Sabtu, 17 Oktober 2009

Pasal 14 – Kemartiran Akhir Zaman dan Praktek Pemenggalan Dalam Islam

Jika pasal sebelumnya membahas tentang konsentrasi kebencian dan roh membunuh yang dimiliki Islam terhadap orang Yahudi, pasal ini akan mengupas kemartiran dan penganiayaan secara umum yang akan dialami oleh siapa pun yang menjadi pengikut Yesus atau yang menolak menjadi Muslim menjelang akhir jaman.

PEMENGGALAN KEPALA PADA AKHIR JAMAN
Dalam kitab Wahyu pasal 20, Rasul Yohanes melihat sekelompok orang tertentu. Yohanes memberikan pada kita sinopsis yang singkat mengenai apa yang dilihatnya. Secara spesifik ia menggambarkan para martir akhir jaman yang akan datang:
Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Tuhan; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun.
Wahyu 20:4

Saya telah merenungkan ayat ini berkali-kali. Alkitab berkata bahwa pada akhir jaman, pemenggalan akan menjadi metode khusus yang digunakan terhadap para martir. Mereka akan dibunuh terutama karena “kesaksian mereka tentang Yesus dan karena firman Tuhan”. Ini adalah suatu gambaran yang aneh untuk dibayangkan. Apakah Alkitab sedang mengatakan bahwa di seluruh dunia akan ada kebangkitan guillotine di setiap alun-alun kota? Sebenarnya menurut Alkitab, apa yang mengakibatkan sehingga muncul standar yang dipakai dunia untuk menggunakan pemenggalan kepala sebagai sarana menganiaya orang Kristen? Ketika saya berusaha membayangkan natur dari akhir jaman dan seperti apa akhir jaman itu nantinya, seringkali saya bertanya-tanya soal ayat ini. Ada juga ayat-ayat lain yang mirip dengan ayat tersebut diatas. Ayat-ayat itu juga berbicara mengenai penganiayaan yang akan datang dan sebuah kecenderungan global yaitu menghukum mati orang-orang Kristen oleh karena imannya kepada Yesus:
Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku.
Matius 24:9

Disini Yesus memperingatkan murid-muridNya bahwa mereka akan dibenci dan pasti akan dibunuh sebagai akibat mereka diidentifikasikan dengan-Nya. Namun kemudian ada sebuah ekspansi profetis atas nubuat ini. Yesus mengatakan bahwa, “kamu akan dibenci oleh semua bangsa oleh karena Aku”. Secara spesifik Yesus menubuatkan sebuah elemen global berkenaan dengan penganiayaan yang akan datang terhadap orang Kristen. Ayat berikut ini memberikan pemahaman lebih lanjut pada kita:
“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Tuhan. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya, kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.”
Yohanes 16:1

Dalam ayat yang diambil dari Injil Yohanes ini, Yesus secara khusus berbicara pada para murid di luar konteks akhir jaman yang sangat ketat. Pertama-tama Ia memperingatkan para murid bahwa pada hari-hari yang akan datang, mereka akan menyaksikan bagaimana para pengikut Yesus akan diusir dari sinagoga. Nubuat ini tergenapi setelah terjadinya peristiwa yang kemudian dikenal dengan pemberontakan Bar Kochba pada 132-135 M. Dalam pemberontakan Bar Kochba itulah terjadinya pemisahan final antara gereja dan sinagoga. Bar Kochba adalah Mesias Yahudi yang palsu. Ia didukung dan disemangati oleh pihak otoritas para rabi yang paling tinggi kedudukannya pada waktu itu, yang dikenal sebagai Rabbi Akiva. Akibat adanya dukungan Akiva, Bar Kochba kemudian dipandang sebagai Mesias di mata orang Yahudi. Ketika Bar Kochba memimpin orang Yahudi memberontak terhadap Roma, orang Yahudi yang tidak berpartisipasi dalam pemberontakan itu dipandang sebagai pengkhianat bangsa Yahudi. Orang-orang Yahudi yang adalah pengikut Yesus, sebelum terjadinya pemberontakan itu secara reguler berpartisipasi dalam ibadah-ibadah di sinagoga, tidak dapat mendukung sebuah pemberontakan yang dipimpin oleh seorang yang mereka yakini adalah Mesias yang palsu. Sebagai akibatnya, orang-orang Yahudi yang adalah pengikut Yesus dikeluarkan dari sinagoga secara massal dan nubuat Yesus digenapi pada abad kedua.

Tetapi pada bagian kedua dari ayat ini, Yesus berbicara mengenai akhir jaman. “Pada kenyataannya”, Yesus melanjutkan kata-kata-Nya, ”akan tiba harinya ketika para penganiayamu akan melakukan yang lebih daripada sekadar mengusir kamu dari sinagoga; mereka benar-benar akan membunuhmu.” Namun aspek yang paling membingungkan dan membuat penasaran dari ayat ini adalah bagian selanjutnya dari pernyataan Yesus. Ia mengatakan bahwa mereka yang akan membunuh kamu akan berpikir bahwa mereka melakukannya sebagai ibadah kepada Tuhan. Bagian inilah kuncinya. Bagaimana mungkin ada orang di jaman ini yang secara literal berpikir bahwa Tuhan menuntut pembunuhan atas manusia lain hanya karena mereka mempunyai kepercayaan yang berbeda? Itu adalah sebuah konsep yang sangat asing bagi sebagian besar cara berpikir dunia Barat modern. Namun, itu bukanlah sebuah konsep yang asing dalam sejarah. Baik Islam maupun Kristen – Katolik maupun Protestan- , keduanya bersalah dalam hal ini, karena telah membunuh orang-orang yang dianggap sebagai bidat dari satu-satunya agama yang benar. Jihad, Perang Salib, Inkuisisi – semua itu cocok dengan kriteria pembunuhan bagi dan dalam nama Tuhan. Satu hal yang pasti, ada sebuah unsur penting dalam sebuah penumpahan darah seperti itu, yaitu adanya keyakinan yang kuat bahwa Tuhan ada pada satu pihak dan Ia memerintahkan eksekusi semacam itu. Sangat sulit mumbayangkan ada sistem kepercayaan atau filsafat di bumi ini yang sanggup melaksanakan hal seperti itu selain daripada sebuah agama dunia yang kokoh berdiri. Sementara rejim totaliter tentu saja sanggup melakukan hal seperti itu, ayat ini secara spesifik mengatakan bahwa pihak-pihak yang melakukan eksekusi macam ini meyakini bahwa dengan melakukannya mereka sedang beribadah kepada Tuhan. Sistem yang melaksanakan eksekusi seperti itu adalah sebuah sistem keagamaan yang memandang dirinya sebagai penatalayan dari sebentuk pemerintahan global yang ilahi. Ia memandang dirinya sebagai satu-satunya organisasi atau komunitas milik Tuhan di bumi ini. Hanyalah skenario seperti itu yang dapat bertanggung-jawab terhadap tindakan-tindakan yang kita baca dalam ayat itu.

Maka sebagai kesimpulannya, ketika kita memperbandingkan ketiga ayat itu, kita mempunyai sebuah gambaran yang spesifik mengenai seperti apa penganiayaan dan kemartiran di akhir jaman nantinya. Pertama-tama, sifatnya global. Kedua, diperlukan adanya suatu sistem kepercayaan yang memandang dirinya sendiri sebagai pihak yang memiliki peran dalam pemerintahan di bumi dengan penunjukan ilahi. Ketiga, akan melakukan metode khusus yaitu pemenggalan kepala sebagai metode utama dalam mengeksekusi. Jadi kita memiliki sebuah agama global yang mengganggap dirinya sebagai sebuah sistem di bumi dengan penunjukan ilahi, yang disahkan oleh Tuhan, untuk memenggal semua orang yang menolak untuk bergabung. Seperti yang akan kita lihat, berdasarkan terminologi sistem keagamaan yang eksis di dunia saat ini, hanyalah agama Islam yang memenuhi semua kriteria tersebut diatas.

BERITA-BERITA MENGENAI PEMENGGALAN
Saat buku ini ditulis, pada akhir tahun 2004, di Irak, Arab Saudi dan beberapa negara lainnya, ada berita-berita mengenai orang-orang asing dan orang Kristen yang setiap minggu dipenggal kepalanya oleh Islam radikal. Hal ini menimbulkan perdebatan yang panas berkenaan dengan apakah praktek semacam itu benar-benar “islami” ataukah hanya praktek biadab beberapa orang radikal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang murni. Pernyataan-pernyataan publik yang umumnya dikemukakan oleh media Barat adalah pernyataan-pernyataan biasa yang mengutuk insiden semacam itu dan bahwa hal itu tidak ada hubungannya dengan “Islam sejati”. Dalam banyak kasus, media Barat melahap habis penyangkalan-penyangkalan ini dan menerbitkannya tanpa banyak bertanya. Tetapi jika kita mengacu tidak hanya tradisi dan sejarah Islam, tetapi juga “kabar burung yang kita dengar di jalan” berkenaan dengan perasaan orang-orang Muslim yang selalu menyuarakan pendapat mereka setiap hari melalui internet dan kelompok-kelompok chatting, maka kita akan mendapatkan realitas yang sangat berbeda. Pesan Islam tersebar luas di internet mendebat sah tidaknya tindakan-tindakan semacam itu ketika peristiwa itu telah menjadi berita utama di media. Sebuah artikel dari Berita CBS yang berjudul, Budaya pemenggalan Kepala di Arab Saudi, tanggal 27 Juni 2004, juga mengutip beberapa “pembicaraan” di internet:
“Dan dalam forum-forum internet islami, yang umumnya digunakan oleh kelompok-kelompok radikal, pemenggalan telah menjadi topik yang populer beberapa minggu belakangan ini, dengan banyaknya partisipan yang menggambarkannya sebagai cara yang “termudah” untuk membunuh seorang Amerika atau seorang Saudi dari keluarga yang berpengaruh”. 1

Satu-satunya kesalahan yang dilakukan CBS adalah mengasumsikan bahwa pada umumnya para partisipan yang menggunakan forum-forum semacam itu adalah benar-benar “radikal”. Saya telah berpartisipasi dalam sejumlah “komunitas” islami semacam itu dan telah bersahabat dengan banyak orang Muslim melalui kelompok-kelompok semacam itu. Kebanyakan forum-forum itu sekarang ada di Amerika dan Kanada dan banyak yang merupakan mantan Kristen. Sementara penulis artikel CBS itu berasumsi bahwa individu-individu yang terlibat dalam percakapan itu semuanya adalah orang-orang radikal oleh karena natur biadab dari diskusi-diskusi semacam itu. Menurut saya banyak diantara mereka yang semata-mata hanya bersungguh-sungguh dalam imannya sebagai seorang Muslim, sama halnya dengan saya yang bersungguh-sungguh dengan iman Kristen saya. Sementara beberapa anggota kelompok-kelompok diskusi itu nampaknya jijik dan malu dengan adanya praktek pemenggalan yang muncul baru-baru ini, kebanyakan orang nampaknya jauh lebih memfokuskan diri pada masalah-masalah doktrinal seperti apakah pemenggalan-pemenggalan itu telah dilakukan dengan tepat atau tidak, apakah korban-korbannya dianggap sebagai musuh atau orang yang tidak bersalah, dan sebagainya. Sam Hamod, yang adalah mantan direktur Pusat Islam di Washington D.C, saat diberi kesempatan untuk mengomentari masalah ini, dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Washington Times tidak mengutuk pemenggalan-pemenggalan itu, tetapi menegaskan bahwa orang-orang yang melakukan pemenggalan-pemenggalan di Irak dan dimanapun juga tidak melakukannya dengan benar:
“Anda tidak dapat melakukan seperti yang dibuat orang-orang idiot itu di TV. Yang seharusnya dilakukan adalah menggorok leher orang itu, bukan memutuskan kepalanya dari batang lehernya”. 2

PEMENGGALAN KEPALA DALAM ISLAM: TELADAN MUHAMMAD
Pemenggalan kepala dalam Islam sama sekali bukanlah fenomena yang baru. Oleh karena kejijikan yang amat sangat dari banyak orang di seluruh dunia Barat berkenaan dengan praktek yang dilakukan oleh Muslim radikal di Irak dan dimanapun, banyak orang Muslim moderat dan para apologis Muslim telah berulangkali mengklaim bahwa pemenggalan kepala bukanlah praktek yang resmi dalam Islam. Mereka mengklaim hal itu sebagai penyimpangan dari ajaran-ajaran dasar Islam. Klaim ini dibuat untuk menciptakan citra Islam yang lebih baik di mata dunia Barat. Sayangnya, klaim-klaim ini dibuat dengan mengabaikan sejarah Islam atau juga dibuat dengan niat yang kuat untuk menipu. Sesungguhnya, seperti yang akan kita lihat, pemenggalan adalah warisan utama Islam. Pemenggalan tidak hanya diperintahkan sebagai sebuah metode spesifik untuk membunuh musuh seseorang di dalam Qur’an, tetapi seperti yang akan kita lihat, pemenggalan juga adalah metode pembunuhan yang sangat disukai Muhammad dan banyak pengikutnya.

Ketika Muhammad memulai karirnya yang penuh kekerasan dan agresi, gerombolan pejuang Muslimnya masih sangat kecil. Karavan-karavan yang melakukan perjalanan pergi pulang dari Mekkah dan Damaskus menjadi sasaran empuk Muhammad. Oleh karena penduduk Mekkah menggantungkan hidup mereka pada karavan-karavan itu, mereka merasa sangat terganggu setelah mengalami beberapa serangan dari Muhammad dan gerombolan perampoknya. Akhirnya, para pria dari suku Quraish datang dari Mekkah untuk menyerang Muhammad dan orang-orangnya. Pertempuran ini, yang kemudian terkenal sebagai Perang Badr, menghasilkan kemenangan atas Quraish yang tidak disangka-sangka oleh Muhammad dan pasukannya yang belum berpengalaman. Abba Hakam adalah salah seorang korban perang.
“Aba Hakam terluka sangat parah tetapi masih hidup ketika Abdullah, pelayan Muhammad, berlari padanya dan menaruh kakinya di leher Aba Hakam, memegang janggutnya dan mulai menghina pria yang sudah terluka parah itu; pria yang digelari rakyatnya sebagai “Bapa yang Berhikmat”. Abdullah memenggal kepala Abba Hakam dan membawanya kepada tuannya. “Kepala musuh Allah!” teriak Muhammad dengan sukacita ; – “Allah! Tidak ada Tuhan selain Dia!” – “Ya, tidak ada yang lain!” sahut Abdullah, sambil melemparkan kepala itu ke kaki nabi. “Ini sangat menyenangkan saya;” teriak Muhammad hampir-hampir tidak dapat menahan kegembiraannya, ”lebih daripada unta yang terbaik di seluruh Arabia”. 3
penekanan oleh penulis.

Sedihnya, nafsu terhadap darah yang dimiliki Muhammad dan para pengikutnya semakin bertambah sejak peristiwa ini. Pada 627 M, Muhammad sendiri mengatur apa yang sejujurnya merupakan sebuah pembantaian massal. Muhammad dan pasukannya mengepung perkampungan Yahudi di Quraizah. Setelah 25 hari, perkampungan itu menyerah, berharap Muhammad akan bermurah hati pada mereka. Namun Muhammad memerintahkan tentara-tentaranya untuk menggali beberapa parit dan memasukkan dengan paksa sekitar 600-900 orang kedalamnya. Di tangan tentara-tentara Muhammad, mereka semua dipenggal. Parit-parit itu menjadi kuburan massal. Berdasarkan Sirat Rasul karya Ibn Ishaq, yang merupakan biografi Muhammad, yang mula-mula dan sangat diakui, kita dapat membaca peristiwa yang mengerikan itu:
“Lalu mereka (Qurayza) menyerah dan nabi menawan mereka di Medina…Kemudian nabi pergi ke pasar Medina (yang masih ada sampai hari ini) dan menggali parit-parit disana. Lalu ia memanggil mereka dan memenggal kepala mereka di dalam parit-parit itu saat mereka dibawa kepadanya secara berkelompok. …Mereka semua berjumlah 600-700, walau ada yang memperkirakan sekitar 800 atau 900 orang…Ini berlanjut sampai nabi menghabisi mereka semua”. 4

Nampaknya, setelah pembantaian besar-besaran ini, sesuatu muncul dalam diri Muhammad. Enam ratus hingga sembilan ratusan pria Quraizah yang telah dipenggal seakan belum cukup. Tak lama setelah insiden ini, Muhammad memenggal lebih dari 400 orang Yahudi. Muhammad bersekutu dengan 2 kelompok suku, orang Khazraj dan orang Aus. Orang Khazraj bertugas memenggal 400 orang Yahudi tetapi orang Aus berdiri mendampingi. Ketika Muhammad melihat bahwa ada kegembiraan di wajah orang Khazraj ketika memenggal semua orang Yahudi sedangkan orang Aus hanya berdiri di sisi, ia memerintahkan agar ke-12 orang yang tersisa dipenggal oleh orang Aus:
“Abu ‘Ubayda berkata pada saya atas perintah Abu ‘Amir orang Medina, ketika nabi (Muhammad) mendapatkan yang lebih baik dari anak-anak laki-laki Qurayza ia menangkap sekitar empat ratus orang Yahudi yang adalah sekutu Aus terhadap Khazraj, dan memerintahkan supaya mereka dipenggal. Oleh karena itu Khazraj mulai memenggal kepala mereka dengan sangat puas. Rasul melihat bahwa wajah orang Khazraj menunjukkan kegembiraan mereka, tapi tidak ada indikasi seperti itu pada orang Aus, dan…ketika ia melihat hanya tersisa dua belas orang saja ia menyerahkan mereka kepada orang Aus, menyerahkan satu Yahudi untuk dibunuh oleh dua orang Aus, dan berkata, ‘Begini-beginilah memukulinya dan begini-beginilah menghabisinya”. 5

Kemudian, ada lagi peristiwa pemenggalan yang terjadi atas perintah Muhammad ketika ia kembali memasuki kota Mekkah dengan 10.000 tentaranya, ia memanggil para pejuang dalam pasukannya dari Medina dan bertanya pada mereka, “Apakah kamu melihat tentara-tentara dari Quraysh (dari Mekkah)? Pergilah dan bantai mereka”. Mark A. Gabriel menjelaskan arti kata yang digunakan Muhammad untuk membantai dalam bahasa Arab:
“Kata dalam bahasa arab yang digunakan untuk membantai menggambarkan seorang petani yang menuai panennya dengan sebuah sabit besar. Dengan kata lain, Muhammad mengatakan pada mereka untuk “Memenggal kepala mereka dari tubuh mereka seperti kamu memotong buah dari dahan-dahan pohon”. 6

Jadi inilah awal segalanya: dengan Muhammad. Tapi tentu saja ini bukan sebuah akhir. Ingatlah bahwa apapun yang dikatakan atau dilakukan Muhammad, itu dianggap sama otoritas dan inspirasinya dengan Qur’an itu sendiri. Tindakan-tindakan Muhammadlah yang mendiktekan contoh hidup yang telah ditetapkan Allah sebagai kehendak-Nya bagi semua Muslim:
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku”. Sura 3:31

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasullullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat..” Sura 33:21.

Dengan membantai orang-orang dari perkampungan Yahudi dengan cara seperti ini, Muhammad memberikan teladan mengenai apa yang telah ditetapkan Allah dan bahkan memerintahkan semua Muslim yang setia untuk mengikutinya.

PEMENGGALAN KEPALA DIANTARA PARA PENGIKUT MUHAMMAD
Abu Bakr, sahabat karib dan penerus Muhammad, diangkat menjadi Kalifah Islam pertama yang “dituntun dengan benar” setelah kematian Muhammad. Jenderal dari Abu Bakr adalah Khalid bin al-Walid al-Makhzumi yang juga bertempur di bawah kepemimpinan Muhammad. Di bawah pimpinan Muhammad, Khalid bertempur dengan sangat efektif sehingga ia mendapatkan gelar, Pedang Allah.

Atas perintah Abu Bakr, pada 633-634 M, Khalid menyebarkan undangan kepada orang-orang Arabia untuk memeluk Islam. “Undangan” ini sebenarnya tidak lebih dari ancaman perang dan kematian bagi mereka yang menolak untuk bertobat dan tunduk kepada pemerintahan Islam. Undangan itu sebenarnya berbunyi demikian:
“Dalam nama Allah, Yang Pengasih dan Pemurah. Dari Khalid bin al-Walid kepada gubernur-gubernur Persia. Peluklah Islam maka kamu akan selamat. Jika tidak, buatlah perjanjian dengan saya dan bayarlah pajak Jizyah. Atau, saya telah membawa kepadamu orang-orang yang mencintai kematian sama seperti kamu suka minum anggur”. 7

Setelah “undangan” untuk memeluk Islam ini disampaikan, banyak orang yang menolak untuk memeluk agama Islam. Diantara mereka adalah kelompok orang-orang Persia dan orang-orang Kristen dari Ullays di sungai Efrat. Khalid menyerang mereka pada tahun 633 M. Pertempuran itu begitu sengit sehingga Khalid bersumpah kepada Allah dalam peperangan itu bahwa jika ia dapat mengalahkan mereka, ia akan membuat kanal yang dialiri darah di sekeliling kampung mereka. Ia memerintahkan agar semua yang sudah dikalahkan ditawan hidup-hidup. Tawanan itu sangatlah banyak sehingga diperlukan satu setengah hari untuk memenggal kepala mereka. Namun, darah mereka sangat kental dan pasukan Khalid akhirnya harus memberi air ke dalam kanal supaya menjadi merah, jika tidak maka sumpah Khalid tidak akan tergenapi. Abu Jafar Muhammad ibn Jarir At-Tabari, sejarahwan dan teolog Islam mula-mula, mencatat peristiwa ini demikian:
“Khalid berkata,”O Allah, jika Engkau melepaskan bahu mereka kepada kami, saya akan mewajibkan diri kepada-Mu untuk tidak meninggalkan seorangpun diantara mereka yang dapat kami kalahkan sampai saya membuat kanal mereka dialiri darah mereka”. Lalu Allah mengalahkan mereka bagi orang Muslim, dan menyerahkan bahu mereka pada orang Muslim. Kemudian Khalid memerintahkan utusannya untuk mengatakan pada pasukannya, “Tangkap! Tangkap! Jangan bunuh siapapun kecuali ia tetap melawan”. Kemudian pasukan itu menggiring para tawanan secara berbondong-bondong. Khalid telah menunjuk orang-orang tertentu untuk memenggal kepala mereka di dalam kanal. Ia berbuat demikian pada mereka selama satu setengah hari. Pasukannya mengejar mereka keesokan harinya dan juga hari berikutnya, sampai mereka tiba di Nahrayn dan sekitarnya dari segala arah, dari Ullays. Dan Khalid memenggal kepala mereka”. 8

Beberapa bawahan Khalid menyampaikan padanya:
“Sekalipun engkau harus membunuh semua penduduk dunia, darah mereka tetap tidak akan mengalir…Oleh karena itu berilah air diatasnya, maka engkau akan memenuhi sumpahmu”. Khalid telah menghalangi air dari kanal. Kini Khalid mengembalikannya, sehingga air itu mengalir bercampur darah. Untuk mengingat hari itu, hingga hari ini kanal itu dikenal dengan Kanal Darah”. 9

Amir Taheri, seorang jurnalis kelahiran Iran, dalam sebuah artikel di New York Post, tanggal 14 Mei 2004 yang berjudul “Pemotongan Kepala”, mendaftarkan beberapa insiden lain di sepanjang sejarah praktek pemenggalan kepala yang dilakukan Islam:
“Pada 680 M, cucu laki-laki kesayangan nabi, Hussein bin Ali, dipenggal kepalanya di Karbala, pusat Irak, oleh tentara-tentara Kalif Yazid. Kepala yang bersimbah darah itu diletakkan di atas nampan perak dan dikirimkan ke Damaskus, ibukota Yazid, sebelum dikirim ke Kairo untuk diinspeksi oleh Gubernur Mesir. Tentara-tentara Kalif juga memenggal kepala ke-71 orang laki-laki yang menyertai Hussein, termasuk seorang bayi laki-laki berusia satu tahun barnama Ali-Asghar”. 10

Maka pola yang telah ditetapkan dan prinsip yang telah dicontohkan Muhammad ini kembali dan menimpa keluarganya. Pada akhirnya kisah-kisah pemenggalan kepala memenuhi sejarah Islam. Andrew Botom, editor The Legacy of Jihad memaparkan bahwa pada akhir abad ke-15:
“Babur, pendiri kekaisaran Mughal, yang dihormati sebagai teladan yang sempurna tentang toleransi Muslim oleh para ahli sejarah revisionis, mencatat peristiwa berikut ini dalam otobiografinya “Baburnama”, mengenai para tawanan sebuah perang jihad: ‘Mereka yang ditawan hidup-hidup (karena menyerah) diperintahkan untuk dipenggal, dan setelah itu sebuah menara yang terbuat dari kepala-kepala mereka didirikan di kamp tersebut”. 11

Taheri kemudian beralih ke jaman yang sedikit lebih modern:
“Pada tahun 1842 orang Muslim Afghanistan mengalahkan pasukan Inggris di Kabul dan memenggal lebih dari 2000 laki-laki, wanita dan anak-anak. Kepala-kepala mereka dipancangkan di tiang-tiang di sekeliling kota sebagai dekorasi”.12

Praktek ini terus berlanjut selama tahun 1980-an di Afghanistan, dimana diperkirakan sekitar 3000 tentara Soviet dipenggal oleh para pejuang Afghanistan. Praktek pemenggalan juga adalah praktek yang umum dilakukan selama revolusi Iran:
“Pada 1992, para mullah mengirimkan seorang ‘spesialis’ untuk memenggal kepala Shapour Bakhtiar, perdana menteri terakhir dari Shah Iran, di pinggiran kota Paris. Ketika kabar itu tersiar, Hashemi Rafsanjani yang kemudian menjadi presiden Republik Islam Iran bersyukur kepada Allah di depan publik karena telah mengijinkan ‘pemenggalan kepala si ular”. 13

Taheri bahkan menceritakan tentang seorang ‘spesialis’ pemenggalan berkebangsaan Algeria, yang dijuluki Momo, yang direkrut oleh sebuah kelompok Islam yaitu GIA, yang bertujuan secara khusus untuk memenggal kepala orang:
“Pada 1996 di Ben-Talha, daerah pinggiran ibukota Algiers, Momo memecahkan rekor memenggal 86 kepala dalam semalam, termasuk lebih dari selusin kepala anak-anak. Sebagai penghargaan atas teladan kebajikannya, GIA mengirimnya ke Mekkah untuk berziarah. Terakhir kali kami mendapatkan keterangan, Momo masih berkeliaran di suatu tempat di Algeria”. 14

Taheri kemudian menceritakan situasi di Pakistan ketika:
“Kelompok-kelompok Sunni dan Shiah yang bermusuhan mempunyai kebiasaan saling mengirim kepala dari masing-masing aktivis melalui kiriman khusus. Diperkirakan ada lebih dari 400 kepala telah dipenggal dan diposkan sejak 1990”.15

Dan dewasa ini, kita melihat dahsyatnya pemenggalan kepala di pulau Kalimantan, di Indonesia, dimana orang Muslim menggunakan cara ini untuk mengusir mayoritas orang Kristen keluar dari pulau itu. Hampir separuh orang Kristen telah meninggalkan pulau itu.
Dan di balik semua contoh yang mengerikan ini ada juga pemerintah yang memberlakukan pemenggalan kepala setiap minggu yaitu di Arab Saudi. Pemenggalan itu dilakukan setelah sembahyang Jumat tepat di luar mesjid-mesjid:
“Pemerintah Saudi memenggal kepala 52 laki-laki dan 1 wanita tahun lalu atas tuduhan kejahatan seperti pembunuhan, homoseksualitas, perampokan bersenjata dan perdagangan obat terlarang…Si terpidana dibawa ke tempat peradilan dengan tangan terikat, dan dipaksa berlutut di hadapan algojo yang mengayunkan sebilah pedang besar dengan diiringi teriakan massa “Allahu akbar!” yang berarti “Allah Maha Besar!”.16

Allahu akbar juga diteriakkan oleh para pembunuh Nicholas Berg, seorang kontraktor Yahudi-Amerika, dan Kim-Sun-il, seorang penerjemah Korea dan seorang Kristen Injil, yang memimpikan suatu hari akan menjadi seorang misionaris untuk orang Muslim. Impiannya itu terwujud dan berakhir saat itu juga…
Sementara jelaslah sudah apa yang diajarkan oleh sejarah Islam, kita juga perlu memperhatikan apa yang dikatakan oleh para sarjana Islam dan kitab sucinya mengenai hal ini.

NILAI HIDUP SEORANG NON-MUSLIM
Ketika seorang “ekstrimis” Muslim melakukan suatu tindakan yang mengerikan atas nama Islam, kebanyakan orang Muslim yang saya kenal akan segera memberikan pernyataan, “Itu bukan Islam! Islam tidak boleh dihakimi melalui tingkah-laku segelintir orang, namun harus dipelajari agar dapat melihat apa yang sesungguhnya diajarkan Islam”. Itu cukup adil. Maka pertanyaannya adalah: Apakah sesungguhnya yang diajarkan oleh Islam mengenai pembunuhan terhadap orang-orang non-Muslim?
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah bahwa menurut hukum Islam, untuk semua tujuan praktis, orang Muslim diijinkan untuk membunuh non-Muslim. Ini didasarkan atas hukum Qisas. Pada dasarnya Qisas adalah hukum timbal balik. Itu adalah “mata ganti mata” menurut versi Islam. Sebagai contoh, Qisas menyatakan bahwa jika seorang Muslim membunuh sesama Muslim, maka orang Muslim itu harus dieksekusi. Yang mengherankan adalah, hukum ini tidak berlaku pada orang Muslim yang membunuh non-Muslim. Pengajaran ini terdapat dalam sebuah Hadith dari Sahih Bukhari:
“Berkisahlah Ash-Sha’bi: Abu Juhaifa berkata, “Saya bertanya kepada Ali”, Apakah (yang tertulis) pada selembar kertas itu? Ali menjawab, Itu soal Diyya (uang darah sebagai kompensasi yang harus dibayarkan si pembunuh kepada kerabat si korban), tebusan untuk membebaskan tawanan dari tangan para musuhnya, dan hukum yang mengatakan bahwa tidak ada Muslim yang boleh dibunuh dalam Qisas (kesamaan penghukuman) karena membunuh (seorang kafir).17
penekanan oleh penulis

Sudah tentu dalam beberapa kasus, hukuman-hukuman lain seperti pemenjaraan atau denda dapat dikenakan pada si pembunuh. Tapi sedihnya, kenyataan menunjukkan bahwa, dalam kebudayaan yang tidak memandang hidup seorang non-Muslim sama nilainya dengan seorang Muslim, pembunuhan atas non-Muslim seringkali dipandang sebelah mata. Jika anda membuka situs Voice of the Martyrs di www.persecution.org, atau Barnabas Fund di www.barnabasfund.org, anda dapat membaca ratusan kisah yang diperbaharui setiap hari, mengenai orang-orang Kristen yang dizalimi atau bahkan dibunuh tanpa adanya tuntutan hukum terhadap orang-orang Muslim yang melakukan pembunuhan itu. Pernyataan di bawah ini adalah contoh yang sempurna mengenai mentalitas yang sering saya jumpai ketika berbincang dengan banyak orang Muslim dari Timur Tengah. Pernyataan ini dimuat di sebuah kelompok diskusi antar agama di internet. Perhatikanlah sikap yang nampak berkenaan dengan pembunuhan non-Muslim (kafir):
“Orang-orang kafir telah menyerang negara-negara Muslim dan membunuh orang Muslim sejak semula…padahal kami tidak melakukan apa-apa. Contohnya, orang Israel menyerang Muslim dari Palestina karena masalah tanah dan karena mereka membenci orang Arab/Muslim…kami membela mereka bagi Allah. Kami berusaha menyebarkan Islam, satu-satunya perkataan Allah yang benar. Mereka menolaknya, oleh karena itu kami diijinkan untuk membunuh mereka. Tidaklah diharamkan unutk membunuh orang kafir. Sudah tentu kami ingin agar insya Allah (oleh kehendak Allah) hidup damai dengan mereka dan insya Allah mengajarkan pada mereka agama yang indah ini”. 18

Apakah anda melihat mentalitas bengkok yang terekspresi dalam komentar di atas? “Agama yang indah ini” mengijinkan pembunuhan atas orang-orang yang tidak menganutnya???

PANDANGAN QUR’AN MENGENAI PEMBUNUHAN ORANG KAFIR
Ayat-ayat Qur’an yang seringkali dikutip oleh orang-orang Barat untuk menunjukkan sifat bengis agama Islam adalah ayat yang dikenal di dalam dan di luar Islam sebagai “ayat pedang”:
“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyirikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Sura 9:5

Setiap kali ayat ini dikutip, selalu ada Muslim yang menyatakan bahwa ayat ini tidak dapat diterapkan di jaman sekarang. Walau saya akan merasa sangat senang mendengarnya (jika memang demikian), namun pertanyaan yang sebenarnya harus diajukan adalah: Bagaimana para sarjana dan guru-guru Islam menafsirkan ayat ini? Apakah menurut mereka ayat ini masih dapat diaplikasikan pada masa kini? Pada umumya mayoritas sarjana klasik dan modern Muslim akan mengiyakan. Ingatlah bahwa konsep tingkah-laku semua Muslim didikte oleh Qur’an dan Sunnah (perkataan, tindakan dan sikap Muhammad). Dari penjelasan Ibn Kathir, sarjana terkenal abad ke-8, kita dapat mengetahui penafsiran Islam yang sebenarnya mengenai ayat ini. Kathir memulainya dengan memberikan kutipan-kutipan yang dapat mendukung penafsirannya, yang diambil dari beberapa sarjana/narator Muslim Hadith yang mula-mula, seperti: Mujahid, Amr bin Shu’ayb, Muhammad bin Ishaq, As-Suddi dan Abdur-Rahman. Kathir kemudian menjelaskan arti ayat tersebut:
“Ke-4 bulan yang disebut dalam ayat ini adalah 4 bulan masa anugerah yang disebutkan pada ayat sebelumnya: ‘maka berjalanlah kamu di muka bumi selama 4 bulan”. Allah kemudian berkata, ‘apabila sudah habis bulan-bulan itu,’ artinya, pada akhir dari keempat bulan yang dilarang (Allah) bagi kamu untuk memerangi para penyembah berhala, orang-orang Muslim harus, ‘berperang dan membunuh para penyembah berhala dimanapun kamu menemukan mereka’. ‘Dimanapun kamu menemukan mereka’ berarti, di muka bumi secara umum…Allah mengatakan disini, untuk mengeksekusi sebahagian dan sebahagiannya lagi ditawan. ‘Kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian’, artinya, janganlah menunggu sampai kamu menemukan mereka, tetapi cari dan kepunglah mereka di wilayah-wilayah mereka dan benteng-benteng mereka, kumpulkanlah mata-mata terhadap mereka di berbagai jalan dan jalur sehingga apa yang lebar akan terlihat sempit bagi mereka. Dengan demikian, mereka tidak punya pilihan lain, selain mati atau memeluk Islam…Abu Bakr (sahabat dekat dan penerus Muhammad setelah kematian nabi) menggunakan ayat ini dan juga beberapa ayat terhormat lainnya sebagai dasar untuk memerangi mereka yang menolak untuk membayar pajak amal yang diwajibkan. Ayat ini mengijinkan kita untuk memerangi seseorang kecuali, dan hingga mereka memeluk Islam dan menjalankan kewajiban-kewajiban dan peraturan-peraturannya”. 19

Ini sama sekali tidak memberikan ruang untuk berdebat. Ibn Kathir dengan jelas sekali mengemukakannya. Kita lihat bahwa orang-orang Muslim diijinkan bahkan diperintahkan untuk memerangi orang yang tidak beriman (Mushrikun) dan bahkan mencari mereka dimanapun mereka berada untuk memaksa mereka bertobat kepada Islam atau menerima kematian. Sekali lagi harus diperhatikan bahwa Kathir bukanlah seorang Muslim yang “ekstrimis” namun bisa jadi ia adalah salah satu dari sarjana-sarjana Islam yang sangat diakui secara universal.
Ayat lain dalam Qur’an yang juga berkaitan dengan diskusi kita mengenai ayat “pemenggalan” yang keji adalah:
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang tidak beriman (di medan perang) kamu dapat memancung batang leher mereka”. Sura 47:4 (Khalifa)

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir, penggallah kepala mereka”. Sura 47:4 (Rodwell)

Ibn Kathir menjelaskan tujuan dari ayat ini adalah untuk:
“(Menuntun) orang-orang beriman mengenai apa yang harus mereka lakukan dalam peperangan mereka melawan para penyembah berhala. Allah berkata, ‘Maka, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang tidak beriman (dalam peperangan), pancunglah batang leher mereka’, yang berarti, ketika kamu berperang melawan mereka, tebaslah dengan sepenuh hati kepala mereka dengan pedangmu. ‘Sampai kamu sungguh-sungguh telah mangalahkan mereka,’ artinya, kamu telah membunuh dan benar-benar menghancurkan mereka. Ini berkenaan dengan tawanan-tawanan perang yang telah kamu tangkap”. 20

Jadi ketika kita melihat ayat-ayat itu, kita mendapati bahwa orang Muslim diperintahkan untuk memenggal (atau setidaknya “menebas leher”) orang-orang non-Muslim yang mereka perangi. Sheik Omar Bakri Muhammad, hakim pengadilan Syariah (hukum Islam) di Inggris, yang juga adalah Sekjen Liga Dunia Islam dan juru bicara Front Islam Internasional, mempunyai pendapat yang sedikit berbeda:
“Jadi apa keputusannya? Penghukuman terhadap mereka yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan berjuang untuk mebuat kekacauan negeri hanyalah ini, yaitu mereka harus dibunuh atau disalibkan atau tangan dan kaki mereka harus dipenggal pada sisi yang berlawanan atau mereka harus dpenjarakan. Ini akan sangat memalukan mereka di dalam dunia ini, dan di akhirat mereka akan mendapatkan siksaan yang berat”. 21

Setelah meneliti contoh teks-teks islami dan juga pendapat para sarjana, juru bicara dan kaum awam Muslim, kita mendapati bahwa Islam tidak hanya memerintahkan pembunuhan terhadap non-Muslim, namun juga mendukung sebuah kebudayaan dimana membunuh non-Muslim telah menjadi sebuah praktek yang dapat diterima. Namun sebelum kita mengakhiri diskusi ini, ada satu lagi tradisi spesifik yang tentu akan terlaksana jika pribadi Mahdi benar-benar menjadi sebuah kenyataan.

ANCAMAN MATI BAGI MEREKA YANG MENGHINA OTORITAS KALIFAH
Peran kepemimpinan seorang Kalif di dalam Islam adalah sebuah konsep yang sangat kuat. Seorang Kalifah dipandang baik sebagai penerus/pengganti Muhammad dan juga pemimpin semua orang Muslim. Kalifah terakhir yang diterima oleh Sunni dan Shiah yang dipilih secara sah adalah Ali, sepupu dan menantu Muhammad. Ali wafat pada tahun 661 M. Sejak saat itu, ada banyak Kalifah lainnya yang berkuasa, tetapi tak satupun mempunyai pengaruh yang universal seperti yang dimiliki ke-4 Kalifah pertama. Orang Muslim telah menanti-nantikan pemulihan kekalifahan untuk mengembalikan kesatuan dan kepemimpinan kepada Islam di seluruh dunia. Seperti yang telah kita lihat, Mahdi diharapkan untuk memenuhi peran itu. Dalam sebuah Hadith Sahih Muslim, kita membaca tentang penghukuman bagi mereka yang menolak otoritas Kalifah:
“Barangsiapa ingin dilepaskan dari api neraka dan masuk ke dalam taman firdaus harus mati dalam iman kepada Allah dan Hari Kiamat…Dia yang bersumpah bersekutu dengan Kalif harus memberikan padanya ikrar dari tangannya dan ketulusan hatinya (yaitu tunduk kepadanya secara lahiriah dan batiniah). Ia harus menaatinya dengan segala kesanggupannya. Jika ada orang yang maju, membantah otoritas (Kalif)nya, mereka (orang-orang Muslim) harus memenggal kepalanya”.22
penekanan oleh penulis

Pemerintah Arab Saudi menganut pandangan yang demikian. Dalam situs resmi Departemen Urusan-urusan Islam Arab Saudi (IAD), kita menemukan pernyataan yang sama:
“Nabi yang mulia berkata: ‘Adalah kewajiban seorang Muslim mendengar dan menaati (otoritas Kalifah), baik dia suka atau tidak…Orang yang telah bersumpah untuk bersekutu dengan seorang pemimpin (Imam) dan telah menyerahkan tangan dan hatinya kepadanya, harus menaatinya dengan segenap kemampuannya. Jika ada orang yang menentang dan menyaingi otoritas dari pemimpin (Imam) itu, si penentang itu harus dipenggal”.23
penekanan oleh penulis

Berdasarkan huukum Islam, siapapun yang tidak mengakui otoritas Kalif yang telah ditetapkan, haruslah dipenggal.

KESIMPULAN

Kini marilah kita mengulas beberapa hal yang sudah didiskusikan. Pertama, kita telah melihat bahwa akhir jaman seperti yang digambarkan oleh Alkitab adalah suatu masa dimana orang-orang Kristen akan dianiaya dan dibunuh oleh karena iman mereka. Menurut Alkitab, metode spesifik yang digunakan untuk membunuh orang Kristen adalah pemenggalan, sehingga mereka menjadi martir. Seperti yang telah kami gambarkan dengan jelas, tidak dapat disangkal lagi bahwa pemenggalan adalah tradisi yang berkembang di sepanjang sejarah Islam. Islam sendiri telah mendokumentasikan secara menyeluruh kenyataan bahwa Muhammad dan para penerusnya mempraktekkan pemenggalan kepala sebagai metode spesifik untuk membunuh “musuh-musuh Islam”. Praktek ini terus berlanjut dalam beberapa periode Islam hingga pada hari ini. Qur’an sendiri sesungguhnya menganjurkan pemenggalan, atau setidaknya, “menebas leher” dari “para penyembah berhala” dan siapapun yang menjadi “tawanan perang”. Kami mencatat beberapa contoh pemenggalan terhadap para “tawanan perang” yang baru-baru ini diberitakan di Irak dan di berbagai tempat lainnya. Hukuman mati juga dijatuhkan atas mereka yang tidak mau tunduk atau setuju dengan otoritas Kalifah. Maka sangatlah adil untuk berasumsi bahwa dalam visi Islam mengenai akhir jaman, jika seorang Kalifah, terutama Mahdi muncul dan menerima gagasan bahwa semua orang Kristen, Yahudi, bangsa Israel, dan siapapun yang mendukung mereka dianggap sebagai “musuh-musuh Islam”, maka secara universal adalah sah bahkan diwajibkan bagi semua Muslim untuk “memerangi” dan “menebas leher” semua orang Kristen, Yahudi, atau orang Barat, dan sebagainya; dan juga siapapun yang menentang otoritas Kalifah.
Maka sekali lagi, praktek dan pengajaran Islam sepenuhnya menggenapi gambaran kekuatan yang akan berkuasa dan mendominasi dunia menurut skenario Alkitab tentang akhir jaman. Setelah melihat teks-teks Islam yang mempunyai natur membunuh, dan juga penafsiran Islam terhadap teks-teks itu, penting bagi kita untuk melihat realita bagaimana mentalitas seperti itu diwujudkan dalam pikiran seorang Muslim awam dari Timur Tengah. Berikut ini adalah sebuah posting dari dewan pesan internet islami/antar agama. Ini adalah jenis posting yang terlalu umum untuk forum-forum semacam itu. Kita mengakhiri pasal ini dengan pemikiran-pemikiran seorang Muslim berkenaan dengan pembunuhan Daniel Pearl, seorang jurnalis Amerika yang telah dibantai:
“Pertama-tama, Pearl adalah seorang Yahudi, seorang Munafik, seorang mata-mata, dan seorang kafir. Janganlah tertipu oleh orang-orang seperti itu. Kebencian mereka terhadap Islam dapat terlihat dari mulut mereka, dan apa yang ada dalam hati mereka lebih buruk lagi. Saya tidak dapat melihat pembantaian sebagai hal yang keji…Dalam Islam, kami…bahkan tidak diperbolehkan menyiksa orang kafir – kami hanya menggorok lehernya, dan sudah dibuktikan bahwa jika anda telah memotong titik tertentu di leher, maka mereka tidak akan merasa sakit…dan ingatlah ketika kami orang-orang Muslim menangkap seorang Muslim yang munafik, kami akan melakukan hal yang sama padanya, kami membantainya. Apa yang anda pikirkan mengenai seorang Yahudi yang kotor, seorang munafik yang bodoh, seorang agen ganda, dan seorang kafir? Kami melakukan hal yang sama padanya. Walhamdulilah (Syukur kepada Allah). Dan ingatlah Rasul (Muhammad) membantai sejumlah besar orang Yahudi dalam sebuah peperangan; ciptaan yang terbaik melakukan hal ini, karena orang-orang Yahudi menikam nabi Muhammad dari belakang. Dan jika menurut anda ini adalah perbuatan yang keji, Insyaallah (saya berharap dengan kehendak Allah), anda masih bisa tetap hidup ketika Mahdi datang karena anda akan melihat banyak kepala orang Yahudi/munafiqqin (munafik) berserakan di lantai”.

Minggu, 04 Oktober 2009

Pasal 13 - Kebencian Kuno Islam Terhadap Orang Yahudi

Sementara Islam memimpikan hari dimana orang Kristen dan Yahudi akan bertobat kepada Islam secara massal, ada perbedaan dalam narasi mengenai akhir jaman di dalam ajaran Islam mengenai akhir dari orang Kristen dan Yahudi. Dalam versi hari kiamat menurut Islam, kita melihat bahwa semua orang Kristen akan memeluk Islam, jika tidak mereka akan dibunuh. Tentu saja, jika kita memperhatikan gambaran akhir ini, sangat mungkin untuk mengatakan bahwa Islam mempunyai ketertarikan dengan orang Kristen atau Kekristenan. Namun ketika kita menganalisa pengajaran dan tradisi Islam mengenai orang Yahudi, kita akan sangat merinding ketika melihat bahwa satu-satunya takdir/akhir bagi orang Yahudi menurut Islam adalah pembantaian total dan absolut. Dalam tradisi-tradisi Islam kita melihat sebuah kebencian yang sangat gelap dan persisten terhadap orang Yahudi yang hampir sama dengan ideologi yang diekspresikan oleh Naziisme. Ideologi kebencian ini sepenuhnya didukung dan dipupuk dalam keseluruhan Qur’an dan tradisi-tradisi Islam. Sebagai contoh, berkenaan dengan orang Yahudi Qur’an berkata:

“Dan Kami telah timbulkan kebencian dan permusuhan diantara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan”. Sura 5:64

Ayat ini memperjelas bahwa akan ada “permusuhan dan kebencian” terhadap orang Yahudi sampai akhir jaman. Maka berakhirlah klaim yang menyatakan bahwa penghinaan Qur’an terhadap orang Yahudi hanyalah terbatas pada insiden-insiden historis tertentu dalam karir Muhammad sebagai nabi. Qur’an tidak hanya menggambarkan orang Yahudi sebagai orang-orang yang memulai perang dan menyebabkan banyak penderitaan di muka bumi, tetapi juga secara literal mengklaim bahwa Allah sangat jijik dengan orang Yahudi, sehingga Ia mengutuki mereka dan secara literal mengubah banyak diantara mereka menjadi “monyet dan babi”, menempatkan mereka pada tempat yang terendah diantara umat manusia:
“Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: ‘Jadilah kamu kera yang hina”. Sura 1:166.

“...orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, diantara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi, dan (orang yang) menyembah thaghut?’ Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus”. Sura 5:50

“Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: ‘Jadilah kamu kera yang hina”. Sura 2:65

Diantara banyak orang yang anti-semitis dan Muslim yang vokal, ayat-ayat ini sangat digemari. Walid Shoebat adalah seorang mantan Muslim yang dibesarkan di wilayah Palestina. Ia teringat suatu peristiwa di masa kanak-kanak saat sekolahnya mengadakan perjalanan wisata ke kebun binatang di Yerusalem, Walid mengenang, “Guru Islam kami mengatakan, ‘gorilla ini dulunya adalah seorang Yahudi’”. Kini saat saya memikirkannya, inilah sesungguhnya yang diajarkan oleh Nazi – dalam bentuk yang sangat keji. Hal ini juga yang diajarkan di seluruh Timur Tengah.1 Sebagaimana Nazi menyatakan bahwa orang-orang Yahudi adalah “kutu-kutu kecil” yang lebih rendah dari manusia, untuk membenarkan perlakukan mereka yang tidak manusiawi terhadap orang Yahudi; demikian juga Muslim mengikuti tuntunan Qur’an dengan tidak memanusiakan ras Yahudi.

Sekarang dalam poin ini, para apologis Muslim akan segera berargumen bahwa walaupun di dalam Qur’an ada banyak ayat yang berbicara mengenai orang Yahudi dengan bahasa yang keji, namun masih ada ayat-ayat lain yang berbicara mengenai orang-orang Yahudi dengan bahasa yang positif. Walaupun hal itu benar, namun hal itu pun bisa menyesatkan. Dalam bukunya yang sangat informatif, Islam dan Orang-orang Yahudi, Mark A.Gabriel, Ph.D, seorang mantan Imam Muslim dan Profesor sejarah Islam di Universitas Al Azhar yang ternama di Kairo, memaparkan kecenderungan Islam yang salah terhadap orang Yahudi. Gabriel menjelaskan bahwa menurut teologi Islam, ayat-ayat dalam Qur’an yang kelihatannya “ramah” terhadap orang Yahudi dipahami sebagai ayat-ayat yang telah dibatalkan (mansukh) oleh ayat-ayat yang kemudian diwahyukan kepada Muhammad dalam karir kenabiannya. Ini didasarkan pada gagasan tentang wahyu progresif dalam Islam yang mengatakan, jika ada ayat-ayat yang nampaknya saling berkontradiksi, maka wahyu-wahyu terbaru yang diberikan kepada Muhammad akan membatalkan atau meniadakan wahyu-wahyu terdahulu. Ini adalah doktrin Islam yang sangat dipahami dan yang paling banyak dianut; doktrin ini disebut: nasikh.2 Banyak ayat dalam Qur’an bahkan memuat sebuah daftar di bagian belakang yang berisi ayat-ayat yang lebih tua dan ayat-ayat yang baru agar orang dapat mengetahui ayat-ayat mana yang telah dibatalkan dan ayat-ayat mana yang dipertahankan. Oleh karena ayat-ayat yang menunjukkan kekerasan dan permusuhan terhadap orang Yahudi adalah ayat-ayat yang baru, maka ayat-ayat itu membatalkan ayat-ayat yang mengekspresikan damai. Hal ini sangat jelas dipahami di seluruh dunia Islam.

Saat kita menjajaki pertumbuhan dan perkembangan anti-semitisme dalam Islam, kita akan menjadi sangat sedih karena hal itu tidak hanya terbatas dalam Qur’an, melainkan lebih daripada itu pembantaian akhir orang-orang Yahudi juga mendapat dukungan penuh dalam Hadith. Kami telah mengutip tradisi ini lebih dari sekali, tapi kami akan mengutipnya sekali lagi untuk terakhir kali:
“(Berkatalah Muhammad:) Hari kiamat tidak akan datang kecuali orang Muslim memerangi orang Yahudi dan orang Muslim akan membunuh mereka sampai orang Yahudi akan menyembunyikan diri di balik sebuah batu atau sebatang pohon dan berkata: ‘Muslim, atau hamba Allah, ada seorang Yahudi di belakangku; datang dan bunuhlah dia’; tetapi pohon Gharghad tidak akan berkata, karena itu adalah pohon Yahudi”. – penekanan oleh penulis 3

Kepercayaan apokaliptik mengenai perang di masa depan terhadap Israel dan pembunuhan semua orang Yahudi adalah kepercayaan yang sangat dipegang oleh kebanyakan Muslim. Kita juga harus ingat bahwa tradisi-tradisi dan ayat-ayat yang anti-semitis di dalam Qur’an telah berusia lebih dari seribu tahun. Tradisi sakral Islam berkenaan dengan pembantaian akhir terhadap semua orang Yahudi tidak dapat dikenakan pada konflik yang terjadi saat ini dengan Negara Israel. Walaupun banyak orang pada masa kini berusaha menyalahkan kebencian Muslim pada orang Yahudi semata-mata karena Zionisme dan tuduhan penindasan dan penganiayaan terhadap orang Palestina yang dianggap “mirip Nazi”, hal itu sama sekali tidak dapat menjadi alasan. Kebencian Islam terhadap orang Yahudi telah eksis sejak Islam dilahirkan. Itu bukanlah sebuah fenomena baru. Dan tidak dapat disangkali lagi, hari ini Islam dan dunia Muslim adalah satu-satunya kekuatan dalam dunia yang sangat anti-Semitis. Terutama Palestina, yang menggunakan alasan apokaliptis sebagai dasar atas banyak aksi mereka terhadap Israel dan orang Yahudi dewasa ini. Walaupun pada kenyataannya, alasan ini merupakan salah satu faktor utama yang mengompori konflik yang terus-menerus di Israel saat ini, alasan ini juga seringkali merupakan faktor yang dilupakan oleh para pengamat sekuler yang berusaha menilai konflik yang ada saat ini berdasarkan ekuivalensi moral. Kutipan-kutipan berikut ini merupakan terjemahan dari bagian-bagian ceramah tahun-tahun belakangan ini, yang disampaikan oleh Sheikh Ibrahim Madhi, Imam resmi diangkat oleh otoritas Palestina. Perhatikanlah adanya penggunaan ayat-ayat dan tradisi-tradisi yang telah kita diskusikan sebelumnya, yang biasa digunakan untuk membenarkan dan mendukung kebencian terhadap orang Yahudi:
“Kami bangsa Palestina, takdir kami dari Allah adalah untuk menjadi barisan terdepan dalam perang melawan orang Yahudi hingga kebangkitan orang mati, seperti yang dikatakan oleh nabi Muhammad: “Kebangkitan orang mati tidak akan tiba hingga kamu memerangi orang Yahudi dan membunuh mereka...” Kami orang-orang Palestina adalah barisan terdepan dari upaya ini dan dalam kampanye ini, apakah kami menginginkannya atau tidak...”

“Wahai, saudara-saudara Arab kami...Wahai, saudara-saudara Muslim kami...Janganlah meninggalkan bangsa Palestina sendirian dalam perang melawan Yahudi...Bahkan telah ditetapkan atas kami untuk menjadi barisan terdepan...Yerusalem, Palestina dan Al Aqso (Temple Mount), tanah yang telah diberkati Allah dan daerah-daerah di sekelilingnya akan tetap menjadi pusat pergumulan antara Kebenaran dan Kesesatan, antara Yahudi dan non-Yahudi di tanah suci ini, walau ada banyak kesepakatan telah ditanda-tangani, walau banyak risalah dan perjanjian telah diratifikasi. Karena Kebenaran ada dalam Qur’an, seperti yang telah disahkan oleh perkataan nabi Muhammad, bahwa perang yang telah ditentukan itu akan terjadi di Yerusalem dan sekitarnya: ‘Kebangkitan orang mati tidak akan terjadi hingga kamu memerangi orang Yahudi...”

“Peperangan dengan orang Yahudi benar-benar akan tiba...tidak diragukan lagi, kepastian kemenangan Muslim akan datang, dan nabi telah mengatakannya di lebih dari satu hadith; dan Hari Kebangkitan tidak akan datang tanpa kemenangan orang-orang beriman (Muslim) atas keturunan monyet-monyet dan babi-babi (Yahudi) dan dengan penghapusan mereka”.4

Oh Allah, terimalah para martir kami di langit yang tertinggi...
Oh Allah, tunjukkanlah pada orang Yahudi hari yang gelap...
Oh Allah, hapuskanlah orang Yahudi dan para pendukungnya...
Oh Allah, kibarkanlah bendera jihad di seluruh negeri... 5

Maka, saat dunia sangat menanti-nantikan dan percaya akan datangnya masa dimana orang Yahudi dan orang Palestina hidup berdampingan dalam damai; para imam, pihak otoritas agama bangsa Palestina, memberikan dukungan dan persetujuan penuh pada kepemimpinan politik yang tidak henti-hentinya menabuh genderang “perang terakhir”, pembantaian akhir terhadap orang Yahudi.

KEBENCIAN KUNO SETAN TERHADAP ORANG YAHUDI
Apabila kita membandingkan roh yang kita lihat dalam Islam dengan roh yang kita lihat termanifestasi di bawah pemerintahan Antikristus dan Nabi palsu, ada kebencian kuno yang sama terhadap orang Yahudi dalam kedua roh itu. Itu adalah kebencian kuno yang berasal dari Setan sendiri. Sejak hari pertama Tuhan menyatakan kasih-Nya kepada orang Yahudi, Setan telah memusuhi mereka. Kendaraan-kendaraan utama yang digunakannya untuk memerangi orang Yahudi adalah beberapa kekaisaran besar dunia. Mereka adalah kekaisaran-kekaisaran “binatang” yang telah kita diskusikan di pasal 10. Di sepanjang Alkitab, kita membaca mengenai usaha-usaha Satan untuk menghapuskan atau menganiaya orang-orang Yahudi:
1.Melalui Firaun, penguasa Mesir, ketika ia memerintahkan untuk membunuh semua anak laki-laki Ibrani (Kel.1:5-22).
2.Melalui Salmaneser, penguasa Asyur, ketika ia menaklukkan kerajaan Utara Israel dan membuang serta menyerakkan 10 dari 12 suku Israel ke pembuangan (2Raj 17:5-6)
3.Melalui Nebukadnezar, penguasa Babilonia, ketika ia menyerang Yerusalem, ibukota kerajaan Selatan Yudea, dan membawa sisa orang Yahudi ke pembuangan (1Raj 24:10-16)
4.Melalui Haman, orang yang ditunjuk sebagai pejabat yang berwenang atas Medo/Kerajaan Persia, ketika ia berusaha membunuh semua orang Yahudi yang ada di kerajaan itu (Ester 3:9)
5.Melalui Antiokhus Epiphanes, penguasa Yunani atas Syria, ketika ia menaklukkan Yerusalem, seperti yang digambarkan oleh sejarahwan Josephus sebagai penaklukkan berdarah dalam sejarah Israel (Daniel 8:23-25; 1 Makabe 1-6). 6
6.Melalui Titus, kaisar Romawi, yang menyerang dan menaklukkan Yerusalem, membunuh lebih dari 1,1 juta orang Yahudi, dan memperbudak lebih dari 97.000 orang. (Perang-perang Yahudi, VI, ix, 3).
7.Melalui berbagai kerajaan Islam dan Kristen, yang tidak dapat kami sebutkan namanya. Bahkan kekristenan (yang sesat sekalipun) juga tidak dapat dikatakan tidak bersalah dalam sejarah bangsa Yahudi yang penuh darah.
8.Melalui Adolf Hitler, yang membunuh sekitar 6 juta orang Yahudi selama perang dunia II.
9.Dan pada akhirnya melalui Antikristus dan Nabi palsu dan kerajaan mereka di masa depan, yang telah dengan jelas dinubuatkan oleh nabi Zakharia dan Yehezkiel; yang akan menyerang Yerusalem dan membunuh dua per tiga dari penduduk/bangsa Israel. (Zakharia 13:8-9; Yehezkiel 38).

Pada titik ini orang yang waras harus berhenti dan bertanya: Apa lagi yang dapat menjelaskan sejarah suatu bangsa semacam itu, yang terus-menerus penuh darah dan menyakitkan, selain dari sebuah kebencian yang tidak manusiawi dan demonis? Siapakah yang sanggup memulai serangan yang gelap dan terus-menerus terhadap sebuah bangsa yang jumlahnya hanya 1 persen, karena itu hanya merupakan bagian yang sangat kecil dari populasi dunia – tidak peduli dimanapun mereka tinggal? Siapa lagi kalau bukan Iblis itu sendiri? Sejarah bangsa Yahudi sendiri adalah bukti untuk membuka pikiran kita bahwa Setan eksis dan bahwa ia membenci orang-orang yang dikasihi Tuhan dan yang disebut Tuhan sebagai “biji mata-Nya” (Zakharia 2:8)

Pasal 12 - Roh Anti Kristus Dalam Islam

ROH ANTI KRISTUS
Sementara kita telah mendiskusikan pribadi anti Kristus yang sesungguhnya, Alkitab juga berbicara mengenai suatu roh anti Kristus. Selain dari satu referensi langsung di dalam Alkitab mengenai Sang Anti Kristus, kata itu juga dipergunakan sebanyak 4 kali dengan pengertian umum oleh Rasul Yohanes. Tiap kali kata itu digunakan selalu dihubungkan dengan suatu roh yang khusus. Roh ini dikenal dengan penyangkalannya terhadap beberapa aspek spesifik dari natur Yesus dan hubungan-Nya dengan Tuhan Sang Bapa. Berikut ini adalah beberapa ayat yang menggambarkan roh “anti Kristus” ini:

Demikianlah kita mengenal Roh Tuhan: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Tuhan, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Tuhan. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.
1 Yohanes 4:2-3

Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa.
1 Yohanes 2:22-23

Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.

2 Yohanes 1:7

Berdasarkan ayat-ayat ini, kita belajar bahwa Anti Kristus adalah suatu roh yang dikenal sebagai si “pembohong” dan si “penipu” yang secara spesifik menyangkali hal-hal ini:
1.Bahwa Yesus adalah Kristus/Mesias (Sang Juruselamat/Pelepas Israel dan dunia)
2.Sang Bapa dan Anak (Trinitas atau bahwa Yesus adalah Putra Tuhan)
3.Bahwa Yesus telah datang dalam daging. (inkarnasi – bahwa Tuhan telah menjadi manusia).

ROH ANTI KRISTUS DALAM ISLAM
Agama Islam, lebih dari sekedar sebuah agama, filsafat, atau sistem kepercayaan apapun, cocok dengan gambaran sebagai sebuah roh antikristus. Agama Islam menjadikan penyangkalan atas semua hal mengenai Yesus dan hubungan-Nya dengan Bapa sebagai salah satu prioritas utamanya. Pada kenyataannya, adalah adil jika mengatakan bahwa Islam secara literal merupakan sebuah tanggapan polemis langsung terhadap semua doktrin penting Kristen diatas. Namun, berkenaan dengan doktrin-doktrin Kristen diatas, Orang Muslim akan dengan segera berargumen bahwa Islam sungguh-sungguh mengajarkan bahwa Yesus adalah Mesias. Tapi sebenarnya ini hanyalah tipuan. Memang benar bahwa Islam mengenakan gelar Mesias pada Yesus. Tetapi kita bertanya pada seorang Muslim apa sesungguhnya arti “Mesias” di dalam Islam, maka definisi yang diberikan adalah definisi yang kosong dan sama sekali tidak mengandung substansi mesianis sejati. Dalam Islam, Yesus hanyalah salah seorang nabi diantara banyak nabi yang ada. Namun berdasarkan Alkitab, peran Mesias diantara peran-peran lainnya, adalah sebagai Juruselamat, Imamat yang Ilahi, seorang Pelepas dan Raja orang Yahudi. Sebagaimana yang telah kita lihat dalam pasal-pasal terdahulu mengenai Yesus Muslim, Ia bukanlah Mesias yang menyelamatkan atau melepaskan Israel dan semua pengikut-Nya yang setia, melainkan dalam tradisi Islam, Yesus akan kembali untuk memimpin musuh-musuh Israel untuk memerangi Israel dan membunuh atau mentobatkan semua orang Yahudi dan orang Kristen kepada Islam. Ini sama saja dengan menyebut Adolf Hitler sebagai pelepas Israel, dan bukannya Musa. Kini, kita lihat bagaimana Rasul Yohanes mengatakan kepada kita bahwa sebelum tiba saat terakhir (hari kiamat), ada suatu “roh” yang akan mendominasi dunia. Roh ini akan menyangkali banyak doktrin penting Alkitab berkenaan dengan siapa Yesus itu dan untuk apa ia datang ke dalam dunia. Islam adalah gambaran yang sempurna dari roh ini.

TAUHID DAN SYIRIK
Agar memiliki pemahaman yang tepat mengenai roh Anti Kristus Islam, pertama-tama ada 2 doktrin yang harus dimengerti. Yang pertama disebut Tauhid. Ini adalah kepercayaan yang paling mendasar dalam Islam. Tauhid berhubungan dengan kepercayaan yang absolut akan keesaan Tuhan. Islam menganut bentuk/paham keesaan monoteis yang sangat ketat. Dalam Islam, Tuhan itu benar-benar tersendiri (satu, esa). Namun untuk memahami Tauhid, kita harus mengerti bahwa Tauhid itu lebih dari sekadar doktrin. Dalam Islam, percaya pada Tauhid adalah sebuah perintah yang absolut. Dan jika mengikuti Tauhid adalah perintah tertinggi dan terpenting di dalam Islam, maka dosa yang terbesar adalah Syirik. Syirik adalah lawan dari Tauhid. Pada intinya, syirik adalah penyembahan berhala. Dari laporan berkala “Invitation to Islam” yang diterbitkan oleh sebuah kelompok Muslim dari Toronto, kita dapat membaca sebuah pernyataan penting, yang akan menolong kita dapat mengerti dengan tepat bagaimana syirik dipandang oleh orang Muslim:
“Pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan anak-anak dan pembantaian massal. Ini merupakan beberapa kejahatan yang paling mengerikan yang terjadi di dunia saat ini. Banyak orang berpikir bahwa ini adalah kejahatan yang paling buruk ketika dilakukan. Tetapi ada sesuatu yang lain yang lebih buruk daripada penggabungan dari kejahatan-kejahatan tersebut diatas: itulah melakukan syirik”. 1

Oleh sebab itu banyak orang-orang Muslim beranggapan bahwa percaya kepada Trinitas maupun keilahian Yesus termasuk ke dalam jajaran dosa-dosa besar yang dilakukan oleh manusia. Pada kenyataannya, mempercayai doktrin-doktrin dasar Kristen itu adalah lebih dari sekedar berdosa; itu adalah kejahatan yang paling keji dari semua kejahatan yang ada! Dalam pikiran Muslim, syirik tidak hanya berhubungan dengan kepercayaan yang politeis, atau paganis tetapi juga berhubungan dengan doktrin-doktrin historis esensial dari iman Kristen. Berikut ini kita akan menguji ketiga doktrin esensial itu dan bagaimana secara spesifik Islam menyangkalinya.

ISLAM MENYANGKALI YESUS ADALAH PUTRA TUHAN
Agama Islam memiliki satu kepercayaan mendasar, yaitu sebuah penyangkalan langsung terhadap Yesus sebagai Putra Tuhan. Penyangkalan ini ditemukan beberapa kali dalam Qur’an:
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam”. Sura 5:17.

“Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: ‘Allah mempunyai anak’. Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui?” Sura 10:68.

“Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai anak)”. Sura 19:88-92.

“...dan orang Nasrani berkata: ‘Al Masih itu Putra Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana sampai mereka berpaling dari Kebenaran?” Sura 9:30 (Yusuf Ali)

Secara literal Qur’an mengutuk orang-orang yang percaya bahwa Yesus adalah Putra Tuhan. Mereka yang mengatakan hal-hal yang demikian telah mengucapkan “penghujatan besar” dan dapat disamakan dengan “orang-orang kafir”. Maka dalam hal ini, tidak perlu dipertanyakan lagi, Islam adalah sebuah sistem keagamaan yang Anti Kristus. Masihkah anda ingat komentar Jim Hasting di pasal 1? Ia adalah imam dalam pelatihan yang bertobat kepada Islam. “Hal yang selalu dia kemukakan adalah bahwa hanya ada satu Tuhan, Ia tidak memiliki siapapun yang setara dengan-Nya, Ia tidak membutuhkan seorang Putra untuk datang ke bumi dan melakukan pekerjaan-Nya”. Islam berusaha menciptakan suatu bentuk ibadah monoteis yang dapat diterima namun Islam tidak hanya membuang aspek-aspek esensial dari hubungan dengan Tuhan yang menyelamatkan, tetapi Islam bahkan eksis secara literal untuk mengkonfrontasikan hal-hal ini secara langsung dan menyebutnya sebagai bentuk penghujatan yang paling dahsyat. “Tidak layak bagi Tuhan untuk mempunyai anak!” Kata-kata ini mengitari bagian dalam mesjid Dome of the Rock di Yerusalem. Inilah tempat orang Yahudi, umat Yahweh, selama berabad-abad beribadah di dalam Bait Suci mereka, menantikan Mesias mereka. Ini juga adalah tempat dimana Yesus, Sang Putra Yahweh dan yang adalah Sang Mesias Yahudi pada suatu hari kelak akan kembali untuk memerintah dunia. Islam secara literal telah mendirikan sebuah monumen yang menyuarakan penentangan terhadap realitas yang akan terjadi di masa depan.

ISLAM MENYANGKALI TRINITAS
Tuduhan penghujatan juga ditujukan pada mereka yang percaya kepada Trinitas:
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan yang berhak disembah (selain Tuhan Yang Esa). Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”. Sura 5:73.

Oleh karena itu percaya kepada Trinitas juga dipandang sebagai penghujatan. Tetapi “siksaan yang pedih” seperti apakah yang akan dialami orang-orang yang percaya kepada Trinitas? Sebagaimana yang telah kita lihat dalam pasal-pasal terdahulu, banyak orang Muslim yang secara ironis menantikan Yesus versi mereka untuk kembali dan benar-benar membunuh orang-orang “Kristen penganut trinitas politeistis”.
Dan Qur’an tidak hanya berhenti pada menyangkali Yesus yang adalah Putra Yahweh atau bahwa Yahweh itu eksis sebagai sebuah trinitas.

ISLAM MENYANGKALI SALIB
Dengan berurai air mata, Rasul Paulus memperingatkan jemaat di Filipi bahwa, “banyak orang akan hidup sebagai musuh-musuh salib Kristus” (Fil 3:18). Maka semestinya kita tidak terkejut jika Islam juga bahkan menyangkali peristiwa yang paling sentral dalam sejarah penebusan: penyaliban Yesus. Mengenai orang-orang Yahudi pada jaman Yesus, Qur’an berkata:
“dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, putra Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuh-Nya dan tidak (pula) menyalib-Nya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Sura 4:157-158.

Diantara para sarjana Islam, sebenarnya ada banyak teori yang saling bertentangan berkenaan dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada Yesus. (Karena secara ironis, berkenaan dengan hal ini, sebenarnya merekalah yang telah “beranggapan telah mengikuti”). Namun disamping ketidakmampuan orang Muslim untuk mencapai konsensus apapun berkenaan dengan apa yang terjadi pada Yesus, mereka sangat bersepakat setidaknya pada satu hal: Ia tidak disalibkan! Kutipan Qur’an diatas setidaknya telah sangat menjelaskan hal itu.

BAGAIMANAKAH ROH ANTI KRISTUS DALAM ISLAM MEMPENGARUHI ORANG MUSLIM?
Jadi kita dapat melihat bahwa Islam secara spesifik dan terang-terangan menyangkali ketiga doktrin utama yang disebutkan oleh Rasul Yohanes ketika ia menggambarkan roh Anti Kristus. Dan Qur’an tidak hanya menyangkali ketiga doktrin itu, tetapi sesungguhnya mengekspresikan penghinaan yang keras terhadap doktrin-doktrin itu, orang-orang yang mempercayai doktrin itu, menuduh mereka telah melakukan penghujatan yang dahsyat. Namun bagaimanakah sikap Qur’an tersebut mempengaruhi orang Muslim? Pernyataan ini kelihatannya sangat keras, tetapi dalam masa pelayanan saya menjangkau orang Muslim, mengadakan dialog-dialog antar agama, dan dalam pembicaraan-pembicaraan biasa dengan orang-orang yang bukan Kristen, ada dua kelompok yang saya saksikan sendiri, mengekspresikan penghinaan dan ejekan yang sangat kuat terhadap Injil, yaitu para Satanis dan orang-orang Muslim. (Ya, percaya atau tidak, saya sudah pernah terlibat dalam beberapa percakapan serius dengan banyak Satanis/pemuja Satan). Sekarang, ijinkan saya menjelaskan bahwa saya sama sekali tidak bermaksud untuk menyamakan semua Muslim dengan para Satanis dalam hal apapun juga. Saya telah berjumpa dengan banyak orang Muslim yang sangat baik dan tulus, yang tidak akan pernah mengekspresikan penghinaan terhadap doktrin Kristen dalam bentuk apapun, walaupun mungkin dalam hati mereka, sebenarnya mereka merasa demikian. Tetapi saya berbicara sejujurnya ketika saya mengatakan bahwa berdasarkan pengalaman-pengalaman pribadi saya, saya menyaksikan penghinaan terhadap berita Injil, dan hanya para Satanis dan orang Muslim-lah yang telah menunjukkan penghinaan yang amat sangat. Memang benar ada banyak agama dan sistem kepercayaan yang tidak sepakat dengan doktrin Kristen, bahkan banyak juga yang tidak percaya kepada Tuhan, namun hanya Islam sajalah agama yang eksistensinya adalah untuk menyangkali inti kepercayaan Kristen. Dan tentu saja, berdasarkan tuntunan Qur’an, ketiga doktrin tersebutlah yang paling sering mengalami serangan dan ejekan dari orang Muslim; yaitu doktrin trinitas, inkarnasi ilahi, dan kurban penebusan/penyaliban Yesus. Baru-baru ini saya membaca sebuah saran dari seorang Muslim dalam kelompok diskusi di internet melalui sebuah stiker: “Ketidakwarasan ilahi: Tuhan mati di kayu salib untuk menyelamatkan ciptaan-Nya sendiri dari murka-Nya sendiri”. Seorang teman Muslim bersikeras menggambarkan Yesus sebagai “roti lapis Tuhan-manusia”. Saya telah mengalami banyak tuduhan yang mengatakan bahwa oleh karena saya percaya pada Tuhannya orang Kristen yang ada dalam sejarah, maka saya tidaklah berbeda daripada seorang penyembah berhala kafir yang politeistis. Seringkali, orang mengatakan pada saya bahwa doktrin pengorbanan Yesus adalah sama kuno dan kafirnya dengan pengorbanan manusia bagi semacam “dewa gunung berapi”. Saya dituduh percaya kepada Tuhan yang adalah seorang “penyiksa anak yang sadis”. Saya telah melihat upaya-upaya untuk menyamakan kematian Yesus di atas kayu salib dengan pembom bunuh diri. Saya telah mengalami ejekan terhadap Tuhannya orang Kristen sebagai “vampir yang haus darah”.

Jika anda seorang Kristen dan anda mengasihi Tuhan, saya yakin pernyataan-pernyataan itu akan mendukakan anda sebagaimana itu juga telah mendukakan saya. Untuk itu saya mohon maaf karena telah menyebutkannya. Dengan memunculkan serangan-serangan ini atas iman kita, saya tidak bermaksud untuk membangkitkan perasaan-perasaan negatif terhadap orang Muslim. Saya sangat berharap anda tidak memiliki perasaan-perasaan itu! Alasan saya dengan mengemukakan contoh-contoh tersebut adalah untuk memperkenalkan anda dengan roh Anti Kristus yang keji itu, yang berdiam di dalam agama Islam, yang dimanifestasikan oleh banyak orang Muslim. Maka kita tidak boleh terkejut jika menemukan bahwa salah-satu deskripsi Anti Kristus adalah ia sangat suka menyampaikan hujatan keras terhadap Tuhan yang ada dalam Alkitab:
Raja itu akan berbuat sekehendak hati; ia akan meninggikan dan membesarkan dirinya terhadap ... Tuhan yang mengatasi segala sesembahan.
Daniel 11:36a

Ia akan mengucapkan perkataan yang menentang Yang Mahatinggi, dan akan menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi.
Daniel 7:25a

Qur’an sendiri mengekspresikan hujatan-hujatan seperti itu. Sebagai seorang yang senantiasa berdialog dengan banyak Muslim dari seluruh dunia, saya dapat menyaksikan bahwa roh Anti Kristus yang keji yang kita lihat terekspresi dalam kutipan-kutipan Qur’an, seringkali berkembang menjadi penghinaan besar dan pelecehan bukan hanya terhadap iman Kristen, namun juga terhadap orang-orang Kristen itu sendiri. Walaupun ini tidak selalu menjadi permasalahannya, haruskah kita terkejut ketika Muslim bersikap menentang mereka yang terang-terangan dikutuk Qur’an sebagai para penghujat kafir yang menyembah berhala? Dan jika kita bersikap realistis, haruskah kita mengharapkan masa depan Islam diberikan kepada orang-orang Muslim itu yang telah menyatu dengan ejekan Qur’an terhadap orang Kristen, atau ejekan bagi mereka yang menunjukkan sikap persahabatan terhadap orang-orang Kristen tanpa memperdulikan kutukan-kutukan yang ada dalam kitab suci mereka?

Pada akhirnya, apakah Islam itu secara spesifik adalah sistem Anti Kristus yang dinubuatkan Alkitab atau tidak? Tidak diragukan lagi bahwa (Islam) inilah agama kedua terbesar di dunia dan yang sangat cepat pertumbuhannya, yang sejak kelahirannya merupakan intisari Roh Anti Kristus yang sudah diperingatkan oleh Rasul Yohanes kepada kita.

Pasal 11 - Natur Gelap Wahyu-Wahyu Muhammad

Kita memulai pengujian kritis terhadap Islam dengan pribadi Muhammmad serta wahyu-yang ia sampaikan. Inilah awal dari segalanya. Jika menginginkan sebuah pengujian yang akurat terhadap roh Islam maka kita harus memulai dari fondasinya, kita harus menguji benihnya. Muhammad adalah pendiri Islam dan dipercaya oleh orang Muslim sebagai satu-satunya instrumen manusia yang “menerima” perkataan-perkataan Qur’an secara langsung dari Allah. Pasal ini akan mengulas natur dari pengalaman-pengalaman spiritual Muhammad yang mengawali karirnya sebagai seorang “nabi” dan melahirkan agama yang kini sedang menjadi perhatian dunia.

KELAHIRAN QUR’AN
Orang Muslim percaya ketika Muhammad menerima wahyu-wahyu yang kemudian dikompilasi menjadi Qur’an, ia menerimanya kata per kata, secara langsung dari Allah. Maka, Allah dipandang sebagai pengarang Qur’an yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, dalam membaca Qur’an seakan-akan Allah sendirilah yang sedang berbicara secara langsung kepada pembaca pertama. Muhammad semata-mata hanya dianggap sebagai seorang utusan, atau Rasul Allah (rasul-Allah).

Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang teolog Muslim, ”Sang nabi hanya bersikap pasif – bahkan tidak sadar: kitab ini bukan miliknya, juga bukan buah pikirannya, bukan bahasanya, juga bukan gayanya: kesemuanya itu adalah milik Allah, dan nabi hanyalah sebuah pena untuk menulis.1 Ini berbeda dengan pandangan Kristen mengenai natur inspirasi Alkitab. Menurut orang Kristen, Tuhan benar-benar menginspirasi para penulis Kitab Suci untuk menuangkan pikiran-pikiran dan perkataan-perkataan-Nya, namun setiap penulis juga memasukkan gaya dan kepribadian mereka masing-masing ke dalam naskah Kitab Suci. Tuhan menggunakan agen-agen manusia sebagai alat/bejana-Nya, tetapi secara literal Ia tidak mengesampingkan/meniadakan kemanusiaan mereka. Seperti yang akan kita lihat, ini bukanlah ciri wahyu-wahyu Muhammad.
Karen Armstrong, seorang penulis populer dan sangat bersimpati pada Islam dan Muhammad menuliskan peristiwa pertemuan pertama Muhammad dengan yang dipercaya oleh orang Muslim sebagai “malaikat” Gabriel (Jibril) di gua Hira:
“Muhammad terbangun dari tidurnya di dalam gua dan merasa dirinya diliputi oleh sebuah kehadiran ilahi yang menakutkan. Kemudian ia menjelaskan pengalaman yang tidak terlukiskan ini dengan mengatakan bahwa sesosok malaikat telah membungkusnya dengan sebuah dekapan yang mengerikan sampai-sampai ia merasa nafasnya ditarik keluar dari tubuhnya. Malaikat itu kemudian memberikan padanya sebuah perintah pendek: ‘iqra!’ ‘Bacalah!’ Muhammad memprotesnya karena ia tidak dapat membaca; ia bukanlah seorang kahin, salah seorang dari nabi-nabi besar Arab. Tetapi katanya, malaikat itu mendekapnya lagi, sampai ia merasa bahwa ia sudah tidak kuat lagi, ia mendapati bahwa perkataan-perkataan ilahi yang kemudian menjadi kitab suci itu terlontar dari mulutnya”.2

Kekeliruan Armstrong adalah karena ia tidak menyebutkan bahwa sebenarnya tidak sampai kali yang ketiga “malaikat” itu mencekik Muhammad, memerintahkannya untuk membaca, dan kemudian akhirnya ia melakukannya. Peristiwa ini sangat kontras dengan natur peristiwa-peristiwa ilahi dan penampakkan-penampakkan malaikat yang dicatat di dalam Alkitab, dimana para malaikat (atau Tuhan sendiri) hampir selalu memulai percakapannya dengan kata-kata yang menenteramkan, “Jangan takut!”. (Kejadian 15:1, 26:24, 46:3, Daniel 8:15-19, 10:12,19, Matius 28:5,10, Lukas 1:13, Lukas 1:26-31, 2:10, Wahyu 1:17).
Mestinya kita tidak terkejut jika kemudian kita menemukan bahwa setelah pengalaman Muhammad yang menakutkan dan keji dengan roh itu di dalam gua, ia sangat percaya bahwa ia dirasuk setan. Muhammad menjadi sangat ketakutan dan bahkan ia ingin bunuh diri. Berdasarkan biografi awal Muhammad oleh Ibn Ishaq yang sangat terkenal itu, yang diterjemahkan oleh Guillame, sirat-rasul, kita bisa baca:
“Lalu saya (Muhammad) membacanya, dan ia (Gabriel) pergi dari saya. Dan saya terbangun dari tidur, dan sekan-akan kata-kata itu tertulis dalam hati saya...Kini tidak satupun dari ciptaan-ciptaan Tuhan yang lebih membenci saya daripada penyair atau seorang yang dirasuk: saya bahkan tidak sanggup memandang mereka. Pikirku, “Celakalah aku karena telah dirasuk – tidak seorang Quraysh (suku dan kerabat Muhammad) pun boleh berkata tentang hal ini mengenai saya! Saya akan pergi ke puncak gunung dan menjatuhkan diri ke bawah supaya saya mati dan mendapat ketenangan”. Lalu saya pergi untuk berbuat demikian dan ketika saya sudah setengah jalan di gunung itu, saya mendengar suara dari surga yang berkata “Wahai Muhammad! Engkau adalah rasul Allah dan aku adalah Gabriel”. 3

Penyebutan “penyair atau dirasuk” berasal dari anggapan orang-orang Arab pada jaman Muhammad bahwa para penyair menciptakan puisi-puisi mereka berdasarkan inspirasi yang mereka dapatkan dari roh-roh jahat. At-Tabari, salah-seorang sejarawan Islam mula-mula yang sangat dihormati mengatakan, “Orang Arab pada jaman pra Islam percaya pada puisi-puisi karya roh jahat, dan mereka beranggapan bahwa sebuah puisi yang masyur diinspirasikan langsung oleh roh-roh jahat...” 4
Setelah pengalaman yang mengerikan itu, Muhammad kembali kepada Khadijah istrinya. Muhammad masih sangat ketakutan karena peristiwa itu:
“Lalu Rasul Allah kembali dengan inspirasi, otot-otot lehernya terpelintir karena ketakutan hingga ia bertemu dengan Khadija dan berkata, “Tutupi aku! Tutupi aku!” Mereka mnyelimutinya sampai ketakutannya sirna lalu ia berkata, “O Khadija, ada apa dengan saya?” Kemudian ia menceritakan pada istrinya segala sesuatu yang telah terjadi dan berkata, “Saya takut sesuatu akan terjadi pada saya”. 5

Tetapi bukan hanya Muhammad yang beranggapan bahwa roh-roh jahat adalah sumber semua wahyunya, namun banyak orang pada jaman Muhammad juga percaya bahwa pengalaman-pengalamannya dalam menerima wahyu adalah pengalaman demonis dan bahwa ia dirasuk setan. Qur’an mencatat tuduhan-tuduhan berikut terhadap Muhammad:

“Kemudian mereka berpaling daripadanya dan berkata: Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi pula seorang yang kerasukan!” Sura 44:14 (Yusuf Ali).

“Dan mereka berkata: ‘apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair yang kerasukan?” Sura 37:36 (Yusuf Ali).

Nampaknya adalah penting bagi Allah untuk membela Muhammad dan menanggapi kritik-kritik yang ditujukan terhadap Muhammad dalam Qur’an itu sendiri:
“Dan temanmu (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang gaib. Dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan Setan yang terkutuk”. Sura 81:22-25.

“Dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam”. Sura 69:41-43.

Maka kemudian tidaklah mengejutkan jika setelah membaca komentar-komentar yang ditujukan terhadap Muhammad oleh orang-orang sejamannya, juga setelah mempelajari natur dari pengalaman-pengalaman pemahyuan Muhammad, banyak sarjana yang menjadi yakin bahwa Muhammad menderita epilepsi dan juga sekaligus kerasukan Setan.6 Setelah mendiskusikan beberapa manifestasi spesifik dari pengalaman-pengalaman Muhammad, John Gilcrest, seorang penulis Kristen dari Afrika Selatan dan seorang pakar Islam, menyimpulkan analisanya mengenai berbagai fenomena fisik yang menyertai pengalaman-pengalaman pewahyuan Muhammad sebagai berikut:
“Penting diperhatikan bahwa seseorang dapat mengalami jenis kejang yang berbeda yang hampir mirip dengan epilepsi. Dalam masa pelayanan Yesus seorang anak laki-laki yang ‘menderita epilepsi’ pernah dibawa kepada-Nya (Matius 17:15) dan ia mengalami gangguan-gangguan ekstrim epilepsi (kadang ia terjatuh, menggelepar, dan tidak dapat berbicara). Namun tidak diragukan lagi bahwa epilepsi seperti ini bukanlah jenis biasa tetapi bersifat demonis, dan ada tiga catatan mengenai insiden itu (dalam Matius 17, Markus 9, dan Lukas 9) yang menceritakan bagaiamana Yesus mengusir roh jahat itu keluar dari anak itu, dan Yesus menyembuhkannya. Tanpa bermaksud menghakimi Muhammad, hendaknya disimpulkan bahwa orang yang terikat pengaruh-pengaruh okultis akan mengalami kejang-kejang mirip dengan epilepsi yang akan terjadi selang beberapa waktu, alih-alih menyebabkan kehilangan ingatan, akan mempunyai dampak sebaliknya dan meninggalkan kesan-kesan yang kuat dalam benak penderita. Di seluruh dunia, para misionaris menjumpai kasus-kasus yang persis sama dengan kasus diatas. Sampai dengan hari ini. Fenomena seperti ini bukanlah hal yang asing bagi para mistikus ekstatis Timur dan seringkali diceritakan.” (7).

Jadi, sementara Rasul Petrus menggambarkan pengalaman para penulis naskah-naskah Alkitab dengan menyebut mereka sebagai orang-orang yang “menjadi jurubicara Tuhan” dan bahwa mereka “digerakkan oleh Roh Kudus” (2 Petrus 1:21), pengalaman Muhammad lebih bersifat langsung, ekstatis dan gelap. Penting diperhatikan bahwa tidak satupun nabi-nabi dalam Alkitab yang pernah mempertanyakan sumber dari wahyu-wahyu yang mereka terima. Pengalaman Muhammad jauh lebih mirip dengan pengalaman seorang spiritis atau orang yang menjadi pengantara/medium roh-roh jahat daripada pengalaman nabi-nabi dalam Alkitab.

FENOMENA ANEH LAINNYA
Pengalaman spiritual Muhammad yang menakutkan tidak berakhir dengan contoh-contoh di atas. Pada kesempatan lain, Muhammad “disihir”, yang diyakininya pada waktu itu ia sedang berhubungan seksual dengan istri-istrinya, sedangkan sesungguhnya ia sedang tidak melakukan hal itu. Guillame mencatat ada seorang sarjana Muslim mengatakan bahwa mantra yang menguasai Muhammad menyihirnya selama setahun. Episode kehidupan Muhammad didokumentasikan dengan baik dalam tradisi-tradisi sakral Islam.
“Berkatalah Aisha (salah seorang istri Muhammad): ‘Sihir telah menguasai Rasul Allah sehingga ia mengira ia telah berhubungan badan dengan istri-istrinya padahal ia tidak melakukannya’”. 8

Potongan kisah hidup Muhammad yang aneh ini semestinya cukup memberi jeda (untuk berpikir/meragukan) kepada setiap orang yang percaya bahwa Muhammad adalah nabi Tuhan sejati – bahwa ia bukanlah nabi yang terbesar dari semua nabi, sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang Muslim. Kita hanya dapat menyimpulkan bahwa saat mengalami keadaan delusi seperti itu, sesungguhnya Muhammad benar-benar dirasuk Setan atau juga sekaligus tengah sakit parah. Berdasarkan penampakkan-penampakkan okultis yang mendasari awal pengalaman-pengalaman “pewahyuan” Muhammad, tidaklah sulit untuk menyimpulkan apakah seseorang mengalami pengalaman spiritual yang benar. Sudah barang tentu kontras yang terlihat disini terasa begitu tajam saat kita melihat kehidupan Yesus, yang sama sekali tidak dikuasai oleh bentuk-bentuk pengaruh kekuatan demonis apapun, melainkan Yesus telah membebaskan banyak orang dari keterikatan/penindasan oleh roh-roh jahat.

KESIMPULAN
Sebagai penilaian akhir, kita melihat bahwa wahyu-wahyu Muhammad – yang merupakan benih bagi perkembangan Islam, dimulai di tengah-tengah perjumpaan yang gelap dan keji dengan sesosok makluk spiritual di gua Hira. Kita juga telah melihat bahwa hidup Muhammad terdiri dari periode-periode dengan pengalaman-pengalaman delusi yang serius atau juga keterikatan/penindasan spiritual yang nyata. Dimensi kehidupan Muhammad inilah yang harus diperhatikan saat kita mengembangkan tema yang lebih besar dalam buku ini. Juga, ketika berupaya menguji sumber spiritual utama Islam, penting bagi kita untuk tidak hanya memperhatikan natur gelap dari benih awal yang daripadanya Islam berkembang, tetapi lebih daripada itu visinya yang utama mengenai masa depan – yaitu “buahnya” yang sangat matang. Wahyu-wahyu demonis dan bertentangan dengan Alkitab yang dimulai di gua Hira mencapai kulminasinya dengan membunuh semua orang Yahudi, Kristen dan non-Muslim di seluruh dunia.

Pasal 10 - Kembalinya Kerajaan Anti Kristus Islam

Banyak informasi yang telah kita bahas sebelumnya merupakan informasi yang cukup menarik, terutama jika Islam memang merupakan kendaraan utama yang akan digunakan Setan untuk menggenapi perlawanannya yang terakhir terhadap Tuhan Alkitab, yang namaNya adalah YAHWEH (Lihat: Keluaran 3:15, Yesaya 42:8, terjemahan Indonesian Literal Translation). Oleh sebab itu, kita harus menggunakan Alkitab sebagai alat uji utama. Apa yang dikatakan Alkitab mengenai sifat dan munculnya Kerajaan Anti Kristus?

Alkitab dipenuhi dengan bukti-bukti bahwa Kerajaan Anti Kristus hanya akan terdiri dari bangsa-bangsa yang pada hari ini menganut Islam. Jika seseorang hendak melakukan studi mengenai semua contoh yang diperlihatkan oleh dnabi-nabi Yahudi, maka diperlukan penyelidikan yang sangat mendalam. Akan tetapi, untuk mempersingkat, dan demi tujuan kita di sini, kami hanya akan menyajikan argumen-argumen terbatas berdasarkan Alkitab dari Kitab Yehezkiel dan Wahyu. Terlepas dari berbagai argumen umum yang dibuat mengenai kebangkitan kembali Kerajaan Romawi di Eropa sebagai dasar kekuatan Anti Kristus, kita akan melihat dengan cukup jelas hari ini bahwa bangsa-bangsa yang disebutkan Alkitab dimana mereka akan membentuk Kerajaan Anti Kristus, merupakan bangsa-bangsa Muslim. Sangat sederhana. Fakta ini hanya memberi dua pilihan kepada kita. Pilihan pertama adalah mengasumsikan bahwa sebelum kedatangan Anti Kristus, banyak bangsa-bangsa yang Islami akan mengalami transformasi besar-besaran dan meninggalkan akar Islam mereka.

Namun masalah dengan pilihan ini: meskipun ada banyak laporan bahwa ada banyak orang Muslim yang secara individual mengikuti Yesus di seluruh dunia Islam, tidak ditemukan banyak tanda-tanda konkret yang menunjukkan bahwa bangsa-bangsa itu meninggalkan akar Islam mereka dalam skala yang luas. Pada kenyataannya, banyak bangsa yang kita lihat saat ini tengah mengalami kebangkitan Islam Fundamentalis yang menyapu bersih tanahnya. Meski demikian, selama bertahun-tahun saya telah mendengar pengajar-pengajar Alkitab mengungkapkan bahwa pada kedatangan hari terakhir, Islam sebagai sebuah agama, akan gagal dan menjadi tidak relevan. Kecenderungan statistik saat ini, untuk jangka panjang tidak mendukung pendapat itu.

Pilihan lainnya yang jauh lebih masuk akal adalah, dengan menyimpulkan bahwa Kerajaan Anti Kristus yang akan datang memang merupakan sebuah kerajaan Islam. Maka Fakta bahwa Islam akan mendominansi semua bangsa yang berpartisipasi dalam Kerajaan Anti Kristus seharusnya cukup untuk membuat para cendekiawan dan mahasiswa Alkitab yang mempelajari eskatologi untuk setidaknya memikirkan dengan serius peranan Islam di hari-hari terakhir.

Pada bab ini kita akan melihat bangsa mana yang dikatakan Alkitab akan menjadi pemain utama dalam kerajaan akhir jaman Anti Kristus.

Identifikasi dari Yehezkiel
Nabi Yehezkiel sesungguhnya membuat daftar bangsa-bangsa dari kerajaan terakhir ini secara spesifik, ketika dia menubuatkan serangan Kerajaan Anti Kristus melawan Israel di masa yang akan datang. Di pasal ke-38, Yehezkiel mulai dengan menunjuk langsung Anti Kristus yang disebut Tuhan dengan nama yang tak biasa, “Gog.” Nama Gog adalah gelar khusus penguasa Magog. Ini bisa disamakan dengan Firaun dengan Mesir. Firaun adalah gelar kuno yang khusus dipakai bagi para penguasa Mesir, dan “Gog” adalah gelar khusus bagi wilayah Magog.

Datanglah firman YAHWEH kepadaku: "Hai anak manusia, tujukanlah mukamu kepada Gog di tanah Magog, yaitu raja agung negeri Mesekh dan Tubal dan bernubuatlah melawan dia dan katakanlah: Beginilah firman YAHWEH Elohim: Lihat, Aku akan menjadi lawanmu, hai Gog raja agung negeri Mesekh dan Tubal. Aku akan menarik engkau dengan mengenakan kelikir pada rahangmu dan membawa engkau ke luar beserta seluruh tentaramu, yaitu pasukan berkuda, semuanya berpakaian lengkap, suatu kumpulan orang banyak dengan perisai besar dan kecil dan semuanya berpedang di tangannya. Orang Persia, Etiopia, dan Put menyertai mereka dan semuanya dengan perisai dan ketopong; orang Gomer dengan seluruh bala tentaranya, Bet-Togarma dari utara sekali dengan seluruh bala tentaranya, banyak bangsa menyertai engkau. Bersedialah dan bersiaplah engkau dengan semua kumpulan orang yang menggabungkan diri dengan engkau dan jadilah pelindung bagi mereka.
Yehezkiel 38:1-7

Saya mendorong anda untuk membuka Alkitab anda, dan secara perlahan-lahan membaca seluruh pasal 38 dari Kitab Yehezkiel. Hal khusus yang dideskripsikan Yehezkiel mengenai negara Israel modern cukup mengejutkan. Ketika menubuatkan Anti Kristus, Yehezkiel berkata, “Pada hari yang terkemudian engkau akan datang di sebuah negeri yang dibangun kembali sesudah musnah karena perang, dan engkau menuju suatu bangsa yang dikumpulkan dari tengah-tengah banyak bangsa di atas gunung-gunung Israel yang telah lama menjadi reruntuhan.” Israel digambarkan sebagai, “reruntuhan-reruntuhan yang sudah didiami kembali dan menyerang umat-Ku yang dikumpulkan dari tengah bangsa-bangsa. Mereka sudah mempunyai ternak dan harta benda.” Dengan jelas Yehezkiel sedang menggambarkan Israel modern saat ini.

Jadi Yehezkiel memberikan kita nama-nama spesifik dari negara yang akan terlibat dalam invasi Israel yang akan dipimpin oleh Gog. Mereka adalah Magog, Mesekh, Tubal, Persia, Kus, Put, Gomer, dan Bet-Togarmah, juga “banyak bangsa yang menyertai mereka.”

Apakah Gog adalah Anti Kristus?
Ada perbedaan pendapat di antara para pengajar eskatologi dan ahli Alkitab mengenai identifikasi Gog dan koalisinya. Selama beberapa puluh tahun terakhir ini kebanyakan berpendapat bahwa pasukan bangsa-bangsa yang akan melakukan invasi dalam Yehezkiel 38-39, bukanlah pasukan Anti Kristus, akan tetapi pasukan lain yang akan dipimpin oleh seorang pemimpin dunia lain. Saya secara pribadi menolak gagasan bahwa Gog bukanlah Anti Kristus. Ada sebuah buku kecil yang mempelajari berbagai alasan ini, akan tetapi untuk sekarang, kita hanya akan secara singkat mempelajari alasan-alasan utama mengapa saya berpikir bahwa Gog sungguh merupakan Anti Kristus itu sendiri.

Kau Tidak Akan Mengenal Gog yang Lain
Berikut ini adalah penyebutan Gog dan Magog dalam Alkitab. Gog tidak hanya disebutkan dalam Yehezkiel tetapi juga dalam Kitab Wahyu. Mari kita lihat perikop dari Wahyu:
Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya,dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut. Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka, dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.
Wahyu 20:7-10

Bahkan setelah pemerintahan seribu tahun Kristus di Yerusalem, Alkitab berkata bahwa sebuah pasukan lain akan dibentuk untuk menyerang kota suci Yerusalem. Sekali lagi, pemimpin pasukan ini disebut Gog dan pasukannya adalah Magog. Mereka yang berpendapat bahwa Gog bukanlah Anti Kristus harus bertarung hebat melawan kenyataan bahwa “Gog” ini dan pasukannya dibangkitkan selama setidaknya seribu tahun setelah Gog yang pertama. Hal ini merupakan suatu hal yang sulit. Dengan jelas, “Gog dan Magog” yang pertama tidak hanya sekedar berbagi nama dengan “Gog dan Magog” yang kedua. Ada sebuah korelasi antara kedua hal itu daripada sekedar gelar saja. Mereka yang melihat Gog dan Anti Kristus sebagai dua hal yang berbeda harus mampu menjelaskan persamaan tugas antara Gog dalam Yehezkiel dan Gog dalam Wahyu, daripada sekedar nama.
Sesungguhnya, untuk meramalkan siapakah Gog, yang harus dilakukan adalah melihat siapakah Anti Kristus. Anti Kristus adalah, sederhananya, inkarnasi Setan – atau setidaknya yang sama dengan Setan. Perikop-perikop yang membicarakan Setan sama denganAnti Kristus seolah-olah mereka adalah satu dan sama (Misalnya dalam Yesaya 14). Seperti yang telah kita lihat, Setan bahkan akan berbagi kekuasaan dengan Anti Kristus. Secara sederhana telah dinyatakan, Anti Kristus adalah boneka Setan yang akan digunakan untuk menyerang Yerusalem. Dan setidaknya dalam Kitab Wahyu, Gog juga merupakan boneka Setan yang akan bertugas dengan tujuan yang sama. Dalam peran dan fungsinya, Anti Kristus dan Gog dalam Kitab Wahyu pada dasarnya adalah sama. Bahkan ketika Setan membangkitkan seorang manusia untuk melaksanakan pekerjaannya pada hari-hari mendatang, Setan akan membangkitkan pula seorang manusia untuk melaksanakan perlawanan terakhirnya melawan Tuhan sekali lagi pada akhir Milenuim. Pada kedua waktu itu, pemimpin perlawanan Setan melawan Yerusalem merujuk Gog dan pasukannya yang bernama Magog. Mengapa kita harus memandang karakter dasar Gog yang pertama berbeda dengan Gog yang kedua? Mereka yang memandang Gog dalam Yehezkiel sebagai pesaing dari Anti Kristus akan menemukan diri mereka sendiri sedang mengemukakan pendapat yang tidak konsisten.
Akan tetapi, bila Anda belum juga yakin, pikirkanlah poin kedua ini. Yehezkiel mengatakan secara khusus mengenai Gog, bahwa para nabi telah membicarakan tentang Dia pada masa lampau:
Beginilah firman YAHWEH Elohim: Engkaulah itu tentang siapa Aku sudah berfirman pada hari-hari dahulu kala dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, yaitu nabi-nabi Israel, yang bertahun-tahun bernubuat pada waktu itu, bahwa Aku akan membawa engkau melawan umat-Ku.
Yehezkiel 38:17

Pertanyaan yang harus ditanyakan adalah, jika Gog dan Magog dibicarakan oleh nabi-nabi Israel hingga Yehezkiel, maka di mana referensi mereka? Seseorang akan sangat sulit untuk menemukannya kecuali melakukan penyelidikan Alkitab yang sangat serius. Akan tetapi bila kita mengambil posisi di mana Gog adalah Anti Kristus, maka akan sangat mudah untuk menemukan perikop-perikop mengenai Anti Kristus dan pasukan invasinya di seluruh nubuatan para nabi.
Sementara ada berbagai argumen yang sangat bagus untuk mendukung gagasan ini, saya akan mengasumsikan bahwa hal ini sudah cukup untuk meneruskan. Gog dan Anti Kristus adalah satu sosok yang sama. Sekarang mari kita lihat bangsa-bangsa yang akan membentuk koalisi Gog.

Rosh?
"Hai anak manusia, tujukanlah mukamu kepada Gog di tanah Magog, yaitu raja agung negeri Mesekh dan Tubal dan bernubuatlah melawan dia
Yehezkiel 38:2

Beberapa terjemahan Alkitab memiliki penafsiran yang berbeda mengenai bagian ayat yang mengatakan “raja agung.” Dalam Bahasa Ibrani, kata yang diterjemahan menjadi “raja agung” adalah “rosh.” Permasalahannya adalah sementara rosh dapat berarti “raja,” atau “kepala,” beberapa orang berpendapat bahwa kata itu harus dianggap sebagai sebuah kata benda, merujuk nama tempat. Mereka yang merasa bahwa kata itu nama tempat, menggunakan kata “Rosh” untuk menyimpulkan Rusia sebagai bangsa yang disebut di situ. Dasar untuk meyakini hal ini terutama karena persamaan bunyi kedua kata tersebut. Pendapat ini juga didukung oleh kenyataan bahwa Yehezkiel secara khusus mengatakan bahwa Gog akan datang dari Utara. Memang, Rusia berada tepat di atas Israel, namun interpretasi kata Rusia ini merupakan sebuah prinsip yang tidak tepat. Seseorang tidak bisa langsung mengambil kata-kata yang berasal dari bahasa Semit kuno (dalam kasus ini, Ibrani), dan membuat korelasi dengan sebuah nama modern dari bahasa yang sangat berbeda (dalam kasus ini adalah bentuk awal Skandinavia), hanya karena kedua kata tersebut memiliki “kemiripan bunyi.”

Kata Ibrani “rosh” digunakan lebih dari 500 kali dalam kesempatan yang berbeda dalam Alkitab dan setiap kali selalu diinterpretasikan sebagai “kepala, pemimpin, atas, terbaik,” atau sesuatu yang mirip. Kata itu sama dengan yang digunakan dalam Rosh Hashana – “Kepala Tahun” – Tahun Baru Yahudi. Juga pertimbangkanlah: dari delapan nama bangsa yang disebutkan, hanya satu yang bukan merupakan keturunan Nuh. Bangsa itu adalah Persia. Persia pada masa Yehezkiel merupakan bangsa yang sangat terkenal, merupakan penguasa Kerajaan Media-Persia yang memerintah di seluruh Timur Tengah. Bandingkanlah dengan Rusia, yang saat itu bahkan tidak ada pada masa Yehezkiel. Untuk menempelkan “Rosh” pada nama yang bercampur-baur tanpa bukti, yang bukan merupakan keturunan Nuh, dan juga bahkan bukan sebuah bangsa; maka hal itu merupakan suatu kekeliruan. Seperti yang diakui ahli Alkitab Dr. Merrill F. Unger, “Bukti linguistik untuk persamaan (antara Rosh dan Rusia) diakui hanyalah sebuah asumsi yang berlebihan.”1
Selama Perang Dingin, tentu saja pendapat ini sangatlah terkenal. Alasannya adalah bahwa Rusia adalah “kepala” Komunis (ateis) Uni Soviet, maka kerajaan Anti-Tuhan merupakan penggenapan nubuatan Alkitab. Namun kita harus berhati-hati untuk tidak menggunakan asumsi kita atau kejadian-kejadian dunia modern ke dalam Alkitab. Kita harus mengijinkan Alkitab itu berbicara. Sayangnya, banyak guru Alkitab tetap berpegang teguh pada penafsiran ini. Gagasan bahwa Rusia secara khusus disebutkan dalam Kitab Yehezkiel merupakan sesuatu yang berlebihan, dan tentunya tidak boleh dianggap lebih dari sekedar spekulasi yang dibangun di atas fondasi yang lemah.

Koalisi Keinginan Setan
Sekarang marilah kita mengidentifikasikan bangsa-bangsa yang telah disebutkan. Secara spesifik, dari kedelapan bangsa itu: Magog, Mesekh, Tubal, Persia, Kus, Put, Gomer, dan Togarmah, ketujuhnya disebut dalam Kitab Kejadian sebagai keturunan Nuh dan ketiga anaknya. Para ahli Alkitab dan sejarahwan dapat melacak nama-nama keturunan Nuh pada kelompok orang dan daerah tertentu dan kemudian mengidentifikasikan nama bangsa itu dalam dunia modern. Meskipun identifikasi bangsa ini masih mengundang perdebatan, ada ukuran umum di antara ahli Alkitab untuk mencapai kesepakatan dalam mengidentifikasikan bangsa-bangsa itu.

Mesekh dan Tubal
Mengenai Mesekh dan Tubal, sekali lagi, kita menemukan beberapa pengajar eskatologi menyimpulkannya sebagai Rusia. Banyak guru nubuatan mendasarkan pendapat mereka ini terutama pada kenyataan bahwa Scofield Study Bible mengidentifikasikan kedua “bangsa” ini berkorelasi dengan dareah-daerah Rusia modern, Moskow dan Tobolsk. Permasalahannya adalah, sekali lagi penafsiran ini datang dari kesamaan bunyi : Mesekh-Moskow, dan Tubal-Tobolsk. Meskipun hal ini bisa terlihat meyakinkan, kelemahan dari alasan ini telah didikusikan di atas. Sekali lagi, kecuali kita bisa melacak akar kata itu ke Bahasa Ibrani, maka argumen itu hanyalah bertumpu pada bukti yang lemah. Hal itu seperti memaksakan kepingan puzzle ke tempat yang tidak tepat.
Mark Hitchcock, seorang pengajar Alkitab terkemuka, secara akurat menunjuk bahwa Mesekh dan Tubal yang disebutkan dalam Yehezkiel 27:13 merupakan mitra dagang Tirus kuno. Tirus adalah Lebanon saat ini. “Sangatlah diragukan,” kata Hitchcock, “bahwa Tirus kuno melakukan perdagangan dengan orang-orang sejauh Moskow dan Tobolsk.” Pada kenyataannya, dipertanyakan apakah daerah ini dihuni pada masa Yehezkiel. Hitchcock menyimpulkan:
Sebuah studi yang lebih mendalam mengenai nama-nama ini mengungkapkan bahwa Mesekh dan Tubal dulunya adalah orang-orang Moschi/Mushki dan Tubalu/Tibareni yang terutama berdiam di daerah selatan Laut Hitam dan Kaspia pada jaman Yehezkiel. Bangsa-bangsa itu saat ini adalah negara Turki modern, kemungkinan bagian selatan Rusia dan utara Iran.2

Mesekh terletak di dekat tempat yang bernama Phrigia, di Asia Kecil bagian tengah dan Barat, sementara Tubal terletak di bagian Timur Asia Kecil. Jadi bersamaan dengan Mesekh dan Tubal, kita tengah membicarakan sebagian dari negara Turki modern. Hari ini, daerah itu didominasi oleh Islam. Meskipun Turki modern telah melakukan sekularisasi yang drastis pada satu abad terakhir, namun hanya dalam beberapa tahun terakhir ada kecenderungan yang kendati hampir tidak terdengar, namun cukup kuat dimana mereka sedang kembali kepada identitas Islam.3

Magog
Mengenai identitas Magog, ada beberapa perbedaan pendapat di antara pangajar Alkitab dan sejarahwan. Merujuk pada orang-orang Magog (Magogites), The Matthew Henry Commentary on the Whole Bible berbicara tentang perbedaan pendapat ini:
Beberapa orang berpikir mereka menemukannya (Gog dan Magog) di daerah Scythia, Tartary, dan (bagian selatan) Rusia. Beberapa orang lainnya berpikir mereka menemukannya lebih dekat ke arah Israel, di Syria, dan Asia Kecil (Turki).4

Mereka yang berpegang pada Scythia memegang argumen kuat mereka dari sebuah referensi yang dibuat sejarahwan Yahudi kuno bernama Yosephus yang menulis, “Magog mendirikan Magogian; dengan demikian menamakannya sesuai dengan namanya. Akan tetapi oleh orang Yunani mereka disebut Sythians.” Hitchcock menulis mengenai Sythians ini:
Sythians kuno adalah suku nomad besar yang mendiami teritorial Asia Tengah sepanjang bagian selatan Rusia. Para keturunan Magog merupakan penghuni asli dataran tinggi Asia Tengah. Saat ini tanah Magog didiami oleh bekas Uni Soviet, yaitu Kazakhstan, Kyrgystan, Uzbekistan, Turkmenistan, Tajikistan, dan mungkin sebagian dari utara Afghanistan saat ini.5

Mantan Muslim Walid Shoebat menyetujuinya. Shoebat mengatakan:
The Schaff-Herzor Encyclopedia of Religions Knowledge, menunjuk pada tulisan-tulisan kuno bangsa Asyria, menempatkan lokasi Magog pada tanah luas di antara Armenia dan Media – singkatnya, bagian selatan republik Rusia dan utara Israel, terdiri dari Azerbaijan, Afghanistan, Turkestan, Chechnya, Turki, Iran, dan Dagestan. Yang menyolok di sini, kesemuanya adalah bangsa-bangsa Muslim.6

Maka, meskipun nama bangsa-bangsa yang membentuk Magog masih bisa diperdebatkan, ada sebuah kesamaan yang dapat disepakati. Kita sedang membicarakan Asia Kecil, dan mungkin bagian dari Asia Tengah – yaitu beberapa daerah Selatan bekas Uni Soviet. Saat ini, Islam mendominasi wilayah itu.
Bagaimana bila kita mengambil penafsiran yang dibuat oleh beberapa ahli Alkitab yang mengatakan bahwa Magog adalah Syria? Bahkan meskipun demikian, kita masih menemukan sebuah bangsa Islam.
Akan tetapi kita memiliki kunci untuk mengidentifikasikan Magog yaitu, dengan mengidentifikasi Mesekh dan Tubal – sebagaimana yang telah kita lakukan. Dasarnya dari kata-kata Yehezkiel: “Gog, di tanah Magog, raja agung Mesekh dan Tubal.” Magog, adalah “kepala” tanah Mesek dan Tubal yang terletak di negara Turki saat ini. Maka akan sangat bodoh untuk mengasumsikan bahwa Magog sebagai “kepala” mereka berada di daerah yang jauh. Meskipun kelihatannya Magog adalah bagian dari Turki atau kumpulan negara “instan” bekas Uni Soviet; apakah hal itu berarti Syria atau bukan, kita jelas-jelas membicarakan tentang keberadaan Islam.
Poin ini adalah sesuatu yang penting. Karena sekarang kita tahu bahwa Gog – Anti Kristus – akan datang dari tanah Magog, yang dengan jelas merupakan wilayah Islam. Sangatlah tidak mungkin dia bukan seorang Muslim. Meskipun saya seharusnya memperhitungkan adanya kemungkinan lain, namun khususnya untuk jangka waktu yang sangat panjang adalah sangat sulit membayangkan seorang non-Muslim memerintah salah satu bangsa ini, atau setidaknya bukan orang yang secara lahiriah tampak sebagai seorang Muslim. Sekarang, mari kita lanjutkan untuk mengidentifikasikan negara koalisi Anti Kristus lainnya.

Persia
Persia sangat mudah untuk diidentifikasikan. Pada intinya, Persia modern adalah Iran. Banyak orang Iran tinggal di Amerika. Jika ditanya dari mana asal mereka, mereka akan menjawab bahwa mereka berasal dari Persia. Pada kenyataannya, Iran masih disebut Persia hingga 1935. Sudah jelas bahwa Iran merupakan negara Muslim. Meskipun ada beberapa tanda-tanda menakjubkan untuk terjadinya perubahan di Iran seiring dengan meningkatnya ketidakpuasan di antara kaum muda Iran, kelihatannya mayoritas Muslim Iran tidak akan meninggalkan akar Islam mereka dalam jangka waktu yang pendek ke depan.

Kus
Kus juga relatif mudah diidentifikasikan. Beberapa terjemahan Alkitab hanya menafsirkan Kus sebagai Etiopia, meskipun hal ini tidaklah akurat. Kus pada masa Yehezkiel lebih jauh ke barat laut dibandingkan Etiopia saat ini. Dalam Alkitab, Kus sering diasosiasikan dengan Mesir dan merupakan batas negara Mesir:

Tanah Mesir akan menjadi sunyi sepi dan menjadi reruntuhan. Dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah YAHWEH. Oleh karena engkau berkata: Sungai Nil aku punya, aku yang membuatnya, maka sungguh, Aku menjadi lawanmu dan lawan anak-anak sungaimu dan Aku akan membuat tanah Mesir menjadi reruntuhan dan menjadi sunyi sepi mulai dari Migdol (utara Mesir) sampai Siene (Aswan – saat ini selatan Mesir), bahkan sampai perbatasan tanah Etiopia (dalam bahasa asli: Cush-red).
Yehezkiel 29:9-10

Juga, salah satu karakteristik Kus adalah sungai-sungainya. (Yesaya 18:1)
Kelihatannya sebagai batas negara Mesir, sungai-sungai yang dimaksud adalah sungai-sungai yang mengairi Nil. Tentu saja, konteks masa Yehezkiel merupakan konteks yang paling tepat untuk menafsirkan tempat yang ditunjuk Yehezkiel. Jika kita melihat peta, Sungai Nil langsung mengalir menuju batas Selatan dari negara Sudan saat ini. Di negara Sudan, ada lima buah sungai yang menyatu mengairi Nil ke Utara. Identifikasi satu-satunya untuk Kus saat ini adalah negara Sudan, yang secara resmi bernama Republik Islam Sudan sejak 1989. Meskipun Sudan memiliki sejumlah besar minoritas Kristen, negara ini diperintah oleh mayoritas Muslim. Saat ini Sudan adalah sebuah negara yang sangat keras menindas orang-orang Kristen. Pemerintahan Sudan adalah pemerintahan Islam hingga ke pusatnya. Seperti yang dikatakan dengan akurat oleh Hitchcock, “Seseorang akan sulit menemukan musuh fanatik Israel dan dunia Barat selain Sudan.” Maka Sudan diidentifikasikan sebagai negara Islam yang berpartisipasi dalam Kerajaan Anti Kristus.

Put
Secara Alkitabiah, Put adalah wilayah di sebelah Barat Mesir. Hari ini wilayah itu adalah negara Libya. Septuaginta menerjemahkan kata Put ini sebagai Libue. Kebanyakan ahli Alkitab sepakat dengan interpretasi ini. Meski demikian, Shoebat menyertakan Algeria, Maroko, dan Tunisia bersama Libya. Namun bagaimana pun juga, sekali lagi kita mendapatkan wilayah yang secara keseluruhan adalah negara-negara Islam.

Gomer
Gomer, kelihatannya disepakati secara universal oleh akademisi, “merujuk Celtic Cimmerian dari Crim-Tartary.”8 Mengenai identitas Gomer, Pastor Gereja Baptis Zaspel, dengan akurat menunjuk bahwa:
Gomer pada jaman dulu dikenal sebagai Gimarrai dari utara Asia Tengah (Cappadocia). Orang-orang ini juga dikenal sebagai Cimmerian. Tampaknya, ini adalah tafsiran yang paling sederhana dan jelas.

Jadi Gomer adalah Gimarra, adalah Cimmeria, adalah Kappadokia. Kappadokia adalah Turki tengah. Sekali lagi, sebuah wilayah Islam.

Togarmah
Zaspel sekali lagi meringkas identitas Togarmah dengan cukup baik:

Togarmah adalah keturunan Nuh melalui Yafet kemudian Gomer (Kej 10:1-3). Dia dikenal oleh orang Asyria sebagai Tilgarimmu…Tilgarimmu adalah sebuah pusat kota di Anatolia Timur (Asia Kecil, Turki saat ini). Lebih spesifik, seperti yang diungkapkan Ryrie, “bagian Selatan Turki dekat perbatasan Syria.” Identifikasi ini telah diketahui oleh orang banyak.10

Sekali lagi kita mendapatan wilayah yang saat ini merupakan negara Turki.

Prediksi Mengenai Kedelapan Bangsa
Pada akhirnya kita telah memiliki lima dari delapan bangsa yang disebutkan oleh Yehezkiel yang mencakup negara Turki dan mungkin beberapa wilayah di Selatan Rusia dekat Gunung Kaukasus, juga beberapa suku bangsa Tukic di Asia Tengah. Secara jelas, Tuhan menuntun Yehezkiel untuk menggarisbawahi Turki. Tiga bangsa lain yang disebut: Libya, Sudan, dan Iran, bersama-sama dengan Turki membentuk lingkaran sempurna di sekeliling Israel. Turki menutupi sebelah utara Israel, sementara Iran di sebelah timur Israel, Sudan di bagian Selatan, dan Libya di sebelah Barat. Israel menemukan dirinya dikelilingi di ke-empat penjuru oleh bangsa-bangsa Kerajaan Anti Kristus yang bersifat Islami.
Meskipun selama bertahun-tahun banyak pengajar Alkitab meramalkan penyerbuan ke Israel akan dipimpin oleh Rusia, kita melihat bahwa Alkitab tidak mendukung pendapat itu. Kenyataannya, adalah adil untuk mengatakan bahwa seluruh argumen akan keterlibatan Rusia ini berdasarkan pada bukti ilmiah yang lemah dan sesungguhnya melanggar norma-norma linguistik yang paling dasar. Sebaliknya yang kita lihat adalah sebuah Invasi Islam terhadap Israel, kebanyakan dipimpin oleh Turki, yang melibatkan Iran, Libya, Sudan dan beberapa bangsa Islam lainnya. Meskipun selalu ada godaan untuk melihat nama-nama musuh dalam Alkitab, kita seharusnya hanya memikirkan apa yang dikatakan oleh Alkitab. Saat ini, tidak ada alasan mendesak untuk melihat Turki sebagai pemimpin kerajaan yang akan datang, meskipun inilah yang dinubuatkan oleh Yehezkiel. Dan seperti yang akan kita lihat, hal ini ditegaskan di bagian lain Alkitab.

Siapakah Kerajaan Ketujuh dan Kedelapan?
Sebelum kita mulai, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang telah memberikan kontribusi besar dalam pemahaman mengenai isu ini. Namanya adalah Walid Shoebat. Dia adalah seorang mantan teroris Palestina dan merupakan penulis ­Why I Left Jihad. Saya sangat merekomendasikan buku ini, buku tersebut dapat dipesan melalui situsnya www.shoebat.com.
Selain identifikasi bangsa-bangsa di Yehezkiel 38 sebagaimana sudah dijelaskan di atas, Kitab Wahyu juga menegaskan gagasan bahwa memang wilayah Turki akan menjadi kepala Kerajaan Anti Kristus. Mari kita melihat perikop-perikop dari Kitab Wahyu itu:
Dan aku melihat seorang perempuan duduk di atas seekor binatang yang merah ungu, yang penuh tertulis dengan nama-nama hujat. Binatang itu mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk.
Wahyu 17:3

Di sini kita melihat “binatang” terakhir Kerajaan Anti Kristus. Binatang itu memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk. Kita telah mengetahui dari Kitab Daniel bahwa kesepuluh tanduk menunjuk pada sepuluh bangsa atau raja yang akan membentuk Kerajaan Anti Kristus. Namun ketujuh tanduk di kepala juga merupakan tujuh kerajaan yang telah ada dalam sejarah, dan memperlihatkan bayangan akan kedatangan kerajaan terakhir. Seperti biasa, ketika ada nubuatan yang diberikan oleh Alkitab yang di dalamnya memuat simbol-simbol yang sulit untuk dimengerti, Alkitab melakukan klarifikasi mengenai simbol itu, dan menjelaskan perikop itu kepada kita:
Yang penting di sini ialah akal yang mengandung hikmat: ketujuh kepala itu adalah tujuh gunung, yang di atasnya perempuan itu duduk, ketujuhnya adalah juga tujuh raja: lima di antaranya sudah jatuh, yang satu ada dan yang lain belum datang, dan jika ia datang, ia akan tinggal seketika saja. Dan binatang yang pernah ada dan yang sekarang tidak ada itu, ia sendiri adalah raja kedelapan dan namun demikian satu dari ketujuh itu dan ia menuju kepada kebinasaan.
Wahyu 17:9-11

Sekarang ketujuh kepala itu disebut tujuh gunung. Alkitab sering menggunakan kata gunung sebagai simbol yang menunjukkan sebuah kerajaan atau kekaisaran. Namun yang terpenting, pasal ini memberikan kita pandangan akan kenyataan bahwa sebelum Yesus kembali, sesungguhnya akan ada delapan kerajaan “Binatang.” Kerajaan ke-8 akan dipimpin oleh Anti Kristus. Bagaimana bisa bacaan ini memberi kita pandangan akan identikasi Kerajaan Anti Kristus yang Terakhir? Pertama-tama, kita bisa melihat bahwa pada waktu Yohanes menulis ini, lima kerajaan telah jatuh. Seperti ungkapan yang kita lihat, “”lima di antaranya sudah jatuh.” Urutan kerajaan-kerajaan ini biasanya diterima oleh pengajar-pengajar Alkitab sebagai berikut:
Kerajaan Mesir
Kerajaan Asyur
Kerajaan Babilonia
Kerajaan Persia
Kerajaan Yunani

Setelah kelima kerajaan ini, malaikat mengatakan kepada Yohanes bahwa satu kerajaan akan “ada.” Pada waktu Yohanes menulis Kitab Wahyu, Roma “telah ada.” Kerajaan itu memerintah Timur Tengah, Afrika Utara, dan sebagian besar Eropa. Maka kerajaan keenam adalah Kekaisaran Romawi. Kerajaan terakhir, tentu saja adalah yang ketujuh, kemudian yang ke-8 akan menjadi kerajaan milik Anti Kristus. Jadi kerajaan ketujuh adalah kerajaan yang perlu kita identifikasikan, karena menurut ayat-ayat di atas kerajaan ke-8 ini merupakan kerajaan ke-7 yang dibangkitkan atau dihidupkan kembali.

“Binatang yang pernah ada dan yang sekarang tidak ada itu, ia sendiri adalah raja kedelapan.”

Ijinkanlah saya memparafrasekan bagian ini dengan jelas:

“(Kerajaan) binatang yang ketujuh yang telah ada, namun ketika itu tidak ada, akan kembali sebagai kerajaan kedepalan.”

Jadi bila kita sekarang sedang menunggu kerajaan ke-8 yang terakhir, maka siapakah yang menjadi kerajaan ketujuh? Kerajaan apa yang melanjutkan Romawi?
Karena sikap anti-Semit Jerman, Kekaisaran ketiga (Third Reich yang dipimpin oleh Hitler) yang keras, beberapa pengajar Alkitab berspekulasi bahwa Jerman merupakan kerajaan ketujuh, maka Jerman akan kembali sebagai kerajaan kedelapan.11
Kepercayaan yang umumnya dipercaya oleh kebanyakan guru-guru Alkitab adalah, Kerajaan Anti Kristus merupakan Kerajaan Romawi yang dibangkitkan kembali. Namun ada beberapa masalah besar dengan teori ini. Pertama-tama, Romawi adalah kerajaan keenam. Jika Romawi adalah yang keenam dan akan menjadi yang kedelapan, maka apa yang terjadi dengan yang ketujuh? Teori ini memiliki lubang besar yang menganga. Apakah Romawi merupakan kerajaan keenam, ketujuh, dan kedelapan? Baik Alkitab maupun akal sehat tidak mendukung teori ini. Kedua, setiap kerajaan yang berjumlah enam kerajaan memerintah Timur Tengah, termasuk Yerusalem. Hal ini sangatlah penting. Kita harus selalu ingat bahwa Alkitab selalu berpusat pada Yerusalem. Dalam pandangan Alkitabiah, Yerusalem adalah pusat bumi untuk memandang segala sesuatu. Poin ini tidak bisa dicoret begitu saja. Teori apa pun yang berputar-putar di sekitar Kerajaan Romawi yang berpusat di Eropa – misalkan Perdagangan Bebas Eropa – adalah konsep asing bagi Alkitab. Kecuali bila pemerintahan kerajaan itu mencakup atau secara langsung berdampak pada Yerusalem, maka sesungguhnya hal itu tidaklah relevan untuk pola pikir Alkitab.

Poin ketiga yang sangat penting adalah ketika kita melihat kelima kerajaan pertama, setiap kerajaan, entah karena dihancurkan atau digabungkan, akan menggantikan kerajaan sebelumnya. Terdapat suksesi yang begitu alami. Apabila kita memperhatikan setiap kerajaan, kita melihat bahwa mereka menggenapi dua karakteristik ini: mereka memerintah Yerusalem dan mereka mengalahkan atau menggabungkan kerajaan sebelum mereka. Kerajaan Mesir memerintah seluruh Mesir dan juga Israel. Namun Kerajaan Asyur mengalahkan Kerajaan Mesir dan dengan demikian memerintah bagian luas Timur Tengah, termasuk Israel. Setelah itu, Kerajaan Babilonia mengalahkan Kerajaan Asyur dan menjadi lebih besar daripada pendahulunya, dan lagi-lagi memerintah Israel. Demikianlah pola suksesi setiap kerajaan: Kerajaan Medo/Persia melanjutkan Kerajaan Babilonia, hanya untuk dilanjutkan oleh Kerajaan Yunani. Kerajaan Yunani pada akhirnya dilanjutkan oleh Kerajaan Romawi. Kerajaan Romawi kemudian membawa kita kepada kerajaan ketujuh? Siapa yang mengalahkan Kerajaan Romawi? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu secara singkat membahas kejatuhan Kerajaan Romawi. Apa yang sesungguhnya terjadi?
Pada tahun 395 M, Kerajaan Romawi terbagi menjadi dua bagian; wilayah Timur dan Barat. Bagian timur dikenal sebagai Kerajaan Byzantium. Pada 410 M, ibukota kerajaan wilayah Barat Romawi jatuh oleh karena invasi suku-suku bangsa Jerman yang dikenal sebagai bangsa Visigoth dan Barbaria. Wilayah Barat/setengah bagian Eropa termasuk ibukotanya jatuh, namun Kerajaan Romawi tetaplah berlanjut. Bagaimana bisa? Hanya dengan memindahkan ibukota dan pemerintahannya dari Roma ke Konstantinopel – 1.000 mil ke Timur. Bagian Barat dari Kerajaan Romawi telah jatuh, namun Byzantium dari Kerajaan Romawi tetap hidup selama ratusan tahun kemudian dengan Konstantinopel sebagai ibukotanya. Kerajaan Roma tidak jatuh seluruhnya hingga wilayah Timur jatuh pada tahun 1453 M, oleh bangsa Turk. Demikianlah juga kekalifahan Islam dipimpin oleh Uman Ibn al-Khattab merebut Yerusalem pada tahun 637. Maka kita bisa melihat bahwa Kerajaan Islamlah yang mencapai puncak pada masa Kerajaan Ottoman, sebagai kelanjutan dari Kerajaan Romawi, dan memerintah seluruh Timur Tengah, mulai dari Yerusalem selama lebih dari 1.300 tahun. Kerajaan Turk bertahan hingga 1909.
Dengan demikian kita melihat bahwa satu-satunya kerajaan yang memenuhi pola yang perlu dipertimbangkan sebagai Kerajaan Ketujuh adalah Kerajaan Turki/Ottoman. Hal ini tentu saja dengan sempurna menghubungkan daftar Yehezkiel mengenai bangsa-bangsa yang sangat menekankan pada Turki.

Kebangkitan Kembali Kekalifahan yang Akan Datang
Kerajaan Turki merupakan tampuk pemerintahan Kekhalifahan Islam. Kerajaan ini hidup sebagai Kekhalifahan Islam hingga 1923, yaitu ketika ia secara resmi dihapuskan. Saat ini dunia Islam sedang menanti-nantikan kebangkitan kembali kekalifahan itu. Jika ramalan saya tepat, Alkitab mengatakan bahwa suatu hari nanti Kerajaan Turki akan segera dihidupkan kembali.

Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran, apabila mereka melihat, bahwa binatang itu telah ada, namun tidak ada, dan akan muncul lagi.
Wahyu 17:8

Pada saat itu, kita mungkin akan melihat Kekalifahan Islam dibangkitkan kembali. Pada akhirnya posisi ini akan diberikan kepada seorang manusia yang disebut sebagai Sang Mahdi dalam dunia Islam, namun orang-orang berpengetahuan akan mengenalnya sebagai manusia yang dikenal sebagai Anti Kristus dalam Alkitab.

Pasal 9 - Perbandingan Antara Yesus Alkitab Dan Dajjal

Persamaan ketiga yang menakjubkan antara eskatologi Alkitab dan eskatologi Islam adalah sosok Dajjal, Anti Kristus versi Islam dengan Yesus Kristus. Terlepas dari deskripsi liar dan fantastis mengenai Dajjal, jika kita melihat kepercayaan Muslim tentang Dajjal pada poin-poin yang paling penting dan sederhana, kita pada dasarnya akan menemukan manusia yang akan menyebut dirinya ilahi dan bernama Yesus Kristus Mesias Yahudi. Dia akan membela Israel melawan Sang Mahdi dan Yesus Muslim, dan dia akan menyesatkan banyak orang sehingga meninggalkan Islam.

Meskipun saya tentu saja tidak percaya pada sosok yang dideskripsikan dalam tradisi Islam – seorang penyesat besar yang buta sebelah, terbang mengelilingi bumi di atas keledai raksasa – akan didapatkan Yesus (yang sesungguhnya) yang dalam beberapa hal penting akan memenuhi perkiraan deskripsi Dajjal.

Kembalinya Yesus Kristus
Yesus yang sesungguhnya memang akan datang sebagai sosok pembela ilahi bagi Israel dan rakyatnya, serta bagi anak-anak spiritual Israel yaitu orang-orang Kristen. Jika nubuatan-nubuatan Islam memang menyalin nubuatan Alkitab yang telah tersingkap, maka kita bisa melihat bagian dari strategi Setan yaitu ketika Yesus kembali, pada saat itu juga akan ada pemimpin agama di dunia ini yang akan menyebut dirinya sebagai Yesus; tetapi ia sebenarnya adalah Nabi Palsu. Jika hal ini benar, maka umat Muslim di seluruh dunia akan mengutuk Yesus yang asli sebagai Dajjal, Anti Kristus Muslim/Penyesat Besar. Umat Muslim akan diyakinkan dalam dengan sebuah fakta bahwa orang Yahudi yang bertahan hidup di bumi akan mengenali Yesus sebagai Mesias mereka. Setidaknya 600 tahun sebelum Islam ada, nabi-nabi Yahudi dan rasul-rasul Yahudi menggambarkan kejadian kembalinya Yesus ke Israel, mengalahkan musuh-musuhnya dan akhirnya memperoleh penerimaan penuh di antara orang Yahudi:

Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung.
Zakaria 12:10

Sesungguhnya, akan datang hari yang ditetapkan Yahweh…..akan maju berperang melawan bangsa-bangsa itu seperti Ia berperang pada hari pertempuran. Pada waktu itu kaki-Nya akan berjejak di bukit Zaitun yang terletak di depan Yerusalem di sebelah timur.
Zakaria 14:1,3,4

Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: "Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub…”
Roma 11:26

….memeteraikan hamba-hamba Tuhan kami pada dahi mereka!" Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel….Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya. Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru…
Wahyu 7:3-4; 14:1,3

Kita lihat bahwa ketika Yesus kembali untuk “menghancurkan segala bangsa, kemudian menyerang Yerusalem,” “kakiNya akan (secara harfiah) berjejak di atas Bukit Zaitun.” Yesus akan secara fisik hadir di Yerusalem. Pada waktu itu, dikatakan bahwa orang-orang Yahudi yang hidup di Israel akan melihat Dia dan menyadari bahwa Dia adalah “orang yang telah mereka tikam, dan mereka akan meratapi Dia.” Oleh karena itu pengenalan Yesus sebagai Mesias Yahudi yang asli dan Juruselamat Ilahi akan memenuhi hati mereka dan, “seluruh Israel akan diselamatkan.”

Tradisi-Tradisi Islam
Tentu saja, berdasarkan tradisi-tradisi Islam, Muslim berpikiran orang-orang Yahudi akan mengenali Dajjal sebagai Mesias Yahudi Ilahi. Maka dalam pikiran Muslim, Yesus dalam Alkitab akan memenuhi tiga ekspektasi utama mengenai Dajjal. Dengan jelas, tradisi-tradisi ini akan dimanfaatkan oleh Setan, tidak hanya untuk mencegah orang Muslim di dunia untuk menerima Yesus yang asli ketika Dia datang, tetapi secara harafiah mendorong mereka untuk menyerangNya. Plot ini tidak pernah berhenti. Pikirkanlah pernyataan berikut oleh seorang ahli Muslim, Osamah Abdallah. Pertanyaan yang ditujukan kepadanya adalah, “Apa yang dipercaya umat Muslim mengenai Akhir Dunia dan peran Yesus di dalamnya?” Jawabannya sangat mengagetkan seperti yang tertulis dalam diskusi berikut:

Singkatnya, umat Kristen percaya bahwa Yesus akan turun ke bumi dan membela negara Israel….Ironisnya bagi saya adalah bahwa orang-orang Yahudi yang dibela oleh Yesus itu tidak pecaya bahwa Yesus adalah Tuhan sendiri, juga bukan nabi Tuhan…Yesus tidak pernah menyukai orang Yahudi….Sekarang tanpa ragu, kita kaum Muslim memiliki cerita yang jauh lebih masuk akal dan tidak ada kontradiksi! Kita percaya bahwa Yesus akan turun ke bumi pada akhir dunia untuk melawan pasukan Setan yang kebanyakan terdiri dari orang Yahudi “jahat” atau yang kita sebut sekarang “Yahudi Zionis”, dan juga orang-orang sesat dari Politeis Kristen atau Kristen Tritunggal, serta Politeis Pagan seperti orang Hindu, Buddha, dan lain-lain….. Beberapa orang Yahudi dan banyak Kristen akan berada di sisi yang benar dan terberkati, dan mereka akan berperang di pihak Yesus. Pasukan Setan akan dipimpin oleh orang yang menyebut dirinya Yesus Kristus. Kaum Muslim akan menyebut dia Dajjal si Penyesat. Pasukan Yesus yang sebenarnya akan melawan pasukan Dajjal dan mengalahkan dia. Kerajaan Israel akan jatuh, dan agama Islam akan menang.1

Hal ini cukup mengherankan. Kita lihat bahwa sebagai akibat langsung tradisi akhir jaman Israel, Muslim sedang mengharapkan kedatangan dua Yesus; yang benar dan yang palsu. Dari pernyataan Abdallah, Yesus yang sejati akan dikenali oleh fakta bahwa dia tidak menyukai orang Yahudi; sesungguhnya dia diharapkan akan menyerang dan membantai mereka. Dengan demikian Yesus palsu (menurut Islam) akan dapat dikenali dengan jelas oleh fakta bahwa dia akan membela orang Yahudi. Maka, seperti yang telah kita lihat, Abdallah dan Muslim di manapun sedang mengharapkan kedatangan Yesus Muslim, bersamaan dengan pemimpinnya, Sang Mahdi, untuk menyerang dan melakukan peperangan melawan Dia yang dimengerti oleh orang Kristen sebagai Yesus yang sesungguhnya. Perang Harmagedon yang dinubuatkan dalam Alkitab sungguh akan datang dengan begitu jelasnya.

Pasal 8 - Dajjal: Anti Kristus Versi Islam

Karakter utama ketiga yang mendominasi eskatologi Islam adalah manusia dengan gelar lengkap Al-Maseeh (Sang Mesias) Ad-Dajjal, (Si Pendusta/Penyesat). Biasa disebut Dajjal, dia adalah karakter aneh dengan deskripsi dan cerita yang jauh lebih fantastis daripada Sang Mahdi atau Yesus Muslim. Ada beberapa hadis yang memuat deskripsi Dajjal ini. Di sini kita hanya akan menyentuh tradisi yang paling umum untuk memberikan garis besar mengenai sosok misterius dan asing ini.

Penyesat Besar
Dajjal dideskripsikan sebagai seorang penyesat yang akan memiliki kekuatan ajaib dan akan memegang kekuasaan sementara di seluruh bumi:

Nabi memperingatkan kita bahwa pada hari-hari terakhir akan ada seseorang yang akan menyesatkan umat manusia. Dajjal akan memiliki kekuasaan atas dunia. Maka dari itu, kaum Muslim harus waspada, tidak menyimpan cinta kepada dunia dalam hati mereka sehingga mereka tidak meninggalkan agama demi dia. Dia akan mampu menyembuhkan orang sakit dengan menyapukan tangannya di atas mereka, seperti yang dilakukan Yesus. Akan tetapi dengan penyesatan ini, Dajjal akan menjatuhkan orang-orang ke jalan neraka. Karena Dajjal adalah Mesias palsu, atau Anti Kristus (Massih ad-Dajjal). Dia akan berpura-pura menjadi Mesias, dan menyesatkan manusia dengan menunjukkan kekuatan yang menakjubkan.1

Bermata Satu
Barangkali referensi yang paling sering dikutip mengenai Dajjal ini adalah bahwa dia buta pada salah satu matanya. Namun, bagaimana pun juga Hadis mengenai buta sebelah ini bersifat kontradiktif:
Pembawa pesan Allah menyebutkan Dajjal di hadapan orang banyak dan berkata: Allah tidaklah bermata satu dan lihatlah Dajjal akan buta mata kanannya, dan matanya menyerupai anggur yang mengapung.2

Pembawa pesan Allah mengatakan: Dajjal buta pada mata kirinya dengan rambut yang tebal dan akan ada kebun dan api bersamanya, dan apinya akan menjadi kebun dan kebunnya akan menjadi api.3

Kafir
Dajjal terkadang dikatakan memiliki huruf “Kafir” (Kaafir) tertulis di antara matanya, kemungkinan di dahinya. Akan tetapi huruf ini hanya dapat dimengerti oleh orang Muslim sejati, bukan oleh orang lain:
Pembawa pesan Allah mengatakan: Dajjal buta pada satu matanya dan ada tulisan di antara matanya kata “kaafir” (kafir). Dia kemudian mengeja kata itu k.f.r., yang akan terbaca oleh setiap Muslim.4

Yang sangat penting adalah, huruf “Kafir” ini hanya terbaca oleh orang-orang percaya, melek huruf maupun buta huruf. Orang-orang tidak percaya: meskipun dia dididik di “Oxford” atau “Harvard” tidak akan mampu membacanya.5

Pembuat Mujizat Palsu
Sheikh Kabbani mendeskripsikan beberapa kekuatan ajaib Dajjal:
Dajjal akan memiliki kekuatan jahat. Dia akan meneror umat Muslim agar mengikutinya, mengubah mereka menjadi orang tidak percaya. Dia akan menyembunyikan kebenaran dan mempertunjukkan ketidakbenaran. Nabi mengatakan bahwa Dajjal akan memiliki kekuatan untuk menunjukkan bayangan leluhur yang sudah meninggal di tangannya, seperti layar televisi. Anggota keluarga itu akan mengatakan, “Oh, puteraku! Orang ini benar. Aku berada di Surga karena aku berlaku baik dan mengikutinya.” Pada kenyataannya angota keluarga itu berada di dalam neraka. Jika anggota keluarga itu mengatakan, “Percayalah pada orang ini, aku ada di neraka karena tidak mempercayainya,” maka orang harus mengatakan ini kepada Dajjal, “Tidak, dia berada di Surga. Ini bohong.”6

Nabi mengatakan: Dajjal akan berkata kepada seseorang dari suku Arab Bedouin, “apa yang akan kamu pikirkan jika aku membawa ayah dan ibumu hidup kembali untukmu? Akankan kamu bersaksi bahwa aku Tuhanmu? Orang Bedouin itu akan berkata, “Ya.” Maka dua setan yang menampakkan diri sebagai ayah ibunya akan berkata, “Oh, anakku, ikutilah dia karena dia adalah Tuhanmu…”7

Dajjal akan menyebut dirinya sebagai Yesus Kristus dan bersifat Ilahi

Tradisi-tradisi di atas menunjukkan bahwa tanda-tanda penyesatan Dajjal akan digunakan untuk membawa orang-orang menjadi percaya bahwa Dajjal adalah “tuhan” mereka. Para cendekiawan Muslim secara umum menyimpulkan bahwa Dajjal akan menyebut diriya ilahi. Menurut cendekiawan Muslim yang sangat terkenal, Abu Ameenah Bilal Philips, Dajjal, “akan menyebut dirinya ilahi.”8
Meskipun tidak ada tradisi khusus yang secara langsung menyatakan demikian, sebagai hasil dari fakta bahwa Dajjal, menurut tradisi Islam, merupakan Mesias Yahudi Palsu yang menyebut dirinya sebagai Tuhan, kebanyakan Muslim menyimpulkan bahwa Dajjal akan menyebut dirinya bernama Yesus Kristus.

Dajjal dan Keledai Ajaibnya
Cendekiawan Muslim, Muhammad Ali ibn Zubair Ali berkata demikian mengenai Dajjal, “Dia akan bepergian dengan kecepatan tinggi dan kendaraannya adalah keledai raksasa…Dia akan menjelajahi seluruh bumi.”9 Yang aneh, hal ini juga memiliki kemiripan dengan Yesus sebagai Mesias yang mengendarai keledai sewaktu memasuki Yerusalem selama minggu terakhir pelayanan-Nya.

Kota-Kota Pengungsian
Dikatakan bahwa ada tiga kota yang tidak akan dimasuki Dajjal: Mekah, Madina, dan Damaskus. Orang-orang Muslim didorong untuk mencari perlindungan dari Dajjal di dalam ketiga kota ini:
Nabi mengatakan: “Ad-Dajjal akan datang ke Madina dan menemukan malaikat-malaikat menjaganya. Jadi sesuai kehendak Allah, tidak Dajjal, maupun wabah yang akan mampu mendekati kota itu.”10
Kedatangan Anti Kristus (Dajjal) harus terjadi pada Hari-hari Terakhir. Kejadian menakutkan ini sedang mendekat, dan pada waktu itu hanya tiga kota yang akan selamat: Mekah, Madina, dan Sham (Damaskus). Siapa pun yang menginginkan keselamatan saat itu haruslah dia lari menuju salah satu dari ketiga kota ini.11

Selain ketiga kota ini, dikatakan bahwa Dajjal akan memasuki setiap daerah, kota, dan desa di dunia untuk mencobai dan barangkali menyesatkan setiap manusia yang hidup.12

Surah Perlindungan
Orang-orang Muslim percaya bahwa jika mereka menghapal suatu bagian khusus dari Qur’an maka mereka akan terlindung dari Dajjal. Hal ini menyerupai jimat berupa kata-kata yang melindungi seseorang dari kekuatan jahat:
Apabila Dajjal datang kepada seseorang yang telah menghapal sepuluh ayat pertama Surah al Kahf dia tidak bisa membahayakannya. Dan siapa pun menghapal ayat terakhir Surat al-Kahf akan beroleh terang pada Hari Penghakiman.

Seorang Yahudi dan Akan Diikuti oleh Orang Yahudi dan Kaum Wanita

Berdasarkan berbagai tradisi Islam, orang Muslim percaya bahwa yang menjadi Dajjal adalah orang Yahudi. Judul buku yang ditulis oleh seorang Muslim, Matloob Ahmed Qasmi, Emergence of The Dajjal, The Jewish King, membuat keterangan yang jelas mengenai hal ini. Imam Sheikh Ibrahim Mahdi dari Otoritas Palestina menyampaikan perspektif Islam mengenai perkiraan tentang masyarakat Yahudi dengan baik pada salah satu kotbahnya:
Orang-orang Yahudi menantikan mesias Yahudi yang salah, sementara kita menantikan, dengan bantuan Allah….Sang Mahdi dan Yesus, damai beserta dia. Tangan Yesus yang murni akan membunuh mesias Yahudi palsu itu. Di mana? Di kota Tuhan, di Palestina. Palestina akan menjadi kuburan bagi para penyusup, seperti yang terjadi di masa lalu.14

Samuel Shahid, seorang cendekiawan Kristen Arab, dalam penelitian ilmiahnya mengenai eskatologi Islam mengatakan bahwa Dajjal akan menjadi “perwujudan harapan dan penantian orang Yahudi. Bagian penting dari pasukannya yang direkrut adalah Yahudi.”15
Seperti yang disebutkan dalam bab terakhir, kebanyakan para pengikut Dajjal akan terdiri dari orang Yahudi dan wanita. Disebutkan bahwa para wanita sangatlah bodoh dan sangat mudah ditipu. Veliankode menyatakan, “Sementara itu, kaum wanita juga akan jatuh ke jalan Anti Kristus yang menyimpang karena ketidakwaspadaan dan kebodohan mereka terhadap Islam.”16

Dibunuh oleh Yesus Muslim
Seperti yang disebutkan dalam pasal sebelumnya,Yesus Muslim akan membunuh Dajjal dan para pengikutnya:
Pembawa pesan Allah mengatakan: …..waktu berdoa datang dan kemudian Yesus anak Maria akan turun dan memimpin mereka dalam doa. Ketika musuh Allah (Dajjal) melihat dia….Allah akan membunuh mereka dengan tanganNya (Yesus), dan dia akan menunjukkan darah mereka di tombaknya (tombak milik Yesus Kristus).17