Sabtu, 28 November 2009

Bab 11 KITAB SUCI Analisis Sebuah Kitab Yang Paling Sahih

Pendahuluan

Walaupun sebagian besar masyarakat mengetahui bahwa kitab suci umat Muslim disebut Alquran, mereka umumnya tidak mengetahui bahwa agama Islam mempunyai kitab suci lain yang dipandang oleh umat Muslim sebagai kitab yang setara kedudukan dan inspirasinya dengan Alquran. Kitab suci umat Islam yang lain tersebut dinamakan Hadis. Hadis adalah kumpulan dari tradisi umat Muslim yang mula-mula yang di dalamnya tercatat sabda dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Muhammad, menurut apa yang diceritakan oleh para isteri Muhammad, para anggota keluarganya, sahabat-sahabat dekat Muhammad serta pimpinan umat Muslim, yang umumnya tidak tertulis dalam Alquran.

Hadis Yang Diilhamkan

Ilmuwan Muslim, Dr. Muhammad Hamidullah, dalam bukunya yang berjudul Introduction of Islam, menyatakan bahwa pengemban dan wadah dari ajaran-ajaran Islam yang asli adalah Kitab Alquran dan Hadis” (halaman 50). Dia menambahkan bahwa “Alquran dan Hadis” merupakan landasan dari semua hukum Islam” (halaman 163). Menurut Dr. Hamidullah alasan umat Muslim memuliakan Hadis seperti halnya Alquran adalah karena Hadis merupakan ilham ilahi sama seperti Alquran.

Ajaran-ajaran Islam didasarkan terutama pada Alquran dan Hadis, dan, seperti yang dapat kita lihat bahwa kedua kitab tersebut didasarkan pada ilham Ilahi (halaman 23).



Itulah sebabnya mengapa para penulis Muslim seperti Hammudullah Abdalatati dalam bukunya yang berjudul Islam in Focus (The Muslim Converts’ Association of Singapore, Singapore, 1991), menyatakan bahwa Hadis dipandang sebagai sumber ajaran agama Islam yang kedua setelah Alquran, karena:

Semua pasal-pasal tentang iman…….didasarkan pada, atau diturunkan dari ajaran-ajaran Alquran dan Tradisi (Hadis) nabi Muhammad (halaman 21).

Jadi tidaklah mengherankan kalau bahan-bahan dalam Hadis dianggap oleh mat Muslim ortodoks setara kedudukan dan inspirasinya dengan Alquran.

Terjemahan yang akan Kami Gunakan Sebagai Acuan

Kami akan mengacu pada terjemahan Hadis yang berjumlah Sembilan jilid yang dikerjakan oleh Dr. Muhammad Muhsin Khan yang diberi judul The Translation of the Meaning of Sahih Al-Bukhari (Kazi Publications, Lahore, Pakistan, 1979).

Buku tersebut direkomendasikan dan disetujui oleh para pimpinan Muslim termasuk pimpinan spiritual Islam di Mekkah dan Medinah.

BERDASARKAN PADA AL-BUKHARI

Dr. Khan telah menterjemahkan dengan tepat seluruh kitab Hadis yang dikumpulkan oleh seorang ilmuwan Hadis yang paling terpercaya yang bernama Al-Bukhari.

Dalam bagian pendahuluan Dr. Khan menyatakan: Dengan suara bulat telah disetujui bahwa hasil karya Imam Bukhari merupakan hasil karya tulis Hadis yang paling otentik dari semua hasil karya literatur Hadis yang pernah ditulis orang.

Karena sedemikian tinggi keotentikan dari hasil karya Al-Bukhari tersebut sampai-sampai para ilmuwan Islam mengatakan bahwa “Kitab yang paling otentik setelah kitab Allah (yaitu Alquran) adalah “Hadis Shahih Bukhari” (halaman xiv). Dia hanya memilih sekitar 7275 Hadis yang tidak diragukan lagi keotentikannya. Allah menyatakan kepadanya Kitab Alquran yang agung dan kitab Inspirasi Ilahi yang kedua yaitu Kitab Hadis (Tradisi) yang ditulisnya. Anda berkewajiban untuk berusaha dengan keras melakukan perbuatan baik menurut tradisi Muhammad seperti yang jelas dinyatakan dalam Hadisnya (halaman xvii).

Dr. Khan tidak ragu-ragu untuk menyatakan bahwa hadis ini sebagai “Inspirasi kedua” serta menyatakan bahwa setiap Muslim dikenakan kewajiban untuk mengimaninya dan mentaatinya.

DILEMA MUSLIM

Kenapa kami merasa perlu terlibat sedemikian jauh membuktikan bahwa para pemuka Islam tertinggi telah beranggapan bahwa Hadis itu adalah hasil pengilhaman dan punya otoritas ilahi? Tidak lain karena umat Muslim terkadang akan menolak Hadis itu sendiri manakala mereka dihadapkan dengan beberapa ajaran Muhammad yang jelas tidak masuk akal yang terdapat di dalam Hadis.

Dalam suatu program radio, seorang Muslim mendebat sebagai berikut: Muhammad adalah nabi Allah. Jadi dia tidak mungkin mengatakan hal yang sangat bodoh seperti menyarankan agar kita minum air kencing onta. Jadi anda adalah pembohong Dr. Morey. Hadis tidak mungkin mengatakan demikian.

Tetapi setelah saya menunjukkan dalam Hadis bahwa Muhammad memang merekomendasikan air kencing onta, dia kemudian berkelit:

Kami, umat Muslim, hanya mengenal kitab suci Alquran sebagai kitab Allah. Kami tidak menerima Hadis sebagai ilham Ilahi.

Tentu saja, dia harus menolak Hadis sebagai hasil pengilhaman agar dia terhindar dari kewajiban membela Muhammad dalam urusan minum air kencing.

Kami memahami dilema yang dihadapi umat Muslim modern. Sementara mereka dengan sungguh-sungguh ingin mempertahankan bahwa Muhammad adalah rasul Allah, Hadis justru dengan jelas menyatakan bahwa Muhammad tidak mungkin diilhami Ilahi sebab dia mengajarkan banyak hal yang tidak saja salah telak, tetapi juga konyol.

Beban Tambahan, Berat dan Tak Tertahankan

Dalam pikiran masyarakat Barat, bahan-bahan yang terdapat dalam Hadis ibaratnya seperti beban tambahan yang amat berat yang tak tertahankan. Jika Muhammad sungguh-sungguh seorang nabi dan rasul, umat Muslim harus mempertahankan sesuatu yang sesungguhnya tidak dapat dipertahankan.

Informasi Jaman Pra-Islam

Hadis menyajikan banyak bahan mengenai Arabia pada zaman pra-Islam yang tidak disinggung dalam Alquran. Contohnya dalam Hadis nomer 658, vol.3 dan Hadis nomor 583, vol.5, kita diberitahu bahwa ada 360 berhala di Kaabah ketika Muhammad menaklukkannya. Informasi semacam ini tidak terdapat di dalam Alquran. Namun, informasi tersebut memang merupakan petunjuk-petunjuk penting mengenai kebiasaankebiasaan keagamaan pada zaman pra-Islam.

Ritualisme

Hadis berisi rincian-rincian yang sangat rumit mengenai bagaimana dan dengan cara apa berbagai upacara keagamaan dan hukum-hukum Islam dilaksanakan.

Analisis rinci mengenai sembilan jilid Hadis tersebut sangat bermanfaat karena dapat memberi penjelasan tambahan mengenai konsep-konsep Alquran serta pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan Muhammad.

Asal Usul Ritual-Ritual Islam

Dengan senang hati kami menyajikan ringkasan Hadis kepada para pembaca yang ingin tahu mengenai asal usul dari beberapa ritual dan hukum Islam yang sebelumnya merupakan hal yang asing bagi mereka. Banyak dari ritual-ritual “asing” tersebut sesungguhnya berasal dari Hadis dan bukan dari Alquran.

Kekuatan Pendorong

Yang menjadi nafas hidup Hadis adalah pertanyaan, “Apa yang harus saya lakukan agar diampuni oleh Allah dan dimasukkan ke dalam Surga?”

Dalam Hadis, Muhammad tidak memberikan gambaran selayang pandang yang samar-samar, tetapi mengungkapkan kepada para pembaca dengan jelas mengenai apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, dan bagaimana tata tertib pelaksanaannya.

Contohnya, Muhammad meletakkan dasar aturan yang sangat spesifik mengenai bagaimana, dimana, dan dengan cara bagaimana seseorang harus buang air kecil. Mentaati peraturan buang air kecil ini sangat menentukan apakah anda akan masuk api neraka atau masuk Surga.

Asumsi Mendasar

Asumsi yang menjadi dasar dari segenap Hadis adalah bahwa tanpa pengampunan dari Allah, tidak ada jalan masuk ke Surga. Api neraka menunggu mereka yang tidak mendapatkan perkenan Allah.

Tetapi untuk memperoleh perkenan dan pengampunan Allah tidaklah mudah. Seseorang harus berusaha keras untuk mendapat pengampunan Allah dengan cara menjalankan dengan tekun serangkaian dan ritual-ritual agama. Satu kesalahan saja dapat membatalkan semua perbuatan baik dan ketaatan yang telah anda kerjakan.

Tidak ada konsep keselamatan melalui anugerah Tuhan di dalam Hadis. Hadis mencanangkan serangkaian aturan-aturan dan ritual-ritual agama yang harus dilakukan untuk memperoleh keselamatan. Orang-orang Muslim yang mengabaikan aturan-aturan dan ritual-ritual agama tersebut sangat membahayakan jiwa mereka yang bersifat kekal.

Bab 8 KITAB SUCI ISLAM

Susunan Alquran

Ketika seseorang yang sudah terbiasa dengan Alkitab, lalu mengambil Alquran dan mulai membacanya, dia segera menyadari bahwa dia sedang berurusan dengan literatur yang seluruhnya berbeda dengan yang ditemukan dalam Alkitab.

Sementara Alkitab berisi banyak narasi sejarah, Alquran sangat miskin sejarah. Sementara Alkitab memberi penjelasan mengenai istilah-istilah atau teritori-teritori yang tidak dikenal, Alquran tidak memberi penjelasan terhadap hal-hal tersebut.

[ Sementara Injil menampilkan penggenapan nubuat dan saksi-saksi mata, Alquran tidak memberikan nubuatan, bukti dan saksi!].

Perbedaan-Perbedaan Struktural

Pada kenyataannya, cara Alkitab disusun sebagai suatu kumpulan dari 66 buah Kitab menunjukkan bahwa Alkitab diatur sesuai dengan kronologi, subyek, dan temanya.

Namun ketika anda berbalik kepada Alquran, anda akan menemukan susunan yang membingungkan dan campur aduk dari setiap Surat.

Beberapa ilmuwan Barat menyatakan bahwa struktur Alquran demikian campur baurnya, sehingga membutuhkan kerja keras buat seseorang untuk menggali isinya.

[ Dengan perbedaan format, struktur dan narasi antara kedua Kitab ini, cukuplah untuk mempercayai bahwa keduanya tidak datang dari sumber yang sama].

Komentar-Komentar Pakar

Ilmuwan Skotlandia, Thomas Caryle suatu saat mengatakan:



Sungguh bacaan yang sangat melelahkan ketika saya membacanya. Suatu yang menjemukan, campur aduk, dengan loncatan-loncatan narasi, acak-acakan yang membingungkan. Tidak ada pilihan lain kecuali kerja keras yang harus dilakukan orang Eropa kalau ingin memahami Alquran.

Ilmuwan Jerman, Salomon Reinach menyatakan:

Dari sudut pandang kesusasteraan, Alquran hanya sedikit manfaatnya. Deklamasi, pengulangan-pengulangan, mentah dan ketidak logisan, lepas-lepas, tidak menyatu, akan menyulitkan setiap pembaca polos untuk membacanya. Sungguh merendahkan martabat intelektual manusia memikirkan bahwa untuk sebuah Kitab yang mutu literaturnya tidak seberapa ini telah menjadi subyek dari sekian banyak komentar dan bahwa jutaan manusia telah membuang waktu secara sia-sia untuk mencernakan.

Ahli sejarah Edward Gibbon telah mendiskripsikan Alquran sebagai “suatu pujian fabel, suatu ajaran, serta deklamasi yang tidak menyatu yang kadang-kadang meninggi hilang di awan-awan.

Encyclopedia McClintock dan Strong menyimpulkan: Yang merupakan masalah dari Alquran yaitu bahwa Kitab tersebut sangat tidak koheren, menggunakan bahasa bunga, serta tidak memiliki alur berpikir yang logis secara keseluruhan maupun secara bagian demi bagiannya.

Bahkan ilmuwan Muslim, Ali Dashti mengeluhkan rendahnya mutu kesusasteraan Alquran sebagai berikut: Patut disayangkan bahwa pengeditan Alquran sangat jelek dan susunan isinya sangat tidak teratur. Semua siswa dalam mata pelajaran Alquran menyayangkan mengapa para editor Alquran tidak menggunakan metode yang logis yang biasa digunakan dalam menyusun urutannya menurut waktu wahyu tersebut diterima. Kenapa tidak mengikuti susunan kronologis seperti halnya dengan teks Alquran yang hilang milik Ali bin Abi Thaleb.

Buku Referensi Islam Standar, The Concise Encyclopedia of Islam, menyebutkan “Ciri-ciri tak beraturan dan tak bersatu sendi” dari teks Alquran.

Untuk menemukan tulisan-tulisan yang pararel dengan Alquran, seseorang harus menyelidiki mengenai kesusasteraan Arab zaman pra-Islam dimana kita dapat menemukan banyak contoh ekstatik semacam ini serta bahan-bahan puitis yang membingungkan.

[ E.H Parker, Guru Besar Universitas Cambridge, ahli bahasa Arab yang menterjemahkan Alquran ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1876, menyatakan bahwa bahasa Alquran itu “kasar dan tidak teratur”. Tetapi pakar Muslim menanggapi pernyataan E.H Parker ini dengan mengatakan bahwa dia tidak dapat memahami keindahan bahasa Alquran].

Mekah Dan Medinah

Pelayanan keagamaan Muhammad sebagaimana yang tercantum dalam Alquran tersebar dalam dua periode. Periode pertama berlangsung di Mekah paling tidak sebelum tahun 612 sesudah Masehi dan berjalan selama kurang lebih 10 tahun. Periode kedua dipusatkan di Medinah dan sekali lagi berlangsung kurang lebih 10 tahun sampai Muhammad meninggal tahun 632 sesudah Masehi. Kedua bagian pelayanan tersebut telah diakui oleh para ilmuwan pada umumnya.

Kematian Yang Tidak Diramalkan

Sebagaimana yang telah kami sampaikan, Muhammad tidak bisa meramalkan kematiannya sendiri, walaupun dia menyatakan dirinya adalah Nabi Tuhan. Oleh karenanya Muhammad tidak mempersiapkan untuk mengumpulkan dan menyusun semua berkas-berkas dari wahyu yang diterimanya dalam satu kumpulan dokumen.

[ Ia juga tidak sempat tinggalkan wasiat, kepada siapa pimpinan Islam harus diserahkan dan diteruskan].

Tidak Ada Naskah Aslinya

Dari catatan sejarah yang tidak ada keraguan dalam ketelitiannya yang dapat dipercaya, kita mengetahui bahwa ketika Muhammad mengalami keadaan seperti orang kerasukan (trans) dan kemudian berbicara kepada orang-orang lain tentang apa yang dilihatnya selama tenggang waktu itu, dia tidak menulis sendiri ceritanya itu dalam suatu naskah.

Berbeda dengan pernyataan-pernyataan tanpa landasan yang diungkapkan oleh sebagian pembela Islam modern, Muhammad sendiri tidak menulis atau menyiapkan naskah akhir Alquran.

Kematiannya tidak terduga baik oleh para pengikutnya maupun oleh dirinya sendiri. Dia bahkan tidak punya kesempatan untuk mengumpulkan catatan-catatan dari sejumlah Surat yang berceceran.

Tulang-Tulang, Daun-Daun, Dan Batu-Batu

Segalanya tergantung pada para pengikut Muhammad untuk mencoba dan mencatatkan apa yang pernah Muhammad ucapkan. Catatan-catatan ini ditulis sebisanya di atas bahan-bahan yang seadanya tersedia di kala Muhammad mengalami keadaan kesurupan (trans) yang tak terduga sambil menerima wahyu.

The Concise Encyclopedia of Islam berkomentar:

Alquran dikumpulkan dari apa yang dituliskan pada lapisan luar benda-benda atau apapun yang dapat ditemukan, dari potongan-potongan papyrus, batu-batu rata, daun palem, tulang belikat atau tulang rusuk binatang, potongan-potongan kulit, papan-papan kayu, dan…dari hafalan orang-orang yang mengetahuinya.

Bahkan ilmuwan Muslim yang dikenal secara internasional Mandudi, mengakui bahwa Alquran aslinya dicatat pada daun-daun pohon kurma, kulit-kulit pohon, tulang dan lain-lain.

Di kala tidak ada benda-benda di sekelilingnya yang dapat ditulisi, mereka berusaha menghafalkan wahyu yang diperoleh Muhammad sedapat mungkin mendekati aslinya. Menurut Mandudi tugas yang dihadapi oleh para pengikut Muhammad setelah kematiannya yang tidak terduga adalah mengumpulkan semua kotbah-kotbah Muhammad yang berceceran, sebagian bahkan ditulis pada benda-benda yang dapat memudar, sebagian yang lain tidak ditulis tetapi hanya berdasarkan hafalan.

Hal ini tentunya menimbulkan kesulitan besar. Beberapa kulit pohon hancur atau rusak dan beberapa batu hilang. Lebih parah lagi, seperti yang ditulis Ali Dashti, hewan-hewan pada masa itu makan daun palem atau lembaran anyaman daun-daunan di atas mana tertulis Surat-Surat Alquran.

Beberapa orang yang mengetahui Surat-Surat tertentu telah mati dalam peperangan sebelum mereka sempat menyalin apa yang telah mereka dengar/ketahui.

Pengumpulan bahan-bahan Alquran berlangsung beberapa tahun. Banyak masalah muncul karena daya ingat dan hafalan-hafalan seseorang tidak persis sama dengan orang lain. Hal ini merupakan salah satu kelemahan manusia yang tidak dapat diabaikan. (Ketika lebih dari satu orang yang hadir dan mendengar kotbah yang sama diminta untuk menceritakan kembali apa yang mereka dengar sering timbul silang pendapat mengenai apa yang persis diucapkan oleh si pengkotbah!)

Seperti yang akan kita lihat nanti, masalah perbedaan tersebut diatasi/dipecahkan dengan menggunakan cara kekerasan fisik dan memaksa orang-orang untuk menggunakan hanya salah satu versi saja tentang apa yang pernah dikatakan Muhammad. Tidak diberi peluang untuk mengakomodasikan versi-versi lain dari catatan tentang apa yang diucapkan Muhammad itu.

Urut-Urutan dari Surat-Surat Alquran

Jika anda membuka Alquran, anda akan menemukan bahqa 114 Surat, atau wahyu, yang diberikan kepada Muhammad memang tidak tersusun menurut urutan kronologis ketika mana wahyu diturunkan. Seandainya telah tersusun menurut urutan kronologis pasti Surat pertama adalah merupakan wahyu yang diterima Muhammad pertama pula dan Surat terakhir pasti juga merupakan wahyu terakhir.

[ Wahyu pertama dari Allah yang diterima Muhammad dari langit, kini di dunia menjadi Surat urutan yang ke-96 (Al’Alaq). Urutan kronologis turunnya wahyu ditiadakan, dan diganti dengan urutan acak, sehingga malah berubah berdasarkan sisipan ayat susulan dan panjangnya Surat!

Surat Pertama al-Fatihah yang ada sekarang ini tidak diketahui kapan diturunkan. Tidak seorang pakar Islam-pun yang tahu di mana posisinya ketika diturunkan: sebelum atau sesudah Surat apakah? Utsman menempatkannay sebagai Surat pertama, namun kehadirannya sebagai Surat wahyu ditolak oleh Ibnu Mas’ud, sahabat Muhammad yang paling berotoritas dalam surat-surat Makkiyah].

Alquran juga tidak disusun dengan menggunakan pola narasi sejarah yang runtun di mana kita dapat mengikuti kehidupan, tindakan-tindakan, dan pengajaran-pengajaran yang dilakukan oleh Muhammad mulai dari awal sampai akhir.

Sebaliknya kita dihadapkan pada kumpulan Surat-Surat yang campur baur yang tidak menggambarkan adanya pola penyusunan secara wajar sesuai konteksnya.

Cara Alquran dibundel oleh penerus Muhammad setelah dia meninggal semata-mata hanya berdasarkan ukurannya (panjangnya/volum-nya). Jadi Alquran disusun mulai dari Surat yang paling panjang sampai pada Surat yang paling pendek, dengan tidak memperdulikan urutan kronologisnya turunnya wahyu.

[ Dan itu diklaim dengan mengatas namakan “Penetapan Nabi” berdasarkan permakluman Jibril. Padahal urutan ayat dan Surat tidak pernah ditetapkan oleh Muhammad secara baku.

Lihat balik tradisi, ketika mana Muhammad mengadakan pengajian ayat Surat-surat Quran dari waktu ke waktu. Adakah pembacaan/pengajian itu memastikan satu metode baku pengurutan? Ibnu Mas’ud dalam satu acara khusus pernah mendemonstrasikan mengaji hingga lebih dari 70 Surat (di mana Muhammad sendiri hadir dan tidak ada yang menyalahkan pengajiannya, (Sahih Muslim, vol 4, hlm 1312), namun jelas pengajian ini TIDAK MENURUTI URUTAN SURAT YANG BAKU, terbukti Ibnu Mas’ud sendiri menolak Al-Fatihah dan Surat 113 dan 114 sebagai wahyu Allah (lihat Al-Itqan dalal bab Pengumpulan Alquran). Kronologi urutan sebenarnya mutlak dibutuhkan karena Allah SWT sendiri berulang-ulang menurunkan ayat-ayat baru “nasakh” untuk mengganti ayat-ayat lama “mansukh” yangt dibatalkan-Nya.

Jadi per definisi, konsep dasar “nasakh-mansukh” adalah bersifat kronologis. Apakah mungkin Allah SWT sekali menurunkan ayat-ayat kronologis, lalu sengaja mengacakkan ayat-ayatNya, sambil sebagiannya di-nasakh-kan dan dibatalkan, kemudian semuanya ditempatkan dalam Surat-surat yang nantinya diurut lagi berdasarkan panjangnya? Kedengarannya amat melecehkan Daya Cipta-Nya]

Penanggalan Surat-Surat Alquran

Dalam pelayanan kerohanian, setiap pimpinan agama cenderung bersuara makin panjang sesuai dengan makin lamanya pelayanannya. Maka sebagian besar ilmuwan percaya bahwa Surat-Surat Alquran yang pendek adalah bagian dari Surat-Surat awal yang diajarkan Muhammad. Seiring dengan berjalannya waktu dan banyaknya pesan yang akan disampaikan, Surat-Surat Alquran menjadi makin panjang.

[ Itu namanya pentahapan yang baik. Tetapi sekalipun Quran mengakui pewahyuan tahapan-angsur berdikit-dikit (QS. 76: 23 dll), namun justru Utsman menyusunnya berdasarkan keterbalikan 180 derajat dari pentahapan yang baik dan logis ini].

Namun sesekali terjadi pula campuran wahyu-wahyu yang diturunkan di Mekah (disebut Surat Makkiyah) dengan wahyu-wahyu yang diturunkan di Medinah (disebut Surat Madaniyah) di dalam satu Surat yang sama. Sehingga sekalipun urutan Alquran mengacu kepada ukuran (panjangnya) Surat, namun hal itu tetap merupakan suatu cacat terbuka dalam pemberian urutan pada Surat-Surat Alquran yang seharusnya baik dan sempurna.

Kata Ganti Orang Pertama

Umat Muslim menyatakan bahwa Alquran selalu ditulis dalam kata ganti orang pertama (maksudnya aku, saya, atau kami), karena Allah sendiri sebagai Aku berbicara pada manusia. Pernyataan semacam ini, bagaimanpun, tidak sesuai dengan teks Alquran. Banyak bagian yang dengan jelas menunjukkan bahwa bukan Allah yang berbicara, tetapi Muhammad.

[ Contoh yang amat menyolok adalah Surat Al-Fatihah, di aman wahyu dari muluit Allah telah dimulai sejak dari ayat 1, ayat basmalah. Ayat ini, bersdama dengan ayat 2, 3, dan 4, memperlihatkan betapa Allah memuji diriNya sendiri. Namun selanjutnya, tiba-tiba mulut Allah berganti menjadi mulut manusia yang menyerukan “ayat” 5, 6, 7: “Hanya engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada engkaulah kami mohon pertolongan, tunjukilah kami jalan yang lurus”?].

Pengulangan Tiada Akhir

Masalah lain yang berkenaan dengan Alquran yaitu bahwa Alquran ditujukan untuk dihafalkan oleh orang-orang yang buta huruf dan tidak berpendidikan, sehingga Alquran menekankan pada pengulangan-pengulangan yang sama secara terus-menerus.

Akibatnya orang seringkali menemukan cerita-cerita yang sama yang diulang-ulang dalam Alquran. Bagi masyarakat buta huruf, pengulangan yang banyak itu memang sangat membantu mereka mengenal Alquran, namun bagi orang-orang berpendidikan hal tersebut hal yang sangat membosankan.

“Rasa” yang Benar (the right “feel”)

Pengamatan terakhir mengenai Alquran memberi kesan dan rasa bahwa Alquran tidak merupakan suatu karya yang lengkap.

Kalau anda membuka Alkitab, anda akan melihat bahwa Alkitab berawal dengan kalimat pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi (Kej. 1: 1)

Ketika anda terus membaca isi Alkitab, anda akan mengetahui adanya urutan kronologis mulai dari penciptaan, kejatuhan manusia ke dalam dosa, air bah, menara Babel, panggilan Abraham, tua-tua Alkitab, panggilan Musa, keluarnya bangsa Israel dari tanah perhambaan, pembentukan bangsa Israel, Israel menjadi bangsa tawanan lagi, orang-orang Israel dalam pembuangan, mereka kembali di bawah perintah Cyrus, pembangunan kembali Israel, nubuatan akan datangnya Messiah, kedatangan Messiah dan kehidupanNya, kematianNya, kebangkitanNya, dan berawalnya zaman gereja…Kemudian anda akan sampai pada buku terakhir dalam Alkitab, dan anda akan membaca mengenai berakhirnya alam jagat raya.

Alkitab memberi rasa dan kesan utuh, lengkap, karena diawali dengan pernyatan pada mulanya dan berlangsung terus sampai berakhirnya sejarah manusia.

Tidak Ada Awal, Tidak Ada Akhir

Tetapi kalau anda memperhatikan Alquran, karena kondisinya yang tidak beraturan, anda tidak akan dibawa kepada perasaan yang komplit. Anda merasa ada sesuatu yang lepas ngambang, setelah anda membaca Surat demi Surat, karena tidak ada kaitan kelogisan antara Surat yang satu dengan Surat yang lain.

Contohnya, satu Surat membahas mengenai hal sepele, bahwa Allah menghendaki agar para istri Muhammad berhenti berdebat dan cekcok di hadapannya, sementara Surat berikutnya meloncat mengenai penyerangan atas berhala-berhala Arab. Jadi anda merasakan sesuatu yang tidak utuh, juga merasa tida puas karena anda tidak dapat mengetahui inti ceritanya, apalagi secara keseluruhan.

[ Alquran mempunyai surat yang diklaim sebagai prolog yaitu Al-Fatihah, namun tanpa epilog. SURAT PENUTUP seharusnya ada demi merangkum ayat-ayat penutupan yang strategis, dan sekaligus memeteraikan amanat atau kesimpulan, pesan dan janji-janji Allah yang akan “pamit” berwahyu bagi uamtNya. Surat 114 (An-Naas, manusia) DITEMPATKAN TERAKHIR, namun itu hanya pinjam tempat saja. Ia bukanlah Surat dengan wahyu-wahyu khas penutupan Allah. Ia tidak memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri di antara surat-Surat lainnya bagi orang-orang Muslim. Apalagi isi Surat 114 ini pengulangan yang dipersempit dari Surat 113, yaitu sebentuk permohonan perlindungan kepada Tuhan dari kejahatan makhlukNya, jin dan manusia. Tambah ironisnya, Surat An Naas bersama dengan Surat Al-falaq (Surat al-Muauwadsatain) justru bermasalah, karena Ibnu Mas’ud menolak al-Muauwadsatain dan Al-Fatihah sebagai bukan bagian dari Al-Quran. (baca Al-Itqan bab tentang Pengumpulan Alquran).

Lain lagi Surat Al-Fatihah, yang memperlihatkan bahwa semula Surat tersebut tidak termasuk dalam Alquran, melainkan perkembangan tradisi bersembahyang-lah yang menjadikan ia diterima sebagai bacaan Quran (Imam Malik dalam Muwatta, Buku III/no 3.9.39). Karena tradisi yang berkembang mencari bentuknya, maka naskah Al-Fatihah menurut versi Shiah, dijumpai berlainan teksnya dibandingkan dengan teks Utsman (lihat Tadhkirat al-A’imma, Muhammad Baqir Majlisi, edisi Teheran 1331,p.18).

Abu bakar al-Asamm, imam masjid di Wasit dan guru Abu Bakar an-Naqqash, menyatakan bahwa Surat Al-Fatihah pada mulanya tak termasuk dalam bagian Quran, alias non wahyu (Ibnu al-Jazari Tabaqat, no.3943, vol II, p.404)].

Tradisi Yang Jalin-Menjalin Ke Dalam Wahyu

Tradisi dan pelaksanaan ibadah shalat/doa dan lain-lain, di masa awal perkembangan Islam bukanlah seperti apa yang kita kenal sekarang ini. Alquran memcatat banyak sekali ayat lepas, ayat secara bertahap yang menyuruh ruku’ (QS 2: 43, 3: 43, 22:77, 77: 48, dan lain-lain), ada yang ditahapkan bersujud (QS 15:98, 17: 107, 25:64, 84:21, dan lain-lain), ada yang menyuruh berdiri QS 25: 64, shalat berjamaah, bahkan ada doa santai ketika berdiri, duduk, dan berbaring, QS 3: 191. Semuanya masih mencari-cari bentuk. Quran umumnya menyebutkan 2 waktu bersembahyang, bukan 5 (yaitu “siang dan malam”, atau “pagi dan petang”, atau “sebelum dan sesudah matahari terbit”, lihat QS 17: 78, 20: 130, 24: 36, 50: 39, 76:25 dan lain-lain).

Memang ada ayat-ayat shalat hanya untuk malam hari, atau di tengah-tengah siang hari tanpa waktu khusus. Namun di manapun tidak pernah ada perintah 5 waktu shalat yang persis yang ditetapkan oleh Alquran.

Dalam perkembangannya, pola dan tradisi sembahyang Nabi yang awal-awalnya berbasiskan wahyu tahapan itu segera “dikalahkan” dalam jalinan ritual tradisi (non wahyu) yang semakin formak sehingga timbul aturan 5 waktu persis untuk bershalat! Dan ini diadopsi sebagai WAHYU!

Hiruk pikuk perubahan shalat bukan hanya terbatas soal waktu, tetapi juga menyangkut pembatalan tata cara bersembahyang:

Kiblat shalat yang tadinya menghadap Yerusalem diubah menjadi menghadap Baitullah. Sembahyang malam yang tadinya diwajibkan separuh waktu setiap malam, tiba-tiba diringankan Allah menjadi bersembahyang dan membaca Alquran menurut apa yang dianggap mudah/nyaman.

Ayat-ayat wajib sembahyang tahajud yang panjang akhirnya juga dicabut. Penggantian ini terjadi begitu saja lewat satu Surat Makkiyah yang pendek, yaitu Surat 73.

Al-Fatihah tidak tercatat keabsahannya sebagai wahyu (kapan, di mana, bagaimana turunnya dan diperkenalkan), namun dalam perkembangannya dimufakati begitu saja sebagai wahyu agung, diberi nama Surat Al-Fatihah (bukan nama dari wahyu), dan karenanya ditempatkan urutannya sebagai Surat pertama.

[ Tidak heran Ibnu Mas’ud menolaknya sebagai wahyu, dan Rasululah sendiri memang sempat rancu menetapkan apakah Al-Fatihah wajib dibaca dalam shalat atau tidak. Di satu pihak ia berkata dalam tradisi (di luar wahyu) bahwa “tidak (sah) shalat orang yang tidak membacakan Al-fatihah”. Namun di lain pihak diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim bahwa Rasululah SAW mengatakan kepada seseorang yang belum baik bacaan shalatnya: “ Apabila engkau melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah ayat-ayat Alquran yang mudah untukmu” (tidak harus membaca Al-Fatihah). Dan ini bahkan diberlakukan umum oleh wahyu Allah sendiri (QS 73:20): “maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Alquran.” (bukan Al-Fatihah).

Dominasi tradisi shalat juga tampak ketika Abu Ubaida, menyusuli Ibnu Mas’ud menolak Al-Fatihah sebagai bagian Alquran. Orang-orang justru menepis penolakan Abu Ubaida itu dengan alasan bahwa “Surat Al-Fatihah” memang telah menjadi terlalu populer sehingga tidak ada masalah yang perlu dipersoalkan (The True Guiedance, IV.p.58)]

Kesimpulan

Bandingkan rumitnya “koordinasi ilahi” yang runtun dan utuh buat 66 kitab dalam Alkitab yang ditulis dalam kurun waktu beberapa ribu tahun oleh paling sedikit 40 orang penulis yang saling asing dan berbeda. Lalu kontraskan dengan Alquran yang tidak runtun walau diturunkan hanya lewat satu tangan (Muhammad) selama satu masa hidupnya, maka pasti anda tidak akan berhasil membandingkan keduanya. Terlalu superior yang satu terhadap yang lain!

Klaim sepihak bahwa Alquran adalah merupakan kelanjutan dari Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sesungguhnya hanya merusak citra Islam sendiri, karena dalam analisis akhir, diketahui bahwa substansi, struktur dan gaya sastera Alquran sama sekali tidak cocok dengan yang bisa dijumpai dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

[ Sejarah tidak pernah menemukan Kitab Suci Israel bereksistensi seperti Quran].

Sebagian besar ilmuwan menyimpulkan bahwa bila kita berangkat dari Alkitab dan melanjutkannya ke Alquran sama saja artinya dengan berangkat dari yang bermutu tinggi menuju kepada mutu rendah, dari yang besar kepada yang kerdil, dari yang nyata kepada yang maya. –

Bab 10 Pengkajian Ilmiah Atas Alquran

Sangat mengherankan bahwa banyak umat muslim modern merasa bahwa mereka mempunyai hak dan kebebasan penuh untuk mengkritik Alkitab dengan mengatakan bahwa Alkitab itu korup (dicatut dan dikotori) dan isinya saling bertentangan, tetapi ketika seseorang berani mengkritik Alquran seperti halnya mereka mengkritik Alkitab, mereka akan menyebutnya sebagai orang yang biadab, ofensif dan rassialis!

Buku Bucaille
Salah satu contoh dari hal tersebut di atas adalah buku yang ditulis oleh Maurice Bucaille yang berjudul The Bible, The Quran and Science. Bucaille telah melancarkan serangan total atas pengilhaman dan teks-teks Alkitab. Dan terhadap Alquran ia meyakinkan pembacanya bahwa Alquran memiliki “keontetikan yang tidak terbantahkan”. Dia tidak membahas banyaknya masalah yang dapat ditemukan di Alquran, namun di hanya menghabiskan waktu untuk menyerang Alkitab semata. Pada kenyataannya, orang-orang malahan telah mempersoalkan Alquran sejak awalnya dan mereka masih terus mempersoalkannya sampai sekarang.

Beberapa Masalah
Ada beberapa masalah berkaitan dengan metodologi yang diungkapkan oleh Bucaille.
Pertama, baik Alquran maupun Hadis membenarkan Alkitab sebagai Firman Tuhan yang telah diilhamkan pada manusia dan seringkali mengacunya sebagai sumber kekuatan atas dasar mana Muhammad mengajar dan bertindak. Jadi sekali Alkitab direndahkan, Alquran dan Hadispun akan ikut direndahkan.
Kedua, Bucaille melanggar salah satu dari hukum logika yang paling mendasar. Dia sebaliknya mengira bahwa bila dia dapat “menyangkal kebenaran Alkitab” maka Alquran dapat ditegakkan. Namun Anda bagaimanapun juga, tidak dapat membuktikan posisi kebenaran anda dengan menyalah-nyalahkan posisi orang lain. Secara logika, Alkitab, Alquran dan Hadis mungkin saja salah semuanya. Alquran tidaklah diilhamkan hanya karena Kitab Suci lainnya tidak diilhamkan. Masing-masing Kitab akan tetap tegak atau jatuh tergantung pada kualitas dan keunggulannya sendiri.

Alasan Putar-Putar (Circular Reasoning)
Sebagian Muslim lagi-lagi menggunakan cara berpikir yang berputar-putar tak berujung pangkal ketika berurusan dengan Alquran.
Mereka telah memutlakkan kebenarannya padahal seharusnya masih memerlukan pembuktian.
Muslim : Muhammad adalah Nabi Allah
Non Muslim : Apa itu benar?
Muslim : Alquran yang menyatakan demikian.
Non Muslim : Apa Alquran benar?
Muslim : kan, muhammad itu Nabi Allah.

II. Muslim : Alquran tanpa salah
Non Muslim : Mengapa hal itu benar?
Muslim : Karena Alquran menyatakan demikian.
Non Muslim : Tetapi mengapa Alquran benar?
Muslim : Alquran tanpa salah
Kita tidak perlu putar-putar dalam satu lingkaran tanpa ujung pangkal, tetapi kita harus menyerahkan Alquran agar dapat diuji secara ilmiah dan kristis. Jika Alquran benar, ia akan bertahan dalam setiap pengujian. Tetapi jikalau Alquran salah, lebih baik mengetahuinya sekarang daripada terus mengimaninya secara buta.

Kitab Injil Barnabas
Ada usaha yang baru-baru ini dilakukan oleh beberapa orang Muslim untuk memanfaatkan suatu buku yang berisi pengajaran yang tidak benar dari suatu sekte mistik Kristen yang berjudul Injil Barnabas. Buku ini seolah-olah ditulis oleh salah satu murid yesus, dan dianggap merupakan suatu Injil yang telah lama terhilang. Injil-injilan ini sampai-sampai dianggap lebih tinggi otoritasnya daripada Kitab Perjanjian Baru.

Ilmuwan Barat telah berulang-ulang mendemostrasikan bahwa apa yang disebut sebagai Injil Barnabas itu merupakan suatu karya penipuan dalam segala aspek. Contohnya, Barnabas tidak mungkin menulis buku tersebut karena kosakata yang digunakan dalam buku itu bukanlah kosakata yang lazim digunakan pada abad pertama. Lebih penting lagi, Injil Barnabas mengandung pernyataan-pernyataan yang kontradiktif dengan pengajaran-pengajaran dalam Alquran, Hadis, dan Alkitab. Injil Barnabas bertentangan dengan ketiganya dalam tiga pola yang berbeda.
Seperti halnya orang Muslim dapat menggunakan Injil Barnabas tersebut untuk menentang Alkitab, demikian juga orang-orang Non-Muslim dapat juga menggunakannya untuk menentang Alquran dan Hadis. Contohnya, Injil Barnabas mengutuk orang mempunyai lebih dari satu istri sementara Alquran mengizinkan sampai empat istri. Injil Barnabas juga mengizinkan seseorang makan daging babi sementara Alquran mengharamkannya. Setiap Muslim yang menjagokan pewahyuan Injil Barnabas adalah sama artinya dengan menusuk lehernya sendiri!
[Lebih jauh lagi, Injil Barnabas ini baru muncul pada tahun 1709, ditulis dalam bahasa Itali dengan kertas yang lazim dipakai orang antara abad 14 dan 16. Penyelidikan menemukan bukti-bukti bahwa ia ditulis oleh seorang Arab (Mustafa Arande dengan nama samaran Fra Marino) beragama Islam yang berdomisili di Spanyol, dan ternyata tidak paham keadaan sejarah, geografi, adat-istiadat dan sosial Israel. Antara lain dikatakan bahwa Yesus dilahirkan ketika Pilatus adalah Gubernur negeri Yudea (padahal pilatus baru menjabatnya sejak tahun 26 M hingga 36 M). Kota Nazaret diterangkan sebagai kota pelabuhan, sehingga ada pasal yang menyebutkan bahwa Yesus berlayar ke Nazaret (padahal Nazaret bukan kota pesisir, melainkan kota di atas perbukitan Galilea). Total-total tercatat tidak kurang dari 30 kesalahan konyol].

Kebenaran Sederhana
Kebenaran sederhana yaitu bahwa Alquran mengandung banyak masalah, sebagian mana akan diungkapkan sekarang. Alquran menyatakan bahwa dirinya dari Allah, terjaga dari semua kesalahan, dan hal itu merupakan bukti pewahyuan (Surat 85:21,22). Konsekuensi dari klaim ini adalah satu saja kesalahan yang dapat ditemui dalam Alquran sudahlah cukup untuk menggugurkan keberadaannya sebagai wahyu Allah!

[Inilah rumus-besi!]
Prinsip Yang Masuk Akal: yang lama Mencocokkan yang baru
Prinsip yang digunakan Muhammad dalam awal pelayanannya memang valid (berlaku sah). Yaitu bahwa Wahyu yang lebih awal menjadi pengukur terhadap semua wahyu-wahyu yang datang belakangan. (Baca Surat 10:94)
Dengan demikian Alkitab harus dijadikan standar acuan dari semua wahyu-wahyu baru termasuk Alquran sendiri. Hal tersebut semata-mata hanya merupakan masalah kronologis. Muhammad datang 600 tahun setelah Yesus Kristus.
Jadi Alquran diturunkan jauh hari setelah adanya Kitab Perjanjian Baru.

Keabsahan Kitab Perjanjian Baru didasarkan pada kenyataan bahwa nubuatan-nubuatan, simbol-simbol, dan tipologi dari Kitab Perjanjian Lama itu tergenapi. Jadi dengan cara yang sama, jikalau Alquran akan diterima sebagai Firman Tuhan juga, maka Alquran harus lulus testing secara sempurna memenuhi kesesuaian terhadap Kitab-kitab Suci yang ada sebelumnya, yaitu Alkitab.
Alquran sendiri menyatakan bahwa ia merupakan kelanjutan dari Alkitab dan oleh karenanya ia tidak akan berkontradiksi dengan Alkitab (Surat 2:136).

Masalah Logika & Prioritas
Yang dimaksud di sini adalah logika dasar, yaitu kalau timbul konflik atau kontradiksi antara Alkitab dan Alquran, maka Alquranlah yang harus dikesampingkan, bukan Alkitab.
Kesimpulannya Alquran tidak akan pernah bertentangan dengan Alkitab, karena bagaimana mungkin Allah akan bertentangan dengan dirinya sendiri.
Jikalau Allah bertentangan dengan dirinya sendiri, dia merupakan Allah yang tidak sempurna. Kalau dia tidak sempurna pastilah dia bukan tuhan.
[orang-orang Muslim awam menduga bahwa Alquran yang turun belakangan itu justru yang harus dianggap paling benar bila terjadi kontradiksi antara Alkitab dan Alquran. Mereka mempersamakan hal ini dengan temuan-temuan ilmiah yang paling akhir mengkoreksi yang awal-awal. Persamaan ini jelas salah karena yang bisa dikoreksi adalah hal-hal yang belum pasti kebenarannya (sekalipun ilmiah). Namun Alkitab telah dipastikan kebenarannya oleh semua Nabi-nabi termasuk Muhammad. Alkitab-lah yang menjadi pengukur untuk semua wahyu yang datang kemudian. Prinsip kebenaran adalah “ada kebenaran, baru kemudian ada kepalsuan”. Kepalsuan tidak bisa hadir mendahului kebenaran. Tidak ada kepalsuan bila tidak ada kebenaran. Kepalsuan tidak bisa hadir sendirian dalam kehampaan kebenaran! Jadi kebenaran lama haruslah menjadi acuan bagi setiap ajaran baru yang ingin dibenarkan. Itu sebabnya keshahian setiap HADIS juga dirujukkan pada sistem periwayatan sanad-nya. Di amna para rawi (rantai pemberita hadis) ditujukkan terus ke jenjang belakang hingga bertemu kepada sumber kebenaran Hadis itu sendiri, jenjang paling awal mula yaitu Muhammad. Misalnya jenjang wari ketiga, At ba’al tabi’in, dirujukkan ke jenjang kedua, Tabi’in hingga jenjang sahabat Nabi yang mengklaim sumbernya dari Muhammad sendiri. Jadi yang awal-mula mem-verifikasi yang belakangan!

Demikian juga, Kitab Perjanjian lama adalah otoritas rujukan untuk mem-verifikasi kebenran penggenapan nubuat-nubuat oleh seorang Mesias yang datang belakang, yang bernama Yesus dalam Perjanjian baru].
Jika Alquran tidak sesuai dengan teks dan pengajaran yang ada dalam Alkitab, itu berarti bahwa Alquran berkontradiksi dengan Alkitab, yang mana berarti lebih lanjut bahwa Alquran harus menyerah kepada Alkitab, semata-mata karena Alquran harus selalu mengacu pada Alkitab dalam menguji kebenarannya (lihat perintah Allah kepada Muhammad QS 10:94). Anehnya orang-orang islam tetap bersikukuh menyalahi Alkitab (dengan menyalahi QS 10:94 secara tak langsung), sekalipun tanpa bukti.

Sebagai contoh, Alquran bertentangan dengan Alkitab mengenai masalah penyaliban Yesus yang diingkari Alquran.
Sekarang, apakah ada suatu naskah yang membuktikan bahwa ayat-ayat Alkitab yang berbicara mengenai penyaliban Yesus itu bukan asli dari Alkitab? Apakah ada bukti-bukti tertulis dari manapun yang menyatakan bahwa Alitab aslinya tidak mengajarkan mengenai penyaliban? Tidak ada bukti satupun dan dari manapun yang menyatakan bahwa teks Alkitab salah dalam hal penyaliban Yesus Kristus.
Alkitab sejak awal mulanya, dengan jelas telah mengajarkan bahwa Yesus mati di salib. (Apalagi penyaliban ini ternubuatkan dalam Kitab-kitab sebelumnya, Mzm 22:2, 17-19; Zakaria 12:10 dan lain-lain).

Suatu Dilema logika
Umat Muslim terperangkap dalam dilema. Jikalau mereka mengakui bahwa teks Alkitab memang sejak semula menyatakan Yesus mati di atas kayu salib, itu berarti Alquran secara langsung bertentangan dengan Alkitab sebagai wahyu yang tertua. Namun Muhammad berjanji bahwa hal tersebut tidak akan terjadi. Mengapa?
Alquran harus sesuai dengan wahyu tertua (Alkitab) karena baik Alquran maupun Alkitab, diturunkan oleh Tuhan yang sama.
Sebaliknya, kalau umat muslim menolak Alkitab, mereka harus juga menolak Alquran karena Alquran mengacu pada Alkitab sebagai firman Tuhan.
Sebaliknya lagi, kalaupun mereka menerima Alkitab mereka masih tetap harus menolak Alquran karena Alquran nyatanya telah bertentangan dengan Alkitab.
Pilihan mana saja tetap Alquran yang kalah.
[ untuk mengurangi tekanan dilema ini, umat Muslim sampai terpaksa harus menuduh bahwa semua Alkitab yang ada adalah palsu (sesuatu yang tidak dituduhkan Alquran dan tidak dibuktikan oleh siapapun). Dituduhkan bahwa yang asli telah dihilangkan oleh tangan-tangan kotor (padahal Alquran telah mengatakan kebenaran bahwa kalimat Allah tak bisa dirubah manusia (Surat 6:34), apalagi menghilangkannya! Bila bisa dilenyapkan, tentulah itu fana, bukan firman Allah].

Suatu Keimanan Tanpa dasar
Jadi, apa yang dilakukan umat muslim?
Mereka mengimani sesuatu yang tidak berdasar dengan menempatkan diri mereka seolah-olah mengatakan: “Teks Alkitab dalam hal ini pasti salah. Alkitab aslinya tidak mengajarkan bahwa Yesus itu mati di salib. Kami tidak perlu membuktikannya. Kami mengetahuinya begitu, karena kalau tidak, kami akan terperangkap dalam dilema yang mengharuskan kami untuk mengakui kelemahan Alquran karena bagaimanapun Alquran telah mengacu pada Alkitab sebagai dasar otoritasnya sendiri”.
Argumentasi Muslim tanpa dasar seperti itu menimbulkan efek yang tidak sehat pada pola berpikir ilmiah.
Jika tidak ada serangkaian bukti yang menunjukkan bahwa suatu teks tertentu dalam Alkitab telah mengalami penaskahan yang salah, maka sungguh tidak rasional menyatakannya sebagai sesuatu yang salah hanya karena Alkitab tidak sesuai dengan Alquran.
Umat Muslim menanggapi masalah ini dengan menyatakan bahwa Alkitab itu terkorupsi – salah, setelah Alquran terwahyu-benar secara tertulis.
Tetapi bukankah kita mempunyai naskah-naskah dari Kitab Perjanjian Lama yang ditulis 200 tahun sebelum Masehi dan sebagian Kitab Perjanjian Baru yang ditulis pada abad-abad pertama? (Yang sampai kinipun tercatat sama seperti yang ada sekarang ini). Maka kita tahu persis bahwa Alkitab masih mencerminkan keadaan seperti ketika Yesus dan rasul-Rasul hidup pada zaman tersebut.

Kalau kita bandingkan Alkitab yang bersih ini dengan tulisan-tulisan yang kacau dari Alquran, termasuk nama-nama, kejadian-kejadian dan ujaran-ujaran yang acak-acakan yang terdapat dalam Alquran, maka tampaklah Alquran itu merupakan buah kesalahan.
Perlu dikemukakan bahwa umat Muslim membela diri dengan menyatakan bahwa Alquran sudah pasti sempurna, karena Tuhan pasti akan menjaga fitrmanNya bebas dari kesalahan.
Namun demikian, jikalau Tuhan telah gagal menjaga kebenaran Alkitab, sebagaimana yang mereka klaim, mengapakah kini Tuhan harus sukses melakukannya untuk Alquran?

Suatu Pengujian Ilmiah
Secara logis, Alkitab terpilih melebihi Alquran, bukan hanya karena Alkitab terlebih dahulu ada sebelum Alquran, tetapi juga karena Alquran selalu merujukkan keabsahan Alkitab yang sudah ada, yang mempunyai otoritas lebih tinggi sebagai pokok rujukan.
Terlepas dari posisi tersebut, kita sekarang ingin meneruskan pengujian Alquran secara ilmiah. Tetapi karena Alquran mengandung sangat banyak masalah, kami akan membatasi diri hanya untuk membicarakan 100 masalah yang penting-penting saja.

Berapa harikah Karya Penciptaan Terlaksana?
Masalah pertama dalam Alquran yaitu menyangkut berapa harikah karya penciptaan dilakukan oleh Tuhan.
Bila anda menjumlah semua hari yang disebutkan dalam Surat 41: 9, 10,12 anda akan mendapatkan jumlah 8 hari yang diperlukan Tuhan untuk melakukan karya penciptaanNya (4 hari + 2 hari + 2 hari = 8 hari)
Tetapi menurut Alkitab (Kitab kejadian 1:31) hanya 6 hari yang diperlukan tuhan untuk menciptakan alam semesta.
Jadi kesimpulannya Alquran sudah bertentangan dengan Alkitab sejak dimulai bab I dari Alkitab.

Seorang sahabat Muslim berkeberatan atas hal ini dengan menyatakan bahwa teks Alkitab berbahasa Ibrani tidak diragukan lagi pasti salah dalam hal ini dan bahwa yang benar adalah 8 hari.
Saya menyatakan bahwa tidak ada bukti dalam naskah-naskah Alkitab berbahasa Ibrani mengenai adanya kesalahan. Selain itu, ada ayat lain dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dalam 6 hari (keluaran 20:11).
Kemudian saya menunjukkan bahwa di Alquran dalam Surat 7:51 dan 10:3 mengakui perhitungan Alkitab bahwa karya penciptaan tuhan dilakukan dalam 6 hari. Kalau 6 hari itu salah, itu berarti Surat 7 dan 10 dalam Alquran juga salah. Tetapi kalau 8 hari salah, Surat 41 juga salah.

Dengan menggunakan penalaran Muslim klasik, teman saya tersebut akhirnya menjawab bahwa Alquran tidak mengatakan 8 hari.
Saya menjumlah hari-hari yang disebut dalam Surat 41 yaitu 4+2+2=8.
Dia kemudian menjumlahnya dengan cara 4+2+2=6” karena 4 dapat dibagi 2 dan oleh karenanya 4 sesungguhnya 2 juga.
Ketika saya menunjukkan bahwa dalam bahasa Arab disebutkan 4, dan bukan 2, hal tersebut tidak membuatnya kecil hati. Dia tetap mempertahankan pendapatnya bahwa 4=2, karena kalau tidak demikian dia akan terjebak bahwa Alquran-lah yang salah. Jadi dia lebih baik membuat pernyataan yang tidak masuk akal, bahwa 4=2, dari pada mengakui kenyataan bahwa Muhammad membuat satu kesalahan dalam hal ini.
[Muslim modern juga membela dengan cara yang memplintir angka-angka yang tidak dimaksudkan oleh Alquran sama sekali. Mereka berdebat bahwa 4 hari yang disebutkan itu sudah mencakup salah satu dari 2 hari yang disebut, jadi terhitung 4+(2=0)+2=6 hari]
Nuh, Air Bah, dan Putera-Putera nuh
Menurut Alkitab, tiga putera Nuh semuanya masuk ke bahtera bersama dengan Nuh dan mereka semua diselamatkan dari air bah (kejadian 7:1,7,13)
Namun, Alquran dalam Surat 11:32-48 menyatakan bahwa salah satu dari putera Nuh menolak masuk bahtera dan akhirnya tenggelam dalam air bah.
[Sementara Surat 21:76,77 mengisyaratkan Nuh beserta seluruh keluarganya seelamat semua]
Surat 11:44 juga menyatakan bahwa bahtera itu bersandar di atas gunung Judi sementara Alkitab mengatakan di atas gunung Ararat. Dalam hal ini sungguh sangat jelas perbedaan antara Alkitab dan Alquran.
[rasul Petrus, salah satu murid-murid yesus yang dibenarkan Alquran (hawariyyun) juga menyaksikan kebenaran penyelamatan Tuhan atas 8 nyawa semuanya, baca 2 Petrus 5. jadi siapa yang korup, Alkitab atau Alquran? Kenapa Alkitab harus mengkorupi kejadian ini? Quran juga tidak mungkin akan mengkorupi apa-apa untuk hal-hal semacam ini, kecuali Muhammad mendengarnya dari sumber-sumber yang membuatnya keliru].

Kesalahan-Kesalahan Berkaitan Dengan Abraham
Alquran membuat banyak sekali kesalahan mengenai Abraham.
1. Alquran menyatakan bahwa nama ayah dari Abraham adalah Azar (Surat 6:740, tetapi Alkitab mengatakan namanya Terah.
[ Tetap tercatat nama Terah turun-temurun dari anak-anak Abraham, yaitu kaum yahudi dan nabi-nabi yahudi. Dan baru setelah lewat 2500 tahun tiba-tiba ada orang lain yang non-Yahudi yang memberi nama yang berbeda, bukan karena mau mengkorupi melainkan karena salah wahyu atau tidak paham saja].
2. Dia tidak tinggal dan menyembah Tuhan di lembah Mekah (Surat 14:37) tetapi di Hebron sesuai Alkitab. [Setting Palestina tiba-tiba digiring menjadi setting Arab].
3. Menurut Alkitab, anaknya yang bernama Ishak yang akan dikorbankan, bukan Ismael seperti yang dianggap dinyatakan oleh Alquran (Surat 37:100-12). [tidak ada nama Ismael disebut di sini, kecuali disebut “seorang anak”. Orang Muslim haruslah amat heran kenapa Quran ragu menyebutkan sesuatu yang harus dikoreksikannya dengan lantang? Para pakar sangat logis menduga Muhammad takut ditertawakan oleh orang yahudi/nasrani yang tahu persis siapa anak tersebut].
4. Abraham mempunyai 8 anak, bukan 2 sebagaimana yang dinyatakan dalam Alquran (seperti yang
“diketahui” oleh Muhammad)
5. Abraham mempunyai 3 istri dan bukan 2 sebagaimana yang dinyatakan dalam Alquran.
6. Dia tidak membangun Kaabah, walaupun Alquran menyatakan demikian (Surat 2:125-127) [Setting
Palestina tiba-tiba menjadi setting Arab]
7. Dia tidak dilemparkan ke dalam api oleh Nimrod sebagaimana yang dinyatakan oleh Alquran dalam Surat 21:68,69 dan 9:69.
Kesalahan terakhir ini (no 7) adalah sangat mencolok seriusnya karena menimbulkan masalah secara kasat mata dalam Alquran. Sebab Nimrod hidup beberapa abad sebelum Abraham!
Bagaimana mungkin Nimrod mendalangi pelemparan Abraham ke dalam api, karena waktu Abraham Nimrod sudah mati beberapa abad sebelumnya?

Waktu Linear
Cerita dan legenda –legenda Arab mencampuradukkan tempat-tempat, orang-orang dan peristiwa-peristiwa dalam satu penampakan yang sama solah-olah mereka semua hidup pada waktu yang sama.
Itulah sebabnya mengapa dalam Alquran, nama-nama seperti Nimrod dan Abraham, Haman dan Musa, Maria dan Harun, dan lain-lain, semuanya digambarkan seolah-olah mereka hidup dan bekerja dalam waktu yang sama.

Hal itu juga menjadi penyebab mengapa Alquran dapat mencampuradukkan air bah dan Musa, menara Babel dan Firaun, dll seolah-olah semuanya itu terjadi pada saat yang sama.
Ini merupakan suatu ancaman serius bagi integritas Alquran karena hal itu merusak kronologis sejarah Alquran, sejarah Alkitab dan sejarah sekuler semuanya.

Kesalahan Mengenai Yusuf
Alquran membuat kesalahan ketika menyatakan bahwa orang yang membeli Yusuf, anak yakub, adalah bernama Aziz (Surat 12:21 ff) padahal namanya adalah Potifar (Kejadian 37:36)
[ Nama Potifar melegenda turun-temurun sejak Taurat Musa. Sejarah mana yang pernah memperkenalkan nama Aziz? Nabi mana yang pernah menyebut nama tersebut, kecuali seorang Nabi dari Arab yang datang sangat terlambat untuk “mengoreksinya”?].

Ciri-Ciri Alkitabiah
Alquran juga membuat kesalahan yang sama ketika ia menamai Goliat sebagai Jalut, Korah sebagai Karun, saul sebagai Talut, Enock sebagai Idris, Yehezkiel sebagai Dhu’l-khifl, Yohanes Pembabtis sebagai Yahya, [ Yesus sebagai Isa] dan lain-lain.
Karena muhammad tidak mempunyai akses ke Alkitab (terjemahan Alkitab dalam bahasa Arab belum ada pada waktu itu), dia sering mendapatkan nama-nama, peristiwa-peristiwa, dan kronologi yang serba salah.
Encyclopedia Britannica menyatakan: Penyimpangan-penyimpangan dari periwayatan Alkitabiah sangatlah kentara, dan dalam banyak hal dapat ditelusuri kembali dalam anekdot dari Haggada yahudi (buku liturgi yahudi) dan Injil-injilan apokrif yang banyak disebut-sebut sebagai sumber dari mana Muhammad merujuk informasi ini. Tidak ada bukti bahwa Muhammad dapat membaca, dan ketergantungannya pada komunikasi lisan mungkin dapat memberi penjelasan mengapa terjadi miskonsepsi pada dirinya, contohnya kerancuan antara Haman (sebagai menteri dari Ahasyweros) dengan menteri dari Firaun (Surat 40:35, 37) dan antara saudara perempuan Musa. Miryam dengan maria ibu Yesus.
Kesalahan pengertian pokok Muhammad mengenai cerita dan doktrin-doktrin Alkitabiah mencerminkan bahwa dia hanya mengetahui cerita-cerita itu berdasarkan desas-desus saja.
Seperti yang dinyatakan oleh seorang ilmuwan besar dalam kajian Arab yang bernama canon Edward Sell mengenai kesalahan nama-nama:
Dia (Muhammad) pasti tidak memperoleh pengetahuan mengenai nama-nama tersebut dari sumber aslinya yaitu Alkitab Perjanjian lama. Kerancuan mengenai nama-nama itu sungguh sangat kentara.

Kesalahan Mengenai Musa
Alquran mengandung banyak kesalahan mengenai Musa:
1. Orang yang mengadopsi Musa bukanlah istri Firaun seperti yang dinyatakan oleh Alquran dalam Surat 28:8,9. Orang yang mengadopsinya adalah puteri Firaun (keluaran 2:5).
[ Siapa yang salah catat di sini? Musa atau Muhammad? Musa sebagai nabi terbesar Yahudi, sebagai
penutur/penulis riwayatnya ini sendiri, akankah mencatat salah, dan diikuti salah oleh seluruh nabi-nabi lain dan umat Israel?
2. Air bah Nuh tidak berlangsung pada zaman Musa sebagaimana yang Alquran katakan (Surat 7:136, 137, 138 bandingkan Surat 7:59ff). Kesalahan ini tidak mudah dapat disingkirkan.
3. Alquran menyatakan bahwa Haman hidup di Mesir pada zaman Musa dan dia bekerja untuk Firaun membangun Menara Babel (Surat 27:4-6; 28:39; 40:23, 24,36,37). Tetapi sesungguhnya Haman hidup di Persia dan melayani raja Ahasyweros.
Untuk lebih terperinci lihat Kitab Ester 8. [ Rupa-rupanya Muhammad mengira Ahasyweros ini salah satu Firaun di Mesir].
Kesalahan ini sungguh sangat serius karena tidak saja bertentangan dengan Alkitab tetapi juga bertentangan dengan sejarah sekuler.
4. Penyaliban tidak digunakan di Mesir pada zaman Firaun, walaupun Alquran menyatakan demikian dakam Surat 7:124.

Kesalahan Mengenai Maria
Alquran mengandung banyak kesalahan mengenai Maria, ibu Yesus:
1. Ayah Maria bukan Imran (Surat 66:12)
2. Maria tidak melahirkan Yesus di bawah pohon palem sendirian (Surat 19: 22-25), tetapi di sebuah kandang diteman oleh Yusuf (Lukas 2: 1-20).
3. Muhammad mengalami kebingungan membedakan ibu Yesus, Maria dengan saudara perempuan Musa dan Harun, Miryam (Surat 19:28). Hal ini merupakan kesalahan serius karena menunjukkan bahwa Muhammad tidak mempunyai pemahaman mengenai perbedaan periode untuk tokoh-tokoh yang tertulis dalam Alkitab.
4. Muhammad dengan jelas mengarang-ngarang cerita dan mujizat bohong-bohongan yang terjadi bagi Maria (Surat 19: 23-26).
5. Zakharia tidak dapat berbicara terus sampai anaknya lahir (Lukas 1:20), bukan hanya selama tiga malam seperti yang dinyatakan oleh Alquran (Surat 19:10).
[NB. Muhammad membuat kekeliruan fatal atas wahyu yang mengisahkan tentang Zakharia:
1). Bisunya Zakharia selama 3 malam?!
Bisu mendadak untuk 3 malam adalah “sepele”, dalam artian bahwa itu bukan berita yang menggemparkan bagi suatu tanda Allah yang ingin dikhususkan bagi penghukuman Zakharia yang menolak percaya bagi kehamilan mujizat Allah. Sebaliknya Alkitab menyebutkan 2 tanda khusus yang langsung berkaitan dengan kehamilan DAN kelahiran mujizat. Yaitu bisu sepanjang kehamilan 9 bulan, DAN mendadak hilang bisu ketika kelahiran Yahya terjadi! Maka tanda-tanda ajaib ini menjadi kegemparan dan ketakutan dan buah tutur bagi seluruh penduduk desanya ketika tiba-tiba Zakharia bisa berkata-kata kembali. Kisah Alkitab ini tidak mungkin bohong-bohongan karena para saksi atas
kejadian ini adalah orang-orang seisi desa dan sekitarnya. Juga termasuk Maria yang sempat mengunjungi keluarga ini (Lukas 1:39-66).
2) Zakharia memelihara perawan Maria?! QS 3:37:”..., dan Allah menjadikan Zakharia pemeliharanya (Maryam). Setiap Zakharia masuk menemui (Maryam) di Mihrab, dia dapati makanan di sisinya, Zakharia berkata, “Hai Marya, dari mana engkau memperolehnya?’ Maryam menjawab, ‘Itu dari Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendakiNya dengan tiada terhitung.”
Muhammad terjebak dalam ketidak-tahuan akan tradisi ritual dan kesukuan Yahudi. Zakharia tidak tinggal di Bait Allah di Yerusalem, jadi tak mungkin dia merawat Maria di sana. Dia , sebagai seorang imam, dipilih oleh rakyat untuk melayani (secara bergiliran dengan undi) di bait suci di Yerusalem tersebut hanya untuk sementara waktu! (lukas 1:5-40). Tak seorangpun dalam keadaan apapun boleh tinggal dalam ruang Maha Kudus; hanya imam agung saja yang diperbolehkan memasukinya sekali dalam setahun pada Hari Penebusan Dosa, dengan membawa korban untuk menebus dosa ( 1 raja-raja 8:6, 8, 9; Imamat 16: 2,32,33; Ibrani 9:7). Zakharia tidak memelihara Maria, karena Zakharia berasal dari suku Lewi (Ibrani 7:14) sedangkan Maria dari suku Yehuda.
Terlebih lagi, Zakharia hidup di Yudea sedangkan Maria tinggal di Nazaret dengan selisih jarak sehari penuh perjalanan!
Jadi tampaklah seluruh wahyu Muhammad sungguh tidak lulus fakta-fakta kultural!]

Istilah Dan Kisah Khayalan
Muhammad mengarang-ngarang cerita khayalan mengenai tokoh-tokoh Alkitab dengan menggunakan kata-kata seperti “Muslim” dan “Islam” yaitu istilah-istilah yang tidak dikenal oleh dan tidak muncul dari mulut nabi-nabi manapun di masanya.
Hal ini cukup menggelikan ibarat mengisahkan bahwa Muhammad berkata, “Saya suka sekali ayam goreng Kentucky”.
Sudah jelas istilah “ayam goreng Kentucky” tidak ada pada zaman Muhammad.
[ Istilah “Islam” maupun “Muslim” pada teks-teks “Alkitab” seperti yang di-klaim Muhammad, jelas merupakan usaha penboncengan dan peleburan sosok-sosok Islam ke dalam tubuh Alkitab demi meleburkan memenangkan orang Yahudi/Kristen ke dalam Islam].
Semua cerita-cerita dalam dalam Alquran mengenai Abraham, Ishak, Yakub, Nuh, Musa, Maria, Yesus, dan lain-lain mengandung kata-kata dan frasa-frasa yang dengan jelas menunjukkan kepalsuan belaka (Surat 2:60, 126-128, 132-133, 260; 3:49-52, 67; 6:74-82; 7:59-63, 120-126; 10:71,72; 18:60-70; 19:16-33; dan lain-lain).

Tes Air
[ Kembali setting periwayatan Muhammad diubah secara kasat mata]:
Testing bagaimana cara para tentara minum air dari sebuah sungai bukanlah berlangsung pada waktu Daud mengalahkan Goliat atau pada zamannya Saul (Thalud), tetapi berlangsung pada masa yang jauh sebelumnya, yaitu pada masa Gideon. (Bandingkan Surat 2: 249, 250 dengan Hakim-Hakim 7:1-8).

[Perhatikan betapa Muhammad tidak paham kisah yang sebenarnya, dan tetap mencoba mencomot kisah ini untuk dijadikan bagian “wahyu” dalam Alquran. Anda akan bertanya, apa maksud Allah SWT melakukan testing air itu di kalangan tentara Thalut? Apa kegunaan kisah itu sebagai Firman Allah untuk manusia? Dan anda tidak akan menemui jawabannya! Ini berlainan dengan motif Alkitab yang justru menggambarkan maksud dan kegunaan dari test tersebut bagi rakyat Israel].

Kesalahan Sejarah Sekuler
Alquran mengandung kesalahan historis yang kasat mata:
1. Salah satu contoh tertulis dalam Surat 105 di mana Muhammad mengklaim bahwa pasukan gajah dari Abrah dikalahkan oleh serangan batu yang dijatuhkan oleh burung-burung dari udara. Menurut catatan sejarah, pasukan Abrah membatalkan serangannya ke Mekah setelah berjangkitnya penyakit cacar air di kalangan pasukan tersebut.
2. Kaabah tidak dibangun oleh Adam, dan juga tidak dibangun kembali oleh Abraham. Kaabah dibangun oleh para para penyembah berhala untuk menyembah batu hitam (meteorit) yang jatuh dari langit. Abraham tidak pernah hidup/tinggal di Mekah.
[Buktinya? Tidak ada satupun literatur atau kisah tradisi yang bisa ditemukan sebelum Muhammad mendongengkan sejarah Ibrahim/Ismail di Mekah. Juga tak pernah ditemukan jejak arkeologi Ibrahim di sana]
3. Dalam Surat 20:87, 95 kita diberitahu bahwa orang-orang Yahudi membuat anak lembu emas di padang pasir atas saran dari “orang-orang Samaria”. Hal ini jelas merupakan kesalahan historis karena negara dan orang-orang Samaria belum exist/terbentuk pada peristiwa tersebut.
Eksistensi Samaria baru muncul ratusan tahun kemudian setelah penawanan bangsa Israel yang pertama yang dilakukan oleh orang-orang Assyria, dan berikutnya oleh orang-orang Babilonia.
(Lihat sendiri betapa Penterjemah Alquran, Yusus Ali dll, penterjemah berusaha menjauhkan kesalahan ini dengan mengaburkannya dalam terjemahannya, namun dalam bahasa Arabnya, hal ini tetap jelas).
4. Salah satu kesalahan dalam Alquran yang terbesar menyangkut Alexander yang Agung, yang disebutnya Zulqarnaen. Alquran menyatakan bahwa Alexander yang agung adalah seorang Muslim yang menyembah Allah dan yang hidup sanpai hari tuanya (Surat 18: 89-98).
Kesalahan ini sukar sekali diperbaiki karena bukti sejarah mengenai Alexander menunjukkan bahwa ia bukan seorang Muslim dan dia tidak hidup sampai usia tua.
Encyclopedia Britannica menyatakan: Laporan Muhammad mengenai Alexander, yang diperkenalkan sebagai “orang yang bertanduk dua” (Surat 18:82), diambil dari cerita Roman Alexander, yang sangat beredar di kalangan orang-orang Kristen Nestoria abad ke-7 versi Syriak.
Sehubungan dengan adanya kesalahan historis ini, beberapa orang Muslim modern telah membuat sanggahan dengan menyatakan bahwa Alquran tidak berbicara mengenai Alexander.
Namun berdasarkan pada interpretasi Muslim ortodoks mengenai hal itu, bahkan Yusuf Ali juga mengakui sebagai Berikut:
Saya tidak ragu-ragu sedikitpun bahwa Zul-qarnain yang dimaksud adalah Alexander yang Agung, Alexander historis, dan bukan Alexander khayalan/legendaries.

The Concise Dictionary of Islam juga membenarkan pandangan bahwa Alexander yang Agung adalah subyek yang dimaksud dalam konteks tersebut.
Bahkan Alquran masih juga “menantang keilmuwan” dengan menyatakan bahwa Alexander yang Agung menempuh jalan searah tenggelamnya matahari dan akhirnya sampai kepada sumber air yang berlumpur hitam (Surat 18:85,86)!.

Saling Berkontradiksi
Pertanyataan-pernyataan Alquran saling berkontradiksi dalam banyak hal.
Surat 39:23,28 mengklaim bahwa Alquran bebas dari kontradiksi apapun. Jadi kalau terdapat satu saja kontradiksi di dalamnya, berarti sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Alquran bukan Firman Tuhan.
1. Seperti yang pernah kami perlihatkan, Alquran menawarkan kepada kita laporan mengenai cara Muhammd menerima Alquran yang saling bertentangan satu sama lain. [Terjemahan Alquran mencoba menjerumuskan oknum pewahyu yang sebenarnya banyak itu menjadi seolah-olah hanya satu saja. Namun asli bahasa Arab memperlihatkan banyak oknum yang berbeda satu dengan lainnya, dengan sebutan-sebutan yang berbeda].
a. Pertama kita diberitahu bahwa sosok Allah datang pada Muhammad dalam rupa manusia dan bahwa Muhammad melihat Allah (Surat 53:2-18; 81:19-24).
b. Kemudian kita diberitahu bahwa Rohulqudus-lah yang datang kepada Muhammad (Surat 16:102;
26:192-194).
c. Selanjutnya Alquran menyatakan bahwa para malaikatlah (jamak) yang mendatangi Muhammad
(Surat 15:8).
d. Versi terakhir dan merupakan versi yang paling popular yaitu bahwa malaikat Jibril yang menyerahkan Alquran kepada Muhammad (Surat 2:97).
[Nama spesifik “Jibril” hanya muncul 3 kali di seluruh Alquran yaitu Surat 2:97,98 dan 66:4. Yang lain hanyalah Jibril yang disebut dan ditafsirkan oleh si penterjemah. Muhammad bahkan tidak mengenal nama ini ketika ia masih berada di Mekah. Tidakkah itu amat aneh bahwa sesudah belasan tahun berwahyu, Jibril baru memperkenalkan nama dirinya kepada Muhammad? Para ahli me-nonsens-kan hal ini, dan menyatakan bahwa Muhammad mengetahui nama tersebut belakangan dari orang-orang Yahudi dan Nasrani].
2. Alquran mengungkapkan 2 hal yang berbeda mengenai lamanya 1 hari di mata Tuhan, yang pertama bahwa 1 hari adalah 1000 tahun di mata Tuhan, dan yang kedua bahwa 1 hari adalah 50.000 tahun (bandingkan Surat 32:5 dengan Surat 70:4).
3. Pertama-tama Muhammad mengatakan kepada para pengikutnya untuk menghadap ke Yerusalem dalam sembahyang mereka. Kemudian dia mengatakan bahwa Mereka boleh menghadap mana saja waktu mereka sembahyang karena Tuhan ada di mana-mana (Surat 2:115).
Kemudian dia berubah pikiran lagi dan mengharuskan para pengikutnya menghadap ke arah Mekah pada waktu mereka sembahyang (Surat 2:144).
Banyak ilmuwan percaya bahwa perubahan-perubahan arah sembahyang tersebut tergantung pada siapa yang akan disenangkan oleh Muhammad pada suatu waktu. Apakah untuk menyenangkan orang-orang Yahudi (dengan kiblat ke Yerusalem, atau untuk para Quraisy penyembah berhala (dengan kiblat ke Mekah).
4. Pertama Muhammad mengatakan bahwa para pengikutnya boleh membela diri kalau diserang (Surat 22:39). Kemudian dia memerintahkan mereka untuk berperang demi dirinya (Surat 2:216-218). Hal ini bertujuan untuk mendapatkan harta benda dengan menjarah para kafilah.
Tetapi dengan makin meningkatnya kekuatan pasukannya, meningkat pula kehausan akan harta rampasan (Surat 5:33). Maka dia mengumumkan perang untuk menaklukkan pengikut agama lain, menganiayanya, sekaligus untuk memperoleh barang jarahan (Surat 9:5,29). Kehendak Allah kelihatannya berubah-ubah sesuai dengan keberhasilan Muhammad dalam membunuh dan menjarah.
5. Siapa yang pertama-tama beriman? Muhammad atau Musa? (bandingkan Surat 6:14 dengan Surat 7:143) Anda tidak mungkin mempunyai dua orang “pertama” di dua waktu.
6. Kenyataan bahwa agama Yahudi dan Kekristenan pecah menjadi beberapa aliran dimanfaatkan dalam Alquran untuk menjadi bukti bahwa baik agama Yahudi maupun Kekristenan bukanlah berasal dari Tuhan (Surat 30:30-32; Surat 42:13,14)
Namun bahwa Islam sendiri juga pecah menjadi berbagai mazhab/sekte yang saling bertikai tentulah telah mendustakan Alquran itu sendiri.

Wahyu-Wahyu Yang Diatur
Alquran mengandung wahyu-wahyu yang disesuaikan dengan kesenangan dan keinginan pribadi Muhammad:
1. Ketika Muhammad menginginkan istri dari anak angkatnya, dia tiba-tiba mendapatkan wahyu baru dari Allah yang mengizinkan seseorang untuk mengingini istri orang lain, lalu mengambilnya sebagai istri setelah habis masa iddahnya. (Surat 33:36-38).
2. Ketika Muhammad menginginkan lebih banyak istri atau menginginkan para istrinya berhenti bertengkar, dia segera mendapatkan wahyu baru untuk mengatasi masalah tersebut (Surat 33:28-34).
3. Ketika banyak orang mengganggu Muhammad di rumahnya, dia segera menerima wahyu yang sesuai yang menetapkan peraturan mengenai kapan mereka boleh mengunjunginya dan kapan tidak boleh mengganggunya (Surat 33:53-58; 29:62-63; 49:1-5).
[1). Istri-istri Muhammad terbagi atas dua kubu, kubu Ummu Salamah dan kubu Aisyah. Kubu Ummu Salamah sempat memprotes Muhammad agar orang-orang yang berniat memberi hadiah kepada Muhammad jangan hanya dilakukan di rumah Aisyah (istri kesayangan Muhammad) melainkan di rumah istri mana saja ketika beliau berada.Maksudnya agar Muhammad dan orang-orang lain jangan ada pilih kasih di antara para istri. Tetapi apa jawaban Muhammad? Nabi memanfaatkan wahyu Allah untuk meredam kritikan Ummu Salamah. Beliau berkata: ”Jangan saya disakiti berkenaan dengan Aisyah.
Sesungguhnya wahyu hanya datang kepada saya ketika saya dalam selimut seorang perempuan di rumah Aisyah” (HR Bukhari).
2). Aisyah sendiri juga pernah menyindir Muhammad: ”Allah cepat-cepat memenuhi keinginan nafsumu” (As Suyuti dalam Asbab al-Nuzul tentang ayat tersebut)].

Bahan-bahan Legendaris
Muhammad menggunakan banyak materi khayalan dan legendaris sebagai sumber-sumber inspirasi Alquran. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Profesor Jomier, seorang ilmuwan besar bangsa Perancis dalam bidang kajian Timur Tengah sebagai berikut: Umat Muslim menerima materi dan kisah tersebut di atas sebagai Firman Tuhan, tanpa menanyakan terlebih dahulu mengenai apa latar belakang histories dari materi tersebut.
Sesungguhnya di situ kita menemukan legenda-legenda puitis yang popular, variasi-variasi dari tema religius yang diketahui berasal dari sumber-sumber lain.

Alquran Dari Sumber-Sumber Arab
Alquran mengulang fable-fabel Arab khayalan seolah-olah hal itu benar.
. Legenda-legenda Arab mengenai jin-jin yang menakjubkan mengisi lembar-lembar Alquran.
. Cerita mengenai unta betina yang melompat keluar dari sebuah batu, lalu menjadi seorang nabi. Dongeng ini sudah dikenal jauh hari sebelum Muhammad (Surat 7:73-77,85; 91:14; 54:29).
. Kisah mengenai seluruh penduduk desa yang berubah menjadi monyet-monyet karena mereka melanggar hari Sabat (yaitu bekerja mencari ikan di hari Sabat). Kisah ini sudah sangat popular pada zaman Muhammad (Surat 2:64; 7:163-166).
. Cerita mengenai menyemburnya 12 mata air yang ditulis dalam Surat 2:60 sesungguhnya berasal dari legenda-legenda pra-Islam.
. Kisah yang dinamakan “Rip Van Winkle”, dimana 7 orang beserta hewan-hewan mereka telah tidur di sebuah gua selama 309 tahun dan kemudian bangun kembali dalam keadaan sehat walafiat (Surat 18:9-26). Dongeng tersebut dapat ditemukan dalam fabel-fabel Kristen dan Yunani maupun dongeng Arab yang disampaikan secara turun temurun.
. Fabel mengenai potongan-potongan dari 4 ekor burung yang mati yang kemudian dapat hidup kembali dan terbang atas panggilan Ibrahim. Ini merupakan cerita terkenal pada zaman Muhammad (Surat 2:260) (Lihat betapa pelbagai tafsiran dan terjemahan Alquran yang Amat berbeda satu dengan lainnya. Ada yang menterjemahkannya sebagai “jinak” dan bukan “potong” bagi ke 4 merpati tersebut)
Kesimpulannya sudah jelas bahwa Muhammad menggunakan kesusasteraan zaman pra-Islam seperti “Saba Moallaqat Imra’ul Cays” dalam menyusun ceritanya seperti yang tertulis dalam Surat 21:96; 29:31,46; 37:59; 54:1 dan 93:1.

Alquran dari Sumber-Sumber Yahudi
Banyak dari cerita-cerita dalam Alquran yang berasal dari Talmud Yahudi, Midrash, dan hasil karya apokrif.
Hal tersebut dikemukakan oleh Abraham Geiger dalam tahun 1833, dan selanjutnya didokumentasikan oleh ilmuwan Yahudi lainnya yaitu Dr. Abraham Katsh dari Universitas New York dalam tahun 1954.
1. Sumber dari Surat 3:35-37 adalah terambil dari buku cerita khayalan yang disebut “The Protevangelion’s James the Lesser”.
2. Sumber dari Surat 87:19 adalah Perjanjian Abraham.
3. Sumber dari Surat 27:17-44 adalah Targum Ester ke 2 (Targum adalah terjemahan Kitab-kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Aram).
4. Cerita fantastic mengenai Tuhan membuat orang “mati untuk ratusan tahun” tanpa menimbulkan pengaruh buruk atas makanan, minuman, atau keledainya merupakan fable Yahudi (Surat 2: 259 ff).
5. Pendapat yang menyatakan bahwa Musa dibangkitkan kembali dari kematiannya dan bahan-bahan lain, terambil dari Talmud Yahudi (Surat 2: 55, 56, 67).
6. Kisah dalam Surat 5: 30, 31 dapat juga ditemukan dalam karya pra-Islam yang ditulis oleh Pirke Rabbi Eleazar, Targum dari Jonathan ben Uzziah dan Targum Yerusalem.
7. Dongeng mengenai Abraham dilepaskan dari kobaran api Nimrod berasal dari Midrash Rabbah (lihat Surat 21: 51-71; 29: 16, 17; 37: 97,98).
Perlu diketahui bahwa Nimrod dan Abraham tidak hidup pada waktu yang bersamaan. Muhammad selalu mencampuradukkan sosok orang-orang di dalam Alquran, padahal sosok-sosok tersebut tidak hidup pada waktu yang bersamaan.
8. Perincian-perincian yang tidak bersifat Alkitabiah mengenai kunjungan Ratu Sheba (Saba) dalam surat 27: 20-44 berasal dari Targum ke-2 dari Kitab Ester.
9. Sumber dari Surat 2: 102 tidak diragukan lagi berasal dari Midrash Yalkut, Bab 44.
10. Cerita dalam Surat 7:171 mengenai Tuhan mengangkat Gunung Sinai dan mengancam untuk menempatkannya di atas kepala orang-orang yahudi adalah berasal dari buku Yahudi yang berjudul Abodah Sarah.
11. Cerita mengenai pembuatan patung anak lembu emas di padang belantara di mana patung tuangan tersebut begitu keluar dari api sudah dalam bentuk sempurna dan dapat melenguh (Surat 7: 148; 20:88), berasal dari Pirke Rabbi Eleazar.
12. Ada 7 sorga dan neraka seperti yang diungkapkan dalam Alquran berasal dari Zohar (hasil karya intepretasi Kitab Suci Yahudi yang penulisannya berdasarkan pada metode mistik) dan Hagigah.
13. Muhammad menggunakan Perjanjian Abraham untuk mengajarkan bahwa suatu skala atau timbangan akan digunakan pada hari pengadilan akhir untuk menimbang perbuatan baik dan perbuatan jahat agar dapat ditentukan apakah seseorang akan masuk ke Surga atau ke Neraka (Surat 42: 17; 101: 6-9).

Alquran Dari Sumber-Sumber Ajaran Kristen Sesat
Salah satu dari fakta-fakta merusak dan paling banyak didokumentasikan mengenai Alquran adalah bahwa Muhammad menggunakan injil-injil dari ajaran “Kristen” sesat beserta fabel-fabelnya sebagai bahan dalam Alquran.
Encyclopedia Britannica berkomentar: Injil yang dikenal Muhammad terutama berasal dari injil apokrif dan sumber-sumber sesat.
Sebagai contoh, dalam Surat 3: 49 dan 100:110, bayi Yesus berbicara dari palungan! Kemudian, Alquran menyatakan Yesus membuat burung-burung dari tanah liat menjadi hidup.
Padahal Alkitab memberitahu kita bahwa mujizat yang dilakukan Yesus yang pertamam adalah pada pesta perkawinan di Kana (Yohanes 2: 11).

Alquran dari Sumber-Sumber Sabian
Muhammad memasukkan unsur-unsur dari agama kaum Sabian ke dalam Islam.
Ia mengadopsi ritual-ritual para penyembah berhala seperti:
1. Menyembah di Kaabah
2. Sembahyang lima kali sehari berkiblat ke Mekkah (Muhammad memilih sembahyan lima kali sehari sama seperti yang dilakukan oleh masyarakat Sabian)
3. Berpuasa paruh hari sebulan penuh.

Alquran dari Sumber-Sumber Keagamaan Timur
Muhammad memperoleh ide-idenya dari agama-agama Timur seperti Zoroastrianisme (agama Persia) dan Hinduisme. Semuanya ini memang sudah ada jauh-jauh hari sebelum Muhammad lahir.
Alquran mencatat hal-hal berikut ini sebagai berasal dari Muhammad, tetapi sebetulnya kisahnya sudah lama dikenal sebagai cerita rakyat, yang sekarang dikaitkan secara spesifik kepada Muhammad untuk pertama kalinya.
. Cerita mengenai suatu perjalanan layang melintasi 7 Surga.
. Perawan-perawan cantik yang tersedia di Surga.
. Jin-jin yang jadi Setan dan roh-roh lain dari Neraka yang bergentayangan.
. “Cahaya” Muhammad
. Jembatan Sirat
. Surga dengan anggurnya, para perempuan, dan lagu-lagu (dongeng dari orang-orang Persia tentang kenikmatan surga)
. Raja kematian
. Cerita burung merak.

Kesalahan Mengenai Yesus
Alquran bertentangan dengan pengajaran Alkitab mengenai pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus. Menyalahi nubuat-nubuat para nabi sebelumnya, apalagi Injil, dikatakan dalam Surat 4: 157; 5:19, 75; 9:30 bahwa:
1. Yesus bukan Putera Tuhan (Padahal 700 tahun sebelumnya, nabi Yesaya menubuatkan Putera Tuhan ini, Sang Mesias, lihat Kitab Yesaya 9:5-6)
2. Dia tidak mati untuk menanggung dosa-dosa kita (Kembali Yesaya 53:12 menubuatkan kematian Sang Mesias untuk menanggung dosa orang banyak).
3. Dia tidak disalib (Yesus sendiri berkali-kali telah menubuatkan kepada murid-muridNya, bahwa diriNya akan disalib mati, dan dibangkitkan (Matius 20:19). Bisakah dan perlukah seorang Yesus menipu seberat itu kepada para muridNya? Bukankah akan heboh dan ketahuan juga andaikata Yesus berbohong?!)
4. Dia bukan manusia sekaligus Tuhan, melainkan hanya manusia belaka (Kembali baca Yesaya 9:5 bahwa Dia juga disebut “Allah yang Perkasa”)
5. Dia bukan Juruselamat (Bila dia tidak datang untuk menjadi Juruselamat, umat Islam tiak mempunyai jawaban terhadap pertanyaan : “Apa misi dan prestasi Yesus diutus ke dunia?” Bukankah Sang Pengutusnya lalu dipermalukan sendiri karena Yesus yang datang dengan segudang mujizat dan Injil Ilahi, tetapi justru berprestasi nol dan sia-sia, diistilahkan TIGA HILANG, karena
a. Injilnya sendiri yang asli hilang tidak terlacak (begitu yang dipercayai Islam), dan
b. Dia-nya sendiri hilang diraih Allah, ketika hendak disalib (?), dan yang paling parah
c. Seluruh pengikut-pengikutiNya hilang semua tergantikan akhirnya oleh pengikut Paulus yang mengajarkan kristianitas yang sesat yang justru menyembah DiriNya. Mungkinkah Allah dan Yesus dikalahkan Paulus?
Pandangan Alkitabiah mengenai Yesus yang sama sekali bertentangan dengan pandangan Alquran ini tidaklah mudah untuk dihilangkan. Hal ini jelas bukan karena masalah korupsi tetapi masalah pertentangan. Hal ini merupakan salah satu pokok masalah yang tidak terjembatani selamanya memisahan Kekristenan dan Islam.

Kesalahan Mengenai Trinitas
Alquran mengandung banyak kekeliruan mengenai apa yang diimani dan yang dilakukan oleh umat Kristen. Salah satu kekeliruan utama Alquran adalah salah dalam memahami doktrin Trinitas umat Kristen.
Muhammad secara keliru menganggap bahwa umat risten menyembah tiga Tuhan: Bapa, Ibu (Maria), dan Anak (Yesus), (Surat 5: 73-75, 116).
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Richard Bell sebagai berikut:
Muhammad tidak pernah mengerti mengenai doktrin Trinitas.
Encyclopedia Britannica menyatakan: Ada kesalahan konsep mengenai Trinitas di dalam Alquran.
Yusuf Ali dalam terjemahan Alquran yang dilakukannya mencoba menghindari kesalahan tersebut. Dia secara sengaja membuat terjemahan yang keliru terhadap Surat 5: 73.
Teks dalam bahasa Arab mengutuk mereka yang mengatakan bahwa: “Allah salah seorang dari yang tiga”, maksudnya adalah bahwa “Allah hanyalah satu dari tiga Tuhan”.
Baik Arberry maupun Pickthall menerjemahkan teks tersebut dengan benar.
Tetapi Ali sengaja menerjemahkan Surat 5:73 secara salah menjadi berbunyi:
Mereka menghujat barangsiapa berkata bahwa Allah adalah satu dari tiga dalam satu Trinitas. (God is one of three in a Trinity).
Kata-kata “dalam satu Trinitas” tidak pernah ada dalam teks bahasa Arab.
Ali menaruh kata tersebut dalam terjemahannya sebagai suatu usaha untuk menghindari kesalahan ayat Alquran yang merujuk umat Kristen sebagai mengimani tiga Tuhan. Dalam kenyataannya umat Kristen hanya mengimani Satu Tuhan Tri Tunggal: Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Umat Kristen sama sekali tidak mengimani 3 Tuhan, dan Maria bukan salah satu oknum dalam Trinitas.
Bahkan Concise Dictionary of Islam mengakui: Dalam beberapa kasus, “materi” yang membentuk substansi narasi Alquran, (seperti pengakuan iman Kristen dan Yudaisme), tidaklah mencerminkan apa yang dipahami oleh umat Kristen atau umat Yahudi itu sendiri!
(Dengan perkataan lain, sinyalemen Alquran terhadap materi ajaran Kristen/Yahudi itu tidaklah tepat sebagaimana mestinya!)
Alquran jelas salah dalam hal ini sampai-sampai seorang Muslim seperti Yusuf Ali, harus secara sengaja membuat suatu terjemahan Alquran yang salah, demi menghindari kesalahan Alquran itu sendiri.

Kesalahan Mengenai ‘Anak’ Tuhan
Contoh Alquran membuat kesalahan dengan menyatakan bahwa umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah “Anak” Tuhan. Istilah “Anak” di sini dipahami Alquran dalam artian bahwa Tuhan “Bapa” mempunyai tubuh laki-laki dan telah melakukan persetubuhan dengan Maria. Itu sebabnya dalam pikiran Muhammad, mengatakan “Tuhan punya Anak” adalah menghujat, sebab hal itu berarti bahwa Tuhan berhubungan seks dengan seorang wanita (Surat 2: 116; 6: 100, 101; 10:68; 16:57; 19: 35; 23:91; 37:149, 157; 43:16-19).
Padahal, umat Kristen percaya bahwa Maria adalah perawan ketika Yesus dikandungkan dalam tubuhnya oleh Roh Kudus (Lukas 1:35). Jadi Yesus adalah “Anak” Tuhan, tetapi bukan dalam pengertian seksual atau fisikal dan biological seperti yang dipahami Muhammad. Tuhan “Bapa” bukanlah manusia dan oleh karenanya tidak mempunyai tubuh laki-laki dan tidak berhubungan seks dengan siapa pun. Jikalau itu yang dimaksudkan dalam Alqiran, dalam hal itu pulalah Alquran salah 100 persen!

Sembahyang Menghadap Yerusalem
Alquran sebagai wahyu lagi-lagi membuat kesalahan pengajaran dengan menyatakkan bahwa umat Kristen sembahyang menghadap Yerusalem (Surat 2: 144, 145) Umat Kristen jelas-kelas tidak berkiblat pada arah tertentu manapun di sunia ketika mereka sembahyang. [Tuhan adalah Roh, penyembahan yang benar kepadaNya tidak ditentukan oleh arah dan tempat tinggal manapun (Yoh 4:21-24). Ruang, waktu, dan bahasa tidak mungkin boleh membatasi ke-MAHA-an diriNya!]

Kesalahan Mengenai Kepercayaan Yahudi
Alquran membuat kesalahan pengajaran dengan menyatakan bahwa umat Yahudi percaya bahwa Uzair adalah Anak Tuhan, seperti halnya umat Kristen menyatakan bahwa Yesus adalah anak Tuhan (Surat 9:30). Hal tersebut sangat jauh dari kebenaran, karena orang-orang Yahudi tidak pernah mentuhan-kan Uzair secara ilahi.
Sebagaimana yang dinyatakan dalam Concise Dictionary of Islam sebagai berikut:
Banyak rincian-rincian mengenai Yudaisme yang ditulis dalam Alquran yang menyimpang dari apa aslinya kepercayaan Yahudi.29
[Walau sering mengenai Yudaisme berulang-ulang, namun pada dasarnya Muhammad tidak memahami dengan benar apa itu Kitab Taurat, apalagi Zabur, Injil].

Rasisme Arab
Menurut terjemahan bahasa Arab secara literal dari Surat 3:106-107, pada Hari Penghakiman, hanya orang-orang dengan wajah putih yang akan diselamatkan. Orang-orang dengan wajah hitam akan dihukum. Ini merupakan rasisme dalam bentuknya yang paling jelek.
Sebagaimana Victor dan Deborah Khalil mengungkapkannya dalam artikel mereka mengenai Islam sebagai berikut: Orang-orang Amerika berkulit hitam telah dibujuk oleh Islam secara luas, tetapi melalui informasi yang salah.
Mereka mendengar, “Kekristenan adalah agama orang kulit putih; Islam adalah agama dari segala bangsa”.
Mereka diberitahu bahwa Allah dan Muhammad adalah hitam. Padahal sesungguhnya orang Muslim di Timur Tengah masih menganggap orang-orang berkulit hitam sebagai budak-budak. Bagi mereka, adalah lebih jelek daripada menghujat kalau mempercayai bahwa Allah atau Muhammad adalah hitam.”
Perlu pula dijelaskan bahwa orang-orang Muslim Arab telah memperbudak orang-orang Afrika berkulit hitam jauh hari sebelum orang-orang barat mulai melibatkan diri di dalamnya.
[Harap dibedakan: Kalau ada praktek perbudakan di kalangan orang-orang Barat, belum tentu mereka Kristen. Dan bila pun mereka Kristen, praktek tersebut bukanlah legitimasi dari ajaran Kristen. Berlainan dengan Islam yang melegitimasikan perbudakan! Bahkan Muhammad sendiri memelihara budak, baca Hadis Shahih Bukhari col. 6 no. 435].

Suatu Surga Kedagingan
Alquran menjanjikan suatu Surga penuh anggur dan seks bebas (Surat 2: 25; 4: 57; 11: 23; 47:15)
Jika mabuk dan perbuatan tidak bermoral merupakan dosa selagi masih di dunia, bagaimana mungkin perbuatan semacam itu dibenarkan di Surga? Apakah hal ini bukan merupakan bukti nyata kesekian kali bahwa Islam sesungguhnya merefleksikan ide-ide dan kebiasaan-kebiasaan dari budaya Arab abad ke-7?
Gambaran Alquran mengenai keindahan Surga sama persis dengan apa yang dipikirkan oleh para penyembah berhala bangsa Arab abad ke-7.
Konsep kedagingan dan duniawi mengenai harem dengan wanita-wanita dan segala macam anggur yang dapat diminum sungguh bertentangan langsung dengan konsep Alkitab mengenai Surga yang bersifat rohaniah, transcendental dan kudus (Wahyu 22: 12-17). Tak ada yang lebih jelas daripada pertentangan ini. [Quran dengan bahasa surgawi (Arab) mencoba menggambarkan sorga secara nyata. Namun terperosok menggambarkannya secara keduniaan (seperti dongeng Persi). Berlainan dengan penulis-penulis Alkitab yang memang menyadari bahwa bagaimana pun, pikiran dan bahasa dunia tidak akan mampu mendeskripsikan sorga.].

Masalah Riba
Di Arabia abad ke-7, praktek-praktek menetapkan bunga atas uang yang dipinjamkan pada orang lain dikutuk sebagai riba. Jadi tidaklah mengherankan kalau Muhammad juga mengutuk riba dalam Alquran (Surat 2: 275 ff; 3: 130; 4:161; 30:39).
Alasan kami menunjukkan hal ini yaitu bahwa umat Muslim modern saat ini secara terbuka mengingkari ajaran Alquran dalam kaitannya dengan hal ini. Umat Muslim sekarang akan menarik bunga pada uang yang dipinjamkannya dan mereka akan membayar bunga pada uang yang mereka pinjam.
Kalau umat Muslim harus menerapkan kutukan Alquran terhadap riba pada praktek keuangan mereka jaman sekarang, pasti tidak akan ada yang namanya bank-bank Muslim.
Bahkan pemerintah-pemerintah Muslim pun seharusnya tidak akan mengenakan bunga atau menerima bunga atas pinjaman. Itulah sebabnya mengapa beberapa pembela Muslim mencoba dengan segala cara untuk tetap bersih dari isu riba. Sebab kalau tidak, mereka harus mendefinisikan riba sebagai mengambil bunga tidak sah.
Namun sudah jelas, bukan saja dari Alquran, tetapi juga dari konteks sejarah, bahwa Muhammad melarang menarik bunga sama sekali atas semua uang yang dipinjamkan, terutama kepada sesama Muslim.

Diskusi Riba Yang Menarik
Dalam suatu percakapan dengan seorang Muslim, saya menyebutkan larangan Alquran atas penarikan riba pada uang yang dipinjamkan pada orang lain. Dia mengabaikan hal tersebut karena dia berpendapat bahwa Alquran dalam masalah ini hanya merefleksikan dari budaya Arab abad ke-7 dan oleh karena itu larangannya dapat diabaikan pada jaman kini.
Tetapi saya mengatakan bahwa jikalau prinsip seperti ini (pengabaian larangan Islam) diterapkan kepada semua unsur budaya Islam lainnya, misalnya kewajiban melaksanakan kelima rukun Islam, hukum-hukum sipil, hukum mengenai makanan, hukum berbusana, dan lain-lain, maka Islam sendiri akan ambruk seperti rumah kartu-kartuan.
Setelah merenungkan apa yang saya katakan ini, dia kemudian berubah pikiran. Ia mengatakan bahwa larangan Alquran atas riba memang bukan hukum “budaya”, tetapi hukum Allah yang abadi.
Saya terpaksa harus mengatakan bahwa larangan Alquran atas riba bisa merupakan larangan budaya dan karenanya boleh diingkari, atau larangan ini merupakan firman Allah yang abadi dan karenanya orang-orang harus tunduk dan tidak lagi mengambil bunga atas uang yang dia pinjamkan.

Atas kata-kata saya ini teman Muslim di atas tidak memberi tanggapan.
Bagi pemikiran akal sehat, sudah jelas bahwa setiap kali seorang Muslim menerima bunga dari rekening banknya, dari uang yang dipinjamkannya, atau dari hipotek barang, setiap kali itu pula dia mendemonstrasikan bahwa Alquran sungguh merupakan produk dari budaya Arab abad ke-7 dan bukan firman Tuhan yang abadi. .(Kalau dia menganggap itu firman Tuhan yang abadi pasti dia tidak boleh menerima bunga tersebut).

Kesimpulan
Sementara seorang Muslim yang saleh mengimani dengan sepenuh hatinya bahwa ritual-ritual dan doktrin-doktrin Islam seluruhnya berasal dari Surga dan oleh karenanya tidak mungkin mempunyai sumber-sumber duniawi, para ilmuwan kajian Timur Tengah sebaliknya telah menunjukkan dengan tanpa ragu-ragu bahwa setiap ritual kepercayaan dalam Islam dapat ditelusuri kembali sampai pada budaya Arab zaman pra-Islam.

Dengan kata-kata lain, Muhammad tidak mengajarkan sesuatu yang baru. Semua yang dia ajarkan telah dipercaya dan dipraktekkan di Arabia jauh sebelum Muhammad lahir. Bahwa ide dari “satu-satunya Tuhan” telah dipinjamnya dari umat Yahudi dan Kristen. Fakta yang tidak dapat dibantah ini menyirnakan pernyataan Muslim bahwa Islam diwahyukan dari Surga. Karena ritual-ritualnya, kepercayaannya, dan bahkan Alquran sendiri dapat ditelusuri dan dijelaskan dari sumber budaya Arab jaman pra-Islam. Hal ini menunjukkan bahwa agama Islam bukanlah agama pewahyuan surgawi.
Tidak mengherankan, bahwa para ilmuwan Barat telah menyimpulkan bahwa Allah bukan Tuhan Elohim (YAHWEH), Muhammad bukan nabi Elohim, dan Alquran bukanlah Firman Elohim. –

Bab 9 Klaim Muslim Terhadap Alquran

Pernyataan umat Muslim tentang keaslian, nilai sejarah, komposisi, dan kemurnian teks Alquran begitu mengejutkan sehingga menuntut Alquran perlu diperiksa secara lebih terperinci.

Bahasa Arab Yang Sempurna

Umat Muslim mengklaim bahwa teks Alquran ditulis dengan huruf Arab yang sempurna dalam setiap hal karena Allah sendiri yang menulisnya di Surga.

The Shorter Encyclopedia of Islam menyatakan: “Bagi umat Islam, kesempurnaan mutlak bahasa yang digunakan dalam Alquran adalah merupakan suatu dogma yang tidak terkalahkan”!

Apapun yang dilakukan Allah sempurna adanya, maka penulisan Alquran pasti juga menggunakan bahasa Arab yang sempurna. Pernyataan tersebut dapat ditemukan dalam Surat 41:41, 44; 12: 2; 13: 37; 85: 21,22; 10: 37.

Umat Islam percaya bahwa Allah menulis Alquran di Surga di atas lempengan batu yang seukuran meja sebelum Alquran diturunkan kepada Muhammad.

Tidak Ada Ejaan yang Bervariasi

Klaim berikutnya yaitu pernyataan bahwa Alquran begitu sempurna, sehingga tidak ada teks di dalamnya yang bervariasi dalam ejaannya, tidak ada ayat-ayat yang hilang, dan tidak ada naskah-naskah teks Alquran yang bertentangan satu sama lain. Dalam hal ini para pembela Muslim menunjukkan bahwa Alkitablah yang mengandung banyak teks-teks bacaan yang saling bertentangan, sementara Alquran adalah sempurna jadi tidak ada teks bacaan yang saling bervariasi.

Naskah-Naskah Asli yang Ditemukan

Banyak orang Muslim menceritakan pada kami dengan keyakinan penuh bahwa “naskah asli” Alquran yang dikumpulkan dan disusun sendiri oleh Muhammad masih ada, dan bahwa semua isi Alquran berasal dari naskah asli yang satu-satunya ini.

[ Tetapi tatkala ditanya persisnya di mana naskah asli tersebut, dan dari tahun berapa, mereka tidak yakin dan berselisih pendapat].

Tidak Ada Terjemahannya

Karena Alquran ditulis dalam bahasanya Allah, umat Muslim mengklaim bahwa tida ada seorangpun manusia fana ini mampu menterjemahkannya ke dalam bahasa lain.

[ Dan memang yang boleh disebut sebagai Alquran hanyalah kalau ia tertulis dalam bahasa Arab. Selain dari itu hanyalah tafsir atau Terjemahan Alquran].

Tidak Bisa Dibandingkan dengan Apapun

Menurut Muslim, tidak seorang pun dapat menulis suatu karya seperti yang dapat ditemukan dalam Alquran (Surat 10: 37, 38). Apakah pernyataan dan klaim-klaim tersebut benar adanya? Apakah semua itu sesuai dengan kenyataan-kenyataan? Kami harus mengatakan dengan tanpa ragu-ragu sedikitpun, bahwa pernyataan-pernyataan tersebut salah! Mari kita simak secara seksama.

[ Suatu tantangan Muhammad bahwa apabila ada yang sanggup menuliskan”semisal Quran”, maka dipalsulah Alquran Allah. Dan ternyata tantangan ini mendapat banyak sambutan; sayangnya sanbutan ini tidak disambut dan “di proses” lebih lanjut secara konsekuen oleh umat Islam].

Bukan Bahasa Arab Sempurna

Pertama-tama, Alquran bukanlah bahasa Arab yang sempurna. Alquran mengandung banyak sekali kesalahan gramatika seperti dalam Surat 2: 177, 192; 3: 59; 4: 163; 5: 69; 7:160; 13: 28, 64: 10 dan lain-lain.

Ali Dashti berkomentar bahwa Alquran mengandung:

· Kalimat-kalimat yang tidak lengkap

· Dan tidak sepenuhnya dapat dimengerti tanpa bantuan komentar dan tafsiran;

• Ia mengandung banyak kata-kata asing (non Arab), atau kata-kata Arab yana tidak lazim.

• Dan kata-kata yang digunakan dalam arti berbeda dari arti yang normal;

• Kata-kata sifat, dan kata-kata kerja yang diubah semaunya tanpa mentaati azas gemder dan jumlah;

• Kata-kata ganti yang diterapkan secara tidal logis dan tidak gramatikal yang kadang-kadang tanpa acuan;

• Dan mengandung predikat yang terlepas dari subyeknya terutama dalam perikop-perikop yang bersajak.

Kalau dihitung-hitung, tercatat lebih dari seratus penyelewengan Alquran dari kaidah dan struktur-struktur bahasa Arab yang baku.

Kata-Kata Asing

Sebagai tambahan, ada lagi bagian-bagian dari Alquran yang bahkan bukan dalam bahasa Arab! Dalam bukunya yang berjudul The Foreign Vocabulary of the Quran, Arthur Jeffery mendokumentasikan fakta-fakta bahwa Alquran mengandung lebih dari 100 kata-kata asing (bukan bahasa Arab).

Ada kata-kata dan frasa-frasa dalam Alquran yang merupakan bahasa Mesir, bahasa Ibrani, bahasa Yunani, Siriak, Akkadian, Etiopia, dan bahasa Persia.

Ilmuwan dalam kajian Timur Tengah, Canon Sell mengamati sebagai berikut:

Jumlah kata-kata asing (dalam Quran) ada sangat banyak. Kata-kata tersebut dipinjam dari berbagai bahasa lain (misalnya saja,’FIRDAUS’ adalah bahasa sansekerta, bukan Arab).

Dalam “Mutawakkil” yang ditulis oleh Jalalu’s-Din as –Syuti terdapat 107 kata-kata yang didaftarkan dan dikomentari. Buku berharga tersebut telah diterjemahkan oleh W.Y. Bell dari yale University.

Teks berbahasa Arabnya juga terlampir. Hal tersebut secara kebetulan telah memperlihatkan alangkah banyaknya ide-ide yang dipeinjam dari bahasa lain. (dengan kata lain, Alquran telah kecolongan bahasa-bahasa asing!)

Banyak Teks-Teks Bacaan yang Ejaannya Bervariasi

Umat Muslim mencela Alkitab yang kadang-kadang memuat kata-kata yang berbeda dalam berbagai naskahnya. Padahal sebetulnya yang seperti itu adalah teks-teks Alquran sendiri. Dalam Alquran banyak terdapat teks-teks bacaan yang saling bertentangan sebagaimana yang diperlihatkan nyata-nyata oleh Arthur Jeffrey dalam bukunya yang berjudul Material for the History of the Text of the Quran.

Suatu saat, Jeffrey memperlihatkan 90 halaman dari teks-teks bacaan yang ejaannya berbeda! Contohnya dalam Surat-surat terdapat lebih dari 140 teks-teks bacaan Alquran yang bertentangan dan bervarian.

Semua ilmuwan barat dan Muslim mengakui adanya teks-teks bacaan yang bervarian dalam Alquran. Guillaume menunjukkan bahwa Alquran semula “mengandung banyak sekali varian-varian, yang tidak selalu boleh diremehkan.

Sungguh menarik untuk dicatat bahwa jurnal-jurnal ilmiah dari sarjana-sarjana Muslim mulai mengakui, walaupun dengan enggan, kenyataan bahwa banyak teks-teks bacaan dalam Alquran yang bertentangan dan bervarian.

Usaha Muslim Untuk Menutupi Pekerjaan para ilmuwan Barat seperti Arthur Jeffery dan lain-lainnya telah dihambat oleh umat Muslim dengan tidak mengizinkan para ilmuwan barat untuk melihat naskah-naskah tua dari Alquran yang berdasarkan pada teks-teks sebelum Uthman, Jeffery menghubungkannya dengan suatu peristiwa:

Suatu contoh menarik di zaman modern ini terjadi ketika kunjungan almarhum Profesor Berstrasser yang terakhir kalinya ke kairo. Dia sedang sibuk melakukan pemotretan arsip dan dia telah memotret sejumlah Kufic Codex (kumpulan naskah-naskah Alquran kuno yang menggunakan huruf-huruf Arab yang berlaku zaman kuno) di perpustakaan Mesir ketika saya menunjukkan sesuatu yang ada dalam perpustakaan Azhar tersebut yang mempunyai ciri-ciri yang mengundang rasa ingin tahu.

Dia minta izin untuk memotret benda tersebut pula, tetapi permohonannya ditolak dan bahkan kumpulan naskah-naskah Kufic Codex ditarik kembali, dengan alasan orthodoxy bahwa ilmuwan Barat tidak diizinkan untuk mengetahui teks-teks kuno semacam.

Jeffrey berkomentar: Usaha-usaha untuk melestarikan apa adanya teks-teks Alquran yang bervarian itu telah mendapat tekanan kaum ortodoks secara definitif.

Beberapa Ayat Terhilang

Menurut Profesor Guillaume dalam bukunya yang berjudul Islam (hal 191 ff); beberapa ayat asli Alquran telah hilang. Misalnya, salah satu Surat yang aslinya terdiri dari 200 ayat pada masanya Aisyah. Tetapi sesaat sebelum Uthman membakukan teks Alquran, jumlah ayat tersebut tinggal 73 ayat!

Sejumlah 127 ayat telah hilang, dan tidak pernah ditemukan lagi.

Sekte Muslim Shiah menyatakan bahwa Uthman menghilangkan 25% dari ayat-ayat asli Alquran karena alasan politik.

Adanya ayat-ayat yang dihilangkan dari Alquran versi uthman telah diakui secara universal. Dalam buku yang ditulis oleh John Burton yang berjudul The Collection of the Quran yang diterbitkan oleh Universitas Cambridge, terdokumentasi bagaimana hilangnya ayat-ayat tersebut. Tanggapan Burton atas pernyataan umat Muslim bahwa Alquran itu sempurna adalah sebagai berikut:

Laporan-laporan dari pihak Muslim mengenai sejarah teks-teks Alquran adalah membingungkan yang tak terselesaikan, kontradiktif satu sama lain, dan tidak konsisten.

Perubahan-Perubahan Dalam Alquran

Satu hal yang menarik sehubungan dengan hilangnya beberapa ayat-ayat Alquran yang asli terlihat dari caranya seorang pengikut Muhammad yang bernama Abdollah Sarh menyarankan kepada Muhammad untuk memfrasakan kembali (mengatakan dengan menggunakan kata-kata lain), menambah, atau mengurangi kata-kata yang terdapat dalam Surat-Surat Alquran. Muhammad memang seringkali melakukan apa yang disarankan oleh Abdollah Sarh.

Ali Dashti menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi sebagai berikut:

Abdollah meninggalkan Islam karena alasan keberadaan wahyu yang diperoleh Muhammad tersebut. Jikalau wahyu tersebut berasal dari Tuhan, tentunya tidak dapat diubah hanya semata-mata karena saran dari penulis sebelum dirinya. Setelah kemurtadannya, Abdollah Sarh pergi ke Mekah dan bergabung dengan suku Quraisy.

Jadi tidaklah mengherankan ketika Muhammad menaklukkan Mekah, orang pertama yang dibunuhnya adalah Abdollah, karena Abdollah mengetahui terlalu banyak dan terlalu sering membuka mulut.

Beberapa Ayat Digantikan

Mengenai proses pembatalan seperti yang disebutkan pada bab terdahulu, ayat-ayat yang bertentangan dengan iman dan kebiasaan Muslim telah dihilangkan dari teks Alquran, seperti misalnya “ayat-ayat setan” di mana Muhammad pernah menyetujui penyembahan kepada tiga dewi yang adalah puteri-puteri Allah.

Ilmuwan Arabic yang bernama E. Wherry berkomentar sebagai berikut:

Sehubungan dengan adanya beberapa pasal dalam Alquran yang bertentangan satu sama lain, para pembela Muhgammad menangkal semua keberatan tersebut dengan doktrin penggantian (nasakh), karena menurut mereka tuhan dalam Alquran memang memerintahkan beberapa hal agar ditarik kembali dan digantikan demi kebaikan semua pihak.

Selanjutnya Wherry juga mendokumentasikan banyak contoh ayat-ayat yang dikeluarkan/dicabut dari Alquran.

[Abdallah Abd al-Fadi berkomentar demikian: Nasakh terhadap kata-kata Allah sendiri adalah bertentangan dengan Kemahatahuan Allah terhadap segala rahasia dan motivasi tersembunyi di masa depan. Nasakh hanya pantas untuk kata-kata manusia yang berpenglihatan pendek, yang menarik kata-katanya demi problem solving yang manipulatis. Ini tidak mungkin dijejerkan dengan “Rancangan Agung” dari Tuhan yang Mahasempurna].

Canon Sell dalam bukunya yang berjudul Historical Development of the Quran juga berkomentar mengenai kebiasaan menyingkirkan ayat-ayat dari Alquran tatkala ayat-ayat tersebut dianggap menimbulkan kesulitan/masalah.

Komentarnya sebagai berikut:

Sungguh sangat mengherankan bagaimana mungkin suatu kompromi seperti itu dapat terjadi sampai-sampai suatu prosedur dapat dimasukkan dalam satu sistem pewahyuan oleh para sahabat (atau bukan sahabat).

Beberapa Ayat Ditambahkan

Bukan saja bagian-bagian Alquran dihilangkan, tetapi juga sebaliknya terdapat ayat-ayat maupun bab-bab baru yang ditambahkan. Misalnya, Ubai mempunyai beberapa Surat dalam naskah Alquran yang disingkirkan oleh Uthman dari teks yang dibakukannya. (misalnya Surat al-Khafadh dan al-Khal). Jadi ada naskah-naskah Alquran lain yang beredar sebelum teks baku Uthman. Dalam naskah-naskah Alquran ini terdapat wahyu tambahan dari Muhammad yang tidak dicantumkan dalam teks baku Uthman, entah karena terhilang atau karena tidak disetujui oleh Uthman.

Tidak Ada Naskah Yang Asli

Jadi apakah naskah asli Alquran masih ada? Dan kami telah membuktikan bahwa tidak ada satupun naskah asli Alquran yang masih beredar.

Seperti yang dinyatakan oleh Jeffery sebagai berikut: Hal yang pasti bahwa setelah Nabi Muhammad meninggal, tidak ada naskah wahyu yang terkumpul, tersusun, atau terbundel dalam satu kesatuan. Tradisi yang paling tua yang bisa ditemukan pada masa-masa Muhammad meyakinkan kita bahwa tidak ada satupun naskah utuh Alquran yang diwariskan kepada pengikut-pengikut Nabi. Nabi telah menyatakan pesan pewahyuannya secara lisan.

Tidak diketahui manakah di antara pesan-pesan tersebut yang telah dicatat dan yang tidak. Itu semata-mata masalah kebetulan, kecuali memang diketahui adanya pesan-pesan tersebut dicatat pada masa-masa belakangan dari pelayanannya.

Bagaimana dengan laporan umat Muslim yang menyatakan bahwa Muhammad telah mengumpulkan naskah-naskah Alquran selengkapnya sebelum dia mati?

Jeffery menjawab sebagai berikut: Tidak ada yang bisa dikatakan lain kecuali menyatakan bahwa laporan-laporan tersebut adalah fiktif.

Caesar Farah dalam bukunya mengenai Islam menyatakan: Ketika Muhammad meninggal, tidak ada satupun koleksi naskah asli dari teks ayat-ayat suci.

The Shorter Encyclopedia of Islam berkomentar: Hanya satu hal yang pasti dan diakui secara terbuka dalam Tradisi/Hadis, yaitu bahwa tidak terdapat satupun koleksi dari wahyu-wahyu yang sudah berbentuk seutuhnya, sebab selama Muhammad masih hidup, selalu saja ada wahyu-wahyu yang ditambahkan pada wahyu-wahyu terdahulu.

Menjadi jelas bahwa tulang-tulang, batu-batu, daun-daun palem, kulit pohon, dan lain-lain yang bertuliskan beberapa materi yang diucapkan Muhammad setelah dia mengalami keadaan seperti kerasukan itu, baru dikumpulkan setelah kematian Muhammad!.

Versi naskah-naskah pertama dari Alquran bertentangan satu sama lain. Ada naskah yang kelebihan isi Suratnya (lebih dari 114 Surat), dan ada yang isi Suratnya kurang (kurang dari 114 Surat). Penggunaan kata-kata juga ada yang berbeda di antara versi-versi koleksi yang berbeda. Merupakan suatu kenyataan bahwa tidak ada satupun dari bahan-bahan tersebut yang masih ada sekarang. Mereka telah lama hilang atau rusak.

Kami pernah menantang seorang pembela Muslim untuk menyebutkan di mana tempat disimpannya naskah asli Alquran, yang katanya tersimpan baik. Ternyata dia hanya mampu mengatakan bahwa dia tidak tahu tempatnya, namun dia yakin pasti bahwa naskah tersebut memang ada karena harus ada. Argumentasi semacam itu lebih jelek daripada tidak beragumentasi sama sekali.

Teks-Teks Uthman

[ Dalam usahanya untuk ‘menyatukan’ isi dan bentuk Quran menjadi Mushaf Uthman yang standard, patut disesalkan tindakan Khalif Uthman yang mendekritkan pemusnahan semua himpunan (atau bahkan bagian) dari naskah-naskah lain yang telah ada sebelumnya yang merupakan naskah-naskah Quran yang paling primer: “Uthman mengirim kepada setiap provinsi satu kitab yang telah mereka salin, dan memerintah agar semua naskah-naskah Alquran yang lain, apakah dalam bentuk yang terbagi-bagi, atau yang lengkap, harus dibakar”. (HSB, VI/479)].

Mengenai usaha pembakuan Alquran yang dilakukan oleh Khalif Uthman, pertanyaan sejarah berikut ini patut diajukan:

1. Mengapa Uthman harus membakukan suatu teks lain jikalau sebelumnya memang sudah pernah ada teks yang baku?

2. Kalau memang tidak ada naskah-naskah yang saling bertentangan, mengapa Uthman mencoba menghancurkan semua naskah-naskah lain yang sudah ada? [Atas wewenang siapa Uthman memusnahkan naskah Quran koleksi sahabat-sahabat Muhammad yang lain, yang sebelumnya justru tidak pernah dipersoalkan oleh Muhammad? Yang “kesalahan teksnya” juga tidak pernah dituduhkan oleh uthman sendiri?]

3. Mengapa Uthman harus menggunakan ancaman hukuman mati untuk memaksa orang-orang menerima teks Alquran yang telah dia bakukan kalau setiap orang sebelumnya telah memiliki teks yang sama?

4. Mengapa banyak orang tetap menolak menggunakan teks yang dia bakukan dan tetap mempertahankan teks-teks yang telah mereka miliki sebelumnya? [ Lebih jauh lagi bisa diajukan: siapakah diantara para ahli yang sanggup membuktikan bahwa koleksi naskah dari sahabat-sahabat Nabi yang lain (seperti Ibnu Mas’ud, ubai dan lain-lain) adalah salah atau kalah mutu/keasliannya ketimbang yang dipilih Uthman? Bukankah Muhammad sendiri yang menjagokan 4 orang saja (Ibnu mas’ud dan Ubai, Salim dan Ibnu Jabal) sebagai tempat belajar mengaji Quran? Baca Hadis V/96,97].

Empat pertanyaan tersebut menimbulkan adanya keadaan yang membingungkan dan kontradiktif mengenai teks-teks Alquran pada masa Uthman.

Kenyataan bahwa dia memerintahkan penghancuran semua salinan Alquran yang ada sebelumnya menunjukkan bahwa dia takut kalau-kalau salinan-salinan tersebut akan memperlihakan bahwa teks yang dibakukannya itu mengandung ketidaksempurnaan baik karena ada tambahan atau pengurangan dari apa yang sesungguhnya diucapkan oleh Muhammad.

Sungguh bersyukur, bahwa beberapa dari naskah-naskah yang lebih tua tersebut masih dapat diselamatkan dan ditemukan kembali oleh ilmuwan-ilmuwan seperti Arthur Jeffery.

Ilmuwan-ilmuwan Barat telah menunjukkan dengan penuh kepastian bahwa teks yang dibakukan Uthman tidak mengandung semua isi Alquran yang diterima Muhammad! Juga tidak mengandung kata-kata yang seluruhnya sesuai dengan Alquran yang diterima Muhammd.

[NB. Para Muslim begitu saja percaya bahwa susunan acak seperti apa yang ada pada Quran sekarang ini adalah datang langsung dari Allah. Setelah wahyu-wahyu turun menurut kronologi waktu oleh Muhammad (atas nama Jibril) Quran lalu ditetapkan untuk “disusun acak”. Alasan mereka berdasarkan kata-kata Muhammad: “Tulislah ayat ini dalam surat yang di dalamnya terdapat ayat anu dan ayat anu” (HR Abu Dawud dan Ahmad). Tetapi kenapakah jibril sengaja melakukan perubahan susunan dari kronologi ayat per ayat menjadi acak? Dan acaknya ayat-ayat ini diacakkan lagi dalam urutan Surat yang berpolakan panjangnya tiap Surat? Apakah pengacakan Quran oleh Uthman ini tidak mendapat peringatan Allah? Sulit menjawabnya! Namun sejarah mencatat banyakPerlawanan sengit dari orang-orang beriman terhadap perlakuan Uthman ini. Mereka menolak otoritas Uthman yang menetapkan sewenang-wenang edisi Alquran yang dibukukan. Allah mengizinkan kematiannya terjadi secara tragis ketika beberapa ratus anggota suku-suku Irak dan Mesir menyerbu masuk ke rumahnya dan membunuhnya (Sejarah Islam, Balazuri, Ansab). Al-Tabari menulis dalam bukunya The Historis of nations and Kings, tentang cara kematian Uthman yang aneh, sedemikian sehingga teman-temannya sendiri tidak berhasil mengebumikan jenazahnya selama 2 hari berselang. Dan karena sebagian musuh-musuhnya melarang jenazahnya dimakamkan secara Muslim di makam Muslim, maka jenazah tersebut terpaksa dimakamkan di pekuburan Yahudi! Kematian yang sedemikian aib bagi tokoh sekaliber Uthman agaknya bukan kebetulan].

Banyak Terjemahan

Sebagimana yang diklaim oleh umat Muslim bahwa Alquran tidak dapat diterjemahkan. Namun sungguh mengherankan ketika seorang Muslim Inggris, Mohammed Pickhtal dapat mengatakan, “Alquran tidak dapat diterjemahkan”, sementara kata-kata tersebut ditulisnya pada mukkadimah terjemahan Alquran yang telah dikerjakannya dengan sangat baik. Pernyataan bahwa Alquran tidak dapat diterjemahkan jelas merupakan suatu penyangkalan terhadap keberadaan banyak terjemahan Alquran yang beredar saat ini.

[Sebenarnya bukan masalah terjemahan, melainkan lebih merupakan masalah ibadah, dimana pembacaan Quran dalam bahasa non-Arabik tidaklah termasuk sebagai ibadah yang mendatangkan pahala!].

Surat Semisal Alquran

[Quran diklaim sebagai wahyu Allah. Namun klaim ini tidak disukung oleh saksi-saksi eksternal yang adikodrati (dua atau tiga saksi) seperti yang disyaratkan oleh Taurat (semisal nubuat nabi-nabi terdahulu, mujizat dari kuasa tangan Muhammad, penyaksian Allah/malaikat yang disaksikan orang luar). Quran tidak pernah mencatat bahwa Muhammad pernah berbincang-bincang dengan Allah seperti halnya dengan Musa dan Yesus (QS 4:164; 3:55; 5:11). Dan setiap kali beliau diminta untuk menunjukkan tanda kuasa Allah yang menyertai seorang nabi (“Mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad suatu tanda dari Tuhannya” QS 13:7 dan lain-lain), beliau selalu menjawab kabur. Menyadari kelemahan dan kurangnya tanda-tanda kenabian inilah maka Muhammad terpaksa mengeluarkan jurus pembuktian bagi Quran dengan menantang kalau-kalau ada orang kafir (jin dan setan boleh dijadikan penolong-penolong sekalian) yang sanggup mengarang SATU SURAT SEMISAL ALQURAN.

[“Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Quran yang kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang yang memang benar”(QS 2:23, juga 17:18]

Tantangan untuk membuat Surat-surat seprti yang terdapat dalam Alquran telah disambut orang-orang banyak kali.

Ilmuwan kajian Timur Tengah, Canon Sell berkomentar: Manusia dapat menulis seperti seperti surat-surat tersebut bahkan mampu menggunakan bahasa yang lebih menggugah perasaan dan tersusun baik.

Seorang yang bernama Nadir ibn Haritha cukup berani menerima tantangan itu, dan dia menyusun beberapa cerita menganai raja-raja Persia dalam beberapa bab dan Surat, kemudian melantunkannya.

McClintock dan Strong berkomentar: Hamzah bin-Ahed menulis sebuah buku tandingan Alquran dengan menggunakan bahasa yang paling tidak sama indahnya dengan Alquran, dan Maslema menulis buku yang lain yang bahkan lebih indah dari Alquran, dan tulisan tersebut menyebabkan banyak kaum Muslim meninggalkan keimanannya.

[Tantangan ini sebenarnya bukan tantangan adi-kodrati melainkan hanyalah tantangan duniawi dan insani belaka, yaitu sejenis KONTES TULIS SURAT-MENYURAT, yang bisa disamai atau bahkan diungguli orang dengan akibat gugurnya keabsahan Quran sebagai Kitab Allah.

Banyak orang Muslim tidak tahu bahwa Quran koleksi Ubai bin Ka’b (mushaf ubai) sudah memuat dua surat “Semisal Quran” (Quran-nya Utsman), yaitu Surat 115 dan 116 ( Surat al-khafah terdiri 6 ayat, dan Surat al-Khal’ terdiri 3 ayat) yang kini hilang dari Quran standar (yang dibaca oleh para Muslim dewasa ini). Dengan menampilkan kembali kedua surat yang sempat dihilangkan oleh Utsman dari mushafnya, orang sesungguhnya mempunyai alasan yang sah untuk menjadikannya “Surat Semisal Alquran” yang layak dikonteskan terhadap tantangan Alquran versi Utsman.

Dr. W. Cambell juga sudah menyambut tantangan Muhammad yang satu ini. Ia menyodorkan Surat Mazmur 103: 1-22 dan Surat Yesaya 40:1-31 dan khotbah Yesus di Bukit :Surat Matius 6:16-24 dan 7:1-5; Ini memenuhi syarat karena Alkitab telah dianggap korup karena buatan manusia belaka? Bahkan di internet ada satu posting yang menyambut tantangan tersebut yang dipetik dari Surat Hukum Kasih, Matius 22:37-40. Kesemua petikan ini terlalu memenuhi syarat untuk dipertandingkan dengan Surat Alquran yang manapun!

Lalu apa konsekuensinya dengan maksud Muhammad dalam membuktikan keontetikan suatu Kitab Suci? Setiap tantangan harus melahirkan konsekuensi!

HEBOH INTERNET HARI-HARI INI

Terjadi berita hangat di koran-koran dan di internet baru-baru ini, tentang munculnya “The True Furqan” dalam 77 Surat. Ini sesungguhnya bukanlah Quran palsu seperti yang dihebohkan melainkan SURAT SEMISAL QURAN dalam bahasa puitis Arab dan Inggris, style quranic, klasik, dan indah yang merasa amat layak menyambut tantangan Muhammad.

Kita petikkan di sini komentar-komentar di internet, dan juga sekaligus membandingkannya dengan jenis TANTANGAN YESUS yang bersifat adikodrati:

“Setelah penyodoran Surat-surat indah ini, apakah lalu pakar-pakar Islam sanggup melayaninya? Rasanya tidak! Tidak ada panitia Islam manapun yang dapat muncul untuk memfollow up penjuriannya *Apa kriteria-kriterianya? (keindahan Bahasa dan redaksionilnya? Atau substansi religinya?

Paling utama kegunaannya? Paling luas aplikasinya? Relevansinya? Atau apa?)* Siapakah yang bakal dianggap layak menjadi juri terhadap kontes ini? Mahkamah Internasional? Team PBB? Tim Pencari Fakta? Rohaniwan paling saleh?* Apakah hasil penjurian manusia ini sah? (atas masalah yang sangat subyektif ini) tidak akan diprotes oleh otoritas lainnya dengan pelbagai alasan? *Dan yang terpenting, apakah hasil kontes manusia ini mengikat sah di mata Allah?”

Tampak betapa inkonklusif dan sia-sianya tantangan hidup mati nasib Quran Allah yang satu ini! Wahyu yang penjuriannya tidak bisa di actionkan oleh pihak Muslim sendiri, atau Nabi sekalipun. Ia macet tanpa solusi! (Bandingkan tantangan Yesus yang bersifat adikodrati. Tuntas tanpa perlu juri dan wasit, Lihat Yohanes 8:46 dan 2:18-22].

Jejak Sidik Jari Muhammad

Umat Muslim menyatakan bahwa bahwa Alquran “diturunkan” dari surga dan bahwa Muhammad tidak dapat dipandang sebagai manusia penyusunnya. Tetapi menurut Concise Encyclopedia of Islam, bahasa Arab yang dipakai dalam Alquran itu merupakan suatu dialek dan kosakata dari salah seorang anggota suku Quraisy yang tinggal di kota Mekah. Jadi sidik jari Muhammad tercecer di seluruh Alquran.

Jika Alquran ditulis dalam bahasa Arab surgawi yang sempurna, mengapa sampai terungkap dengan telak bahwa bahasa itu adalah logatnya seorang suku Quraisy yang bertempat tinggal di kota Mekah? (alias bahasa Arab Quraisy)

Argumentasi umat Muslim yang menyatakan bahwa Alquran ditulis dalam bahasa Arab surga sungguh tidak berdasar sama sekali.

Dialek, kosakata, dan isi Alquran mencerminkan gaya bahasa dari penulisnya, yaitu Muhammad dan bukan sosok Allah dari surga.

Kesimpulan

Sejarah faktual mengenai pengumpulan dan pengadaan teks Alquran yang benar menunjukkan bahwa klaim Muslim tersebut di atas (bahwa Alquran itu 100% unsur surgawi) adalah fiktif dan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Ceceran sidik jari tangan Muhammad dapat dilihat pada setiap halaman Alquran sebagai saksi bahwa asal Alquran tidak murni dari Allah.

[ Allah SWT sempat menyatakan bahwa Alquran itu adalah perkataan rasul belaka: “innahuu qaulu rasuulin kariim-(Surat 69 :40, dan 81:19, Terjemahan Alquran oleh Yayasan Pembinaan Masyarakat Islam “Al Hikmah” Jakarta).

Bandingkan dengan terjemaham Alquran salinnya, yang menterjemahkannya/mengartikannya berturut-turut sebagai “wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul yang mulia” dan “firman Allah yang dibawa oleh Jibril”. Memang ada ayat-ayat lain di dalam Alquran yang tidak sejalan dengan Surat-surat ini, seperti Surat 6:155, 10:37, 11:17 dan lain-lain, namun hal itulah yang menunjukkan pertentangan internal di aman Alquran yang dipercaya diimlakan secara maha sempurna itu tidak mungkin bisa memikul inconsistency demikian.

“Apakah mereka tidak mendalami Alquran kalau sekiranya (Alquran) itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka dapati banyak pertentangan di dalamnya.” (Surat 4:82)]. –