Kamis, 16 November 2006

Vatikan Ikut Angkat Bicara Soal Cadar

Islamophobia Oleh : Redaksi 15 Nov 2006 - 7:03 pm

imageUntuk pertama kalinya Vatikan melontarkan pendapat atas perdebatan tentang pernggunaan cadar yang melanda Eropa, karena dianggap menghambat integrasi warga Muslim dan masyarakat Eropa. Kardinal senior Vatikan, Kardinal Renato Martino mengungkapkan kekhawatirannya melihat banyaknya imigran Muslim di Eropa yang mengenakan cadar.

Kardinal Martino mengatakan, para imigram Muslim harus menghormati tradisi, budaya dan agama di tempat mereka pergi. Para imigran Muslim itu, kata Martino, juga harus mematuhi hukum lokal yang melarang orang mengenakan cadar seperti yang digunakan para Muslimah.

"Bagi saya, sangat penting dan sudah benar jika otoritas setempat menuntut hal itu," ujar Kardinal Martino yang mengepalai departemen terkait isu-isu imigran di Vatikan.

Ia mengungkapkan pernyataan tentang cadar, saat keterangan pers pernyataan Paus berisi seruan agar dibuat hukum yang bisa mendorong integrasi para imigran.

imageItalia langsung membuat sebuah undang-undang ketika terjadi arus urbanisasi besar-besaran gerilya Brigade Merah di negeri itu tiga dekade lalu. Sampai saat ini, menutup wajah di depan publik merupakan tindakan yang dianggap menyinggung, terutama apabila aparat kepolisian ingin tahu identitas orang bersangkutan. Ketika itu jumlah imigram Muslilah masih sangat sedikit di Italia.

Uskup Agostino Marchetto, yang juga mengurusi masalah imigran di Vatikan mengatakan, perlu adanya dialog dengan warga Muslim agar mereka mengerti bahwa konsekuensi dari tradisi beberapa agama tidak selalu positif di masyarakat tempat sekarang mereka berada.

Pemerintah Italia berusaha untuk membuat apa yang disebut sebagai Charter of Common Values untuk membantu para pemuka Islam lokal berintegrasi dengan masyarakat Italia yang jumlah bertambah dengan cepat. Namun upaya itu bukanlah hal yang mudah.

Dalam sebuah pertemuan baru-baru ini, menurut laporan situs BBC, ada sekelompok Muslim yang meminta perbedaan pemberian hak terhadap perempuan dan laki-laki dan diberlakukannya hukuman mati. Padahal berdasarkan hukum yang berlaku di Italia, hukuman mati dan perbedaan hak antara perempuan dan laki-laki, dilarang. (ln/BBC)

Kelompok Evangelis di AS: Melindungi Israel adalah Perintah Kitab Suci

Laporan Oleh : Redaksi 15 Nov, 06 - 5:53 pm
watch : truth , george galloway islam , israel and middle east :video
imageimageMengapa kebijakan pemerintahan George W. Bush begitu mendukung Israel dan menutup mata dengan kekejian yang dilakukan kaum Zionis itu? Pertanyaan yang sebenarnya klasik ini, terjawab dengan pernyataan sejumlah tokoh Kristen konservatif di AS. Mereka secara terbuka menyatakan mendukung dan akan melindungi Israel dengan alasan keyakinan agama mereka, bahwa Israel adalah "kebijakan luar negeri Tuhan" dan Israel memegang peranan penting sebagai katalis kebangkitan kembali Yesus Kristus.

Tokoh Evangelis yang juga dikenal sebagai tokoh Kristen konservatif paling berpengaruh di AS, James D. Dobson dalam wawancara dengan surat kabar The New York Times, Selasa (14/11) mengungkapkan, "Ajaran agama saya mengindikasikan bahwa Israel adalah tanah perjanjian."

"Di sana ada Israel yang kecil dengan lima juta Yahudi yang terkepung, dikelilingi oleh setengah miliar umat Islam di mana para pemimpinnya ingin menenggelamkan Israel ke laut," ujar Dobson dalam sebuah siarannya. Di AS, ia memang dikenal sebagai penyiar program-program Evangelis.

Dobson bahkan menyamakan perang antara Israel dan Arab dengan "pertempuran antara David dan Goliath", sebuah kisah yang terdapat dalam Alkitab.

Pandangan serupa juga dilontarkan oleh pendiri organisasi Christian United for Israel, Pendeta John Hagee. Ia menyebut perang Israel dengan pejuang Hizbullah sebagai "pertempuran antara kebaikan dan kejahatan" dan ia menyatakan mendukung Israel sebagai "kebijakan luar negeri Tuhan"

Para tokoh Kristen konservatif di AS meyakini bahwa dukungan George W. Bush terhadap Israel selama ini adalah untuk melaksanakan perintah di Alkitab, yang menyebutkan agar negara Yahudi dilindungi.

Kalangan kulit putih penganut Evangelis meliputi hampir seperempat jumlah pemilih dan sebagian besar adalah anggota Partai Republik, partainya Bush. Mereka tetap komitmen untuk tetap mendukung agenda-agenda pro Israel.

Aliansi Kristen-Yahudi di AS

Dalam memperkuat dukungan terhadap Israel, sudah berpuluh-puluh tahun pemerintah Israel menggalang kerjasama dengan kalangan Evangelis di AS. Salah satu wujudnya adalah organisasi International Fellowship of Christian and Jews.

Pendiri organisasi tersebut yang ditunjuk sebagai duta resmi pemerintah Israel bagi kalangan Envagelis, Rabbi Yechiel Eckstein mengatakan, dirinya telah melihat dukungan yang sangat dalam dari kelompok Evangelis AS bagi Israel, ketika ia menggalang bantuan dari untuk Tel Aviv selama perang Israel-Hizbullah di Libanon.

Selama perang yang berlangsung hampir lima minggu itu, organisasi yang dipimpinnya mendapatkan sekitar 30 ribu donor baru dan aliran uang yang besar yang meningkatkan pendapatan organisasi tersebut.

"Perang benar-benar telah mendorong momentum itu," kata Eckstein.

Tokoh Evangelis lainnya yang kerap melontarkan hinaan terhadap Islam dan umat Islam dan sangat mendukung Israel adalah Pat Robertson.
"Israel-tempat berjalan di mana Yesus berjalan, tempat berdoa di mana Yesus berdoa, tempat berdiri di mana Yesus berdiri-tidak ada tempat lain seperti ini di bumi," kata Robertson dalam sebuah iklan komersil pariwisata Israel yang diluncurkan belum lama ini atas kerjasama dengan pemerintah Israel.

Mewaspadai Iran

Setelah pemimpin Irak Saddam Hussein tumbang, Israel dan kalangan Evangelis AS kini sedang mewaspadai Iran yang dianggap sebagai "ancaman yang mematikan."

Para penyiar dan komentator Evangelis, menurut majalah Times, menaruh perhatian besar atas komentar-komentar Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad terutama soal Holocaust dan seruannya untuk menghancurkan Israel.

Tokoh Kristen konservatif, Gary Bauer mengungkapkan, nama Presiden Iran berulang kali muncul dalam acara-acara talk-show radio Kristen.

"Saya tidak yakin ada pemimpin negara asing yang membuat pukulan yang lebih besar dalam budaya AS sejak Khrushchev, khususnya di kalangan Kristen," katanya merujuk nama mantan pemimpin Unit Soviet, Nikita Sergeyevich Khrushchev (1849-1971).

Sementara Pendeta John Hagee menyatakan, ia akan melakukan apapun yang ia bisa lakukan untuk menekan para pejabat AS agar bersikap keras pada Iran.

Menurutnya, dalam pertemuan "Night to Honour Israel" di gereja San Antonio bulan Oktober kemarin, Ahmadinejad menjadi topik pembicaraan sekitar lima ribu penganut Evangelis yang ikut dalam pertemuan itu.

Hagee menyamakan Ahmadinejad dengan Fir'awn di Mesir. "Fir'awn mengancam Israel dan ia berakhir menjadi makanan ikan," katanya disambut dengan applause. (ln/iol/Eramuslim)


Senin, 13 November 2006

Bacalah Bibel

Bacalah Bibel: Merajut Benang Merah Tiga Iman
Resensi Oleh : Redaksi 06 Sep 2006 - 11:17 pm

imageNovel The Da Vinci Code (TDVC) yang laris manis itu, meskipun menimbulkan protes keras umat Kristiani, tampaknya adalah blessing in disguise. Kajian terhadap keyakinan dan praktik Kristiani (atau yang disebut Kristologi) pun semakin marak. Di Indonesia, sejak diterjemahkan dan diterbitkannya TDVC, belasan judul, entah itu yang mengulas ataupun yang membantahnya, terbit dan tidak sedikit yang menjadi best seller.

Bukan semata umat Kristiani yang konon, seperti terjadi di Eropa, kembali rajin mengunjungi gereja dan membaca buku-buku keagamaan tetapi umat non-Kristiani pun perlahan mulai tertarik mempelajari atau, paling tidak, sekedar ingin mengetahui keyakinan ini.

Buku Bacalah Bibel: Merajut Benang Merah Tiga Iman karya Dr. Thomas McElwain, ini tampaknya juga ditempatkan penerbitnya, Penerbit Citra, untuk ikut meramaikan fenomena di atas.

Namun, patut digarisbawahi, berbeda dengan para pendahulunya—seperti sebut saja TDVC (dan karya-karya yang mengomentarinya) dan Holy Blood Holy Grail—yang mendasarkan isinya atas analisis kontroversial simbol-simbol dan asumsi-asumsi arkeologis yang secara faktual masih diragukan, Bacalah Bibel menyajikan suatu kajian yang artikulatif terhadap Alkitab melalui pendekatan analisis teks. Dalam konteks ini, buku ini lebih pantas dihadirkan di atas meja bedah ilmiah yang objektif daripada, tentu saja, TDVC yang fiktif itu.

Selain itu, karya McElwain, yang edisi Inggrisnya berjudul Islam in the Bible, ini berbeda dengan analisis-analisis terhadap Alkitab yang pernah ada, paling tidak, dengan mempertimbangkan dua hal sebagai berikut.

Pertama, McElwain tidak semata-mata melakukan analisis teks melalui penekanan pada kesepadanan konseptual (conceptual equivalent), seperti yang telah banyak dilakukan, tetapi lebih pada kesepadanan linguistik (linguistic equivalent), sesuatu yang menurutnya lebih objektif meskipun terkesan rigid (hal. 23). Meskipun demikian, ia tidak lantas mengabaikan kesepadanan konseptual karena kesepadanan linguistik cenderung melewatkan beberapa hal yang mungkin relevan. Kenyataan tersebut menjadikan buku ini unik karena, bagaimanapun, pendekatan linguistik terhadap Alkitab mensyaratkan sang peneliti memiliki kemampuan dalam banyak bahasa, khususnya Ibrani dan Yunani kuno—dan untungnya McElwain adalah salah seorang kampiun dalam bidang ini.

Kedua, McElwain berangkat dari asumsi bahwa adalah suatu keniscayaan jika terdapat keselarasan di antara keyakinan dan praktik Yudaisme-Kristiani yang terdapat dalam Alkitab (bukan yang kini dipraktikkan) dengan keyakinan dan praktik Islam karena ketiganya adalah berasal dari Sumber yang sama dan dijaga oleh manusia-manusia suci dalam mata rantai genealogis yang sama pula. Hal ini kontras dengan, misalnya Ahmad Deedat, seorang kristolog Muslim, yang sejak awal berasumsi bahwa Alkitab telah terdistorsi. Asumsi McElwain pun sama sekali bertolak belakang dengan apologi-apologi Josh McDowell yang semata berangkat dari doktrin-doktrin Kristen (baca Gereja).

Inilah keunikan posisi McElwain. Melalui buku ini, ia mengkritik dua kutub diametral sekaligus: asumsi Deedat yang terlalu simplistik terhadap Alkitab dan asumsi McDowell yang bias doktrin teologis. Uniknya pula, dua kutub yang dikritiknya itu, Deedat dan McDowell, pernah terlibat dalam sebuah debat.

Tak heran, melalui dua keunikan tersebut, Bacalah Bibel menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang akan mengejutkan banyak pembaca dari latar belakang agama apa pun. Mengejutkan karena McElwain mampu, tidak hanya membantah argumen kedua kutub diametral di atas, melakukan rekonsiliasi terhadap banyak hal yang sejak lama dipandang sebagai konflik antar-kitab suci.

Persoalan ketuhanan Yesus, misalnya, didekati McElwain dengan membedah persoalan penerjemahan terkait karakter tiap-tiap bahasa biblikal plus beberapa detail kasus linguistik.
Kata kyrious (dalam Alkitab berbahasa Yunani) atau lord (dalam KJV) yang kerap mendahului kata Yesus — yang diterjemahkan Tuhan dalam Alkitab LAI (terjemahan versi Lembaga Alkitab Indonesia)—seringkali secara tidak hati-hati dijadikan dasar bagi doktrin ketuhanan Yesus. Walaupun kata tersebut, pada beberapa bagian Alkitab, digunakan bagi Tuhan, penggunaannya tidaklah terbatas pada makna tersebut. Dalam kasus Yesus, adalah lebih bijaksana—dengan mempertimbangkan karakter-karakter yang logis bagi Tuhan—untuk menggunakan kata tersebut dengan makna ‘tuan’ seperti layaknya panggilan kehormatan bagi manusia. Bagi McElwain, kasus polisemi pada kata tersebut menandakan bahwa Alkitab tidak pernah benar-benar mengafirmasi ketuhanan Yesus (hal. 90).

Demikian pula, ungkapan Bapa untuk Tuhan dan Anak Tuhan bagi Kristus—sering dijadikan dalil bagi klaim-klaim Trinitarian—seperti yang dilakukan McDowell—ataupun tuduhan-tuduhan kepalsuan Alkitab—yang dilancarkan kristolog Muslim, seperti Deedat. Dengan menggunakan pendekatan diakronik, McElwain menunjukkan bahwa bahasa-bahasa semitik (khususnya Ibrani yang biblikal) jarang menggunakan kedua ungkapan di atas dengan makna harfiahnya, yakni keturunan biologis. Lebih daripada itu, ia pun menyatakan bahwa tak seorang pun penganut Kristiani yang meyakini bahwa kedua ungkapan itu bermakna hubungan biologis. Toh, kalaupun ada, hal itu karena sebagian besar bahasa modern yang digunakan untuk menerjemahkan Alkitab—berbeda dengan bahasa-bahasa asalnya—tampaknya tidak memiliki alternatif makna selain makna harfiahnya yang biologis itu (hal. 73).

Kemudian, melalui pendekatan interteks terhadap teks-teks suci Kristiani, McElwain sampai pada kesimpulan bahwa ungkapan Bapa digunakan Alkitab untuk merepresentasikan lima makna:
[1] ayah menurut makna harfiah biologis;
[2] leluhur;
[3] pencipta atau prototipe;
[4] seseorang yang memberikan nasehat atau informasi; dan
[5] seseorang yang harus dipatuhi secara mutlak (hal. 74-75).

Sekali lagi, dengan mempertimbangkan sifat-sifat niscaya ketuhanan plus karakter-karakter hubungan Yesus dengan Sang Bapa, maka, menurutnya, definisi terakhirlah yang paling sesuai dalam hubungannya dengan Tuhan.

Mengenai Anak Tuhan, lagi-lagi McElwain—seraya memerinci bagian-bagian Alkitab yang menggunakan ungkapan tersebut dalam makna metaforisnya—mengungkapkan bahwa ternyata: [1] ungkapan Anak Tuhan di dalam Alkitab tidak semata ditujukan pada Yesus, seperti pada Ayub 1:6 dan Kejadian 6:2; [2] Yesus sendiri, ketika menjawab tuduhan para rabbi, menolak pemaknaan Anak Tuhan sebagai Tuhan itu sendiri dalam Yohanes 10:34-36. Menurut Kristus, dalam rangkaian ayat itu, apa yang dimaksud Anak Tuhan adalah ‘yang disucikan Tuhan’ dan ‘yang diutus-Nya ke dalam dunia’. (hal. 94-95).

Kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh McElwain di atas secara implisit mengimplikasikan bahwa:
[1] serangan al-Quran terhadap Trinitas dan penuhanan Yesus sama sekali tidaklah ditujukan pada Alkitab tetapi pada interpretasi-interpretasi yang meragukan terhadap Alkitab, dan praktik-praktik keyakinan yang berkembang jauh setelah masa penulisan Alkitab. Dengan ini, pandangan bahwa telah terjadi konflik antar-kitab suci tidaklah dapat dibenarkan;

[2] adanya perbedaan karakter kenabian di antara tiga nabi Abrahamik (Musa, Yesus, dan Muhammad). Musa lebih bernuansa eksoterik sementara Yesus esoterik, dan Muhammad adalah sintesis dari dua pendahulunya itu. Karakter esoterik Yesus tampak pada ajaran-ajarannya yang lebih menekankan aspek moral ketimbang hukum dan pada sabda-sabdanya yang bernuansa gnostik. Inilah tampaknya yang, bagi McElwain, menyebabkan umat Kristiani seringkali salah memahami sabda-sabdanya, apalagi ditambah dengan tidak dicantumkannya bahasa asal dalam Alkitab terjemahan.

Memang persoalan-persoalan teologis nyaris menghabiskan sepertiga halaman buku ini. Namun selain itu, yang, menurut penulis resensi ini, paling menarik adalah analisis McElwain terhadap riwayat genealogis para patriarki yang demikian detail disebutkan dalam Alkitab serta interpretasinya terhadap frase eets hakhayyim (Ibrani), the tree of life (Inggris), dan pohon kehidupan (Indonesia) yang dalam Alkitab disebutkan pertama kali pada Kejadian 2:9.
Melalui analisis historis genealogis para patriarki dalam Alkitab, McElwain mendapati bahwa akan selalu ada manusia-manusia yang dipilih Tuhan untuk membimbing umat manusia pada setiap zamannya. Manusia-manusia ini tidak selalu hadir di tengah masyarakat manusia dalam formalitas kenabian. Namun yang pasti, mereka merepresentasikan otoritas Tuhan dalam memberikan penilaian segera (on spot evaluation) atas hukum mengenai problem-problem partikular dan temporal di tengah masyarakat dan pada zaman mereka masing-masing. Dengan kehadiran mereka, umat manusia akan terhindar dari formalisme dan relativisme hukum. Di sini, pandangan McElwain selaras dengan asumsi-asumsi gnostik, di antaranya yang diungkapkan sufi besar Islam, Ibn Arabi, bahwa selama masih ada, maka dunia ini tidak akan pernah vakum dari kehadiran seorang manusia sempurna (the perfect man).

Ketika menginterpretasi frase eets hakhayyim (pohon kehidupan), McElwain menggunakan sejenis hermeneutika kuno yang pernah diterapkan pada Taurat dan kemudian diadaptasi sebuah aliran sufi Persia, Hurufiyyah, menjadi metodologi Hurufi. Huruf-huruf dalam frase tersebut secara kabalistik dipisahkan menjadi ‘ayin, tsade, he, khet, yod, dan mem. Semuanya berjumlah tujuh: salah satu angka istimewa dalam tradisi-tradisi agama Abrahamik. ‘Ayin adalah huruf awal bagi nama Ali, tsade bagi nama Shadiq, he bagi nama Hasan, khet bagi nama Husain, dan mem bagi nama Muhammad dan Musa. Sisanya, yod, merupakan huruf awal bagi nama Tuhan dalam bahasa Ibrani (YHWH). Tidak diragukan lagi, McElwain tengah memecahkan kode-kode biblikal yang mendukung klaim dua belas imam Muslim Syi’ah. Meskipun terdapat dua belas imam, hanya terdapat enam, yang tiga di antaranya digunakan bagi lebih daripada satu imam (hal. 129).

Namun, bagi McElwain, eets hakhayyim tampaknya hanyalah sebuah awal. Dalam buku ini, ia menunjukkan bahwa bilangan dua belas—selain tujuh—menjadi begitu sentral dalam keseluruhan Alkitab. Raja-raja, hakim-hakim, nabi-nabi kecil, dan bahkan murid-murid Kristus pun semuanya seolah dibuat sedemikian rupa agar sesuai dengan jumlah dua belas.

Demikianlah, dalam banyak problem lainnya yang dipandang sebagi konflik antar-kitab suci—seperti persoalan Ishak ataukah Ismail yang hendak dikorbankan; pengorbanan Yesus di tiang salib; pernikahan; dan kesucian—studi McElwain dalam buku ini tidak hanya menyajikan kesimpulan-kesimpulan yang khas bagi para pembacanya tetapi juga patut diacungi jempol dalam kaitan dengan konsistensinya pada prinsip studi biblikal yang dianutnya: tidak ada distorsi dalam Alkitab dan Alkitab sebagai teks suci tiga agama Abrahamik.

Prinsip ini penting—selain karena berbeda dengan yang sudah-sudah— untuk memulai sebuah dialog yang lebih objektif, jujur, dan tulus menuju kesepahaman antara Yudaisme, Kristen, dan Islam, dalam bingkai satu kitab, Alkitab, yang hingga batas-batas tertentu diakui otoritasnya oleh mayoritas penganut tiga agama tersebut. (Irman Abdurrahman/icc-jakarta.com)

Satu Kitab, Tiga Agama
Judul Buku : Bacalah Bibel: Merajut Benang Merah Tiga Iman
Penulis : Thomas McElwain
Penerjemah : Muhammad Musaddiq
Penerbit : Citra
Cetakan : I, Juni 2006
Halaman : vi + 333 halaman

Minggu, 12 November 2006

Aku Menggugat, Maka Aku Kian Beriman

Jawaban-Jawaban Meyakinkan untuk Menepis Kebimbangan Iman

Sistem pendidikan modern mengajarkan pentingnya kajian kritis dan objektif. Generasi kita diajari untuk bertanya dan menyanggah. Mereka juga diajari bahwa tak ada jabatan yang mustahil bagi perempuan. Sementara, masjid dan subkulturnya mengajari mereka agar tidak mempertanyakan tradisi keagamaan dan membatasi peran perempuan. Tak pelak, keimanan mereka terimpit dalam ruang penafsiran yang begitu sempit.

Tak punya hak untuk meragukan apa yang diyakini, mereka berontak. Mereka menggugat ketepercayaan hadis, peran akal, patriarki, dan budaya masjid. Mereka cenderung memilih larut dalam musik, film, teknologi, mode pakaian, hiburan, dan berita yang memberi mereka keleluasaan meragukan segala hal. Dan, mereka enggan mendekat ke masjid yang malah berjuang keras menjadi antitesis dari budaya tempat mereka hidup, belajar, dan bekerja.
Buku ini mengajak kita berbagi kegelisahan dengan para muslim yang tengah bergulat mempertahankan agama mereka. Bijaksana, masuk akal, dan masuk hati. Itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana Jeffrey Lang menanggapi gugatan-gugatan dan komentar. Ketulusannya menjawab memberikan banyak jalan keluar dari kebimbangan iman. Kehati-hatiannya menjaminkan kecermatan dan keluasan pertimbangan.

Sungguh sebuah buku yang menyejukkan iman dan membangkitkan semangat berislam secara lebih kukuh dan mendalam. Juga menawarkan bagaimana berislam tanpa meninggalkan modernitas, beriman tanpa mengenyahkan sikap kritis, dan berakhlak tanpa kehilangan jati diri dan budaya sendiri.

Aku Beriman, Maka Aku Bertanya

Kajian-Kajian Masuk Akal–Masuk Hati untuk Meraih Iman Sejati

Banyak orang berkeyakinan bahwa pertanyaan rasional hanya akan merongrong iman. Pertanyaan kritis pun kerap dijawab dengan kaku oleh para pemuka agama. Akibatnya, kegalauan iman terus bercokol di benak para penanya. Upaya mereka dalam menyelesaikan p ertentangan iman–akal selalu terantuk kecenderungan kaum muslim untuk membakukan pendapat-pendapat ulama terdahulu. Tak pelak, kelesuan beragama mendera para mualaf dan generasi muda muslim. Mereka inilah yang paling mengalami kesukaran merajut ikatan nyata dengan Islam di tengah budaya sekuler.

Dengan jeli dan sepenuh hati, Jeffrey Lang memindai kelesuan tadi dan berusaha menanggapinya. Ia mencoba menjawab keluhan para generasi muslim dan mualaf, juga gugatan para penghujat Islam. Menurutnya, untuk menggapai iman sejati, kita mesti membebaskan diri dari tradisi dan memeriksa keyakinan-keyakinan kita secara rasional. Banyak cara yang digunakan Alquran dalam mendorong kita untuk mendekati iman kepada Allah secara rasional! Lang pun menekankan pentingnya diskusi terbuka atas isu-isu yang banyak dirasa tak enak dalam komunitas muslim, dengan mengedepankan sikap apa adanya, objektif, dan tidak mengelak dari kontroversi.

Buku ini mengulas banyak pertanyaan yang dianggap tabu dilontarkan di masjid atau forum-forum keagamaan konservatif. Ia merangkul suara-suara muslim yang terasing dari masjid, demi mengembalikan kebugaran komunitas muslim dalam memikat dan membuat terlibat para keturunan dan anggota barunya. Ternyata, banyak penanya di buku ini yang mengakhiri pertanyaan mereka dengan kekhawatiran dianggap ateis atau subversif kepada Tuhan. Ini artinya, mereka bertanya karena masih beriman, butuh alasan meyakinkan, dan mengaktifkan akal dalam mendekati keyakinan mereka pada Tuhan.

Abrahamic Faiths, Titik Temu dan Titik Selisih antara Islam, Kristen, dan Yahudi

Islam, Kristen, dan Yahudi memiliki lebih banyak unsur pemersatu daripada titik seteru. Ada banyak sekali kesamaan terkait dengan isi kitab suci maupun kisah tentang para nabi. Ketiga agama besar ini pun sama-sama menandaskan bahwa ketaatan sejati terhadap wahyu Ilahi harus dilambari hubungan yang benar dengan Tuhan dan sesama manusia. Bahkan, ketiganya dapat dipandang sebagai satu agama, sebagaimana diungkapkan secara berulang-ulang dan gamblang dalam Alquran: agama yang ditetapkan Tuhan untuk Nabi Muhammad dan pengikutnya adalah juga agama yang ditetapkan untuk Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa.

Kesatuan agama-agama Ibrahimi ini diibaratkan oleh Jerald F. Dirks laiknya sebuah pohon. Tiap-tiap agama mendaku sebagai batang utama pohon wahyu yang benar dan vertikal. Dua agama lainnya pun dianggap sebagai cabang yang menyimpang dari batang utama. Dari kiasan inilah Dirks beranjak membahas topik demi topik, termasuk petualangannya dari agama Kristen ke Islam.

Semua tersaji begitu mudah dan indah. Ringkasan-ringkasan cermat dan akurat akan membantu Anda memahami inti ajaran, sekaligus landasan kesamaan dan akar perbedaan, dari ketiga agama ini. Dirks juga menjawab sejumlah pertanyaan dasar seputar apa yang mesti dilakukan setelah mengetahui kesamaan dan perbedaan yang ada. Menurutnya, meyakini agama sendiri sebagai agama terbaik bukanlah fanatisme (intoleransi), melainkan ekspresi keimanan. Fanatisme baru terjadi manakala kita tak mampu menghargai tradisi agama dan keyakinan pihak lain. Maka, setiap pemeluk agama harus memperhalus retorika kala membahas agama lain. Dan, mereka harus berfokus pada visi yang lebih tinggi dari ketiga agama ini: komitmen menyembah Tuhan Yang Maha Esa, pemberantasan penyakit-penyakit sosial, dan upaya memperbaiki kesejahteraan hidup sesama.

Kesaksian Yvonne Ridley di Bekas Gereja Yang Menjadi Mesjid

Journey to Islam Oleh : Redaksi 12 Nov 2006 - 8:00 am
imageLondon (ANTARA News) - Di bekas komplek bangunan Gereja Christian Priory yang kini menjadi Mesjid Sultan Selim, Yvonne Ridley (48), mantan wartawan Sunday Express yang pernah menjadi tawanan Taliban, menceritakan kisah perjalanan rohaninya dan akhirnya memutuskan memeluk Islam.

Pengalaman Yvonne Ridley disampaikan kepada peserta pertemuan silaturahmi musim gugur Keluarga Islam Indonesia Britania Raya (KIBAR) Gathering yang digelar di Mesjid Sultan Selim, dekat markas kesebelasan Spurs atau yang dikenal dengan Totenham Hotspur, selama dua hari Sabtu dan Minggu (4/5) November.

KIBAR Gathering yang menjadi ajang silaturahmi dan sekaligus acara halal bihalal keluarga Islam Indonesia yang berada di Britania Raya dan Skotlandia itu diikuti sekitar 200 peserta dan dihadiri Dubes RI untuk Kerajaan Inggris dan Republik Irlandia, Dr Marty M Natalegawa. :sound :video

Di bangunan bekas komplek gereja yang masih terdapat mimbar dan jendela tinggi khas dan besar yang berubah fungsi menjadi tempat ibadah umat Islam, Yvonne Ridley, yang mengenakan habaya warna hitam dan jelana panjang serta dipadu blus warna merah hati dilengkapi dengan jilbab modern yang diikat, berbagi pengalaman menjadi seorang Muslimah.

Bersama dua wanita muallaf lainnya, Bernadette dan Elizabeth, Yvonne Ridley yang wajahnya selalu terpancar keramahtamahan seorang Muslimah memutuskan untuk memeluk Islam setelah ia mendalami kitab suci Al-Quran.

Sebagai jurnalis dan aktivis perempuan yang tergabung dalam kelompok feminis, Yvone berharap akan menemukan perintah-perintah Tuhan yang memperlakukan wanita sebagai warga kelas dua, yang boleh saja disakiti, sehingga niqap atau jilbab dapat menutupi luka memar bekas kekerasan dalam rumah tangga.

imageJustru Yvonne merasa terkejut bahwa tidak ada satu pun ayat yang menyatakan tentang hal tersebut. Malah sebaliknya ia menemukan ajaran luhur bahwa sesungguhnya wanita diletakkan dalam derajat tertinggi di rumah tangga, ujar Yvonne yang senyuman selalu tersungging di bibirnya.

"Ternyata Islam memanjakan wanita untuk tak perlu dipaksa bekerja agar dapat memdidik anak-anaknya, agar terhindar dari minum-minuman keras, pornografi dan hal-hal lain yang dapat menghambat pertumbuhan remaja seperti yang tengah dikhawatirkan pemerintah Inggris," ujarnya.

Bahkan ditegaskan di dalam Islam, wanita merupakan tiang negara dan sesungguhnya syurga berada di bawah telapak kaki ibu, ujar Yvonne yang kini aktif berdakwah.

Dalam diskusi yang dipandu Andrew Williams, muallaf yang berganti nama Waraqah, dua warga Inggris lainnya yang baru kembali kepada fitrah memeluk Agama Islam berbagi cerita mengenai pengalaman rohaninya sampai memutuskan pilihan terbesar dalam perjalanan hidup mereka dengan mengucapkan dua kalimah syahadah.

Seiring dengan perjalanan waktu, Yvonne berhasil meyakinkan orang-orang terdekatnya bahwa Islam bukanlah seperti yang digambarkan oleh media.

Pengalaman ibadah haji


imagePengalaman cukup berkesan dari politisi Partai Respect ini, terjadi ketika dia berkesempatan menunaikan ibadah haji ke Mekkah beberapa waktu yang lalu. Suatu ketika ia terlambat datang ke Masjidil Haram.

Mantan wartawan Al Jazeera ini akhirnya berlari menuruni bukit dari tempat ia menginap. Beberapa ratus meter dari halaman masjid ia bersama puluhan ribu jamaah lainnya dihambat Askar untuk tak melanjutkan perjalanan ke Masjidil Haram, dan kekacauan pun terjadi.

Keluh-kesah dalam beragam bahasa, memerotes keputusan Askar yang tak memperkenankan mereka menuju halaman utama Masjid, yang memang telah dipenuhi jutaan ummat manusia yang ingin menunaikan shalat wajib.

Namun betapa takjubnya ia, ketika suara takbir tanda dimulainya shalat Ashar, serentak kekisruhan itu pun lambat laun berubah menjadi keheningan. Masing-masing langsung membentangkan sajadahnya, membentuk barisan baru. Semua larut mendengarkan sang Imam mengumandangkan ayat-ayat Al-Quran, dalam satu bahasa.

Yvonne pun mengambil pelajaran berharga sesungguhnya Allah telah mengajarkan shalat berjamaah sebagai suatu simbol agar umat tak mudah terpecah-belah bila ia mengikuti pemimpinnya yang shaleh dan alim.

Islamphobia

imageWanita yang murah senyum itu berjuang membebaskan belenggu Islamophobia yang melanda dunia Barat melalu tulisan-tulisannya yang cukup berani. Ia berhasil memaksa petisi agar Blair segera lengser tahun depan, dan menuntut hengkangnya pasukan Inggris dari tanah-tanah Muslim di Irak dan Afganistan.

Yvonne juga mengajak warga Indonesia bergabung bersama warga Inggris lainnya, Muslim maupun non-Muslim secara aktif menuntut dihentikannya peperangan di berbagai belahan dunia.

Sementara itu Elizabeth (68) mengucapkan syahadah di usianya yang ke-62 tahun, setelah pencariannya yang panjang sampai ia pun pasrah kepada Tuhan untuk dicarikan pegangan hidup yang sesungguhnya.

Kedekatannya dengan keluarga Muslim mengantarkannya sebagai umat Islam dan selalu menyarankan agar sebagai seorang Muslim 'kita' harus terbuka terhadap warga non-Muslim.

Sementara itu, Bernadette asal Irlandia masuk Islam sejak bertemu dengan suaminya orang Indonesia di atas kapal pesiar di New Zealand. Setelah mengucapkan dua kalimah syahadah tantangan dari dalam keluarga dan teman-temannya cukup membuatnya khawatir.

Sebaiknya 'kita' harus menjelaskan tentang tata cara hidup 'kita' sebagai Muslim, dengan demikian mereka akan mengerti mengapa kita menjalankan ritual, kenapa tidak makan makanan yang diharamkan, katanya.

Pada kesempatan yang sama Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) London, Muslimin Anwar, menilai Yvonne Ridley sebagai motor penggerak perlawanan terhadap propaganda media Barat yang cenderung bias terhadap Islam dan para penganutnya.

Menurut Muslimin Anwar yang tengah menyelesaikan Phd di Brunel University, kemampuan jurnalistik Yvonne selama menjadi wartawan Sunday Express, BBC, CNN dan Al Jazeera sangat mencerahkan umat Islam di Eropa, untuk selalu secara kritis menanggapi setiap berita yang diusung oleh media Barat.

Dikatakannya umat Islam maupun mereka yang anti perang serta yang ingin mencari pembandingan segala kebijakan kelompok 'neo-conservative' dengan kehadiran Yvonne Ridley dapat dijadikan referensi yang tingkat kesahihannya cukup tinggi.

Sementara itu, Hamiyah Panama, wanita kelahiran Engrekang, Sulsel, yang bersuamikan muallaf Dominique Bodart asal Belgia mengatakan Yvonne Ridley mendapatkan hidayah justru dalam situasi sulit dan setelah memeluk Islam pun dia mendapat banyak tantangan dari keluarga dan kawan-kawannya.

Menurut wanita yang aktif dalam pengajian para muallaf, pelajaran bagi kita-kita yang Islam sejak lahir yang menganggap agama Islam hal biasa, sedangkan orang-orang semacam Yvonne, Bernadette dan Elizabeth banyak tantangan yang mereka hadapi sebelum cahaya Islam datang dan menerangi hati mereka.

"Harusnya kita patut cemburu karena mereka langsung melaksanakan kewajiban-kewajiban agama Islam secara serius, dan pengalaman mereka harus kita jadikan pelajaran bahwa memang Allah itu Maha Kuasa," demikian Miya.

Acara Kibar Gathering yang digelar setiap musim menjadi ajang silatutahmi umat Islam Indonesia yang berdomili di Kerajaan Inggris itu digelar acara diskusi dan telekonference dengan ustad Syamsi Ali, warga Indonesia yang menjadi Imam Mesjid di New York, mengetengahkan topik "Kembali kepada fitrah" dengan moderator Muslimin Anwar, Ketua ICMI-London. (Oleh Zeynita Gibbons)

Copyright © 2006 LKBN ANTARA