REPUBLIKA.CO.ID, Dawood, begitulah pria asal Inggris tersebut mengganti namanya setelah memeluk Islam. Ia adalah mualaf yang gugur di medan jihad pada usianya yang sangat muda, 29 tahun. Namanya begitu populer setelah memutuskan diri untuk membela kaum Muslim dalam pertempuran melawan Pasukan Kroasia di Bosnia pada 1993.
Ia dibesarkan dalam keluarga kristen. Sejak kecil, ia didik dengan doktrin Kristen hingga menginjak dewasa. Setelah lulus kuliah, ia bekerja pada salah satu perusahaan Komputer di Inggris.
Hingga suatu pagi, Dawood mengagetkan semua orang di kantornya. Tiba-tiba saja, pagi itu ia muncul dengan cara berpakaian berbeda dari biasanya. Ia berpakaian layaknya Muslim di Timur Tengah.
Ternyata, Dawood telah menjadi seorang Muslim. Pakaian yang bernuansa Muslim itu pula yang membuatnya dipecat dari pekerjaannya.
Dawood muda kebingungan. Tidak hanya keluarga, tapi rekan-rekan ditempatnya bekerja juga menolaknya. Karena dia sudah menjadi seorang Muslim. Tak ada yang mau menerimanya ketika itu, selain saudara-saudaranya dari komunitas Muslim.
Ia memutuskan untuk berangkat ke Bosnia bersama dua orang rekan Muslimnya yang lain. Mereka bergabung bersama Muslim Bosnia dengan tujuan bisa hidup secara Islam dan ingin belajar ilmu-ilmu keislaman.
Empat bulan telah berlalu. Beberapa rekannya dari Inggris mengajaknya untuk pulang ke Inggris. Ia menolaknya. Akhirnya ia tetap menetap di Bosnia.
Ia seorang yang sangat cepat belajar ilmu-ilmu Islam. Dawood juga dengan cepat menguasai bahasa Arab. Teman-temannya bercerita bahwa ia adalah seorang Muslim yang taat dan teguh memelihara sunah. Ia termasuk sosok yang disayangi oleh teman-teman dan saudara-saudaranya sesama Muslim di Bosnia.
Ia tidak melewatkan untuk shalat malam, walau cuaca teramat sangat dingin. Bahkan ia sering berdoa sepanjang malam. Ia hanya tidur sebentar dengan posisi tidur meringkuk ke kanan.
Setelah beberapa waktu kemudian, ia bergabung dengan mujahidin Bosnia dibawah komando Abul Harith. Komandannya juga sangat menyayangi Dawood karena kasalehannya. (bersambung)
Kamis, 10 Mei 2012
Dawood Al-Brittani: Kisah Gugurnya Mualaf Inggris dalam Perang Bosnia (Bag 1)
Yaya Toure: Saya Muslim, tak Minum Alkohol
Toure adalah man of the match pertandingan itu. Ia memborong dua gol kemenangan timnya dan membuat City semakin dekat dengan gelar juara Liga Inggris. Sesuai tradisi klub, bintang pertandingan mendapat kehormatan membuka botol besar champagne.
Bukan kali pertama Toure menolak pesta kemenangan dengan menenggak minuman keras. Ia kerap menghindari tradisi itu, seraya berusaha tidak menyinggung rekan-rekannya.
Juru bicara Manchester City mengatakan pemberian champagne adalah penghargaan yang didambakan setiap main. Namun, katanya, klub bisa memahami jika ada individu yang menolak dengan alasan agama.
Yang bisa dilakukan klub, masih menurut juru bicara Manchester City, adalah menjamin setiap individu di ruang ganti klub tidak merasa tersinggung jika ada rekan mereka yang menolak pesta dengan alasan agama. Liga Inggris adalah kompetisi yang menampung pemain dari 68 negara. Yaya Toure berasal dari Pantai Gading dan beragama Islam.
Imam
Saat masih di Barcelona, Yaya Toure adalah imam bagi dua rekannya; Eric Abidal dan Seydou Keita. Ketiganya selalu menyampatkan diri shalat berjamaah, dan Toure dianggap memiliki pengetahuan keagamaan yang lebih dibanding Abidal dan Keita.
Ketika Yaya Toure memutuskan pindah ke Manchester City, Abidal dan Keyta menjadi orang yang paling kehilangan. Dalam salah satu kesempatan wawancara dengan salah satu radio, Abidal sempat mengatakan.
"Kami kehilangan imam."
Minggu, 06 Mei 2012
Islamnya sendiri yang bikin saya Murtad
Selasa, 01 Mei 2012
Irshad Manji: Sepatutnya Diobati!
Selasa, 01 Mei 2012
Oleh: Dr. Adian Husaini
IRSHAD Manji, seorang tokoh penggerak dan praktisi lesbianisme datang lagi ke Indonesia, di bulan Mei 2012 ini. Berbagai rencana penyambutan kedatangannya sudah disiapkan di sejumlah kota. Kabarnya, ia akan meluncurkan buku terbarunya, Allah, Liberty & Love, dalam edisi Indonesia.
Irshad Manji memang lesbian "nekad". Logikanya, lesbian tidak bangga dengan kelainan seksual yang dideritanya. Tapi, aktivis liberal Nong Darol Mahmada pernah menulis artikel di Jurnal Perempuan (edisi khusus Lesbian, 2008) berjudul: Irshad Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad. Katanya: "Manji sangat layak menjadi inspirasi kalangan Islam khususnya perempuan di Indonesia."
Jika disimak dari kualitas dan prestasi akademik serta kualitas bukunya, Irshad Manji tampak dengan sengaja dibesar-besarkan namanya. Majalah Ms. menobatkan dia sebagai "Feminis Abad ke-21". Maclean's memberinya penghargaan Honor Roll di tahun 2004 sebagai "Orang Kanada yang Sangat Berpengaruh".
Dalam bukunya (edisi Indonesia), Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini, dicantumkan pujian pada sampul depan:"Satu dari Tiga Muslimah Dunia yang Menciptakan Perubahan Positif dalam Islam." Dalam buku ini, bisa ditemukan nada-nada penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW dan keraguan terhadap al-Quran.
"Sebagai seorang pedagang buta huruf, Muhammad bergantung pada para pencatat untuk mencatat kata-kata yang didengarnya dari Allah. Kadang-kadang Nabi sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa untuk menguraikan apa yang ia dengar. Itulah bagaimana "ayat-ayat setan" – ayat-ayat yang memuja berhala – dilaporkan pernah diterima oleh Muhammad dan dicatat sebagai ayat otentik untuk al-Quran. Nabi kemudian mencoret ayat-ayat tersebut, menyalahkan tipu daya setan sebagai penyebab kesalahan catat tersebut. Namun, kenyataan bahwa para filosof muslim selama berabad-abad telah mengisahkan cerita ini sungguh telah memperlihatkan keraguan yang sudah lama ada terhadap kesempurnaan al-Quran." (hal. 96-97).
Cerita yang diungkap oleh Manji itu memang favorit kaum orientalis untuk menyerang al-Quran dan Nabi Muhammad saw. Cerita itu populer dikenal sebagai kisah gharanik. Riwayat cerita ini sangat lemah dan palsu. Haekal, dalam buku biografi Nabi Muhammad saw, menyebut cerita tersebut tidak punya dasar, dan merupakan bikinan satu kelompok yang melakukan tipu muslihat terhadap Islam. Karen Armstrong, dalam bukunya, Muhammad: A Biography of the Prophet juga membahas masalah ini dalam satu bab khusus.
Kisah "ayat-ayat setan" itu kemudian diangkat juga oleh Salman Rushdie menjadi judul novelnya: The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Novel yang terbit pertama tahun 1988 ini memang sangat biadab dalam menghina Nabi Muhammad saw, para sahabat, dan istri-istri beliau. Menurut Armstrong, cerita dalam novel Salman Rushdi ini mengulang semua mitos Barat tentang Nabi Muhammad saw sebagai sosok penipu, ambisius, yang menggunakan wahyu-wahyunya untuk mendapatkan sebanyak-banyak perempuan yang dia inginkan. Para sahabat nabi juga digambarkan dalam novel ini sebagai manusia-manusia tidak berguna dan tidak manusiawi. Tentu saja, judul Novel itu sendiri sudah bertendensi melecehkan al-Quran.
Umat Islam yang sangat menghormati dan mencintai Nabi Muhammad saw, tentu saja sangat tersinggung dengan penerbitan Novel Salman Rushdie yang sangat tidak beradab ini. Rushdie diantaranya menggambarkan perempuan-perempuan dengan nama-nama istri-istri Nabi Muhammad saw sebagai penghuni rumah pelacuran bernama "Hijab". Rushdie juga menyebut Nabi Muhammad – yang dinamainya "Mahound" -- sebagai "the most pragmatic of prophets."
Penulis novel yang menghina Nabi Muhammad saw seperti Salman Rushdie inilah yang dijadikan rujukan oleh Irshad Manji dalam memunculkan isu tentang "ayat-ayat setan".
Buku lain yang ditulis Irshad Manji berjudul The Trouble with Islam, mendapatkan sorotan tajam dari berbagai pihak. Editorial Palestine Solidarity Review menulis judul kritiknya: "The Trouble with Irshad Manji". Di antara kritiknya adalah kerancuan pemikiran Irshad Manji yang berlebihan dalam memuji kebebasan Barat, di mana ia menulis, bahwa hanya di Barat, Muslim mendapatkan kebebasan untuk berpikir, berekspresi, dan sebagainya (enjoy precious freedoms to think, express, challenge and be challenged without fear of state reprisal).
Palestine Solidarity Review menulis kritiknya, bahwa Irshad Manji tampaknya buta terhadap berbagai jenis intimidasi dan diskriminasi yang diderita Muslim di Negara-negara Barat: "Is she blind to the fact that thousands of Muslims in the U.S. are being intimidated into silence by deportations, detentions, SEVIS registration, racist attacks on the street, and state repression? That Muslim youth are fighting racists and the cops in the street in England and France?"
Di Aceh dicambuk!
Dalam sejarah manusia, perilaku homo dan lesbi lazimnya dianggap menyimpang. Tapi, Indonesia memang unik dan ajaib. Jumlah penduduk Muslimnya sekitar 200 juta orang. Jutaan orang sudah mengantri untuk berhaji! Uniknya, manusia-manusia yang jelas-jelas berperilaku bejat, pemuja setan, pegiat homoseksual dan lesbian, bisa dengan leluasa mengumbar angkara di negeri Muslim terbesar di dunia ini.
Dalam bukunya, yang berjudul Perzinaan, dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia Ditinjau dari Hukum Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), pakar hokum Universitas Indonesia, Neng Djubaedah, mengutip hadits riwayat Abu Dawud yang menyatakan, bahwa pelaku lesbian (musahaqah) harus dikenai hukum rajam. Imam Syafii berpendapat, pelaku lesbian, baik muhshan atau bukan, dijatuhi hukuman rajam, dilempari batu sampai mati. Sementara itu, dalam Qanun Hukum Jinayat Aceh, pasal 33 ayat (1) ada ketentuan: "Setiap orang yang dengan sengaja melakukan liwath atau musahaqah, diancam dengan 'uqubat ta'zir paling banyak 100 (seratus) kali cambuk dan denda paling banyak 1.000 (seribu) gram emas murni atau penjara paling lama 100 (seratus) bulan)." Sedangkan orang-orang yang mempropagandakan homoseksual dan lesbianisme, menurut Qanun Jinayat Aceh tersebut, diancam dengan hukuman cambuk paling banyak 80 kali dan denda paling banyak 1.000 gram emas murni atau penjara paling lama 80 bulan. (ayat 3).
Jadi, sesuai hukum Islam, harusnya pelaku homoseksual atau lesbian dirajam, atau -- jika mengikuti Qanun Jinayat di Aceh -- dia harus dicambuk paling banyak 100 kali. Malangnya, dalam KUHP pasal 292 ditetapkan: "Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesame kelamin yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun."
Bisa diduga, Irshad Manji tidak akan pergi ke Aceh untuk mempromosikan kelesbianannya atas nama kebebasan. Sebab, di Aceh sudah ditetapkan hukum cambuk bagi promotor atau praktisi homo dan lesbi. Kita memang sulit memahami, mengapa manusia seperti Irshad Manji dipuja-puji dan dipromosikan di Indonesia. Padahal, katanya, Indonesia berdasarkan pada Pancasila, yang memiliki sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Beradabkah tindakan yang memuja seorang lesbian?
Apa pun status hukumnya, membanggakan perilaku homoseks dan lesbian adalah sebuah kemunkaran yang nyata. Nabi SAW sudah bersabda: "Barangsiaa di antara kalian yang melihat suatu kemunkaran maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman." (HR Muslim).
Feminis Lesbian
Program legalisasi – bidang hukum dan opini – praktik homo dan lesbi biasanya berjalan seiring dengan kampanye kaum feminis atau aktivis Kesetaraan Gender. Menurut feminis lesbian, baik kaum feminis maupun lesbian mempunyai tujuan yang sama, yaitu mendobrak dominasi laki-laki terhadap perempuan.
Bunch (1972) menyatakan: "Para lesbian harus menjadi feminis dan berjuang melawan penindasan terhadap perempuan, sebagaimana para feminis harus menjadi lesbian jika mereka ingin mengakhiri supremasi laki-laki (Lesbians must become feminists and fight against woman oppression, just as feminist must become lesbians if they hope to end male supremacy.)
Sejak era 1970-an, dorongan agar aktivis feminis sekaligus menjadi lesbian dikabarkan semaki menguat. Menurut mereka, adalah hal yang aneh, jika ada feminis yang bekerjasama secara politik dengan sesame perempuan, tetapi kemudian ia pulang ke rumah dan tidur dengan laki-laki. Ruth Mahaney mengatakan: "I don't understand you women. You do your political work with women, but you go home to men… Yeah, why do we?" (Tentang feminis lesbian, lihat: Triana Ahdiati, Gerakan Feminis Lesbian, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2007).
Kedatangan kembali Irshad Manji ke Indonesia tidak bisa dipandang sebagai hal sepele. Sebab, selama ini, kaum lesbi dan pendukungnya telah melakukan berbagai gerakan menuju legalisasi praktik homo dan lesbi di Indonesia. Jurnal Perempuan, edisi Maret 2008, melaporkan, bahwa pada tanggal 6-9 November 2006, 29 pakar HAM terkemuka dari 25 negara berkumpul di Yogyakarta untuk memperjuangkan hak-hak kaum lesbian ini.
Di situ, mereka menghasilkan sebuah dokumen yang disebut: "Prinsip-prinsip Yogyakarta terhadap Pemberlakuan Hukum Internasional atas Hak-hak Asasi Manusia yang Berkaitan dengan Orientasi Seksual, Identitas Gender dan hukum internasional sebagai landasan pijak yang lebih tinggi dalam perjuangan untuk Hak Asasi Manusia yang paling dasar (baca: kebutuhan seksual) serta kesetaraan gender, yang disebut dengan Yogyakarta Principles."
Jurnal Perempuan itu juga menulis tentang dokumen tersebut: "Prinsip-prinsip Yogyakarta ini merupakan tonggak sejarah (milestone) perlindungan hak-hak bagi lesbian, gay, biseksual dan transgender. Menggunakan standar-standar hukum internasional yang mengikat dimana negara-negara harus tunduk padanya." Salah satu tuntutan para pegiat KKG dan lesbianisme adalah agar perkawinan sesama jenis juga mendapatkan legalitas di Indonesia. "Pasal 23 Kovenan Hak Sipil dan Politik juga secara terbuka mencantumkan tentang hak membentuk keluarga dan melakukan perkawinan, tanpa membedakan bahwa pernikahan tersebut hanya berlaku atas kelompok heteroseksual," tulis Jurnal yang mencantumkan semboyan "untuk pencerahan dan kesetaraan".
Gadis Arivia, seorang pegiat KKG, dalam artikelnya yang berjudul "Etika Lesbian" di Jurnal Perempuan ini menulis: "Etika lesbian merupakan konsep perjalanan kebebasan yang datang dari pengalaman merasakan penindasan. Etika lesbian menghadirkan posibilitas-posibilitas baru. Etika ini hendak melakukan perubahan moral atau lebih tepat revolusi moral." Lebih jauh, Gadis Arivia menulis tentang keindahan hubungan pasangan sesama perempuan:
"Cinta antar perempuan tidak mengikuti kaidah atau norma laki-laki. Percintaan antar perempuan membebaskan karena tidak ada kategori "laki-laki" dan kategori "perempuan", atau adanya pembagian peran dalam bercinta. Dengan demikian, tidak ada konsep "other" (lian) karena penyatuan tubuh perempuan dengan perempuan merupakan penyatuan yang kedua-keduanya menjadi subyek dan berperan menuruti kehendak masing-masing. Dengan melihat kehidupan lesbian, kita menemukan perempuan sebagai subyek dan memiliki komunitas yang tidak ditekan oleh kebiasaan-kebiasaan heteroseksual yang memaksa perempuan berlaku tertentu dan laki-laki berlaku tertentu pula."
Dengan memandang perkawinan sejenis sebagai alternatif membentuk rumah tangga yang bahagia, diantara aktivis feminisme dan Kesetaraan Gender merasa geram dengan tradisi masyarakat dan negara yang hanya mengakui perkawinan heteroseksual. Prof. Siti Musdah Mulia, dosen UIN Jakarta, dalam jurnal yang sama, menuntut agar agama yang hidup di masyarakat juga memberikan pilihan bentuk perkawinan sejenis: "Dalam hal orientasi seksual misalnya, hanya ada satu pilihan, heteroseksual. Homoseksual, lesbian, biseksual dan orientasi seksual lainnya dinilai menyimpang dan distigma sebagai dosa. Perkawinan pun hanya dibangun untuk pasangan lawan jenis, tidak ada koridor bagi pasangan sejenis. Perkawinan lawan jenis meski penuh diwarnai kekerasan, eksploitasi, dan kemunafikan lebih dihargai ketimbang perkawinan sejenis walaupun penuh dilimpahi cinta, kasih sayang dan kebahagiaan."
*****
Homoseksual dan lesbian adalah kelainan seksual dan penyakit yang harus diobati. Pakar kedokteran jiwa, Prof. Dr. Dr. Dadang Hawari, dalam bukunya, Pendekatan Psikoreligi pada Homoseksual, (Jakarta: Balai Penerbit FK-UI, 2009), mengungkapkan keprihatinannya dengan semakin merebaknya fenomena homoseksual dan lesbian ini. Menurut Dadang Hawari, penyakit ini bisa diobati: "Kasus homoseksual tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui proses perkembangan psikoseksual seseorang, terutama faktor pendidikan keluarga di rumah dan pergaulan sosial. Homoseksual dapat dicegah dan diubah orientasi seksualnya, sehingga seorang yang semula homoseksual dapat hidup wajar lagi (heteroseksual)."
Jadi, Irshad Manji yang lesbi, harusnya sadar bahwa dia sakit dan perlu diobati, bukan malah dipuja-puji di sana-sini dan dijadikan narasumber untuk diskusi. Prof. Dadang Hawari memberi nasehat pada kaum homo dan lesbi: "Bagi mereka yang merasa dirinya homoseksual atau lesbian dapat berkonsultasi kepada psikiater yang berorientasi religi, agar dapat dicarikan jalan keluarnya sehingga dapat menjalani hidup ini dan menikah dengan wajar."
Pada akhirnya, di zaman yang penuh "fitnah" ini, baik kita renungkan sebuah sabda Nabi Muhammad SAW: "Sesungguhnya manusia jika melihat kemunkaran tapi tidak mengingkarinya, maka dikhawatirkan Allah akan menimpakan azab-Nya, yang juga akan menimpa mereka." (HR Abu Bawud, at-Tirmidzi, dan Ibn Majah).*/Depok, 1 Mei 2012.
Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com. twitter: @husainiadian
Foto: Irshad Manji di sebuah acara di Indonesia
Rep: AdministratorRed: Cholis Akbar
Kaci Starbuck Bingung, Mengapa Harus Dibaptis Dua Kali (3-habis)
REPUBLIKA.CO.ID, Setelah mencari tahu tentang Islam, Kaci menjadi lebih sensitif terhadap pernyataan yang dibuat tentang Islam.
Ia ikuti kuliah tentang Islam. "Aku merasa apa yang dikatakan dosenku tentang Islam tidaklah benar. Tapi aku tidak tahu bagaimana mengoreksinya," kata dia.
Di luar studi, Kaci mulai mendukung organisasi yang memperjuangkan hak-hak Muslim. Saat itu pula, ia mulai berhenti mengonsumsi daging babi dan menjadi vegetarian. Ia tidak lagi mengkonsumsi alkohol dan mulai berpuasa di bulan Ramadhan. "Tapi memang saat itu aku belum seutuhnya menjadi Muslim," kenang dia.
Tepat akhir tahun, Kaci mulai melakukan perubahan lain. Rambutnya yang selama ini tergerai ia sembunyikan. "Entah kenapa, aku ingin melakukan ini. Padahal, aku tidak tahu tentang Jilbab. Sebab, tidak semua Muslimah mengenakan jilbab di masjid," ujarnya.
Meski banyak perubahan yang dilakukan, rasa penasaran tentang Islam belumlah tuntas. Kaci lalu mencoba untuk mencari informasi tentang Islam melalui internet. Asyik berselancar di dunia maya, Kaci menemukan situs pernikahan.
Namun, ia tidak berniat mencari pasangan Muslim. Ia hanya mencari seseorang yang tahu tentang Islam. "Aku tulis dalam pesan bahwa aku tidak mencari pasangan. Aku hanya ingin mencari teman yang tahu tentang Islam. Sebab, aku ingin belajar tentang Islam," paparnya.
Tak beberapa lama, balasan yang ditunggu Kaci pun tiba. Ada tiga orang, yakni seorang Muslim yang tengah belajar di AS, satu orang Muslim India yang tengah belajar di Inggris dan satu Muslim Pakistan.
Kaci memulai dialog dengan Muslim yang tengah belajar di AS. Ia pun melontarkan banyak pertanyaan. "Dia menjawab setap pertanyaanku dengan begitu logis. Menurut dia, dalam Islam semua orang adalah sama tanpa memandang warna, umur, ras dan gender. Aku merasakan ada kebersamaan yang kuat dalam Islam," tuturnya.
Saat itulah, Kaci mulai yakin bahwa Islam adalah pilihannya. Ia merasakan Islam telah menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Kaci pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Selepas mengucapkan syahadat, Kaci mulai aktif pergi ke masjid.
"Itu adalah langkah besar pertamaku. Banyak pintu dibuka setelah itu, dan terus dibukakan pintu kemudahan. Aku mulai shalat. Dua pekan kemudian, aku mengenakan jilbab," kenangnya.
Selama paruh terakhir tahun di kampus, Kaci mengambil mata kuliah pilihan: Islam, Kristen, dan Yahudi. Setiap kuliah, Kaci menjadi perwakilan Islam. "Masya Allah, menjadi wakil Islam sangat tepat untuk memberitahu kebenaran tentang Islam dan Allah," pungkasnya.
Kaci Starbuck Bingung, Mengapa Harus Dibaptis Dua Kali (2)
REPUBLIKA.CO.ID, Setelah terus-menerus menghabiskan waktu bersama keluarga temannya itu, Kaci mulai diperkenalkan tentang kajian Perjanjian Baru. Mereka tidak bernyanyi atau mendengarkan khotbah.
Perempuan juga tidak diizinkan untuk berbicara selama pertemuan gereja. Natal, Paskah dan hari libur lain juga tidak dirayakan. Anggur dan roti tidak dihidangkan saat hari Minggu.
"Meskipun aku sudah dianggap sebagai Kristen, anggota jemaat ini percaya bahwa aku akan ke neraka jika tidak dibaptis lagi. Inilah pukulan pertamaku terkait keyakinan Kristen," kata dia.
Melihat hal itu, Kaci memutuskan untuk berdialog dengan ibunya. Ia bercerita tentang mengapa harus kembali dibaptis. Padahal dirinya sudah dibaptis waktu kecil. Ia pun bertanya mengapa kewajiban membaca Alkitab hanya sewaktu hari Minggu saja. "Saat itu, aku mulai kritis," ujarnya.
"Aku pun berdoa kepada Tuhan agar mendorongku untuk tetap melakukan hal yang benar. Nyatanya, doaku belum jua terkabul," tambah dia.
Tahun berikutnya, Kaci mulai menapaki jenjang pendidikan perguruan tinggi. Di tahun pertamanya, ia memutuskan untuk bergabung dengan asosiasi mahasiswa pembaptis. Pikirnya, dengan memasuki organisasi itu ia akan mendapatkan jawaban atas kebingungannya. "Aku merasa menemukan sesuatu yang aneh dari organisasi ini," ungkapnya.
Perkenalan
Pada tahun keduanya, Kaci menghabiskan banyak waktu untuk ambil bagian dalam paduan suara gereja Wake Forest. Ia sebenarnya enggan ikut serta dalam kelompok paduan suara, namun karena masalah uang, ia coba acuhkan pertanyaan demi pertanyaan yang terlintas dalam pikirannya.
Pada bulan Oktober, Kaci bertemu dengan pria Muslim yang tinggal di asrama. Ia merupakan pria yang ramah. Dengan nyaman, Kaci banyak melontarkan pertanyaan kepada temannya ini. "Dari dialog ini, aku kian mempertanyakan kepercayaanku sendiri. Apakah memang kita dilahirkan untuk agama yang kini aku peluk," ujarnya.
Musim panas berikutnya, Kaci mulai bekerja di sebuah toko buku. Ia pun bersinggungan dengan buku-buku keislaman. Ia pun melirik-lirik Alquran. Rasa penasaran tentang kepercayaan yang dianut pria Muslim itu menjadi pemicunya.
Seolah tak puas, Kaci tergerak untuk mengunjungi masjid. Harapannya ia akan mendapatkan pengetahuan itu secara langsung. "Aku mengunjungi masjid dua kali selama setahun," ungkapnya.
Kaci Starbuck Bingung, Mengapa Harus Dibaptis Dua Kali (1)
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Kaci Starbuck tumbuh dan besar dalam lingkungan gereja. Ia rajin menghadiri sekolah minggu semenjak masih kanak-kanak.
Bahkan, ia sudah dibaptis sejak bocah. "Pemahamanku tentang ajaran Kristen waktu itu adalah keharusan seorang anak untuk dibaptis. Sebab, jika anda tidak dibaptis, maka anda masuk neraka," kenangnya.
Pemahaman itu tidak terlepas dari dorongan ayahnya yang seorang diaken, pelayan gereja. Ia pun memutuskan untuk dibaptis setelah menghadiri sekolah minggu.
Sebelum melalui proses itu, seorang pendeta bertanya padanya, mengapa dirinya menginginkan melakukan pembaptisan? "Aku jawab. Karena aku mencintai Yesus, dan aku tahu Yesus mencintaiku," tutur Kaci.
Selama bersinggungan dengan gereja, Kaci boleh dibilang sangat aktif dalam kegiatan keagamaan. Untuk perempuan seusianya, hal itu terbilang langka. Begitu aktifnya, hingga ia mendapat julukan "Putri Gereja".
Suatu malam, dalam aktivitas keagamaan, Kaci mendengar seorang pria tengah berbicara tentang pertemuan pertama dengan istrinya. Istrinya itu berasal dari luar AS. Ada satu kesulitan kala ia tengah berkencan. Ia tidak dapat bersentuhan secara fisik seperti memegang tangan dengannya sebelum pernikahan. "Bagiku, cerita itu sangat menarik. Sangat indah untuk berpikir ada komitmen yang sudah dibuat sebelum melangkah lebih jauh," kenang dia.
Beberapa tahun kemudian, orang tua Kaci bercerai. Kepercayaan dirinya terhadap agama mulai goyah. Menurut keyakinan Kaci, ayah dan ibunya merupakan pasangan yang sempurna. Keduanya merupakan aktivis gereja yang aktif dalam setiap kegiatan keagamaan.
Saat itulah, Kaci memutuskan untuk menetap bersama sang ayah, sedangkan dua adiknya mengikuti ibunya, "Aku bertanya-tanya tentang surat Injil Korintus 1:13 tentang cinta dan amal. Mengapa hal itu tidak terjadi pada keluargaku?" tanya dia.
Dalam waktu tiga tahun, akhirnya Kaci pindah ke rumah ibunya. Saat itu pula, Kaci tahu bahwa ibunya tidak lagi ke gereja. Ia menyaksikan bagaimana gereja tidak lagi menjadi prioritas utama. Setelah pindah ke rumah ibunya, Kaci memulai tahun pertamanya di lingkungan baru.
Saat itu, ia bertemu dengan teman sekelas yang ramah. Di hari kedua, Kaci diajak olehnya untuk mengunjungi keluarga dan gerejanya. Ia pun mengiyakan ajakan itu. "Aku begitu terkejut dengan sambutannya. Meski aku seorang yang asing, mereka menyambutku dengan pelukan dan ciuman," kenang Kaci.