Kamis, 09 Agustus 2007

”Adzan itu Masih Terngiang di Telingaku”

Selasa, 10 Juli 2007
Wanita yang bekerja di kantor PBB New York ini akhirnya memutuskan memeluk Islam. Suara adzan, diantara yang ikut membawanya menuju Islam

M. Syamsi Ali
Hidayatullah.com--Sabtu 9 Juni lalu, saya datang ke Islamic Cultural Center of New York lebih awal. Selain ingin melihat dari dekat jalannya Weekend School (sekolah akhir pekan), juga sekretaris menelpon kalau ada seseorang yang ingin bertanya tentang Islam. Saya minta agar dipersilahkan datang setelah Zuhur sehingga bergabung dengan the Islamic Forum for non Muslims, kelas khusus setiap pekan bagi orang-orang non-Muslim yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai ajaran Islam. Tapi rupanya, orang tersebut hanya bisa sebelum jam 12 siang itu.

Sekitar pukul 11 pagi masuklah seorang wanita bule dengan kerudung yang rapih. Saya sedikit terkejut sebab ketika masuk ke ruangan saya dia mengucapkan salam dengan sangat fasih, bahkan hampir saja saya mengira kalau yang bersangkutan itu adalah orang Syam (Palestina, Jordan atau Libanon).

Saya kemudian mempersilahkannya duduk dan bertanya: "Hi, what's your name and where are you from?" Dengan sedikit tersenyum dia menjawab: "Hi,. I am Jemie. I am from here but my parents are from Texas". Saya ingin tahu kefasihan dia dalam bersalam, maka saya tanya: "How come you said salaam in way that's so perfect? I tended not to believe that you're an American". "Oh..I know Arabic and speak it fluently" jawabnya cepat.

Mendengar itu, saya balik stir dari Inggris ke Arab. "Aena darasti al Arabiyah?" tanyaku. "Darastuha fi Suriyah, lakin qabla sanawaat", jawabnya. Tanpa terasa percakapan saya dengannya memakan waktu cukup panjang dalam bahasa Arab, termasuk kenapa sampai belajar bahasa Arab di Suriah dan untuk apa. Dari penjelasannya, ternyata dia bekerja di Kementrian Luar Negeri dan sekarang ini pindah tugas di DPI (Department of Public Information) PBB New York.

Saya kemudian memulai bertanya tentang keinginannya mengetaui Islam. "I know a lot about Islam. Basically I am coming this morning because I feel this is the right time for me", katanya. "What do you mean the right time?" tanyaku. Dengan sedikit serius dia menjelaskan: "For the last many years, about 10 years, I have been so confused and struggling within my self". "Why is that?" tanyaku dengan sedikit heran.

Tiba-tiba saja, Jemie yang tadinya nampak tegar dan selalu tersenyum itu, kini meneteskan airmata. "You know, I tried my best not to this", katanya sambil mengusap air matanya. "Why is that?" tanyaku. "This may kill my career" katanya agak gusar. Saya kemudian bertanya dengan serius: "What do you mean killing your career?". Seolah memaksakan tersenyum, Jemie mengatakan bahwa dia khawatir kalau masuk Islam akan susah meniti karir yang lebih tinggi.

Saya kemudian bertanya lebih jauh: "Why do you think in that way?".
Ternyata karena pengalaman yang dia lihat selama ini di beberapa negara Muslim. Menurutnya, mayoritas wanita Muslim di negara-negara Muslim tidak bekerja dan lebih memperioritaskan dirinya kepada pekerjaan-pekerjaan rumah saja.
Saya kemudian mencoba menjelaskan ke Jemie bahwa tidak ada peraturan dalam Islam yang membatasi karir kaum wanita. Walau memang perlu diketahui bahwa karir itu akan dilihat kepada prioritas-prioritas tuntutan hidup. Kalau seandainya menjadi ibu rumah tangga itu menjadi tuntutan utama bagi wanita, dan ketika dipaksakan untuk meniti karir di luar maka berarti terjadi "kesemrawutan" dalam hidup.

Dari penjelasan-penjelasan yang cukup panjang itu nampaknya Jemie sudah banyak tahu. Cuma ada semacam ketakutan tersendiri bahwa nantinya setelah menjadi Muslim dia akan dilarang untuk berkarir.
"In fact, Islam wants all Muslim women to be professional. Didn't you read the hadith that commands the women to study as men?", jelasku.

Kini Jemie nampak lebih tenang. Hampir tidak berbicara dan bahkan beberapa kali saya pancing untuk bertanya juga tidak dihiraukan.
Tiba-tiba saja sekali lagi nampak berlinang airmata dan mengatakan: "I have some thing to tell you!" "What's that?" tanyaku. Dia dengan nampak serius sekali walaupun terus meneteskan airmata mengatakan: "When I was in Syria around ten years ago, I was so impressed with the Adzan". Saya mengatakan bahwa memang adzan orang-orang Suriah itu indah. "Their voice is softer than other Arabs, kata saya. "But I swear, that adzan never gone from my ear. I feel being listening to it all the time" katanya serius.

Tanpa sadar, saya langsung mengatakan "Subhanallah!". Ternyata dia juga sudah tahu maknanya.
Saya kemudian mengatakan: "Sister, God is loving you. Your heart is being attached to the divine inspiration, and I am sure you are being blessed with that". Nampak Jemie hanya menangis mendengar nasehat-nasehat saya itu.

Akhirnya, setelah memanggil dua saksi, Jemie dengan berlinang airmata secara resmi menerima Islam sebagai jalan hidupnya yang baru. Allahu Akbar!

Semoga Jemie selalu dikuatkan di jalanNya! Amin!

New York
, 18 Juni 2007
* Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com.


CNN: Sumber Hidayah?

Kamis, 21 Juni 2007
"You know, Islam is well known", ujar Dowan. Pria keturunan Afrika-Amerika ini akhirnya memeluk Islam setelah menyaksikan wawancara tentang Islam di CNN

M. Syamsi Ali

Hidayatullah.com--Sabtu lalu, 9 Juni 2007, kelas the Islamic Forum the Islamic Cultural Center of New York dipenuhi peserta lebih dari biasanya. Rata-rata peserta per Sabtu adalah 15-20, tapi siang itu sekitar 25 peserta duduk berdesakan dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu. Selain peserta dengan wajah lama, rata-rata peserta yang telah mengikuti acara ini sekitar 2-5 bulan, juga nampak beberapa wajah baru.

Topik yang saya sampaikan hari itu adalah "Islam dan Tantangan Hidup" (Islam and Challenges of life). Topik ini sengaja saya kemukakan, mengingat Paris Hilton baru saja diceploskan ke dalam penjara. Bagi banyak non Muslim, Paris Hilton barangkali dianggap sosok yang sukses; cantik, kaya, popular, dll. Tapi kenapa seorang Paris Hilton bisa hidup semrawut seperti itu? Kenapa seorang Britney Spears bisa hidup menderita seperti yang kita saksikan? Kenapa dari hari ke hari semakin banyak penghuni Hollywood masuk rehabilitasi?

Kenyataanya terjadi banyak paradox dalam hidup manusia di abad 21 ini. Kemajuan material yang ditandai dengan kemampuan keilmuan dan teknologi yang tinggi ternyata tidak memberikan kepuasan dan kebahagiaan kepada manusia. Semakin banyak manusia menghasilkan semakin tinggi perasaan ketidak puasan itu. Di kota-kota besar manusia berlomba membangun gedung-gedung pencakar langit, tapi di satu sisi kehidupan semakin terasa gersang. Semakin banyak rumah sakit yang dibangun, obat-obatan dan vitamin yang diproduksi juga semakin banyak penyakit dan orang sakit yang memenuhinya.

Kesimpulan dari semua pembahasan yang memakan waktu hampir 3 jam itu adalah bahwa manusia abad 21 dijangkiti penyakit yang lebih berbahaya dari penyakit-penyakit konvensional yang kita kenal. Penyakit ini menjadi sumber banyak masalah yang dihadapi oleh manusia sekarang ini. Penyakit itu, yang dalam bahasa Al Qur'annya adalah "Al khauf wal hazan" (penyakit takut/khawatir dan sedih).

Sedemikian besarnya rasa takut dan sedih menimpa manusia modern sekarang ini, sehingga untuk tidur saja di atas kasur yang empuk sangat susah. Menurut penelitian terakhir, tahun 2006 lalu sekitar $ 80 milyar obat pembantu tidur (sleep aid) terjual. Dan anehnya, mayoritas mereka yang membelinya adalah orang-orang kaya dan sukses.

Demikianlah pembahasan hari itu. Memang agak serius, tapi sesekali diselingi candaan dan gelak tawapun meledak. Apalagi jika memang contoh-contoh yang saya berikan biasanya adalah kejadian yang "real" dan memang menjadi gunjingan umum. Saya memang tidak memberikan contoh-contoh yang terkadang secara social dan budaya pendengar tidak bersambung. Secara social dan budaya, tentu orang-orang Amerika itu banyak berkiblat ke Hollywood misalnya.

Di penghujung diskusi tiba-tiba resepsionis masuk dan memberitahu kalau ada lagi satu peserta yang mau gabung. Tapi menurutnya lagi, "Dia ingin memeluk Islam"". Saya sedikit terkejut, sebab biasanya peserta yang datang akan bertanya atau menanyakan banyak hal sebelum menyataan kesiapan untuk itu. Setelah saya iyakan, masuklah seorang gadis separuh baya dengan wajah campuran Afrika dan Spanish.
Nampaknya masih sangat muda.

"Welcome, what is your name?" sapa saya.
"Hi, I am Dawn" katanya dengan sedikit menunduk. Mendengar nama itu, saya teringat kata Inggris yang berarti "fajar", maka saya tanyakan "Dawn, does it mean early morning time?". "Yeah, I think that's what my parents wanted for me", jawabnya.

Semua peserta melihat kepada peserta yang baru masuk ini. Apalagi pemberitahuan dari reseptionis bahwa dia akan masuk Islam. Bagi kebanyakan peserta, hal ini biasa. Hampir setiap Sabtu ada saja yang menyatakan "syahadah" di Islamic Center. Tapi bagi peserta baru non-Muslim hari itu, ini benar-benar sebuah pengalaman baru bagi mereka.
"What is your back ground? I mean you ethnic and religious back ground". (apa latar belakangan suku mu). Saya menanyakan latar belakang etnik karena biasanya dari etniknya akan dikenal agamanya. Misalnya, kalau dia seorang Spanish maka dia hampir pasti seorang Katolik.

"My father is African American but my mother is native American", jawabnya. Native American adalah sisa-sisa keturunan asli Amerika, suku Indian. Kulitnya agak putih tapi wajahnya lebih mirip "boyan" (
Mexico).

"Tell me then how did you come to know Islam
?" (ceritakan, mengapa tertarik pada Islam), saya memulai. Tiba-tiba dengan sedikit tersenyum dia mengatakan "I never met any Muslim before, but I studied it by my self", jawabnya. "And how did you know about Islam in the beginning?" tanya saya. "You know, Islam is well known. I knew Islam for the first time from CNN when there was an interview by a woman….i think she was a leader of a Moslem organization." (Islam sudah ternama. Saya dapat membedakan agama Islam pertama kalinya dengan CNN ketika ada wawancara dengan seorang wanita, yang saya pikir dia seorang pemimpin organisasi Muslim)" , jawabnya.

Belakangan saya ingat bahwa interview yang dimaksud adalah wawancara CNN dengan Dr. Ingrid Mattson, President ISNA (Islamic Society of North America) beberapa waktu lalu. Nampaknya Down sangat impressed dengan panampilan Ingrid yang tenang, bersahaja tapi sangat cerdik. Saya masih ingat dalam sebuah diskusi di Council on Foreign Relations baru-baru ini, di mana Ingrid menjadi salah seorang
nara sumber. Pertanyaan para pesera sangat menyudutkan. Tapi dengan tenang dihadapi semuanya dan jawaban-jawaban yang diberikan mematahkan semua pertanyaan yang menyudutkan itu.

Saya kemudian bertanya kepada Down 'Apakah baginya, meyakini, bahwa agama Islam adalah pilihan yang benar.' "Are you really convinced that Islam is the right way for you?". Dengan mantap dia manjawab "Yes sir". "Do you have any further questions or any thing that you may need to clarify?" tanya saya.
Dengan mantap ia bahkan menjawab, " untuk sementara tak ada pertanyaan, dan Saya benar-benar siap dan menyetujui konsep Islam", katanya tegas.

Saya pun dengan segera memberikan nasehat singkat, termasuk menjelaskan makna berislam itu sendiri. Bahwa masuk ke Islam itu bukan sekedar berpindah formalitas, tapi berpindah hidup dari sebuah tatatanan (sistem) menuju tatanan hidup yang baru. Dawn nampak serius dan sesekali mengangguk.
Akhirnya dengan disaksikan oleh para peserta the Islamic Forum, termasuk beberapa non Muslim lainnya, Dawn secara resmi menerima Islam sebagai petunjuk hidupnya. Semoga Allah senantiasa menguatkanmu Down.

New York, 17 Juni 2007
* Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com.


Sekretaris Paus Sebut Islam Ancaman Eropa

imageimageSeolah tak peka masalah, sekretaris pribadi Paus Benekdictus XVI kembali mengeluarkan pernyataan jika Islam bisa menjadi "ancaman" Eropa

Tahta suci Vatikan kembali tercoreng. Setelah pernyataan Paus Benediktus XVI tahun 2006 di mana mengutip Kaisar Bizantium (kini Turki) Manuel II Paleologus dan telah membuat marah kaum Muslim seluruh dunia, Jumat lalu, sekretaris pribadi Paus, Georg Gaenswein, melontarkan pernyataan jika Islam akan menjadi ancaman Barat dan Eropa.

"Kita tidak bisa menyangkal usaha untuk menyebar Islam di Barat. Dan kami juga tidak memahami dan tidak membiarkan ini membutakan kita menjadi ancaman identitas Europa," ujar Georg Gaenswein sebagaimana dikutip Koran Jerman, Zeitung.

"Sementara orang Kristen menaruh hormat terhadap Islam dan berhasrat melakukan dialog dengan orang Muslim," ujarnya, "Kami harus bertindak untuk melindungi identias Kristen Eropa."

Dalam wawancaranya, Ganswein jug menyebut usaha 'Islamifikasi' di Eropa. "Percobaan 'Islamifikasi" Barat tidak bisa disangkal," katanya.

Meskipun wawancara itu meliputi banyak persoalan berbeda, namun komentarnya tentang pengaruh Islam di Eropa, mungkin kembali akan menjadi yang masalah kontroversial.

Setahun lalu, pidato Paus saat berkunjung di Universitas Regensberg, Jerman telah membawa kemarahan umat Islam di seluruh dunia.

Dalam lawatannya kala itu, Paus Benecditus VXI menyampaikan pernyataan yang dianggap anti-Islam. Paus, kala itu mempertanyakan konsep jihad. Tidak cuma itu, pemimpin tertinggi Katolik itu juga mengutip pernyataan Kaisar Kristen Ortodoks abad 14, Manuel II Palaeoogus yang mengatakan, Muhammad cuma membawa hal-hal "jahat" dan tidak manusia ke dunia. Termasuk menyebut Islam menyebarkan ajaran dengan pedang.

Monsignor Georg Gaenswein, lahir 30 Juli 1956 di Waldshut, Baden-Wuerttemberg, Jerman. Ia adalah seorang pendeta Gereja Katolik Roma. Dia ditahbiskan menjadi pendeta pada 1984.

Gaebswein mendapat gelar doktor bidang hukum di University of Munich tahun 1993, dan tiba di Roma pada 1995. Tahun 1996, oleh Kardinal Joseph Ratzinger diangkat sebagai profesor hukum di Universitas Salib Suci. Selanjutnya, tahun 2003, dia mengganti Josef Clemens sebagai sekretaris Ratzinger hingga kini.

Di tengah hararapan dialog antara agama, pernyataan Georg Ganswein ini akan memperuncing dan justru tidak mengajak membangun persahabatan antara Islam dan Kristen. [ap/afp/cha/www.hidayatullah.com]

Crazy American - Tom Tancredo : Mekah and Madinah akan Saya Bom!

Muslim AS Protes Pernyataan Seorang Anggota Kongres
imageimageCalon Presiden Amerika dari Partai Republik, Tom Tancredo, mengatakan, jika diberi keleluasaan, dia akan memilih mengebom Mekah dan Madinah.

Belum berkuasa saja sudah begitu bencinya pada Islam. Itulah yang ditunjukkan kepada salah satu calon presiden (capres) AS dari partainya George W Bush, Tom Tancredo baru-baru ini. Tom, mengatakan, jika dirinya diberi keleluasaan, maka, dia akan mengebom kota suci Mekah dan Madinah. "Jika diberikan kepada saya untuk membuat keputusan, saya akan memberitahu bahwa serangan ke atas negara kita akan di balas dengan serangan terhadap tempat suci Mekah dan Madinah," ujarnya dikutip CNN. :video

Pernyataan ini disampaikan saat kampanye memperebutkan jabatan sebagai presiden Amerika di Iowa, AS.

Pernyataan Tom ini disampaikan dengan apa yang disebutnya sebagai 'tindakan pencegahan' terhadap gerakan Islam.

Dalam pernyataan lain, sebagaimana dikutip www.IowaPolitics.com Tom, juga memperingatkan akan adanya kelompoK "teroris" yang akan "menyerang" secara ekonomi di seluruh dunia.

Sebelum ini, capres berkulit hitam Barack Obama dari Partai Demokrat juga pernah menyampaikan akan menyerang Pakistan tanpa persetujuan untuk menumpas apa yang ia sebut "jaringan" Al-Qaidah. Nampaknya, kampanye "menumpas Islam" jualan paling laku untuk dapat terpilih menjadi presiden Amerika. [cnn/cha/www.hidayatullah.com]

Muslim AS Protes Pernyataan Seorang Anggota Kongres
Dewan Hubungan Islam-AS (CAIR) menuntut permohonan maaf dari seorang anggota Kongres AS yang telah melecehkan agama Islam. Kantor berita Reuters dari Washington melaporkan, Tom Tancredo, anggota Kongres AS dari Partai Republik tanggal 14 Juli lalu mengatakan, "Jika Amerika diserang, kita bisa membalas dengan menyerang kota-kota suci Islam seperti Mekah."

Dewan Hubungan Islam-AS hari Rabu lalu merilis statemen yang menuntut Tom Tancredo untuk meminta maaf atas pernyataan tersebut. CAIR mengaku bahwa para pejabat di lembaga ini sedang melakukan lobi dengan para pemimpin masyarakat muslim Colorado untuk mengadakan pertemuan dengan Tom Tancredo. Namun juru bicara anggota Kongres dari kubu Republik ini menolak untuk bertemu dengan para pemuka warga muslim AS.

Pernyataan Tancredo yang provokatif dan sarat dengan pelecehan terhadap Islam juga dikecam oleh James Zagbe, ketua Yayasan Arab-Amerika. Selain menuntut Tancredo untuk meminta maaf, Zagbe juga mengatakan, "Perkataan yang tidak bertanggung semisal pernyataan Tancredo hanya akan memperlebar jurang pemisah antara AS dan Dunia Islam." (irib)



Profile US Muslim Converts : Mr. Michael Wolfe and Ms. Brown

Muslim Convert News Oleh : Redaksi 29 Jul 2007 - 12:55 am
By Bob Abernethy
imageThe number of Muslims in the U.S. is variously estimated at between two and six million -- or more. About half are immigrants, and most of the rest, African Americans. We have a profile today of two Caucasian converts who were attracted to Islam when they were living abroad. They spoke with correspondent Bob Faw about why they adopted their new faith.

BOB FAW: For some, this is a faith alien, even menacing. But in America, only megachurches are growing faster than mosques. And this religion, say converts, offers something other faiths do not.

Fifty-nine-year-old California author and filmmaker Michael Wolfe was raised in a household which celebrated both Hanukkah and Christmas. Thirty-three-year-old Connecticut housewife and mother Noora Brown was brought up in the Episcopal Church. But for each, those religions fell short. :foto :video

MICHAEL WOLFE (Author and Filmmaker): There was a spiritual element -- an element of compassion for others that I think was missing. It's a texture that was missing in my life. I can't really put it into words, but there was something not there.

NOORA BROWN: I was searching for the meaning in life, for the purpose in life.

imageimage

FAW: They came from two different worlds: his, the turbulent California of the '60s; hers, the shelter of academia. But each -- Noora traveling in the Muslim world on a college semester abroad, and Michael living in North Africa -- was struck by the fervor of Muslim friends. They were also, they say, attracted to what they consider Islam's simplicity.

(To Wolfe): Islam, you say, is mostly a matter of the heart. Every person faces God alone. That was appealing?

Mr. WOLFE: The idea that there is the potential for conversation between you and the divine and that it does not require any intermediary, doesn't require a special building to go to or a special person to talk to. That whole notion is very appealing to me.

Ms. BROWN: There's no one to excommunicate you or stand in the way. It's so easy to declare you are a Muslim. You don't have to take classes; you don't have to be baptized or confirmed or go through any of that. You just declare that you accept that there is no God but God in front of two witnesses. So it's really very simple.

FAW: Returning home from her semester in England, Noora began studying Islam and the Qur'an.

imageMs. BROWN: Once I started reading, everything that I read struck a chord deep inside me that this was the truth; for me, that Islam is the true path. I was raised in a certain religious tradition, but I would never have said that I was religious. In fact, I shunned -- you know, I would shun any, any religious discipline. I felt it was a burden. But here, I really wanted to follow this tradition.

FAW: For Michael, it took longer. For 20 years he wrestled with various beliefs before becoming a Muslim at age 40. Michael regards his conversion as an addition to his life, not a rejection.

imageMr. WOLFE: I don't feel I've rejected Judaism or Christianity. Islam teaches you that these religions are deeply connected. These three religions are deeply connected. The legacy of the whole prophetic tradition from Adam is very much alive and operative in Islam. I didn't have to say good-bye to any of that.

FAW: Making the transition in other ways, especially in the western world, was not so easy. Fasting during the holy month of Ramadan, for example, was tough mentally -- and physically.

Mr. WOLFE: The idea of not eating an entire day when I first became a Muslim was intimidating, to say the least -- and no drinking water. At that time, I smoked cigarettes as well. So, I was really up against it for Ramadan.

Ms. BROWN: The first day was so difficult. It was probably one of the hardest things that I did. It really hit home why fasting is prescribed: So that you can feel empathy for those who don't have, and also to be closer -- I felt -- I never felt so spiritually close to God in my life.

FAW: For Noora, how to dress, how to appear in public, was also difficult. Already a convert when she married Khamis Abu-Hasaballah, a Palestinian, she told him she would not wear a scarf every day, an option exercised by many Muslim women, and he said, "Fine."

imageMs. BROWN: I would look in the mirror and say, "This is -- this is not who I am. This is somebody different." And I wasn't comfortable. But I came to a point in myself where I felt comfortable, and I identified with the scarf. I feel that this hejab or this scarf is something that we do to identify ourselves as believing women and that you are treated with more respect.

(Putting on Prayer Outfit): This is a prayer outfit that I use when I'm home...

FAW: Some women will undoubtedly find all this -- and other restrictions imposed on Muslim women -- unnatural, even oppressive.

imageMs. BROWN: To me, it wasn't oppressive; because I did it of my own free will, of my own free choice. I think a lot of people are intrigued why women especially would accept this patriarchal tradition, where women are supposed to cover. They have an image that women are supposed to walk 10 feet behind the men. And what I found was, really, liberation in Islam. And when you read the Qur'an, you discover that women have rights. They have rights that they didn't have here until the eighteenth century.

FAW: Converting to Islam wasn't just learning how to dress, but also how to pray.

Mr. WOLFE: You clean your face and hands and feet in an expression of a desire to also clean your spirit, to cleanse yourself entirely.

FAW: Cleansing oneself with water, or sand, five times every day -- also learning the mechanics, the physical aspects of prayer. Though awkward initially, prayer, the new Muslims agree, brought to each something their earlier faiths did not.

imageMr. WOLFE: I like something that I do every day. I like something that has a physical component to it. It's physical and spiritual at the same time; one bows physically, and you bow internally as well. The prayer requires that I stop so many times a day for a couple of minutes and really check out of my daily, temporal existence, just long enough to remember that there is an element to life which is closer to the absolute, which is closer to a spiritual element in life.

FAW: The routine of prayer, especially its repetition, strengthens belief, they say. And this solitary act with no intermediary, no priestly hierarchy, ironically gives each a sense of community. For Michael, on one of his three pilgrimages to Mecca, the hajj, or at a recent national convention with hundreds of other Muslims in Chicago, it's a feeling of belonging which neither he nor Noora had experienced before.

Ms. BROWN: I felt at home. I felt at peace and felt that this was part of a community of people from all different nations.

Mr. WOLFE: It has to do with recognizing that we're a unit here, that people are one. And being in touch with that is a lot of what it's about to be a Muslim, a lot.

FAW: Before embracing Islam, each had felt an emptiness. Not anymore.

(To Mr. Wolfe): Because you did become a Muslim, are you a different person now?

Mr. WOLFE: Yes, I think so. That texture that was missing so often in my life is there now. I feel it.

Ms. BROWN: It gave me self-respect, dignity that I hadn't known before. Islam just completely changed my life. I feel happier now. I feel, actually, at peace.

FAW: From a faith so dismissive, then, of western values, so hostile to a society which it believes sanctifies materialism and rewards self-indulgence -- for two who were searching, something missing has at last been found.

sumber : http://www.pbs.org/wnet/religionandethics/week806/profile.html#right



Isi Bibel Mengantarkannya untuk memeluk Islam

Dewi Purnamawati : Isi Bibel Mengantarkannya untuk memeluk Islam
Dewi Purnamawati nama saya, kelahiran Solo Th. 1962. Tahun 1971, Mase (panggilan saya kepada ayah) yang pegawai AURI pindah tugas ke P. Lombok sehingga saya besar di P. Lombok sampai lulus SLTA Th. 1981. Kemudian kuliah di IKIP Negeri Yogyakarta sampai lulus Th. 1985. Sejak Th. 1986 saya kembali menetap di Solo dan mengabdikan diri sebagai guru listrik di STM Negeri 2 Surakarta yang saat ini nama-nya SMKN V Surakarta.

Pengaruh kekristenan ibu yang aktifis gereja sangat kuat, Th. 1971 Mase yang semula Islam tidak sekedar dikristenkan ibu tetapi bahkan berhasil dibina menjadi aktifis penginjilan yang militan & handal. Mase dianggap punya kelebihan talenta. Mampu berinteraksi dan mengusir kuasa kegelapan, padahal kemampuan metafisik/paranormal semacam itu yang mereka anggap kelebihan dan anugerah Tuhan, dalam kacamata Islam justru indikasi lemahnya Tauhid, karena menurut ajaran Islam talenta semacam itu sebenarnya berasal dari setan.

Kami 3 bersaudara -saya dan 2 adik saya- dididik dengan ketat dalam kehidupan kristen yang taat dan sangat kuat. Sejak kecil sudah dicekoki doktrin-doktrin kristen. Merendahkan & apriori terhadap Islam. Harus mampu menampakkan bahwa kristen adalah KASIH. Digembleng menjadi militan untuk mampu memasuki dan mempengaruhi kehidupan masyarakat P. Lombok yang mayoritas beragama Islam, kami semua aktif dalam penginjilan/pemurtadan. Contoh keberhasilan didikan ibu adalah adik saya laki-laki, sejak kira-kira Th. 1997 ia menjadi pendeta di daerah Cimahi setelah menamatkan S2 nya di Institut Agama Kristen TIRANUS Cimahi Bandung.

Dia telah sukses mengkristenkan orang satu kampung melalui cara mengajarkan dan membantu masyarakat berusaha dengan mengelola tanaman hidrophonik, sementara adik saya perempuan, aktif penginjilan di P. Madura. Obsesinya mengkris-tenkan para kiai. Sebab peluang itu ada! Kalau malam minggu dia menga-mati kiai nyebrang ke Surabaya, pakaian kiai-nya ditanggalkan dan ganti pakai celana jeans dan T.Shirt lalu asyik dalam dunia hiburan!.

Saya sendiri, suami pertama adalah aktifis HMI sekaligus pengurus pengajian yang telah berhasil saya kristenkan, tetapi akhirnya kami bercerai juga. Memang kristen mengajarkan "Apa yang telah dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia." tetapi pendeta akhirnya mengijinkan kami bercerai, ia tidak punya solusi.

Anak saya sejak perceraian itu dipelihara ibu di Lombok, ia dididik ibu menjadi kristen militan. Tidak boleh saya ambil untuk saya didik di Solo, kecuali kalau saya balik ke kristen. Anak saya yang semata wayang itu, untuk mendapatkannya ibarat 'toh nyowo' hampir keguguran sampai 3 kali.

Tepatnya malam 27 Ramadhan th. 2004, dengan sadar & tanpa beban telah memutuskan hubungan ibu-anak dengan saya, karena meski-pun diiming-imingi, diancam dan menanggung resiko apapun saya tetap Islam tidak mau balik Kristen. Dengar-dengar sekarang ini ia kuliah di Jawa mengambil Pastoral Konseling di sekolah theologi, dalam rangka menjadi seorang pendeta … wallaahu a'lam.

Sejak itu pula saya di PHK keluarga saya. sama nenek saya , Pakde Bud, Bapak-ibu dan adik-adik yang sejak kecil saya yang mengasuh, membiayai pendidikan & pernikahan mereka. Sebenarnya sejak kecil saya sudah sering merasa sangsi, bimbang, bingung, galau dan ragu dengan ajaran Kristen. Banyak sekali kejanggalan, banyak hal tidak sesuai dengan akal sehat, tetapi saya tetap mencoba setia dengan kekristenan saya. Tetap melakukan penginjilan walau kegalauan semakin hari semakin membengkak dan terasa menyiksa. Pindah agama Islam? Wow…..sorry! secuilpun tak ada minat, image Islam tidak menarik sama sekali! kalau benci… memandang rendah …. Ya!.

Namun yang namanya hidayah, kalau Allah menghendaki maka tidak ada seorangpun yang mampu menolaknya meskipun semula ia sangat membencinya.

Saya meragukan kesempurnaan Bible, pikir saya "Kalau buku sudah benar dan sempurna tidak usah direvisi, kalau kitab Injil sudah sempurna mengapa Allah masih menurunkan Al-Qur'an ?" Itulah yang mengusik logika saya dan meluluhkan ke-Kristen-an saya.

Saya mulai meragukan Kristen, NATAL! Perayaan paling meriah dan ibadah paling sakral di dalam Kristen dan dirayakan setiap 25 Desember., tetapi tidak satupun ayat alkitab yang membahasnya atau minimal menyinggungnya, bahkan terbukti perayaan Natal pada tanggal 25 Desember adalah perayaan yang merayakan kelahiran berhala-berhala pra Kristen, yaitu dewa Mithra yang dianggap putra tuhan dan cahaya dunia (dewa matahari), Osiris, Adonis, Dionysus, Khrisna. Jadi jelas bahwa perayaan Natal itu mengadopsi dan melestarikan perayaan tuhan-tuhan para penyembah berhala. Bahkan hari suci mingguan Kristen yang semula menghormati hari Sabat Yahudi yaitu hari Sabtu, oleh Kaisar Konstantin digeser dan disesuaikan dengan hari suci mingguan para penyembah berhala yang memuliakan dewa matahari yaitu Hari Matahari (SUN DAY) / hari Minggu.

Saya juga mulai meragukan isi Alkitab sendiri, misalnya :
Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun. Imamat 10:9

Dalam ayat tersebut Allah melarang minum anggur dan mabuk tetapi kenapa dalam Injil karangan Yohanes 2:7-10 dikisahkan Mukjizat Yesus malah mengubah enam drum air menjadi anggur yang memabukkan ?

Kenapa kisah porno dan cabul bertebaran di 'Kitab Suci Bible' misalnya di dalam kitab Kitab Kidung Agung misalnya :

Kiranya ia mencium aku dengan kecupan!
Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur KA 1:2

Tangan kirinya ada di bawah kepalaku,
Tangan kanannya memeluk aku. KA 2:6

Bagaikan seutas pita kirmizi bibirmu
Seperti dua anak rusa buah dadamu,
Seperti anak kembar kijang yang tengah makan rumput
Di tengah-tengah bunga bakung. KA 4:3,5

Pusarmu seperti cawan yang bulat,
Yang tak kekurangan anggur campur.
Perutmu timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung.
Seperti dua anak rusa buah dadamu,
Seperti anak kembar kijang. KA 7:2-3

Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan
Buah dadamu gugusannya.7
Aku ingin memanjat pohon korma itu dan
Memegang gugusan-gugusannya.
Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan
Nafas hidungmu seperti buah apel KA 7:7-8

Kenapa Allah Yang Maha Esa diakui terdiri dari 3 unsur tuhan tetapi dipaksakan dikatakan satu (trinitas/- tritunggal)? Seabreg kemusykilan dan seabreg masalah yang jauh dari akal sehat dan tidak selaras dengan nalar.

Saya jadi malas pergi ke gereja dan enggan membuka injil karena ada revisinya yaitu Al-Qur'an dan ketika teman meminjami buku berjudul 'Akhlahk Islam' masya Allah saya begitu ta'jub karena hal yang kecil diperhatikan dan ada tuntunan didalam Islam. Misal sehabis bersenggama wajib mandi besar, yang lewat lebih dulu memberi salam, istri pergi tidak cukup minta ijin tetapi suaminya harus ridho. Tentu hal yang besar lebih diperhatikan lagi! Setelah bertahun-tahun dalam kebimbangan, perenungan dan pergulatan batin serta berdoa memohon petunjuk kebenaran kepada Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan, maka saya memutuskan memeluk agama Islam pada Februari 1999.

Beberapa bulan berikutnya saya menikah untuk kedua kalinya dan yang mengantarkan saya pada Islam. Tetapi teman-teman saya yang mayoritas Islam tidak berusaha mendakwahi saya, entah karena tidak PD atau tidak paham bahwa Islam itu agama luar biasa, sempurna!. Tetapi justru saya yang getol menyampaikan Kristen kepada mereka.

Setelah keislaman saya, beberapa ujian datang dari teman-teman/tetangga yang Kristen atau orang Islam yang mencurigai ke-Islam-an saya, usaha saya bangkrut ditipu kyai yang berkedok membimbing saya, saya sempat terperosok ke dalam aliran Islam sesat, suami saya yang staf manajer mengundurkan diri karena diskriminatif. Ketika semangat Islam saya baru bersemi suami meninggal dan saya sakit keras dan sedihnya uang di dompet tinggal Rp.10.000,-.

Seminggu kemudian Ibu saya mengultimatum saya bila memilih Islam biaya hidup mulai kecil dianggap sebagai hutang. Saat ini saya bergabung di Forum Arimatea Solo dan turut berdakwah bahayanya kristenisasi dan membentengi umat Islam dari bahaya pemurtadan. Untuk ini saya sudah 6 kali menerima ancaman, baik akan dilaporkan di kelurahan, kepolisian dan akan dibunuh, tetapi saya tidak gentar karena Allah yang Maha Kuasa dan Maha menepati janji telah menjanjikan "Barang siapa menolong agama Allah maka Allah akan menolongnya" Dan siapapun tidak akan mampu mendatangkan kemudharatan jika Allah tidak menghendaki.

Inilah sekelumit perkenalan saya dan liku-liku hidup saya dalam menerima dan mempertahankan hidayah Al-Islam (al-islahonline)


Eksistensi Warga Muslim Makin Menguat di AS

Dunia Islam Oleh : Redaksi 06 Aug 2007 - 3:51 pm
imageTokoh Muslim AS Yahya Hendi optimis, di masa depan, warga Muslim bisa berperan lebih besar di panggung politik AS. Menurutnya, saat ini, warga Muslim tidak lagi menutup diri dengan kegiatan-kegiatan politik.

Juru bicara lembaga Islamic Jurisprudence Council of North America itu mengatakan, meski kampanye hitam yang dilakukan media massa terhadap warga Muslim dan Islam begitu gencar, belum lagi lobi yang kuat dari kelompok-kelompok Kristen di AS, ia yakin keikutsertaan warga Muslim dalam sektor politik di AS memiliki masa depan yang lebih baik.

"Upaya-upaya serius sudah dilakukan di kalangan generasi kedua dan ketiga warga Muslim untuk menjadi bagian dari pembangunan politik di AS, " kata Hendi di hadapan para akademisi Arab Saudi, dalam rangka kunjungannya ke negara kerajaan itu, Minggu (5/8).

Hendi yang juga menjadi pembimbing agama Islam di Universitas Georgetown mengungkapkan keyakinannya itu, karena menurutnya, umat Islam selalu berpijak pada realitas kehidupan yang ada.

"Tahun lalu, kita memilih warga Muslim pertama yang menjadi anggota Kongres dan saya berharap, pada tahun 2015 ada tiga atau empat orang lagi, dan paling tidak ada 30 walikota, " kata Hendi.

imageSeperti diketahui, pada pemilu tahun 2006 kemarin, seorang warga Muslim Keith Ellison, terpilih sebagai anggota Kongres. Kemajuan di kalangan warga Muslim, menurut Hendi, kini juga terlihat dari bertambah banyaknya jumlah warga Muslim yang menjadi pengacara. Saat, ini jumlahnya mencapai 400 orang, padahal sebelum peristiwa 11 September, jumlah pengacara Muslim hanya sembilan orang di seluruh AS.

Yang membuat peran warga Muslim kurang menonjol, menurut Hendi, karena pemberitaan media massa yang hanya mengedepankan berita-berita negatif tentang warga Muslim dan Islam.

"Tantangan yang kita hadapi adalah dari media dan dari sejumlah penganut Kristen ekstrim yang tidak menginginkan Islam eksis di Amerika, " ujarnya.

Hendi mengatakan, warga Muslim di AS yang jumlahnya mencapai tujuh sampai sembilan juta orang, masih berjuang keras agar Islam bisa menjadi bagian dari masyarakat AS.

Di sisi lain, sejak peristiwa 11 September 2001, makin banyak orang Amerika yang ingin mengetahui lebih dalam tentang Muslim dan Islam. Sehingga saat ini Islam menjadi salah satu agama di AS yang perkembangannya makin pesat. Setiap tahun, kata Hendi, ada sekitar 17 ribu warga AS non Muslim yang masuk Islam. (ln/iol/eramuslim)

LINK :
sumber foto diambil dari situs http://www.imamyahyahendi.com