Minggu, 22 Mei 2011

Demi Menemukan Islam, Anna Stamou Rela Jadi "Pasien" Para Filsuf

Demi Menemukan Islam, Anna Stamou Rela Jadi
Anna Stamou

Senin, 23 Mei 2011 01:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, ATHENA -  Salah satu penghargaan terkemuka Muslim internasional di Eropa baru-baru ini diberikan kepada seorang wanita Yunani. Manajer humas dari Asosiasi Muslim Yunani, Anna Stamou, dianggap sebagai satu dari 10 wanita Muslim dengan pengaruh yang besar dan yang paling positif di Eropa.

Penggagas penghargaan, adalah European Muslim Professionals Network (CEDAR), yang didukung oleh Institute of Strategic Dialogue, atau dikenal juga dengan nama "Three Club". Seremonial pemberian penghargaan dilakukan akhir tahun lalu di Madrid, Spanyol.

Tak banyak yang tahu, enam tahun yang lalu ia adalah seorang mualaf. Ia menemukan Islam setelah bergulat dengan kegelisahan dirinya.

"Pencarian saya telah lama, saya selalu mencari jawaban. Dalam pencarian saya tentang kebenaran, aku tidak bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan," ujarnya, tentang perjalanan batinnya.

Sejak sekolah menengah, Anna punya minat yang tinggi di bidang sains. Dalam mata pelajaran ini, dia selalu unggul. Imbasnya, dalam menemukan jawaban atas kegamangan batinnya, ia bermain logika.

"Jadi, saya berkonsultasi ke beberapa sekolah filsafat, bertemu banyak filsuf. Saya ditangani mendalam dengan Pythagoras," ia tersenyum menjelaskan.

Selama pencarian ini, ia bertemu dengan suaminya sekarang. Saat itu, mereka sama-sama bergabung sebagai  sukarelawan organisasi Doctors of the World, selama perang di Irak. Dari pria inilah, ia banyak menemukan pengetahuan tentang Islam.

Namun, ia tak menerima mentah-mentah omongannya. Anna mulai meneliti lebih dalam ajaran-ajarannya. "Saya pikir ini karena ilmu yang saya  peroleh dari sekolah bahwa Islam adalah sebuah agama inferior dan terdistorsi. Islam meskipun telah memberi saya jawaban, saya berkata pada diri sendiri bahwa saya harus belajar lebih banyak tentang agama ini," katanya.

Di Yunani, Islam kerap rancu dengan Turki. Pasalnya, kebanyakan Muslim di Yunani berasal dari Turki. Buku-buku keislaman, umumnya menggunakan bahasa mereka. "Meskipun ada ribuan Muslim Yunani, saya tidak mengerti mengapa tidak ada buku yang diterbitkan dalam bahasa Yunani," ujarnya. Ia mempelajari Islam dari buku-buku berbahasa Inggris dan Prancis.

Dia beruntung mengalami transisi dari agama lamanya menuju Islam didampingi oleh penerimaan dari sisi keluarga dan teman-temannya. "Saya belum bertemu reaksi negatif. Beberapa orang mungkin memiliki pertanyaan, tapi tak pernah ada tendensi negatif," ujarnya, yang mengaku dengan senang hati akan menjelaskan agama barunya.

Di sisi lain, ia juga menjaga hubungan dengan mereka yang beda agama secara baik, termasuk keluarganya. "Kini saya mengenakan jilbab, dan tak masalah bagi mereka," katanya. Ia juga akan hadir di tengah keluarganya saat mereka merayakan hari besar agama.


"Jilbab adalah bagian dari iman. Ingat, hanya bagian, Anda dapat memilih untuk mengikuti atau tidak. Ini adalah pilihan Anda," katanya. Ia menyatakan, adalah salah anggapan publik Barat yang menyamakan jilbab sebagai simbol penindasan atas kaum perempuan. "Jilbab adalah masalah pilihan. Saya mendukung mereka yang memperjuangkan hak mereka untuk memakainya."

Ia mengatakan, dasar dari semua masalah adalah hidup berdampingan secara damai dan toleransi. "Selama Ramadhan, kami makan bersama dengan teman-teman Kristen kami, ini adalah sesuatu yang tidak mudah ditemukan di Eropa. Selain itu, putri saya mencintai dan bersemangat untuk Natal. Mereka juga ada di acara Paskah keluarga," tambahnya.

Saat Idul Fitri, hal sama dilakukan padanya. Bahkan, para mahasiswanya bergantian menyalami dan memeluknya. "Saya beruntung menjadi bagian Yunani. Demokrasi ada di sini," ujar dosen kimia di dua perguruan tinggi Yunani ini.

Redaktur: Siwi Tri Puji B

Sabtu, 21 Mei 2011

Farhan Qureshi - Apologet Islam Terkenal, Secara Publik Telah Mengumumkan Kemurtadannya dari Islam

Buktidansaksi.com - Setelah bertahun-tahun bergabung dalam kelompok pemikir, group penasehat, da’wah untuk menyebarkan Islam dan melakukan pembelaan akademis terhadap Islam, aku sekarang mengambil keputusan untuk menerima kenyataan – karena sekarang aku telah mengerti – dan karena itu aku telah meninggalkan Islam. Keputusan ini merupakan hasil dari usaha berbulan-bulan berdoa, merenung, mengevaluasi dan mencari kebenaran. Usaha pencarian kebenaran ini mengakibatkan rasa sakit hati ketika aku menyadari bahwa selama bertahun-tahun aku telah mengikuti ajaran yang salah. Tapi di lain pihak aku juga mengalami kemerdekaan dan pencerahan yang menimbulkan rasa tenang dan damai dalam hatiku.


Aku murtad bukan karena aku tidak suka dengan Islam atau aturan ibadahnya, tetapi karena telah menyadari bahwa Islam ternyata bertentangan dengan pengetahuan modern seperti sains, filosofi, etika, anthropologi, dan bidang yang paling kugemari dan kupelajari yakni psikologi: ilmu dan penelaahan kelakuan manusia.


Di bulan-bulan mendatang, aku akan menyumbangkan artikel-artikel ke FFI (faithfreedom.org) yang menelaah perilaku manusia dan berbagai tipe kejiwaan Muslim: Muslim Barat, Sufi, Salafi, Muslim yang didorong tujuan politik (Hizb/Ikhwan) sebagaimana ada dalam berbagai kelompok Muslim, yang masing-masing mengakibatkan perilaku dan mentalitas yang berbeda.




Aku telah menghabiskan waktu dan tenaga untuk mempelajari berbagai aliran dan budaya dalam umat Islam. Karena telah mengalami sendiri pengalaman spiritual dan religius Islam, dan mempelajari imam-imam dan khotbah-khotbah mereka, membaca berbagai buku, artikel, argumen mereka, maka sekarang aku merasa sangat yakin bahwa aku mengerti keadaan psikologi mereka, dan aku akan membahas hal ini lebih jauh dalam artikel-artikelku.


Aku sadar bahwa teologi Islam yang sudah berusia 1400 tahun – bukanlah kebenaran sejati – tetapi merupakan usaha primitif untuk memahami dan menetapkan standar sosial, spiritual, agama dan etika. Standar-standar abad ke 7 M ini bisa menunjukkan bagaimana kebudayaan Arab berkembang dari kebudayaan sebelumnya, yakni ‘jahiliyah’, tapi lalu mengalami stagnasi dalam nilai-nilai tradisionalnya yang kaku, dan tak mengijinkan budaya Arab berkembang lebih jauh. Satu-satunya usaha untuk berkembang dilakukan oleh kelompok Mu’tazila di abad ke 8 M, yang memungkinkan tercapainya Jaman Keemasan Islam. Tapi para pemikir maju ini malah dianggap sebagai bi’dah dan murtad sehingga akhirnya lenyap semua di abad ke 13. Sekarang yang berkembang di dunia Islam adalah Sunnah atau dogma tradisional Islam.

Aku juga sadar bahwa aku bisa menerima ancaman mati di bawah hukum Syariah atas keputusanku untuk murtad. Hal ini sangat mengganggu pikiranku dan menunjukkan bahwa umat Muslim menggunakan taktik menakut-nakuti dengan hukum Syariah demi menjaga keutuhan agama dan tujuan politik Islamnya. Di lain pihak, yang membuatku senang adalah, aku bisa melihat evolusi kemanusiaan yang tidak lagi terkekang oleh bentuk primitif teologia dan hukum, sehingga bisa terus mengembangkan integritas, kejujuran, kerendahan hati, dan stabilitas moral. Ini merupakan masa depan yang menjanjikan bagi umat manusia yang tidak lagi berada dalam kegelapan akibat cuci-otak para pemuka agama.


Farhan Qureshi ketika masih menjadi seorang apologet Islam, dalam sebuah debat terbuka menghadapi Sham Shamoun mengenai topik "Trinitas"


Dulu sebagai pembela Islam, aku berdebat dengan berbagai pihak di mesjid, gereja, universitas, balai pertemuan dan perpustakaan. Aku juga berdebat melawan para apologet Kristen seperti Dr. James White, Dr. Tony Costa dan Prof. David Wood. Dari mereka aku belajar tujuan pembelaan agama bukanlah untuk berkonfrontasi tapi untuk mengerti akan kebenaran, bahkan jika ini berarti pandangan kita harus berubah. Kita harus bersikap menerima kebenaran yang sudah jelas, dan bukannya melawannya. Jika kita melawan kebenaran atau realitas yang sudah nyata, maka ini berarti kita bersikap munafik: sudah mengerti sesuatu itu benar, tapi masih ngotot saja menyangkalnya karena alasan-alasan membenarkan diri sendiri atau keterikatan akan pemahaman yang salah. Aku ingin berterima kasih pada Ali Sina karena memberikan sarana untuk menyelidiki Islam dan menunjukkan sifatnya yang primitif dan tidak sesuai lagi dengan realitas modern.

Sumber: Faithfreedom.org

Berita Terkait: "I Declare My Apostasy" & "Debat Farhan vs Shamoun"

Selasa, 17 Mei 2011

Jill: Menjadi Muslim adalah Hal Terindah dalam Perjalanan Hidup Saya

Jill: Menjadi Muslim adalah Hal Terindah dalam Perjalanan Hidup Saya
jill

Jill: Menjadi Muslim adalah Hal Terindah dalam Perjalanan Hidup Saya

Senin, 16 Mei 2011 12:47 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Ia meminta dipanggil Jill saja. Menganut Islam beberapa tahun lalu, dia kini mantap menjadi Muslimah. "Insya Allah, Islam akan saya bawa sampai maut menjemput," ujarnya. Berikut kisahnya tentang pilihannya pada Islam:

"Saat remaja, saya bekerja sampingan di sebuah restoran milik orang Palestina. Ya, pemilik itu seorang Muslim. Ini kali pertama saya, remaja kulit putih kelahiran Amerika, bersinggungan dengan Muslim. Dia shaleh. Dia memperlakukan karyawan dengan "hati". Dia menyambut siapa saja dengan ramah, bersalamaan. Dia sangat berbeda dengan Muslim yang saya kenal.

Masuk kuliah, saya memutuskan memilih jurusan sejarah timur tengah. Di sini, saya mengenal lebih jauhtentang Islam dari perspektif sejarah. Siapa penyebar ajaran Islam, bagaimana dia, apa isi ajarannya, dan seterusnya. Hati saya makin tertawan pada Islam. Namun saat itu belum memutuskan menganut Islam.

Pada perjalanannya kemudian, saya berkenalan dengan seorang pemuda yang mengenalkan saya pada sufisme Islam. Dari pemuda yang di kemudian hari menjadi suami saya ini, saya menyimpulkan satu hal tentang Islam: agama yang logis dan knowledgeble. Satu kata yang selalu saya ingat: "Jill, islam adalah agama yang logis. Dia bukan hanya agama, tapi jalan keluar untuk hidup."

 Dan saya membuktikannya. Setiap kali ada masalah, Islam membimbing saya untuk tenang dan keluar dari masalah itu. Ajaran Islam juga bisa diterima akal. Bahkan, misalnya, untuk hal remeh kenapa wanita harus mengenakan jilbabpun, ada alasan logis yang bisa diterima akal.

Saya memutuskan berislam tidak dengan cara membabi buta. Saya mempelajarinya lebih dulu. Saya orangnya sangat berhati-hati. Betul, calon suami yang mengenalkan saya lebih jauh pada Islam, tapi pendapatnya bukan harga mati bagi saya. Saya tetap mengikuti kelas pendidikan Islam, bertanya pada teman-teman yang lain, dan seterusnya. Intinya, saya terus belajar.

Menganut Islam adalah hal terindah dalam perjalanan hidup saya. Insya Allah, saya akan membawanya hingga maut menjemput. Berislam, bukan sekadar mengucap syahadat, selesai. Insya Allah, saya akan terus belajar tentang Islam, meningkatkan dan terus menjaga keimanan saya. Insya Allah, semoga Allah selalu membimbing saya."

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Berdasar pengakuannya via situs Youtube dan sejumlah sumber lain

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/05/16/ll9xei-jill-menjadi-muslim-adalah-hal-terindah-dalam-perjalanan-hidup-saya

Gereja Swedia Raup Keuntungan dari Film Porno?


 

Rabu, 18 Mei 2011

Hidayatullah.com--Kantor berita Fars (17/5) melaporkan, gereja- gereja Swedia dalam beberapa hari terakhir terus diburu media massa atas isu pornografi. Sejumlah uskup Katolik di kota Lund, Swedia, dikabarkan berinvestasi di jaringan televisi yang menayangkan film-film porno.

Padahal berdasarkan ketetapan gereja Swedia, investasi gereja di sektor itu dilarang dan bertentangan dengan semangat keagamaan dan etika. Namun sejumlah uskup Swedia melanggar ketentuan itu dengan mengedepankan alasan ekonomi.

Stefan Skoog, seorang pejabat finansial di wilayah keuskupan Lund, kepada koran The Local terbitan Swedia mengatakan mustahil menemukan perusahaan yang bersih, demikian dikutip thelocal.

"Nyaris tidak mungkin menemukan perusahaan yang sepenuhnya bersih." Namun ia berdalih bahwa pihaknya selalu menekankan para investor dan manajer keuangan kami untuk berusaha menghindari berinvestasi di sektor-sektor "tidak bersih."

Dewan Keuskupan Lund berinvestasi di sebuah perusahaan media komersial MTG, yang menayangkan film porno pada malam hari melalui TV 1000.

Ketika Sveriges Radio (SR) meminta pendapat masyarakat di daerah setempat apa yang mereka pikirkan tentang kasus Gereja ini, umumnya respon mereka negatif.

"Ini patut dipertanyakan. Saya lebih suka bahwa Gereja Swedia menempatkan uang mereka di dana yang tidak berurusan dengan hal-hal seperti, " ujar salah seorang kepada SR.

"Ini benar-benar tidak tepat. Saya pikir gereja harus mengikuti nilai-nilainya Kristen dan menjadi teladan moralitas dalam masyarakat, " kata yang lain.

Meski demikian, Stefan Skoog percaya anggota gereja Swedia menempatkan uangnya seetis mungkin.

"Dan jika dana terbukti kurang etis dari yang lebih kita suka, kami bekerja secara aktif mencoba mempengaruhi mereka untuk berganti," ujarnya.

Krisis moral

Pada awal tahun 2011, Gereja Katolik Swedia menyatakan bahwa dalam 30 tahun terakhir sedikitnya tiga pastor terjerat skandal etika dan seks. Sejak kasus tersebut, penilaian negatif opini masyarakat Swedia juga semakin meningkat. Dalam beberapa bulan terakhir, masalah ini muncul ke permukaan beberapa kali dan para pejabat Vatikan juga memilih bungkam dalam masalah ini.

Merebaknya skandal etika di gereja di negara-negara Eropa utara menunjukkan krisis etika yang melanda gereja Katolik. Namun yang terjadi Swedia, berbeda dengan berbagai skandal yang terungkap sebelumnya.*

 

Sumber : irb/thelocal.se
Rep: Administrator
Red: Panji Islam

http://www.hidayatullah.com/read/17055/18/05/2011/gereja-swedia-raup-keuntungan-dari-film-porno?.html

Minggu, 24 April 2011

Semula, Myriam Francois Cerrah Belajar Alquran untuk Serang Pendapat Temannya

Myriam Francois Cerrah
Semula, Myriam Francois Cerrah Belajar Alquran untuk Serang Pendapat Temannya
Myriam Francois Cerrah

Semula, Myriam Francois Cerrah Belajar Alquran untuk Serang Pendapat Temannya
Rabu, 20 April 2011 13:14 WIB





















REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Bagi Myriam Francois Cerrah, Alquran adalah puncak perenungan filosofisnya. Alquran pula yang kemudian mengantarkannya pada Islam. Mahasiswa pascasarjana Oxford University bidang Politik Timur Tengah ini memeluk Islam pada tahun 2003 saat berusia 21.


Padahal, sarjana filsafat lulusan Universitas Cambridge ini mulai membuka Alquran dengan "marah". Ia berdiskusi soal Tuhan dengan teman kuliahnya. Sang teman, menggunakan dalil ketuhanan sesuai apa yang disebutkan dalam konsep Islam. "Saya mempelajarinya sebagai bagian dari upaya untuk membuktikan pendapat teman saya yang seorang Muslim itu salah," ujarnya.

Kemudian ia mulai membaca dengan pikiran yang lebih terbuka. Pembukaan Al Fatihah, dengan alamat untuk seluruh umat manusia, mencengangkannya. "Dalam Islam, seluruh tindakan manusia, dia sendiri yang akan menanggung konsekuensinya. Itulah pentingnya dia mengambil jalan lurus, jalan Tuhan," katanya.

Dalam dunia yang diatur oleh relativisme, katanya, maka hanya ada dua panduan: moral objektif dan landasan moralitas. "Sebagai seseorang yang selalu memiliki minat dalam filsafat, Alquran terasa seperti puncak dari semua  renungan filosofis saya. Hal ini dikombinasikan Kant, Hume, Sartre dan Aristoteles. Entah bagaimana berhasil  menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis mendalam yang diajukan selama berabad-abad tentang eksistensi manusia dan menjawab satu yang paling mendasar, "mengapa kita di sini?" katanya.

Tentang Nabi Muhammad, Cerrah mengenalinya sebagai seorang pria yang ditugaskan dengan misi penting, seperti para pendahulunya, Musa, Isa, dan Ibrahim.

Makin lama ia belajar Alquran, makin besar keinginannya untuk menganut agama Islam. Tujuan semula, mendebat argumentasi temannya, berubah menjadi pengakuan, "Kamu benar tentang agamamu!"

Tak mau buang waktu, ia segera bersyahadat. "Beberapa teman dekat saya melakukan yang terbaik untuk mendukung saya dan memahami keputusan saya. Saya tetap sangat dekat dengan beberapa teman masa kecil saya dan melalui mereka saya mengakui universalitas pesan Ilahi, bahwa nilai-nilai Tuhan bersinar melalui  perbuatan baik manusia, Muslim maupun bukan," katanya.

Ia menyatakan, konversi keimanannya bukan sebagai 'reaksi' terhadap, atau oposisi terhadap budaya Barat. "Sebaliknya, itu merupakan validasi dari apa yang  selalu saya pikirkan," ujarnya, seraya mengkritik beberapa masjid di Inggris yang menutup pintu dialog tentang ketuhanan dan terlalu dogmatis. "Catat: aturan dan protokol mereka banyak yang membingungkan dan malah bikin stres."

 Aku tidak segera mengidentifikasi dengan komunitas Muslim. Saya menemukan banyak hal aneh dan banyak sikap membingungkan. Perhatian yang diberikan kepada luar atas ke dalam terus masalah saya sangat.

Menurutnya, adalah tugas Muslim untuk membuat Islam  tampil tidak sebagai agama yang asing. Dan kini, ia menjadi bagian untuk tutut mengemban tugas itu. "Menjadi Muslim, tidak berarti kita  kehilangan semua jejak diri kita sendiri. Islam adalah validasi yang baik dalam diri kita dan sarana untuk memperbaiki yang buruk," katanya.


Redaktur:
Siwi Tri Puji B
Sumber: Emel

LINK : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/04/20/ljxtbf-semula-myriam-francois-cerrah-belajar-alquran-untuk-serang-pendapat-temannya

Perjamuan Terakhir Yesus Terjadi Hari Rabu?

 

INILAH.COM, London – Umat Kristiani sejak lama mempercayai bahwa Perjamuan Terakhir (The Last Supper) yang dilakukan Yesus Kristus terjadi pada Kamis. Namun, riset terbaru menyebutkan satu hari lebih awal. Mana yang benar?


Professor Colin Humphreys, ilmuwan di University of Cambridge yang melakukan riset ini meyakini, selama ini telah terjadi kekacauan penanggalan. Apa yang ia baru temukan, memperkuat usulan untuk menentukan tanggal tepatnya Hari Paskah.


Humphreys menggunakan kombinasi riset kitab suci, sejarah dan astronomi untuk menentukan kondisi serta waktu santap malam terakhir Yesus bersama kedua belas murid, sebelum kematiannya. Periset sebelumnya bingung dengan Alkitab yang dianggap tak konsisten.


Alkitab menulis, Matius, Markus dan Lukas menyatakan Perjamuan Terakhir itu terjadi bertepatan dengan awal festival Paskah Yahudi. Sedangkan Yohanes menulis, peristiwa itu terjadi sebelum Paskah Yahudi.


Terkait hal ini, Humphreys menyatakan bahwa Yesus, Matius, Markus dan Lukas mungkin menggunakan penanggalan berbeda dengan Yohanes. Menurutnya, Yesus mengikuti penanggalan Yahudi lama, bukan penanggalan matahari yang marak digunakan saat kematiannya hingga saat ini.


"Apapun yang anda pikirkan mengenai Alkitab, faktanya, orang Yahudi tak mungkin salah mengadakan Paskah dengan jamuan lainnya. Jadi ketika dokumen-dokumen yang mendeskripsikan kehidupan Yesus (Gospel) saling berlawanan, maka ini akan makin sulit dimengerti," ujar Humphreys.


Melalui buku bertajuk The Mystery of The Last Supper, ia menyatakan banyak ahli kitab yang menyatakan Gospel sama sekali tak bisa dipercaya untuk alasan ini. Namun, Humphreys merasa, hasilnya akan berbeda jika ilmu pengetahuan dipadukan dengan Gospel. "Bahkan pada akhirnya, kita bisa menemukan bahwa tak ada kontradiksi," katanya.


Jika benar demikian, maka jamuan Paskah Yahudi dan Last Supper sama-sama terjadi pada Rabu. Ini menjelaskan mengapa begitu banyak peristiwa terjadi antara Jamuan Terakhir hingga penyaliban. Yesus melalui penahanan, interogasi dan pengadilan, yang tampaknya tak mungkin terjadi dalam semalam.


"Sebuah tanggal muncul untuk menentukan Hari Paskah di penanggalan modern. Berdasarkan penyaliban yang terjadi tanggal 3 April, maka Hari Paskah akan jatuh setiap 5 April," ujarnya. [ast]


http://id.berita.yahoo.com/perjamuan-terakhir-yesus-terjadi-hari-rabu-220500169.html