidak membantu, setidaknya dalam semua penjelasan sains. Mengutip Dawkins, “Menjelaskan asal muasal mesin protein/DNA dengan menceritakan takhyul sama saja dengan tidak menjelaskan apa-apa, karena hanya menyisakan ketidak jelasan asal usul pencipta itu sendiri. Anda harus mengatakan sesuatu seperti “Tuhan selalu ada disana,” dan jika anda mau lepas dari masalah dengan cara malas seperti itu, lebih baik bilang saja “DNA selalu ada disana,” atau “Kehidupan selalu ada disana.’ Selesai.” [71]

Darwin menyatakan hal yang sama tentang teorinya dalam surat pada Sir Charles Lyell, geolog terkenal: “Jika saya diyakinkan bahwa saya butuh penambahan (mukjijat) seperti itu dalam teori Seleksi Alam, saya akan menolaknya sebagai sampah… saya malah jadi tidak akan menambahkan apapun dalam teori Seleksi Alam, jika benar butuh penjelasan mukjijat dalam tiap tahap keturunannya.”
Mengenai surat diatas, Dawkins berkomentar: “Ini bukan masalah sepele. Dalam pendapat Darwin, tujuan dari teori evolusi oleh seleksi alam adalah bahwa hal itu memberikan hal ‘non mukjijat’ dalam keberadaan adaptasi kompleksnya. Ini juga menjadi tujuan dari keseluruhan buku ini (The Blind Watchmaker). Bagi Darwin, evolusi apa saja yang ditolong oleh Tuhan bukan evolusi namanya. Itu omong kosong belaka.”

Sedang mengenai Big Bang dan kosmologi modern, Stephen Hawking[72] membuat pendapat yang sama. Pihak gereja mencoba menebus dosa atas perlakuan yang mereka berikan pada Galileo, karenanya Vatican mengorganisir sebuah konferensi dimana para kosmolog terkenal diundang.

Pada akhir konferensi, para partisipan diberi kehormatan bertemu muka dengan Paus. Dia (Paus) bilang tidak apa-apa mempelajari evolusi jagat raya setelah Big Bang, tapi kita seharusnya jangan mempertanyakan Big Bang itu sendiri karena itu adalah saat-saat Penciptaan dengan demikian itu adalah Pekerjaan Tuhan. Saya (Hawking) senang sekali mengetahui bahwa dia (Paus) tidak tahu tentang subjek yang saya bicarakan tadi waktu konferensi – subjek tentang kemungkinan ruang-waktu itu terbatas tapi tidak ada lingkupnya, berarti tidak punya awal dan berarti tidak ada saat-saat Penciptaan itu. (Hawking, S. A Brief History of Time. London, 1988, hal.122)

Dihalaman lain dalam buku Bestsellernya, A Brief History of Time, Hawking mengamati bahwa:
Teori Kuantum Gravitasi telah membuka kemungkinan baru, yang mana tidak ada lingkupan bagi ruang-waktu dan dengan begitu tidak perlu menetapkan polah yang terjadi pada lingkupan itu. Tidak akan ada singularitas dimana hukum-hukum sains dilanggar dan tidak ada ujung dari ruang-waktu dimana orang harus merunut pada Tuhan atau hukum yang baru untuk menetapkan kondisi lingkupan bagi ruang- waktu. Orang bisa berkata: “Kondisi lingkup dari jagat raya adalah bahwa tidak punya lingkupannya.” Jagat raya sepenuhnya mewadahi sendiri dan tidak dipengaruhi oleh apapun diluar dirinya. Tidak diciptakan ataupun dihancurkan. Hanya ada.

Belakangan, Hawking bertanya, “Lalu dimana tempat bagi sang pencipta?”
Einstein mengamati bahwa “orang yang sangat yakin mengenai operasi universal dari hukum sebab akibat tidak dapat, meski sebentar saja, menerima gagasan akan sesuatu yang ikut campur dalam kejadian-kejadian tersebut.. Dia tidak butuh agama yang memupuk rasa takut.” [73]

Serupa dengan itu, baru-baru ini, Peter Atkins berpendapat “bahwa jagat raya ada tanpa campur tangan, dan tidak perlu menyebutkan gagasan adanya makhluk Maha Segala dalam segala bentuk perwujudannya.” [74]

Teori yang menjelaskan bahwa yang dimaksud Big Bang adalah Tuhan, tidak menjawab pertanyaan sains manapun. Mereka mendorong pertanyaan-pertanyaan tentang Asal Muasal ini satu langkah lebih mundur lagi, menanyakan asal Muasal Tuhan. Seperti Feuerbach[75] katakan, “Dunia itu tidak ada artinya bagi agama – dunia, yang dalam kenyataannya adalah gabungan seluruh realitas, katanya diciptakan dalam kemegahannya hanya dengan teori. Kenikmatan berteori adalah kenikmatan intelektual termanis dalam hidup; tapi agama tidak mengenal kenikmatan berpikir, penelaah alam, para artisnya. Gagasan jagat raya adalah bahwa ia tidak memiliki hal tersebut, tidak memiliki kesadaran akan hal tak terbatas, kesadaran para spesies.”

Hanya para ilmuwan yang merasa takjub, yang merasa bahwa kerumitan hebat seperti itu perlu penjelasan, yang lalu mengajukan hipotesa sains teruji dan tak dapat disangkal, yang mencoba mengungkap hal-hal yang disebut sebagai misteri jagat raya. Orang religius cukup puas dengan pendapat tak teruji dan tak menarik yang mengatakan bahwa ‘itu semua’ diciptakan oleh Tuhan. Titik.

Banjir, Kelaparan dan Kemarau
Sayang sekali Quran memberi contoh elemen-elemen yang katanya menjadi pertanda kemurahan hati tuhan dalam bentuk-bentuk yang justru menyebabkan banyak penderitaan bukannya kebahagiaan. Hujan, disebutkan dalam surah 7.56, adalah pertanda kemurahan hati Tuhan. Tapi banjir akibat hujan mengambil nyawa ribuan orang yang ironisnya dari sebuah negara muslim, Bangladesh. Angin puting beliung tahun 1991, 200 km/jam, hasilnya adalah banjir yang mengakibatkan 100.000 orang mati dan 10 juta kehilangan rumah. Meski banyak air dimana-mana, Bangladesh tetap saja menderita kekeringan dari October sampai April tahun itu. Hingga, populasi besar dari salah satu penduduk termiskin didunia ini mendapatkan banjir sekaligus kekeringan. Semuanya pekerjaan dari Tuhan, seperti surah 57.22 katakan : “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Auwloh.”

Tentunya, semua bencana alam mulai dari gempa bumi sampai tornado sulit dihubungkan dengan dengan Tuhan yang Maha Baik, khususnya karena bencana-bencana itu mendatangi orang-orang yang miskin, dan malah seringnya pada negara-negara muslim. Ketika gempa bumi di Lisbon tahun 1755, ribuan orang meninggal, banyak orang-orang itu meninggal ketika berdoa di gereja, dan kematian ini punya efek besar di abad 18, khususnya pada penulis seperti Voltaire: “Kenapa begitu banyak orang tak bersalah terbunuh? Kenapa tempat pelacuran tidak kena, sementara orang-orang saleh dihukum?”

Mukjijat
Teisme pada abad 18, membesar-besarkan rasionalitas (masuk akal) nya Islam, mereka mengemukakan fakta bahwa Muhammad tidak pernah melakukan mukjijat apapun. Ini benar: dalam Quran Muhammad berkata dia hanya manusia biasa yg tidak bisa melakukan mukjijat, dia hanya utusan Auwloh belaka (surah 29.49, 13.27-30, 17.92-97). Meski Muhammad menyangkal, tapi kok empat kali Quran mengatakan bahwa Muhammad telah melakukan mukjijat.

1. Bulan dibelah: [54.1-2] “Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus".
2. Bantuan bagi para muslim ketika perang Badar: [3.123-125] Sungguh Auwloh telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Auwloh, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: ."Apakah tidak cukup bagi kamu Auwloh membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Auwloh menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.”
3. Perjalanan Isro-Mi’raj: [17.1] “Maha Suci Auwloh, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
4. Quran, bagi Muslim tetap menjadi mukjijat terbesar dari Islam : [29.50-51] “Dan orang-orang kafir Mekah berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Auwloh. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata". Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur'an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.”

Hadis-hadis juga penuh dengan mukjijat-mukjijat dari Muhammad, menyembuhkan orang sakit, memberi makan ribuan orang dari makanan satu orang anak kecil, dan lain-lain.
Seiring dengan bertambahnya pengetahuan kita akan alam, ada penurunan yang sebanding akan kepercayaan pada mukjijat. Kita tidak lagi gampang berpikir bahwa Tuhan ikut campur dalam urusan-urusan manusia dengan cara menahan atau mengubah gejala-gejala alam yang normal, yang sudah menjadi hukum alam. Begitu kepercayaan kita akan penemuan hukum-hukum alam bertambah, kepercayaan kita akan mukjijat jadi menurun. David Hume berpendapat sbb:[76]
Mukjijat adalah pelanggaran terhadap hukum-hukum alam; pengalaman-pengalaman yang pasti dan tidak tergoyahkan yang telah menetapkan hukum-hukum ini, bukti-bukti yang berlawanan dengan mukjijat, bukti dari fakta-fakta alam itu sendiri, adalah argumen yang tidak bisa terbantahkan lagi. Kenapa masih menganggap mungkin semua manusia pasti mati; bahwa timah tidak bisa mengambang di udara dengan sendirinya; .. kecuali bahwa kejadian-kejadian ini seiring sejalan dengan hukum-hukum alam, dan dibutuhkan pelanggaran tertentu terhadap hukum-hukum alam ini, dengan kata lain butuh mukjijat untuk itu? Tidak ada hal yang dinilai sebagai mukjijat, jika terjadinya masih dalam batas-batas alami belaka.. tapi disebut mukjijat jika orang mati hidup kembali; karena tidak pernah terjadi/teramati kejadian demikian dijaman manapun dinegeri manapun. Makanya haruslah ada pengalaman yang sama pada setiap kejadian-kejadian mukjijat itu, karena kalau jika tidak pastilah tidak layak disebut mukjijat. Dan pengalaman sama ini harus ada buktinya, bukti langsung dan secara penuh teramati. Konsekwensi yang jelas adalah “bahwa tidak ada kesaksian yang pantas untuk menetapkan bahwa kejadian tertentu tersebut sebuah mukjijat, kecuali kesaksian itu sedemikian sehingga kebohongannya itu sendiri sudah merupakan sebuah mukjijat, lebih dari fakta yang akan dipastikan itu.”

Dan dalam setiap dugaan adanya mukjijat, lebih masuk akal dan sesuai dengan pengalaman-pengalaman kita untuk menyangkal bahwa ‘mukjijat’ pernah terjadi. Orang-orang yang dibohongi dan ditipu, cenderung membesar-besarkan dan punya kebutuhan kuat untuk percaya; atau seperti kata Feuerbach, sebuah mukjijat adalah “sihir imajinasi, yang memuaskan tanpa bertentangan dengan keinginan- keinginan hatinya.” Mukjijat-mukjijat Quran muncul dahulu kala, dan kita sekarang tidak berada dalam posisi untuk membenarkan atau mengujinya.
Mungkin satu dari banyak argumen penting akan mukjijat, adalah argumen yang sering terlewat oleh banyak orang yang seperti dinyatakan oleh Hospers:
Kita percaya bahwa kebanyakan mukjijat itu dalam beberapa segi sebenarnya tidak pantas bagi Tuhan Maha Ada. Jika Tuhan ingin orang- orang percaya padaNya, kenapa dia hanya melakukan Mukjijat disebuah daerah yang terpencil dimana hanya sedikit orang saja yang menyaksikannya? .. Kenapa tidak menyembuhkan semua penderita, bukannya menyembuhkan sedikit orang saja? kenapa tidak mengakhiri pembantaian besar-besaran di perang dunia I, atau mencegah terjadi perang itu langsung, bukannya melakukan mujijat di Fatima (dusun di Portugis dimana tiga anak melihat penampakan “Our Lady of the Rosary”) ditahun 1917?[77]

-------------
[58] Margulis, Lynn, and K.V. Schwartz. Five Kingdoms. San Fransisco, 1982. Hal.224-239
[59] Ingersoll, R. Some Mistakes of Moses. Amherst, N.Y., 1986. Hal.149 [60] Fox, R.L. The Unauthorised Version. London, 1991. Hal.218
[61] Howell Smith, A.D. In Search of the Real Bible. London, 1943. Hal.75
[62] Watt, W. Montgomery Muslim-Christian Encounters. London, 1991. Hal.134-135 [63] Kaufmann, W.J., III. Universe. New York, 1985. Hal.110-116
[64] Birx, H. Art. “Evolution and Unbelief”. Dalam Encyclopaedia of Unbelief, volume 1. Hal.417-418
[65] Darwin, C. The Origin of Species. London, 1872. Hal. Introduction
[66] Ruse, hal.47
[67] Darwin, C. The Origin of Species. London, 1872. Hal. Introduction
[68] Huxley, T.H. Man’s Place in Nature and Other Essays. London, 1914. Hal.52-62 [69] Young, J.Z. An Introduction to the Study of Man. Oxford, 1974. Hal.402
[70] Nietzsche. The Portable Nietzsche. Ed. W. Kaufmann. New York, 1974. Hal.628
[71] Dawkins, Richard. The Blind Watchmaker. London, 1988. Hal.141, 249 [72] Hawking, S. A Brief History of Time. London, 1988. Hal.122, 143-149 [73] Einstein, A. Ideas and Opinions. Delhi, 1989. Hal.39
[74] Atkins, P. Creation Revisited. Oxford, 1992. Hal.vii. Preface
[75] Feuerbach, Ludwig. The Essence of Christianity. Amherst, N.Y., 1989. Hal.195-196

[76] Hume, David. Essential Works of Davide Hume. New York, 1965. Hal.114-115 [77] Hospers, John. An Introduction to Philosophical Analysis. London, 1973. Hal.454

Catatan
Sebelum anda meneruskan membaca, saya ingatkan sekali lagi bahwa Ibn Warraq (penulis buku ini) adalah seorang mantan muslim yang kini menjadi atheis. Dan hampir semua kutipannya tentang injil, Alkitab, Jesus, dan Kekristenan diambil dari sumber-sumber kaum liberal, tokoh-tokoh ilmuwan atheis-agnostik, dan para orientalis yang juga menyampaikan kritik tajam terhadap Kekristenan, bukan hanya kepada Islam. Banyak hal yang disampaikan Ibn Warraq tentang Kekristenan di buku ini adalah polemik yg telah disanggah dng bernas oleh para teolog & scholar Kristen. Untuk mengetahuinya anda dapat menelusuri sendiri dari berbagai sumber.Ibn Warraq menyentuh tema-tema (polemik) Kristen sebagai “sasaran antara” untuk mengkritik islam. Bila para teolog & scholar Kristen dapat menjawab polemik teologi dengan begitu meyakinkan, mengapa para ulama muslim tak punya kemampuan yang memadai untuk menjawab semua polemik tentang Islam? Semua polemik & kritik tentang Islam selalu berakhir di jalan kekerasan; demonstrasi, bom, bakar, bunuh, fatwa mati, dan lain-lain…. Bukan berakhir di meja dialog.
*Tulisan Ibn Warraq disini tidak mewakili pendapat admin. Selamat melanjutkan membaca. Terimakasih. – admin.

Yesus dalam Quran
Pengumuman akan Kelahiran dari seorang Perawan
Quran berkata bahwa Yesus secara ajaib lahir dari Perawan Maria. Ini dikisahkan dalam surah 19.16-21 dan surah 3.45-48:
“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Auwloh menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Auwloh), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh." Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun." Auwloh berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Auwloh menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Auwloh berkehendak menetapkan sesuatu, maka Auwloh hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia. Dan Auwloh akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil.”
Meski ini juga masih menjadi prinsip teologi kristen ortodoks, kristen liberal dan banyak kristen lain, bahkan uskup Durham (Inggris) tidak lagi menerima kisah ini secara harafiah, mereka lebih suka menafsirkan ‘perawan/virgin’ sebagai “murni” atau secara moral tanpa cela. Martin Luther (1483-1546) yang menulis diabad 16 mengakui bahwa “Kami orang kristen seperti orang-orang bodoh karena percaya bahwa Maria adalah ibu kandung dari anak ini tapi masih perawan. Karena bukan saja ini bertentangan dengan akal, tapi juga dengan penciptaan Tuhan, yang mengatakan pada Adam dan Hawa untuk ‘bergunalah, beranakcuculah dan bertambah banyak.” [78]

Pengujian para scholar kristen untuk masalah ini adalah contoh yang baik tentang bagaimana muslim tidak bisa sembunyi dari kesimpulan- kesimpulan mereka sendiri, karena kesimpulan-kesimpulan ini punya efek langsung pada kejujuran atau setidaknya pada kebenaran harafiah dari Quran. Charles Guignebert (1867-1939)[79] telah membuat penelaahan rinci akan legenda Kelahiran dari Perawan ini. Guignebert menunjukkan kesamaan legenda ini dengan legenda dari Greco- Roman: Disini kita temukan legenda dari Perseus, lahir dari Danae, seorang perawan yang mengandung karena hujan emas, dan kisah dari Attis yang beribukan Nana, yang mengandung karena memakan buah delima. Disini juga ada kelahiran orang-orang terkenal – Phytagoras, Plato, Augustus – yang cenderung dijelaskan lewat kisah semacam parthenogenesis (reproduksi dari sebuah ovum tanpa pembuahan), atau lewat campur tangan misterius dari Tuhan. Sangat mungkin bahwa dalam sebuah masyarakat dimana terdapat banyak kisah-kisah semacam ini beredar, orang-orang kristen yang sedang begitu semangat menunjukkan keyakinan imannya akan ketuhanan dari Yesus memakai cara mengemukakan tanda-tanda yang manusia anggap sebagai pertanda dari Tuhan. Tidak salah lagi ini tentunya adalah sebuah tiruan dari kisah yang sama tapi dipengaruhi oleh atmosfir kepercayaan tertentu.

Scholar lain, seperti Adolf Harnack (1851-1930), percaya bahwa legenda Kelahiran dari Perawan ini muncul dari tafsiran ayat-ayat Perjanjian Lama, sebut saja Yesaya 7.14, sesuai dengan teks Yunani dari Septuagint, terjemahan dibuat ditahun 132 SM. Pada kejadian ini, Ahaz Raja Yudea, takut akan serangan baru dari persekutuan raja-raja Siria dan Israel, yang telah gagal mengambil Yerusalem. Nabi Yesaya meyakinkan Ahaz dan berkata:
[7:14-16] Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong.

Orang-orang Kristen dulu waktu mencari-cari semua perkataan nubuat mengenai Messiah, menemukan ayat dari Yesaya ini dan mengambilnya keluar dari konteks, membuatnya punya arti bagi messiah. Yang lebih penting lagi, tulisan asli Hebrewnya tidak ada kata “virgin” (Bethulah) tapi kata “perempuan muda” (Haalmah); dalam bahasa Yunani, “Parthenos” dan “neanis”. Guignebert menyatakan,
Teolog ortodoks berusaha membuktikan bahwa “haalmah” bisa berarti ‘virgin’ tapi tidak ada hasil. Nabi Yesaya tidak berpikir untuk meramalkan sebuah mukjjijat, dan orang-orang Yahudi ketika menyerang orang kristen tidak melewatkan kesempatan menunjuk ayat ini yang bagi mereka adalah sebuah kesalahan tafsir.

Guignebert sendiri tidak menerima teori asal muasal Kelahiran Perawan yang dinyatakan oleh Harnack. Malah, Guignebert mengemukakan hipotesanya sendiri [hal.247]:
Ditelaah bahwa dalam tulisan-tulisan Paul, john dan Mark, tak seorangpun dari mereka yg percaya pada Kelahiran dari Perawan, Yesus dikarakterisasikan sebagai anak Tuhan. Penjelasan ini muncul sebelum penetapan kepercayaan mukjijat yang disampaikan oleh Matius dan Lukas, dan bukan berasal dari itu. Segera setelah mereka yakin bahwa, bukan hanya karena Yesus telah diangkat oleh Tuhan dan sebagai manusia yang penuh Roh Kudus serta yang merampungkan rencanaNya, tapi juga bahwa kelahirannya kedunia ini oleh Tuhan telah ditakdirkan dan dimuliakan oleh Roh Kudus, maka mereka mesti berusaha menandai dan mengungkapkan hubungan spesial antara Yesus dan Tuhan. Mereka bilang dia adalah ‘anaknya’, karena hanya istilah itu satu-satunya yang dikenal dalam bahasa manusia dan bisa dimengerti meski tidak sepenuhnya dan secukupnya menerangkan hubungan spesial sebenarnya. Karena gagasan sebagai anak/turunan langsung dari Tuhan tampak seperti kemustahilan bagi orang Yahudi, tapi ungkapan ini bagi orang-orang Palestina pada kenyataannya hanya cara pengucapan belaka, hanya metafora.

Jelas Yesus sendiri tidak pernah menerapkan hal itu mengenai dirinya, dan bahwa di Israel sendiri sampai sekarang tidak ada kepentingan yang berhubungan dengan Messiah. Maksudnya adalah, orang Yahudi tidak memberi Julukan Anak Tuhan pada Messiah yang mereka harapkan. Messiah mestinya bagi mereka bukanlah berarti Anak, tapi Pelayan dari Tuhan (Ebed Yahweh), karena hal itu adalah penunjukkan akan “orang-orangnya Yahweh.” Tapi di Yunani, para kristolog menemukan lingkungan yang sangat berbeda dari Palestina. Disana gagasan prokreasi manusia oleh Tuhan sudah ada dan dikenal dalam budaya mereka dan hubungan yang nyata dari anak-Bapak antara Kristus dan Tuhan Bapa tidak akan mengagetkan orang-orang sana… sebaliknya, istilah Anak Tuhan malah mungkin bisa dipakai utk menarik simpati disana daripada memakai istilah yang keyahudi-yahudian, yg terlalu nasionalistik seperti istilah ‘Messiah’. Dengan demikian, dari semua kemungkinan, dimasyarakat kristen pertama, diantara para Gentiles (orang-orang bukan Yahudi), istilah tersebut mengemuka. Pertamanya, mungkin, hanya terjemahan belaka dari Ebed Yahweh-nya Palestina, karena kata Yunani dari ‘pais’ bisa berarti ‘pelayan’ sekaligus ‘anak- anak/bani’, dan ini transisi yang mudah dari bani menjadi anak. Tapi segera mendapatkan pewarnaan dari gagasan asli kristologi, gagasan yang menemukan kebutuhan dari lingkungannya ini diambil dan diungkap dalam Surat-surat Paulus. Gagasan ini menemukan pembenaran dari pengikut Paulus dan Johannine dalam doktrin keberadaan ilahi serta inkarnasi Tuhan. Legenda Kelahiran dari Perawan adalah pembenaran lainnya lagi, muncul dari lingkungan intelektual yang sama sekali berbeda, tapi mirip dengan yang disebutkan diatas, dan menemukan konfirmasi dari ayat-ayat biblenya, ketika kebutuhan muncul utk membela kontroversi yang dikemukakan oleh orang sekitar, dalam Yesaya 7:14. Matius dan Lukas menampilkan dua perwujudan yang kongkrit, berbeda dalam bentuk tapi sama dalam semangat dan arti dari kepercayaan kristen: “Dia adalah Anak Tuhan. Dia lahir dari Roh Kudus.”

Kelahiran Yesus
Kisah kelahiran Yesus dalam surah 19.22-34 menunjukkan kemiripan yang luarbiasa bukan hanya pada kisah dari Leto, seperti yang ditunjukkan Sale, tapi juga pada kisah yang belum pernah saya lihat dikutip dimanapun, yaitu kelahiran yang bersejarah dari Buddha. Mari kita lihat versi Quran lebih dulu, surah 19.22-34:
“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini". Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina", maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?" Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Auwloh, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.”

Leto – atau dalam bahasa Latin, Latona – adalah Titaness, anak perempuan dari Coeus dan Phoebe. Menurut himne Homer kepada Delian Apollo, Leto melahirkan Apollo ketika mencengkeram pohon palem Keramat. Apollo juga dikatakan telah bisa berkata-kata ketika masih dalam kandungan. Callimachus (ca. 305-240SM) dalam karyanya “Hymn in Delum” mengulangi kisah yang sama.
Menurut legenda kelahiran sang Buddha, Ratu Maya Devi bermimpi seekor gajah putih menghampiri sisi kanannya. Banyak Brahmin meyakinkan sang raja dan ratu bahwa anak mereka suatu hari akan menjadi raja yang besar atau seorang Buddha. Ajaibnya kandungan ini berumur hingga 10 bulan. Ketika menuju orang tuanya, Ratu Maya Devi melahirkan, ia memasuki taman Lumbini dimana ketika itu dia berpegangan pada cabang pohon Shala, sang anak mucnul dari sisi kanannya. Segera setelah lahir, calon Buddha ini berdiri dan berjalan tujuh langkah kearah utara, lalu kearah pusat mata angin bumi untuk mengumumkan kepemilikannya akan jagat raya, dan mengumumkan bahwa ini adalah kelahirannya yang terakhir. Kita sudah mengisahkan kemungkinan sumber langsung dari kisah kelahiran Yesus di Quran, yakni, sebuah buku apocrypha (=yang sebenarnya diragukan kebenarannya) yang berjudul “The History of the Nativity of Mary and the Saviour’s Infancy.”

Apakah Yesus benar-benar ada?
Mungkin orang muslim akan kaget jika tahu bahwa ada dan masih ada scholar yang meragukan keaslian sejarah tentang Yesus, yang keberadaannya oleh para Muslim benar-benar dipercayai. Bruno Bauer (1809-1882), J.M. Robertson (1856-1933), Arthur Drews (1865-1935), van den Bergh van Eysinga, Albert Kalthoff, dan yang lebih baru Guy Fau (Le Fable de Jesus Christ, Paris, 1967), Prosper Alfaric (Origines Sociales du Christianisme, Paris 1959), W.B. Smith (The Birth of the Gospel, New York, 1957), dan Professor G.A. Wells dari Birbeck College, University of London telah mengembangkan semua teori “Mitos Kristus” ini[80]. Professor Joseph Hoffman merangkum situasi demikian sebagai berikut:
Pendapat para scholar masih tetap (meski tidak ngotot) pada dalil figur sejarah dimana kisah kehidupannya banyak diliputi oleh aktivitas pembuat mitos sebuah pengkultusan. (Scholar-scholar lainnya) berpegangan pada pendapat bahwa dalil sebuah figur sejarah tidaklah selalu perlu digunakan untuk menjelaskan keistimewaan “biografikal” dari Injil. Penilaian yang jujur atas bukti yang ada kelihatannya lebih condong pada pendapat yang terakhir, tapi kita juga tidak dapat dengan mudah menghilangkan kemungkinan bahwa benar ada sebuah figur sejarah dibelakang legenda Yesus dalam Perjanjian Baru[81].
Saya lebih suka mendiskusikan bukti-bukti yang ‘tidak bisa begitu saja disepelekan’ akan pendapat bahwa Yesus tidak benar-benar ada karena beberapa alasan:

1. Pertama, umumnya debat-debat, diskusi-diskusi dan argumen- argumen mengenai mitos Yesus menjadi perhatian para muslim selain para kristen juga; atau setidaknya jika para muslim tidak menaruh perhatian, maka harusnya mereka menaruh perhatian. Saya mengira tidak ada buku tentang Islam yang pernah mendiskusikan pandangan- pandangan dari Bauer atau pandangan-pandangan sekolah Radical Dutch mengenai sejarah Yesus. Harusnya menjadi perhatian besar semua orang-orang terpelajar yang tertarik akan asal muasal dan warisan spiritual serta intelektual kita. Sejarah awal kekristenan adalah salah satu bagian penting dari sejarah peradaban. Bagi para muslim, Yesus adalah salah seorang nabi Tuhan dan seorang figur sejarah yang melakukan banyak mukjijat, dan yang akan datang lagi dihari Terakhir serta membunuh Dajjal (Anti Kristus). Jika bisa ditunjukkan bahwa Yesus tidak pernah ada, maka akan ada konsekwensi yang pasti bagi semua muslim, karena ini akan otomatis menganggap kejujuran wahyu Quran mereka dipertanyakan.

Tapi, ini bukan hanya sekedar mempertanyakan sejarah Yesus, tapi apa yang kita lakukan dan dapat kita ketahui tentang dia. Pertanyaan ini harusnya sangat penting bagi semua, khususnya muslim. Muslim percaya Yesus itu pernah ada, dengan demikian semua riset dan semua yang didedikasikan oleh intelektual dan sejarawan terkenal tentang Yesus ini harusnya jadi perhatian penuh mereka. Muslim, dan juga kristen, harusnya menaruh perhatian akan kebenaran dari masalah ini. Bahkan teolog Kristen yang menerima keberadaan Yesus juga menghadapi sejumlah masalah dari sebagian kehidupan Yesus yang belum terpecahkan. Kebanyakan kisah-kisah dalam Perjanjian Baru mengenai kehidupannya sekarang telah diterima sebagai legenda tanpa dasar sejarah, bahkan oleh teolog kristen konservatif sekalipun. Scholar Perjanjian Baru Ernst Kasemann menyimpulkan: “Dalam beberapa subjek jika ada pertentangan pendapat yang pahit diantara para scholar selama dua abad ini maka itu adalah mengenai kisah- kisah mukjijat dalam Injil.. Kita bisa bilang saat ini pertentangan itu telah selesai, mungkin demikian diarena kehidupan gereja, tapi dalam bidang teologi sains tidaklah demikian. Pertentangan ini berakhir dengan kekalahan konsep mukjijat yang menjadi tradisi pada gereja- gereja.”[82]

Lalu dimana posisi Quran? Tidak satupun kisah-kisah Yesus dalam Quran diterima sebagai kebenaran; kebanyakan kisah-kisah itu berisi takhyul dan mukjijat yang keterlaluan yang hanya dipercaya oleh orang-orang yang percaya Quran saja. Layak disebutkan bahwa jika Quran itu sungguh-sungguh benar dan merupakan Kalimat Langsung dari Tuhan, lalu kenapa tidak ada teolog Kristen yang memakainya sebagai bukti dari Keberadaan Yesus? Tidak ada sejarawan yang pernah sekali saja melirik Quran sebagai penerang sejarah, dengan alasan yang sama seperti juga tidak ada sejarawan yang akan melirik sebuah dokumen, dimana dokumen tersebut berupa karya manusia yang ditulis 600 tahun setelah kejadian, padahal sudah ada dokumen- dokumen yang ditulis hanya 50-60 tahun setelah kejadian itu. Kita juga tahu sumber-sumber dari kisah-kisah dalam Quran, yaitu berasal dari injil-injil Gnostik Penghujat seperti Injil Thomas, yang dianggap oleh para sejarawan sebagai bertentangan dengan sejarah.

Bahkan meski jika kita tidak menerima tesis bahwa Yesus pernah ada, kesimpulan dari para sejarawan Perjanjian Baru menghasilkan sesuatu yang memberi pertumbuhan positif dalam agama dan mitologi religius; lebih jauh lagi, mereka menunjuk pada kemiripan yang ada pada teori- teori baru yang diajukan oleh para scholar Islam dalam kebangkitan Islam dan legenda Muhammad dalam hadis-hadisnya.

2. Banyak kecaman dari kekristenan yang ditemukan dalam karya- karya yang didiskusikan, pengubahan-pengubahan, yang ada dalam seluruh agama-agama, termasuk Islam.

3. Diskusi mengenai kesejarahan Yesus telah dilakukan di Eropa dan Amerika selama lebih dari 150 tahun, tanpa ada satupun scholar yang menyangkal keberadaaan sejarah Yesus terancam dibunuh. Benar, Bauer dikeluarkan dari posisi teologinya di Universitas di Bonn tahun 1842, tapi dia terus mempublikasikan karyanya sampai meninggal. Professor Wells masih hidup (1994) dan sehat serta mengajar di Universit of London sampai 1971 dan dia masih tetap menyangkal bahwa Yesus pernah ada. Ini semua bisa jadi pelajaran bagi dunia Islam.

4. Dogmatisme buta telah mengurung muslim dari tantangan dan kemeriahan riset, debat dan diskusi satu setengah abad belakangan ini. Meminjam perkataan Joseph Hoffman: “Lewat diskusi-diskusi demikian kita menghindar dari dogmatisme masa lalu dan belajar menghormat ketidak pastian sebagai pertanda pencerahan.”[83]

5. Juga ada metodologi moral yang lebih mendalam untuk dipelajari dari diskusi berikut ini. Kebaikan dari pertanyaan-pertanyaan sejarah disepelekan meski jika kita membawanya kedalam iman Islam atau Kristen. Riset sejarah hanya berujung pada pendekatan kebenaran objektif, setelah sebuah proses dugaan dan pembuktian kesalahan, pemikiran kritis, argumen rasional, penyajian bukti dan lain-lain. Tapi, jika kita membawa subjektifitas iman religius dengan kepastian dogmatismenya kedalam “proses perkiraan sejarah, hal ini jelas menyepelekan apa yang R.G. Collingwood perdebatkan berupa atribut fundamental dari sejarawan kritis, skeptis mengenai kesaksian akan masa lalu.”[84]

ARGUMEN-ARGUMEN
Strauss
Dalam karyanya Life of Jesus Critically Examined (1835), David Strauss menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengambil Injil sebagai biografi sejarah; bukan itu fungsi utamanya. Kristen awal ingin memenangkan orang agar masuk Kristen ‘lewat propagasi mitos religius yang sintetis.”[85]
Tesis utama Strauss adalah bahwa kisah-kisah dalam perjanjian baru adalah hasil dari harapan-harapan messianik orang-orang Yahudi.

Para penginjil membuat seakan Yesus melakukan dan mengatakan apa yang mereka inginkan – dari pengetahuan yang mereka dapat di Perjanjian Lama – bahwa Messiah akan melakukan anu dan mengatakan anu; dan banyak ayat-ayat yang nyatanya tidak ada referensinya bagi Messiah tapi diambil juga seakan sebagai ramalan tentang Messiah. Dengan demikian, “Yesaya 35:5 Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan” mengungkapkan kegembiraan orang-orang yahudi buangan di Babylon ketika mengetahui kabar akan dibebaskannya mereka, tapi diartikan oleh para penginjil sebagai ramalan akan Messiah yang akan menyembuhkan orang buta, yang lalu mereka buat seakan memang Yesus melakukan itu.[86]

Bauer
Bauer lebih berani lagi dan menyatakan bahwa orang-orang Kristen awal menemukan Yesus Kristus dari penggambaran nabi-nabi yang ada dalam Perjanjian Lama. Yesus tidak pernah ada dan kekristenan yang bangkit di pertengahan abad pertama berasal dari gabungan gagasan Judaic dan Greco-Roman. Bauer berpendapat, contohnya, bahwa orang kristen memakai istilah Yunani “Logos” yang berasal dari Philo, Stoicisme, dan Heraclitus. Bagi Philo, Logos adalah kekuatan kreatif yang memerintah dunia dan sebagai perantara manusia dengan Tuhan. Tentu saja, dalam Injil Yohanes, Logos disamakan dengan Tuhan, yang lalu berinkarnasi jadi Yesus Kristus. Sedang untuk pengaruh-pengaruh klasik lainnya dalam kekeristenan mulai diawal abad 4 penulis-penulis anti kristen menunjuk pada kemiripan kehidupan Yesus dengan kehidupan dari Apollonius dari Tyana, seorang pengajar Neo-Pythagorean yang lahir sebelum era Kristen. Dia melakukan kehidupan berkelana dan bertapa, mengaku punya kekuatan mukjijat, dan selalu berada dalam bahaya sepanjang kehidupannya selama kekuasaan Kaisar Roma Nero dan Domitian. Para pengikutnya menyebut dia sebagai Anak Tuhan; mereka juga bilang dia dibangkitkan didepan mata mereka sendiri dan naik ke surga.

Misteri kultus Mithra ini pertamanya ada didunia Romawi pada pertengahan abad pertama SM. Kultus ini mengembangkan ritual dan upacara serta tahapan-tahapan rahasia untuk inisiasi para pengabdi dewa-dewi itu untuk lulus. Misteri Mithraic juga menunjukkan kemiripan dengan Baptisan dan Ekaristi kekristenan.

Kristen awal menyebutkan perkataan-perkataan Yesus yang pada kenyataannya hanyalah gambaran dari pengalaman, keyakinan dan harapan-harapan dari masyarakat Kristen itu sendiri, bukan benar- benar perkataan dari Yesus. Contoh, Markus 1:14-15: Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Tuhan, kata- Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Tuhan sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" Yesus tidak pernah mengucapkan ini – perkataan-perkataan itu hanyalah :
Ungkapan dan pendapat komunitas Kristen awal yang menyatakan bahwa waktunya sudah tiba utk kemunculan dan penyebaran kekristenan. Tapi seiring waktu banyak usaha-usaha dilakukan untuk menemukan indikasi-indikasi sejarahnya – hari-hari di jaman itu yang tercatat dalam Perjanjian Baru hingga jaman Kekaisaran – Bahwa persiapan yang progresif utk jaman keselamatan sudah jelas. Masing- masing generasi baru menganggap jamannya adlah jaman Penggenapan Perjanjian. Kristen awal juga percaya, lewat pengetahuan mereka dari perjanjian Lama, bahwa sebelum Penyelamat datang Eliya akan kembali ke bumi. Setelah mereka menganggap Yohanes pembaptis sebagai kembalinya Eliya, mereka secara otomatis percaya bahwa Penyelamat yang berikutnya akan segera datang; dan pada akhirnya sebuah cerita dibuat dimana “sang penyelamat” ini dibuat seakan menyebut Yohanes Pembaptis sebagai Eliya. (Markus 9.13)[87]

Wrede
Mengakui karyanya berhutang pada karya Bauer, Wilhelm Wrede yg menulis diawal abad 20 menunjukkan bahwa injil Markus “disaring dengan kepercayaan teologis dari komunitas Kristen awal. Bukannya sebuah biografi, injil ini adalah pembacaan kembali ke dalam kehidupan Yesus, iman dan harapan dari gereja-gereja awal yang menganggapYesus sebagai Mesiah dan Anak Tuhan.”[88]

Kalthoff
Albert Kalthoff, juga menulis diawal abad ini, berpendapat bahwa kita bisa menjelaskan asal muasal kekristenan tanpa harus menempatkan penemu sejarah. Kekristenan bangkit dengan ledakan spontan ketika “materi religius dan sosial yang mudah terbakar, yang dikumpulkan oleh kekaisaran Romawi, bergesekan dengan harapan-harapan akan kedatangan Messiah milik orang Yahudi.”[89] “Dari sudut pandang sosio-religius, figur Kristus adalah ungkapan religius yang dihaluskan utk kekuatan-kekuatan sosial dan etikal yang sedang bekerja pada perioda tertentu.”

Bukti-bukti Non Kristen
Meski ada fakta sekitar 60 sejarawan aktif diabad pertama kekaisaran Romawi, tapi sedikit sekali koroborasi (bukti-bukti yang menguatkan) akan kisah kristen tentang Yesus yang berasal dari luar tradisi kristen. Yang ada malah sangat tidak meyakinkan dan tidak menolong sama sekali, seperti Josephus, Tacitus, Suetonius, Pliny.[90]

Injil-injil
Kita mengenal bahwa injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohannes) tidak ditulis oleh murid-murid Yesus. Injil itu bukanlah kesaksian langsung, dan ditulis oleh penulis yang tidak dikenal sekitar 40 sampai 80 tahun setelah penyaliban Kristus. Matius, Markus dan Lukas biasanya disebut Injil Sinoptik karena kesamaan subjek dan kemiripan frase pada ketiganya. Markus dianggap yang lebih awal dari ketiga injil itu dan mungkin juga dipakai sebagai sumber oleh dua injil lain. Sangat tidak mungkin bahwa apa yang katanya diucapkan oleh Yesus dalam injil benar-benar pernah diucapkan oleh figur sejarah Yesus yang sebenarnya. Seperti disimpulkan oleh Hoffmann:
Sangat Sulit bahkan untuk membicarakan sekalipun seorang Yesus yang asli menurut “sejarah”, jika melihat proporsi dan kesegeraan proses pembuatan mitos yang mengkarakterisasi hari-hari awal pengultusan Yesus. Apa benar ada pendiri sejarahnya atau tidak (dan ini tidak begitu diperlukan karena kesaksian misteri dari agama-agama, demi suksesnya sebuah pengultusan dan kisah-kisah yang berkaitan dengan pendirinya itu), para scholar sekarang menganggap pasti bahwa Injil adalah kompilasi atau kumpulan ‘tradisi2/hadis-hadis’ yang ditulis oleh orang-orang Kristen awal bukannya oleh penulis-penulis sejarah.[91]

Pengadilan Sanhedrin, pengadilan dihadapan Pilatus, dan faktor utama dalam kisah Passion of Christ, punya masalah serius, dan kita tidak dapat menganggapnya sebagai kejadian sejarah; tapi semua itu dikarang oleh orang kristen awal. Seperti Nineham katakan, kebanyakan yang kita temukan dalam injil Markus mungkin adalah kesimpulan dari nubuat-nubuat Perjanjian Lama mengenai apa yang ‘harusnya’ terjadi ketika Sang Messias datang.”[92]

-----------
[78] Dikutip oleh Feuerbach, hal.304
[79] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.233-252
[80] Artikel Wells, G.A. “Jesus, Historicity of.” In KU, vol.1.
[81] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.179
[82] Dikutip dalam Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986, Hal.135-136
[83] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.21-22
[84] Ibid., hal.199
[85] Ibid., hal.13
[86] Wells, G.A. Artikel “Strauss.” In KU, vol. 2. Hal.657 [87] Wells, G.A. Artikel “Bauer.” In KU, vol.1. hal.44-46
[88] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.15 [89] Ibid., hal.184
[90] Stein, Gordon. An Anthology of Atheism and Rationalism. Amherst, N.Y., 1980. Hal.178
[91] Hoffmann, R. Joseph. The Origins of Christianity. Amherst, N.Y., 1985. Hal.177 [92] Ibid., hal.184