Minggu, 11 Mei 2008

Karima Kristie Burns: Cintaku kepada Islam tertambat di Istana Al-Hambra

Katagori : Journey to Islam
Oleh : Redaksi 11 May 2008 - 3:30 am

Karima Kristie Burns, MH, ND nama lengkapnya. Karima (39) dikenal sebagai perempuan dengan banyak bakat. Ya sebagai editor, penulis, guru, dan juga pakar herbalis. Di dunia herbalis dia sangat dikenal lewat konsultasi online di website Herb'n Muslim yang dikelolanya sejak 1994. Sejak masuk Islam, dia membuka usaha Herb'n Muslim yang dikenal dengan teknik penyembuhan alami dan islami. Dia juga telah menulis lebih dari 120 artikel kesehatan yang bisa didownload via websitenya itu. Karima menghabiskan separuh hidupnya di Midwest, Iowa (AS), tempat dia dibesarkan. Dan separuhnya lagi di kawasan Timur Tengah (Mesir dan Arab Saudi).

Karima mulai tertarik dengan metode penyembuhan alami justru ketika berupaya menyembuhkan dirinya sendiri yang mengidap penyakit asma, alergi, mudah panik, depresi, dan beberapa penyakit bagian dalam lainnya. Kala itu dia mencoba dengan terapi alami dan bantuan tumbuh-tumbuhan. Dia berkeliling hingga ke Mesir guna mencari berbagai informasi berkenaan penyembuhan tradisional.

Dari kegigihannya itu, dia bahkan berhasil memperoleh gelar formal master of herbalist dan doktor bidang naturopathic tahun 1996 dari Trinity College di Dublin, Irlandia. Naturopathic adalah teknik pengobatan alamiah yang meresepkan herbal untuk para pasiennya.

Namun tak banyak yang tahu, ketertarikan Karima kepada Islam justru ketika berkunjung ke Spanyol. Dia mengaku terkagum-kagum dengan tulisan Arab di Istana Al-Hambra di kota Granada. Istana itu sendiri dulunya bekas mesjid hingga bekas kaligrafinya masih ada. Berikut penuturan Karima yang disadur dari beberapa sumber.

Kenal Islam di Spanyol

Istana Al-Hambra bekas Mesjid peninggalan kejayaan Islam di Granada Spanyol
Karima Burns awalnya adalah seorang mahasiswi program sarjana studi kawasan Arab di Universitas Iowa, AS. Karima mengaku Islam hadir di hatinya berawal dari membaca rangkaian tulisan ayat suci Al-Quran dalam rangka penyelesaian tugas kuliahnya. Dan dia tak kuasa menghindar dari bisikan hati itu.

Ceritanya, satu ketika dia dan teman-temannya mengadakan studi tur ke Granada, Spanyol. Granada merupakan salah satu bekas kawasan yang pernah dikuasai Islam selama hampir tujuh abad. Kala itu dia sedang duduk-duduk di Istana Al-Hambra. Istana itu dulunya adalah mesjid. Karima takjub melihat jejeran tulisan di dinding gedung tua itu. Baginya itulah tulisan terindah yang pernah dia lihat.

"Bahasa apa itu?" tanyanya pada salah seorang turis Spanyol. "Bahasa Arab," sahut turis lokal itu. Hari berikutnya, tatkala pemandu wisata menanyakan buku panduan dalam bahasa apa yang dia inginkan, Karima menjawab spontan bahasa Arab.

"Apa, bahasa Arab? Anda bisa bahasa Arab?" tanya si pemandu terkejut.

"Tidak, tapi tolong berikan juga yang dalam bahasa Inggris," sahut Karima.

Di akhir tour tas Karima penuh dengan buku-buku petunjuk wisata dari tiap-tiap kota yang dia singgahi di seluruh Spanyol. Dan semuanya dalam bahasa Arab!

"Tas travel saya sudah terlalu penuh hingga saya bermaksud membuang beberapa potong pakaian dan beberapa barang lainnya agar tasnya bisa muat. Namun, untuk buku-buku bahasa Arab rasanya berat untuk ditinggalkan. Buku-buku itu ibarat emas bagi saya. Saya sering membolak-balik halamannya tiap malam. Kata per kata-nya saya amati dengan seksama. Huruf-hurufnya juga unik, beda dengan huruf latin biasa. Saya membayangkan andainya saja bisa menulis dengan huruf yang demikian indah itu. Waktu itu saya punya pikiran pasti akan sangat berharga jika bisa mengetahui bahasa Arab ini. Saya pun berniat dalam hati untuk belajar bahasa ini. Ya satu saat nanti kala kembali ke kampus di musim gugur," tukas Karima.

Mencari jawaban
"Ketika itu ada sekitar dua bulan saya meninggalkan keluarga di Iowa untuk mengikuti tour sepanjang kawasan Eropa ini. Sendirian pula. Kala itu usia saya baru 16. Makanya saya kepingin jalan-jalan dulu sembari "melihat dunia". Itu alasan yang saya katakan pada keluarga dan kawan-kawan. Tapi sebenarnya saya sedang mencari jawaban atas konsep Kristen yang sudah lama saya pendam. Saya meninggalkan gereja (baca: Kristen -red) persis beberapa bulan sebelum berangkat ke Eropa dan belum bisa menentukan pilihan (agama) lain. Saya merasa belum mendapatkan apapun dengan apa yang telah saya pelajari selama ini. Sampai kini pun belum mendapatkan alternatif-alternatif lain," ungkapnya.

"Tempat dimana saya dibesarkan, yakni Midwest, sebenarnya sangat cocok buat saya. Misalnya hal keyakian, tidak ada yang perlu dipusingkan disana. Mau jadi bagian dari gereja silahkan. Tidak, ya juga ndak masalah. Tapi karena itu pula saya tidak punya gambaran agama lain yang bisa dijadikan alternatif. Makanya ketika ada waktu keliling Eropa saya berharap bisa berjumpa dengan "sesuatu" yang lain itu," imbuhnya.

"Di gereja tempat kami tinggal, kami hanya boleh melakukan ibadah untuk Yesus dan menyandarkan segala sesuatu padanya agar bisa menyampaikan pesan kepada Tuhan. Secara intuitif saya merasakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan dogma itu," kata dia.

"Saya kala itu dengan patuh pergi ke gereja tiap hari minggu dan sangat serius dengan apa yang saya pelajari tentang kejujuran, murah hati dan saling berkasih sayang. Tapi ada yang bikin saya bingung tatkala melihat jamaag gereja. Sikap mereka tampak begitu beda selama satu hari itu. Apakah Cuma sehari dalam sepekan bersikap jujur, murah hati dan kasih sayang? Apakah mereka cuma bahagia di hari minggu saja? Aku mencari-cari di beberapa buku panduan, namun tak menemukan apa-apa. Ada hal tentang 10 perintah Tuhan yang meliputi hal-hal yang sudah nyata sekali seperti larangan membunuh, mencuri dan berbohong. Uniknya, orang-orang ke gereja seperti tak ada etiket. Misalnya, sejauh yang saya tahu, banyak yang pakai rok mini ke gereja. Ironisnya lagi, ada juga dari mereka pergi ke sekolah minggu hanya karena ada cowok ganteng disana," tukas Karima.

Kitab Bibel aneka versi
Satu hari Karima berkunjung ke rumah salah seorang dosennya. Disana dia melihat beberapa kitab Bibel tersusun rapi di rak lemari si dosen. "Saya tanya apa itu. Dosennya menjawab bahwa itu kitab Bibel dalam berbagai versi. Saya sebenarnya tak mau mengganggunya dengan pertanyaan seputar Bibel dalam aneka versi itu. Tapi makin dipendam makin sangat mengganggu pikiran. Saya beranikan diri mengamati beberapa dari Bibel itu. Saya terkejut. Memang ada yang benar-benar beda satu versi dengan versi lainnya. Bahkan ada beberapa bab yang tidak sama dengan Bibel kepunyaan saya. Kala itu saya benar-benar bingung. Bahkan mulai timbul perasaan bimbang," katanya.

Ikut kelas bahasa Arab
Selepas tur Eropa Karima kembali ke kampus dengan perasaan kecewa sebab tak menemukan jawaban yang diharapkannya. Akan tetapi dengan keinginan yang begitu besar akan sebuah bahasa, Karima mengaku tertarik untuk mempelajari bahasa Arab. "Ironis ya, mendapat secercah jawaban yang saya cari-cari justru di dinding istana Al Hambra. Setelah pulang dari Spanyol, butuh dua tahun bagi saya untuk merealisasikan semua itu (masuk Islam-red)," ujarnya.

"Hal pertama sekali yang saya lakukan kala aktif kembali di kampus adalah mendaftar kelas bahasa Arab. Saya amati tampaknya kelas itu tidak begitu diminati. Entah kenapa. Buktinya peserta yang mendaftar cuma tiga. Saya dan dua mahasiswa lainnya. Tapi saya tak ambil pusing," kata dia. Karima pun langsung tenggelam dengan pelajaran bahasa Arab. Rasa ingin tahunya sangat tinggi, hingga sang dosen takjub melihatnya.

"Saya kerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan pulpen khusus untuk menulis huruf kaligrafi. Bahkan seringkali saya pinjam buku-buku dalam bahasa Arab dari dosen hanya untuk melihat huruf-huruf Arab yang ada dalam buku itu. Memasuki tahun kedua di universitas, saya putuskan untuk memilih bidang Studi Timur Tengah. Jadi dengan begitu bisa fokus pada satu kawasan saja. Nah di salah satu mata kuliahnya adalah belajar Al-Quran. Saya gembira bukan main," aku Karima mengenang.

Kagum dengan Al-Quran
"Satu malam saya buka Al-Quran untuk mengerjakan PR. Heran campur takjub. Makin saya baca makin terasa nikmat. Sulit untuk berhenti membacanya. Persis seperti seseorang baru mendapatkan sebuah novel baru. Ketika itu saya bergumam dalam hati; wow menarik sekali. Inilah yang selama ini saya cari-cari. Semuanya ada dalam Al-Quran. Semua penjelasan betul-betul menarik. Saya sungguh kagum, kitab suci ini menguraikan semua yang juga saya percayai dan saya cari-cari jawabannya selama bertahun-tahun. Sangat jelas disebutkan bahwa hanya ada satu Tuhan yang patut disembah, yakni Allah. Tidak seperti di Kristen, satu dalam tiga," imbuhnya.

Hari berikutnya Karima kembali ke ruang kelas untuk menanyakan siapa gerangan pengarang kitab itu. Karima melihat ada sebuah nama tertulis di halaman depan Al-Quran itu. "Awalnya saya menyangka itu nama pengarangnya. Misalnya seperti kitab Gospel yang dikarang oleh St. Luke atau kitab-kitab dalam agama lain yang pernah saya pelajari sebelumnya," kata dia.

Salah seorang dosen Karima yang beragama Kristen memberitahu bahwa itu bukan nama pengarangnya. "Ternyata itu adalah nama penerjemahnya. Masih menurut dosen itu, dia mengutip pernyataan penganut Islam, bahwa tak ada seorang pun yang mampu menulis kitab suci itu. Quran, kata orang Islam, merupakan perkataan Allah dan tidak berubah dari pertama diturunkan hingga saat ini. Al-Quran dibaca dan dihafal banyak orang. Wow…tak perlu saya katakana bagaimana gembiranya hati saya. Makin terpesona dan takjub. Setelah penjelasan itu saya tambah tertarik, bukan hanya mempelajari bahasa Arab, tapi juga mempelajari Islam. Hingga timbul keinginan pergi ke Timur Tengah," katanya sumringah.

Masuk Islam

Karima menghabiskan separuh hidupnya kawasan Timur Tengah (Mesir dan Arab Saudi) yang dituangkan dalam koleksi photo
Di tahun terakhir kuliah akhirnya Karima mendapat kesempatan mengunjungi Mesir. Salah satu tempat favorit yang ingin dia lihat di sana adalah mesjid. "Saya merasakan seolah-olah sudah jadi bagian dari mereka. Berada di dalam mesjid, keagungan Allah semakin nyata. Dan, seperti biasanya, saya sangat menikmati rangkaian tulisan kaligrafi yang ada di dinding mesjid itu," kata dia.

Satu hari seorang teman menanyakan kenapa tidak masuk Islam saja kalau memang sudah sangat tertarik. "Tapi saya sudah jadi seorang muslim," kata Karima. Si teman terkejut mendengar jawaban itu. Tak cuma dia, bahkan Karima sendiri terkejut dengan jawaban spontan yang keluar dari bibirnya. "Tapi kemudian saya sadari hal itu logis dan normal. Islam telah merasuk dalam jiwa saya dan selalu memberikan perasaan lain. Begtupun pernyataan teman saya itu ada benarnya. Kenapa saya tidak masuk Islam saja?" tanya Karima pada dirinya sendiri. Temannya menyarankan agar lebih resmi (masuk Islam) sebaiknya pergi ke mesjid saja dan menyatakan keislaman di hadapan jamaah di sana sebagai saksinya.

"Tanpa menunggu lama saya ikuti sarannya. Ringkas saja, Alhamdulillah, akhirnya saya pun bersyahadat. Pihak mesjid lalu memberikan selembar sertifikat resmi selepas bersyahadat. Tapi sertifikat itu tak penting dan hanya saya simpan dilemari. Sama seperti dokumen-dokumen lain seperti asuransi, ijazah dan lainnya. Tak ada niat menggantung kertas itu di dinding rumah sebagai bukti telah ber-Islam. Bagi saya yang penting sudah jadi seorang muslim," akunya.

"Kini saya habiskan waktu hanya untuk mempelajari Al-Quran. Ketika membuka Al-Quran perasaan yang hadir persis seperti orang yang baru saja menemukan kembali anggota keluarganya yang telah lama hilang," ungkap Karima.

Di rumahnya Karima tak lupa menggantung foto Istana Al Hambra, tempat dimana dia pertama kali melihat tulisan Arab yang membuat dirinya takjub dan jatuh cinta dengan Al-Quran. Kini, disamping mengelola praktek penyembuhan alaminya dia juga aktif menulis. Ada lebih dari 120 artikel yang telah dia tulis. Umumnya bertema kesehatan. Tulisannya yang terkenal antara lain The "Yoga" of Islamic Prayer, Vetegarian Muslim, dan banyak lainnya lagi. Begitulah. [Zulkarnain Jalil/dari berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Photography of Egypt by Kristie Karima Burns



Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Sabtu, 10 Mei 2008

Richelle Santos, Gadis Filipina

Selasa, 22 April 2008 
Semenjak kecil, dia hidup dalam keluarga Katolik yang ketat. Ia bahkan dimasukkan sekolah biarawati. Tapi Allah berkehendak lain. Ia justru lebih memilih Islam
Oleh: M. Syamsi Ali 
Masih ingat sekitar setahun lalu, the Islamic Forum kedatangan peserta baru yang hampir saya sangka seorang santria dari Indonesia. Seorang gadis pendiam dengan kerudung rapi ala Indonesia duduk di salah satu sudut ruangan dengan malu tapi selalu tersenyum.
"Sorry, are you….from Indonesia?", tanyaku suatu ketika.
"Oh no! I am an American", jawabnya dengan pelan dan suara lembut.
"Tetapi anda terlihat sangat Asia. Jadi, apa latar belakang sukuan asli anda?" tanyaku lagi.
"Saya asli Filipina. Saya datang ke sini ketika masih berusia 5 tahun bersama ibu saya, " jelasnya.
Demikianlah Richelle Santos memulai pengenalan dirinya dengan kami di Islamic Center.  Richele masih relatif muda, tapi saat ini sudah bekerja di sebuah perusahaan sebagai finance analyst.
Alumni New York City University ini tinggal sendiri karena ibunya kemudian menikah lagi dan nampaknya suasana rumah tangganya tidak kondusif baginya untuk tinggal bersama.
Sekolah Biarawati
Selepas sekolah dasarnya, Richelle yang ibunya beragama yang Katolik sangat kuat memasukkannya ke sebuah sekolah pelatihan menjadi biarawati. Richelle bercerita, ketika dirinya berumur sekitar 11 tahun, ibunya sangat mengkhawatirkan bahwa dirinya akan jatuh dalam pergaulan yang salah. Untuk itu, dia disekolahkan di sebuah sekolah Katolik pelatihan biarawati di kota Manhattan.
Richelle menceritakan bagaimana ketatnya peraturan saat dia menimba ilmu di tempat tersebut. "Saya hampir tak bertahan dalam beberapa hari", katanya.
Saya jadi teringat di hari-hari pertama tinggal di pondok pesantren. Hingga hari ini selalu saya sebut sebagai "a divine jail" (penjara suci) karena betapa susahnya menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Apalagi jika memang seseorang sudah di set dengan dunia tertentu.
"Dan akhirnya Anda menyelesaikan sekolah itu?" tanyaku suatu ketika.
"Not really…saya hanya tinggal lebih dari dua tahun di sekolah tersebut, jujur saja,  aku tidak pernah serius di dalam  studi ," katanya.
Setelah saya tanya lebih jauh, ternyata jawabannya adalah karena dari pagi hingga sore dia diindoktrinasi dengan konsep-konsep yang dia sendiri tidak pernah yakini. "All those did make sense at all to me", katanya singkat.
Maka setelah dua tahun bertahan di sekolah Katolik pendidikan biarawati, Richelle meminta kepada ibunya untuk sekolah di sekolah umum. Untuk pertama kali ibunya menolak, tapi setelah Richelle menjelaskan banyak hal, termasuk beberapa bentuk pergaulan di asrama yang sama sekali tidak masuk akal, ibunya menuruti.
Demikian dari Sabtu ke Sabtu Richelle mengikuti dialog di Islamic Forum. Walaupun sangat pintar, tapi tidak pernah mengajukan pertanyaan kecuali jika dipancing. Mungkin darah Asia-nya masih sangat kental sehingga nampak sekali sangat malu dan sopan santun. 
Beberapa kali Richelle juga menghadiri acara yang dilakukan di masjid Al-Hikmah, milik masyarakat Muslim Indonesia di New York. Salah satunya di saat masjid Al-Hikmah menjadi tuan rumah bagi tamu pembicara terkenal, Sr. Aminah Assilmi, mantan penganut Kristen radikal yang memeluk Islam dan saat ini menjadi seorang muballiggah yang go international.
Saat itu nampak Richelle menyimak kata per kata yang keluar dari mulut Sr. Aminah Assilmi. Bahkan nampak mencatat poin-poin penting yang disampaikan oleh beliau. Setelah selesai ceramah, sambil bercanda saya bertanya: "Apakan Anda akan menirunya di masa depan?". Richelle hanya menjawab dengan senyuman.
Big Day for me
Tiga minggu lalu, Richelle hadir agak pagi ke Islamic Center. Saya sendiri biasanya sibuk dengan weekend school tidak terlalu menghiraukan. Tapi sepintas saya melihat kepadanya dan nampak seperti gelisah. Menjelang shalat Zuhur saya bertanya: "what happens Richelle? I saw you a kind of …..".
Rupanya, belum tuntas saya bertanya kepadanya, Richelle sudah menjawab: "Oh no! I am fine", jawabnya seolah menyembunyikan sesuatu.
Shalat Zuhur dimulai. Richelle hanya duduk sendirian di kelas. Rupanya siang itu tidak terlalu peserta Islamic Forum yang mengikuti kelas. Saya memulai kelas siang itu dengan bahasa Arab (membaca Al-Quran), dilanjutkan dengan tafsir Q.S. Al-Hujurat. Richelle nampak serius mencatat hampir semua poin-poin penting yang saya sampaikan.
Tiba-tiba saja, di saat saya memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya, Richelle nampak mengalirkan air mata, sambil tersenyum malu, mengatakan: "Imam Shamsi, I want to convert!". (Ustad, saya ingin pindah agama!)
Semua yang hadir langsung terperanjat. Biasanya, keinginan untuk masuk ke Islam itu disampaikan setelah kelas, atau datang sendiri. Kali ini Richelle menyampaikan di tengah-tengah kelas masih berlangsung.
Lansung saja yang keluar dari mulut saya: "Alhamdulillah Richelle! Saya benar-benar sangat berbahagia mendengarnya.  Akhirnya Allah menunjukkan hatimu dan sekarang iman itu sedang kamu temukan."
Saya kemudian mengalihkan pembahasan siang itu dari Q.S. Al-Hujurat dan menjelaskan apa makna berislam. Saya yakin penjelasan saya sudah didengar berkali-kali oleh Richelle selama ini, tapi saya ingin untuk mengingatkan kembali.
Saya kemudian bertanya sekali lagi kepada Richelle. ""Anda telah bersama kita hampir dua tahun. Apa yang sesungguhnya anda temukan di dalam agama ini ?"
"Oh, aku pikir aku harus jujur. Dari sangat semula aku bergabung di kelas mu, aku telah dibuat kagum oleh pengajarannya. Aku tidak memiliki hal untuk menentangnya.", jelasnya.
"But what really makes you take too long to decide?", tanyaku lagi.
"Aku berpikir aku hanya merencanakan sesuatu dengan pasti bahwa aku dengan penuh kesadaran akan segala sesuatu memerlukanku sebagai seorang Muslim. Aku perlu untuk mengetahui tentang larangan dan perintah. Maka Saya dapat mencoba untuk mengikutinya dalam  kehidupan ku", jelasnya.
Langsung saja saya meminta kepada hadirin untuk menjadi saksi. Tapi tidak lupa saya sampaikan ke Richelle bahwa Allah in the best witness. Seraya mebiarawatiduk, Richelle dengan berlinang airmata mengikuti ikrar tauhid:
"Laa ilaaha illa Allah-Muhammad Rasul Allah".
Yang saya rasakan adalah ketulusan dan kemantapan hati dari Richelle dalam menerima Islam. Siang itu, ruangan kelas the Islamic Forum memang terharu. Hampir semua yang hadir ikut meneteskan airmata karena tersentuh dengan linangan airmata Richelle. Dia hanya sempat menyelah sambil mengusap airmata: "Today is a big day for me!".
Semoga engkau, Richelle, dikuatkan dan selalu dijaga dalam menjalani agamaNya. [www.hidayatullah.com]
New York, 14 April 2008
Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Sarah Joseph, “Berjihad” Melalui Media Massa


Katagori : Journey to Islam
Oleh : Redaksi 28 Apr 2008 - 7:00 am


Sarah Joseph dalam acara Dialogs With/In Islam 2007 pendiri Emel Magazine
Awalnya, Sarah Joseph adalah penganut Katolik Roma kuat. Gara-gara shalat, ia memeluk Islam. Kini, ia "berjihad' membela "Islam" melalui media massa.

Sarah Joseph (36) adalah muallaf asli Inggris yang masuk Islam di usia 16 tahun. Jurnalis produktif ini selepas memeluk Islam rajin memberikan kuliah tentang Islam di Inggris dan mancanegara. Kini, di tengah imej negatif Islam di dunia Barat, dia berjuang membangun citra positif Islam melalui media. Salah satunya dengan menerbitkan majalah Emel, sebuah majalah khas yang mengupas seputar gaya hidup Islam. Emel bisa disebut satu-satunya majalah berwarna Islam yang terbit di dataran Britania Raya. Dalam sebuah wawancara dengan harian The Guardian yang terbit di London, Sarah yang dulunya menganut paham Katolik, memprediksi Islam akan punya peran besar ke depan dalam memecahkan berbagai permasalahan dunia. Dia juga banyak bertutur bagaimana seharusnya seorang Muslim yang bermukim di negara Barat berperilaku.

Berikut penuturan ibu tiga anak yang pernah mendapat OBE Awards tahun 2004 (untuk aktifitasnya dalam membangun dialog antar umat beragama) disadur dari beberapa wawancaranya dengan media Inggris.

"Saya hidup selama 16 tahun tanpa Islam. Jadi manusia biasa, menjadi seorang wanita, seorang ibu, dan editor di London. Semua hal itu telah membentuk saya menjadi seorang pribadi yang luwes. Akan tetapi peran saya sebagai seorang ibu terbentuk saat menjadi Muslim," kata Sarah Joseph. Dikatakannya, seorang Muslim punya hak-hak individu sendiri, ada persyaratan-persyaratan tertentu. Sebagaimana individu lain juga punya hal yang sama tanpa memperhatikan apakah dia Islam atau bukan. Namun dengan menjadi seorang Muslim, seseorang itu akan terbentuk menjadi pribadi yang menghargai hak individu orang lain.

"Saya orang Inggris dan berpikir seperti kebanyakan orang Barat lainnya. Saat saya berkunjung ke negara Islam saya jadi paham aspek-aspek orang Islam, namun saya tidak mau turut campur dengan adat kebiasaan setempat," imbuhnya. Sarah mengatakan menjadi anggota di dua komunitas berbeda (Inggris dan Islam) memang sulit. Namun dia punya kewajiban untuk menjelaskan tentang Islam sebenarnya. "Saya punya perasaan yang maha dahsyat kala berbicara dengan mereka. Berbicara dari hati ke hati satu sama lain. Saya berikan hidup ini hanya untuk menjadi jembatan diantara dua komunitas ini," katanya.


emel's staff, from left: Sarah Joseph, editor; Ruh al-Alam, designer; Mahmud al-Rashid, publisher; Omair Barkatulla, senior designer; Rajul Islam Ali, art director.
EMEL, the muslim lifestyle magazine

Menerbitkan majalah Islam
"Jadi, saya kira, Muslim Inggris dan di Barat umumnya, harus menemukan jawaban atas apa yang terjadi saat ini. Harus jadi jembatan antara dua dunia itu. Kita-kita yang lahir disini dan besar dalam masyarakat Inggris, memiliki tanggungjawab untuk menjelaskan Islam pada kalangan Barat. Saya melihat Islam punya kapasitas memberikan yang terbaik. Syaratnya mereka (Barat-red) harus memulainya dengan melihat Islam sebagai bagian dari solusi dan bukan bagian dari masalah yang harus dijauhi," kata dia.

Wanita London itu menempuh pintu lain dalam menerjemahkan Islam untuk dunia Barat. Dia meluncurkan sebuah majalah gaya hidup Islam dan salah satu targetnya adalah pembaca non Muslim. Majalah itu, awalnya, dibiayai dari tabungannya sendiri. Kini mulai dikenal khalayak dan bersanding dengan majalah-majalah terkenal lainnya di toko-toko buku.

Emel, nama majalah itu. Berasal dari dua huruf M dan L sebagai singkatan dari Muslim Life. Rubrik-rubriknya menampilkan gaya hidup Islam menyangkut fashion, desain interior, finance, entrepreneur, kesehatan, makanan, hingga kisah perjalanan. Lalu ada juga rubrik berkebun dan feature tentang penemuan-penemuan ilmuwan Muslim di masa lampau. Semuanya dikemas secara populer dengan menampilkan sisi Islam yang selama ini terlupakan ditengah arus islamofobia dan isu terorisme.

Emel pertama kali diterbitkan tahun 2003 dan hanya ada di toko-toko buku yang khusus menjual buku-buku Islam saja. Namun dalam perkembangannya ternyata non Muslim pun menyukai majalah itu. Sehingga sejak September 2005 distribusinya mulai diperluas untuk umum. Catatan Wikipedia, kini Emel memiliki sirkulasi di 30 negara. Majalah ini juga bisa diakses di internet ( www.emelmagazine.com )

"Hari ini berita-berita tentang Islam identik dengan pembunuhan, penganiayaan, dan sejenisnya. Kami ingin tampilkan sesuatu yang lain. Hal-hal normal yang berlaku dalam Islam, yang tak banyak diangkat. Kami tujukan majalah ini utamanya bagi kalangan muda," kata Sarah bersemangat. Sarah berupaya mempresentasikan Islam yang sebenarnya, dengan menonjolkan kontribusi yang telah mereka buat, terutama untuk membangun opini masyarakat Inggris. Dengan sentuhan layout yang menarik, pesan-pesan Islam dapat dipahami secara luas tanpa dogma-dogma agama atau bumbu politik.

"Dalam majalah ini seorang Muslim digambarkan, misalnya, mengenakan pakaian seperti ini, lalu makan makanan yang seperti itu. Kami menawarkan jendela masuk ke komunitas Islam, jauh dari sekadar ungkapan-ungkapan berbau klise," tambahnya.

Mulai dengan modal kecil
"Seorang wartawan BBC mengira kami punya modal hingga 5 juta Poundsterling. Saya tertawa. Kami mulai dengan modal awal 20 ribu Poundsterling," jelas Sarah.

"Ada yang tanya, dengan meningkatnya perasaan takut akan Islam, inikah saatnya untuk pembaca non Muslim? Kami musti bilang, "mari turunkan kepala kita." Jika masing-masing kita masih tetap membuat kubu sendiri, maka permusuhan itu tak akan pernah hilang," katanya.

Sarah yang pernah mendapat undangan Toni Blair (mantan PM Inggris) itu ingin menunjukkan sesuatu yang lain. Bahwa Islam bukan hanya ibadah shalat atau politik. Tapi Islam juga mengatur gaya hidup.

Dulu banyak yang tidak tahu bagaimana konsep hidup seorang Muslim. Namun kini perlahan mulai jelas setelah majalah ini diluncurkan. Emel berhasil merebut pasar yang belum banyak dimanfaatkan media lain dan meruntuhkan imej buruk sebagian kalangan yang benci Islam. Oplahnya kini lebih dari 20.000 eksemplar dan memiliki 3000 pelanggan tetap. Sarah giat membantu pengembangan ide dengan meramu Islam masa kini dan masa lalu serta mengajak pembaca Muslim memberikan kontribusi mereka. Majalah yang bermarkas di Whitechapel, timur London itu memiliki enam orang staf dan beberapa relawan.

Imej Islam di Barat
"Muslim people do normal things, live normal lives." —Sarah JosephSarah sedikit risau melihat beberapa media yang dalam melaporkan hal ektrimis terlalu banyak menambah-nambahkan isi berita. "Jika kehidupan Islam diisolasi, ditakut-takuti, dikatakan tidak seorangpun mau berteman dengan mereka, maka ini tidak sehat bagi masyarakat kami.," kata dia.

"Anda tidak boleh memberi label "Islam Fundamentalis." Cukup disebutkan saja mereka itu telah melenceng dari ajaran agamanya. Saya sangat tidak setuju sebagian kalangan yang menyebut Al-Quran secara aktif telah mendorong terjadinya serangan teror. Jika mereka katakan seperti itu, maka mereka itu sama saja dengan Al-Qaidah. Mereka menyanyikan lagu yang sama," tandas Sarah lagi. Dalam pandangannya, Al-Qaidah dan yang sejenisnya menggunakan Islam dan Al-Quran untuk melegitimasi kekerasan secara cerdik.

Perilaku orang Islam

Sarah Joseph dalam protes bersama Inminds di London 17 Jan 04
"Jujur saja, perilaku sebagian Muslim kadang-kadang sangat tidak membantu merubah imej Islam di Barat. Kita perlu lebih sadar akan hal ini. Orang-orang memantau perilaku kita dan memberi penilaian tertentu. Ada sebuah survei tahun 2002 silam. Disebutkan 70 persen masyarakat Inggris tidak tahu apa-apa atau bahkan tidak peduli sama sekali apa itu Islam. Islam mereka pahami hanya berdasarkan informasi dari media saja. Celakanya media tidak menunjukkan Islam secara proporsional. Jadi, ini benar-benar tugas kita dan sekali lagi tergantung pada kita untuk mengubah opini tersebut. Tentunya dengan sikap dan perilaku Islami. Orang Islam musti proaktif menunjukkan hal-hal positif dalam Islam. Sangat banyak jalan untuk menunjukkan hal itu," pintanya.

Dalam sebuah percakapan live di situs Islamonline, Sarah sempat ditanya apakah Barat tempat yang cocok bagi seorang Muslim untuk mempraktekkan keyakinannya di tengah kampanye sekuler. Dalam pandangannya, Allah SWT telah menciptakan dunia ini. Jadi, bagi Muslim, hidup dimana saja bisa dan mungkin.

"Barat punya isu sekularime, memang benar. Hal itu bisa menyerang agama dan moralitas kita. Benar. Tapi haruskah kita membiarkan kapal pergi menuju pulau yang damai sentosa (tanpa kita di dalamnya)? Para Nabi tidak pernah menyerah meskipun dicerca dan dihina. Kita tidak boleh menyerah. Patut kita tunjukkan bahwa Islam relevan dengan dunia ini. Karena itu kita perlu terus meningkatkan kualitas dakwah sehingga Islam mudah dipahami," tegasnya.

Masuk Islam di usia muda
Sebelum kenal Islam Sarah adalah penganut paham Katolik Roma. Dia termasuk remaja yang aktif dalam berbagai kegiatan agama, sosial, dan politik. Agama waktu itu benar-benar muncul dari dalam hatinya hingga berpengaruh dalam aktifitas sosial kemasyarakatan. Keluarganya menganut paham liberal. Mereka justru tak peduli agama. Ibu Sarah sering berujar anaknya itu sangat agamis, meski masih sangat kecil.

Pada usia 13 tahun, abang kandung Sarah masuk Islam. Waktu itu karena alasan perkawinan. "Terang saja saya sangat benci dengan keputusannya. Waktu itu dia saya tuduh menjual keyakinan hanya karena wanita. Saya masih takut kala itu. Sebab Islam sangat asing, dan saya banyak membaca sisi negatif tentang Islam," kisah Sarah.

"Prasangka buruk tentang Islam sulit hilang. Tapi saya tahu, perasaan takut itu karena saya belum tahu Islam yang sesungguhnya. Akhirnya saya putuskan untuk mencari informasi lebih jauh tentang Islam. Sungguh, saya benar-benar ingin tahu. Tak berapa lama setelah itu saya meninggalkan ajaran Katolik. Bukan karena saya tertarik dengan Islam. Namun lebih karena kecewa aturan Paus. Saya tidak dapat menerima aturan sentralistik yang berpusat di Roma," lanjutnya.

"Akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari Kristen. Namun belum memilih Islam. Waktu itu saya "kosong". Saya masih berusaha mencari Tuhan. Dalam pencarian itu, Islamlah yang kemudian lebih dulu mengalir dalam hati saya. Islam menjawab semua pertanyaan saya. Terutama tentang Trinitas. Satu hal lagi, Al-Quran tidak mengalami perubahan sama sekali, lain dengan Bibel. Perlahan, saya menemukan jawaban tentang Islam yang telah mengendap sekian lama," aku Sarah. Sarah masuk Islam di usia sangat belia yakni pada usia16 tahun.

Terkesan shalat
"Jujur saja, satu hal lagi yang membuat saya menerima Islam adalah saat melihat orang shalat. Kala mereka bersimpuh dalam sujud dengan penuh kerendahan diri. Saya kira inilah yang disebut "kepatuhan" atau ketundukan sebagai seorang hamba," kenang Sarah.

Awalnya memang berat bagi Sarah. Perlu beberapa waktu untuk merealisasikan Islam dalam diri dan kehidupannya. Terutama membawanya ke dalam keluarga dan lingkungan sosial.

"Tapi lama-kelamaan, keluarga melihat saya tetap dapat berkontribusi untuk masyarakat kendati sebagai seorang Muslim. Hal itu bikin mereka gembira dan dapat menerima saya kembali," sebutnya.

Pada kali pertama orangtuanya memang menolak rencana anaknya masuk Islam. Bahkan mereka mengucapkan kata "belangsungkawa" kala Sarah mulai mengenakan jilbab. Tapi dalam pandangan Sarah mengenakan jilbab merupakan sebuah pilihan.

"Keluarga saya menganut paham liberal. Begitupun mendengar saya masuk Islam mereka sangat menentang. Mereka menyangka saya akan jadi seseorang yang lain. Konon lagi saya mengenakan jilbab persis di awal-awal masuk Islam, mereka makin menentang. Jika saja saya tidak mengenakannya maka semuanya akan mudah. Tapi saya memang sangat ingin pakai jilbab. Saya benar-benar ingin jadi seorang Muslim. Perlu waktu beberapa tahun bagi keluarga saya untuk bisa paham hal ini. Tapi kini mereka sangat bahagia. Mereka senang dengan jalan hidup yang saya pilih dan ternyata itu bagus. Begitupun, sayangnya mereka belum menunjukkan sinyal untuk memeluk Islam," ujar Sarah.

Menikah dengan pria Bangladesh
Mahmud al-RashidSarah JosephTahun 1992 Sarah menikah dengan Mahmud, seorang pria Inggris keturunan Bangladesh Mahmud bekerja sebagai pengacara. Orangtua Mahmud datang ke Inggris sekitar tahun 1960. Keluarga Sarah mulai menerimanya, karena penampilan Mahmud yang moderat. Kini pasangan itu telah dianugerahi tiga orang anak, Hasan (11), Sumayah (8), dan Amirah (5).

"Identitas saya sebagai seorang Muslim sangat jelas. Memiliki identitas seperti ini tidak berlawanan dengan kaedah umum dan saya dapat hidup secara plural dalam masyarakat yang toleran," katanya tegas.

"Jika kita bilang Islam hanya tentang shalat dan politik, maka kita telah membuatnya jadi kering, cuma berisi aturan-aturan teologis. Tapi jika kita bisa tunjukkan, misalnya pada kawula muda (Islam) bahwa kebudayaan Islam juga telah ikut membangun Eropa, maka kita telah beritahukan bahwa mereka itu adalah pemegang amanah masa depan. Anak-anak muda Islam perlu tahu tentang itu.

"Hidup ini adalah ujian, arena untuk mensucikan jiwa dan sarana untuk menerima kasih sayang Allah. Islam bagi saya merupakan jalan termudah untuk berhubungan dengan Tuhan. Saya berpikir kita musti fokus kepada tujuan hidup daripada hanya sekedar menjalankan perintah atau ajaran agama saja,
" katanya.

"Lihatlah Islam sebagai bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah yang harus dijauhi," tambah Sarah. [Zulkarnain Jalil, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.


Naskah Laut Mati
Terjemahan Terbaik dan Komprehensif dari Gulungan-Gulungan Naskah Kuno Kontroversial. Memuat Materi yang Belum Pernah Dipublikasikan atau Diterjemahkan
Risalah Ilmu dan Falsafah
Pengarang Michael Wise, Martin Abegg Jr. and Edward Cook
ISBN: 9789791275385
15 x 23 cm -540 hal HVS - Rp. 79.900,-
Terbit: April 2008

Edisi revisi dan tambahan ini mencakup terjemahan baru dari banyak teks, pengantar untuk semua teks, dan pengantar baru yang meringkas sepuluh tahun terakhir eksplorasi Gulungan Laut Mati

Karya penting dari tiga pakar ternama Gulungan Laut Mati ini berhasil menyulap gulungan-gulungan kuno Qumran menjadi sangat hidup. Dengan menerjemah dan memastikan arti setiap bagian yang masih terbaca dari kepingan-kepingan Gulungan Laut Mati, ketiga penulis buku ini menyuguhkan komentar lugas atas keseluruhan teks dan menempatkan Gulungan pada konteks sejarah yang sesungguhnya.

Dalam pendahuluan yang brilian dan kaya wawasan, mereka tak hanya menyajikan tinjauan tentang isi Gulungan yang kerap mengejutkan, tetapi juga membahas misteri paling besar: siapa pengarang gulungan-gulungan itu dan mengapa mereka mengarangnya.




PUJIAN
“Buku yang luar biasa berharga bagi para sarjana maupun pembaca umum.”
Karen Armstrong, penulis A History of God
“Gulungan Naskah Laut Mati tak lagi untuk para sarjana saja. Gulungan-gulungan itu kini tersaji dalam sebuah buku yang bisa dipahami siapa pun. Bacalah teks ini. Tersimpan dua ribu tahun di dalam gua, gulungan-gulungan ini berjuang melawan pelapukan dan pembusukan agar bisa berbicara kepada Anda. Gulungan-gulungan ini telah menghidupkan para pengarang mereka dan akan menghidupkan kita, para pembacanya.”
John Dominic Crossan, Profesor Emeritus De Paul University, dan penulis In Search of Paul dan Historical Jesus
“Edisi revisi dari terjemahan sangat bagus ini menghidangkan terjemahan Gulungan Naskah Laut Mati yang lebih lengkap dan mudah dipahami para pembaca umum.”
Emanuel Tov, editor-in-chief Proyek Publikasi Gulungan Naskah Laut Mati, Hebrew University of Jerusalem


Dicetak dari: Serambi Online - Penerbit Buku-Buku Bermutu
Tanggal: 10 Mei, 2008
URL: http://www.serambi.co.id/modules.php?name=Katalog&op=tampilbuku&bid=334

Kabar Dari New York : Kekaguman Katherine Wesley


Katagori : Muslim Convert News
Oleh : Redaksi 29 Apr 2008 - 11:50 pm

KDNY (Kabar Dari New York):
imageimageAwalnya, ia hanya ingin meneliti Islam, khususnya fikih dan perbandingan hukum Islam. Tapi, ia mengaku "jatuh cinta" pada Islam. Sejak dua bulan terakhir ini, the Forum for non/new Muslims membahas tafsir S. Al-Hujurat Al-Quran. Rupanya metode pembahasan dengan menjelaskan kata per kata cukup menarik bagi banyak peserta. Memang di antara peserta itu sudah ada yang pernah mengambil kursus bahasa Arab. Sehingga pembahasan ayat-ayat Al-Quran dengan pendekatan "kata per kata" dan mendalami makna ayat-ayatnya dengan mendalami makna dari setiap kata menjadi daya tarik tersendiri.

Hari pertama saja, ketika saya menjelaskan kata 'aamanuu' pada ayat "yaa aayuhalladzina aamanuu laa tuqaddimuu……dst", mengambil waktu yang cukup panjang untuk menjelaskan semua makna yang terkait dengan kata itu.

Dimulai dari kata "amina-ya'manu-amnun" yang berarti "aman", hingga "aamana-yuuminu-I'maan wa amaanah" yang berarti "amanah" atau kepercayaan.

Duduk di salah satu sudut ruangan yang tidak terlalu luas itu, seorang gadis bule. Wajahnya putih bersih dan penuh senyum, tapi menampakkan sikap pemalu. Sesekali gadis itu menyelah seolah-olah membenarkan penjelasan saya, atau menguatkan argumentasi-argumentasi yang saya berikan.

Saya memang agak terkejut. Apalagi gadis ini belum saya kenal dengan baik. Maka, dalam sebuah sesi hari Sabtu itu saya Tanya, "may I ask you?"

"Yes sir!" jawabnya sopan.

"Do you speak Arabic?", tanyaku.

"Oh no!", katanya malu-malu. "But I took some course on Arabic", lanjutnya.

"Di mana anda mengambil kursus Arab, dan bagaimana tingkat bahasa Arab mu?" tanyaku.

Dengan sedikit tertawa dia mengatakan, "Jujur saya malu mengatakannya. Saya baru pemula."

"Saya juga pemula! Jawab saya sambil bercanda.

Menjelang akhir kelas, dua Sabtu lalu, Katherine, demikian dia mengenalkan diri, seperti ingin sekali mengatakan sesuatu tapi sepertinya sangat malu, atau sepertinya berat untuk disampaikan. Sesekali ingin mengatakan sesuatu, namun setiap kali saya pancing untuk berbicara, jawabannya "am..amm never mind!", seperti gaya anak remaja yang cuwek.

Setelah kelas bubar, barulah Katherine mendekat dan meminta waktu untuk berbicara. Oleh karena waktu saya singkat, saya katakan, apakah dia perlu waktu panjang?

"Tidak, hanya perlu waktu anda beberapa menit saja," katanya.

Saya kemudian meminta izin untuk menyelesaikan beberapa hal yang perlu saya selesaikan. Beberapa saat kemudian saya memintanya untuk masuk ke 'conference room'. Katherine masuk ke ruang conference dan berencana menutup pintu, tapi saya memintanya untuk tetap pintu terbuka. "It's fine, don't close it", kata saya.

"Alright Katherine! Adakah hal yang bisa aku bantu?", saya memulai percakapan siang itu.

"Iman (maksudnya Imam), are you familiar with Imam Latif?", tanyanya.

"Latif yang mana yang anda maksudkan? Aku mempunyai beberapa nama Latif dalam memori ku", kataku merujuk kepada kenyataan bahwa saya mengenal beberapa teman yang kebetulan bernama Latif atau Abdul Latif.

"I think he is the Imam at the NYU", jawabnya.

"Oh yeah, he is the Muslim Chaplain at the NYU and as well the Muslim Chaplain for the NYPD", jelasku.

Saya kemudian bertanya, ada apa dengan Imam Khalid Latif (nama lengkap Chaplain yang dimaksud) itu. Barulah kemudian saya tahu kalau Katherine itu adalah mahasiswa S3 di NYU, yang ternyata sedang menulis disertasinya dalam perbandingan madzhab Maliki dan Syafi'i.

"Aku telah menghadiri sebagian dari ceramah kuliah dan kutbahnya." (maksudnya Khutbah)", katanya mengenai Imam Latif.

Saya kemudian bertanya, kenapa ingin berbicara ke saya siang itu? Dari percakapan itu ternyata Katherine sudah meneliti Islam, khususnya fikih dan perbandingan fikih dalam hukum Islam. "For me, it's simply amazing!" (bagiku itu benar-benar mengagumkan), katanya mengenai diskusi-diskusi atau perdebatan-perdebatan yang terjadi di antara pada ulama Islam. Menurutnya, semakin dia dalam perberdaan pendapat para ulama itu, semakin sadar bahwa Islam itu begitu menjunjung tinggi ilmu dan semangat pencarian (inquiries). Dia bahkan mengetahui betul bahwa semangat inilah yang pernah menjadikan Islam jaya dalam segala lini kehidupan manusia.

"And so, what I can do for you?", tanya saya. Maksud saya, barangkali ingin mendiskusikan sesuatu yang berhubungan dengan disertasinya. Atau mungkin ingin mengklarifikasi tentang sesuatu dalam penelitian yang dilakukannya.

Katherine terdiam dan bahkan menunduk beberapa saat. "Saya berfikir untuk memeluk Islam," katanya seraya meneteskan airmata.

Tanpa terasa saya hanya langsung mengucapkan "alhamdulillah!". Bagi Katherine tentu kata ini bukan sesuatu yang asing lagi. Mendengar itu dia hanya tersenyum seraya mengusap airmatanya.

"Are you sure, Katherine?".

"Yes, I am sure. Pada dasarnya, saya telah memikirkan tentang dalam waktu yang cukup lama," katanya.

Saya kemudian mencoba menjelaskan kembali makna berislam. Bahwa beislam itu bukan sekedar mengetahui kebenaran ini, tapi dari itu merupakan komitmen hidup untuk melakukan perubahan internal maupun eksternal untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Saya memang tidak berpanjang lebar lagi berbicara kepada Katherine. Saya tahu Katherine sebenarnya tahu banyak tentang Islam, dan bahkan mungkin lebih banyak tahu dari 'average Muslims' yang terlahir dari orang tua Muslim. Apalagi memang dia telah meneliti hukum Islam, khususnya mengenai fikih Islam.

"Are you ready?", kembali saya tanya.

"Yes!", jawabnya tegas.

Saya meminta ke resepsionis untuk mencarikan dua orang saksi. Setelah saksi hadir di ruang pertemuan itu, saya memulai menuntun Katherine mengikrarkan:

"Laa ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasul Allah".

Diikuti pekik Allahu Akbar, saya mendoakan semoga Katherine dikuatkan dan bahkan menjadi da'iyah di jalanNya. Alhamdulillah! [www.hidayatullah.com]

New York, April 18, 2008


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

Jumat, 09 Mei 2008

Tiba di AS, Paus Mengaku Malu Skandal Seks Kalangan Gereja


Katagori : Warta Berita
Oleh : Redaksi 16 Apr 2008 - 11:00 pm


Penelitian: Pendeta dan Iman Kristen Terus Merosot di AS
imageKunjungan pemimpin Katolik Roma ke AS, "disambut" fakta penelitan terbaru. Dimana Warga AS makin tak beriman dan hanya sebagian kecil tahu Paus.

"Amerika adalah Kristen," begitu kata banyak orang. Setidaknya dapat dibuktikan dengan tulisan "In God We Trust" (Kami percaya kepada Tuhan) yang tertera dalam tiap helai mata uang Dollar Amerika. Tapi benarkah seperti itu? Nyatanya tidak. Penelitian menyebutkan, warga AS memang mengaku Kristen, tapi jarang ke gereja. Sebuah survai yang dilakukan oleh Pew Research Center for the People dan the Press and the Pew Forum on Religion and Public Life bulan ini menyebutkan banyak hal mengagetkan.

Diantaranya disebutkan, warga Katolik Amerika tak benar-benar tahu siapa pemimpin mereka, Paus Benedictus XVI. Hasil penelitian menyebutkan, tiga dari 10 warga AS mengatakan, mereka tidak cukup tahu siapa Paus Benedictus XVI. Sedangkan, delapan dari 10 orang mengatakan, mereka hanya pernah mendengar sedikit nama Paus.

image"Jika anda menghentikan rata-rata orang di jalan dan meminta pendapat mereka apa mereka mengenal Paus Benedict XVI, saya mencurigai mereka akan mengatakan pada anda, well, dia nampak lebik baik dibanding apa yang banyak dikatakan orang ketika dia dipilih," kata John Allen seorang koresponden Koran National Catholic, Vatikan.

Sebagaimana diketahui, 70 juta warga AS, atau sekitar seperempat penduduknya beragama Katolik. Namun dalam penelitian disebutkan, sebagian besar warga Katholik sudah tidak berurusan lagi dengan gereja. Yang mengagetkan, mereka menentang sejumlah norma yang ditetapkan Vatikan.

Rakyat AS percaya pada Tuhan (38%) di antaranya pergi ke gereja tiap hari Minggu. Namun, dari seluruh warga Katholik hanya 41% pergi ke gereja sedikitnya seminggu sekali.

Anehnya, Paus menerima kenyataan itu dan menganggapnya sebagai 'cara berpikir sederhana'. Meski demikian, gereja Katolik memandang 'kritis kenyataan" dimana banyak warga Katolik AS telah menjauhkan diri dari ajaran-ajaran Vatikan dan lebih memilih "American way of life", yaitu gaya hidup konsumerisme.

imagePebruari lalu, penelitian the Pew Forum on Religion and Public Life menunjukkan, 10% dari orang-orang lahir secara Katolik mengatakan mereka sudah tidak lagi Katolik. Penelitian juga menemukan, jumlah pendeta terus menurun selama beberapa dasawarsa.

Apalagi setelah tahun 2002 lalu, di mana Katolik sempat diguncang skandal pelecehan seks oleh kalangan pendeta di Boston yang sempat menjadi isu nasional di Negera itu.

Karenanya, R. Scott Appleby, profesor sejarah Katolik di Universitas Notre Dame, berpendapat, saat ini diperlukan kehadiran Paus untuk menyampaikan hal-hal yang baik, memberikan kesaksian hidup Amerika, paroki dan jabatan kependetaan serta usaha luar biasa untuk keadilan sosial.

Ia juga berharap agar Paus datang untuk menawarkan kekuatan, kharismatik, penyembuhan terhadap krisis pelecehan pada kaum awam. Pau juga perlu mendengar hal ini, bahwa pekerjaan dari Roh Kudus bersifat baik dan memberi hidup, ujarnya. [cha/tmd/utd, dari berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Puas didemo oleh kaum Gay (Arus Pelangi/di Indonesia)

Lihat Galerinya di Yahoo


Paus Mengaku Malu Skandal Seks Kalangan Gereja
imagePaus Benediktus XVI, mengaku malu atas berbagai skandal pelecehan seksual yang dilakukan para pemimpin gereja Katolik. Ia berjanji tak akan terjadi lagi. Bisa kah?

Paus Benediktus XVI, Selasa (15/4), mengatakan dirinya sangat malu atas skandal pelecehan seksual oleh sejumlah pemimpin agama yang terjadi dalam gereja Katolik.

Dia berjanji akan berusaha untuk memastikan bahwa pelecehan semacam itu tidak akan terjadi lagi dan para paedophilia tidak akan menjadi pendeta.

Benediktus menjawab pertanyaan wartawan di dalam pesawat khusus Alitalia saat dia berangkat dari Roma ke Washington untuk memulai kunjungan kepausan pertamanya ke Amerika Serikat. Dia juga mengatakan akan membicarakan masalah imigrasi saat bertemu dengan President Bush.

Paus Benediktus XVI tiba di AS untuk memulai rangkaian kunjungannya selama 6 hari. Berbagai permasalahan akan dibahas, dari citra buruk gereja Katolik AS akibat skandal seks hingga perang Iraq.

Sebelum bertolak ke AS, Paus sempat menyampaikan rasa penyesalannya atas pelecehan seks terhadap anak-anak yang dilakukan seorang pastur.

"Paedofilia sangat bertentangan dengan nilai agama. Lebih baik hanya ada sedikit pastur yang baik daripada memiliki yang banyak," ujar Paus, Selasa (15/4) kemarin.

Sebagai upaya memulihkan trauma anak-anak yang menjadi korban, Paus berjanji Gereja akan melakukan berbagai cara dan memastikan kejadian tu tidak terulang lagi.

Kedatangan Paus asal Jerman ini akan disambut langsung oleh Presiden George W Bush dan ibu negara Laura Bush di Pangkalan Udara Militer St Andrew di pinggiran kota Washinton. Sebelumnya tidak pernah ada kunjungan dari kepala negara manapun yang mendapat sambutan langsung dari seorang presiden AS di bandara.

Jamuan kenegaraan resmi akan dilakukan di Gedung Putih saat Paus merayakan hari lahirnya yang ke 81. Tembakan meriam sebanyak 21 kali akan menandai seremoni ini.

Agenda selanjutnya kedua pemimpin akan berbicara empat mata mengenai berbagai isu. Rencananya Paus juga akan mengunjungi bekas lokasi menara kembar WTC yang dibom. Sehari sebelumnya Paus akan menyapa 48 ribu warga Katolik AS di Yankee Stadion.

Sebagaimana dieketahui, sejak kasus pelecehan seksual pertama terbongkar pada tahun 2002, gereja Katholik Roma Amerika, telah membayar ganti rugi ratusan juta dolar. Gereja terguncang sejak mulai mengemuka berbagai pelecehan seks yang dilakukan para pendeta. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Sex, Shame and the Catholic Church


5-4-07 Nearly 150 Roman Catholic clergymen in Ireland's biggest archdiocese have been linked to child sex abuse allegations over the past 67 years.

The statistics for Dublin archdiocese were released days before the opening of hearings into how the Church handled abuse claims.

Recommend books: The Changing Face of the Priesthood by Donald Cozzens, priest. Leading Catholic authority documents the immorality in Catholic seminaries. "An NBC reports celibacy in the church found that anywhere from 23 to 58 percent of the catholic clergy have a homosexual orientation. Other studies find that approximately half of American priests and ;are homosexually oriented." The Power and the Glory by Graham Green Written over 50 years ago and includes the priesthood of a Latino priest:...
http://www.bishop-accountability.org/accounts/


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.