Sabtu, 10 Mei 2008



Naskah Laut Mati
Terjemahan Terbaik dan Komprehensif dari Gulungan-Gulungan Naskah Kuno Kontroversial. Memuat Materi yang Belum Pernah Dipublikasikan atau Diterjemahkan
Risalah Ilmu dan Falsafah
Pengarang Michael Wise, Martin Abegg Jr. and Edward Cook
ISBN: 9789791275385
15 x 23 cm -540 hal HVS - Rp. 79.900,-
Terbit: April 2008

Edisi revisi dan tambahan ini mencakup terjemahan baru dari banyak teks, pengantar untuk semua teks, dan pengantar baru yang meringkas sepuluh tahun terakhir eksplorasi Gulungan Laut Mati

Karya penting dari tiga pakar ternama Gulungan Laut Mati ini berhasil menyulap gulungan-gulungan kuno Qumran menjadi sangat hidup. Dengan menerjemah dan memastikan arti setiap bagian yang masih terbaca dari kepingan-kepingan Gulungan Laut Mati, ketiga penulis buku ini menyuguhkan komentar lugas atas keseluruhan teks dan menempatkan Gulungan pada konteks sejarah yang sesungguhnya.

Dalam pendahuluan yang brilian dan kaya wawasan, mereka tak hanya menyajikan tinjauan tentang isi Gulungan yang kerap mengejutkan, tetapi juga membahas misteri paling besar: siapa pengarang gulungan-gulungan itu dan mengapa mereka mengarangnya.




PUJIAN
“Buku yang luar biasa berharga bagi para sarjana maupun pembaca umum.”
Karen Armstrong, penulis A History of God
“Gulungan Naskah Laut Mati tak lagi untuk para sarjana saja. Gulungan-gulungan itu kini tersaji dalam sebuah buku yang bisa dipahami siapa pun. Bacalah teks ini. Tersimpan dua ribu tahun di dalam gua, gulungan-gulungan ini berjuang melawan pelapukan dan pembusukan agar bisa berbicara kepada Anda. Gulungan-gulungan ini telah menghidupkan para pengarang mereka dan akan menghidupkan kita, para pembacanya.”
John Dominic Crossan, Profesor Emeritus De Paul University, dan penulis In Search of Paul dan Historical Jesus
“Edisi revisi dari terjemahan sangat bagus ini menghidangkan terjemahan Gulungan Naskah Laut Mati yang lebih lengkap dan mudah dipahami para pembaca umum.”
Emanuel Tov, editor-in-chief Proyek Publikasi Gulungan Naskah Laut Mati, Hebrew University of Jerusalem


Dicetak dari: Serambi Online - Penerbit Buku-Buku Bermutu
Tanggal: 10 Mei, 2008
URL: http://www.serambi.co.id/modules.php?name=Katalog&op=tampilbuku&bid=334

Kabar Dari New York : Kekaguman Katherine Wesley


Katagori : Muslim Convert News
Oleh : Redaksi 29 Apr 2008 - 11:50 pm

KDNY (Kabar Dari New York):
imageimageAwalnya, ia hanya ingin meneliti Islam, khususnya fikih dan perbandingan hukum Islam. Tapi, ia mengaku "jatuh cinta" pada Islam. Sejak dua bulan terakhir ini, the Forum for non/new Muslims membahas tafsir S. Al-Hujurat Al-Quran. Rupanya metode pembahasan dengan menjelaskan kata per kata cukup menarik bagi banyak peserta. Memang di antara peserta itu sudah ada yang pernah mengambil kursus bahasa Arab. Sehingga pembahasan ayat-ayat Al-Quran dengan pendekatan "kata per kata" dan mendalami makna ayat-ayatnya dengan mendalami makna dari setiap kata menjadi daya tarik tersendiri.

Hari pertama saja, ketika saya menjelaskan kata 'aamanuu' pada ayat "yaa aayuhalladzina aamanuu laa tuqaddimuu……dst", mengambil waktu yang cukup panjang untuk menjelaskan semua makna yang terkait dengan kata itu.

Dimulai dari kata "amina-ya'manu-amnun" yang berarti "aman", hingga "aamana-yuuminu-I'maan wa amaanah" yang berarti "amanah" atau kepercayaan.

Duduk di salah satu sudut ruangan yang tidak terlalu luas itu, seorang gadis bule. Wajahnya putih bersih dan penuh senyum, tapi menampakkan sikap pemalu. Sesekali gadis itu menyelah seolah-olah membenarkan penjelasan saya, atau menguatkan argumentasi-argumentasi yang saya berikan.

Saya memang agak terkejut. Apalagi gadis ini belum saya kenal dengan baik. Maka, dalam sebuah sesi hari Sabtu itu saya Tanya, "may I ask you?"

"Yes sir!" jawabnya sopan.

"Do you speak Arabic?", tanyaku.

"Oh no!", katanya malu-malu. "But I took some course on Arabic", lanjutnya.

"Di mana anda mengambil kursus Arab, dan bagaimana tingkat bahasa Arab mu?" tanyaku.

Dengan sedikit tertawa dia mengatakan, "Jujur saya malu mengatakannya. Saya baru pemula."

"Saya juga pemula! Jawab saya sambil bercanda.

Menjelang akhir kelas, dua Sabtu lalu, Katherine, demikian dia mengenalkan diri, seperti ingin sekali mengatakan sesuatu tapi sepertinya sangat malu, atau sepertinya berat untuk disampaikan. Sesekali ingin mengatakan sesuatu, namun setiap kali saya pancing untuk berbicara, jawabannya "am..amm never mind!", seperti gaya anak remaja yang cuwek.

Setelah kelas bubar, barulah Katherine mendekat dan meminta waktu untuk berbicara. Oleh karena waktu saya singkat, saya katakan, apakah dia perlu waktu panjang?

"Tidak, hanya perlu waktu anda beberapa menit saja," katanya.

Saya kemudian meminta izin untuk menyelesaikan beberapa hal yang perlu saya selesaikan. Beberapa saat kemudian saya memintanya untuk masuk ke 'conference room'. Katherine masuk ke ruang conference dan berencana menutup pintu, tapi saya memintanya untuk tetap pintu terbuka. "It's fine, don't close it", kata saya.

"Alright Katherine! Adakah hal yang bisa aku bantu?", saya memulai percakapan siang itu.

"Iman (maksudnya Imam), are you familiar with Imam Latif?", tanyanya.

"Latif yang mana yang anda maksudkan? Aku mempunyai beberapa nama Latif dalam memori ku", kataku merujuk kepada kenyataan bahwa saya mengenal beberapa teman yang kebetulan bernama Latif atau Abdul Latif.

"I think he is the Imam at the NYU", jawabnya.

"Oh yeah, he is the Muslim Chaplain at the NYU and as well the Muslim Chaplain for the NYPD", jelasku.

Saya kemudian bertanya, ada apa dengan Imam Khalid Latif (nama lengkap Chaplain yang dimaksud) itu. Barulah kemudian saya tahu kalau Katherine itu adalah mahasiswa S3 di NYU, yang ternyata sedang menulis disertasinya dalam perbandingan madzhab Maliki dan Syafi'i.

"Aku telah menghadiri sebagian dari ceramah kuliah dan kutbahnya." (maksudnya Khutbah)", katanya mengenai Imam Latif.

Saya kemudian bertanya, kenapa ingin berbicara ke saya siang itu? Dari percakapan itu ternyata Katherine sudah meneliti Islam, khususnya fikih dan perbandingan fikih dalam hukum Islam. "For me, it's simply amazing!" (bagiku itu benar-benar mengagumkan), katanya mengenai diskusi-diskusi atau perdebatan-perdebatan yang terjadi di antara pada ulama Islam. Menurutnya, semakin dia dalam perberdaan pendapat para ulama itu, semakin sadar bahwa Islam itu begitu menjunjung tinggi ilmu dan semangat pencarian (inquiries). Dia bahkan mengetahui betul bahwa semangat inilah yang pernah menjadikan Islam jaya dalam segala lini kehidupan manusia.

"And so, what I can do for you?", tanya saya. Maksud saya, barangkali ingin mendiskusikan sesuatu yang berhubungan dengan disertasinya. Atau mungkin ingin mengklarifikasi tentang sesuatu dalam penelitian yang dilakukannya.

Katherine terdiam dan bahkan menunduk beberapa saat. "Saya berfikir untuk memeluk Islam," katanya seraya meneteskan airmata.

Tanpa terasa saya hanya langsung mengucapkan "alhamdulillah!". Bagi Katherine tentu kata ini bukan sesuatu yang asing lagi. Mendengar itu dia hanya tersenyum seraya mengusap airmatanya.

"Are you sure, Katherine?".

"Yes, I am sure. Pada dasarnya, saya telah memikirkan tentang dalam waktu yang cukup lama," katanya.

Saya kemudian mencoba menjelaskan kembali makna berislam. Bahwa beislam itu bukan sekedar mengetahui kebenaran ini, tapi dari itu merupakan komitmen hidup untuk melakukan perubahan internal maupun eksternal untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Saya memang tidak berpanjang lebar lagi berbicara kepada Katherine. Saya tahu Katherine sebenarnya tahu banyak tentang Islam, dan bahkan mungkin lebih banyak tahu dari 'average Muslims' yang terlahir dari orang tua Muslim. Apalagi memang dia telah meneliti hukum Islam, khususnya mengenai fikih Islam.

"Are you ready?", kembali saya tanya.

"Yes!", jawabnya tegas.

Saya meminta ke resepsionis untuk mencarikan dua orang saksi. Setelah saksi hadir di ruang pertemuan itu, saya memulai menuntun Katherine mengikrarkan:

"Laa ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasul Allah".

Diikuti pekik Allahu Akbar, saya mendoakan semoga Katherine dikuatkan dan bahkan menjadi da'iyah di jalanNya. Alhamdulillah! [www.hidayatullah.com]

New York, April 18, 2008


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Jumat, 09 Mei 2008

Tiba di AS, Paus Mengaku Malu Skandal Seks Kalangan Gereja


Katagori : Warta Berita
Oleh : Redaksi 16 Apr 2008 - 11:00 pm


Penelitian: Pendeta dan Iman Kristen Terus Merosot di AS
imageKunjungan pemimpin Katolik Roma ke AS, "disambut" fakta penelitan terbaru. Dimana Warga AS makin tak beriman dan hanya sebagian kecil tahu Paus.

"Amerika adalah Kristen," begitu kata banyak orang. Setidaknya dapat dibuktikan dengan tulisan "In God We Trust" (Kami percaya kepada Tuhan) yang tertera dalam tiap helai mata uang Dollar Amerika. Tapi benarkah seperti itu? Nyatanya tidak. Penelitian menyebutkan, warga AS memang mengaku Kristen, tapi jarang ke gereja. Sebuah survai yang dilakukan oleh Pew Research Center for the People dan the Press and the Pew Forum on Religion and Public Life bulan ini menyebutkan banyak hal mengagetkan.

Diantaranya disebutkan, warga Katolik Amerika tak benar-benar tahu siapa pemimpin mereka, Paus Benedictus XVI. Hasil penelitian menyebutkan, tiga dari 10 warga AS mengatakan, mereka tidak cukup tahu siapa Paus Benedictus XVI. Sedangkan, delapan dari 10 orang mengatakan, mereka hanya pernah mendengar sedikit nama Paus.

image"Jika anda menghentikan rata-rata orang di jalan dan meminta pendapat mereka apa mereka mengenal Paus Benedict XVI, saya mencurigai mereka akan mengatakan pada anda, well, dia nampak lebik baik dibanding apa yang banyak dikatakan orang ketika dia dipilih," kata John Allen seorang koresponden Koran National Catholic, Vatikan.

Sebagaimana diketahui, 70 juta warga AS, atau sekitar seperempat penduduknya beragama Katolik. Namun dalam penelitian disebutkan, sebagian besar warga Katholik sudah tidak berurusan lagi dengan gereja. Yang mengagetkan, mereka menentang sejumlah norma yang ditetapkan Vatikan.

Rakyat AS percaya pada Tuhan (38%) di antaranya pergi ke gereja tiap hari Minggu. Namun, dari seluruh warga Katholik hanya 41% pergi ke gereja sedikitnya seminggu sekali.

Anehnya, Paus menerima kenyataan itu dan menganggapnya sebagai 'cara berpikir sederhana'. Meski demikian, gereja Katolik memandang 'kritis kenyataan" dimana banyak warga Katolik AS telah menjauhkan diri dari ajaran-ajaran Vatikan dan lebih memilih "American way of life", yaitu gaya hidup konsumerisme.

imagePebruari lalu, penelitian the Pew Forum on Religion and Public Life menunjukkan, 10% dari orang-orang lahir secara Katolik mengatakan mereka sudah tidak lagi Katolik. Penelitian juga menemukan, jumlah pendeta terus menurun selama beberapa dasawarsa.

Apalagi setelah tahun 2002 lalu, di mana Katolik sempat diguncang skandal pelecehan seks oleh kalangan pendeta di Boston yang sempat menjadi isu nasional di Negera itu.

Karenanya, R. Scott Appleby, profesor sejarah Katolik di Universitas Notre Dame, berpendapat, saat ini diperlukan kehadiran Paus untuk menyampaikan hal-hal yang baik, memberikan kesaksian hidup Amerika, paroki dan jabatan kependetaan serta usaha luar biasa untuk keadilan sosial.

Ia juga berharap agar Paus datang untuk menawarkan kekuatan, kharismatik, penyembuhan terhadap krisis pelecehan pada kaum awam. Pau juga perlu mendengar hal ini, bahwa pekerjaan dari Roh Kudus bersifat baik dan memberi hidup, ujarnya. [cha/tmd/utd, dari berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Puas didemo oleh kaum Gay (Arus Pelangi/di Indonesia)

Lihat Galerinya di Yahoo


Paus Mengaku Malu Skandal Seks Kalangan Gereja
imagePaus Benediktus XVI, mengaku malu atas berbagai skandal pelecehan seksual yang dilakukan para pemimpin gereja Katolik. Ia berjanji tak akan terjadi lagi. Bisa kah?

Paus Benediktus XVI, Selasa (15/4), mengatakan dirinya sangat malu atas skandal pelecehan seksual oleh sejumlah pemimpin agama yang terjadi dalam gereja Katolik.

Dia berjanji akan berusaha untuk memastikan bahwa pelecehan semacam itu tidak akan terjadi lagi dan para paedophilia tidak akan menjadi pendeta.

Benediktus menjawab pertanyaan wartawan di dalam pesawat khusus Alitalia saat dia berangkat dari Roma ke Washington untuk memulai kunjungan kepausan pertamanya ke Amerika Serikat. Dia juga mengatakan akan membicarakan masalah imigrasi saat bertemu dengan President Bush.

Paus Benediktus XVI tiba di AS untuk memulai rangkaian kunjungannya selama 6 hari. Berbagai permasalahan akan dibahas, dari citra buruk gereja Katolik AS akibat skandal seks hingga perang Iraq.

Sebelum bertolak ke AS, Paus sempat menyampaikan rasa penyesalannya atas pelecehan seks terhadap anak-anak yang dilakukan seorang pastur.

"Paedofilia sangat bertentangan dengan nilai agama. Lebih baik hanya ada sedikit pastur yang baik daripada memiliki yang banyak," ujar Paus, Selasa (15/4) kemarin.

Sebagai upaya memulihkan trauma anak-anak yang menjadi korban, Paus berjanji Gereja akan melakukan berbagai cara dan memastikan kejadian tu tidak terulang lagi.

Kedatangan Paus asal Jerman ini akan disambut langsung oleh Presiden George W Bush dan ibu negara Laura Bush di Pangkalan Udara Militer St Andrew di pinggiran kota Washinton. Sebelumnya tidak pernah ada kunjungan dari kepala negara manapun yang mendapat sambutan langsung dari seorang presiden AS di bandara.

Jamuan kenegaraan resmi akan dilakukan di Gedung Putih saat Paus merayakan hari lahirnya yang ke 81. Tembakan meriam sebanyak 21 kali akan menandai seremoni ini.

Agenda selanjutnya kedua pemimpin akan berbicara empat mata mengenai berbagai isu. Rencananya Paus juga akan mengunjungi bekas lokasi menara kembar WTC yang dibom. Sehari sebelumnya Paus akan menyapa 48 ribu warga Katolik AS di Yankee Stadion.

Sebagaimana dieketahui, sejak kasus pelecehan seksual pertama terbongkar pada tahun 2002, gereja Katholik Roma Amerika, telah membayar ganti rugi ratusan juta dolar. Gereja terguncang sejak mulai mengemuka berbagai pelecehan seks yang dilakukan para pendeta. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Sex, Shame and the Catholic Church


5-4-07 Nearly 150 Roman Catholic clergymen in Ireland's biggest archdiocese have been linked to child sex abuse allegations over the past 67 years.

The statistics for Dublin archdiocese were released days before the opening of hearings into how the Church handled abuse claims.

Recommend books: The Changing Face of the Priesthood by Donald Cozzens, priest. Leading Catholic authority documents the immorality in Catholic seminaries. "An NBC reports celibacy in the church found that anywhere from 23 to 58 percent of the catholic clergy have a homosexual orientation. Other studies find that approximately half of American priests and ;are homosexually oriented." The Power and the Glory by Graham Green Written over 50 years ago and includes the priesthood of a Latino priest:...
http://www.bishop-accountability.org/accounts/


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Sabtu, 15 Maret 2008

Kehidupan Seks Para Paus Dalam 2000 Tahun Terakhir


suarasurabaya.net| Judul Buku : Rahasia Kehidupan Seks Para Paus
Judul asli : Sex Lives of The Popes
Penulis : Nigel Cawthorne
Penerbit : Alas
Penerbit asli : Carlton Books London

Penerbitan buku ini tidak lebih adalah hanya sebuah upaya untuk menghadirkan bacaan yang belum pernah ada. Tanpa bermaksud melibatkan unsur ideologis maupun teologi tertentu.

Seperti komentar The Mail on Sunday dalam cover buku, Rahasia Kehidupan Seks Para Paus ini hanya akan lebih banyak menyenangkan pembaca ketimbang menyinggungnya. St Agustinus Soliloquies menilai Rahasia Kehidupan Seks Para Paus memperlihatkan tidak ada yang begitu kuat menjatuhkan jiwa seorang laki-laki melebihi belaian perempuan. (Penerbit Alas)

Sinopsis :
Selama 2000 tahun terakhir ini, para paus telah menetapkan agenda seksual bagi hampir seperempat penduduk dunia. Tetapi, sementara mengkhotbahkan kesucian dari sebuah tempat yang tinggi, banyak yang melakukan sesuatu yang merisaukan.

Sebagai lelaki paling berkuasa di bumi dan penghubung langsung dengan Tuhan, segera tampak bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan kepada mereka bagaimana seharusnya bersikap ketika sampai pada persoalan godaan tubuh.

Dalam buku Rahasia Kehidupan Seks Para Paus ini, Nigel kontributor untuk harian-harian bergengsi di Inggris dan Amerika, dengan gaya setengah bercerita menjabarkannya dalam 19 seri mulai kejadian di Uskup Roma hingga cerita Sri Paduka Paus George Ringo.

Di halaman 71, tentang "Pesta Seks Roma" dikisahkan Yohanes XII (955-964) seorang biseks yang tidak pernah puas dalam seksnya dan mengumpulkan para bangsawan muda yang paling lemah dari dua jenis kelamin. Dia dituduh menjalankan sebuah rumah pelacuran dari dalam Gereja St Petrus. Para kekasihnya diberi piala emas yang digunakan dalam misa suci dari Gereja St Petrus. Daftar tuduhan lainnya, dia konon memiliki perjanjian dengan iblis dan mendapatkan kekayaan dari setan, melakukan inses dengan ibunya dan mencabuli para perawan suci yaitu biarawati dan melakukan perzinahan.

Mengenai pornografi kepausan, dalam seri 12, Nigel memilih masa Renaisans dimana para paus menjadi pendukung kuat seni dan karya tulis. Di masa itu, Martinus V mempekerjakan penulis mesum Poggjo Bracciolini sebagai sekretaris kepalanya, yang terkenal karena koleksi cerita-cerita cabul di mejanya di kantor kepausan.

Martinus V tidak malu ketika tiba pada persoalan sebuah cerita mesum karya Bracciolini. Dalam sebuah surat kepada seorang teman, Bracciolini berkata bahwa paus "sangat terhibur ketika kepada seorang kepala biara pria berkata kepadanya bahwa dia punya lima anak laki-laki yang akan berperang demi dia. Pada saat itu kabarnya : "Hampir tidak mungkin ada seorang pun dari seribu pendeta yang bisa ditemukannya dalam keadaan suci. Semuanya hidup dalam persetubuhan atau kumpul kebo atau sesuatu yang lebih buruk ", halaman 149.

Deskripsi :
Buku ini paling laris di Eropa, Timur Tengah, Asia, dan Amerika. Sudah diterjemahkan ke dalam 26 bahasa dan Sex Lives of The Popes dinobatkan sebagai "buku paling kontroversial sepanjang tahun" oleh surat kabar Guardian London saat kali pertama diterbitkan tahun 2004.

Buku ini paparan cerdas dan merupakan penyingkapan humoris tentang kehidupan seks paus mulai dari kepausan di Avignon sampai skandal para paus Borgia di Roma. Bagi mereka yang penasaran dengan kehidupan para paus selama 2000 tahun terakhir ini, akan mendapatkan bacaan menarik dari buku ini.


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Selasa, 11 Maret 2008

KDNY (kabar dari new york) : Noor, Sang cahaya!


Katagori : Muslim Convert News
Oleh : Redaksi 08 Mar 2008 - 2:29 pm

KDNY (Kabar Dari New York):
imageimageLulusan universitas Arizona yang mengambil Liberal Studies ini mengaku tertarik pada Islam. Diam-diam ia merasakan, hatinya begitu 'tertambat' pada Islam.

Awal Pebruari lalu masih terasa dingin. Salju di kota Manhattan, New York, cukup tebal. Sementara kota "never sleep", tetap ramai di akhir pekan, Sabtu 2 Pebruari, ketika itu.

Islamic Cultural Center of New York, sebagaimana biasanya juga tetap menjalankan aktifitas hariannya sebagaimana biasa. Sabtu, kali itu tetap menjadi hari weekend school, short lecture, dan tidak kalah pentingnya kelas khusus untuk non-Muslims maupun mereka yang baru saja menerima Islam sebagai jalan hidup mereka.

Seperti biasa, saya datang agak terlambat. Kebetulan setiap Sabtu pagi ada kegiatan lain yang perlu diselesaikan. Rata-rata, saya tiba di Islamic Center setelah jam 11 pagi. Ketika saya melewati resepsionis, saya ditegur oleh penjaga bahwa sudah ada yang menunggu di ruang konferensi (conference room).

"A lady is waiting for you, sheikh, at the conference room", demikian biasanya sang receptionist memanggil saya.

"Who is the lady and what is the purpose", saya tanyakan demikian karena biasanya sebelum ada yang menemui, pasti mengambil appointment atau minimal menelpon sebelum saya datang.

"I think she wants to ask you some thing, may be about Islam", jawab petugas resepsionis.

"Let her wait", jawabku. Biasanya sebelum melakukan apa-apa, saya ke kamar dulu meletakkan jaket dan tas, lalu keliling melihat proses belajar di weekend school.

Setelah keliling ke kelas-kelas weekend school, saya kemudian masuk ke ruang konferensi. Di sana telah menunggu seorang gadis bule, yang tiba-tiba saja tersenyum persis seperti mengenal saya dengan baik.

"Hi, morning! How are?" Sapaku.

"Morning!, fine and you?", jawabnya ramah.

"Do you know me?" candaku.

"No, not really but have heard your name. Why?", tanyanya.

Saya kemudian mengatakan secara bercanda bahwa memang orang-orang Amerika itu ramah, apalagi gadis-gadisnya. "I saw you smiling to me, like some one knows me very well", jelasku kemudian.

Saya kemudian berbasa basi menanyakan nama dan asalnya. "Oh, I am Jolie. Actually I am from here, New York, but my parents are in Arizona," katanya.

Saya kemudian menanyakan latar belakang kedatangannya pagi itu.

Dengan senyum yang ramah, Jolie menjelaskan bahwa dia sekarang ini kerja sebagai Public Relations officer (Humas) di sebuah perusahaan besar di New York. Dulu ketika mahasiswi di salah satu universitas Arizona, Jolie pernah mengambil Liberal Studies, yang menurutnya, salah satunya tentang agama Islam.

"Beside the course, I really had good Muslim friends who always reminded me to always continue my inquiries about the religion," jelasnya cukup panjang.

"So what and how did you find Islam?" pancingku.

"Very interesting!" jawabnya singkat. "And why?' Tanyaku lagi.

Dia kemudian sedikit serius menjelaskan bahwa dia telah membaca banyak buku-buku mengenai agama-agama, termasuk agamnya sendiri, kristiani, Yahudi, dan bahkan buku-buku mengenai Budha. Tapi menurutnya, Islam itu jauh lebih rasional dan nampaknya bisa beriringan dengan kemajuan kehidupan manusia.

"Islam is so rational and goes along with human's advancement," katanya.

Sejenak Jolie diam. Saya kemudian mengambil alih kendali berbicara cukup panjang mengenai ilmu dan rasionalitas dalam Islam. Sejarah turunnya wahyu pertama dan perkembangan pemikiran dalam sejarah Islam. Bahkan dinamika pemikiran dan filsafat yang dikenal dengan ilmu kalam dalam Islam.

Tak lupa menjelaskan tentang kontribusi Islam dalam peradaban manusia, termasuk peradaban modern yang saat ini lebih banyak dinikmati oleh dunia Barat.

Sayang, saya katakan, pepohonan indah yang dibenihnya telah ditanamkan oleh umat Islam itu tidak terjaga secara baik. Sehingga umat Islam kehilangan kepemilikan atau kendali, sementara umat lain telah menyalah gunakan. Seharusnya pepohonan itu memberikan buah-buah segar dan menjadi pelindung dari teriknya matahari, dan menjadi penjaga alam, kini dijadikan alat kayu bakar semata.

Ilustrasi yang saya maksudkan itu adalah peradaban modern yang indah saat ini telah berubah menjadi alat kesengsaraan. Semakin maju peradaban manusia semakin banyak penderitaan yang dirasakan umat manusia.

Nampaknya penjelasan-penjelasan saya itu bukan sesuatu yang baru bagi Jolie. Dia dengan seksama mendengarkan semua itu, tapi tidak lebih dari sikap penghormatan seorang Amerika terhadap orang lain.

"I know that," lanjutnya.

"If you know it, so what else do you want me to say?," tanyaku.

Dia kemudian kembali bercerita bahwa dari sejak menjadi mahasiswi di Arizona, dia memang ada hubungan khusus dengan beberapa Muslim. Tapi biasanya, katanya lagi, walaupun mereka itu selalu berbicara tentang Islam kepada saya, saya jarang menemukan dari mereka yang betul-betul mempraktekkan Islam (practicing Muslim).

"Lately I found some one here in New York," lanjutnya.

Dia kemudian menjelaskan bahwa dia menemukan seorang Muslim yang kemudian tertarik dengannya. Tapi Muslim ini begitu taat sehingga selalu mengatakan bahwa seandainya nanti saya menemukan isteriku, tentu saya ingin seseorang yang berislam dengan baik.

"He is really practicing Muslim. He did not do any thing that is against the teaching, I think!" katanya lagi.

"And so, what do you have in mind?," tanyaku. Saya bertanya demikian untuk meyakinkan bahwa walaupun nantinya dia masuk Islam, bukan karena hanya ingin menikah dengan seorang Muslim.

"I am coming to see you, basically to direct me what to do," katanya.

Saya kemudian manfaatkan kesempatan itu dengan melemparkan pertanyaan: "What do you feel about Islam? Do you think Islam is the true religion to follow?".

Dia kemudian dengan serius mengatakan bahwa kalau seandainya ia tanyakan kepada hatinya sendiri, memang Islam-lah agama yang benar. Cuma selama ini, ia sepertinya belum menemukan jalannya. "I feel I know that this is the truth, but did not know how to pursue it," katanya.

"Jolie, with that, I can assure you that you are a Muslim. What is required from you is to formalize you Islam by accepting the 'syahadah'". (Jolie, dengan itu, saya bisa memberi jaminan kepada Anda bahwa Anda adalah seorang Muslim. Yang Anda diperlukan sekarang adalah mewujudkan keislaman dengan dengan mengucapkan dua kalimat syahadat )

Jolie kemudian diam sejenak. Lalu tiba-tiba sedikit berlinang air mata dia mengangkat kepala dan tersenyum, seraya mengatakan: "I am ready!".

Saya segera memanggil dua saksi ke ruangan pertemuan itu. Dan disaksikan oleh dua saksi, Jolie mengikuti saya menyaksikan:

"Ash-hadu al Laa ilaaha illa Allah. Wa ash-hadu anna Muhammadan Rasul Allah". Diikuti pekikan takbir oleh dua saksi pagi itu.

Sebelum meninggalkan ruangan, Jolie rupanya telah memilih nama barunya, yaitu Noor. Menurutnya, dia mengambil nama itu setelah dia menyaksikan wawancara Ratu Yordania, Queens Noor, di sebuah stasion TV Amerika.

Selamat Noor, semoga menjadi "cahaya Ilahi" di kemudian hari!

New York, Maret 2008

Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Pemuda Slowakia Itupun Akhirnya Bersyahadah


Katagori : Journey to Islam
Oleh : Redaksi 08 Mar 2008 - 2:30 pm

imageBandar Brano adalah seorang remaja belia asal Republik Slowakia. Sejak kecil ia tidak mendapat ajaran agama yang memadai dari kedua orangtuanya. Neneknya yang justru berperan mengenalkan agama Kristen padanya. Bahkan neneknya meminta Bandar untuk dibaptis namun dilarang sang ayah. Alasannya, dulu kakek Bandar adalah orang terhormat di pemerintahan komunis Cekoslowakia. "Orangtuaku dulunya nikah campur. Ayahku seorang Atheis dan Ibu Kristen. Makanya aku selalu dihina teman-teman sekolah, tetangga, bahkan juga guru. Aku ini dibilang anak gipsi yang kotor," katanya mengenang. Satu ketika ia terlibat pertengkaran hebat dengan orangtuanya hingga memutuskan minggat dari rumah dan masuk ke kehidupan "hitam" yang liar. Untungnya ia bertemu dengan tiga pelajar Muslim asal Sudan hingga akhirnya memeluk Islam di usia 18 tahun. Berikut kisahnya yang diceritakannya dalam situs Islamweb berbahasa Slowakia dan kemudian dipublikasikan oleh situs Readingislam edisi 6 Juli 2006 lalu.

"Perjalananku mencari kebenaran penuh dengan onak dan duri. Aku lahir dari sebuah keluarga sederhana. Ayahku seorang penganut Atheis (tak percaya Tuhan-red) sementara ibu beragama Kristen tapi jarang ke gereja," ujar Bandar memulai kisahnya.

Pengakuan Bandar, neneknyalah yang telah banyak memberi warna agama dalam hidup. Ia mengaku sangat dekat dengannya. Sang nenek, menurutnya, berusaha membangun semangat Kristen sejak kecil.

"Meskipun nenek bukanlah seorang yang aktif di kegiatan gereja, namun ia adalah seorang yang sungguh-sungguh dan keyakinan agama datang dari dasar hatinya. Begitu juga caranya beribadah persis seperti penganut Kristen tradisional (orthodoks).

"Ia mendesakku dan juga adikku untuk dibaptis di gereja. Namun ayah tidak setuju dengan sarannya itu. Karena, menurutnya, kakekku dulu merupakan pegawai terhormat di kantor semasa pemerintahan komunis Cekoslowakia," kenangnya.

Ketika berumur 12 tahun, mata pelajaran agama mulai diajarkan di kelas. "Kala itu aku mulai mendapatkan petuah-petuah Kristen hingga punya keinginan untuk dibaptis. Karena menurutku hanya dengan cara ini bisa "selamat". Sebenarnya aku sendiri tidak begitu antusias mengikuti pelajaran agama. Tapi aku bersikeras untuk tetap ikut. Teman-teman sekelas menyindir tajam keinginanku. Aku sering berdoa dan ikut jamaah gereja, membaca Bibel, ikut acara Misa dan turut membantu setiap ada kegiatan di sana," imbuhnya lagi.

Setelah dua tahun mengabdi di gereja ia diberitahu bahwa kedua orangtuanya dulu tidak menikah di gereja. Karenanya ia tidak bisa dibaptis. "Jujur saja saat itu aku sangat kecewa sekali. Keyakinan akan ajaran Katolik spontan luntur. Di saat itu pula ibuku melahirkan adikku. Aku disibukkan oleh kehadiran adik dan akhirnya seiring perjalanan waktu Kristen hilang dari dalam diriku," akunya.

Ketika di sekolah menengah Bandar ikut kelas yang ada mata pelajaran Etika. "Aku berkeyakinan bahwa untuk bisa patuh pada Tuhan tidak musti dibaptis dulu. Sejak itu aku berhenti ikut jamaah gereja demikian juga tidak punya minat lagi mempelajari Bibel," kilahnya.

"Orangtuaku dulunya nikah beda agama. Makanya aku selalu mendapat hinaan dari teman-teman di kelas, tetangga, guru dan bahkan warga kampungku baik di jalanan, bis kota, di mana-mana pokoknya. Mereka bilang, aku ini anak gipsi yang kotor. Akhirnya aku benar-benar hilang kontak dengan teman-teman semasa kecil karena mereka beranggapan sulit berteman denganku," kenangnya sedih.

Sebagai pemuda 16 tahun, Bandar mengaku sulit mengontrol emosinya. "Aku sering bertengkar dengan orangtua dan satu ketika memutuskan minggat dari rumah. Berawal dari sinilah aku mulai mengenal dunia luar dan masuk ke kehidupan liar," ujar Bandar. Ia tidak menceritakan seburuk apa dekadensi moralnya saat itu. Tak disangka, satu hari, ia berjumpa dengan tiga pelajar Muslim dari Sudan. Pertemuan yang di kemudian hari mengubah jalan hidupnya.

Salah seorang dari mereka mengatakan jika Bandar ingin menyelesaikan masalahnya yang menggunung itu ia harus berhenti dari kehidupan liar. "Aku benar-benar terkejut kala mendengar ucapan itu. Bukan apa-apa, karena di pihak lain, saban hari semua teman-temanku malah mendukung dan menganjurkan untuk tetap di jalur "hitam". Kok anak Islam ini berani-beraninya mengajak sebaliknya dan bahkan mengatakan Tuhan tidak suka dengan cara hidup seperti itu," tukas Bandar.

"Sejak saat itu, aku menghabiskan waktu dengan pelajar-pelajar Sudan itu. Aku pun mulai meninggalkan acara hura-hura, mabuk-mabukan dan kegiatan tak bermanfaat lainnya. Demikian pula dengan teman-teman lama, mereka mulai meninggalkan aku. Aku mulai masuk sekolah lagi. Aku kembali mengunjungi kedua orangtua, " lanjutnya lagi. Bandar mengaku tidak merasa terasing dan juga tidak merasa rendah sedikitpun karena berteman dengan pelajar kulit hitam itu. "Aku justru merasa bahagia berada di tengah orang-orang yang bisa aku percaya dan saling berbagi. Bahkan aku pun bisa berhubungan dengan kelompok rasis Slowakia," akunya.

Bandar sering terlibat diskusi dengan Ahmed, salah seorang pelajar Sudan itu. Tentang Tuhan, Islam dan banyak lainnya.

"Aku belajar banyak darinya dan bahkan jujur saja aku sangat sedikit mengetahui tentang hal itu sebelumnya."

Satu ketika, dengan penuh haru hingga mencucurkan airmata, Ahmed menyatakan perasaan hatinya.

"Oh, seandainya kamu Islam," katanya meniru ucapan Ahmed. Bahkan Ahmed mengaku bahwa ia secara rutin sering berdoa khusus untuknya. Bandar benar-benar terkejut dan terkesan. "Dia bukan siapa-siapa. Tapi demikian pedulinya dengan nasibku," katanya.

"Sedikit banyak apa yang kupelajari sebelumnya tidak ada kontradiksi dengan Islam. Aku percaya dengan Tuhan yang satu dan hanya satu, tidak ada lain. Konsep Trinitas dalam Kristen justru membuatku bingung. Samar-samar dan tidak jelas maksudnya. Islam, bagiku, justru tampil lebih terus terang, terbuka dan dapat dimengerti. Bebas dari dogma-dogma yang tidak rasional. Penganutnya mengerjakan sesuatu tanpa keterpaksaan. Semua berdasarkan konsep ikhlas. Aku berjanji akan meningkatkan langkah menuju usaha yang lebih keras lagi untuk mempelajari Islam. Ahmed dan teman-temannya sangat senang mendengar itu. Mereka menyokong dengan membantuku mencarikan buku-buku Islam berbahasa Slowakia," kisahnya panjang lebar.

Setelah setahun, Bandar musti berpisah dengan pelajar-pelajar Sudan itu. Mereka pindah ke kota lain guna melanjutkan studinya. Ia merasa sangat kehilangan. Sepeninggal mereka Bandar jadi pemurung.

"Aku seperti berada di persimpangan jalan. Seakan ada yang menarikku untuk kembali ke dunia lama. Tapi di pihak lain, aku merasa takut. Ya aku takut berdosa. Dalam suasana bingung seperti itu aku lalu mengunjungi komunitas Baptis. Aku diberitahu bahwa karena alasan "keselamatan" aku tidak perlu dibaptis. Namun mereka tidak menanggapi ketika aku mengajukan beberapa pertanyaan krusial tentang ajaran Kristen," imbuhnya.

"Di tengah keputusasaan itu, Allah datang dan menolongku. Subhanallah! Aku berjumpa lagi dengan seorang pelajar Muslim yang lain. Namanya Umar dan berasal dari Yaman. Ia sangat alim dan dengan senang hati mencarikan literatur-literatur penting untukku. Aku mulai belajar Islam lagi."

Umar pun mengajari Bandar bagaimana cara shalat, cara bersyukur pada Allah, cara menghindarkan diri dari perbuatan dosa dan banyak lainnya lagi. "Yang paling berkesan, ia mengajariku bagaimana berbakti kepada kedua orangtua. Juga ia ceritakan bagaimana persaudaraan dalam Islam. Bukan main indahnya Islam," aku Bandar kagum.

Singkat cerita, Bandar Brano akhirnya bersyahadah di hadapan Umar. Tak lama kemudian Umar pun mengajaknya ke Masjid. "Seumur hidup itulah pertamakali aku ke Masjid. Entah mengapa ketika berada di Masjid hatiku begitu tenteram dan damai. Aku merasa yakin telah menemukan kebenaran. Namun aku sedih sebab masih banyak dari anggota keluargaku yang belum Islam. Begitupun aku bersyukur kepada Allah atas hidayah-Nya," tutur Bandar.

"Alhamdulillah, segala pujian hanya bagi Allah. Aku menerima hidayah Islam pada saat berusia 18 tahun. Aku masih ingat dengan perasaan saat mengucapkan dua kalimah syahadah. Kala itu aku seperti menggigil dan takut. Namun selepas bersyahadah terasa sejuk, hening, damai. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata."

Begitu girangnya Bandar. Ia menyaksikan wajah-wajah penuh persahatan. "Alhamdulillah, dalam masa sekitar tiga tahun aku mendapatkan kesempatan untuk tinggal bersama-sama Muslim lainnya guna belajar dari mereka. Tata cara hidup dalam Islam. Kehidupanku telah berubah sama sekali sejak saat itu. Semoga Allah berikan kekekalan hidayah padaku," pintanya. Bandar sering berdoa, terutama bagi saudara-saudaranya baik di Slowakia maupun di Ceko agar satu ketika nanti juga mendapat hidayah.

"Ya Allah berikanlah ganjaran dan kasih sayang-Mu kepada mereka-mereka yang telah membantuku menemukan kebenaran. Dan, Semoga Allah senantiasa membantu menguatkan keimananku." do'a Bandar di akhir kisahnya. [zulkarnain jalil, kontributor www.hidayatullah.com di Aceh. Email zkarnain03@yahoo.com - Alamat e-mail ini telah dilindungi dari tindakan spam bots, Anda butuh Javascript dan diaktifkan untuk melihatnya ]


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

Kamis, 14 Februari 2008

Profesor Matematika Berkisah Tentang Adam dan Hawa

Katagori : Muslim Convert News
Oleh : nelly 12 Feb 2008 - 12:15 am

imageJaffrey Lang adalah satu diantara sedikit warga kulit putih Amerika Serikat yang telah menemukan cahaya Islam dan saat ini tengah menikmati indahnya memperoleh hidayah dari Allah SWT. Sebagai seorang mualaf, Jafrrey Lang memiliki pengalaman yang sangat menarik untuk disimak. Sebelum memutuskan memeluk Islam beliau telah mempelajari Al Qur'an dengan demikian kritis dan penuh pengujian mendasar. Diantara yang coba beliau kritisi saat itu adalah masalah dosa manusia pertama yakni Nabi Adam dan Siti Hawa. Berikut ini adalah penuturan beliau tentang kisah tersebut:

"Kisah dalam Al Qur'an memiliki banyak persamaan dengan kisah dalam Al Kitab. Pada ayat 30-39 surat Al Baqarah disuguhkan kisah tentang pria dan wanita pertama. Aku membaca ayat-ayat itu beberapa kali, tetapi tidak kunjung sanggup menangkap apa persisnya yang hendak dikatakan Al Qur'an. watch "Adam & Eve's "Slip" From the Garden"

Bagiku, Al Qur'an sepertinya sedang menyampaikan sesuatu yang sangat mendasar atau mungkin keliru. Aku membaca lagi ayat 30 secara perlahan dan seksama, baris demi baris, untuk memastikan apakah ayat ini menyampaikan sebuah paparan logis.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al Baqarah: 30)


Ayat ini menyergapku, bukan karena dimulai dengan kisah mengenai pria dan wanita pertama, tetapi karena cara penyampaiannya. Setelah membacanya beberapa kali, aku tiba-tiba merasa sangat kesepian seakan-akan penulis Kitab Suci itu telah menarikku ke dalam suatu ruang hampa dan sunyi untuk berbicara langsung hanya denganku sendiri.

Mula-mula, aku bertanya apakah penulisnya salah dengar atau salah paham soal kisah tradisional tentang Adam dan Hawa ( maksudnya berdasarkan Al Kitab,-red), sebab ayat tersebut menolak seluruh inti kisah dan tujuan penciptaan mereka. Tetapi, setelah membacanya untuk kedua, ketiga, dan keempat kalinya, aku mulai merasakan bahwa penulisnya sengaja mengubahnya dan memodifikasi detail-detail cerita kuno itu.

Allah memfirmankan ayat ini di surga dengan maksud memberitahu para malaikat bahwa Dia akan menempatkan manusia di bumi untuk mewakili-Nya: "Sesungguhnya, Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Tuhan salah, protesku. Manusia ditempatkan di bumi bukan untuk berbuat kebaikan; manusia ditempatkan di bumi sebagai hukuman lantaran dosa Adam. Tetapi, tiada kata-kata dalam ayat tersebut yang menceritakan kesalahan Adam atau Hawa, dan seperti dituturkan ayat-ayat selanjutnya, tak ada informasi perihal dosa itu.

Adalah para malaikat yang mengajukan keberatan sewajarnya: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan menyucikan Engkau?" Pertanyaan para malaikat ini tentunya sangat signifikan sebab dilontarkan di dalam surga-yang suci.

Setelah akhirnya menciptakan makhluk yang memiliki banyak kekurangan ini, Tuhan menempatkannya di sebuah lingkungan yang di dalamnya makhluk tersebut dapat mengumbar hasrat-hasratnya yang paling liar apabila dia berjauhan dari-Nya. Dengan perkataan lain, mengapa Tuhan menciptakan makhluk jahat ini dan menempatkannya di bumi padahal Dia dapat dengan mudah menciptakan malaikat dan menempatkannya di surga?

Inilah pertayaanku! Keberatanku! Hidupku dihantui oleh tiga atau empat pertanyaan di atas! Aku merasa seolah-olah Al Qur'an sedang mengaduk-aduk emosiku, menggunakan kisah tersebut untuk memprovokasiku. Lalu, masalahnya menjadi semakin kacau ketika Tuhan menjawab pertanyaan malaikat-malaikat itu dengan sekedar berkata, Sesungguhnya, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Seakan-akan, Dia berkata, "Aku tahu persis apa yang sedang Aku lakukan."

Engkau tak dapat hanya berkata demikian! Aku protes dalam hati. Engkau tak bisa sekedar berkata seperti itu padaku. Engkau tak bisa menyakitiku, membangkitkan kemarahanku, dan mempermainkan hidupku. Engkau tak bisa mengatakan semua itu didepanku, dan kemudian menutupnya dengan kata-kata, "Aku tahu apa yang sedang Aku lakukan."

Lalu, aku termenung: Aku sedang mengeluh kepada Tuhan yang tak kupercayai keberadaan-Nya.

Dalam Alkitab, setelah para malaikat bertanya, Tuhan mengguncang kesadaran pembaca dengan kembali pada kisah tradisional. Di sini Dia berkata: "Ya, kalian para malaikat benar sekali mengenai sifat manusia, dan karenanya Aku akan menghukum mereka dengan membiarkan pasangan ini dan seluruh keturunannya menderita di bumi karena mereka berdua telah berbuat dosa." Jawaban ini belum sepenuhnya menjawab pertanyaan para malaikat sebab menerangkan mengapa Tuhan menciptakan makhluk jahat semacam itu, tetapi jawaban tersebut berbalik pada ide bahwa hidup di dunia adalah hukuman atas dosa manusia, bukan kesempatan bagi kita untuk beribadah sebagai wakil-Nya.

Segeralah tampak jelas di mataku bahwa Al Qur'an mempunyai agenda lain, bahwa Kitab Suci ini mengandung sebuah pesan dan pandangan yang sama sekali berbeda. Alih-alih menuturkan kembali kisah tradisionalnya, Al Qur'an justru menjawab pertanyaan para malaikat dengan memperlihatkan kemampuan akal manusia, pilihan moral dan akhirnya bimbingan ilahi:

Dan Dia mengajarkan kepada Adam seluruh nama (benda-benda), kemudian memperlihatkannya kepada para malaikat, dan Dia berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar." (QS. Al Baqarah: 31)


Aku teringat bahwa dalam Alkitab Adam menyebut nama makhluk-makhluk di sekelilingnya, tetapi ini tidak menjelaskan justifikasi (kemampuan untuk pertimbangankan dengan hati nurani,-red) kemanusiaannya. Lain halnya dengan Al Qur'an, yang menjawab pertanyaan para malaikat dengan menunjukkan justifikasi kemanusiaannya.

Aku terpesona dengan cara Kitab Suci Al Qur'an mewadahi makna hanya dalam beberapa patah kata. Coba perhatikan bahwa Adam tidak sekedar menyebut nama benda-benda di sekitarnya, tetapi Tuhan mengajarinya, yang berarti hal ini menegaskan kemampuan manusia untuk belajar, yakni kecerdasannya. Perhatikan pula apa yang Adam pelajari. Dia mempunyai kemampuan untuk menyebutkan nama "seluruh benda", untuk menyebutkan simbol-simbol verbal segala sesuatu yang diketahuinya, seluruh pikiran, pengalaman, dan perasaannnya. Di antara semua karunia intelektual manusia, kemampuan bahasa manusialah yang paling ditekankan Al Qur'an. Jelaslah ini dikarenakan kemampuan bahasa adalah peranti intelektual yang amat canggih yang membedakan manusia dari semua makhluk bumi lainnya. Dengan kemampuan bahasa ini, lebih daripada kemampuan lain, manusia tumbuh, berkembang dan belajar secara individual maupun kolektif, sebab kemampuan bahasa menjadi alat untuk belajar dan mengajari orang lain yang tak sempat bertatap muka dengan kita-lewat tulisan-, termasuk orang-orang yang secara ruang dan waktu sangat jauh dari kita. Artinya, seluruh manusia dikaruniai dengan sebuah 'sifat kumulatif' yang amat maju.

Selanjutnya, Allah meletakkan benda-benda yang nama-nama mereka disebutkan oleh Adam di depan para malaikat dan berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar." Ini secara gamblang memperlihatkan bahwa akal manusia merupakan argumen yang sangat penting dalam jawaban Tuhan atas pertanyaan para malaikat. Malaikat-malaikat bertanya mengapa Tuhan menciptakan makhluk yang kasar dan jahat dengan asumsi bahwa mereka lebih unggul, sebab mereka tunduk sepenuhnya pada kehendak Tuhan, memuji, dan menyucikan-Nya. Al Qur'an rupanya hendak menyatakan dalam ayat ini dan ayat-ayat berikutnya bahwa ada sifat-sifat lain, yang membuat manusia setidaknya berpotensi lebih mulia daripada malaikat di hadapan Tuhan.

Mereka berkata: "Maha Suci Engkau, tak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Baqarah: 32)


Malaikat-malaikat mengakui ketidakmampuan mereka untuk menjawab tantangan Allah. Mereka tidak memiliki kelebihan akal untuk menciptakan simbol dan konsep bagi diri mereka. Mereka mengatakan bahwa untuk menciptakan semua itu dibutuhkan pengetahuan dan kearifan yang berada di luar batas kesanggupan mereka.

Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan? (QS. Al Baqarah: 33)


Aku mulai percaya bahwa penulis Kitab Suci Al Qur'an bukan tidak mengetahui kisah penciptaan Adam dalam Alkitab, tetapi Dia menceritakannya kembali dengan menyuguhkan makna yang orisinil. Tuhan berfirman bahwa benarlah Dia telah menganugerahi manusia kemampuan untuk berbuat salah, tetapi juga memberikannya kemampuan-kemampuan lain yang sangat unggul yang tidak diberikan kepada malaikat.

Al Qur'an menyatakan: "Dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan yang kamu sembunyikan." Apa yang malaikat sembunyikan? Aku bertanya. Aku tahu para malaikat keberatan karena hanya memperhatikan satu sifat manusia, yaitu kemampuannya untuk berbuat kerusakan dan kesalahan. Akan tetapi, mereka tidak mengetahui, sebagaimana diriku, sifat lainnya. Sesungguhnya, sebagian manusia dapat berbuat amat jahat, tetapi sebagian lainnya dapat berbuat luar biasa baik. Sebagian orang benar-benar rela berkorban, bertindak adil, senang berderma, murah hati, dan ramah. Namun diriku, sebagaimana para malaikat, tidak memikirkan sifat-sifat ini. Lama sekali aku hanya memperhatikan sisi gelap manusia.

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," mereka pun bersujud kecuali iblis; ia menolak dan menyombongkan diri; dan ia termasuk golongan yang tidak beriman. (QS. Al Baqarah: 34)


Apabila semula aku meragukan kata-kata Al Qur'an bahwa manusia berpeluang menjadi lebih mulia daripada para malaikat, ayat tersebut di atas telah menyingkirkan keraguan itu. Ketika Adam mampu memperlihatkan kemampuannya dan para malaikat tidak mampu, Tuhan berfirman pada mereka, "Sujudlah kamu kepada Adam." Mereka pun sujud dan mengakui kelebihan Adam. Sujud juga merupakan simbol ketundukan dan Al Qur'an menunjukkan bahwa para malaikat di kelak kemudian hari akan melayani manusia di bumi.

Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah olehmu dan istrimu surga ini, dan makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-oramg zalim." (QS. Al Baqarah: 35)


Aku semakin tidak percaya pada Kitab ini. Ayat-ayat pembukaannya sangat menarik, tetapi cerita Adam dan Hawa sekarang jelas berbalik lagi ke versi Alkitab: Adam dan Hawa makan buah itu dan kemudian dihukum hidup di bumi. Tetapi, ada yang sangat aneh dari ayat ini. Dalam cerita Alkitab Tuhan sepertinya merasa khawatir dan mengancam manusia yang memakan buah itu, sebab ini merupakan buah pengetahuan dan kekekalan, dan bila manusia memakannya mereka akan menjadi tuhan-tuhan yang menyaingi Tuhan.

Akan tetapi, dalam ayat ini, Tuhan sepertinya amat tenang dan bisa menguasai diri sepenuhnya. Tak ada kata yang mengindikasikan bahwa buah pohon itu sangat mempengaruhi Adam dan Hawa. Tampaknya, pohon itu disebut begitu saja. Al Qur'an kemudian menjelaskan bahwa setan menggoda pasangan Adam dan Hawa dengan mengatakan bahwa jika memakan buah tersebut, mereka akan meraih kehidupan abadi dan kerajaan yang tidak akan binasa. Tetapi perkataan ini berasal dari setan. Tidak ada isyarat bahwa Tuhan merasa khawatir kalau-kalau pasangan ini akan mengingkari-Nya; Dia sekedar memberitahu bahwa andaikata mereka memakannya, berarti mereka telah melakukan dosa.

Kita pun tidak tahu apakah itu merupakan larangan pertama Tuhan kepada Adam dan Hawa. Al Qur'an tidak menyebutkannya. Mungkin saja ada larangan-larangan lain yang sebelumnya telah Tuhan sampaikan. Kita hanya tahu bahwa larangan ini merupakan yang pertama-tama mereka langgar. Aku bertanya-tanya apakah peristiwa ini menyiratkan sebuah makna yang amat penting-bahwa itulah pilihan bebas pertama Adam dan Hawa, itulah kali pertama mereka memilih selain apa yang diperintahkan oleh Tuhan.

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula, dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan di bumilah tempat tinggalmu dengan segala kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan" (QS. Al Baqarah: 36)


Setelah membaca ayat ini, aku siap untuk menutup Al Qur'an dan menyimpannya sebab sekarang aku yakin Kitab Suci ini telah meretas jalan pertamanya dan berpulang pada kisah tradisional Adam dan Hawa bahwa kehidupan kita di bumi sebenarnya merupakan hukuman atas dosa mereka berdua. Tetapi, sekali lagi sebagian kata dalam ayat tersebut masih membingungkanku. Mengapa ayat itu menyebut dosa terbesar dalam sejarah manusia-dosa yang menyebabkan kita semua menderita, mengalami kesulitan, dan mati di dunia- hanya sebagai "digelincirkan"? Sebuah kesalahan kecil yang tak membawa konsekuensi serius. Semula, aku berpikir ini pasti salah terjemahan, tetapi aku segera tahu dari teman-teman Arabku bahwa kata Arabnya adalah azalla yang maknanya sama persis dengan makna terjemahannya. Mengapa begitu? Apakah penulis Kitab ini tidak tahu betapa besar dosa Adam dan Hawa?

Aku surut ke belakang dan beberapa kali membaca ulang ayat ini dan ayat sebelumnya. Dan pertanyaan berikut inilah yang menghampiriku: Apakah pasangan Adam dan Hawa benar-benar melakukan dosa yang sedemikian besar? Mungkin aku termasuk orang yang tidak dapat berlepas diri dari tafsir tradisional. Barangkali aku menolak pesan Al Qur'an. Akan tetapi, setelah kupikir-pikir, senyatanya Adam dan hawa tidak melakukan pembunuhan, perkosaan, perzinahan, atau penganiayaan. Mereka hanya memakan buah suatu pohon.

Aku merasa bahwa pemilihan kata "digelincirkan" untuk menyebutkan dosa mereka sepenuhnya tepat. Hal ini juga akan menjelaskan ketenangan penulis Kitab Al Qur'an dalam menyampaikan pesan itu. Alih-alih penulisnya mengatakan pada pasangan Adam dan Hawa bahwa mereka akan sangat menderita di bumi, mereka sekedar diberitahu bahwa, "di bumilah tempat tinggalmu dengan segala kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." Ini bukanlah kata-kata Tuhan yang sedang marah atau menghardik.

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Baqarah: 37)


Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan kemarahan Tuhan tetapi malah menekankan ampunan dan kasih sayang Tuhan. Ayat selanjutnya menunjukkan bahwa kata-kata yang Adam terima dari Tuhannya adalah kalimat pelipur lara yang sarat dengan harapan.

Kami berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al Baqarah: 38)


Kita mendapati bahwa Allah mengampuni dan membantu Adam dan Hawa, tetapi mengapa kemudian Dia tidak mengembalikan mereka ke surga? Bila Tuhan mengampuni pasangan itu, mengapa Dia tetap menempatkannya di bumi?

Jawabannya muncul dikepalaku secepat datangnya pertanyaan itu: sebab kehidupan di bumi, menurut Al Qur'an bukanlah hukuman. Sejak awal dituturkannya kisah ini, Tuhan menegaskan bahwa keberadaan kita di bumi mempunyai tujuan yang lebih besar. Sejauh ingatanku, kisah Adam dan Hawa dalam Al Qur'an seluruhnya koheren. Coba perhatikan bahwa Al Qur'an mengulang lagi perkataan "Turunlah kamu dari surga itu!" dalam ayat 38, tetapi kali ini disertai dengan kata-kata yang menekankan ampunan, hiburan, dan jaminan Tuhan pada mereka. Seakan-akan, Al Qur'an berkata kepadaku dan semua orang, "Tuhan tidak menempatkanmu di bumi untuk menghukummu."

Adapun orang-orang yang tidak beriman dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqarah: 39)


Mengapa Al Qur'an berkata demikian? Aku merasa diserang oleh ayat tersebut, tetapi persinggungan yang singkat dengan Al Qur'an telah mengajariku bahwa ketika sebuah ayat menyerangku, ia seringkali mengandung isyarat penting.

Syahdan, kita dapat secara tegas mengatakan bahwa Tuhan Maha Esa benar-benar ada. Apakah orang-orang dengan sengaja menolak dan mengingkari ayat-ayat-Nya, ataukah mereka melakukannya karena ayat-ayat tersebut terlalu kabur? Apakah mereka secara sadar menolak apa yang mereka rasakan benar? Apakah mereka secara sengaja mengingkari suara hati mereka?

Tentu saja mereka secara sengaja mengingkari suara hati mereka, demikian pula aku. Berkali-kali aku menolak, menelikung, dan memanipulasi kebenaran untuk memperturutkan hawa nafsu. Berulangkali aku merasionalkan tindakan-tindakan merusak dan menolak untuk mengakui kekeliruanku, bahkan dihadapan diri sendiri. Andai Tuhan memang ada, pikirku, selama ini aku pasti telah mengabaikan ayat-ayat-Nya.

Manusia, pria dan wanita, adalah makhluk bermoral, makhluk yang memiliki hati nurani dan perasaan yang kuat untuk membedakan mana yang salah dan benar. Mereka dikaruniai dengan dorongan baik dan dorongan jahat, dan harus memilih salah satunya. Tuhan telah menganugerahi manusia dengan kesadaran untuk memilah kebenaran dan kekeliruan moral, dan memberi mereka kemampuan untuk menjalankan pilihan-pilihan moral mereka. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk menyadari kesalahan mereka dan mengoreksinya. Dan yang jelas, kehidupan di dunia dan kesengsaraan manusia tak dimaksudkan untuk menghukum mereka. @

(dikutip dari buku berjudul 'Losing My Religion: A Call for Help' karya Jaffrey Lang dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul 'Aku Beriman, maka Aku Bertanya' halaman 40-56 dan 93-94)

-Nelly, Januari 2008-

image


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.