Kamis, 15 November 2007

Menteri Intergrasi Belanda "Bela" Muslim


Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Kamis, 15 November 2007
Menteri Urusan Integrasi Belanda, Ella Vogelaar,menyerang anggota parlemen kubu kanan yang sering 'menyerang' kalangan Muslim
ImageHidayatullah.com-- Menteri Urusan Integrasi Belanda, Ella Vogelaar,menyerang anggota parlemen kubu kanan Rita Verdonk, Geert Wilders dan Henk Kamp, saat menyampaikan kebijakannya soal integrasi. Vogelaar mengatakan ketiga politisi itu menimbulkan rasa tidak aman di Belanda dengan ucapan-ucapan keras. Mereka juga menciptakan jurang antara kalangan Muslim dan warga lain.
Ella Vogelaar berpendapat bahwa Verdonk, Wilders dan Kamp tengah 'berlomba-lomba' siapa yang dapat melakukan kebijakan paling keras dalam bidang integrasi dan imigrasi. Ketiga politisi itu makin memperdalam perbedaan antara kelompok-kelompok etnik.
Menurut Biro Perencanaan Sosial Budaya Belanda (SCP) dunia Muslim sangat jauh berbeda dari dunia warga Belanda lainnya. Karena itu Vogelaar berpendapat bahasa keras ketiga anggota parlemen Belanda itu sama sekali tidak mendorong proses integrasi.
Beritikad baik
Vogelaar tidak menyangkal bahwa warga sipil kerapkali merasa terganggu oleh kawula muda Maroko dari daerah permukiman Amsterdam Slotervaart. Vogelaar ingin bertindak keras terhadap mereka dan orangtua mereka.
Tetapi sang menteri tidak ingin menggarisbawahi masalah saja, seperti yang dilakukan Verdonk, Wilders dan Kamp. 'Sebagian besar kelompok pendatang beritikad baik. Mereka harus mendapat peluang berkembang dan berintergrasi di masyarakat Belanda,' kata Vogelaar. Ia juga merujuk pada laporan SCP.
Di situ antara lain tertera bahwa kaum pendatang semakin berpendidikan bagus, mempunyai pekerjaan atau usaha sendiri dan semakin jarang mencari calon mitra hidup di negeri asal.
Menjawab serangan
Verdonk, Wilders dan Kamp langsung menjawab serangan Vogelaar terhadap mereka. Verdonk menyangkal tuduhan bahwa kritiknya terhadap Islam memukul rata semua warga pendatang. 'Banyak sekali orang Muslim yang jadi', kata Verdonk. Tetapi citra buruk kawula muda Maroko adalah salah mereka sendiri.
"Saya tidak bertangggungjawab atas kelakuan buruk mereka," ujar mantan Menteri Urusan Integrasi Verdonk.
Ucapan Vogelaar bahwa bahasa keras ketiga politisi itu menimbulkan rasa tidak aman ditertawakan Verdonk.
"Selama hidup ini saya sering mendengar ucapan-ucapan yang bodoh, tapi ucapan anda ini tiada taranya."
Sementara Wilders mengatakan, "Saya tidak mengatakan bahwa semua Muslim itu rusak. Tapi saya tidak perduli komentar mereka tentang ucapan-ucapan saya. Saya baru saja mulai."
Mantan Menteri Imigrasi Belanda Rita Verdonk, dikenal karena kebijakan-kebijakan kerasnya. Sebelum ini, ia pernah mengusulkan kalangan parlemen Belanda untuk melarang burqa.
Parlemen Belanda yang sebagian besar berasal dari partai beraliran tengah-kanan. Alasannya burqa dianggap mengganggu ketertiban umum, warga dan keselamatan.   
Dari populasi total warga Belanda, sekitar Sekitar 6 persen adalah kaum Muslim. Namun, mereka masih mendapat perlakuan tidak adil. [rnl/hid/www.hidayatullah.com]


Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now.

Din Syamsuddin: Perang Melawan Teror AS “Penghinaan” terhadap Muslim

Oleh : Redaksi 15 Nov 2007 - 3:30 pm

imageKetua PP Muhammadiyah, Dr. Din Syamsuddin mengatakan, pemerintahan Bush memperburuk hubungan kaum Muslim dengan kampanye melawan "teror" nya

Amerika Serikat sudah menjadi "negara bagian keamanan nasional" yang memakai perang atas nama "teror" sebagai penyamaran untuk memajukan pertentangan terhadap agama Islam. Pernyataan ini disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Din Syamsuddin Muslim saat berada di Roma, Italia.

Din Syamsuddin, mengatakan, pemerintahan Presiden Bush terus memperburuk ketegangan dengan kaum Muslim, khususnya di Timur Tengah.

"Cara pemerintah AS mengurus terorisme setelah pemboman World Trade Centre, dengan melancarkan 'perang atas teror' menghina ke dunia Muslim dan negara lain," demikian kata Din sebagaimana dikutip Adnkronos International (AKI).

Din berada di Roma dalam rangka mengikuti Konfrensi Antar Agama yang dirganisatori diorganisir oleh Kedutaan Besar Indonesia dan Keuskupan Australia.

Din juga mengatakan, hal yang yang terburuk isu "terorisme" saat ini karena semenjak AS memperkenalkan "perang melawan teror' telah melahirkan perselisihan peradaban. Selain itu, adalah lahirnya sikap kebencian kaum Muslim terhadap Barat dan Amerika.

"Sebagian besar kaum Muslim memiliki perasaan negatif terhadap Barat, terutama AS." Tindakan ini, kata Din, termasuk tindakan AS menyerang Iraq dan Afghanistan.

Menurut Din, bahkan, akibat tindakan Amerika itu, kelompok-kelompok yang selama ini dianggap keras justru semakin lebih radikal.

Din juga menambahkan, sebuah kesalahan serius taktaka Barat menyamakan Islam dengan "terorisme".

Cara terbaik untuk mengurangi kesalahpahaman dan kecurigaan itu, menurut Din, harus dimulai mempromosikan depan cara terbaik untuk mempromosikan dialog dan kerjasama antar agama-agama.

Din juga mendukung surat 138 sarjana Muslim yang pernah disampaikan kepada Paus Benedictus XVI baru-baru ini.

Selain Din, pembicara yang datang dalam acara itu adalah, Ketua Dewan Gereja Nasional Australia,Reverend John Henderson. Henderson mengatakan, dialog antara Muslim, Kristen, Yahudi dan agama-gama lain akan melahirkan rasa saling mengerti pemeluk agama di Asia Pacific. [aki/www.hidayatullah.com]


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

Presiden Sudan: Kristen Radikal dan Zionisme Internasional Otak Kerusuhan di Darfur


Presiden Sudan: Kehadiran Pasukan PBB di Darfur untuk Lindungi Israel
imageimage Presiden Sudan, Omar Bashir menuding Israel dan sejumlah negara Barat berada di balik konspirasi yang membakar konflik di Darfur. Menurut Bashir, pendanaan perang dan distribusi persenjataan milisi di Darfur yang memerangi pemerintahan Sudan, dilakukan oleh Israel dan sejumlah negara Barat, guna menguasai aset kekayaan yang dimiliki Darfur melalui krisis yang sekarang tengah berkobar.

Dalam konferensi "Rahmatan lil Alamin" menopang perjuangan Rasulullah saw, yang diselenggarakan di ibukota Sudan, Khartoum, Bashir mengatakan, "Konspirasi Barat terhadap Sudan sudah lama terjadi dan tidak berakhir sejak perang atas Sudan yang didukung kalangan Kristen hingga terbunuhnya khalifah Abdullah Taayesyi di tempatnya melakukan shalat. "

Di hadapan para ulama Sudan, Bashir juga m engatakan, "Rancangan konspirasi makin terkuak melalui, dibukanya pintu imigrasi penduduk Darfur ke Israel. "

Dalam kesempatan wawancara dengan Al-Jazeera, Bashir juga menegaskan tuduhannya, bahwa Israel dan negara Barat yang tak disebutkan detailnya, melakukan konspirasi atas Sudan. Menurutnya, kasus penculikan anak-anak di Darfur dari Chad yang bertetangga dengan Sudan, dilakukan dengan mediasi Organisasi Prancis yang datang dalam rangkaian konspirasi yang ia sebutkan itu.

"Targetnya adalah agar anak-anak itu menjadi penginjil di Sudan, " jelas Bashir.

"Barat menyebar agen-agennya di dalam wilayah Islam dan menyerukan perubahan kurikulum di negara-negara Islam, " tambah Bashir lagi. Ia kemudian mengatakan, "Koalisi antara kelompok Salib radikal dan Zionisme internasional telah menyebabkan berkobarnya konflik di Darfur. " (na-str/iol/eramuslim)

Presiden Sudan: Kehadiran Pasukan PBB di Darfur untuk Lindungi Israel
imageimagePresiden Sudan Umar Hasan Basyir, menolak kehadiran pasukan perdamaian internasional ke wilayahnya. Ia menegaskan datangnya pasukan perdamaian di bawah PBB ke Darfur membawa misi perlindungan terhadap keamanan Israel.

Basyir dalam konferensi pers di tengah pertemuan kabinet mengatakan, "Sasaran yang diinginkan adalah menyelamatkan dan melindungi Israel. Setiap negara di sekitar Israel harus dilemahkan dan diputus kekuatannya untuk melindungi orang-orang Israel dan menjamin kesalamatan orang Israel."

Dalam kesempatan itu, Basyir ditanya tentang aksi demonstrasi yang mendukung perdamaian di Darfur beberapa hari lalu. Terhadap aksi ini Basyir menjawab, "Aksi demonstrasi itu dikoordinir oleh sejumlah organisasi Zionis Yahudi."

Basyir menghadapi tekanan dunia internasional agar ia menerima kedatangan pasukan perdamaian PBB berjumlah sekitar 20 ribu pasukan untuk mewujudkan perdamaian di Darfur. Menurut koordinator bantuan pangan PBB, kondisi Darfour mengkhawatirkan jika tidak terwujud keamanan yang lebih baik di wilayah tersebut. PBB sendiri memandang bahwa kehadiran pasukan PBB merupakan jalan satu-satunya guna menghentikan kekerasan di Darfur. Sejauh ini, sudah sekitar 2 juta orang meninggalkan Darfur untuk menyelamatkan diri akibat peperangan antara pasukan pemerintah Sudan dan milisi oposisi bersenjata.

AS memandang telah terjadi pembantaian massal di Darfur dan menuding pemerintah Sudan berkolaborasi dengan milisi bersenjata Arab untuk membunuh ribuan orang. Sementara pemerintah Sudan menolak tudingan tersebut. Sudan lebih menghendaki kehadiran pasukan perdamaian Liga Afrika, ketimbang pasukan perdamaian internasional PBB. (na-str/iol/eramuslim)


Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.

Selasa, 13 November 2007

“Abrahamic Faiths?”

Oleh : Redaksi 13 Nov 2007 - 6:00 pm

Oleh: Adian Husaini
imageBagi peminat pemikiran keagamaan, istilah "Abrahamic Faith" atau "agama Ibrahim" tidaklah asing. Istilah ini sudah lama dipopulerkan oleh banyak kalangan dan dianggap sebagai sesuatu yang sudah lazim dalam isilah studi-studi agama, seperti halnya pembagian agama menjadi "agama samawi" (agama langit) dan "agama ardhi" (agama bumi). Istilah ini mulai popular di dunia Islam, setelah pada tahun 1986, The International Institute of islamic Thought (IIIT), menerbitkan sebuah buku berjudul Trialogue of the Abrahamic Faiths (ed. Ismail Raji al-Faruqi). Secara harfiah, judul buku itu adalah "Trialog antar Agama-agama Ibrahim". Buku ini merupakan kompilasi makalah hasil konvensi tahun 1979 di New York yang diselenggarakan oleh American Academy of Religion (AAR).

Pada 8 November 2007, Republika menurunkan sebuah kolom Azyumardi Azra berjudul "Trialog Peradaban". Azra menceritakan, bahwa pada 21-24 Oktober 2007, Harvard University menyelenggarakan sebuah konferensi bertema "Children of Abraham: A Trialogue of Civilization".

Kata Azra,
image'Anak-anak Ibrahim', tak lain adalah para pengikut tiga agama: Yahudi, Kristen, dan Islam. Pembicaraan antara ketiga agama (trialog) diharapkan dapat menumbuhkan saling pengertian dan toleransi yang pada gilirannya mendatangkan perdamaian.


Lebih jauh Azra menulis:
Dalam makalah berjudul 'Trialogue of Abrahamic Faiths: Towards the Alliance of Civilizations", saya melihat 'Abrahamic Faiths' yang dalam Al-Quran disebut sebagai 'millah Ibrahim' memiliki banyak kesamaan dan afinitas; lebih dari itu ketiganya juga berbagi sejarah yang sama. Tetapi, tentu saja, masing-masing agama Nabi Ibrahim tersebt unik dalam dirinya sendiri. Lagi pula, para penganut ketiga agama itu ibarat kakak-adik, juga terlibat dalam persaingan, kecemburuan, konflik, dan bahkan perang."


Begitulah, sebagian isi tulisan Azyumardi Azra, yang mengaku beruntung hadir dalam konferensi di Harvard tersebut. Ia merupakan satu-satunya ilmuwan dari Asia yang hadir di situ.

Kita tentu menyambut baik setiap usaha untuk menciptakan perdamaian di muka bumi ini. Namun, kita perlu mengkaji dengan cermat, cara-cara yang digunakan untuk menciptakan perdamaian tersebut, khususnya dalam hal yang berkenaan dengan ajaran Islam itu sendiri. Soal dialog antar-agama, dalam sejarah, sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sejak awal kemunculannya, umat Islam sudah terbiasa berdialog dengan siapa saja. Di Mekah, sebelum hijrah, Rasulullah saw dan para sahabat sudah berdialog dengan kaum musyrik Arab dan pengikut Kristen. Saat hijrah ke Habsyah, Ja'far bin Abdul Muthalib sudah berdialog keras dengan pengikut Kristen dan juga Raja Najasyi yang ketika itu masih memeluk agama Kristen. Di Madinah, Rasulullah saw melayani perdebatan dengan delegasi Kristen Najran.

Bahkan, jika kita renungkan, banyak ayat Al-Quran yang senantiasa mengajak kaum Yahudi dan Kristen untuk berdialog. Tetapi, jika kita baca ayat-ayat Al-Quran, tentang masalah ini, kita akan menemukan, bahwa posisi Al-Quran senantiasa jelas, yaitu posisi menyeru kaum Yahudi-Kristen agar kembali kepada kalimah tauhid, kembali kepada ajaran inti yang dibawa oleh para nabi, yaitu ajaran Tauhid. Misalnya, QS Ali Imran: 64 menyebutkan:
"Katakanlah, wahai Ahlul Kitab, marilah kita kembali kepada 'kalimah yang sama' (kalimatin sawa') antara kami dan kalian semua, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak menserikatkan Allah dengan sesuatu pun dan kita tidak menjadikan sebagian diantara kita sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka ingkar, maka katakan, saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim."


Sebagai Muslim, kita yakin, bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir yang menegaskan kembali ajaran tauhid yang dibawa para nabi sebelumnya. Kita yakin, bahwa semua Nabi, termasuk Nabi Ibrahim juga membawa ajaran tauhid. Karena itu, 'millah Ibrahim', dalam pandangan Islam, adalah agama tauhid. Dan saat ini, satu-satunya agama Tauhid – dalam pandangan Islam – adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Maka, dalam perspektif Islam ini, istilah "Abrahamic Faiths" (agama-agama Ibrahim), dalam bentuk jamak yang memasukkan agama Yahudi dan Kristen sebagai 'millah Ibrahim', adalah aneh dan keliru. Seolah-olah, ada banyak agama Ibrahim.

Jika kita telusuri lebih jauh lagi, akan tampak kerancuan penggunaan istilah "Abrahamic Faiths" ini. Misalnya, dalam agama Yahudi (Judaism) dan Kristen (Christianity), terdapat begitu banyak sekte dan bahkan agama-agama yang berbeda-beda. Apakah semuanya juga 'millah Ibrahim'? Tentu tidak mungkin seperti itu. Sebab, agama Ibrahim adalah satu, dan yang satu itu adalah agama Tauhid.

Dalam hal inilah, kita biasa melihat, banyaknya cendekiawan yang kurang hati-hati dalam mengadopsi istilah-istilah tertentu. Dalam perspektif netral agama, secara historis-fenomenologis, bisa saja Islam, Kristen, dan Yahudi dimasukkan ke dalam kategori Abrahamic Faiths, karena ketiganya memiliki klaim sebagai pewaris ajaran Ibrahim. Tetapi, Al-Quran sudah menjelaskan apa yang dimaksud dengan millah Ibrahim yang hanif. "Dan siapakah yang lebih baik din-nya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti millah Ibrahim yang hanif." (QS 4:125). "Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik." (QS 3:67).

Dengan penegasan Al-Quran itu, tidaklah tepat jika ada cendekiawan yang mengakui bahwa agama Kristen dan Yahudi saat ini termasuk ke dalam kategori "millah Ibrahim" yang hanif. Jika kaum Yahudi dan Kristen mengklaim mereka sebagai pelanjut agama Ibrahim, itu adalah urusan mereka. Tetapi, sebagai Muslim, seyogyanya pandangan kita bersandar kepada konsep-konsep yang diajarkan dalam Al-Quran.

imageDalam konferensi tahun 1979, melalui makalahnya yang berjudul "Islam and Christianity in the Perspective of Judaism", Michel Wyschogrod, profesor filsafat di Baruch College, City University, New York, memaparkan persoalan mendasar dalam pemahaman keagamaan antara Yahudi, Kristen, dan Islam. Yahudi dan Kristen bersekutu dalam Bibel (Perjanjian Lama). Tetapi berbeda secara mendasar dalam soal trinitas. Dengan Islam, Yahudi tidak bermasalah dalam soal pengakuan Tuhan yang satu (monotheism). Tetapi, Muslim memandang bahwa telah terjadi penyimpangan (tahrif) yang serius pada Kitab Yahudi (juga Kristen).

Gambaran Prof. Michel Wyschogrod tentang Islam tersebut tidak sepenuhnya benar. Monoteisme memang mengakui Tuhan yang satu. Tetapi, monoteisme tidak sama dengan Tauhid. Istilah ini juga sering disalahpahami, seolah-olah monoteisme sama dengan Tauhid. Dalam konsep Islam, tauhid adalah mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan ada unsur ikhlas, rela diatur oleh Allah SWT. Karena itu, jika orang menyembah Tuhan yang satu, tetapi yang 'yang satu' itu adalah Fir'aun, maka dia tidak bertauhid. Iblis pun tidak bertauhid, tetapi kafir, karena menolak tunduk kepada Allah, meskipun dia mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan.

Dalam perspektif Islam inilah, memasukkan agama Yahudi (Judaism), sebagai 'millah Ibrahim' juga patut dipertanyakan. Kaum Yahudi memang menyembah Tuhan yang satu. Tetapi, hingga kini, mereka masih berselisih paham tentang siapa Tuhan yang satu itu? Sebagian menyebut-Nya sebagai 'Yahweh'. Tetapi, dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak boleh diucapkan. Oxford Concise Dictionary of World Religions menulis: "Yahweh: The God of Judaism as the 'tetragrammaton YHWH', may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God's name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy." Jadi, hingga kini, belum jelas, siapa nama Tuhan Yahudi.

Karena menolak beriman kepada kenabian Muhammad saw, maka kaum Yahudi kehilangan jejak kenabian dan Tauhid, karena kehilangan data-data valid dalam Kitab mereka. Th.C.Vriezen, dalam buku "Agama Israel Kuno" (Jakarta: BPK, 2001), menulis, bahwa "Ada beberapa kesulitan yang harus kita hadapi jika hendak membahas bahan sejarah Perjanjian Lama secara bertanggung jawab. Sebab yang utama ialah bahwa proses sejarah ada banyak sumber kuno yang diterbitkan ulang atau diredaksi (diolah kembali oleh penyadur)… Namun, ada kerugiannya yaitu adanya banyak penambahan dan perubahan yang secara bertahap dimasukkan ke dalam naskah, sehingga sekarang sulit sekali untuk menentukan bagian mana dalam naskah historis itu yang orisinal (asli) dan bagian mana yang merupakan sisipan."

Dalam sejumlah buku studi Islam di Perguruan Tinggi, masih ada yang menulis bahwa agama Yahudi adalah agamanya Nabi Musa a.s. Bahkan, Prof. Harun Nasution, dalam buku Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, menyebut agama Yahudi sebagai agama yang memelihara kemurnian Tauhid. Padahal, agama nabi Musa adalah agama Tauhid yang kemudian dilanjutkan oleh Nabi Muhammad saw. Jika Yahudi memeluk agama Nabi Musa, pasti mereka akan menerima kenabian Muhammad saw. Al-Quran banyak menyebutkan tindakan kaum Yahudi yang mengubah-ubah kitab mereka, sehingga mereka keluar dari jalan kebenaran. (QS 2:59, 75, 79, dll).

Senada dengan Yahudi, Kristen juga menolak kenabian Muhammad saw dan bahkan mengangkat status Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan. Al-Quran memberikan kritik-kritik yang sangat mendasar terhadap konsep ketuhanan Kristen ini. (QS 19:88-91, 5:72-75, dll.). Secara tegas, Al-Quran menyebutkan, bahwa Nabi Isa a.s. pernah menyeru Bani Israil agar mengakuinya sebagai Rasul, utusan Allah, dan mengabarkan kedatangan Nabi Muhammad saw. Karena itulah, Islam memandang, kaum Kristen telah melakukan penyimpangan aqidah, karena mengangkat Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan, bukan sebagai utusan Allah. Dengan konsep itu, mereka menolak untuk beriman kepada kenabian Muhammad saw. Segaimana kaum Yahudi, kaum Kristen di Barat tidak mengenal nama Tuhan mereka. Mereka hanya menyebut Tuhannya sebagai "God" atau "Lord". Soal nama Tuhan, masih diperselisihkan, dalam agama Kristen.

Karena itu, dalam pandangan Islam, yang bisa dimasukkan ke dalam kategori sebagai 'millah Ibrahim' saat ini, hanyalah agama Islam, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Kaum Muslim begitu dekat dengan nabi Ibrahim a.s.. Setiap shalat, kaum Muslim membaca doa untuk Nabi Ibrahim. Begitu juga, salah satu hari raya umat Islam adalah hari raya Idul Adha yang terkait erat dengan kisah perjuangan dan perjalanan hidup Nabi Ibrahim a.s..

Dari sinilah, kita memahami, bahwa sebaiknya istilah "Abrahamic Faiths" tidak digunakan. Apalagi, dalam bentuk jamak (plural) yang menunjukkan bahwa ada banyak agama Ibrahim. Padahal, agama Nabi Ibrahim hanya satu, yaitu agama Tauhid, yang kemudian dilanjutkan oleh para Nabi sesudahnya, sampai nabi terakhir, Muhammad saw. Nabiyullah Ibrahim a.s. begitu gigih dalam memperjuangkan Tauhid, sampai harus berhadapan dengan keluarganya sendiri dan diusir dari tanah kelahirannya.

Sebagaimana yang lalu-lalu, kita berulangkali mengimbau, kiranya para cendekiawan berhati-hati dalam menggunakan istilah. Tanpa menggunakan istilah-istilah yang aneh-aneh, kita bisa melakukan dialog dengan kaum Yahudi, Kristen, dan sebagainya. Tidak perlu menjustifikasi hal-hal yang bertentangan secara tegas dengan konsep-konsep dasar Islam. Dalam pandangan Islam, perdamaian adalah penting. Tetapi, Tauhid lebih penting. Karena itulah, Rasulullah saw memilih tidak berdamai dengan paman-pamannya yang menolak Tauhid dan lebih mengutamakan syirik. Kita menghormati perbedaan. Kita ingin perdamaian. Kita siap berdialog. Tetapi, dalam dialog itu, perspektif dan posisi kita sebagai Muslim harusnya dinyatakan secara tegas. Justru, dialog itu akan terjadi, jika masing-masing pihak memiliki posisi yang jelas. Jika tidak, maka dapat muncul sikap kepura-puraan dan kemunafikan. Wallahu a'lam. [Jakarta, 9 November 2007/www.hidayatullah.com]


Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now.

Tokoh Anti-Islam di Italia Bawa Babi Keliling Lokasi Pembangunan Masjid

Oleh : Redaksi 12 Nov 2007 - 5:11 pm

imageCobaan demi cobaan menimpa warga Muslim di Italia. Hanya karena ingin mendirikan masjid, mereka dilecehkan dan dihinakan oleh kelompok-kelompok anti-Islam di negeri itu.

Mantan deputi menteri pendidikan Italia dan anggota partai kiri Nothern League Party. Mariella Mazzetto dengan sengaja menaruh seekor babi di lokasi yang rencananya akan dibangun sebuah masjid oleh warga Muslim, tepatnya di utara kota Padua.

Surat-surat kabar lokal terbitan Minggu (11/11) menyebutkan tindakan kedua tokoh anti-Islam itu telah menyulut kecaman di negeri itu, termasuk dari Walikota Padua Flavio Zanonato. Dalam pernyataan resminya yang dikutip media massa setempat ia mengatakan, "Perilaku seperti ini tidak patut dihormati dan saya yakin banyak orang di sini yang merasa malu. "

Zanonato menegaskan bahwa tindakan menaruh babi di lokasi yang akan dibangun masjid, akan mengancam kehidupan yang damai antara Muslim dan non-Muslim di Padua. Saat ini, menurutnya, ada asekitar 7. 000 orang dari berbagai negara Muslim yang tinggal di Padua. "Dan kami berusaha untuk hidup berdampingan dengan damai, " tukasnya.

Apa yang dilakukan Mazzetto, yang pernah menjabat sebagai deputi menteri pendidikan pada masa pemerintahan sayap kiri Silvio Berlusconi memang sudah keterlaluan. Bersama dengan sekitar 10 anggota Nothern League Party, ia membawa seekor babi berjalan-jalan di luar lokasi pembangunan masjid.

"Kami telah 'memberkati' tanah yang oleh otoritas Padua akan diserahkan untuk membangung masjid, " kata Mazzetto dengan nada melecehkan.

Ia mengatakan, tindakan otoritas Padua itu menjadi tanda tanya bagi keberpihakan mereka dalam membela umat Kristen di Italia. Mazzetto tampaknya tahu betul babi adalah binatang yang haram bagi umat Islam, sehingga ia melakukan tindakan seperti itu.

Tapi tidak semua anggota Partai Nothern League-yang meski menerapkan kebijakan partai yang anti-Islam-setuju dengan perbuatan Mazzetto dalam mengungkapkan ketidaksukaannya atas rencana pendirian masjid di Padua.

"Kita membutuhkan inisiatif-inisiatif yang membuat orang simpati, tindakan seperti merupakan tindakan yang salah, " kata ketua Partai Northern League di parlemen, Roberto Maruni.

Sudah menjadi hal yang biasa, tiap kali muncul rencana untuk mendirikan masjid, selalu timbul ketegangan di kalangan komunitas Kristen di Italia yang didominasi penganut Katolik.

Pada bulan September kemarin, warga Kristen di Genoa memprotes rencana pembangunan masjid di kota itu, dengan alasan lokasi pembangunannya terlalu dekat dengan gereja. Sementara itu, warga di kota Colle di Val d'Elsa menilai pendirian masjid sebagai "penjajahan" warga Muslim atas tanah mereka. Di Bologna, otoritas pemerintahan setempat membatalkan rencana pembangunan masjid karena tekanan dari kelompok sayap kiri.

Jumlah warga Muslim di Italia berjumlah 1, 2 juta, di mana 20. 000 ribu di antaranya adalah para mualaf. Bukan sekali ini saja warga Muslim di lecehkan oleh kelompok anti-Islam di Italia. Bulan September kemarin, senator dari Northern League Party Roberto Calderoli membuat warga Muslim marah, karena ia menyerukan "Hari Babi" untuk memprotes pembangunan masjid di utara kota Bologna. Tahun 2006, sejumlah orang yang anti pembangunan masjid, meletakkan kepala babi di sebuah lokasi pembangunan masjid di kota Tuscany, Italia Tengah. (ln/iol/eramuslim)


Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.

Minggu, 11 November 2007

Pendeta yang kemudian jadi Muballigh & Pakar Kristolog

Journey to Islam Oleh : Redaksi 12 Nov 2007 - 2:00 am
imageMuhammad Zulkarnaen, ahli Kristologi ini adalah mantan Pendeta Kristiani dan pernah menulis buku "Mengapa Saya Masuk Islam & mengakui Muhammad sebagai Rasul Allah SWT", sekarang menjadi Direktur The Institute Of Reserches And Studies On The History Of World Religions.

Mubaligh asal Flores NTT ini sebelum memeluk Islam aktif sebagai misionaris di kawasan Indonesia timur dengan nama asli Eddy Crayn Hendrik. Setelah ayah dan ibunya tahu bahwa Eddy masuk Islam, maka ia diusir dari rumah oleh keluarganya. Akhirnya ia melanglang buana sambil memperdalam Islam sambil berdakwah keliling, berbekal pengalaman dari kehidupannya sendiri ditambah banyak membaca buku-buku dan kitab pergaulan yang dibangun semakin luas pengetahuan yang dimilki pun sangat mendukung dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai mubaligh.

Kerisauan yang menyesakkan dada sangat dirasakan manakala muncul berbagai fitnah terhadap Islam dan masyarakat Muslim. Untuk menghadapi fitnah dan serangan terhadap Islam, apalagi bila ayat suci Al-Qur'an dibajak untuk kepentingan di luar Islam, maka untuk menangkalnya perlu diungkap fakta sejarah agama-agama dunia, serta evolusi sejak zaman Nabi Adam hingga Muhammad SAW. Hal ini sangat perlu disampaikan kepada seluruh umat Islam khususnya mubaligh yang berada di lapangan untuk bekal dialog dengan tokoh agama non Islam supaya tidak terjadi kontra produktif terhadap dakwah.

Zulkarnaen yang lahir 6 Juli l943 dari seorang ayah Izac Hendrick sebagai Pendeta dan Ibu Mariam seorang biarawati Protestan. Setelah menamatkan SMA Xapensia di Kupang l960 kemudian melanjutkan sekolah Kependetaan dan menekuni Injil, dan menjadi Pendeta di Kupang dari tahun l962-l966 mengajarkan Trinitas dan penebusan dosa dari ketuhanan Yesus. Baru pada tahun l967 ia masuk Islam di hadapan wali KUA Dompo, Sumbawa, kemudian namanya berubah menjadi Muhammad Zulkarnaen. Kisahnya diawali ketika ia jalan-jalan di komplek pertokoan Tunjungan Surabaya, kemudian membeli buku pendidikan agama Islam karya DR. HAMKA. Setelah mempelajari beberapa lama, kemudian timbul konflik batin berkepanjangan antara tetap memeluk Protestan atau Islam. Namun setelah satu bulan ia yakin bahwa kebenaran yang haqiqi itu adalah Islam, maka kemudian ia masuk Islam dengan mantab. Sebagai mu'alaf ia mendapat bimbingan langsung dari bapak Drs. Lalu Mujtahid guru SMA Muhammadiyah Mataram, yang sekarang menjadi walikota Mataram. Zulkarnaen kemudian rajin membaca buku-buku agama Islam akhirnya menjadi mubaligh di Sumbawa beberapa tahun dan kelliling Sumatra. Tahun l977 ia menikah di Lampung dengan Hj Zubaidah aktivis NA dan Aisyiyah dan dikaruniai seorang putra bernama Iskandar Zulkarnaen, sekarang bekerja sebagai karyawan BPD Lampung.

Kemudian selama 10 tahun ia menjadi mubaligh Muhammadiyah dan keliling dari Lampung hingga Aceh. Di sela-sela berdakwah ia menulis buku : Nabi Isa dan mengkaunter propaganda Kristenisasi.

Sekarang ia menetap di Tangerang, Banten. Di sana ia tetap jadi mubaligh Muhammadiyah dan memelihara anak asuh yatim piatu sejumlah 57 anak, dari usia SD hingga SMP. Di samping itu ia menampung keluarga dluafa dan mustad'afin diberi pinjaman modal tanpa bunga untuk berjualan kue yang disetor di warung-warung di daerah Perumahan Bumi Serpong.

Tiap Hari Besar Islam seperti Maulid, Isro'Mi'roj dan Muharram ia menyelenggarakaan khitanan massal kerjasama dengan PDM dan Takmir Masjid setempat. Ia juga menyebarkan CD berisi dialog dengan Robert P. Walean Pendeta dari Seatle San Faransisco USA dan dialog dengan Pendeta Tukimin seksi Yehova yang sudah menetap di Amerika Serikat selama 15 tahun. Hasil penjualan CD dan buku karangannya dikumpulkan untuk membantu pendidikan anak-anak yatim piatu. (Ton Martono/http://suara-muhammadiyah.com)

Ebook-003 : Mengapa Saya Masuk Islam & mengakui Muhammad sebagai Rasul Allah SWT
http://swaramuslim.net/ebook/more.php?id=2526_0_11_0_M

RIWAYAT SINGKAT PENULIS
Menurut bintang, penulis dilahirkan pada rasi Gemini, yaitu tanggal 6 Juni, tahun 1943, ketika bumi Indonesia masih dalam asuhan "saudara tuanya," yang kemudian sesudah dibom atoom, menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Amerika dan sekutunya. Saya dilahirkan tanggal enam, bulan yang keenam pada hari keenam jam enam pagi. Apakah pembaca percaya itu ataukah tidak, terserah, tetapi begitulah yang dituliskan oleh bapak pendeta ketika mempermandikan saya pada tanggah 27 Nopember 1949 di Pekalongan. Saya anak Kristen, tetapi jelas bukan Kristen abangan, sebab pada tahun 1936 ayah saya, Izaak Hendrik, telah lulus dari Kweekschool van het Leger Des Heils Bandung, yaitu sekolah Opsir, atau sekolah pendeta dari sekte Bala Keselamatan, masih termasuk mashab Methodist - Inggris.

Oleh karena sejak kecil saya sudah harus membaca Injil, maka akhirnya saya mahir dalam menghapal dan mengetahui ayat-ayat Injil, seperti para pendeta dan calon pendeta pada umumnya.

Meskipun ayah saya pengikut faham Protestan, tetapi saya disekolahkan di sekolah Katolik, yaitu pada waktu di S.R. tiga tahun lamanya, S.M.P. dua tahun lamanya, dan di S.M.A. setahun pula. Selebihnya saya bersekolah di sekolahan Kristen (Protestan maksudnya). Dalam sekolah Katolik saya harus pula mempelajari agama Katolik, sebab disana, andaikan murid itu pandai sekalipun bila vak agama (Katolik tentunya) mendapat angka 5, tidak akan ia dinaikkan kelasnya. Waktu saya duduk dikelas dua S.M.P., saya dikeluarkan, karena saya menentang pateer Paulinos yang mengajarkan Sejarah Dunia, yang dalam menerangkan tentang Reformasi, banyak sekali saya rasakan menyinggung kenyataan yang saya peroleh dalam agama Protestan. Didalam kehidupan saya dalam agama Kristen, saya merasakan amat bahagia, sebab saya adalah seorang diantara sekian banyak orang yang telah diselamatkan oleh Yesus juru selamat saya, Anak Allah yang telah turun kedunia mati ganti dosa-dosa kita. Saya sangat fanatik pada agama saya, sebab negeri saya, (Timor Kupang) 95% Kristen, lagi pula banyak paman-paman saya yang menjabat penetua, yaitu pendeta-pendeta kecil didesa disamping ayah sayapun adalah seorang pendeta. Itulah makanya saya pernah bermukim setahun lamanya dalam sekolah pendeta jalan Kramat Raya 55 Jakarta, yaitu kira-kira tahun 1962. Islam bagi saya adalah bukan suatu agama. Islam itu kolot, Islam identik dengan Arab, sedangkan Arab itu kikir. Agama Islam tidak memperoleh keselamatan Illahi, sebab tidak mengakui Yesus sebagai anakNya yang tersalib ganti dosa dan salah kita. Ia, bila hendak sembahyang harus berteriak-teriak dahulu, dan mencuci kaki serta meminum air bekas cuciannya, alangkah kotornya. Islam itu kejam, mengacaukan negara kita, mau pula merubah dasar negara kita menjadi negara Islam, dan untuk itu ia memberontak.

BAGAIMANA SAYA MENGENAL ISLAM
Sejarah ibarat roda, selalu berputar dan berputar. Demikian pula dengan manusia. Apa yang baru dihari ini, akan usang dikeesokannya, apa yang baik hari ini, belum tentulah baik kemudiannya. Dunia penuh dinamika dan romantika. Sayapun penuh dengan dinamika dan romantika. Pada tahun 1964 saya naik kereta api dari Jakarta ke Surabaya, entah suatu kesengajaan yang sudah diatur oleh Tuhan ataukah bagaimana, tetapi yang jelas saya telah duduk berdampingan dengan seorang yang mengaku bernama Haji Mahmud, yang tertarik oleh ketekunan saya membaca injil, akibatnya berdialog, dan dalam dialog itu ia memberikan pada saya "Sebuah ajaran Islam," yang bunyinya: 'Kul huallahu Ahad, Allahus samad, Lam yalid walam yulad, Walam yakun lahu kufuwan Ahad,' yang artinya:
Katakanlah wahai Muhammad, sesungguhnva Allah itu Esa tempatmu bergantung. Ia (Allah) tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan Ia tiadalah mempunyai tandingan."

Haji tersebut menerangkan, bahwa Islam bukan hanya sekedar Agama, tetapi juga suatu risalah, suatu ideologie dan suatu falsafah, yang cocok untuk sega]a bangsa dan golongan. Islam tidak mengenal diskriminasi, dan jabatan, dan pangkat, itulah sebabnya dalam mesjid hanya dipakai tikar, dan dalam sambahyang semua ummatnya harus tunduk hingga mukanya ke bumi tanpa memandang dia itu apa dan siapa.

DORONGAN SAYA UNTUK MENYELIDIKI INJIL
Kalimat-kalimat Lam yalid Qalam yulad, benar-benar merupakan kalimat pendorong pada saya untuk menyelidiki apa sebenarnya Islam itu. Itulah sebabnya saya lalu dihinggapi penyakit "memborong" buku-buku Islam, baik itu karangan Prof. Dr. Hamka, Sallaby, Ashiddiqy, Imam Ghozali, Rosyidi, maupun kepada Al-Qur'annya sendiri, yaitu tafsirannya, dan kitab hadits-hadits. Iman saya kepada Kristen makin lama makin luntur. Satu persatu dogma dogma Kristen tidak dapat saya terima lagi. Pertanyaan hati saya tentang Tuhan itu tiga tetapi satu; juga tentang Yesus itu manusia dan Yesus itu juga Allah, tentang dosa keturunan. Salib dstnya satu persatu terjawab dalam Al-Qur'an secara jelas. Dan untuk ini saya kira karena saya mengadakan penyelidikan pengulangan terhadap Injil. Sudah tentu bukan penyelidikan secara dahulu lagi yang mendasarkan pembacaan kepada sola fide, tetapi penyelidikan baru, yaitu dengan menggunakan ratio, dan menggunakan kitab suci yang lain (Taurat & Qur'an) sebagai bahan pembanding.


image
Selebihnya baca di http://swaramuslim.net/ebook/html/003/

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Kamis, 08 November 2007

Imani, Gadis Srilanka. Dari Buddhist ke Islam

Muslim Convert News Oleh : Redaksi 07 Nov 2007 - 6:21 pm
KDNY (Kabar Dari New York):
M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York
imageimageImani, wanita muda yang kini sudah tahun ketiga di salah satu college yang berafiliasi dengan Columbia University di New York ini akhirnya memeluk Islam

Dua minggu menjelang Ramadhan, the Islamic Forum seperti biasanya, padat dengan peserta dialog. Sebagian besar memang adalah para muallaf dan non Muslim yang sudah beberapa bulan belajar Islam. Salah satu dari non Muslim itu adalah seorang gadis, hampir saja kusangka gadis Aceh atau Bangladesh. Wajah dan postur tubuhnya nampak jauh lebih muda dari umurnya yang ke 23. Sangat pendiam dan sopan, tapi sangat kritis dalam mempertanyakan banyak hal. Hari itu saya memang menjelaskan makna-makna spiritual dari ibadah puasa. Penjelasan saya terkonsentrasi pada kata "taqwa" yang didetailkan kemudian oleh S. Ali Imran:

"Dan bersegeralah ke magfirah Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu yang senantiasa memberi, baik dalam keadaan senang maupun susah, menahan marah dan memaafkan manusia. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan orang-orang yang jika melakukan kekejian atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka ingat kepada Allah dan mereka memohon ampunan dariNya atas dosa-dosa mereka…dst".

Siang itu penjelasan saya memang banyak berkisar pada makna "takwa" dalam konteks "ihsan". Bahwa membangun ketakwaan tidak sekedar dilakukan lewat pendekatan formal hukum tapi yang menjadi inti sesungguhnya adalah kemampuan membangun "relasi spiritual" dengan Ilahi. Simbol keberagamaan (aspek-aspek formal agama) tidak menjamin ketinggian keberagamaan (religiusitas) seseorang. Tapi banyak ditentukan oleh, selain benar secara hukum formal, juga benar secara batin. Biasanya hukum formal ini terkait erat dengan masalah-masalah fiqhiyah, dan hukum batin ini terkait dengan kesadaran jiwa di saat melakukan penghambaan (ibadah).

Tanpa terasa penjelasan itu memakan waktu lebih 1 ½ jam. Sebagaimana biasa, saya kemudian memberikan kesempatan kepada semua peserta untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan komentar.

Beragam pertanyaan yang diajukan oleh para peserta. "Nampaknya, Islam dan agama-agama lainnya tidak jauh berbeda", komentar salah seorang peserta non Muslim. "I used to think that Islam is all about laws, do this, don't do that…etc." komentar yang lain.

Seorang gadis yang ada di ruangan itu, yang sejak awal diam dan juga jarang memperlihatkan senyum, tiba-tiba angkat suara. Suaranya pelan dan hampir tidak kedengaran. "Do you believe in the incarnation?", tanyanya lembut. "Before I respond to your question, can you explain to me, what do you know about the incarnation?" kata saya.

Dia kemudian berbicara cukup panjang mengenai konsep inkarnasi dalam pandangan agama Budha. Penjelasannya cukup menarik, dan terkadang dibumbui pula dengan argumentasi rasional. Oleh karena tidak ada yang menyangka kalau gadis itu beragama Budha, hampir semua terheran-heran di saat dia mengatakan "in my belief…Buddhism". Saya pun memotong langsung dan bertanya: "Sister, may I ask you a personal question?". "Yes sir!" jawabnya. "Are you a Buddhist?", tanya saya. "Yes sir. My mom is a strong follower of Buddhism, but my dad doesn't really care about religion", jawabnya.

Dia memang nampak canggung menjawab pertanyaan itu. Tapi nampaknya pula bahwa dia adalah seseorang yang berani. "So, when we talk about religion, what do you mean by that word (religion)?", pancingku. "I really don't know. But as far as I know, we Buddhists neither we believe in religion nor in god", jelasnya. "So in what do you have faith?", tanyaku lagi. "Basically the center of our faith is in the nature itself. And we the people are the center of the nature", katanya lagi.

Saya tiba-tiba teringat dengan Kumar, seorang pemuda Bangladesh beragama Budha yang masuk Islam beberapa waktu lalu. Saya juga tiba-tiba teringat dengan Nagakawa, seorang pendeta Budha yang seringkali saya temui dalam beberapa pertemuan antar-agama (interfaith) . Terbayang kegalauan mereka dalam melihat makna kehidupan ini. Mereka tidak tahu asal, dan juga tidak sadar ke mana mereka berjalan. Pencarian spiritualitas mereka hanya sebatas "pemenuhan kebutuhan spiritualitas sesaat". Inilah yang menjadikan Dalai Lama menjadi sangat populer di AS, tentu juga karena ada kepentingan politik Amerika terhadap China.

"Let me ask you a question", saya memulai diskuis itu lagi. Dia mengangguk. "Do you pray or supplicate?", tanya saya. "Yes, in fact my mother pray every day at home", jelasnya. "Now, here is the point", kata saya. "If you believe in the nature, worship the nature, and you are the most important part that nature, to whom do you address your prayers or supplications?"

Dia mulai tersenyum sambil menengok ke teman-teman lain yang ikut tersenyum ketika itu. "I don't know. But as I heard, we pray towards the nature itself. According to Buddhism, this nature has power", jelasnya. "But if you are an important part of this nature, and in fact you yourself the center of that nature, then basically you pray to your own self!", jelas saya. "And if so, what is the point of asking to your own self? Iif you have that power, then what is the need to ask?", tanya saya.

Para peserta nampak tertawa mendengarkan pertanyaan-pertanya an saya tersebut. Sementara sang gadis itu nampak bingung dan hanya tersenyum mendengarkan semua itu. "Sister, in our religion God is the center of all issues", lanjutku. Saya kemudian berusaha menjelaskan bahwa agama itu bukan sekedar pemenuhan kebutuhan spiritualitas sesaat, melainkan konsep kehidupan. Bahwa spiritualitas memiliki tempat penting dalam agama, namun tanpa Tuhan, konsep spiritualitas seperti itu bersifat semu.

Saya kemudian menjelaskan panjang lebar kehidupan Hollywood yang penuh dengan kegemerlapan duniawi. Ada dua kemungkinan yang terjadi pada akhir kehidupan para artis itu. Kalau tidak terjebak pada kehidupan "hedonistis" tanpa ujung, atau mereka akan terjebak kepada pencarian spiritualitas yang illutif.

Pada akhir penjelasan itu, tiba-tiba gadis itu berkata: "It does make sense!". Saya menimpali: "True religion does make sense. And Islam does make sense!", jelasku.

Kelas hari itupun bubar. Tapi tanpa terlupakan saya pinjamkan gadis itu sebuah buku perbandingan Islam dan Buddha tulisan Harun Yahya dan sebuah Al-Quran terjemahan.

Dua hari kemudian, hari Senin, ketika saya tiba di kantor di pagi hari, tiba-tiba gadis itu sudah berada di ruangan resepsionis.. "Hi, how are you?", sapa saya. Tanpa memperlihatkan senyum sedikitpun, gadis tersebut menjawab: "Hi, I am fine!". Rupanya resepsionis menimpali bahwa dia sudah menunggu dari pagi. Maka segera saya ajak dia masuk ke ruang pertemuan.

"What I can do for you this morning?", tanyaku. "My mom took all my books", katanya. "Why?" tanya saya. "She doesn't want me to read those books, but I am really interested to know", jawabnya. "It's fine, that may cause you mom to study and know this religion too. I will give you some other books", kata saya.

Tanpa panjang lebar, saya kemudian menjelaskan Islam kepadanya. Saya memulai dari hakikat kehidupan, kedudukan manusia, dan bagaimana kebutuhan manusia kepada Yang Maha Dzat, Allah SWT. Selama saya menjelaskan itu, beberapa kali saya harus mengulangi karena beberapa terminology yang sama sekali asing baginya. Tapi akhirnya, nampak wajahnya puas.

"Any thing else in your mind that you want to clarify or further to ask?", tanyaku. Dia hanya menggelengkan kepala. "So, what do you think about the religion?", tanyaku lagi. Dengan sangat pelan, dia menjawab: "I feel that Islam is quite rational and it does make sense to me", katanya. "I like it!", lanjutnya.

Mendengar itu, saya segera memancing. "So, you are certain that the religion is the true one". "I think so!", jawabnya. "If you are still thinking that it's true, it means you are not certain yet!", kataku. Seraya tersenyum dia menjawab: "No, I am sure about it!", tegasnya.

"Does it mean that you believe in Islam? Do you believe in God?", tanya saya. "Yes, I am sure God does exist, and sure that we need Him in our life", katanya. "Ok, if I say to you, are you willing to embrace Islam, are you ready?", tanyaku. Dengan sedikit menunduk, nampak seperti ragu, namun dengan mantap dia mengatakan: "Yes!".

Saya kemudian menjelaskan enam rukun Iman dan lima rukun Islam. Juga sedikit saya jelaskan kaitan Islam dengan kehidupan nyata manusia. "Any question before taking your shahadah?", tanyaku. Dia hanya menganggukkan kepala.

Saya kemudian menelpon resepsionis untuk memanggil dua saksi. Maka disaksikan oleh dua saksi di pagi hari itu, gadis belia ini mengucapkan: "Asy-hadu an laa ilaaha illa Allah- wa asy-hadu anna Muhammadan Rasul Allah", diikti pekikan takbir kedua saksi itu.

Alhamdulillah, gadis yang kemudian memilih nama barunya "Imani" ini sudah mulai berpuasa Ramadhan lalu. Sayang, dia baru tahu kalau Ramadhan sudah masuk setelah 10 hari Ramadhan berlalu. Maka di bulan Syawal lalu, dia berusaha mengganti puasanya yang tertinggal ditambah puasa 6 hari Syawal.

Sekitar 2 minggu lalu, Imani silaturrahmi ke rumah kami pada acara "open house" kami. Tapi setibanya siang itu di rumah kami, dia tidak makan. Rupanya dia sedang berpuasa sunnah Syawal. Maka kami ajak dia untuk tinggal sampai berbuka puasa. Setelah berbuka puasa, Imani pamitan pulang. Tapi karena sudah gelap dan akhir pekan yang biasanya subway tidak terlalu lancar, kami ajak Imani menginap di rumah kami.

Di saat silaturrahim itu, betapa gembira Imani ketika bertemu dengan keluarga Srilanka yang putranya menikah dengan wanita Indonesia. Imani merasa mendapatkan keluarga barunya. Dan pagi hari, selepas shalat subuh Imani meninggalkan rumah sambil berpesan kepada anak kami: "Tell your mom, dad, thank you so much for your hospitality and the delicious dinner!".

Hari Sabtu lalu, dengan suara pelan Imani berbisik: "I hope I can find a husband who can teach me reading Arabic (Qur'an)". "Insha Allah Sister! May Allah make it easy for you and we will do help you in any way possible!", kataku. Baru ketika itu juga saya tahu kalau Imani sudah berumur 23 tahun dan sudah tahun ketiga di salah satu college yang berafiliasi dengan Columbia University di New York.

Semoga Imani akan selalu dilindungi dalam naungan iman hingga akhir perjalanan hidupnya menuju Rabbnya!

New York , 29 Oktober 2007

* Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com