Senin, 28 Februari 2011

Afghanistan Bebaskan Terpidana Mati Atas Kasus Murtad

Perisai.net - SAYED Mussa, 46, seorang tahanan di Afghanistan atas tuduhan murtad dari Islam dan menjadi Kristen, akhirnya dibebaskan oleh pemerintah Afghanistan. Mussa ditahan dan diancam hukuman mati sejak Mei 2010.

Pembebasan Mussa dilakukan atas desakan dunia internasional, terutama setelah adanya tekanan diplomatik dari Amerika Serikat.

Mussa dibebaskan pada hari Senin (21/2). Mussa sendiri sebelumnya bekerja untuk Palang Merah Internasional. Ia ditahan setelah sebuah stasiun televisi di Kabul menayangkan gambar ketika ia dibaptis dalam suatu ibadah Kristen.

Menurut seorang jaksa penuntut umum, Mussa dibebaskan setelah ia menyatakan kembali. Namun, pernyataan jaksa tersebut belum bisa dikonfirmasi kepada Mussa. []

Sabtu, 18 Desember 2010

Remaja Putri Somali Ditembak Mati Karena Menerima Kristus

Berikut ini disadur dari The Christian Post, 4 Des. 2010: “Seorang putri berusia 17 tahun di Somalia yang bertobat menjadi Kristen dari Islam ditembak mati minggu lalu dalam apa yang nampaknya adalah ‘pembunuhan demi kehormatan,’ demikian kata sumber di daerah tersebut. Nurta Mohamed Farah, yang melarikan diri dari kampungnya di Bardher, Daerah Gedo ke Daerah Galgadud untuk tinggal bersama dengan keluarga lain setelah orang tuanya menyiksa dia karena meninggalkan Islam, mati tanggal 25 November. Sumber-sumber lokal mengatakan bahwa mereka mencurigai kuat bahwa dua orang tak dikenal di Daerah Galgadud yang menembak dia di dada dan kepala dengan sebuah pistol adalah keluarga atau bertindak atas permintaan keluarganya. ‘Laporan sampai kepada sanak di Galgadud bahwa Nurta Farah telah bertobat masuk Kristen,’ kata satu sumber. ‘Kecurigaan bahwa keluarganya bertanggung jawab adalah cukup kuat. Saudari kita ini dibunuh di Abudwaq, sebuah distrik di Daerah Galgadud, dan tempat terjadinya insiden sekitar 200 meter dari tempat saudari tersebut tinggal dengan keluarganya.’ Orang tuanya telah memukuli dia dengan hebat karena meninggalkan Islam dan secara reguler merantai dia ke sebuah pohon di rumah mereka, kata sumber-sumber Kristen. Orang tuanya juga membawa dia ke seorang dokter yang memberikan obat-obat untuk ‘penyakit mental,’ …..Orang-orang Kristen lokal melaporkan bahwa Farah dirantai di sebuah pohon pada siang hari dan ditaruh di sebuah ruangan yang kecil dan gelap pada malam hari.”

Senin, 13 Desember 2010

DUA HADIAH TAK TERNILAI – Gratis untuk Anda!!!

Sebagai hadiah tutup tahun 2010, kami mau membagikan dua buah lukisan-langka secara on-line, tanpa pamrih

(A). Lukisan wajah nabi Muhammad remaja
Dilukis oleh seorang pelukis Muslim terkenal yang tinggal di Iran. Pelukis menjual gambarnya on-line, dan sebagian Muslim marah karena lukisan tersebut dianggap menghujat Nabi. Namun sebagian lainnya menganggap itu bukan penghinaan, karena remaja Muhammad hanyalah remaja biasa, ia belum didatangi malaikat Jibril yang menurunkan wahyu Allah, sehingga ia belumlah seorang nabi disaat tersebut.

(B). Lukisan nabi Muhammad sedang bergandengan tangan dengan para nabi lainnya

Nabi Muhammad bergandengan dengan Krisna (?) dan Kong Hu Cu, yang bergandengan dengan Yesus, Budha, Socrates, dan Lao-Tzu. Ini mungkin ingin merepresentasikan pernyataan nabi Muhammad bahwa Allah menempatkan 124.000 nabi yang tersebar disetiap bangsa. Sekaligus menggambarkan sebuah “religious harmony” yang paling diimpikan dunia. Siapa yang akan keberatan?

KETENTUAN REQUEST: Setiap orang yang meminta lukisan-langka ini harus menyampaikan permohonannya dengan mengirimkan komentar bebas yang ditujukan ke: gift.tutuptahun@gmail.com
Komentar bebasnya terhadap keterangan lukisan (A) dan (B) di atas, maximum @ 120 kata.
Note: Tawaran ditutup akhir tahun 2010. Hadiah akan dikirim di awal tahun baru.

Kamis, 11 November 2010

Ratusan Imam dan Mullah di Afrika Barat Menjadi Kristen

Perisai.net – RATUSAN imam dan mullah di Afrika Barat telah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka dalam satu dekade. Hal itu disaksikan oleh seorang eks Muslim yang kini menjadi penginjil.

Penginjil tersebut telah memulai inisiatif untuk memperkenalkan Injil kepada sekitar 10.000 mullah, ulama dan sarjana Islam sejak sepuluh tahun silam. Dari jumlah itu, sekitar 1.000 orang telah menerima Kristus, dimana 500 di antaranya telah menyelesaikan pelatihan pemuridan.

Penginjil yang kini menggunakan nama Brother Daniel tersebut menyampaikan kesaksiannya tersebut di dalam acara Kongres Lausanne III di Cape Town, Afrika Selatan.

Saat ini, 58 mantan mullah, imam dan sarjana Islam telah terlibat dalam upaya membagikan iman mereka di dalam Kristus.

“Orang-orang Muslim di sekitar kita adalah orang-orang baik. Mereka sungguh-sungguh dalam kepercayaan mereka,” kata Danie. “[Tapi] meski mereka begitu sungguh-sungguh, mereka sungguh-sungguh keliru.”

Daniel juga mengkritisi kurangnya hasrat orang-orang Kristen dalam membagikan imannya dengan orang-orang Muslim. Padahal, Yesus telah memerintahkan untuk menyebarkan Injil. Menurut Daniel, orang-orang Kristen “tidak taat dan takut” membagikan Injil meskipun Roh Kudus sedang bekerja dalam hati orang-orang Muslim dan terbuka serta menanti untuk mendengarkan kabar baik.

Daniel bercerita tentang seorang hakim pengadilan syariah yang ia bimbing kepada Kristus. Setelah hakim itu menjadi Kristen, ia kehilangan pekerjaannya dan menghadapi ancaman “siksaan yang sulit dipercaya.” Tapi, meski diancam dengan hukuman itu, mantan hakim itu justru berhasil membawa 100 orang Muslim untuk datang kepada Kristus. []

Rabu, 03 November 2010

Pemimpin Islam Iran Mengatakan Orang-Orang Muslim Bebas Untuk Menjadi Kristen – Asal Dilakukan Secara Diam-Diam


22 Oktober 2010--Pemimpin Islam Syiah, yang coba menanggapi Sinode para Bishop Timur Tengah yang diadakan di Vatican baru-baru ini; mengatakan bahwa orang-orang Muslim di Iran bebas untuk memeluk iman Kristiani, meskipun ada hukum Islam yang secara tegas menyatakan bahwa mereka yang meninggalkan Islam akan dijatuhi hukuman mati.



Dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan oleh the National Catholic Register, Ayatollah Seyed Mostafa Mohaghegh Ahmadabadi merespon pertanyaan-pertanyaan mengenai konversi dengan menekankan pada sebuah perbedaan antara menerima salah satu iman dan mempropagandakannya melawan orang lain. Saat didesak mengenai apakah seorang Muslim diijinkan untuk memeluk agama Kristen, ia menjawab:

"Ya, tak seorang pun bisa menanyakan seseorang apa agamanya. Hal ini dilarang. Tetapi jika mereka membuat propaganda melawan sebuah agama termasuk Islam, maka hal itu tidak diijinkan."

Jawaban imam Syiah ini tidak menjawab pertanyaan mengenai apa yang bisa terjadi ketika seseorang yang diduga telah berpindah agama, ingin membuat sebuah pengakuan publik bahwa ia sudah menjadi pemeluk Kristen, atau terlibat dalam ibadah secara publik di sebuah gereja Kristen.

Dalam tanggapannya terhadap Sidang Sinode tersebut, Ahmadabadi menyampaikan sebuah gambaran positif mengenai kehidupan orang-orang Kristen di Iran hari ini.

Sumber: http://www.catholicculture.org/news/headlines/index.cfm?storyid=8033

Sabtu, 30 Oktober 2010

Sudah Saatnya untuk Bangkit Menentang Islam dan Syariah

Sudah Saatnya untuk Bangkit Menentang Islam dan Syariah
oleh: Juliet Rix

Maryam Namazie, ketua Konsul Murtadin Inggris, berkata bahwa hak azasi adalah bagi setiap orang, dan bukannya bagi agama atau kepercayaan.


Maryam Namazie

Bayangkan nih, kata Maryam Namazie: “Seorang anak perempuan kecil dikerudungi dari kepala sampai jari kakinya setiap hari. Kecuali bagian muka dan tapak tangan, seluruh tubuh ditutupi karena demi mencegah pria memandangnya dengan nafsu berahi. Di sekolah, gadis cilik ini belajar bahwa derajatnya lebih rendah daripada seorang anak laki. Dia tidak boleh berdansa, berenang, menjemur kulitnya di bawah sinar matahari, atau menikmati angin memilir rambutnya. Hal ini sudah jelas tidak dapat diterima, tapi pada kenyataannya hal ini malah dibiarkan saja terjadi jika dilakukan atas nama agama.”

Namazie adalah pendiri Konsul Murtadin Inggris (Council of Ex-Muslims in Britain (CEMB)) yang mulai aktif sejak pertengahan tahun lalu. Di hari Senin – dalam rangka merayakan seabad Hari Wanita Internasional – dia bicara di sebuah konferensi tentang Islam Politik dan Hak2 Wanita, dan dia menyelenggarakan kampanye menentang Syariah.

Namazie lahir di Iran sebagai Muslim. Sekarang dia berusia 41 tahun, sikapnya ramah, dan tutur perkataannya lembut. Tapi dia tidak ragu2 memilih kata. Dibutuhkan keberanian besar untuk mendirikan organisasi orang2 yang menolak Islam. Menurut hukum Islam, murtad layak dihukum dengan kematian. Namazie menerima ancaman2 terus-menerus, biasanya melalui telepon selularnya: “Satu orang berkata, `Kau akan dipotong-potong’ … Aku lalu pergi ke polisi. Tadinya polisi sangat bersemangat membantu, karena mengira hal ini berhubungan dengan pemboman di Glasgow. Tapi setelah mereka tahu ternyata ini tidak ada hubungannya, mereka pun tidak pernah lagi menghubungiku. ” Apakah dia tidak takut akan keselamatannya? “Ya, tentu saja, seringkali. Aku khawatir apakah aku bisa terus hidup, terutama karena sekarang aku ini seorang ibu. Jika ada orang yang memandangku dengan aneh, aku mulai curiga.” Kenapa Namazie tidak pakai nama palsu saja? “Mereka para Muslim akhirnya bisa tahu siapa dirimu. Lagipula tujuan Konsul Murtadin Inggris adalah untuk berdiri tegak dan dipandang penting.” Namazie tidak suka disebut sebagai eks-Muslim dan lebih memilih tidak dihubungkan dengan julukan yang bersangkutan dengan agama apapun. Dia berkata bahwa hal ini serupa dengan orang2 homoseks yang ke luar dan berani menyatakan dirinya homo 30 tahun yang lalu: jika kau ingin mendobrak taboo, maka kau harus berani mengumumkannya secara terbuka. Saat ini Konsul Murtadin Inggris beranggotakan lebih dari 100 orang dengan dukungan murtadin2 lain yang masih belum berani bergabung. “Beberapa punya kisah2 yang mengerikan, tapi tidak berani mencantumkannya di website kami karena takut.”

Kakek Namazie adalah seorang mullah dan ayahnya dibesarkan dalam adat Muslim yang ketat. Kedua orangtuanya (sekarang hidup di Amerika) masih Muslim. Ketika Namazie memberitahu ayahnya tentang niatnya mendirikan Organisasi Murtadin, dia ingat apa yang dikatakan ayahnya, “Oh, tidak, kakek bakal bangkit dari kubur nih.” “Aku katakan padanya bahwa apa yang kulakukan adalah demi kebaikan para Muslim juga, karena jika kau hidup dalam masyarakat sekuler, kau diperbolehkan jadi Muslim, Sikh, Kristen, atau atheis, dan tetap diperlakukan sama.” Sikap Namazie yang menentang agama adalah juga karena pengalamannya sendiri. Ketika dia berusia 12 tahun, revolusi Iran disabot oleh para Ayatollah dan negaranya sekarang jadi Republik Islam Iran.

“Aku tidak pernah pakai jilbab dan aku berpendidikan di sekolah sekuler. Tiba2 seorang pria aneh muncul di halaman sekolah. Dia berjenggot dan dikirim ke sekolahku untuk memisahkan murid2 wanita dan pria – tapi kami lalu berlarian mengitarinya. ” Namazie masih ingat wajah orang Hezbollah yang menghentikannya di jalanan gara2 dia tidak berjilbab. “Aku saat itu baru berusia 12 atau 13 tahun. Pengalaman itu sangat menakutkan.” Hal yang lebih jelek dialami wanita2 lainnya: “Wanita2 itu dipukuli dan mukanya disiram asam, dan dihukum bunuh setiap hari di tayangan TV,” katanya. Lalu sekolahnya ditutup dengan alasan “Islamisasi” .

Namazi dan ibunya lalu pergi ke India. Mereka hidup di sebuah B&B di Delhi dan Namazie bersekolah di Sekolah Inggris, sedangkan ayah dan adik perempuannya yang berusia 3 tahun tetap tinggal di Teheran, Iran. Tadinya ini hanya untuk sementara saja, tapi tak lama kemudian ayahnya – seorang wartawan – berkeputusan meninggalkan Iran juga. Mereka sekeluarga tinggal setahun di Bournemouth sebelum akhirnya tinggal di AS. Setelah Namazie berusia 17 tahun, mereka mendapat status penduduk tetap di negara tersebut.

Di perguruan tinggi, Namazie bergabung dengan Program Perkembangan PBB dan bekerja bagi para pengungsi Ethiopia di Sudan. “Enam bulan setelah aku datang, Sudan jadi negara Islam. Aku merasa hal ini kok mengikutiku terus-terusan! ” Bersama-sama temannya, Namazie memulai organisasi hak2 azasi manusia yang tidak resmi, dan mereka mengumpulkan informasi tentang apa yang dilakukan Pemerintah. Pihak keamanan Sudah lalu memanggilnya untuk ditanyai. “Aku memang tidak bersikap tunduk dan anggota PBB yang datang bersamaku berkata, `Tak heran jika orangtuamu membawamu ke luar dari Iran.’ Polisi Sudah mengancamku, katanya, `Kau tidak tahu apa yang bakal terjadi padamu. Bisa saja kau ditabrak motor atau mengalami kecelakaan lainnya.’” Pihak PBB diam2 mengirim Namazie keluar Sudan pulang ke rumah dengan pesawat terbang.

Itulah kejadiannya yang mengubah dirinya dari Muslim KTP menjadi atheis. Dua abad kemudian, dia membaktikan hidupnya melawan Islam. Dia sekarang sedang berjuang untuk mengadakan Konferensi Murtadin Internasional pertama, yang akan diselenggarakan di London pada tanggal 10 Oktober, 2008. Dia juga sedang mulai melancarkan kampanye “anti Syariah.”

Aku bertanya, kau tentunya sangat terkejut ketika Kepala Bishop dari Canterbury berkata bahwa beberapa penerapan hukum Syariah di Inggris tidak bisa dihindarkan. Tidak, katanya; dia bahkan tidak merasa heran. “Sudah jelas tujuannya, meskipun dia tidak menduga reaksi keras yang dihadapinya. Yang dilakukan sebenarnya adalah penyerangan terhadap sekularisme. Dia melihat keuntungan jika didirikan sekolah Muslim dan Syariah diterapkan. Jika ini diperbolehkan, maka masyarakat Inggris tidak akan menentang kuat pendirian sekolah2 Kristen dan penerapan aturan agama Kristen dalam masyarakat.”

Tapi Namazie bersikeras bahwa Syariah tidak boleh diterapkan dalam bentuk apapun di Inggris. “Hukum Syariah secara mendasar adalah hukum diskriminasi dan sangat membenci wanita,” katanya dan dia juga menentang jikalau orang boleh memilih antara hukum Syariah dan hukum Negara Sipil. Para wanita akan digilas habis dalam pengadilan Syariah, katanya. “Hukum ini akan menerjang orang2 yang seharusnya sangat membutuhkan perlindungan dari hukum sipil Inggris.”

Namazie yakin bahwa orang2 awam tentang Islam tidak begitu paham makna hak2 azasi manusia. “Hak2 adalah bagi perorangan, dan bukannya bagi agama atau kepercayaan. `Setiap manusia adalah sederajat’ dan ini bukan berarti setiap agama itu sama.” Orang2 Islam menganggap diri mereka sebagai korban, katanya, dan para negarawan Inggris percaya saja akan tipuan ini.” Namazie berkata bahwa Konsul Muratdin Inggris memang bukan wakil bagi masyarakat Muslim Inggris, tapi meskipun demikian dia berani menerima tantangan debat dari pihak Muslim kapan saja. “Murtadin memang dalam posisi yang tepat untuk menantang politik Islam,” katanya. “Kita tidak boleh membiarkan anak2 perempuan kecil atau siapa saja kehilangan hak azasi mereka. Kita tidak bisa menoleransi hak2 yang tidak layak ditoleransi dengan alasan apapun – termasuk agama.”

Council of Ex-Muslims in Britain www.ex-muslim. org.uk exmuslimcouncil@ googlemail. com; 07719-166731; www.maryamnamazie. com